Bott!Kakashi
(Obito's baby)
Rate : M
pair : Genma x Kakashi. (teruntuk Ara-san dan Nae-san)
Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Sebelum cerita dimulai, saya mo cuap" dikit.
1. Tanks BGT yang udah baca, ngikutin, ngefavoritin, n ngomenin cerita ini.
2. Saya penasaran sama lexianthegreat n MiKaGu, ano, maaf, apakah kalian orang Indonesia? #penasaran tingkat dewa. Soalnya di profil lexianthegreat-san (Fav. Stories) itu cuma fanfic ini yang bahasa Indonesia. #exited. Kalau MiKaGu-san malah gak ada bahasa Indonesianya sama sekali. Please, jawab saya yach. Penasaran sekali.
3. Buat bunnyjunmama: makasih ya reviewnya, biasanya kan saya bales komen di PM, tapi punya kamu ternyata gak bisa dikirimin. Jadi maaf yang di bab kemarin gak kebales. Saya seneng pas dikomen humornya natural, #i'm capricorn. orang capricorn 'katanya' humoris. ^_^ . Jadi, seneng aja bisa ngaplikasiin ke dunia fanfic. So, keep review dude. 3
Bab ini isinya 'Hurt/confort', semoga dapet 'feel'-nya.
Happy reading minna-san...
.
.
Ini kembali ke masa pas Kakashi habis di 'eksploitasi' Asuma.
.
Obito sering menangis, jika sudah berhubungan dengan Kakashi. Seperti saat ini, punggung tegapnya berguncang karena tangis tanpa suara. Setiap kali dia merawat Kakashi yang seperti ini-lemas kehabisan tenaga- dadanya serasa diremas tangan raksasa; sesak luar biasa.
Seandainya orang-orang diluar sana menghargai tubuh kekasihnya, walau hanya sedikiiiiiit saja, Obito pasti tidak sesedih ini.
Tangan pucat dia kecup dalam, Ya Tuhan seandainya Obito bisa, dia akan melindungi lelaki ini dari tangan-tangan yang berniat menjamahnya. Namun apa daya, dia tak kuasa. "maaf..." sekali lagi, punggung tangan digenggamannya dia kecup dalam-dalam, air matanya mengaliri tangan yang dia kecup. "maafkan aku..."
klik
Pendengaran Obito yang super tajam mendengar bunyi pintu terbuka. Batinnya meraung putus asa, salah satu hal yang dia benci dari apartemen Kakashi, Hampir SEMUA orang TAHU kode KUNCINYA. Oh Kami-sama, bolehkah dia membunuh seseorang sekarang juga?. Mengusap kasar air matanya, dia siap siaga. Menghela nafas berat. Kepala di tegakkan. "tolong pulanglah, dia sedang istirahat"
"pulang?" mendengus kasar. "kau yang pulang, pecundang. Aku mempertaruhkan hidupku untuk kunci apartemen ini. Sebelum kubobol lubang pemiliknya, aku takkan kemana-mana. Jadi sebelum aku menghajarmu, cepat keluar!"
Obito mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menyobek mulut biadab itu, "kembalilah lain waktu", atau jangan pernah kembali, tambahnya dalam hati.
"Fuck, minggir kau!. Hanya lubang Kakashi yang kuperlukan, Aku tak ada urusan denganmu" derap langkah mendekat.
Gigi Obito bergemelutuk. cukup!, gudang kesabarannya tidak seluas samudra. berbalik cepat menatap nyalang pada tamu tak diundang, 'bukan warga Konoha'. Dia menyeringai penuh dendam, 'cukup bagus dijadikan pelampiasan'.
"menyingkir, at...AAAAARRRRRRRGGGGGHH" si tamu terpincang-pincang memegangi pahanya yang berlubang, banjir darah segar, "bajingan!"
Secepat kedipan mata, Obito menembakkan revolver kedap suara. "kau butuh lubang?" dia mendesis, "bagaimana jika kubuatkan?", Obito mengarahkan revolver-nya lagi, "tepat diatas matamu!", seringai sadis sebagai pemanis.
"kau!", si tamu melotot tak terima, kuda-kuda siap menerjang.
Obito menarik pelatuknya.
Memutar haluan, nyali tak sebesar badannya yang kekar. "Asshole!, tunggu saja pembalasanku!", si tamu keluar dari apartemen Kakashi dengan terpincang-pincang.
Obito menghela nafas, lalu duduk kembali di kursi belajar yang tadi dia tarik ke dekat ranjang. "aku berhasil menjagamu kali ini, sayang", tangan pucat diusap penuh perasaan. mata nanar cermin penyesalan.
Klik
"Ya Tuhan, siapa lagi kali ini!" Obito menggeram.
.
.
"wow...wow...wow..." si tamu part-2 mengangkat tangan mendapati sebatang benda mengancam nyawa ditodongkan padanya.
"Gai?" Obito menurunkan revolver-nya.
"apa itu tadi, sobat?" Gai menghampiri Obito was-was.
"ada bajingan yang ingin menjamah pacarku" Obito mengangkat bahu.
"hum?" pose berfikir, "berani sekali dia, ya?"
"bukan orang Konoha, kurasa"
"oh" Gai mengangguk-angguk. Faham, jika ada yang berani mendekati Kakashi saat ada Obito didekatnya pasti bukan warga Konoha, semuanya tahu kalo burung 'panas' itu ada yang punya.
"ada apa kemari?, kau tidak berniat tidur dengan pacarku, kan?" mata Obito menyipit curiga.
Manusia ber-spandex hijau yang mendeklarasikan diri sebagai sahabat berlabel rivalnya Kakashi tersebut menggeleng, "hubungan kami tidak seperti itu, sobat" dia menepuk pundak Obito santai. "dia ingin menonton konser musik di Suna. aku mendapat tiket separuh harga, jadi kubagi dengannya" Gai mengeluarkan dua tiket dari tas kecil dipinggangnya.
Obito mengambil satu tiket dari tangan Gai. tiga hari lagi. "kalian berdua?"
"tidak, kami beramai-ramai"
Obito mengangguk dan mengembalikan tiketnya. Mengambil smartphone yang bergetar di saku jasnya. "moshi...moshi..."
"..."
"apa?, kandungannya baru tujuh bulan, kan?" Obito mengerutkan dahinya.
"..."
"prematur?" raut wajah berubah khawatir. "baik, aku segera kesana"
"ada apa, sobat?"
"Hanae-san akan melahirkan, prematur, aku harus segera ke rumah sakit. Gai, bisa tolong jaga Kakashi?"
"serahkan tugas itu padaku, sobat. Kau pergilah"
Obito mengecup kening Kakashi, "maafkan aku..."
"terimakasih Gai, aku pergi dulu, Jaa ne"
"jaa, hati-hati di jalan, Papa" goda Gai.
Obito meringis. ngeri.
.
.
Hanae-san atau Uchiha Hanae adalah anak dari salah satu tetua klan Uchiha, dia istri Obito. Istri pertamanya.
.
.
.
Saat hampir jam sepuluh malam, Kakashi terbangun dari tidurnya. pandangannya langsung tertuju pada televisi yang menyala, "Gai?"
"oh, hai Kakashi. Bangun?" Gai berbalik. Apartemen minimalis Kakashi yang tanpa sekat memudahkan komunikasi.
"em, aku lapar"
"tunggu sebentar, aku akan memanaskan makananmu" Gai berjalan ke pantri. Kenapa Gai yang melakukanya?, karna satu-satunya penerus klan Hatake itu buta masalah dapur, dan manja-catat- sangat manja.
Kakashi turun dari ranjang, mengamati bajunya. "kau yang mengganti bajuku?"
"Obito yang melakukannya sobat, dia baru pergi tiga jam yang lalu" Gai memasukkan makanan kedalam microwave.
"em, kenapa dia pergi?" biasanya kalau sudah kesini, Obito akan menginap.
"Hanae-san melahirkan..." Gai menghentikan ucapannya, membaca situasi.
"oh..." hanya begitu respon Kakashi.
"...kau baik-baik saja, kan. Kakashi?"
"hm, ya" Kakashi mengangkat bahu, lalu duduk sembrono di karpen depan TV. "iiissshhh" dia memdesis, baru ingat kalo pantatnya 'cedera'.
"pakai ini" Gai menata-kan bantal lembut untuk duduk Kakashi.
"terimakasih"
"sekarang kau harus makan rivalku, KITA AKAN BERTANDING GAME MALAM INI!" ucap Gai berapi-api. Dia berjalan ke microwave dan mengambil makanannya, Kakashi punya 'lidah kucing' jadi tidak bisa makan makanan panas.
Kakashi menyambutnya dengan gembira, "oke!" mengambil mangkuk penuh nasi dan udang goreng yang disodorkan rival terselunhnya. Dia melihat, di mangkuk lain ada sup tofu dengan tauge dan- "aaaarrrrrggghhhh, Obito sialan. Aku tidak mau makanan menjijikkan ini" Kakashi bangkit membawa mangkuk ke tempat sampah, byuuuurrrr, mengosongkan isi mangkuk sup yang mengandung -brokoli.
Gai tertawa sampai guling-guling di tikar. Wajah ngeri Kakashi itu langka, Man.
"kuso!. berhenti tertawa, Gai!" umpatnya.
"itu hanya sayuran sobat, hwa...hahaha..., kenapa...kau...hwahwahaha...benci sekali...hahaha...?"
"bentuknya seperti kepala penis, menjijikkan" jawab Kakashi ketus.
"Hah?" manusia hijau itu mengerutkan keningnya. geli. Kakashi dan penis itu sudah seperti ponsel dengan charger, roti dan selai, atau perempuan dengan cermin, intinya, sudah SATU PAKET. Tawa Gai semakin membahana.
"seseorang pernah memasukkan benda itu ke lubangku"
Gai terdiam seketika. Matanya menghorror hiperbola. Dia baru tahu alasan Kakashi benci brokoli, sepertinya dia juga akan melakukan hal yang sama setelah ini.
bayangkan saja apa yang diucapkan kawannya, ieuwh menjijikkan.
.
.
"aku mengantuk Kakashi, hoam" Gai menguap lebar lalu rebahan di tikar, konsol game masih tergenggam di tangan kirinya.
"tidur saja" Kakashi meletakkan konsolnya.
"ayo, kau juga tidur, hoam"
"aku ingin menelepon ayah sebentar", Kakashi mengubek ranselnya mencari ponsel.
Gai mengangkat kepalanya "MENELPON SAKUMO-SAN? DIPAGI BUTA BEGINI?"
"dia akan mengangkat telfonnya" balas Kakashi datar.
Tapi di telinga Gai terdengar seberti 'Dia harus mengangkat telfonku!'. Ya Tuhan, anak ini. "INI JAM TIGA PAGI, KAWAN. AYAHMU MASIH TIDUR"
"diam Gai!, telfonku sudah tersambung" desis Kakashi judes. "...ya Ayah, ini aku..." dia pergi ke ranjangnya.
Gai mendesah, anak manja memang beda ya.
.
.
"...ya Ayah, ini aku..."
"ada apa Kakashi?" terdengar suara mengantuk ayahnya.
Kakashi terdiam beberapa saat. Mengatur pernafasan agar suaranya terdengar biasa saja, "...Hanae-san melahirkan..."
Gemirisik selimut, mungkin sang ayah bangun dari peraduanya. "ayah mendengarkan"
"...bagaimana...bagaimana jika...dia meninggalkanku setelah ini..." ucapan Kakashi terbata-bata, dadanya sakit hanya dengan membayangkannya. "...ayah..."
"Kakashi, jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi, jalani saja"
"...aku tahu, aku hanya..." Kakashi menghela nafas berat.
"kau khawatir, aku tahu. Tapi tenanglah, pikirkan saja hal yang positif. Dia tidak akan meninggalkanmu"
"...tapi jika..."
"Nak..." ayahnya memotong, "Tuhan bersama prasangka hambanya, jadi berprasangkalah yang baik"
Kakashi terdiam, ayahnya benar, dia harus berprasangka baik. "aku mengerti ayah"
"kau putra ayah yang hebat, kau pasti bisa melalui ini" ayahnya pasti tersenyum sayang diseberang sana.
"terimakasih, ayah" Kakashi juga tersenyum. "tapi seandainya...dia benar-benar meninggalkanku...bagaimana?"
"maka ayah sendiri yang akan memenggal kepalanya. Bagaimana, kau setuju?"
"setuju!" Kakashi tertawa pelan atas kejenakaan ayahnya.
"nah, aku senang mendengar tawamu. Masih ada lagi yang kau ingin ayah dengar?"
"ayah mengusirku?"
"sebenarnya, iya. Ayah masih mengantuk, Nak" Sakumo tertawa.
"jahatnya" Kakashi menbuat nada kesal, yang ditanggapi ayahnya dengan tawa makin lebar. "baiklah-baiklah akan kututup telponnya!"
"okay"
Keduanya terdiam, dengan telepon masih tersambung. Entahlah, sepertinya ada yang kurang.
"...ayah..."
"Nak, ayah tidak akan berkata 'semua baik-baik saja', tapi ayah selalu berkata 'kau akan sanggup melaluinya'. Dan jika kau butuh bantuan, kami selalu disisni untuk kalian, anak-anak ayah. kau bisa pulang ke ayah. kapanpun kau mau, Kakashi..."
Kakashi mengangguk, tapi cepat-cepat menambahi -"iya ayah"- karna ayahnya tentu hanya bisa mendengar suaranya.
"tunggu apa lagi?" Sakumo berkata tidak sabar.
"Ya Tuhan, Ayah benar-benar menjengkelkan!" seru Kakashi kesal. "baiklah, selamat pagi. Jaa..."
"setidaknya berkatalah 'maaf mengganggumu, Ayah'" Sakumo menirukan suara Kakashi.
"tidak akan!" Kakashi menyeringai. "jaa ne, sampaikan salamku pada Ibu"
"dasar, anak nakal. Jaa"
Sambungan terputus. Kakashi menghela nafas lega. Ayahnya memang yang terbaik.
"dasar manja" Gai mencemooh. Tangan menopang dagu diatas bantal.
Kakashi baru ingat kalau ada temannya disana. Acuh, dia hanya meleletkan lidahnya. "selamat tidur, Gai" Kakashi menarik selimutnya.
"mimpi indah, rival sejatiku", Gai pikir Kakashi baik-baik saja, ternyata tidak. Menghela nafas, memancatkan do'a untuk kebaikan sahabatnya. lalu membalik tubuhnya, Tidur telentang beralas tikar Turki di depan TV.
Tak berapa lama terdengar dengkuran dari keduanya, dengan volume yang berbeda.
.
.
Kakashi memandang jam dinding dan pintu bergantian. Dia mulai gelisah. Sudah lima belas menit terlewat sia-sia, sarapannya yang biasanya tepat waktu tidak datang-datang juga.
"kutunggu sebentar lagi" Kakashi mencoba positif.
Namun lima belas menit dia menunggu lagi. Pintunya masih tak terketuk. Makanan paginya tetap tak datang.
Kakashi menghela nafas, sedih. "dia mulai mengabaikanku". Mengambil ransel, dia berangkat ke Universitas dengan perut kosong.
.
.
Siang hari, sekali lagi Kakashi menghela nafas kecewa. "dia benar-benar mengabaikanku". Makan siangnya juga tak datang. Kakashi berjalan lesu ke ruang mata kuliah berikutnya, Agrikultural.
.
.
Sore harinya, Kakashi memutuskan mengisi perutnya dengan ramen Ichiraku dan dua porsi dango. Bodo amat kalau Obito mengabaikannya, dia malah bersukur karna bisa makan apapun sepuasnya. Walau syukur-nya dibarengi rasa teriris-iris yang sakit sekali di dada.
.
.
Sepanjang pagi hari berikutnya Kakashi terus memegangi perutnya, dosen yang mengoceh di depan sudah hilang dari atensinya, perutnya melilit, sakit sekali.
"Kakashi, kau baik-baik saja?"
Seseorang menanyainya, siapapun dia Kakashi tak mengenali suaranya. Saat ingin mendongak, tiba-tiba kepalanya pusing, pandangannya tak bisa fokus, matanya berkunang-kunang. "itteeee", Kakashi tak tahan, perutnya sakit sekali.
"My God. Kau pucat sekali" orang tersebut bertambah khawatir. "Sensei... Aku akan membawa Hatake-san ke ruang kesehatan"
"oh, Hatake-kun sakit? Baiklah cepat bawa kesana!" dosen perempuan itu juga terdengar panik.
Kakashi merasakan tangan orang tadi membantunya berdiri dan memapahnya. Tapi baru selangkah, dia terjatuh. Kakinya tak sanggup menopang badannya.
Teman-teman sekelasnya memekik kaget.
"Ya Tuhan, Kakashi!" orang yang memapahnya membawanya ke pundak, seperti karung beras. mental attack, dia merasa sangat menyedihkan saat ini.
.
.
Genma menunggui Kakashi yang tertidur lelap karna obat pemberian petugas jaga ruang kesehatan, calon dokter, Kabuto. Dia juga membelikan bubur ayam untuk dimakan bersama jika Kakashi bangun nanti. Bocah kedokteran itu bilang kalau perut Kakashi sakit karna kelaparan. Karna terus merintih, Kabuto terpaksa 'menenangkannya'. dia bukan calon dokter yang sabar, ngomong-ngomong.
Genma melepas masker dari wajah Kakashi. Dia terpana. Di depannya adalah maha karya terindah yang pernah dicicipi matanya. "sempurna..." bisiknya tanpa sadar. Tangannya langsung gatal, namun dia tak berusaha menahan. Jemarinya dia bawa ke wajah Kakashi, menelusuri kesempurnaan ciptaan Tuhan dengan sentuhan. "Ya Tuhan..." dia memekik, adakah yang lebih indah daripada ini?.
Naik ke ranjang, bertumpu di kedua tangan. "kau makluk terindah yang pernah kulihat, Kakashi" melepas senbon dari bibirnya, Gempa mengecup kelopak mata Kakashi. "Sayang kau bersarang ditempat yang tidak salah" kelopak sebelah lagi dia kecup. "Mulai sekarang, aku akan berusaha menawan hatimu" kecupannya turun ke batang hidung. "Aku ingin kau menjadi milikku" sebelah tangan membelai rambut Kakashi. "Lupakan Obito dan keluarganya. Aku berjanji tidak akan menduakanmu seperti dia" membulatkan tekat, Genma mengecup bibir Kakashi mesra.
.
.
Um, rasanya manis sekali. Bibir Kakashi terasa sangat baik di indra pengecapnya, Genma tak tau cara berhenti. Kecupannya berubah lumatan dalam waktu singkat. Lalu berubah menjadi nafsu sesat yang membuat tangannya membuka kancing-kancing kemeja Kakashi.
"Mattaku..." Genma takjub. Ya Tuhan, ini sangat luar biasa. Segera dia mengecap puting Kakashi. Uh, rasanya baik sekali. Lagi, lagi dan lagi. Berganti yang kiri, lalu kanan lagi, kiri lagi. terus bergantian. Warna merah akibat ulahnya semakin membuat pucuk dada Kakashi menggairahkan. Genma terus mengecapnya, melumatnya, menghisapnya, mengumpulkan rasa sebanyak-banyaknya. Damn!, ini luar biasa, extra ordinary. Dia tidak tahan,
Krauk
Terlalu gemas, Genma menggigitnya lalu menyesap kuat-kuat. Dia suka rasanya, dia menikmati sensasinya. Nikmat tiada tara. Dada Kakashi sangat luar biasa.
Dia beralih ke satunya. Fuck!, rasanya sama baiknya. Menakjubkan.
Setan menghasutnya, nafsu serakah menguasai jiwanya. Genma tersesat dalam kenikmatan surga duniawi di tubuh Kakashi. Dia tidak bisa berhenti.
Menabuh genderang perang dalam hati. Dia bertekad, harus mengklaim manusia nikmat ini. Semua ini harus menjadi miliknya. Miliknya pribadi. Persetan dengan Obito dan kekuasaannya, Genma akan memperjuangkan Kakashi walau harus mempertaruhkan nyawa.
Damn!, pesona setan Kakashi benar-benar membuat orang lupa diri.
.
.
Gai masuk ke ruang kesehatan tepat ketika Kakashi mencoba mempreteli kancingnya. "Oi? ADA APA DENGANMU KAKASHI?"
"Gai, tolong bantu aku membuka ini. Cepat!" Kakashi meringis tak tahan.
"TIDAK!" tolak Gai keras. "KAU GILA SOBAT, AKU BISA MATI!"
"Gai, aku tidak sedang horny. Dadaku perih sekali. Cepat bantu ak... Fuck!, kancing-kancing ini sialan sekali" Kakashi mengumpat-umpat. Tanganya malah kepleset terus disaat darurat begini.
Gai prihatin dengan ekspresi wajah Kakashi. Dia menghampiri rivalnya dan langsung menggelandang pakaiannya, kancing-kancing berhamburan di udara. "APA INI?!" pekiknya.
Dada Kakashi membengkak dan berwarna merah gelap dimasing-masing tengahnya. seperti habis diperah.
"jangan cuma menonton Gai!, cepat ambilkan gel, aku tidak tahan"
Gai buru-buru membuka laci obat-obatan. Ada gel luka bakar diantaranya. Dia mengambilnya.
"berbaring-berbaring-berbaring" ucap Gai tidak sabar. Dia sedikit panik. Bengkak di dada Kakashi membuatnya ngeri.
Kakashi patuh. Dia berbaring. Mendesis saat gel dingin mencium putingnya.
"YA AMPUN. APA INI?!"
Kakashi terlonjak. Suara Gai itu cetar sekali. "ada apa?"
"dadamu lecet-lecet, tidak dalam, tidak berdarah, hanya saja seperti... Seperti bekas gigi" Gai mengerutkan keningnya. Bekas gigi?
"bekas gigi?" Kakashi menyeringai. Oh, dia tau apa ini. tapi sebelum membahasnya, ada yang lebih penting. "cepat oleskan, Gai!"
"eh. Iya, baiklah" jemari Gai meratakan gel pelan-pelan, sangat pelan. Dia tidak tega melihat Kakashi yang meringis-ringis. Sepertinya sakit sekali. "apa perlu dikompres"
"tidak usah" tolak Kakashi. Dia punya rencana dengan ini. "bagaimana kau tahu aku ada disini?" dia dan Gai beda fakultas. Gedung mereka juga tidak berdekatan.
"Genma yang memberitahuku". Gai selesai meratakan gelnya "ada perbedaannya tidak?"
"iya. Lebih baik, tapi masih perih" jeda, "siapa Genma?"
"kau tidak tahu Genma?, SOBATKU, KAU BENAR-BENAR TIDAK HIT!. Genma itu... Eh, dia bukan artis kampus, sih." Gai membongkar ranselnya. "Tapi dia duduk si depanmu selama lima semester, di kelas agri...agri- apa itu kelasmu?"
"agrikultural. Oh, Shiranui?"
"iya, Genma Shiranui. Dia juga yang membawamu kemari" tersenyum seperti mendapat harta karun, Gai mendapati Uchiwa dari selipan bukunya, lalu mengipasi dada Kakashi.
"!", saraf-saraf Gai seperti colokan lampu bertemu terminator. Tring!. bola lampu menyala, dia mendapatkan sesuatu, "Genma?"
Kakashi menyeringai. "sepertinya ada yang memanfaatkan kesempatan..."
"DALAM KESEMPITAN!" pekik Gai keras.
"lihat yang disini juga, Gai!" Kakashi membuka maskernya lewat kepala dan menunjuk perpotongan lehernya.
"OH, KAMI-SAMA!" Gai membekap mulutnya dramatis.
"dia menabuh genderang perang rupanya" Kakashi tersenyum setan.
Bulu kuduk Gai meremang.
.
.
Tbc
Ekstra.
'Buku peraturan bercinta dengan kekasih The Great Obito Uchiha-Sama: Jangan pernah menandai tubuhnya!,
Berani melanggar, siap-siap menghadapi murka sang Kaisar. Terakhir kali ada yang nekat mencoba, laki-laki malang itu kehilangan seluruh giginya.
Keren sekali kisah cinta mereka.'
Di sudut lapangan basket indoor, Shisui menutup note-nya dengan senyum mengembang.
Bab depan kita liat bagaimana 'romance-nya' GenKaka.
.
Sepertinya saya gak dapet feel hurt-nya. Huhuhuhu :'(.
.
.
Kemarin saya minta review dari seseorang, #lirikNAE-san.
Pas beneran dikasih, saya galau.
Meminta dan diberi itu beda. Nyesek rasanya. Hweeeeeee :'( :'(
