Bott!Kakashi
(MEET YOU)
Rate : M
Pair : Kisame X Kakashi, Obito x Kakashi.
Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
.
Happy reading minna-san...
.
.
Di bab ini, menceritakan beberapa tahun silam, saat Obito bertemu pertamakali dengan Kakashi.
Setelah melewati hari yang terasa panjang dan penat, Obito memutuskan untuk mencari udara segar, berjalan kaki mengitari keramain kota Amegakure, mencicipi berbagai makanan pinggir jalan, menyewa sepatu roda dan beratraksi kecil bersama beberapa remaja seusianya, menikmati gelora remaja yang membuat sudut bibirnya tak henti melengkung, hingga akhirnya denting jam tengah malam dari menara tua mengingatkannya untuk segera pulang. Bukannya dia akan menjadi cinderella jelek setelah denting kedua belas, tapi dia punya banyak pekerjaan esok hari, tidur berkualitas akan menjadi suplemen gratis yang sangat dibutuhkan raganya. Maka dengan berat hati Obito melambaikan salam perpisahan pada teman-temannya. Senyum puas tak lekang sepanjang perjalanan pulang yang kali ini ia tempuh dengan jalan kaki. Berbaur dengan banyak orang tanpa menjadi pusat perhatian cukup atau ekspresi ketakutan adalah sesuatu yang mahal baginya, begitu dia melepas hoodie dan noiseband-nya semua orang pasti akan lebih memilih lari ketimbang menyapanya.
Senyum diwajah Obito lenyap digantikan ekspresi serius, pendengarannya yang super tajam menanggap suara pilu dari kejauhan.
-"aaaarrrrgggghh..."-
Suara itu terdengar lagi, Obito berjalan cepat memasuki gang sempit diantara dua gedung pencakar langit. Rintahan-rintahan pilu itu semakin jelas ketika dia masuk semakin dalam, langkahnya dia buat pelan dan waspada, sebuah lampu jalan diseberang gedung menyinari ujung gang yang hanya teralis, Obito berhenti dua langkah dari siraman cahaya, lebih aman mengawasi situasi dari kegelapan.
-"tolong berhenti...aaarrrrggghhh...aku mohon..."-
Suara itu terdengar jelas dari tempatnya berdiri, Obito mengambil kacamata dari sakunya, matanya bermasalah dengan penglihatan jarak jauh. Saat dia mendongak setelah memakai penyambung penglihatan, matanya terbelalak mendapati apa yang tersaji didepannya, itu ada diseberang teralis.
Seorang remaja dengan tubuh ringkih tengah disodomi tanpa ampun oleh laki-laki yang tubuhnya tigakali lipat siremaja, Kedua kaki kecil remaja itu ditekuk hingga lututnya menekan dada, dari tangannya yang bebas tapi diam tergeletak di tanah tanpa perlawanan Obito yakin remaja tersebut sudah kehabisan tenaga untuk melewan. Rudal monster keluar masuk sangat cepat dari lubang yang-mustahil dimasuki barang sebesar dan sepanjang itu- dengan tubuh kecilnya Obito yakin seharusnya remaja itu mati ditusukan pertama.
- "tolong berhenti, maaf... Maafkan aku..." -
Rintihan lemah dari remaja itu menyadarkan Obito dari keterkejutannya. Tapi saat ia akan mengambil tindakan, laki-laki tersebut mendongakkan kepala menikmati klimaksnya.
"Kisame!" Obito kaget bukan main, laki-laki besar itu adalah salah satu penjaga terbaiknya, tugasnya menjaga ketiga keponakannya tanpa ketahuan.
- "kau yang meminta ini pelacur kecil, jadi nikmati saja penderitaanmu" -
Perkataan Kisame membuat Obito tersenyum kecil, rupanya siremaja hanyalah terong-terongan yang menjajakan lubang belakang. Obito menggelengkan kepala lalu berbalik pulang. "sepertinya dia salah umpan".
.
.
Dua hari setelah inseden 'terong-terongan', kediaman Obito dibuat geger oleh Itachi dan Shisui. Dua keponakanya itu memungut 'mayat hidup' dari bibir gang yang sukses membuat Obito hampir jantungan. ITUKAN BOCAH TERONG MALM ITU!, dalam batin, Obito histeris. Kok kebetulan sekali, sih?.
"paman, kita apakan dia?" tanya Shisui.
"kenapa dibawa pulang?, ini bisa jadi skandal besar Shisui!" C'mon, polisi-polisi diluar sana pasti akan berpesta pora jika mengetahui hal ini.
"maaf, tapi Sasuke histeris, meminta orang ini dibawa pulang" terang Shisui.
Obito menghela nafas, keponakannya yang baru kelas 2 sekolah dasar itu memang paling manja. Bisa mengakibatkan kiamat kronis kalau keinginannya tidak terpenuhi.
"Yuki-san, tolong panggilkan dokter terbaik di kota ini!" Obito memerintahkan seorang anggota gengnya yang mengerubungi korban.
"hai', Obito-sama"
"dimana Itachi?" Obito beralih lagi ke Shisui.
"menemani Sasuke mandi, paman"
"bocah itu manja sekali" gerutu Obito pelan.
"aku juga mau mandi, permisi"
.
.
Obito mengamati remaja sekarat di sopa, dia heran bagaimana orang ini masih hidup. Sudah dua hari berlalu, dengan luka sebanyak itu seharusnya dia sudah mati kehabisan darah, terendus anjing jalanan, atau kedinginan, apalagi semalam turun hujan. Obito tak habis pikir. Lalu entah mendapat dorongan darimana, tiba-tiba Obito sudah mengangkut remaja yang -oh, astaga! Ringan sekali- ini, ala pengantin. Membuat melongo beberapa anggotanya yang sedari tadi mengerubungi Kakashi dengan wajah 'ingin'. Walau sekarat, remaja terong ini masih bisa membuat 'ngiler'. Dan kalau saja Obito tidak mengamankannya, dia pasti kena gangbang diruangan ini. Terimakasih pada -dorongan entah darimana- Obito.
"Maki-san, tolong panggilkan Kisame!" order Obito di ujung tangga.
.
.
.
"ada yang ingin kau jelaskan, Kisame?"
"maaf, Obito-sama. Saya,... Uh,... Saya... Mohon maafkan saya, saya sangat kesal waktu itu" Kisame menghela nafas.
"kau tau, kan. Kalau polisi menemukannya lebih dulu, mereka akan punya alasan untuk memenjaran keluarga kita"
"saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Obito-sama. Saya siap dihukukum" Kisame membungkung 90 derajat.
Obito mengibaskan tangannya. "aku ingin penjelasan, bukan akan memberi hukuman, jadi siapa dia?"
"maaf, Obito-san. saya tidak tau"
"tidak tau?" Obito mengangkat sebelah alisnya, tidak percaya pada lawan bicaranya.
"saya benar-benar tidak tau Obito-sama, dia mengikuti saya beberapa hari ini. Saya sudah memintanya untuk menyingkir, tapi dia keras kepala..."
"mengikuti kenapa?" potong Obito.
"uh,... Itu,... Ano... Meminta saya untuk... Uh,...ano bercinta dengan dia" Kisame menunduk dalam, jengah. Kau boleh memilih, nyebur sumur mungkin lebih baik daripada membicarak masalah 'ini'.
"jadi maksudmu, dia semacam kucing jalanan?"
"saya tidak tau, Obito-sama"
"lalu bagaimana kau sampai menyodominya?" kalau bukan untuk wibawa, Obito pasti sudah menenggelamkan wajahnya dimeja. Pembicaraan ini sangat canggung sekali, apalagi dengan lelaki yang jauh lebih tua darinya.
"uh, begini..., dia terus merayu saya sepanjang jalan, sial bagi saya karna bertemu dengannya. ketika saya masuk bar langganan saya, dia mengikuti dan mulai membuka masker wajahnya. Uh,... Awalnya saya terpesona dengan wajahnya... Dia cantik sekali..."
Dalam hati Obito membenarkan. "hum, lanjutkan!"
"saya berusaha keras menolaknya, butuh perjuangan untuk tidak menyambar dan mencumbunya di kamar terdekat..."
"hei, itu terlalu vulgar!" seru Obito.
"uh, maaf Obito-sama, saya tau anda masih remaja, tapi memang begitulah yang saya rasakan."
"aku terhina disini!" Obito merengut.
Kisame tersenyum kecil. "saya masih ingin memanggil anda Bocchama (tuan muda) sejujurnya"
"yadda yadda... Lanjutkan ceritanya!"
"usaha keras saya untuk tetap waras berbanding terbalik dengan usahanya melenakan saya, dan tanpa saya sadari dia menaruh obat perangsang diminuman saya..."
"Oi?!"
"tapi tentu saja akhirnya saya tau, dan saya mulai jengkel. Apalagi dia mulai berani meraba-raba saya, saat kejengkelan saya bertumbuh menjadi sebuah amarah, tanpa pikir panjang saya menyeratnya ke gang gelap... Dan, uh... Saya... Uh..."
"cukup!, aku tau yang terjadi selanjutnya. Silakan keluar, aku akan melanjutkan pekerjaanku"
Kisame menghela nafas lega lalu berbalik. Diambang pintu dia menoleh dengan ekspresi penasaran. "darimana anda tau?"
Obito menyeringai, "lain kali kau harus lebih jeli melihat sekitarmu, tuan hiu!" Obito meleletkan lidahnya.
"sangat kekanakan" lalu Kisame keluar dari ruangan, dengan backsound teriakan protes dari mantan anak asuhnya yang kini menjadi bos besar.
.
.
Obito menghela nafas, pasrah. Dia benar-benar jengkel setengah mati. Berkas-berkas dimejanya berserakan, sejak ada remaja 'terong-terongan' itu di kamarnya, entah kenapa dia selalu ingin melihatnya, jika dia tidak berada di dekatnya maka pikirannya-lah yang terbang kesana. seperti saat ini, Raganya ada di ruang kerja namun jiwanya terbang ke ranjang tempat remaja tersebut tinggal. Dia gagal menyelesaikan pekerjaan -yang biasanya memakan waktu 12 jam- dalam tiga hari. Benar-benar trouble.
"kalau anda segitu inginnya melihat dia, kenapa tidak pindahkan meja kerja anda ke kamar"
Obito terjengkang dari kursinya. "uuuhhh..."
Kisame segera membantunya, "Anda baik-baik saja?"
"kau mengagetkanku, idiot!" maki Obito. Dia mendudukkan lagi pantatnya setelah kursi yang terbalik dibenahi Kisame.
"hoo... Mulut anda kehilangan filter rupanya. Ck, malang sekali kedua kakak anda, pasti mereka kecewa disana"
"Aaarrrrggggt, kau!" tudingnya pada Kisame, "berhenti membuatku jengkel dan memojokanku!"
"baiklah, saya minta maaf membuat anda tidak nyaman, saya mengantarkan makan malam anda"
"terimakasih, kau boleh pergi"
"huft, saya serius, anda harus memindahkan meja kerja anda ke atas (kamar Obito, red)"
" KI. SA. ME!"
"baiklah-baiklah, saya keluar. Dokumen dimeja anda semakin menggunung, ngomong-ngomong. Selamat malam"
.
.
.
"merasa lebih baik?"
Obito menggeram, manusia hiu ini hobi sekali mengagetinya. "ya, puas!?" serunya jengkel. Sudah dua hari dia mulai bekerja di ruangan ini, kamarnya. Dengan meja kerja menghadap ranjangnya, dimana terdapat 'terong- terongan' yang wajahnya -uh, mempesona sekali- tepat di jarak pandangnya. "kupikir ada yang lupa mengetuk pintu disini, dasar tidak sopan" umpat Obito.
"saya mengetuk pintu tujuh kali, sejujurnya. Dan memelototi remaja cantik sampai ileran jauh lebih tidak sopan, Obito-sama. Sekedar mengingatkan" Kisame mengerling.
Dengan gugup Obito mengelap dagunya. Seriosly, dia benar-benar ileran. Memalukan. "ada apa?" tanyanya canggung.
"dokter Orochi datang untuk mengontrol pasiennya"
"persilahkan dia masuk"
Tapi yang masuk bukan hanya dokter Orochi, tapi juga ketiga keponakkannya yang memasang wajah penasaran.
"kenapa kalian ada di rumah?" Obito memelototi ketiganya. "jangan suka membolos, mau jadi apa kalian ini!" geramnya, Obito sangat sensitif dengan topik sekolahan. Dia yang tidak tamat SMA -karna keadaan- sangat jengkel jika ada orang yang menyia-nyiakan pendidikan.
"ano, paman..." Itachi akan mendebat.
"jangan membantah!" tegasnya, "Kisame, antar mereka ke sekolahan!"
"Ano, Obito-sama..." Kisame juga tampak akan mendebat.
"tidak ada argumen. Antar mereka, sekarang juga!"
"paman, dengar du..."
"sejak kapan kau menjadi pembangkang Shisui!, beri contoh yang baik pada kedua adikmu!. sekarang cepat bersiap!"
Tidak ada yang bergerak, semua yang ada di ruangan terdiam. Kecuali dokter Orochi yang senyum-senyum sejak awal.
"kenapa malah diam, cepat bersiap" desis Obito. Jengkelnya mencapai tingkat daerah.
"Nii-san, kau bilang hari minggu sekolahan libur, kau bohong ya?"
JUEDERRRR! Obito mendengar petir imajiner menyambar di belakang kepalanya. Dipandangnya Sasuke yang menarik-narik kaos Itachi dan menatapnya dengan mata bulat berkaca-kaca.
"uuh, Sasuke, jangan menangis. Aku tidak membohongimu. Sungguh, aku tidak membohongimu" Itachi membawa Sasuke ke gendongan dan menepuk-nepuk punggungnya. "aku tidak akan perbohong lagi padamu, tidak akan pernah" bisiknya.
"sungguh?"
Itachi mengangguk.
"tapi kenapa paman Obito, menyuruh kita berangkat sekolah?" Sasuke pernah kejang-kejang karena tahu dibohongi Kakaknya. Sejak saat itu Itachi berjanji tidak akan membohongi adiknya lagi.
"itu karna paman Obito bodoh, Sasuke" Shisui meleletkan lidahnya ke Obito yang dibalas pelototan.
"Shisui-Bocchama, tolong bahasa anda" hardik Kisame.
"uh, maaf" Shisui menunduk sekilas.
"ma ma..., sepertinya karna kebisingan kalian dia jadi bangun" dokter Orochi menghampiri pasiennya. Melakukan kegiatan medis dengan terampil yang dimata orang awam hanya seperti lihat dan sentuh.
"aku dimana?" remaja itu memulai suara pertamanya dengan lirih. Sangat lirih namun cukup jelas.
Obito mengumpat dalam hati. Dia merutuki benda di selangkanganyya yang seolah menjawab pertanyaan si cantik.
"Hanya mendengar suaranya dan anda langsung bangun. Ya Tuhan. Anda benar-benar nakal, Obito-sama" Bisik Kisame.
"diam, Kisame!" desis Obito dengan muka merah sampai telinga. Dia meminta ijin keluar sebelum kekacauannya terdeteksi lebih banyak orang.
.
.
"apa yang aku lewatkan?" Obito menekuni lagi dokumennya. Setelah pemeriksaan dokter, si cantik di ranjang kembali tidur demi kebaikan.
"tidak banyak. dokter berkata kondisinya membaik, dan itu sangat menakjubkan katanya. Lalu dokter berkata kalau ini kunjungan terakhirnya..."
"kenapa?, kupikir dia masih butuh perawatan?"
"...dokter dimutasi ke Konoha, jika kedaan darurat, anda diminta untuk memanggilnya"
"um, baiklah. Terimakasih"
"saya pamit, selamat sore"
Sepeninggal Kisame, Obito segera menutup bukunya. Dia berjalan ke ranjang, yakin ada sesuatu yang tidak beres. "kau boleh membuka matamu, aku yakin kau tidak tidur"
"uh, terimakasih. Aku benar-benar ingin bangun"
Tanpa sadar Obito menahan nafas, 'dia lebih cantik dengan mata terbuka, Ya Tuhan!'
"kau baik-baik saja?" suara lirihnya menggetarkan sesuatu dibalik celana.
"eh, ya." Obito menggaruk pipinya. "Aku baik-baik saja, maaf atas ketidak sopananku"
Tawa lirih terdengar sebagai jawaban. Jantung Obito berhenti sepersekian detik. 'ya Tuhan, jauh lebih indah lagi untuk didengar'.
"siapa namamu?"
"Obito, salam kenal" Obito memberikan senyum terbaiknya, namun bahkan dia sendiri tidak yakin apa terlihat bagus.
"salam kenal, kau tidak bertanya namaku?" terong cantik itu memancing dengan nada geli.
"uh,... Eh... Iya. Maaf, siapa namamu?" Obito tergagap. Sialan, dia benar-benar memalukan.
"Kakashi, terimakasih sudah menolongku" Remaja terong-cantik-mempesona yang ternyata bernama Kakashi itu tersenyum manis.
Obito terbatuk-batuk. Shit, dia tersedak ludahnya sendiri.
"kau baik-baik saja?"
"uh...ya, ya. Aku baik-baik saja" Obito menuang air kedalam gelas. dia benar-benar kacau.
"boleh pinjam masker?" Kakashi berusaha duduk namun kepayahan. Obito membantunya dengan tangan gemetar luar biasa.
"untuk apa masker?"
"aku masih ingin berbicara denganmu, Obito-san"
"hanya, Obito, tolong" Obito membongkar lacinya, yakin ada masker disitu. "dan apa hubunganya masker dengan bicara padaku?"
"oh, wajahku sedikit mengganggu kupikir, jadi..."
"tidak!" seru Obito keras. "wajahmu cantik sekali, sama sekali tidak mengganggu" Obito duduk disamping Kakashi.
"justru itu yang aku pikir mengganggu" Kakashi tertawa lagi.
"uh, maaf. Pasti karna tingkah konyolku ya, kau jadi ilfeel begini" Obito malu sekali. Arrrggghhht.
"sejujurnya, aku ingin berkata. Kamu hebat sekali..."
"huh?"
"ini bajumu, kan?" Kakashi menunjuk kemeja longgar yang dikenakanya. panjangnya pas, namun lebarnya beberapa senti lebih dari ukurannya.
"ya, itu punyaku"
"kau juga yang memakaikanku?"
"iya" Obito tidak yakin arah pembicaraan ini kemana.
"dan kau tertarik padaku, benar?"
Obito menjawabnya dengan batuk-batuk keras. Arrrgggh, liurnya susah sekali diajak kompromi belakang ini. "maaf, untuk ketidak sopananku"
"tidak apa-apa. Tapi aku benar, kan?" kejar Kakashi. Bibirnya menyunggingkan senyum geli.
"uh,... Iya. Maaf kalau itu mengganggumu"
"nah, bukan itu maksudku"
"huh?"
"kau melihatku telanjang, menyentuhku, tertarik padaku, namun tidak memperkosaku. Itu luar biasa menurutku"
"hah?" Obito menganga, "HAH?" sekali lagi. "hah?, apa yang kau katakan!" tudingnya heboh. "tentu aku tidak akan me...me...memperkosamu, jangan menilaiku sembarangan ya" tambahnya kesal.
"yah, makanya kukatakan itu luar biasa" Kakashi mengedikkan bahunya.
"apa sih sebenarnya maksudmu?" Obito mengerutkan keningnya.
"huft, kau bodoh!"
"hei!?"
"kau bodoh!, B. O. D. O. H!"
"berhenti mengataiku bodoh, orang asing!" geram Obito dengan nada dalam. Alpha voice.
"ma...maaf..." Kakashi mencicit. Dia merasa terintimidasi oleh suara Obito dan tubuhnya yang menjulang diatasnya. "bi...bisakah kau turun?" tanya Kakashi hati-hati.
"apa?"
"turun dari atasku..."
"huh?" Obito tidak faham.
"kau menindihku"
Loading,
Loading.
dua tangannya menekan dasboard ranjang, tepat disamping kepala Kakashi, memerangkapnya. Kedua kakinya mengangkangi pinggang Kakashi dengan lutut tertekuk. Lalu wajahnya hanya beberapa inchi dari wajah Kakashi.
"Hiyyaaaaaa! Kenapa aku begini?" teriaknya histeris. Komikal sekali.
"karna kau sudah sadar, bisakah kau turun?"
Obito mengangkat sebelah alisnya, ekspresinya sudah kembali serius. Pelan tapi pasti dia mendekatkan wajahnya ke wajah lawannya. Semakin dekat, semakin Kakashi memrosokkan kepalanya ke bantal. Hingga saat bibir mereka hampir bertabrakan, Obito mengubah haluan. Telinga, bibirnya menempel ditelinga Kakashi, membuatnya merinding sekujur badan. "dengar, orang asing" Obito memulai dengan suara alphanya, "hati-hati saat berbicara denganku. Atau kau tau akibatnya"
"ahhhhhhh..." Kakashi mendongakkan kepalanya dan mendesah pelan.
"huh?" dia segera bangkit dan menyingkap selimut Kakashi. Ingin memastikan sesuatu, dan benar, ada rembesan basah diselangkangannya.
"ja...jangan liihat..." Kakashi menutupi selangkangannya dengan kedua tangan, wajahnya memerah sampai leher dan telinga.
"kau. Misophonia...?" ( penyakit yang mengganggu tingkat kesensitifan saraf pada suatu bunyi tertentu sehingga si penderita dapat bereaksi aneh jika mendengar bunyi dari suara-suara yang membuat sarafnya sensitif. saya dapet dari google, btw. Tapi gak yakin ada yang akibatnya bikin ejakulasi. Yah ujung-ujungnya saya ngarang juga. Hehe)
"iya!" jawab Kakashi pelan.
Dan tawa Obito meledak.
"jangan tertawa!" seru Kakashi jengkel.
Tapi Obito masih ingin tertawa, jadi dia tetap tertawa. Sampai sebuah bantal melayang ke wajahnya.
"shit, kau anarkis. Kakashi!" serunya, masih dengan ketawa-ketawa.
"aku benci padamu!" Kakashi merengut dan menyumbat telinganya.
.
.
.
TBC.
.
.
Terimakasih sudah membaca.
Bab ini cuma menceritakan awal jumpa mereka. Kalo jatuh cintanya, chap depan insyaallah.
