Bott!Kakashi

(Dark Side)

Rate : M

Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.

Naruto (c) Masashi Kishimoto


Sebenarnya petunjuk kalau Kakashi punya adik itu sudah saya selipkan di bab-bab sebelumnya loh.

Bab 6 : Hatake Kakashi.

"ranjangmu bahkan cukup untuk enam orang Obito, kenapa minta maaf" Kakashi menepuk-nepuk pantat Sasuke pelan. -seperti kebiasaannya dengan sang adik di rumah-, untuk membuat Sasuke nyenyak, sekaligus mengurangi kegugupannya.

Bab 7 : Obito's Baby

"Nak, ayah tidak akan berkata 'semua baik-baik saja', tapi ayah selalu berkata 'kau akan sanggup melaluinya'. Dan jika kau butuh bantuan, kami selalu disisni untuk kalian, anak-anak ayah. kau bisa pulang ke ayah. kapanpun kau mau, Kakashi..."

.

.

Minggu yang sibuk. Bagi yang meminta saya update cepat, maaf banget. Minggu kemarin tegang sekali soalnya, saya konser dua kali, jadi gak sempat nulis. Begitu konser selesai, saya menulis lagi tapi benar-benar seperti siput, lambat dan malas.

Walaupun ngaret,

Selamat menikmati minna-san...


Kakashi gelisah, Jiwanya resah, raganya lemah, hatinya diliputi kerinduan yang mendalam, setiap hitungan nafasnya hanya Obito, setiap detik waktunya hanya Obito, hanya Obito, hanya Obito, segalanya hanya Obito, dia kangen sekali dengan nyawa hidupnya -Obito-. Dia tidak pernah berpisah dari Obito lebih dari tujuh hari, berat sekali hidup tanpa sang kekasih, dia sangat ingin Obito, ingin bertemu, ingin bersama, ingin dimanjakan olehnya, ingin segalanya hanya Obito. Kakashi tak tahan, air mata hampir selalu menggenang di pelupuk matanya.

Selain itu, juga tersisip tanda tanya besar di kepalanya, kenapa tak ada satu note pun yang dia terima, ini musim gugur, biasanya mereka akan berkomunikasi lewat catatan-catatan kecil yang dicantumkan pada kotak makan siangnya.

"haish, bagaimana ada catatan kalau tidak ada makan siang." gerutu Kakashi dibarengi mondar mandir dan setetes air mata, galau sekali rasanya. Sudah dua puluh satu hari terlewat, dia tak bisa apa-apa tanpa Obito, pencernaannya kacau balau, nafsu makannya hilang, dia malas makan dan tidak ada Obito yang mengomelinya untuk makan.

"Shit!, sakit..." Kakashi memegangi perutnya lalu berlari ke kamar mandi.

Sekeluarnya dari kamar mandi, Kakashi rebahan di ranjang, mendekap sweter Obito yang diberikan padanya musim dingin tahun lalu.

"Demi Tuhan, aku akan membunuhmu Obito, aaarrrgggh..." rambutnya dia jambak frustasi, sweter dia lempar ke seberang ruangan, terakhir kali Obito menginap dia memakai baju hangat tersebut dan sampai detik ini tak pernah Kakashi cuci, dia suka bau pacarnya, tapi malam ini campuran aroma tubuh Obito dan musk yang sangat animalistic dan seksi itu malah membuatnya semakin galau. Sialan Obito, kenapa baunya jantan sekali!.

Kakashi telungkup, tersedu tanpa suara, ini kali pertama Obito mengabaikannya dalam waktu yang panjang tanpa kabar sedikitpun. Hatake muda itu kesal, marah, jengkel, kangen, rindu, dan segudang perasaan 'nyesek' lainya.

Kakashi tak tahu harus bagaimana lagi. Dia sudah mencoba ribuan kali menghubungi Obito dengan ponselnya tapi tak ada tanggapan, sudah dua kali mencoba datang ke tempat klan Uchiha, tapi selalu dihentikan oleh penjaga gerbang, walaupun jengkel dia berusaha mengerti, kelahiran bayi penerus tahta adalah sesuatu yang sakral bagi para Uchiha, jadi sebelum 100 hari dari kelahiran, non-Uchiha tidak akan diperbolehkan melewati gerbang. Bayi sialan.

Kakashi resah, hatinya gundah. "demi Tuhan!, kenapa sih rindu itu rasanya sakit sekali." desisnya sambil meremat dada kiri yang sakit sekali.

"aaarrrggghht!" mengusap air mata kasar dan bangkit. Dia tidak bisa hanya menunggu, bagaimanapun caranya dia harus mendengar kabar kekasihnya.

"Take, Obito!, kau benar-benar membuatku repot." Kakashi duduk di kursi belajarnya, mengambil selembar HVS dan mulai menulis,

'Didalam sebuah cinta terdapat bahasa,

Yang mengalun indah mengisi jiwa,

Merindukan kisah kita berdua,

Yang tak pernah bisa akan terlupa,

Bila Rindu ini masih milikmu,

Kuhadirkan sebuah tanya untukmu,

Harus berapa lama aku menunggumu,

Aku menunggumu,

Didalam masa indah saat bersamamu,

Yang tak pernah bisa akan terlupa,

Kenangan masa yang menghancurkan jiwa,

Dengan segenap cinta aku bertanya,

Bila Rindu ini masih milikmu,

Kuhadirkan sebuah tanya untukmu,

Harus brapa lama aku menunggumu,

Aku menunggumu,

Dalam hati kumenunggu.

Dalam benak kumenunggu.

Masih menunggu.' {*}

Kakashi memasukkan suratnya kedalam amplop, lalu pergi ke kantor pos yang jaraknya memakan waktu satu jam untuk mengirim surat kepada sang kekasih yang rumahnya bisa ditempuh dalam setengah jam.

Orang kangen itu, gokil memang.

{*} = Chrisye feat. Peter Pan, Menunggumu.

.

.

Ciuman itu keras, dalam, dan menuntut, hampir menyakitkan. Tapi Kakashi menikmatinya, dia selalu menikmati apapun yang diterima tubuhnya, sakit ataupun nikmat. Dia masokis?. Tidak juga, dia hanya terbiasa. Dia adalah 'pemuda paling menggairahkan abad ini' tentu dia harus menikmati rasa sakit, percayalah kebanyakan orang lebih suka memperkosanya daripada memintanya baik-baik. Seperti saat ini, dia ditarik entah siapa ke perumahan kosong dua blok dari kantor pos. Dia tahu apa yang akan terjadi, seperti yang selalu terjadi. Ada yang menginginkan tubuhnya maka dia memberikannya, baginya itu bukan masalah besar. Namun yang dia tidak bisa mengerti adalah kenapa dia begini, kenapa tubuhnya seperti cahaya yang menarik laron-laron. Dia tahu dia menarik, tapi dia bukan satu-satunya orang yang menarik. Dia juga tidak 'play hard to get me' kecuali pada beberapa temannya, dia selalu bermain mudah dengan orang asing, tidak ada alasan untuk menundukkannya, dia selalu tunduk, dia menuruti apapun kemauan partnernya. Tapi tetap saja kebanyakan orang menganggapnya kompetisi, berlomba-lomba menguasai tubuhnya.

Dan tubuhnya, Kakashi juga tidak mengerti ada apa dengan tubuhnya, kenapa sangat disukai laki-laki. Padahal dia lumayan untuk pemuda seusianya. Dia punya bahu tegap; tidak kecil seperti perempuan, dadanya juga bidang; bukan jenis yang menggunung apalagi memantul-mantul, perutnya bagus; ada kotak-kotak enam disana -walau dia akui tidak sebagus Obito yang punya delapan kotak¬ tapi tetap saja kan, enam kotak juga fantastis!, pinggangnya memang menyempit tapi tidak seperti wanita, pantatnya juga biasa saja; datar; tidak semok. Intinya, dia yakin dia sangat laki-laki, tapi kenapa?. Kenapa dia begini?. Apakah karena wajahnya?, wajahnya yang memvisualisasikan 'please, Fuck me!' dengan sempurna seperti kata Shisui saat filternya jebol?, atau karena sesuatu dalam mulutnya, sehingga banyak orang memaksa Kakashi mencicipi jamur besar mereka, persis seperti orang asing yang satu ini...

Kakashi dipaksa berlutut, mulutnya terbuka maksimal tersumpal jamur tegang raksasa. Rambutnya dijambak sesuai selera penculiknya. Kakashi menurut saja, dia tidak mau buang-buang tenaga. Lagi pula ini masih bisa dia tangani, jadi selama masih bisa dinikmati, kenapa tidak!. Masalah pelecehan seksual hanya terletak pada harga diri, dan perkara itu bagi Kakashi... Biasa saja. Hn, lupakan harga diri, jika itu seks, Kakashi tidak peduli dengan perkara semacam itu. Dia menerima takdirnya sebagai budak kelamin. Paling-paling yang peduli dengan harga diri dan tetek-bengeknya hanya Obito.

Obito, Obito?. Kakashi ingat sekarang kenapa perlakuan tuan asing ini sedikit mengganggunya!. Dia tidak pernah dibeginikan lagi sejak berpacaran dengan Obito!. Tidak ada manusia yang cukup nyali untuk mengusiknya sejak menjadi milik Obito!.

Hum, besar juga nyali orang ini, menarik!. Kakashi menyeringai dalam hati.

Saat cairan asin pahit menuruni kerongkongannya, Kakashi menelan dengan sempurna.

"kau hebat sekali, Hatake!" orang asing itu menjilati rongga mulut Kakashi.

"kau siapa?" tanya Kakashi datar.

"Kinkaku, pernah dengar?"

"hn, seorang turis rupanya."

"yeach, mendekati." Kakashi melihat Kinkaku mengambil botol kecil 120ml dari sakunya, meminum isinya dua teguk, lalu menyodorkannya ke dirinya. "ini minumlah."

Dengan ragu Kakashi meminumnya, satu tegukan, "apa ini?", dia mengernyitkan keningnya, cairan bening yang dia kira air ternyata memiliki rasa yang aneh sekali.

"sudah minum saja."

"tidak mau, rasanya buruk dan menjijikkan." cairan itu agak kental seperti putih telur dan berbau kuat. Kakashi akan melempar botol kecil itu, tapi keduluan direbut pemiliknya.

"kau harus minum ini, bodoh!" rahang Kakashi disambar kasar, didongakkan, botol dimasukkan paksa kedalam mulut; didorong sampai tenggorokannya, membuat pemuda seksi itu muntah tertahan. Hidungnya lalu disumbat, hingga semua cairan terminum olehnya.

"bagus."

Kakashi terbatuk-batuk, hidung dan matanya berair. "itu...* batuk*...tadi...*batuk*...apa...*batuk*...?"

"obat kuat dan perangsang. Kita akan bercinta sepanjang malam, Jadi kau harus punya tenaga buatan untuk memuaskan kami."

"kami?" Kakashi melotot. "kau bawa teman?" dia tidak suka membayangkan ini.

"bukan teman, tapi adikku. Dia akan kemari setelah mendapatkan semua yang kita butuhkan." ada seringai aneh yang membuat Kakashi bergidik.

Hatake muda bangkit, dia tidak mood digarap ramai-ramai. Kakinya dia paksa secepat mungkin menuju luar.

"kau tidak akan kemana-mana, bocah!." Kinkaku tertawa di belakang, mengejar main-main.

Tepat satu langkah dibelakang pintu, Kakashi ambruk, tubuhnya melemah dan bergetar hebat sampai membungkuk seperti janin. Dia mencoba bangkit tapi tidak berhasil, seluruh kekuatannya lenyap, tapi dia merasa sangat bersemangat, sangat bergairah. Matanya membulat, ya Tuhan, apa ini kerja obatnya?, Shit, dia benar-benar akan menjadi budak nafsu dua bajingan ini kalau begini caranya. Dan seolah menyetujui, batangnya mulai berdiri, lubangnya berkedut-kedut minta di isi.

"Wow!" Kinkaku menggaruk rambutnya. "sepertinya kau minum terlalu banyak."

Bajingan!.

.

.

Kakashi masih di lantai kotor itu, ditinggalkan begitu saja, telentang dengan sperma berbau menyengat di setiap jengkal tubuhnya. Rusak dan menjijikkan.

Mood buruk dan seks tidak pernah menjadi adonan yang sempurna bagi Kakashi, apalagi jika pemanggangnya sejenis obat perangsang dan penambah stamina, buruk sekali hasilnya. Dia seperti kue kelebihan baking soda, mengembang cantik saat dipanggangan dan mengempis begitu dikeluarkan.

Dia hanya bisa berkedip-kedip menatap langit-langit bobrok diatasnya, kedua matanya adalah satu-satunya anggota badan yang bisa digerakkan, dia tidak bisa bahkan untuk memindahkan satu jari. Tubuhnya mencapai batas, hampir mati rasa, satu-satunya bagian yang dia rasakan hanya mawarnya yang over-merekah, terbentang lebar, sangat lebar, lebih lebar dari saat dimasuki Kisame. Dua bajingan gila bertenaga kuda semalam men-double-nya. Kakashi tidak bisa memikirkan hal selain betapa kecewanya Obito jika tahu dia sangat longgar, mungkin tuan Uchiha itu tidak akan mau bercinta dengannya, selamanya.

Kakashi menghela nafas dan menunggu, mungkin salah satu temannya akan sadar kalau dia hilang, mengingat ini hari selasa dan dia punya lima kelas dalam tujuh jam penuh.

Ketika matahari musim gugur menerobos lembut di celah-celah ventilasi, Kakashi mendengar suara sirine polisi, meraung-raung di jalanan tepat didepan sana. Mungkin ada pengejaran, mengingat ini pemukiman kumuh yang sudah ditinggalkan. Lalu dia mendengar salah satu mobil berhenti dekat sekali dengan rumah tempat dia ditinggalkan. Dia merasa punya harapan. Dia mengambil nafas dalam-dalam, suaranya harus melebihi sirine kalau ingin didengar, dia siap lalu berteriak 'tolong' sekuat tenaga. Tidak ada suara, dia malah batuk-batuk menyakitkan. Sekali lagi dia mencoba, menarik nafas dalam-dalam lalu berteriak, tetap tidak bisa, tak ada kata yang keluar dari mulutnya selain dengkingan lemah menyedihkan, tenggorokannya seperti amplas, pita suaranya mungkin putus, dia sudah berteriak sepanjang malam. Dan saat dia ingin mencoba sekali lagi, mobil polisi itu berlalu. Ya Tuhan.

Kakashi menghela nafas berat, dia pasrah, berserah kepada sang pencipta apapun yang akan terjadi.

'Ayah cepat temukan aku',

Dan gelap.

.

Saat Kakashi membuka mata dia berada di apartemennya yang nyaman, dengan wajah berkerut Hatake senior berada tepat disamping kepalanya. Dia tersenyum begitu merasakan tangan ayahnya melilitnya hati-hati. "ayah..." bisiknya serak, dia berharap itu cukup untuk membangunkan sang ayah, dia kebelet pipis, btw.

"ayah..."

"oh, hai Nak, kau sudah bangun?" Kakashi terharu melihat senyum setengah mengantuk ayahnya. Jika dia menjadi ayah, dia ingin seperti ayahnya, selalu menyambutnya dengan senyuman seburuk apapun keadaannya. Dia segera menepis pikiran itu. Pacarnya saja laki-laki, anak darimana.

"pipis, ayah."

"oh." Ayahnya bangkit dan kembali membawa tabung pispot. Setelah selesai, dia mengelap bagiannya dengan tisu dan kembali ke kamar mandi.

"bagaimana ayah menemukanku?" dia bertanya begitu sang ayah kembali ke sampingnya.

"ponselmu berhenti di titik asing lama sekali, jadi ayah mulai melacaknya."

Kakashi tersenyum. Dia sudah menduga, pasti dari pelacak di ponselnya. "terimakasih ayah."

"bagaimana perasaanmu?"

"terbentang, itu yang paling mendominasi." saat melihat lengannya, Kakashi baru sadar dia di infus. "kenapa ini?"

"kau dehidrasi dan overdosis obat penambah stamina."

Itu menjelaskan kenapa burungnya masih berdiri sekarang. Kakashi segera berterimakasih pada Tuhan dia masih hidup, beberapa tahun lalu ada kasus di daerah terpencil, seorang lelaki mati dengan burung berdiri setelah meminum dua bungkus irex.

"Kau meminumnya sendiri atau-"

"dipaksa, ayah!. Aku tidak sebodoh itu." Kakashi mencebik dan memalingkan wajah. Sekali dia menelan viagra setelahnya sang ayah selalu curiga.

"hum, siapa tahu kau sedang horny kan." nada jenakanya membuat Kakashi jengkel.

"Ayah!"

"ha...ha...ha..."

"jangan tertawa, aku sedang kesal!." tapi ayahnya tetap tertawa sampai batuk-batuk. "itu karma karena menertawakanku! Ayah durhaka!" Kakashi meleletkan lidah.

Ayahnya tertawa lagi, "sejak kapan ada ayah durhaka. Hahaha..."

Kakashi ikut tertawa akhirnya.

"Kakashi, Nak. Siapa?" ayahnya bertanya hati-hati.

Kakashi terdiam sebentar, "dua orang asing bernama Kinkaku dan Ginkaku. Aku tidak mengenal mereka, ayah."

Sang ayah menghela nafas kecewa. "kalau begitu ayah tidak bisa memburunya."

"kenapa?" Kakashi mengernyit. Tidak ada satu orangpun yang bisa lolos setelah menyakiti dirinya. Ayahnya itu father complek, ngomong-ngomong.

"ANBU gabungan sudah menangkap mereka."

"oh." Kakashi mengangguk. ANBU adalah tentara elit penjaga perdamaian.

"ayah..."

"hm?"

"aku..." belum selesai Kakashi berbicara sang ayah sudah menggelengkan kepala, memintanya berhenti.

"tapi ayah, bagaimana kalau Obito..." ayahnya menghentikannya lagi dengan gelengan.

"Nak, Obito tidak seperti itu. Dia tidak hanya mencintai tubuhmu, dia benar-benar mencintaimu. Jangan pernah ragukan itu, okay?"

.

.

Sakumo menatap keriuhan senja Konoha dari kaca apartemen 121 A di lantai 12 COPICOPY BUILDING yang ditinggali putranya. Pikirannya menerawang, segala yang terjadi dalam hidup sang putra memenuhi kepalanya.

Dua puluh tahun yang lalu Kakashinya lahir dengan bobot dibawah rata-rata bayi normal dengan operasi, sang Ibu lebih dulu meninggalkannya setengah jam sebelum dia melihat dunia. Sebenarnya dokter sudah berkata bahwa kehamilan adalah sesuatu yang mustahil bagi Hanako Hatake, mengingat riwayat kesehatannya, tapi perempuan luar biasa itu bersikeras mempertahankan sang putra. Bahkan rela menukar nyawanya.

Walaupun terlahir di keluarga kaya raya, Kakashi bukanlah bayi montok yang sehat fisiknya, setiap hari Sakumo hampir mati berdiri mengetahui perkembangan bayinya. Sifat manja putranya sudah melekat sejak lahir, dia menolak semua susu formula yang diberikan padanya, dia hanya mau ASI eksklusif yang umurnya satu bulan, lebih dari satu bulan dia tidak mau meminumnya. Akibatnya, pertumbuhan Kakashi lebih lambat karena sulit menemukan susu untuknya, setiap Ibu pasti ingin ASI eksklusifnya -apalagi yang satu bulan- diminum sang buah hati, untunglah Sakumo menemukan wanita-wanita yang mau berbagi asi dengan putranya, walau dengan harga yang sanggup melompatkan bola mata, mahal tiada kira.

Tepat di ulang tahunnya yang kedua, sang putra berhenti minum susu, benar-benar berhenti. Dia mulai mencoba segala makanan, hingga pilihan terbaiknya jatuh pada ikan sauri, miso dan terung. Setelah itu pertumbuhannya membaik dan Sakumo bernafas lega. Namun tidak lama,

Saat memasuki hari pertamanya di Taman Kanak-kanak sang putra meminta Ibu, dia tidak terima karena hanya diantar sang ayah sedangkan teman-temannya dengan ayah-ibu mereka. Dia mogok makan, mogok tidur, mogok keluar rumah, bahkan mengancam bunuh diri jika keinginannya tak terpenuhi. Sakumo terpaksa mengonsumsi aspirin dua hari, pusing menghadapi sang putra -yang kalau punya keinginan harus terpenuhi seketika itu juga.

Akhirnya Sakumo menikah lagi demi sang buah hati, dengan wanita pilihan Kakashi tentu saja.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Raisu, Kakashi ingin melanjutkan sekolahnya di Konoha, di kota besar. Jadi mereka satu keluarga pindak ke Konoha. Dan dari sinilah semua bencana dalam hidup pewaris tunggalnya dimulai.

Konoha tidak sejinak Raisu, kota besar menjanjikan ancaman yang lebih besar. Kakashi tumbuh menjadi remaja yang normal, kecuali wajahnya, Sakumo sudah mempunyai firasat buruk tentang wajah putranya, tidah hanya tampan tapi juga terlalu mengundang, tidak hanya perempuan tapi juga makluk sejenisnya. Firasat Sakumo semakin buruk saat suatu hari Kakashi pulang dengan hickey keunguan dilehernya, putranya jujur berkata bahwa dia digigit temannya, dia berkata bahwa itu hal biasa, teman-temannya sering mencium dan menggigiti lehernya, mereka main-main, hanya kali ini agak keterlaluan. Sakumo dan istrinya jantungan di akhir penjelasan. Sebagai orang dewasa tentu mereka faham. Putranya yang polos, tanpa sadar telah ternoda.

Di tahun kedua sekolahnya, sekali lagi Sakumo dan istrinya dihantam fakta menyakitkan. Putranya dicabuli gurunya sendiri. Kakashi yang kesakitan saat duduk dan naik tangga menimbulkan kecurigaan besar, saat ditanya dia hanya berkata lubangnya sakit, dia juga tidak mengeluh atau menunjukkan reaksi seperti korban pencabulan pada umumnya, dia biasa saja. Sakumo membawanya ke dokter, saat catatan medis keluar, Sakumo segera bertindak. Dan guru biadap itu menjadi korban pertama yang merasakan kesadisan seorang Hatake.

Setelah kejadian itu Sakumo meminta sang putra memakai masker, tapi ditolak karena seperti penyakitan, tidak hit, tidak cool, tidak sesuatu. Tapi putranya segera menyesali hal itu, dia bahkan menangis tersedu-sedu dipelukan ayahnya dan sampai bersumpah tidak akan membantah apapun ucapan ayahnya. Itu semua karena musibah yang menimpanya di tahun ketiga, setelah ujian nasional di hari terakhir. Wajah Kakashi yang semakin mekar dan harum dari hari ke hari benar-benar mengundang bencana, segrombolan preman tidak kuasa menahan hasratnya setelah memandang Kakashi, mereka kerasukan setan dan menyerang putranya, mengenalkan kejamnya dunia pada putranya, menawarkan penyakit abadi untuk putranya.

"...yah...AYAAAAHHHHHH!"

"ha...oh...eh...apa...iya...?" Sakumo terkaget-kaget.

"ibu menelpon." Kakashi mengacungkan ponselnya yang berdering.

.

.

Kakashi menerima surat balasan dari Obito di hari Selasa, tepat satu minggu setelah pengirimannya.

'tolong jangan menggangguku dulu Kakashi, aku sibuk.'

Sangat simpel, khas Obito. Tapi menariknya, surat itu memiliki huruf 'a' bulat biasa, bukan 'a'-nya α (alpha). Obito menulis huruf 'a' persis lambang alpha, α dengan satu tarikan seperti pembulatan dari huruf 'x'. sedangkan surat ini memiliki batang 'α' yang lebih tebal, artinya penulisannya diulangi lagi, seperti umumnya orang membuat 'a' bulat. dan ekor atas 'α' surat ini menipis, itu artinya penulisnya menambahkan ekor tersebut setelah 'α' jadi, supaya persis seperti α (alpha) Obito, agar tak terkenali, namun justru disinilah orang seperti Kakashi akan menemukan kesalahannya.

Kakashi menyeringai, "persis seperti kata Parker Kincaid, sepintar-pintarnya seseorang menjiplak tulisan orang lain, akan ada satu huruf yang tidak bisa dia tiru." Hatake muda itu bertepuk tangan jumawa, lalu menyeringai sadis. "tamat riwayatmu!"

(Parker Kincaid, pakar linguistik. Tokoh fiktif dalam The Devil's Teardrop karya Jeffery Deaver.)

.

.

.

Genma menggenggam kedua tangan Kakashi dan membawanya keatas kepala, menciumi jemari sempurna itu dengan suka cita, "aku tahu kau akan menolak begitu, untungnya aku sudah mengantisipasinya dengan meminjam ini."

Klik! Klik!

Kedua tangan Kakashi terborgol diatas kepala. Kepala ranjangnya tidak berlubang, jadi tidak bisa untuk memborgol.

"Genma, apa-apaan ini?" Kakashi menggerak-gerakkan tangannya yang terborgol.

"a a a, jangan digerak-gerakkan, kau bisa terluka." telunjuk digerakkan ke kanan ke kiri, "aku suka bagian ini, Kakashi." Genma memilin-milin puting Kakashi. "ittadakimassu..."

Krauk!

Gigit keras, tapi tidak melukai. Genma menggigit puncak dada Kakashi dan menariknya keatas.

"uh, Geeeeeeen, Stop!"

Ekspresi tidak nyaman Kakashi sangat sedap di mata Genma. Dia melilitkan kakinya untuk menahan kaki kakashi, sebelah tangannya menahan tangan yang terborgol, sebelahnya lagi meilin puting kiri, sedangkan dada kanan di invasi oleh lidah; mulut; dan gigi. "Damn, rasamu luar biasa Kakashi."

"Genma. Berhenti."

"ck, berisik sekali." dicubitnya puting Kakashi.

"uh... kau sangat gila, Gen!. kau sudah dua kali memperkosa dadaku. Aku tidak mau lagi!"

Genma menyeringai, "lalu kenapa kau datang ke tempatku." pernyataan bukan pertanyaan.

"aku hanya butuh orang memasuki lubangku, bukan memerah dadaku!"

"ho begitu?." sing a song. "kau datang kesini saja sudah seperti 'Genma tolong remas dadaku'..."

"aku tidak begitu!"

"iya kamu!, kau suka saat dadamu dimanjakan bukan?"

"kau menganiaya, bukan memanjakan!"

"ma...ma...ma...tak perlu ditutup-tutupi, kau memang suka ini kan." Genma menghisap kuat-kuat dada kiri Kakashi dan memainkan dengan lidahnya.

"uuuuhhhh..."

"benar kan kataku, kau memang suka saat dadamu diperkosa..."

"diam bajingan!, aku lelah dengan ocehanmu, lakukan yang kau mau!, aku ingin cepat selesai!"

"ha ha ha ha..." tawa Genma meledak. "Baiklah-baiklah, aku akan cepat, tapi aku suka bagian ini. Jadi tolong kerjasamanya, okay."

Kakashi mengangguk.

.

.

Pluk!

Kantong belanja Raido tergelincir dari tangan, dia kaget bukan kepalang. Diatas ranjangnya -catat- RANJANGNYA, dua anak adam tengah bergumul mesra. Satu berambut perak satu lagi coklat. Satu menggeliat resah; satu menggeram suka cita, satu dimasuki; satu memasuki, satu mendorong; satu menggigit, menggigit, menggigit...demi Tuhan, menggigit!...aaaarrrrggghhht.

"GENMAAAAAAAAAA!"

Kedua insan menengok bersamaan. "Raido?"

Raido mendekat dengan langkah lebar-lebar dan menggema, Blam-blam-blam.

Kakashi mengawasi dengan pandangan tertarik, sedang Genma -entah sejak kapan- sudah bersembunyi di belakang Kakashi.

WER!

Raido menarik telinga Genma sepenuh hati.

"Ittte...tttee...tteee...Raido...lepas...ittteeeee..."

Raido tidak melepasnya, "KAN SUDAH KUKATAKAN, JANGAN MENGGIGIT!, JANGAN MENGHISAP!, JANGAN MENINGGALKAN BEKAS DI TUBUH KAKASHI-SAN!, KAU INI BANDEL SEKALI SIH!"

"ITTTE...JANGAN KERAS-KERAS, TELINGAKU BISA COPOT, SIALAN!"

"AKU INI TERBAWA SUASANA!"

"IYA, TAPI LEPASKAN TELINGAKU, ADUH!, INI SAKIT, BODOH!"

"KAMU SIH BANDEL"

"IYA BANDEL, TAPI LEPASKAN!, SAKIT, FUCK RAIDOOOOOO!"

"ma...ma...kalian serasi sekali ya."

"eh/EEEEEEEHHHH?"

Raido melepaskan tangannya dari telinga Genma. "apa kalian sudah selesai?"

"hum, sudah." Kakashi yang menjawab.

"baiklah, kalian harus mandi. Aku akan memasak, nanti kita makan bersama." Raido berhenti sebentara, "Genma kau mandi duluan!"

"iya kau mandi duluan!" tuding Kakashi.

"aku?, kenapa tidak Kakashi-kun dulu?" Genma menyipit curiga, "kau ingin mengapa-apakan Kakashi-kun saat aku mandi kan?" memelototi Raido.

"iya. kenapa? Cemburu?" Raido mengangkat sebelah alisnya.

"Cih. Tak sudi!"

"Kakashi-san harus mengompres bekas-bekas gigitanmu Genma, dia tidak boleh pulang dengan jejak-jejak ini. Jadi kau mandi lebih dulu. Kau tenang saja, Aku tidak akan mengapa-apakannya. Kan aku hanya mau mengapa-apakan jika itu kamu!" Raido menyeringai.

"Ck, siapa yang peduli!" Genma berjalan telanjang ke kamar mandi.

Raido mengamati pantatnya penuh minat.

"kau suka dia?"

Pertanyaan Kakashi menyadarkan Raido. "iya."

Kakashi mengangguk-angguk. "maaf mengotori ranjangmu."

Raido mengambil balok-balok es batu dan memasukkannya dalam dua kantong. "Kau tau itu ranjangku?" dia menyodorkan kantong es kepada Kakashi. Raido dan Genma tinggal di satu apartemen dengan dua ranjang bersebrangan.

"iya. Terimakasih." Kakashi berbaring, meletakkan kantong-kantong es diatas dadanya.

Raido menelan ludah, manusia di ranjangnya ini sembrono sekali, acuh saja walau telanjang bulat, apa dia tidak sadar kalau setiap inci tubuhnya berteriak 'PLEASE, FUCK ME!' pada siapapun yang melihat. Terong seksi keparat!.

"Kakashi-san..."

"hm?"

"kau sangat indah seperti rumor yang beredar." Raido membungkukkan badan, di matanya hanya ada bibir kissable Kakashi, pelan-pelan dia mendaratkan bibirnya pada bibir dihadapannya. Hanya sebuah kecupan kecil untuk kekaguman. Lalu Raido menarik diri.

"terimakasih pujiannya." Kakashi tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Pipinya merah merona.

"Oh Tuhan..." Raido tak menyangka kecupan kecilnya bisa membuat pipi 'pemuda paling panas abad ini' merona. Menggemaskan sekali. Dia berdehem-dehem beberapa kali, "aku harus memasak sebelum berubah pikiran." mengusap kepala belakangnya canggung. "Kakashi-san ingin apa?"

"Kakashi saja. Aku mau sauri bakar dengan kecap asin, bisa?." pinta Kakashi penuh harap.

"baik Tuan. Kau hanya harus menunggu." Raido mengerling.

Mata Kakashi berbinar senang. Itu makanan favoritnya. Dia akan makan besar malam ini.

"masak yang banyak, Raido. Aku mau 12 porsi."

Hum, diberi telur minta ayam rupanya. Take!.

.

.

TBC.

.

.

bagian Linguistik diatas untuk Kamizuky-San, yang sepertinya suka dengan detektif-detektifan)

.

Bab depan kita akan menyelinap ke kerajaan Obito Uchiha, kita cari tahu kenapa dia mengabaikan Kakashi kita tercinta.

See U next chap, bye bye.

.

.

Ekstra.

Sebagai wali Sasuke, begitu bocah itu berulah, Kakashi di panggil oleh kepala sekolah tempat bocah Uchiha itu menuntut ilmu. Jangan tanya mengapa Kakashi yang menjadi walinya karena itu sesuatu yang sudah sangat jelas, Sasuke menginginkannya.

"Kakashi-san pasti tidak percaya padaku, sama dengan kepala sekolah." Sasuke mencebik begitu Kakashi duduk di sampingnya.

"kenapa berfikiran begitu?" Kakashi tersenyum dan mengacak rambut Sasuke -yang segera ditepis pemiliknya.

"karena dia putra mantan Wali kota ke empat, orang terhormat. sedangkan aku Uchiha, Mafia, sampah masyarakat."

Kakashi shock, "Ya Tuhan, Sasuke. Siapa yang berkata begitu?"

"semua orang berkata begitu!." mata Sasuke berkaca-kaca.

Kakashi segera menarik bocah kelas lima tersebut kedalam pelukannya, dia tidak menyangka Sasuke menjalani hari-hari berat di sekolahnya. "jangan dengarkan mereka, mereka salah." Kakashi menepuk-nepek punggung Sasuke sayang.

"mereka benar, kami Uchiha memang sampah masyarakat. Hiks...hiks..." Bocah malang itu tetisak-isak di dada Kakashi.

Kakashi membiarkannya beberapa saat sampai tangisnya reda. "lupakan tentang sampah masyarakat, kau tahu kalian tidak seburuk itu. Sekarang coba ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi..."

"kepala sekolah pasti sudah menjelaskan semuanya!"

"iya. Tapi aku ingin mendengar versimu."

"Kakashi-san akan percaya padaku kan?" Sasuke menatap penuh harap dengan mata kanak-kanaknya yang memerah dan berair.

"bukankah aku selalu percaya padamu?"

Sasuke mengangguk. Mengambil nafas sebelum bercerita, "aku melihat bocah kuning itu-"

"bocah kuning?"

"ck, Naruto. Aku melihat dia membuka rok Hinata, jadi aku memukulnya, aku tidak berniat sekeras itu, aku sedikit menyesal membuat hidungnya berdarah, aku meminta maaf tapi dia tidak terima dan mengadukanku ke pak guru. Lagi pula aku benci dengan tindakannya, dia anak laki-laki, seharusnya dia melindungi anak perempuan kan, bukan membuatnya malu seperti itu!" Sasuke bercerita dengan gigi terkatup rapat, benar-benar geram. "ck!, sayang tidak ada yang melihat kesalahannya, mereka hanya tahu aku memukul bocah kuning itu!"

"bagaimana dengan gadis itu, bukankah dia bisa membelamu?"

"dia pingsan."

"oh." Kakashi mengangguk-angguk.

"Kakashi-san percaya padaku kan?"

"aku percaya."

"tapi kepala sekolah tidak percaya padaku!"

"memang, dia juga menskorsmu tiga hari." Kakashi memperlihatkan kertas skorsnya.

"ck!. Aku sudah menduga ini." Sasuke merebut kertas tersebut dan meremat-rematnya menjadi bola, lalu dia lempar ke tempat sampah. "tidak seharusnya aku menolong Hinata. Seandainya aku tidak sok pahlawan, aku pasti tidak kena masalah. Aku bersumpah tidak-"

Kakashi membekap mulut Sasuke, "jangan bersumpah saat kau marah Sasuke, tidak baik."

"tapi aku kecewa Kakashi-san!. Aku sangat kecewa. Hanya karena aku Uchiha, tidak ada yang mau mempercayaiku. Orang-orang selalu berprasangka buruk padaku. Apa gunanya aku berbuat baik kalau begitu!"

Kakashi mengacak rambut Sasuke lalu mendudukannya. "dengar Sasuke. Menolong perempuan adalah sesuatu yang mulia. Menyelamatkan harga diri mereka adalah tindakan ksatria, bahkan saking berharganya martabat seorang perempuan Hatim Al Ashom rela pura-pura tuli selama lima belas tahun, jadi kau jangan menyesal telah membela teman perempuanmu, okay?"

Sasuke mengangguk, lalu mengernyit, "siapa itu Hatimu Aru Ashomu; Kakashi-san. aku tidak pernah dengar nama seperti itu."

Kakashi tertawa kecil melihat raut Sasuke yang berkerut, "dia adalah pedagang. Mau dengar ceritanya?"

Sasuke mengangguk antusias, dia memang sangat suka mendengarkan Kakashi bercerita. Sejauh ini cerita favoritnya adalah Beauty and the beast.

"cerita ini berasal dari Timur Tengah bertahun-tahun yang lalu. Pada suatu hari ada seorang perempuan yang membeli di toko Hatim, lalu perempuan tersebut tidak bisa menahan kentutnya, dia kentut keras sekali, perempuan tersebut pastilah sangat malu, maka Hatim memutuskan untuk pura-pura tuli, saat perempuan tadi menanyakan harga suatu barang, Hatim berkata 'keraskan suaramu aku tidak dengar' hal itu terulang sampai tiga kali, perempuan tersebut lega mendapati orang yang dihadapannya ternyata tuli, dia terbebas dari malunya karena kentut keras. Dan Hatim berpura-pura tuli tidak hanya sampai perempuan itu pulang ke rumahnya tapi sampai perempuan tersebut meninggal. Hebatkan kan Tuan Hatim ini?"

Sasuke mengangguk antusias, "berarti aku sudah melakukan hal yang benar kan Kakashi-san?, aku juga melindungi harga diri teman perempuanku seperti tuan Hatim. Lain kali akan kupukul lebih keras bocah kuning itu kalau macam-macam dengan anak perempuan!"

Kakashi sweatdrop. Maksudnya tidak begitu juga!. Haduh, susah ya bicara dengan bocah. "tuan Hatim tidak memukul orang, Sasuke. Lain kali kalau ada temanmu yang nakal kau hanya harus menegurnya, jangan kau pukul, kalau diskors seperti ini kan kau jadi rugi. Paman Obito bisa marah."

Sasuke membeku. "Kakashi-san...bagaimana aku menjelaskan ini pada paman Obito?" Sasuke ketakutan.

"tenang saja, aku sudah jelaskan semua disini. Tolong sampaikan langsung pada pamanmu, okay?. Jangan sampai ada yang tahu." Kakashi memberikan amplop pada Sasuke.

Sasuke berfikir sebentar lalu membuka ransel mengambil sebuah buku paket matematika dan selotip, menyobek bukaan amplop Kakashi, mengambil tiga kertas didalamnya, lalu menempelkannya dengan selotip di tiga halaman berbeda.

Kakashi mengernyit, "kenapa begitu?"

"Kakashi-san bilang jangan ada yang tahu kan, maka begini cara paling aman. Sejak ada adik bayi, keamanan ditingkatkan. Semua yang keluar masuk diperiksa, ranselku juga diperiksa, tapi mereka tidak pernah membuka-buka bukuku."

"kau jenius, Sasuke." Kakashi tersenyum bangga dengan kecerdikan Uchiha muda.

"tentu saja, aku kan Uchiha!"

"Ya Tuhan sombongnya." Menyesal Kakashi sudah memujinya.

"aku kan meniru Kakashi-san."

"Ha?!."

Ekstra: selesai.