Bott!Kakashi

(What The Hell are You, Genma?. Part 2)

Rate : M

pair : Genma x Kakashi.

Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.

Naruto (c) Masashi Kishimoto


Saya pecinta musik, dan sering mendapatkan inspirasi tulisan dari musik. Mulai bab ini mungkin akan banyak lagu bermunculan. Jadi, kalau lirik yang saya ikut sertakan disini mengganggu, tolong di skip saja ya. #tebar spanduk Laruku. (L'Arc en ciel)

.

.

Di bab kemarin sebenarnya saya ingin membuat mental Genma tu down banget, misalnya kalimat "jika kamu mau sama Genma, dia punya seluruh waktunya hanya untukmu." maksudnya, cuma orang biasa yang punya banyak waktu luang, gak sebanding sama Obito. Bahasa kasarnya tu gini, "kamu gak pantas buat Kakashi. Gak level.", tapi saya batalin. Gak tega saya jahatin Genma. (jatuhnya malah jadi humor semua)

Terus juga mau dibuat lemon GenKaka di Suna. Tapi waktunya gak memungkinkan. Bayangin, Sabtu pagi berangkat dari Konoha, sorenya baru nyampe Suna, capek, istirahat, malemnya nonton konser sampai tengah malam, trus tidur. Minggu, pagi-pagi pulang ke Konoha, soalnya besoknya-kan Senin, musti ngampus. (Cuma cerita fiktif yang bilang kalau kuliah bisa sering bolos. Hoax pokoknya.)

#ceritamu juga fiktif, Neng!.

*oh, iya. Hehe. So, Enjoy this part everybody...

Semoga tidak ada typo, semoga tidak ada typo, semoga tidak ada typo. ~merapal mantra~


Konser malam itu sukses. Sukses membuat Kakashi babak belur digebuki teman-teman wanitanya. Bayangkan betapa kesal mereka mendapati bahwa KAI-KUN, KAI-nya 4²capella yang mereka tunggu-tunggu kemunculannya, yang mereka kagumi permainan biolanya, yang mereka puja, yang mereka agung-agungkan, yang mereka sanjung-sanjung sepanjang waktu, ternyata adalah orang yang sangat mereka kenal, satu kota, satu kampus, ada yang satu fakultas juga, bayangkan betapa kesal mereka setelah mengetahui bahwa ternyata Tuan super misterius yang punya julukan angel tears adalah Kakashi. KAKASHI, guys. (KA)kash(I). Demi Tuhan!.

Bayangkan betapa 'besar kepala'nya Hatake muda itu dipuja-puja, disanjung, dielu-elu, diagung-agungkan didepan matanya. Mattaku!, Kurenai dan kawan-kawan menyesal sudah ber-fansgirling-an di hadapan Kakashi. Seandainya mereka tahu yang sebenarnya, mana sudi mereka memuja 'KAI-KUN-SAMA, KAI-KUN-SAMA' terang-terangan. Sumpah, Kakashi menang banyak bagian ini.

"menang banyak apanya!, aku babak belur. Pokoknya kau harus mengantarku pulang, Gai!"

"dengan senang hati, Kai-kun-sama, Kyaaaaaa..."

"Jezz!. kau menjijikkan!"


"Baki, kau pernah bercinta dengan Kakashi?"

Baki menyemburkan soda kalengnya, "jangan keras-keras bodoh!, pacarku bisa dengar!" buru-buru Baki menengok kanan kiri, mencari sosok sang pacar, "huft...untung tidak ada."

Genma meringis, "maaf, aku tidak tahu. Jadi kau pernah?"

"iya, beberapa bulan yang lalu. Tapi ini rahasia, ya. Jangan bilang siapa-siapa."

Menyeringai lebar. "tidak, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa..."

"seringaimu membuatku curiga." Baki mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.

"ha...ha...ha..." tawa antagonis, "kau pintar Baki, aku memang akan memerasmu. Ha...ha...ha..."

TWACK.

"ITTE!, KENAPA KAU MEMUKULKU, HAH?"

"tidak, kupikir kau kerasukan," Baki mengedikkan bahu. "aku harus apa untuk membungkammu?"

"beri aku pasword apartemen Kakashi." Genma menaik turunkan alisnya.

"kalau itu sih, bunuh diri namanya"

"ha?, apa maksudmu?"

Baki mengerutkan keningnya, "kau tak pernah dengar ya?. Bukan begitu cara masuk ke apartemen Kakashi, Kau bisa mati!"

"memangnya kenapa?, aku tak pernah dengar bagian itu. Yang kudengar, semua orang tahu kuncinya, lalu bebas keluar masuk semaunya."

"tahu kuncinya dan bisa masuk, benar. Tapi, 'keluar-masuk semaunya' jangan harap. Dia punya anjing penjaga super protektif, ngomong-ngomong."

"aku tidak mengerti maksudmu, Baki?" Genma menelengkan kepalanya. (nan jauh diseberang sana, ada pria misterius yang mimisan hebat)

"Take!. Maksudku, kau jangan mengira kalau Kakashi itu sejenis kucing jalanan, yang bisa kau pungut sembarangan. Dia itu batu mulia, Man. Harus diperlakukan layaknya intan berlian, dimuliakan. Nah, jika Kakashi itu ibarat permata yang berkilauan, maka pemiliknyapun bukan orang sembarangan. Kau tahu pemiliknya, kan?"

"Obito Uchiha?"

"iya, dia maksudku. pemilik dari permata Konoha adalah pemimpin yakuza yang berkuasa di Konoha, orang yang punya seribu penjaga untuk permatanya. Kau faham maksudku sekarang?"

Genma mengangguk. "masih ada yang tidak aku mengerti, Baki. Jika dia punya penjaga yang melindunginya, bagaimana orang-orang bisa masuk apartemennya dan keluar hidup-hidup?, katamu tadi mereka bisa mati."

"begini, kami bisa masuk apartemen Kakashi karena dia yang mengundang..."

"wow, diundang?, bagaimana caranya supaya diundang?"

"makannya jangan memotong ucapanku, baka!" dalam hati Baki sudah ingin misuh-misuh panjang lebar, "...caranya, katakan saja 'Kakashi, tolong bercinta denganku', jika dia menerima dia akan menulis kode pintunya untukmu. Tapi jika dia mengabaikanmu, itu tandanya kau harus menyingkir."

"bagaimana kalau dia tidak mau tapi ada yang memaksa?, kupikir dengan tubuh seramping itu, dia pasti mudah dihancurkan."

"kesalahan bodoh, sepertinya kau tidak pernah mendengar kata bijak 'Jangan menilai buku dari sampulnya'. Tubuh ramping Kakashi-san itu kamuflase sempurna dari monster berdarah dingin, membunuh hanya dengan sekali sentuh. jadi jangan coba-coba mengganggunya kalau ingin umurmu panjang."

Genma meneguk ludah, "Kakashi pernah membunuh orang?, Astaga!"

Baki menghela nafas, "kau ketinggalan banyak berita, teman." tangannya menepuk-nepuk pundak Genma, "pasangan itu(Obikaka), ibarat pinang dibelah dua dengan irisan sempurna, sama persis, luar dalam, sama-sama bermuka dua, sama-sama bajingan gila. Hanya beda kedoknya saja. Uchiha seorang mafia, dia tidak butuh tipu muslihat untuk menutupi kejahatannya. Sedangkan Kakashi berlindung dibalik tubuh seksinya, sekali telanjang kau bisa gila. sebagai pemuda panas luar biasa, tak ada yang bisa menolaknya. Rumor yang beredar, daripada memenjarakannya, para polisi itu lebih suka menggagahinya. Walau aku tidak yakin berita itu benar. Uchiha pasti sudah gila kalau membiarkan kekasihnya di gangbang rival-rivalnya." Baki melihat jam tangannya. "Pokoknya jangan main-main dengan pasangan itu, mereka berdua sama berbahayanya. Kau memahami semua penjelasanku, kan?"

"iya. Terimakasih."

"baguslah, aku harus mencari pacarku sekarang. Aku janji mengantarnya ke toko hewan." Baki memberesi tasnya. "Jaa Genma, semoga beruntung."

"hm, iya. Jaa ne."

.

.


Lelah tubuhku ini, mencari-cari dirimu.

Membuatku seakan ingin berpaling.

Namun diriku, walau sesaat tak kuasa, melupakanmu...

Kau menghilang, bagai ditelan bumi.

Dan seakan, diriku tak berarti.

Dan kau seolah, takkan perduli...

Haruskah ku menunggu, dan terus menunggu lagi.

Membuatku seakan menjadi khilaf...

Namun diriku, walau sesaat tak kuasa, menghapuskanmu...

kan ku sebrangi samudera,

kan ku selami dalamnya,

Walau langit pun, kan runtuh,

Hancurkan di-ri-ku... (diriku)

Namun diriku, walau sesaat tak kuasa, melupakanmu...

Kau menghilang...

Dan kau seolah, takkan perduli...

(Bagai ditelan bumi, Andra n The back bone.) serius, kalian harus mendengarkan lagu ini supaya pesan dari lagunya meresap di fanfic ini.

.

Obito menghilang, dia benar-benar melupakan Kakashi, sudah dua minggu berlalu, tak ada pesan, telepon, email maupun satu note-pun yang datang menyapa Kakashi. Putus, seperti tak pernah ada apa-apa antara dia dan Obito. Hubungan yang mereka bangun dua setengah tahun, musnah dalam sekejap diterjang kelahiran bayi.

"kalau bukan karena ayah melarangku, sudah kubunuh bayi sialan itu!, enak saja dia merebut milikku!"

Kakashi membuang headset yang sudah tiga malam menemaninya mendengarkan lagu yang sama. Dia harus 'bersiap', malam ini dia jadwal memberi makan kebutuhannya yang lain.

.

.

Malam ini, malam keberuntungan Genma. Senyumnya lebih merekah dari mentari pagi. Dia bahagia sekali. Sore tadi, dia melakukan persis seperti kata Baki, dan tebak: dia diterima, diterima, DITERIMA, diterima dan mendapat undangan resmi. "Ya Tuhan, beruntungnya diriku..."

Dia akan bercinta dengan pemuda paling panas abad ini, Kakashi. Dia punya kesempatan menghisap dada menggoda itu sekali lagi, kali ini akan lebih lama, dia punya banyak waktu, semalam penuh, arrrrrgggghhhht Genma sudah tidak sabar, dia ingin segera jam sembilan, ingin segera bertemu Kakashi, ingin segera menjilatkan lidahnya pada tonjolan merah muda di dada Kakashi, ingin segera meremasnya, merabanya, menggigitnya, me...me...me... "Arrrrrgggghhhh, sudah tak tahan...!" Dia menggigit bibir dan mengepalkan tangannya. Gemas sekali rasanya. Di kepalanya tersusun banyak sekali rencana, bagian terbesarnya; dia akan mengeksplorasi dada Kakashi sampai pagi. Tujuh jam penuh, jam sembilan sampai jam empat pagi. "Arrrrrrggggghhhh...pasti cantik sekali hasilnya."

Huft, sepertinya Genma sudah bergeser otaknya.

.

.

Bagi Kakashi, seks dan makan itu sama, sama-sama kebutuhan pokok. Dia pun punya jadwal rutin untuk kebutuhannya itu, malam ini salah satunya. Patah hati atau tsunami sekalipun takkan menghalanginya menarik mangsa untuk diajak bercinta.

"Genma, bisa kau lewati bagian ini, rasanya mulai tidak nyaman." Kakashi mendorong kepala Genma dari dadanya. Sejak mereka mulai, Genma terus-menerus menyerang dadanya. Sepertinya si senbonman itu terobsesi dengan kedua tonjolan di dada.

Genma mengangguk, lalu membalik tubuh Kakashi, tengkurap. Dia menggunakan kaki dan tangannya sebagai tumpuan diatas punggung Kakashi, bibirnya memuja tubuh belakang Kakashi dengan menciumi tengkuk dan sepanjang tulang belakang. Mencicipi esensi kulit pucat dengan bibir dan lidahnya, 'um, sedikit kasar. kupikir kulitnya sehalus sutra. Tunggu, apa ini?' Genma mengerutkan kening. "boleh aku menghidupkan lampu, Kakashi?" tanyanya.

"ada apa?" Kakashi menengokkan kepalanya ke belakang.

"bukan apa-apa, bolehkan?"

"silakan saja"

Genma menekan saklar di atas daskboard. "Ya Tuhan, Kakashi, apa-apaan ini?", matanya membola melihat garis-garis merah pudar di punggung Kakashi, menyebar diseluruh punggungnya, sebagian sejajar sebagian lagi berpotongan membentuk X. Telunjuknya merabai salah satunya, ingin merasakan, namun jarinya tak merasakan apa-apa, rasanya halus saja. Dia menunduk dan menjilat dengan lidahnya, ada tekstur kasar di sepanjang garis-garis itu.

"sudah eksperimennya?" tanya Kakashi geli.

"eh, maaf. Tapi ini apa?"

"bukan apa-apa. Apakah itu mengganggu?" Kakashi ingin membalik tubuhnya tapi ditahan Genma.

"tidak, sama sekali tidak. Tapi aku penasaran, ini apa?, seperti bekas cambukan?"

Kakashi tertawa kecil, ini sebabnya dia lebih suka bercinta dalam gelam, siapapun yang melihatnya pasti menanyakan hal yang sama. "memang bekas cambukan."

"Ya Tuhan, benarkah?. Siapa yang tega mencambukmu, jahat sekali!"

"haha... Tenang saja, itu bukan apa-apa. Bisa kita lanjutkan sesi bercintanya?"

"tidak. Aku terlanjur penasaran dengan ini." Genma mengusap-usap garis itu sayang. Entah kenapa dia merasa geram pada siapapun pelakunya. "kita lanjutkan setelah aku mendapat penjelasan, bagaimana?"

"yare-yare...merepotkan saja." selalu seperti ini, garis-garis itu memotong sesi bercintanya. Padahal dia sedang horny berat sekarang, menyebalkan. 'um!' Kakashi mendapat ide, "Baiklah, kalau kau ingin tahu. Tapi bisa tidak kau memasukiku dulu, lubangku gatal."

Ucapan cabul Kakashi membuat pipi Genma memerah, 'Shit!, blak-blakan sekali dia'.

"ayo, kau ingin dengar ceritanya tidak?"

Genma ingin menjedukkan kepalanya. "kenapa kau tidak meninggikan pantatmu saja kalau sudah tidak sabar!" gerutunya pelan, niatnya untuk diri sendiri, tapi begitu melihat pantat seksi Kakashi meninggi, dia membekap mulutnya sendiri. Sepertinya terlalu keras tadi. Mattaku!.

"aku sudah mempersiapkan diri, langsung saja."

Genma mengangguk. Meneguk ludah, melumuri miliknya dengan lube, berdiri didepan lubang Kakashi dan memasukinya pelan-pelan. Keduanya mendesis pelan. Surga dunia. "kau luar biasa, Kakashi", Senbonman itu menciumi punggung Kakashi sayang, lalu membuatnya tidur menyamping, memeluk tubuhnya dari belakang dengan badan bertautan. "ayo mulai ceritanya!"

"tolong yang dibawah gerakkan dulu, Gen." nanggung sekali ini, kalau cuma dimasukkan begini apa enaknya. Sakit malah kalau tidak disentuh g-spotnya.

"tidak mau, ayo cerita dulu."

Kakashi menghela nafas. "sakit, Gen."

"kalau ceritanya sudah, nanti aku gerakkan. Ayo cepat!"

.

"itu terjadi di malam pernikahan Obito dan Hanae-san. Aku menerima undangan resmi dari Uchiha, pengantarnya berkata bahwa itu langsung dari Obito. Aku datang, tentu saja. Itu undangan dari kekasihku, mana mungkin aku abaikan, tapi ternyata semua hanya tipuan, Obito tak pernah mengundangku. Dia juga tak pernah tahu bahwa aku hampir datang ke pernikahannya.

Di depan gerbang dalam klan Uchiha, seseorang memukulku dari belakang. Aku pingsan, saat aku bangun, aku berada di ruangan kotor dan lembab dengan tangan diikat terentang. Lalu Tachibana-san dan Kanzaki-san (Tetua Uchiha) datang menghampiriku, aku menyambutnya dengan senyuman, kupikir mereka datang menyelamatkanku, ternyata tidak, -belakangan aku mengetahui bahwa merekalah pelakunya-. Mereka datang memberi penawaran, jika aku mau meninggalkan Obito aku akan diampuni dan dibebaskan, namun jika tidak aku akan dihukum. Kukatakan pada mereka bahwa lebih baik mati daripada melepas Obito.

Maka mereka menjalankan hukumannya, menyuruh dua algojo mencabukku 100 kali, sedangkan mereka sendiri pergi. Picik memang, benci sekali aku dengan mereka. Kalau bukan karena Ayah melarangku, pasti sudah kubunuh mereka. Huft. Kita kembali kebagian cambuk, jadi begitu mereka tak terlihat, seorang algojo menelanjangiku, mereka memperkosaku -bagian ini mengerikan, aku tidak mau mengingatnya- setelah mereka puas, aku sudah sangat lemas, tenagaku terkuras, membuka mata saja sulit sekali, tapi hukuman sesungguhnya baru dimulai, cambuk 100 kali. Aku memohon, seumur hidup baru kali itu aku memohon, aku ngeri sekali melihat cambuknya, Uchiha punya cambuk khusus untuk menghukum narapidana, Obito pernah menjelaskan padaku bahwa itu terbuat dari baja dan timah hitam-aku tak menyangka kalau aku akan merasakannya-, sebelum dicambukkan benda itu sudah dulu dibakar 7 jam, yang artinya dua tetua sialan itu sudah mempersiapkan sejak awal.

Aku terus memohon pada kedua algojo itu, akau bersumpah akan memberikan apapun yang mereka pinta asal mereka tidak mencambukku, tapi mereka tidak mendengarku. Uchiha adalah tuan mereka, tak ada orang selain Uchiha yang bisa memerintah mereka. Hukuman dimulai, cambuk membara diarahkan ke punggungku, sabetan pertama, aku meraung seperti binatang, rasanya seperti neraka, panas, sangat panas, sakitnya tak terbayangkan, menembus sampai ke tulang-tulang, lukanya dalam dan langsung melepuh, percayalah padaku, rasanya sangat buruk sekali, sangat mengerikan. Aku bahkan sudah yakin, kalau aku akan mati.

Tapi segalanya baru dimulai, masih ada 99 cambukan lagi. Aku memohon pada Tuhan untuk mencabut nyawaku di sabetan kedua. Tapi Tuhan tak mengizinkan aku mati, aku terus merasakan punggungku dianiaya, aku bahkan mencium bau daging gosong dari punggungku. Aku menertawai diriku sendiri, ironis, nasibku seperti anjing, mencium bau daging matang dari tubuhnya sendiri sebelum mati (seperti anjing yang dibakar hidup-hidup supaya lebih sedap). Setelah cambukkan ke-lima, aku sudah gila, mungkin jika nanti aku masih hidup, mereka akan memperkosaku lagi, pasti lebih sedap, seperti anjing bakar. Apakah Obito berfikir hal yang sama?, apakah aku sedap?, apa bauku sedap?, Aku gila, benar-benar gila, aku tak tahan sakitnya, aku benar-benar sudah gila, sekali waktu aku menjerit sekali waktu aku tertawa.

Sampai cambukan ke-sebelas, aku tak tahu cara bernafas, seperti seseorang menyumbat mulut dan hidungku, sesak, panik, dan ketakutan. bukan hanya punggungku yang panas, paru-paruku juga panas. Tubuhku panas, segalanya buram dan mengerikan, mungkin itu yang dinamakan ajal tiba, sekarat, gerbang kematian. Mataku berat, aku tak tahan lagi, aku siap mati, lalu tiba-tiba aku mendengar suara Ayah memanggil-manggilku, aku...berusaha...bernafas...membuka...mata... berat...sekali...ayah...ayah..." Kakashi kejang.

"sudah Kakashi, berhenti." Genma kaget.

"...ayah...menolongku..."

"Ya Tuhan Kakashi, berhenti. Tolong berhenti." Genma hampir menangis. Panik sekali.

Diam, Kakashi diam.

"Kakashi..., Kakashi..." Genma menarik tubuh Kakashi telentang.

Bola mata hitam Kakashi menghilang keatas, hanya putih, mulutnya menganga, nafasnya berhenti.

"Ya Tuhan, Kakashi..." Genma histeris. Diciumnya kening Kakashi cepat.

"Kakashi...Kakashi...Kakashi dengarkan aku...Ya Tuhan Kakashi..." Genma menangkup pipi Kakashi, menepuk-nepuknya pelan. "Dengarkan aku...Kakashi...Kakashi..."

Belum ada respon.

"Kakashi...Kakashi, tolong dengar aku! Bernafas...bernafas...Ya Tuhan, kau harus bernafas..." ditiupnya mulut Kakashi, memberi nafas buatan.

"Kakashi...bernafas! Hanya bernafas, tolong."

"Gen...ma..."

"Ya Tuhan, Kakashi...hanya bernafas, tolong. Ikuti aku, tarik nafas, pelan-pelan..., keluarkan... Lagi, pelan-pelan, tarik nafas...keluarkan... Bagus Kakashi,...sekali lagi..." Genma bernafas lega, Ya Tuhan ternyata dia sendiri menahan nafas sejak tadi.

.

.

"Ya Tuhan, Kau hampir membunuhku." Genma meninju pelan pundak Kakashi. Suasana panik telah berlalu, mereka berdua duduk-duduk telanjang di ranjang dengan kaleng bir di tangan. Porno dan menggemaskan.

Kakashi menyeringai, "kau sendiri hampir membunuhku, Gen."

"yeach, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ceritanya traumatis sekali. Apakah Obito tahu?"

"tidak, dia tidak tahu, aku bohong padanya, juga pada siapapun yang bertanya. Tidak ada yang tahu selain kau dan ayah."

"hm, bukankah lebih baik kalau Obito tahu, dia bisa menghukum..."

"Obito tidak boleh tahu. Belum tentu dia memilihku daripada klannya. Itu kata Ayahku, walau bagaimanapun, kami tak punya ikatan apa-apa."

Genma bersorak dalam hati, apakah ini artinya dia punya kesempatan?. "bukankah kalian kekasih?"

"hanya pacar, tak ada artinya jika dihadapkan pada Uchiha. Mereka punya aturan-aturan yang sangat rumit."

Genma mencoba peruntungan. "kenapa kau tidak bersamaku saja?"

Kakashi menaikkan sebelah alis, "hum, lupakan." jemari terampilnya menyentuk milik Genma, "ayo kita lanjutkan bagian ini saja." benda setengah tegang di selangkangan si senbonman masuk seluruhnya di mulut Kakashi.

"uh!, Shit Kakashi..., kau porno sekali...sssshhhhh."

Malam nikmat yang panjang, telah dimulai.

.

.

Tbc. Sampai jumpa bab depan, bye-bye.

.

.


Ekstra. I.

Sakumo membuka note kecil yang disematkan pada salah satu origami bangau,

'maaf Ayah, bangaunya hanya 51, tanganku pegal. Selamat hari ayah.'

Ada tulisan 'aku sayang ayah' tapi dicoret-coret sampai tak terbaca. Hanya Sakumo sudah yakin apa tulisannya.

Sakumo tersenyum. Putra semata wayangnya memang 'ajaib' sekali kelakuannya.

"Papa..."

Sakumo mendongak, ada lukisan besar dirinya dihadapannya, terfigura rapi dan berkaki, kaki pembawanya.

"selamat hari Ayah, aku sayang Papa."

Ya Tuhan, datarnya.

Sakumo tertawa. Oh Kami-sama, putra-putranya memang 'unik' sekali.

Sakumo menerima lukisan besarnya dan meletakkannya hati-hati. "Papa juga menyayangimu, nak." memberi pelukan beruang pada si pelukis muda.

Selesai. I.

.

.


Ekstra. II.

Kakashi membuka kotak hadiah dengan hati-hati. Dia tahu persis siapa pengirimnya dan apa isinya. Namun hal itu tak membuat antusiasnya berkurang sedikitpun.

Kakashi mengeluarkan sebuah lukisan berfigura dari dalam kotak, mengaguminya sepenuh hati, itu adalah potret dirinya versi umur sembilan tahun dan balita tiga tahun di taman belakang rumah tersenyum bersama, disertai tulisan, 'selamat hari Ayah, aku sayang Kakak.'

Kakashi tertawa, dia bisa meng-audiovisual-kan betapa datar ekspresi dan suara penulisnya.

"aku juga menyayangimu, pelukis kecil." bisiknya.

Selesai. II.


.

Kadang saya berfikir, bergerak di pairing pinggiran itu seperti penjual barang antik. Tokonya gak bakalan ramai, tapi harganya spektakuler. Pernah saya andaikan juga, jika fiksi ini memakai SasuNaru misalnya, apa jadinya ya. sayang SN sudah buanyak sekali, saya sudah puas hanya dengan membaca karya author yang lain.

#halah, mau ngomong kalau tulisan ini 'ego pribadimu' saja kok ruwet bahasanya!

*hihihi. Iya-iya.