Bott!Kakashi

(Kakashi Hatake)

Rate : M

Pair : Obito x Kakashi.

Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.

Naruto (c) Masashi Kishimoto


Happy reading minna-san...

.

.

Sekarang apa?, itulah yang dipikirkan Kakashi akhir-akhir ini. Dalam waktu sepuluh hari (6 hari untuk koma, dan 4 hari untuk sadar) bersama 'paman tampan dan tiga keponakannya' Kakashi merasa betah, tak ingin pulang. Apa yang harus dia lakukan untuk bertahan disini?. dia sudah sehat, sudah saatnya kembali pulang dan mengucapkan terimakasih atas kebaikan tuan rumah. Namun, dia ingin bertahan. Dengan alasan apa?

"Kakashi-san, nanti saat aku sudah besar, menikah denganku ya" bocah yang sedaritadi menguyel-uyelkan kepalanya di dada kakashi ini tiba-tibaa menatapnya dengan mata bulat penuh harap.

"ha?" Kakashi melongo.

"janji ya" Sasuka menangkup wajah Kakashi dengan kedua tangan kecilnya.

Kakashi bingung, di film-film sih, kalau ada anak kecil minta janji-janji begini nanti akan ditagih pas besarnya. Kakashi tidak siap dengan hal-hal rumit begitu.

"Kakashi akan menikah dengan paman, Sasuke. Jadi, jangan merebut pengantin paman. Oke?" Obito menyahut dari kamar mandi.

Kakashi tertolong, tanks God.

Sasuke merengut, "paman jahat!" teriaknya. "Kakashi-san pilih aku, kan?"

"pilih aku saja" teriak Obito lagi.

Kakashi tertawa. heboh sekali kalau paman-keponakan ini sudah berinteraksi.

"Kakashi-san?" rengek Sasuke.

Duh, mata bulatnya membuat Kakashi merasa bersalah, "gomen ne, Sasuke-kun. Aku memilih pamanmu saja ya" Kakashi menepuk-nepuk kepala Sasuke. Lebih baik menyakiti sekali, daripada memberi harapan palsu seumur hidup, kan?

"bweeeek" Obito melongokkan kepalanya untuk meleletkan lidah. Lalu menutupnya lagi.

Kakashi geli. Uh, dia ingin tinggal bersama Obito, Tuhan tolong beri jalan.

"hiks..."

Kakashi membawa kepala Sasuke ke dadanya. Menemani isakan lembut Sasuke dengan belaian lembut di kepala.

"jangan cengeng, kau kan sudah besar" Obito keluar dari kamar mandi, lengkap dengan piama. Menyebrangi ruangan untuk sampai di ranjang, "ayo" Obito mengulurkan tangannya, tapi Sasuke tidak menyambut, bocah itu malah mengeratkan pelukannya di leher Kakashi.

"tidak mau" Sasuke menggeleng kuat-kuat.

"besok kau sekolah, ayo cepat tidur" Obito menyelipkan tangannya diketiak Sasuke lalu menariknya.

"tidak mau, tidak mau, tidak mau..." tangan mengalungi leher Kakashi erat, kaki melingkar dipinggang kuat-kuat. Persis bayi koala.

"Sasuke jangan nakal!" Obito menarik paksa Sasuke, namun karna pegangannya yang kuat, Kakashi jadi tercekik.

"uhuk...huk...berhenti kalian berdua...uhuk...uhuk!"

.

.

Dan beginilah akhirnya posisi mereka tidur. Kakashi, Sasuke, Obito.

"maaf mengganggu malammu, Kakashi"

"ranjangmu bahkan cukup untuk enam orang Obito, kenapa minta maaf" Kakashi menepuk-nepuk pantat Sasuke pelan. -seperti Kebiasaannya dengan sang adik dirumah-, untuk membuat Sasuke nyenyak, sekaligus mengurangi kegugupannya. Ini pertama kalinya dia satu ranjang dengan Obito, biasanya paman ganteng itu mengungsi ke kamar Sasuke dengan alasan macam-macam, yang Kakashi yakin intinya untuk menghindarinya.

"kau kelihatan tidak nyaman, aku bisa tidur di kamar tamu" Obito bangkit.

"kau takut padaku?" tanya Kakashi pelan. Tiba-tiba menyesal kenapa dia tidur dengan banyak orang, Obito pasti mengira dia terong-torongan. "aku tidak akan mencoba masuk ke celanamu, janji" tambahnya.

"aku tidak berfikir begitu"

"lalu kenapa kau menghindariku?"

"aku tidak menghindarimu, aku sehari-sehari selalu disana" Obito menunjuk meja kerjanya, "dan kau selalu disini, jadi bagian mana yang terlihat menghindar?"

"bagian ranjang, kau tidak mau tidur bersamaku disini"

"itu bukan menghindar, tidur berdua akan menimbulkan pembicaraan..."

"alasan..."

"memang seperti itu Kakashi, bukan ala..."

"semua orang tau kalau kau gay, dan buken tipe orang yang peduli omongan orang"

"a...A...aaarrrgggh" Obito kehabisan kata-kata.

Kakashi menyeringai. "jadi?"

"bukan apa-apa"

"Obito?"

"tolong berhenti disana, Kakashi!"

"tapi kenapa?"

"bukan apa-apa"

"kenapa?" Kakashi adalah tuan keras kepala, ingat.

"..."

"hei!"

"karna ini!" Obito menunjuk selangkanganya yang menggunduk.

Kakashi terdiam.

"aku selalu terangsang melihatmu berbaring seperti itu, apalagi saat kau tidur. Terlihat mudah diremukkan" Obito mengedikkan bahu.

Hening yang tidak nyaman.

"maaf, untuk itu. Aku akan tidur di ruang tamu" Obito berjalan mengarah ke pintu.

"butuh bantuan?" Kakashi menatap punggung Obito hati-hati.

"hm?" Obito tidak berbalik.

"aku bisa membantumu dengan itu" Kakashi melepaskan tangan Sasuke yang mencengkeram kemeja depannya hati-hati. Duduk tegak terasa lebih benar saat ini.

"kalau kau butuh uang, aku bisa memberinya Kakashi, tidak perlu bekerja kotor seperti itu"

Jawaban Obito membuatnya tertohok. "aku hanya ingin membantu, Ob..."

"apa itu juga yang kau ucapkan pada Kisame?"

Kakashi mundur sampai punggungnya menyentuh kepala ranjang. Sesuatu dalam ucapan Obito membuatnya ingin menangis. Lututnya dia tekuk lalu dia peluk, menyembunyikan kepalanya diantaranya. "ma...maaf" lalu tanpa sadar dia sudah terisak. Baru kali ini dia menangisi keadaannya.

"cih, menangispun tidak akan mengembalikan kesucianmu" Obito melangkah meninggalkan kamar tanpa tau jika ucapannya akan membuatnya menyesal dilain hari.

-cuma perasaanku saja, atau memang ucapan Obito seperti laki-laki yang pacarnya habis diperkosa orang?-

.

.

Kakashi merasa buruk, setelah puas menangis, dia memutuskan untuk mandi. Amegakure. Mandi air dingin, ditengah malam, tanpa kembang.

.

.

Walaupun sudah dua belas kali menyabuni tubuhnya dia masih merasa kotor, dia juga menggosok tubuhnya kuat-kuat, berharap bisa merasa bersih.

"kakashi, kakashi, keluar dari sana!"

Gedoran di pintu dan teriakan Obito membuatnya tersadar jika ternyata dia mandi sambil melamun. "sekarang, aku mandi saja kau ribut. apa aku seburuk itu!" jawabnya pelan, lebih pelan dari yang ia duga.

"apa?, aku tidak mendengarmu. Buka pintunya, kau harus keluar!"

Kakashi berdecak, Obito selalu heboh seperti itu, kan. Dia mengangkat bahu, lalu menggosok lagi belahan pantatnya. Dia bertekat akan menghubungi ayahnya setelah mandi. minta dijemput. dia harus keluar dari rumah ini sebelum matahari terbit. Kakashi berdecak lalu ingin mematikan shower, tapi tidak bisa. tangannya kaku, tidak bisa digerakkan. Dia mencoba mengangkat kakinya, tidak bisa. Tubuhnya kaku, dia tidak bisa bergerak. Dia mencoba berteriak, tidak bisa. Ada apa ini, kenapa tubuhnya kaku? Kenapa dia tidak bisa bergerak?. Kenapa? Kenapa? Kenapa?.

Panik menyerang.

"Kakashi, kalau kau tidak keluar. Akan kudobrak pintunya!"

Kakashi ingin menyahuti, ingin minta tolong, ingin dibawa keluar, tapi tidak bisa. Mulutnya hanya terbuka tanpa sepatah katapun bisa terucap.

BRAKKK!

"KAKASHI...!"

.

.

Saat Kakashi membuka mata, pandangannya buram dan kepalanya terasa membesar dan berat "aaarggh" dia mengerang lemah.

"Kakashi-san, bagian mana yang sakit?" sebuah suara menanyainya, telapak tangan menempel di dahinya. "iche, panas sekali"

"Itachi...itu kau...?"

"iya, ini aku. Tunggu sebentar" Terdengar suara air dituang ke gelas. "Kakashi-san, ayo minum obat"

Kakashi mencoba duduk tapi gagal, kepalanya serasa akan pecah.

"tiduran saja, aku sudah menyiapkan sedotan"

Kakashi menghisap sedotan yang disodorkan kemulutnya, saat dia merasa cukup, Itachi menyelipkan obat di bibirnya. Hal itu terulang sampai tiga kali karena ternyata ada tiga butir obat. Untuk demam, sakit kepala dan antibiotik, menurut keterangan Itachi.

"kata dokter obatnya mengandung kantuk, jadi sebaiknya Kakashi-san tidur lagi saja" Itachi menyelimuti Kakashi sampai dagu.

"terimakasih...Itachi..."

"sama-sama, selamat malam"

Belum sampai Kakashi membalas, ada suara membuka pintu yang lumayan gaduh.

"Sasuke, Kakashi-san sedang sakit, jangan mengganggu!"

Itu suara Shisui, Kakashi mengenali suara orang-orang dengan cepat.

"Kakak, boleh aku bobok dengan Kakashi-san"

"Kakashi-san sedang sakit Sas..."

"Sasuke...kemari, kau boleh tidur denganku"

.

.

"Shisui, apa yang terjadi?" Kakashi sedang makan ditemani Shisui. "dan jam berapa sekarang?" Kakashi merasakan disorsi waktu, mungkin karena dia tidur lama sekali.

"Kakashi-san ingin mendengar versi aman, atau versi echi-nya" jawab Shisui, ada seringai aneh diwajahnya. "sekarang jam delapan malam, by the way"

Kakashi mengernyitkan dahinya, "maksudnya versi aman atau echi, apa?"

"ya itu, yang terjadi diantara kalian"

Kernyitan Kakashi tambah dalam, untung sakit kepalanya sudah hilang. "kalian siapa?"

"tentu saja, paman obito dan Kakashi-san"

"ha?" apa hubungannya dengan Obito, " memangnya ada apa antara aku dan Obito?"

"masak baru kemarin malam sudah lupa" Shisui menaik-turunkan alisnya.

Kakashi makin bingung, anak ini bicara apa sih?, "berhenti menyeringai dan menaik-turunkan alismu!. Aku serius, apa yang terjadi?"

Shisui menghela nafas, lalu menggerutu tidak jelas.

"apa, aku tidak dengar?" Kakashi berfikir gerutuan Shisui sudah masuk awal cerita.

"bukan apa-apa, jadi versi aman atau echi?"

Walaupun tidak faham Kakashi mencoba mengikuti permainan, "aman?" ucapnya tak yakin.

"versi aman tidak seru, versi echi saja"

Kakashi gondok, "lalu buat apa ada pilihan?" dia menjitak kepala Shisui.

"itte!" Shisui cengingisan sambil mengaduh. Lalu mencatat dalam notenya. Dia memang suka membawa notes kemana-mana untuk mencatat sesuatu yang dianggapnya menarik.

"kali ini apa yang kau tulis?" tanya Kakashi penasaran. Dalam waktu kurang dari seminggu, Shisui sudah mencatat macam-macam tentangnya. Misal, Kakashi-san tidak tau jam makan, kebiasaan yang buruk; Kakashi-san suka makanan manis, tidak terlalu bagus; Kakashi-san tidak bisa membedakan alga dan rumput laut, aku juga tidak; Kakashi-san sangat pintar, harus dicontoh; dan masih banyak Kakashi-Kakashi yang lain, beserta komentar pribadinya.

"ini" Shisui menunjukkan catatannya.

"Kakashi-san itu tertusuk bertenaga penusuk, so cool" baca Kakashi keras-keras. "Ha?!, apa maksudnya itu?" raung Kakashi.

Shisui menyeriingai,lalu memasukkan notesnya ke saku celana. "aku mulai ceritaku, ya. jadi, tadi malam kalian melakukan aktifitas ranjang..."

"ha?" Kakashi terkaget-kaget. Masa iya?. Kok dia tidak ingat.

"...yang sangat panas..."

"ha?" dia harus minta Obito mengulang. Rugi, besar ini.

"Sampai berdarah-darah..."

"Ha?, siapa yang berdarah?" Anarkis sekali, Kakashi sampai terlonjak.

"tentu saja, Kakashi-san. Masak yang menusuk yang berdarah!"

"HAAAAA?, aku berdarah?" Kakashi makin kaget, Obito 'panas' sekali. "dimana?"

"pertanyaan bodoh, tentu saja di pantat. Masa di jidat!" Shisui emosi.

"HAAA?, sungguh?" dia benar-benar tidak ingat. serius, dia harus minta Obito mengulangi adegan ranjang mereka.

Shisui mengangguk-angguk. "setelah itu, Kakashi-san mandi, banyak cairan keluar dari dalam..."

"HA?" alih-alih tersipu, Kakashi malah antusias. pasti Obito kuat sekali. Hihi. -dasar terong!-

"...bercampur darah, pasti sakit sekali..."

Diam-diam Kakashi menusuk belahan pantatnya. "isshhh" dia mendesis, sakit. OH MY GOD! Berarti cerita Shisui ini benar-benar terjadi. sial, kenapa dia tidak ingat!.

"...karna Kakashi-san tidak kuat, akhirnya pingsan. Uh, aktivitas malam sungguh mengerikan ya..." Shisui menerawang.

Kakashi juga menerawang, tapi beda versi.

"oh, aku lanjutkan ceritanya. Paman Obito panik jadi dia memanggil dokter. Dokter bilang, Kakashi-san kelelahan dan butuh kehangatan. Jadi, setelah menyelimuti Kakashi-san dengan tiga selimut, paman Obito memeluk Kakashi-san erat-erat..."

Mulut Kakashi hanya mampu ternganga, serius Obito melakukan itu semua?. Uh, manis sekali. SIAL, KOK AKU TIDAK INGAT?.

"...paman Obito juga mengulum dan memijit telinga Kakashi-san, bergantian. Satu dikulum, satu dipijat begitu terus bergantian..."

"SERIUS?" Kakashi berteriak saking terkagetnya. "eh, tapi untuk apa?"

Shisui mengelus dadanya. "kau membuatku jantungan, Kakashi-san" ucapnya kesal.

"uh, maaf. Spontan. Tolong lanjutkan"

"...semua atas petunjuk dokter, katanya telinga Kakashi-san sangat sensitif. Jadi dikulum biar cepat hangat. Beg..."

"sudah, dongengnya?"

"EHHHHH?" Shisui dan Kakashi berseru bersama. Kaget dengan kedatangan Obito.

TWACK!

"Itte..." Shisui mengusap-usap kepalanya yang dijitak sang paman.

"jangan percaya dia, ceritanya ngawur semua" ucapnya pada Kakashi.

"ha?" Kakashi ternganga, agak kecewa.

"aku tidak ngawur!, aku melihatnya sendiri!" Shisui memperjuangkan cerita 'versi'nya.

"kau hanya melihat bagian berdarah dan kulum saja. lainnya, imajinasimu" Obito duduk santai di kursi kerjanya, membuka-buka dokumen.

"ha?" itu Kakashi. Kalo berdarah dan kulum itu nyata, minimal yang lain mendekati kenyataan kan?, bagian ranjang, mungkin?. Walau dia tidak ingat, tapi dia agak yakin, luka pantat saksinya. Atau, karna Obito sangat hebat sampai melumpuhkan saraf-sarafnya, membuatnya lupa dunia. Mungkin saja, kan. seperti didalam cerita-cerita.

"paman!" itu Shisui. " aku sudah dewasa, jadi tidak perlu menutup-nutupi hal seperti itu. Aku mengerti, kok"

"koreksi, sok dewasa!. Itachi jauh lebih dewasa darimu, dan lebih logis"

"aku tidak terima!" seru Shisui keras, merajuk.

"dengar Shisui, kau harus berhenti membaca novel dewasa. Oke!"

"tapi aku sudah dewasa, kau tidak bisa melarangku!"

"tapi itu mempengaruhi analisismu. Lihat, ada banyak ketimpangan dalam ceritamu, Kau terpengaruh oleh bacaanmu. Pertama, ada Sasuke disini semalam; jadi kegiatan echi tercoret dari daftar. Bukti yang memperkuat; aku tidak tidur disini. Saksinya, Kisame dan Yuki-san; kami bermain catur semalaman. Sampai disini saja, kau sudah melupakan banyak hal. Jadi saranku, berhenti membaca novel echi; banyak belajar; rajin berlatih dan keep spirit. Itu kalau kau ingin menjadi Uchiha yang tangguh. Faham?"

Karna serius memperhatikan Obito, Kakashi sampai tidak tau kalau Shisui yang didepannya menunduk dalam.

"faham. Maaf, paman"

"dan lain kali, diam akan jauh lebih baik, saat kau hanya tahu sesikit. Mengerti?"

"mengerti"

Kakashi baru menyadari satu hal. Saat mendidik keponakannya, Obito akan berubah menjadi sangat Uchiha. Tunggu dulu, Uchiha?. "Shisui bukannya di sekolah?, bagaimana bisa?"

"dia kembali saat pergantian jam, membolos"

"aku tidak membolos!" tukas Shisui. "guru sejarahku sakit, jadi aku pulang"

"whatever" Obito memutar bola matanya. "Sekarang dengarkan cerita yang sesungguhnya. tapi sebelumnya, Kakashi; kembali ke ranjangmu; buat dirimu rilek. kau kelihatan tegang"

Kakashi menurut tanpa membantah, dia berjalan ke ranjang dan duduk bersandar dengan nyaman.

"pukul 6 pagi, aku membangunkan Sasuke, saat itu kau sudah bangun, aku mendengar shower menyala. Setelah itu aku membantu Sasuke bersiapa, dan pada 6 lewat 46 menit aku mengantar kalian bertiga ke sekolah..."

Shisui mengangguk membenarkan.

"...saat aku kembali, aku membawakan sarapan pagi untukmu, Kakashi. Itu pukul 7 lewat 10 menit. Kau masih di kamar mandi, aku memanggilmu berulang kali tapi kau tidak menyahuti, akhirnya aku berteriak dan menggedor pintu, kau masih tidak menyahuti. Lalu kuputuskan mendobrak pintunya, kupikir pasti ada yang tidak beres di dalam..."

"paman, kau melewatkan bagian 'aku khawatir' setelah itu baru 'kudobrak pintunya'" Shisui menyeringai.

"kau terpengaruh bacaanmu, lagi" Obito memelototi Shisui.

"tunggu, kupikir Shisui benar. Aku mendengar nada khawatir saat kau memanggilku"

"arrrgh, dasar anak nakal!. baiklah. Aku khawatir, jadi kudobrak pintunya. Puas?"

Kakashi dan Shisui menyeringai lebar.

"dan kalau kau bisa mendengarku, Kakashi. Kenapa kau tidak menjawab?"

"aku tidak bisa"

"hm, benar juga. Aku lanjutkan, kali ini jangan menyela sebelum aku selesai", Obito memijat pangkal hidungnya, "saat pintu terbuka, aku melihatmu hanya diam, kaku, dengan banyak darah mengalir..." Obito ragu-ragu.

"dari pantat" seru Shisui.

Obito melotot, "kataku jangan menyela!" menghela nafas, "baiklah, kita lewati bagian itu. Tubuhmu sangat dingin, hampir seperti mayat. Jadi aku menyelimutimu dengan tiga selimut, mengatur suhu ruangan ke level panas, dan memanggil dokter. Dokter bilang, kau hipotermia. Kukatakan padanya, kau hanya mandi satu jam, bagaimana bisa hipotermia?, dokter menjelaskan kalau mandimu kurang lebih tujuh jam. Jadi Kakashi, kau mulai mandi jam berapa sebenarnya?"

Kakashi terdiam sebentar, "aku mandi setelah jam besar berbunyi, tapi kupikir mandiku hanya beberapa menit"

"hanya beberapa menit yang hampir membunuhmu" Obito menarik nafas lalu menghembuskan lewat mulut, untuk meredakan amarahnya yang mulai timbul, "mungkin kau melamun, dan lupa waktu"

"aku tidak sengaja" Kakashi mengedikkan bahu.

"ck, lain kali hati-hati. Kau mandi dengan air paling dingin, ditengah malam buta, sampai pagi. Terlambat beberapa menit saja, kau bisa kehilangan telinga" Obito gusar. Makluk cantik tanpa telinga, sayang sekali.

"jadi, itu sebabnya kau mengulum telingaku?"

"ya, sesuai saran dokter" menghela nafas, lalu memandang Shisui, "itu cerita yang sesungguhnya. Lain kali, jangan terlalu mendengarkan cerita para pelayan, perempuan-perempuan itu suka sekali bergosip. Dan gosip memang selalu lebih spektakuler daripada faktanya. Kau mengerti sekarang, kan?"

"iya paman" Shisui mengangguk, "apa paman memecat mereka lagi?"

"iya, aku tidak suka para penggosip. Mereka berbahaya. Besok akan datang pelayan-pelayan baru. Sekarang, kau harus tidur, sudah malam" Obito membimbing Shisui keluar, sekaligus akan menyambangi kamar-kamar keponakannya yang lain.

Meninggalkan Kakashi yang tengah berfikir, paman yang satu ini keren sekali.

.

.

"belum tidur?"

Kakashi mendongak dari bacaannya. Novel dewasa pinjaman Shisui. Yup, Icha-icha, Seri pertama. ini nanti yang menjadi cikal bakal kebiasaan Kakashi membaca novel dewasa itu.

"uh, kupukir kau tidak akan kembali" Kakashi menegakkan tubuhnya.

Obito menghela nafas. "Kakashi, maaf"

"maaf?"

"aku tidak lebih baik dari Shisui, cuma tahu sedikit sudah menyimpulkan macam-macam"

Ada kesunyian canggung diantara keduanya.

"um, apakah aku dimaafkan?" Obito menggosok tengkuknya.

"ten...tentu..." Kakashi masih canggung.

Obito melangkah lebar-lebar lalu tanpa terduga dia memeluk Kakashi. "terimaksih"

Kakashi kaget, dia diam tidak merespon. Segala sesuatu kok ajaib begini jalannya?. Kakashi belum siap, Ayah!.

Obito melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. "kau tau, setelah memelukmu beberapa jam kemarin, sepertinya aku ketagihan" ucapnya blak-blakan.

Kakashi tidak tau harus merepospon apa.

"kau tidak keberatan, kan?"

"eh, ti...tidak..." sebenarnya Kakashi ingin berteriak 'tentu saja tidak, kau bercanda?', tapi kata-katanya hilang entah dimana.

"kalau begitu, malam ini kau jadi gulingku. Aku ingin memelukmu lagi"

"EHh?"

Obito menaiki ranjang melewati tubuh Kakashi, lalu berbaring disebelah kirinya. "ayo cepat berbaring" pinta Obito.

"ha?, oh, eh, iya baiklah" Kakashi berbaring dengan canggung. Apa yang terjadi disini, Ayah?.

"berikan punggungmu padaku"

"um, i...iya" Kakashi memunggungi Obito, dan langsung merasakan tangan dan kaki paman ganteng itu ditubuhnya. 'ya Tuhan, semoga Obito tidak mendengar detak jantungku!' batin Kakashi histeris.

"kau tegang ya?, jantungmu berdebar-debar loh"

Ya Tuhan, dia mendengar. Memalukan sekali. "i...itu, karna k...kau...memelukku, baka!"

"hm, apa itu artinya kau menyukaiku?"

"tentu saja!" jawab Kakashi reflek, setelah itu dia membungkam mulutnya erat-erat. "lu...lupakan yang barusan"

"tidak akan, hoam" Obito menguap, "aku juga menyukaimu"

Jantung Kakashi mengalami disfungsi beberapa saat. "Kau serius?"

Tidak ada sahutan.

"Obito?"

Terdengar dengkuran halus.

"huft, kupikir dia serius"

Obito nuzzling di leher Kakashi, "baumu enak sekali, Kakashi"

"dia bahkan sudah mengigau, huft. Oyasumi, Obito"


#peralihan sudut pandang disini#


Aku lulusan Otogakure High School, lalu dua minggu lagi aku akan masuk Universitas Kirigakure. Aku dapat beasiswa disana, tapi aku harus menyerahkan karya ilmiah tentang botani karna aku di fakultas peetanian. Jadi disinilah aku, Amegakure. Curah hujan sangat tinggi disini, aku penasaran dengan tumbuh-tumbuhannya. Tapi aku juga membawa masalahku kesini. Aku... Umz, hiperseks. (Aku bukan penjaja kenikmatan, sungguh). Aku sangat horny, setiap hari kebutuhanku itu semakin mendesak, jadi aku mencari seseorang untuk membantuku, tentunya orang yang kupikir baik, lalu aku melihat Kisame mengawasi keponakanmu diam-diam (aku pikir awalnya dia penculik), tapi Kisame melindungi mereka saat hampir diserang segerombolan orang. Jadi kesimpulanku dia adalah orang yang baik. Awalnya, aku meminta tolong baik-baik, tapi dia menolak. Aku tidak patah semakin, setiap hari kuikuti dia dan meminta tolong, dia terus menolak. Sedangkan semakin hari, kebutuhanku semakin mendesak. Kau tahu, orang hiperseks sepertiku sangat berbahaya saat sedang ingin, bisa lupa daratan, disentuh sedikit saja bisa mendesah tak karuan. aku takut ada orang yang tahu masalahku, aku tidak mau diperkosa dijalanan. Hingga aku mencapai batas dan terpaksa meracuni minuman Kisame-san, tapi malang sekali nasibku, ulahku ketahuan dan akhirnya, bencana itu tak terhindarkan bahkan lebih buruk dari yang kutakutkan. Aku tahudiri kok, kalau aku menjijikkan. Jadi tolong jangan mengataiku lagi ya, Obito. Aku sedih mendengarnya. Dan jangan bahas masalah ini denganku secara langsung, tolong. Aku malu.

Obito melipat kertas curhatan Kakashi. Menghela nafas berat. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, tapi dia tidak mau membuat Kakashi malu. Sekarang saja, Kakashi sudah kelihatan sangat malu. Dia menunduk dalam-dalam dengan rona merah pekat diwajah sampai lehernya. Kelihatan lezat, sih. Sejujurnya.

"kenapa tidak kuliah di Konoha saja?. Pertanian terbaik ada disana, tentu Universitas pertanian terbaik juga ada disana, kan?"

"entah" Kakashi mengedikkan bahu, masih dengan menunduk.

"kalau kau disana, kita bisa saling bertemu kapanpun. Aku serius dengan ucapanku malam itu. aku menyukaimu, dan ingin bersama-sama denganmu"

"eh, kupikir kau sudah tidur?"

"tidak, aku masih terjaga sampai kau tertidu"

"kau mengerjaiku?"

"tidak, aku hanya ingin seperti itu" Obito tertawa kecil. "jadi kau menerimaku tidak?"

"apa?"

"ck, aku kan sedah menembakmu tadi. kau menerimaku tidak?"

"tentu saja" Kakashi memandang Obito sungguh-sungguh. Dia sama jantannya dengan Obito, jadi malu-malu kucing tercoret dari skenario.

"terimakasih. Kalau begitu kita akan LDR-an ya, kau kan kuliah di Kiri"

"aku bisa ikut kemanapun kau pergi..."

"dan merelakan kuliahmu?, aku tidak suka se..."

"tidak, tentu saja aku akan tetap masuk Universitas. Lihat..." Kakashi menunjukkan halaman gmailnya dari ponsel Obito yang menjadi pegangannya beberapa hari ini. "aku diterima di Universitas Konoha"

"tapi katamu?" Obito senang tapi juga bingung, "bagaimana dengan beasiswamu?"

"kau bilang kalau aku butuh uang, kau akan memberi"

Obito terdiam. Benar dia pernah berkata begitu. Tapi, untuk biayaya kuliah apalagi di Konoha University, rasanya Obito tidak cukup mampu. Keuangannya sedang sangat kacau. Sebagai pemegang tahta Uchiha dan Akatsuki dia punya banyak mulut untuk diberi makan, punya tiga keponakan yang biaya sekolahnya hampir membunuh orang. Jika ditambah dengan biaya kuliah Kakashi? Aduh, Obito sakit kepala dadakan. Dia mencatat dalam benaknya, lain kali harus lebih hati-hati saat berbicara.

"Obito?"

"baiklah, kau akan ikut bersamaku ke Konoha" Obito tersenyum dalam tangis.

"kau yakin?. Universitas Konoha biayanya paling mahal, Obito. Tidak apa-apa kalau aku harus mengambil beasiswaku"

"tidak!" Uchiha tidak akan menarik ucapannya. "kau tidak usah pikirkan masalah itu. Itu semua urusanku" sepertinya, Obito harus berpuasa mulai besok.

Diam dalam sunyi. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"hahhahhahhaa" tiba-tiba Kakashi tertawa terbahak-bahak, memecah keheningan.

"ada apa?" Obito heran dengan tawa Kakashi yang tiba-tiba.

"wajahmu,...hahaha... seperti baru di terjang badai... Hahaha...badai prahara...hahhaa"

"Kakashi itu bukan lelucon!" seru Obito keras.

"dengar. Aku tahu keuanganmu sedang buruk. Jadi tidak perlu membiayai kul..."

"hei, tidak apa-apa. Aku sudah katakan padamu, kan. Itu semua urusanku"

"bwu, sok keren" Kakashi mencela.

"tunggu Kakashi, bagaimana kau tahu kalau..."

"aku membaca semua dokumenmu saat kau tidak ada. Aku baru tahu kalau kau Uchiha malam itu. aku penasaran dengan kekayaanmu, jadi kubaca semua. Yang dilaptopmu juga"

"oh" Obito merutuki kecerobohannya, awalnya dia tidak berfikir Kakashi akan membaca dokumennya. Siapa yang menyangka kalau sebenarnya dia terpelajar, kelakuannya saja mirip terong-terongan begitu. "jadi kau tahu kalau aku miskin sekarang, ya" Obito mencoba tertawa tapi gagal.

"yap. Bisnismu di Konoha mengalami penurunan drastis, itu sebabnya kau akan kembali ke Konoha, kan?"

"iya, banyak hal yang mencurigakan. Orang kepercayaanku tidak bisa kuhubungi, mungkin para tetua bodoh tapi minta dihormati itu menyingkirkan mereka. Mencoba mengambil kekuasaan saat pemimpin tidak menduduki singgasana"

"bagaimana dengan Akatsuki?, kau juga pemimpinnya, kan?"

"iya. Tapi sebenarnya yang lebih berhak adalah Yahiko. Mau tidak mau dia harus mengambil alih kepemimpinan"

"Yahiko siapa?, berapa Usianya?"

"Yahiko adalah anak dari Kakak laki-laki Ibuku. Dia seumuran dengan Shisui. Jadi saat Pamanku meninggal tiga tahun yang lalu, kepemimpinan sementara dipegang olehku. Karna penerus yang sah masih terlalu kecil"

"kau kan Uchiha, setahuku Klan Uchiha hanya ada di Konoha. Bagaimana kau dan ketiga keponakanmu ada disini?"

"kau dengar tentang pembantaian klan Uchiha empat tahun yang lalu?"

"iya, beritanya dimuat besar-besaran disemua tv dan koran"

"tugasku adalah menyelamatkan ketiga keponakanku. Jadi dibantu Kisame, aku membawa mereka ke sini, Amegakure. Kampung halaman ibuku dan sanak familiku. Aku minta perlindungan pada keluargaku disini"

"jadi sang penerus masih hidup. Kupikir mereka sudah habis semua, itu yang dikatakan berita"(Kakashi)

"kami masih terlalu kecil saat itu, belum bisa membela diri, aku 15 tahun; Shisui dan Itachi 10 dan 9; Sasuke baru 4 tahun. Jadi kami bersembunyi Kakashi, demi keamanan. Kami juga mengganti marga kami dengan marga Ibuku. Tapi penerus sejati bukan aku, karna aku anak selir ayah. Juga bukan Shisui, karna ayahnya juga putra selir. Pewaris sejati adalah Itachi dan Sasuke, yang ayahnya merupakan seorang Kaisar menggantikan tahta ayah"

"lalu bagaimana dengan klan Uchiha di Konoha?" (Kakashi)

"karna tahu kami masih hidup, mereka mendesak pelantikan pemimpin baru. Klan tanpa pemimpin hanyalah omong kosong. Jadi saat usiaku tepat 15 tahun, aku terpaksa dilantik menjadi pemimpin baru para Uchiha sekaligus Akatsuki-karna pamanku meninggal dua minggu setelah pembantaian-. Butuh berminggu-minggu untuk menerima takdir baruku, semua terjadi begitu cepat. Aku merasa tidak siap, aku tidak tahu apa-apa, aku hanya remaja kelas 1 SMA yang bahagia awalnya, tak sekalipun ada yang memberitahuku kalu aku ini keturunan mafia. Ibuku menyembunyikan Akatsuki dariku, Ayahku tak pernah berbicara apapun padaku tentang apa itu Uchiha sampai kematiannya. Lalu tiba-tiba aku dipaksa menjadi kaisar di dua kerajaan bawah tanah terbesar. Aku merasa dibohongi semua orang, dan diejek oleh takdir. Aku tidak terima, tidak mau. Aku bersiap pergi dari semua kegilaan itu, lalu Kisame menamparku kuat-kuat. Stelah itu aku mendapat ceramah panjang darinya" Obito mengedikkan bahunya. "ah, sudahlah. Aku malah berbicara tidak penting. Kita sedang membicarakan kuliahmu tadi"

Kakashi masih diam, meresapi cerita Obito.

"Kakashi?"

"aku suka pembicaraan tidak pentingmu itu Obito, kau hebat sekali" Kakashi mamandang Obito dengan tatapan memuja.

"bagian mananya yang hebat. Aku sudah memegang klan Uchiha tiga tahun, bukannya semakin baik, tapi malah semakin bangkrut"

"tapi kau berhasil membuat Akatsuki berjaya, Obito. Tinggal menggulingkan Salamander-san dan Amegakure ada digenggamanmu"

"kau juga tahu tentang Hanso-san?, seberapa jauh kau membaca dokumenku?!" Obito menunjuk-nunjuk Kakashi heboh.

Kakashi menggaruk tengkuknya dibarengi cengiran.

"aku harus benar-benar mengikatmu, Kakashi. Kau terlalu banyak tahu rahasia kerajaanku"

"dengan senang hati. My Lord" jawab Kakashi ceria. "kapan kita ke Konoha?"

"dua minggu lagi. Setelah Akatsuki menggulingkan Salamander-san"

"deal" Kakashi menjabat tangan Obito ala bianis. "um, aku sudah tahu semua tentangmu. tidak adil rasanya kalau kau tidak tahu apa-apa tentangku. Kita juga belum berkenalan dengan benar, Jadi izinku aku melakukannya dengan benar kali ini" menarik nafas dalam, lalu berkata, "perkenalkan, saya Kakashi Hatake. Senang berkenalan denganmu, Obito Uchiha-san" Kakashi tersenyum lebar.

"Hatake?" Obito tergagap, mulutnya tebuka dan menutup tanpa sadar. Hatake, Hatake, Hatake. Shit, jadi remaja cantik yang dia kira terong-terongan ini adalah putra Sakumo Hatake-san, pemilik pertanian terbaik di Konoha?. Ya Tuhan, malu sekali dia sudah menawarkan uang.

"yap, Hatake" Kakashi menyeringai lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Obito, "Kurasa Ayahku masih mampu membiayai kuliahku, jadi kau tenang saja"

Obito masih membeku. Ya Tuhan, bukan hanya mampu, Pak tua menyebalkan yang tidak mau bekerja sama dengan Uchiha itu bahkan sanggup membeli kekayaan klannya. Obito malu sekali. Tuan bumi, tolong telan Obito sekarang juga, Dia tidak sanggup memperlihatkan wajah miskinnya di depan pangeran cantik cap terong di hadapannya.

"dan tenang saja. Aku akan meminta Ayah bekerja sama denganmu, Uchiha-san" tambah Kakashi ceria.

Ya Tuhan, adakah yang lebih memalukan daripada kata-kata Kakashi barusan. Rasanya, Obito ingin menangis geluntungan.

.

.

Tbc.

Hahaha. ingin menanggung hidup Kakashi, ujung-ujungnya malah hidupnya yang bakal ditanggung Kakashi. Selamatkan harga dirimu Obito. Fighting.
Mari Reader-san, kita memotivasi Obito bersama-sama.