Bott!Kakashi

(What The Hell are You, Genma?)

Rate : M

pair : Genma x Kakashi.

Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.

Naruto (c) Masashi Kishimoto


Perasaan, saya itu nulisnya: "kita lihat ROMANCE-nya", deh. Kok yang baca jadi nungguin LEMON-nya. Jangan-jangan saya salah nulis?. #kedip-kedip_polos.

.

Kenapa tidak ada yang terkejut Obito punya bayi?. :'( . Gagal saya.

.

.

Saya menggambarkan penampilan Kakashi di cerita ini itu seperti di anime-nya(kecuali bajunya), Memakai headband, maksudnya disini supaya rambutnya tidak terlalu berantakan, juga bukan yang ada pelat lambang Konohanya ya, tapi seperti yang dipakai cowok-cowok buat gaya jaman sekarang.

.

.

Bab ini sangat menjengkelkan. Jari-jemariku tidak cukup cepat untuk mengikuti laju imajinasiku. Bukan membuat tulisan bagus tapi malah hancur dan harus dipotong sampai situ saja. Padahal niatnya panjang loh.

.

.

.

Happy reading Minna-san...


"kita dapat menahan apa yang akan datang, namun kita tak dapat menahan apa yang akan pergi"

(Natasha Desiree, Halo Selebriti: tentang perceraian)

.

.

Obito menatap kedalam inkubator dengan takjub. "Ya Tuhan...", entitas kecil itu adalah hasil kerja kerasnya, pengorbanannya, perjuangannya, anugerah terindahnya. Itu adalah, demi segala keindahan ciptaanMu Tuhan, itu adalah...itu adalah...Damn! Kami-sama... itu adalah...bayinya. Miliknya. Tanpa terasa air matanya sudah membentuk anakan sungai. Hatinya diliputi rasa haru biru.

"Oooooobito-samaaaa..." Hanae memutar bola matanya, suara kecil (melengking) merdunya terdengar bosan, "berhenti melakukan itu!, kau sudah menangis selama tiga hari tiga malam. Ya Tuhan!. Aku saja yang mengandung dan melahirkan tidak melakukan hal itu!" perempuan yang masih di atas ranjang itu menggerutu.

"diamlah, Hanae-san. Aku ini sedang terharu!." balas Obito tanpa mengalihkan pandangannya dari inkubator. "dia itu cerewet sekali, sih. Dasar wanita!" tambahnya pelan-pelan.

Perempatan imajiner muncul di atas jidat Hanae, tidak tanggung-tanggung, tiga sekaligus. "AKU MENDENGAR ITU, AHOBITO-SAMAAAAAA!" wanita itu meraung histeris. Kalau saja dia tidak terikat dengan selang infus di kaki kirinya, dia pasti sudah menerjang maju dan memukul kepala pemimpin klannya itu. Terharu sih terharu, tapi apa iya harus sampai tiga hari tiga malam?. Rasanya tidak berlebihan kalau dia menggerutu. Memangnya siapa yang tidak sakit kepala mendengar '...Ya Tuhan.../...bayiku.../...Oh Kami-sama.../...malaikatku.../...My God.../...milikku.../...indahnya.../...manisnya.../...tampannya.../...lucunya.../Ya Tuhan, My God, Kami-sama...' TIGA HARI BERTURUT-TURUT!. NONSTOP 24/7. Mattaku! Kalau saja bisa copot, kepala cantiknya pasti sudah menggelinding kemana-mana.

"Ma...ma..., jangan berteriak-teriak Hanae-chan, nanti jahitan di perutmu bisa terbuka." seorang lelaki tua bertongkat masuk ke ruangan mereka.

"Ayah!" / "Takashi-san!", keduanya menoleh bersamaan.

Obito segera menghampiri dan menyambutnya. "selamat datang, Takashi-san. Dengan siapa anda kemari?". Sejujurnya dia ingin mengulurkan tangan menuntunnya, tapi ia urungkan. Kepalanya pernah benjol gara-gara mencoba melakukannya. Lelaki tua renta ini merasa terhina jika jalan saja harus dibantu orang.

"bersama MakiRan."

Obito mengangguk. MakiRan, Maki dan Ran adalah dua orang kepercayaan Uchiha Takashi yang wajah dang posturnya sangat identik, semua orang menganggap mereka kembar, tapi sebenarnya tidak.

"Senang sekali akhirnya bisa mengunjungi cucuku, ah..." lelaki tua itu tersenyum sampai matanya menyipit.

"sudah boleh dikunjungi?" Obito mengerutkan dahinya. Tapi dokter bilang¬

"Take!, ini hari ke-tiga Ahobito-sama, tentu orang-orang harus boleh berkunjung. Sesuai adat Uchiha. Ck!"

"berhenti mengumpat. Kau bisa mencemari telinga anakku!" Obito memelototi Istrinya.

Hanae merotasikan bola matanya, lagi. "inkubator itu kedap suara, Baka-Leader-sama!"

"aaarrrrrrggghhht, kenapa kau selalu mengumpat. Aku harus menjauhkan dia darimu!" Obito menunjuk-nunjuk Hanae gusar.

"memangnya..."

"ayolah anak-anak, kalian harus tenang" Takashi menengahi keduanya. Telinga tuanya harus dijauhkan dari suara-suara 'tak bermoral' untuk mengulur waktu pensiunnya. Setelah ruangan tenang, dia menghampiri inkubator. "um?" matanya membola, terkejut bukan main. Tapi sekejap kedipan mata, ekspresinya sudah kembali normal. Uchiha tetap Uchiha. "ah, dia bayi yang tampan." tangan keriputnya menepuk pundak Obito dengan makna dalam, "selamat, Nak. Kau telah menjadi seorang ayah."

Obito membeku.

Ayah.

Ayah.

Ayah.

AYAH?, dia adalah seorang AYAH?

tes, tes, tes.

Titik-titik air mata berjatuhan.

"Demi Tuhan. Jangan mulai lagi!" Hanae menepuk jidat halusnya.

"Aku...seorang...ayah?" Obito menengokkan wajah berlinangan air matanya ke tetua Takashi.

"iya, Nak. Kau adalah Ayah."

Refleks Obito meletakkan wajahnya di bahu Takashi. Bahunya berguncang hebat, air matanya menghujani bahu renta tetua klan Uchiha tersebut. Deras, sangat deras, lebih deras dari hujan pertama setelah kemarau panjang.

"kau akan jadi ayah yang hebat, Nak. Kau akan jadi ayah yang hebat." Takashi menepuk-nepuk bahu Obito kebapakan, menenangkan.

.

.

"akhirnya kita boleh melihat adik bayi. Kakak, ayo cepat!" Sasuke berjalan setengah lari di sepanjang lorong rumah sakit.

Itachi dan Shisui terpaksa melangkah lebar-lebar di belakang Sasuke.

"tenanglah, Sasuke." Itachi mengulum senyum, adiknya ini bouncy sekali. Seperti bukan Uchiha saja. "adik bayinya tidak akan ke mana-mana."

Shisui menepuk pundak Itachi dan menggeleng.

Tersenyum kecil, "aku mengerti."

"biarkan saja." Shisui tak henti-henti mengingatkan Itachi untuk membiarkan Sasuke bertingkah semaunya. "kita harus bersyukur dia tidak seperti kita, Itachi."

"kau berjanji membantuku membuat Sasuke tidak seperti kita, Aniki."

"aku akan menepati janjiku."


Sabtu, pukul 07. 00 pagi. Stasiun kereta api Konoha.

Perjalanan Konoha-Suna menggunakan kereta ekspres memakan waktu 7 jam jika melintasi Tanigakure (Hidden valley) dan 10 jam jika melintasi Amegakure. jadi, mereka mengambil jalur pertama, Kakashi dan teman-temannya sepakat naik kereta pagi, pukul 07. 15. Supaya saat sampai di Suna tujuh jam kemudian (14. 15) mereka bisa istirahat sebentar sebelum nonton konser.

"yo, semuanya. Aku absen dulu ya!" teriak Hana.

"Aku √

Gai √

Asuma √

Kurenai √

Ayame √

Shizune √

Aoba √

Genma √

Raido √

Kawaishi √

Ebisu √

Tenzo √

Iruka √"

"Yosh, sudah lengkap. Tolong di cek lagi paspornya ya, jangan sampai ada yang tertinggal." Kurenai mengingatkan.

Semuanya bergegas memeriksa tas sekali lagi, memastikan jika paspor mereka tak tertinggal.

"TUNGGU!, KAKASHI?" teriak Gai, tengak-tengok kanan kiri.

"Ya ampun, anak itu!" Shizune menghela nafas.

"ck. Kapan dia akan menghentikan kebiasaan buruknya!" Hana berdecak kesal.

"Gai, kenapa kau tak menghampirinya?" tanya Asuma.

"ARE?, aku bangun kesiangan kawan-kawan, maaf." mata Gai berkaca-kaca. "HUWEEEEE..."

"ck, 5 menit lagi kereta datang. Asuma, panggil dia." Hana menudingkan telunjuknya pada Asuma, tepat didepan mata. Gadis Inuzuka yang satu ini memang minim tatakrama.

"tidak aktif ponselnya." Tenzo memperlihatkan ponselnya.

"HUWE...KAKASHI..."

"akan ku coba menghubunginya lagi." Asuma mengeluarkan ponselnya.

"HEM! Merepotkan saja. Kalau lima menit lagi dia tidak datang, pokoknya kita tinggal" (Hana)

"HUWEEE...KAKA...SRRRUUUUUFFT*mengelap ingus*...SHI..."

"tapi kita sudah sepakat berangkat bersama, Hana-chan." (Ebisu)

"ponselnya masih tidak aktif" (Asuma)

"HUWEEEEEEE..."

"dia kemana sih?" (Aoba)

"AKAN KUTENDANG PANTATNYA!" (Hana)

"HUWEEE..."

"Mattaku!. Kita bisa ditangkap penjaga keamanan kalau berisik begini." (Ayame)

"Ayame-chan, kau bisa mengumpat?" (Kawaishi)

"HUWEEEE..."

"Shizune-chan, kau bawa anti mabuk kan? Rasanya aku mual" (Ebisu)

"HUWEEEE..."

"iya, ini." (Shizune)

"HUWEEE..."

*menepuk jidat* (Kurenai)

"Kakashi-senpai memang pintar menjadi pusat perhatian, iya kan Iruka?" (Yamato)

"HUWEEEE..."

"iya." (Iruka)

"HUWA...HUWA... RIVALKU...KAMI TAKKAN MENINGGALKANMU...HUWEEEEEE"

"Damn, Shit, Kuso, Gai!. berhenti menangis!" Genma mengumpat.

"Ya Tuhan, kacau sekali disini!" Raido menyumbat telinganya.

"HUWEEEE..."

*tengok kanan-tengok kiri* (Iruka)

"zzzzttttzzzz..."

"HUWEEE..."

*tengok kanan*

"zzzzzzttttttzzz"

*tengok kiri*

"HUWEEEE..."

*tengok kanan*

"psstttpstttt"

*tengok kiri*

"HUWEEEEE...HUWEEEEE..."

"ppppssssttt...pppsssstttttt..."

tengok kanan, tengok kiri, kanan, kiri. Kanan, kiri. Pusing. "AAARRRRRRRRRGGGGGHHHHH. DIAAAAAAAAMMMMMM!" teriak Iruka.

Hening. Semua mulut terbuka, mata kedip-kedip memandang Iruka. Bocah itu bisa marah juga? sulit dipercaya.

"etto, maaf. Penjaga keamanan yang disana terus memelototi kita." Iruka menunjuk pos keamanan dengan telunjuknya.

Semua garuk-garuk kepala, nyengir.

TUUUUTTT! TUUUUUUUT!

Ya Ampun. Itu keretanya.

Chaos!

.

.

Sssssszzzzzzzzzttt!

Pintu gerbong 5 terbuka.

"KAKASHI!?" pekik semua orang.

"Yo Minna-san." duduk di kursi kedua, tangan melambai tanpa dosa, kepala tak mendongak dari buku bersampul oranye tua.

Yupz, itu dia. Kuso Gaki! (bocah sialan!)

"masuklah, aku sudah memesan gerbong ini untuk kita."

Tap-tap-tap.

Langkah lebar-lebar Hana.

PLAK! PLAK!

"itte...ttee..."

Benjol dua.

Semua menganga.

Bukan, bukan karena benjolan dua di kepala Kakashi. Ataupun langkah lebar-lebar Hana. Melainkan...

"rasakan!" Iruka menyeringai sadis. Puas sudah membuat kepala perak itu benjol dua.

"salahku apa?" Kakashi mengusap-usap kepalanya.

"masih berani bertanya?" Hana siap-siap menendang.

"tenang Hana-chan," Kawaishi menarik baju belakang Hana.

"tunggu!" Kakashi berdiri, "ada apa ini?"

"Kakashi-san, bagaimana kau ada disini?" Ayame duduk di kursi bekas Kakashi dan bertanya.

"aku berangkat dari Raisugakure(Negara Api bagian selatan). Gai?"

"NANI?" Gai menunjuk dirinya sendiri.

"aku mengirimimu SMS, kan?"

Gai buru-buru mengecek ponselnya. "Eh?, EHHHH?"

"GAAAAAAAAIIIIIIII!"

"HIYAAAAAAAAT"

"HWAAAAAAA..."

BUG.

PLAK.

BUG.

TWACK.

BUG.

TWACK.

PRANK.

KLONTANG.

Chaos part II!

.

.

Sepanjang perjalanan para gadis tak henti-hentinya membicaran band...

"uh,...Akapera, keren sekali! Kyaaaaa..., aku tidak sabar!"

"koreksi nona-nona, 4²capella."

"iya itu, Akapera...Kyaaaaaaa"

Ya Tuhan. *tepuk jidat*

4²capella atau lafal gampangnya Akapera(Akapela), adalah grup musik pop-rock visual kei yang sedang naik daun dua tahun ini, setelah debut 6 tahun, mereka adalah kiblat anak muda zaman sekarang. Band ini beranggotakan 8 orang:

- Kabuto, calon dokter. Tidak ada yang mengenalinya sebagai Kabuto 4²capella di Universitas konoha, karena image-nya dibuat beda banget di atas panggung.

- Kimimaro. (Leader)

- Sakon & Ukon. (si kembar)

- Kidoumaru.

- Tayuya. (satu-satunya perempuan)

- Jirobou.

- Kai (si misterius).

Kai atau Anggel Tears (julukannya) adalah pemain biola yang tak sekalipun muncul di MV, liveshow, talkshow, atau acara apapun yang melibatkan 4²capella, dia selalu bermain dibelakang layar. Namun, Malam ini, Kai akan menunjukkan wajah aslinya, jadi semua orang sangat antusias menanti hal itu. Termasuk Kakashi yang biasanya paling malas berbaur dengan banyak orang.

"aku yakin Kai-kun sangat tampan, kyaaaaaaa..."

"Gai, kau menjijikkan."

"aku setuju denganmu, Kakashi."

.

.

"ini" Genma menyodorkan permen kapas sebagai usaha pendekatan.

Kakashi menyambutnya dengan senang hati, "trimakasih." tapi, belum sampai kapas manis tersentuh bibirnya. Sebuah teriakan membuat dia berhenti,

"JANGAAAAAAANNNNN!" Gai berlari dari stand sebelah dan langsung merebut gula-gulanya.

"Gai, kembalikan itu!, aku membelinya untuk Kakashi!" Genma tidak terima.

"iya Gai, itu untukku!" Kakashi akan merebutnya dari tangan Gai namun didahului tangan Asuma.

"kau tidak boleh memakan ini Kakashi!" Asuma memberikan kapas manis itu ke pacarnya, "tolong makan ini, sayang. kita harus menjauhkannya dari Kakashi"

"dengan senang hati." Kurenai langsung menggigitnya.

"hei!" Kakashi dan Genma berseru tidak terima, gula kapasnya sudah tercemar liur kurenai. Kakashi tak mungkin memakannya.

Kurenai menyeringai, lalu dengan sengaja memamerkan gigitan-gigitan sensualnya.

"aarrrrrrgggghhhhh. Kenapa sih kalian ini?!" menjambak rambutnya, Genma meraung frustasi. Permen kapas itu bukan satu-satunya makanan yang direbut oleh mereka, dia sudah membelikan Kakashi sekotak wasanbon, namagashi, amanatto, kompeito, manju, dan monaka (semua adalah makanan manis, red). Tebak siapa yang memakannya?, mereka. MEREKA BERTIGA yang memakannya. Kuso!.

"maaf, Genma. Tapi Kakashi benar-benar tidak boleh memakan itu."

"IYA, TAPI KENAPA?" Genma membentak, habis sudah kesabarannya. "dari tadi kalian hanya bilang tidak boleh ini - tidak boleh itu. KENAPA TIDAK BOLEH?"

"SABAR KAWAN." Gai menepuk-nepuk punggung Genma. Niatnya menenangkan, tapi karena tepukannya terlalu keras, dia malah di hadiahi pelototan.

"ADAKAH YANG BISA MENJAWABKU?"

"perutnya tidak bisa mentolelir makanan manis, sobat. Dia akan sakit perut tujuh hari tujuh malam." Gai menjelaskan, yang diangguki oleh Asuma dan pacarnya.

'Begitu?' batin Genma nelangsa. Kenapa mereka baru mengatakannya setelah dompetnya sekarat. Bajingan kuadrat!.

"hei. Aku tidak seperti itu. Kalian berlebihan!" seru Kakashi.

"itu memang fakta, sayaaaang" koor ketiganya, menirukan gaya Obito.

Kakashi diam dengan satu alis ditinggikan, stay cool. Untung dia memakai masker, kalau tidak, semua akan melihat pipinya bersemu merah jambu menggemaskan.

"kami hanya menjalankan amanat kekasihmu, Kakashi. Jadilah anak baik dan jangan membangkang, Obito tidak akan suka." penjelasan Kurenai terdengar seperti Ibu yang berkata 'Ayah melarangmu nonton konser, Nak. Jadi jangan durhaka'.

"Cih!, sejak kapan kalian jadi kacung-nya Obito, rendahan sekali." pemilik pesona setan itu mencemooh.

"sejak ini..." ketiganya mengulurkan ponsel. Pesan singkat dari Obito.

'tolong jaga, Kakashi.'

Kakashi mengernyit, 'kupikir dia sudah tidak peduli.' senyum bermekaran dalam hati.

.

.

"kalau kita tidak segera istirahat, kita bisa kehabisan tenaga nanti malam. Ayo teman-teman kita harus segera mencari bus."

"hai' Shizune-Mama" Koor semua orang.

"aarrggghhh, kalian ini!"

.

.

"maaf soal permen-permen di stasiun suna tadi." Genma duduk di bangku samping Kakashi.

kakashi mengibaskan tangannya. "bukan masalah."

"aku merasa bodoh, sekarang." Genma menyandarkan kepalanya.

"santai saja. Kau bukan satu-satunya yang tidak tahu. Obito juga mengira aku suka makanan manis."

"apa itu artinya, dia juga sering salah memberimu permen?" Genma tersenyum lega.

"tidak. Dia melarangku mengkonsumsi makanan manis."

"Oh..." Ucapan datar Kakashi seperti anak panah yang tepat sasaran. Hati Genma sasarannya. JLEB sekali.

"tapi aku pernah melihat banyak sekali bungkus permen di mejamu, kupikir itu milikmu." Genma selalu memerhatikan Kakashi saat mereka satu kelas.

"hm, itu memang milikku."

"kau memakannya?" alis Genma bertaut. "bukannya kau bisa sakit perut?, Seperti kata mereka."

"memang supaya sakit perut." Kakashi membalik lembaran novelnya.

"hah?, kenapa?"

Kakashi berpaling pada teman sebangkunya dengan seringai lebar dibalik masker, "Karena ada Kaisar gila yang akan mencurahkan seluruh atensinya, hanya padaku."

"HAH?"

"itu resiko punya pacar pemimpin klan, Kakashi!" Kurenai berujar dari bangku depan. "kau jadi di nomer dua-kan, sering di abaikan." lalu terdengar cekikikan.

"dia nomer 6, sayang." koreksi Asuma. "posisi 1 klan dan pekerjaannya, 2-5 adalah istri-istrinya." tawa Asuma membahana, di ikuti siapa saja yang mendengar ucapannya.

Damn! Kami-sama, bolehkah Kakashi merasa ter-bully sekarang?.

"kudengar Uchiha punya bayi, ya?" itu Ebisu, menyahut dari bangku belakang. "berarti Kakashi turun di posisi 7, kan?. Hahahhaha."

Cukup!. Kakashi tidak mau mendengar lagi!. "Diam. Kalian. Semua!" Desisnya sadis.

Hening.

Tapi tidak lama.

"kalau kau mau yang hanya mengurusimu, Hatake-kun. Bagaimana kalau kau geser hatimu ke manusia di sampingmu. Aku pikir dia punya banyak waktu luang." Ayame mengutarakan isi pikirannya.

Genma tersenyum. Angin sepoi-sepoi membelai tubuhnya, sejuk.

"benar, Ayame-chan. Tidak hanya banyak waktu. Genma punya seluruh waktunya jika Kakashi mau." Asuma menguatkan.

Angin sepoi-sepoi season 2 menghampiri Genma, tambah sejuk. Senyum melebar.

"berhenti senyum-senyum, Gen. Kau pikir Kakashi-san mau-mau saja dengan pengangguran miskin sepertimu. ngaca, tolong!"

JDUAR! BLAR! BLAR!. Petir menyambar, Badai topan menerjang. Senyum menghilang. "RAIDO SIALAN!" bonus umpatan.

Tawa membahana terkumandang. Kali ini, tidak ada yang menghentikan.

Kakashi memasang earphone di telinganya, menghampiri Gai, meminta Raido pindah ke bangkunya, menata tubuhnya seperti posisi janin, kepala di pangkuan rivalnya dan memejamkan mata.

"oi, lihat. Baru sampai sini saja, Kakashi-senpai sudah tidak tahan." Junior sialan.

Hwaaahahahahahaha.

Ditinggalkan. Genma merasa ter-bully sendirian.

.

.

.

"HAH?" Genma menganga. Di depannya adalah AOSUNA Hotel, Hotel terbesar dan termewah di Sunagakure.

"telat." Kawaishi menjawab sambil lalu.

"Oi, Kawaishi Teme. Apa yang telat?"

"kita semua sudah kaget saat di kereta tadi. Kau tidur sih."

"tapi...serius, kita menginap disini?"

"sayangnya atau syukurnya, iya." jawab Raido santai.

"homina...homina...homina..." (Ebisu)

"Ebisu!, berhenti homina-himana. Kau memalukan, idiot!" Kawaishi menyeret Ebisu untuk masuk ke dalam.

"Raido, kita bisa tidak makan tujuh hari-tujuh malam hanya untuk menginap semalam disini. Ayo kita cari tempat lain."

"tidak bisa Gen, Kakashi ngotot kita harus menginap disini."

"dia yang bayar?" (Genma)

"tidak, kita bayar sendiri tapi hanya 10%." (Raido)

"sisanya dia yang bayar?" (Genma)

"tidak, Uchiha yang bayar."

"APA?" (Genma) "kenapa harus dia yang bayar!" gengsi dong. Masak rival yang bayar. "sok sekali. memangnya dia sekaya itu!"

"Genma, dia memang kaya. Jauh lebih kaya darimu. Jadi menurutku, kau harus berhenti mencoba merebut pacarnya." saran Raido bijak.

"setahuku Kakashi tidak matrealistis." (Genma)

"tidak, memang tidak. Tapi dia manja luar biasa. Kau tidak akan mampu menuruti semua kemauannya" (Raido)

"dia bukan orang yang seperti itu." (Genma)

"dia memang seperti itu!" (Raido)

"kau hanya cemburu karna aku tidak kencan denganmu, kan." (Genma)

"cih!, kau pikir aku sebrengsek itu!" Raido mendecih. "dengar ini baik-baik Gen!. kau. tidak akan. sanggup. hidup. dengan. Kakashi. Never!" pemuda rambut coklat itu berjalan cepat meninggalkan sahabatnya.

"KAU HANYA CEMBURU RAIDO-KUN!" teriak Genma.

.

.

"beruntungnya menjadi Hatake-san..."

Telinga Genma menangkap dua resepsionis yang sedang bercakap-cakap. Dia berinisiatif mendekat.

"apa yang beruntung dari Hatake-san, Nona-nona?" pura-pura tidak kenal Kakashi, dia kepo.

"kekasihnya sangat baik sekali, Tuan. Ah, andai aku punya kekasih seperti itu..."

"baik bagaimana?" (Genma)

"Uchiha-sama membangun hotel ini untuknya, tuan. Luar biasa bukan."

"Uchiha?, Obito Uchiha?, hotel ini milik Uchiha?" Genma terkejut. Kuso! Uchiha, lagi?!.

"kau tidak lihat yang di depanmu itu?" entah bagaimana Raido berada di dekatnya, kepalanya bergerak menunjuk tempok di depan.

Genma mendongakkan kepalanya. "Demi Tuhan! Kenapa ada Uchiwa raksasa disana?, merah putih lagi. Seperti Uchiha saja!."

"itu memang lambang Uchiha, bodoh!. Hotel ini miliknya, untuk Kakashi-san. Sudah kukatakan, kan. Kau tak ada apa-apanya dibandingkan dia!" Raido menyeringai sinis. "nona-nona, aku tidak menemukan kamarku. Ada billboy yang bisa mengantarku?"

.

.

"Asuma, apa benar hotel ini milik Uchiha?" Genma mencari sumber lain, yang lebih dekat dengan pujaan rahasianya.

Asuma mengangguk.

"yang di bangun untuk Kakashi?"

Asuma mengernyit, "iya. Ada apa?"

"tidak, aku hanya ingin tahu saja."

"hn, aku tidak keberatan bercerita sedikit denganmu." Asuma menghembuskan rokoknya. "Kakashi sering bepergian kesana-kemari, jadi Obito membangun hotel yang sama persis dengan ini di lima negara aliansi."

"SEBESAR DAN SEMEWAH INI?"

Asuma mengangguk.

"DI LIMA NEGARA ALIANSI?"

Asuma mengangguk, lagi.

"UNTUK PERSINGGAHAN KAKASHI?"

"iya" jawabnya verbal, tidak keren kalau dia harus mengangguk lagi.

"tapi kenapa harus semewah ini?, bukankah berlebihan?"

"berlebihan menurutmu, Gen. Tapi tidak, jika pacarmu adalah Hatake Kakashi, pemuda panas yang sudah kaya raya sejak bayi. Obito sangat memahami pacarnya, semua hal harus lulus uji 'standar Kakashi', kekasihnya itu bisa gatal-gatal kalau menginap di tempat yang tidak setaraf hotel ini."

"begitu?" Genma lemas.

"masih berani mencoba?, kau bisa mempermalukan dirimu sendiri, Genma. untuk tidur semalamnya saja kau bisa tidak makan seminggu. Bagaimana kau mau menghidupinya?" ini kenapa selalu ada Raido di sampingnya?.

.

.

.

TBC.

.

Gen-Kakanya sampai sini dulu yah. Bye-bye.