Bott!Kakashi

(Greatness Love)

Rate : M

Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.

Naruto (c) Masashi Kishimoto


Sabtu, 9 Desember 2017.

Yo Readers-san,

Saya mau cerita dikit.

Soal M-preg alias cowok hamil.

Tadi sore saya mendengar kabar, dari Budhe saya -dari Ibunya Budhe saya.

Katanya; Ada remaja (cowok), umurnya 17-an, masih SMA, di Panunggalan/Pulo Kulon, hamil, iya serius, HAMIL. Sekali lagi, HAMIL. Cowok Hamil -MPreg - Laki-laki -Mengandung -bayi -Dunia Nyata. OMG.

Ceritanya tu gini, si remaja ini perutnya membesar dari hari ke hari, dia dan keluarganya khawatir, dikiranya itu suatu penyakit, dibawalah ke dokter, setelah diperiksa-periksa ternyata itu membesarnya perut gara-gara ada janin didalamnya, janin hidup, bukan penyakit. Waaaaaaw kan.

Sayang infonya cuma begitu. Nanggung banget.

Reaksi saya?

Overdrive. Kepala saya sampe cenut-cenut memikirkannya. Memikirkan segala kemungkinan, dari yang masuk akal sampai yang diluar nalar. Serius sampai tepar saya, saking kerasnya saya mikir.

Ini M-preg. Natural M-preg. Kasus langka. Kalau orang barat sih, saya tidak akan seserius ini penasarannya, jelas ilmu pengetahuan bisa merekayasanya. Tapi ini di Negara kita lho, Indonesia tercinta, Jawa Tengah, Panunggalan -kota kecil. Ya Allah. Macet otak saya.

Tau sendiri kan, orang sini, kalau ada yang aneh-aneh gitu cuma ada dua kemungkinan, kalau bukan murni keajaiban Tuhan, ya jatuhnya pasti supranatural (sihir, pesugihan, dukun, kutukan, dan kawan-kawan).

Saya benar-benar penasaran setengah mati. Penasaran sampai gatal logika saya. Sebenarnya bagaimana sih kejadiannya?

Untungnya satu setengah jam kemudian, ada penjual gerabah keliling yang kebetulan tinggal di dekat kota kejadian. Nah, dibrondonglah dia sama ibu-ibu yang penasaran.

Usut punya usut, katanya hal itu sudah KETURUNAN. Keturunan guys, tambah ajaib kan, dulu kakek-kakeknya juga ada yang tiba-tiba hamil gitu, katanya. Hamil sendiri gak ada teman. Tiba-tiba muncul aja itu janin di perut. Tapi ya cuma hamil tok, gak melahirkan. Gak tau kalau yang dulu-dulu diapakan, tapi kalo yang remaja ini, dia akhirnya operasi, usia bayinya sekitar tujuh bulan, iya prematur, dan bayinya mati.

Sudah tiga bulan yang lalu kejadiannya.

Tamat ceritanya. ^_~

Ada yang pernah mendengar cerita ini nggak?. Kalo ada dan tau versi lengkapnya, tolong ceritakan ke saya ya, please. Saya masih penasaran banget.


Yosh, selamat membaca para pembaca.

.

.

(Kamu tahu itu cinta ketika semua yang kamu inginkan adalah orang itu bahagia meskipun kamu bukan bagian dari kebahagiaannya.

Julia Roberts.)

.

.

Hari ke-2 setelah kelahiran bayi.

(Sehari sebelum Kakashi konser)

'Tolong hati-hati di Suna. Jaga pola makan, jaga kesehatan. Semoga sukses konsernya. Maaf tidak bisa mengantarmu.

Obito.

Ps. Aku sudah mereservasi hotel untuk teman-temanmu juga. Jangan menginap di tempat lain.'

Obito tidak mendapat balasan.

.

.

.

Hari ke-3 setelah kelahiran bayi.

Ketiga Uchiha muda menengok sepupu mereka yang masih didalam inkubator.

"Ha?" ketiganya menganga.

Uchiha baru itu sedikit meleset dari bayangan mereka. Si bayi merah telanjang dalam inkubator memiliki surai silver, serius, benar-benar silver. Hindbrain mereka merasa familiar. Siapa ya?

"Uchiha mana yang rambutnya putih begini?" tanpa sadar Shisui menyuarakan isi kepalanya.

"...!" Itachi yang sama kagetnya dengan sang kakak, hanya - speechless.

"Kakak, adik bayi ini miliknya Kakashi-san, ya?"

Shisui dan Itachi menengok serempak ke Sasuke, kesadaran menampar mereka.

"jangan-jangan...?"

"paman, ini anak siapa!" tuduh Shisui.

"apa maksudmu?" Obito menyipit sebal dari sebelah Hanae, -membantunya menata posisi-.

"tentu saja itu anakku!" serunya.

"dengan Kakashi-san?" tanya Sasuke polos.

"Ha?" (Obito)

Hanae cekikikan serius. "Ya Tuhan..."

"jangan tertawa Hanae-san, jahitanmu!" (Obito)

"tidak mungkin Sasuke, ini bukan fiksi M-preg." (Shisui)

"M-preg itu apa?" (Sasuke)

"Shisui!" hardik Obito.

"ups, maaf Paman." (Shisui)

"M-preg itu, laki-laki yang bisa hamil. Tapi itu hanya dongeng, Sasuke. Mengerti?" (Itachi)

"Hm." Sasuke mengangguk.

"alternatif 1." seru Shisui. "Hanae-san ada affair dengan Kakashi-san."

Itachi mengernyit.

Obito melotot.

Hanae ber 'Hihi..' ria.

"...alternatif 2. Kakashi-san operasi cangkok rahim, err, dipaksa Paman Obito mungkin. Lebih masuk akal, kan?"

Akhirnya Hanae tambah keras cekikikan-nya.

Itachi menepuk jidat dalam imajinasinya.

Obito menyingsing lengan dalam kenyataannya.

"sial!, sepertinya aku salah lagi." Shisui siap berlari.

Dan benar-benar berlari dikejar sang paman.

"orang dewasa memang ajaib ya. Ckckck..." Sasuke geleng-geleng kepala, sok dewasa.

.

.

"Apa kalian percaya mitos?

Tidak?

Hn, aku juga tidak.

Tapi satu peristiwa ini membuatku perfikir ulang. Benarkah mitos hanya mitos?.

Ada mitos yang mengatakan,

'Jika kau bayangkan bercinta dengan onta, anakmu akan mirip onta.'

Dulu Kakekku pernah berkata: 'Saat kau bersetubuh, jangan fikirkan siapapun selain istrimu. Karena membayangkan orang lain berarti tanpa sengaja kau telah berzinah. Dan anakmu akan menjadi bukti perzinahanmu.'

Saat itu umurku 12 tahun, jadi aku tidak begitu mengerti apa maksudnya.

Saat usiaku 15 tahun, aku mendengar Nenek tua penjual beras di pasar Amegakure berkata pada seorang gadis: 'anakmu akan menjadi seperti siapa yang ada difikiranmu saat bersetubuh.'

Dulu aku hanya menyeringai saja. Kebohongan turun temurun, fikirku. Orang yang tahu ilmu kedokteran dan biologi pasti sependapat denganku.

Ternyata hal seperti itu juga berkembang di klan Uchiha. Bahkan sudah dianggap mitos menakutkan bagi sebagian pemuda. Kau punya anak yang mirip selingkuhanmu atau pacar gelapmu pastilah aib besar bagi keluargamu.

Mitos konyol dan menggelikan, bukan?

Tapi setelah bayiku lahir, aku merasa bodoh karena tidak mempercayai mitos tersebut.

Sekarang aku kena batunya.

Anakku berambut putih, persis seperti siapa yang ku bayangkan di malam sakral itu.

Hanae-san meyakinkanku kalau itu bukan salahku, bukan aib besar yang harus membuatku malu. Dia sangat mengerti.

Aku ini gay sejak aku ingat, tidak pernah sekalipun tertarik pada perempuan. Lalu tiba-tiba harus bercinta dengan mereka, rasanya aneh sekali. Tentu saja 'dia' tidak mau bangun, 'say hi' saja malas.

Jalan satu-satunya, Hanae-san memintaku membayangkan laki-laki, hm, kalian tahu, satu-satunya laki-laki yang ada di kepalaku hanya pacarku. Malam itu, jasadku persetubuh dengan istriku, namun dalam kepalaku bercinta dengan kekasihku. Maka jadilah bayiku seperti itu." Obito mengedikkan bahu, mencoba acuh namun gagal.

"mungkin adik-adiknya nanti akan seperti itu juga." dia mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas berat.

Shisui dan Itachi terdiam. Sesak.

"maafkan kami, Paman." keduanya menunduk.

Hening. Hanya terdengar nafas ketiganya.

"seandainya aku mengharap ucapan maaf dari kalian, aku pasti lebih memilih pergi dengan Kakashi daripada tinggal disini bersama kalian." Obito memandangi kedua keponakannya sayang, memberitahu mereka ketulusan yang mendalam.

"jangan pernah berfikir aku melakukan ini karena terpaksa, anak-anak. Semua ini Paman lakukan dengan pertimbangan yang matang. Percayalah, Paman tidak menyesal." Obito tersenyum. Tapi,...

"Ya Tuhan, kenapa kalian malah menangis!."

.

.

Masih di hari ke-3. Malam hari.

To : Asuma;, Gai;,

'tolong jaga, Kakashi.'

Dengan berat hati Obito mengirim pesan tersebut ke Asuma. Seandainya ada pilihan lain, dia tidak akan memilih Sarutobi muda itu. Dia merasa terkhianati setelah seks toilet beberapa hari yang lalu.

Tapi Obito tidak punya pilihan. Kalau hanya Gai, pacarnya itu pasti akan melawan. Beda halnya jika Asuma, Kakashi tidak akan menolak apapun darinya. Dia akan jadi puppy (anak anjing) penurut di tangan Sarutobi muda.

"kekuatan cinta pertama, ya." Kaisar Uchiha menyeringai, memutar-mutar ponselnya dengan jempol dan telunjuk.

Asumo Sarutobi adalah cinta pertama Kakashi sekaligus cinta rahasianya. Obito mengetahuinya ketika dengan tidak sengaja Ibu Kakashi membicarakannya. Dia tidak pernah mengkonfirmasi hal tersebut pada pacarnya -katakanlah dia pengecut-, dia takut mengetahui kebenarannya.

Walaupun begitu, hanya dengan melihat gelagat Kakashi disekitar Asuma, orang yang jeli akan mengerti. Jauh di dalam hatinya, kekasihnya itu masih menganggap Asuma istimewa.

Seperti kejadian di toilet contohnya, Obito sangat yakin, Kakashi lebih dari mampu untuk melepaskan diri dari Asuma. Tapi dia memilih menerima. Pasrah saja tubuhnya digunakan suka-suka.

Seandainya, hanya seandainya, jika Sarutobi meminta Kakashi meninggalkan dirinya, Obito yakin Kakashi akan menurutinya. 90% kemungkinannya.

"kuso!"

Obito memandang kecewa serpihan-serpihan di tangan kanan, ponselnya hancur. Sekali lagi. Di genggamannya.

Segera dia membawa telapak tangannya ke bibirnya, menggigit pinggirannya kuat-kuat sampai darah mengalir dari sudut-sudut bibirnya. Menghukum diri sendiri.

'Kontrol diri buruk. Kontrol diri buruk. Kontrol diri buruk.'

.

.

.

Hari ke-4 setelah kelahiran bayi.

Tok tok tok.

Wanita cantik dengan perut bulat itu menguap lebar dan melihat jam digital di nakasnya. Pukul 1 lewat 10 menit.

"Ya Tuhan, orang bodoh mana yang berkunjung di dini hari begini!" dia menggerutu.

Walaupun ada beberapa pelayan, tugas pintu adalah tugasnya jika dia di rumah. Ibunya mengajari dia untuk selalu membuka pintu saat ada tamu. Jam berapapun itu.

Dia mendengarkan sebentar, ketukan di pintu sudah berhenti.

"mungkin sudah ada yang membukanya." dia mengangkat bahu lalu bersiap tidur lagi.

Begitu kepalanya menyentuh bantal, dia merasakan sengatan kecil di kepalanya.

"Kami-sama!, ini bukan rumah Ayah!." serunya. Lupa kalau sejak menjadi Nyonya Uchiha dia punya rumah sendiri. Rumahnya dan sang Suami.

Matanya membola. Menyadari kalau ketukan tadi dari pintu kamarnya bukan pintu utama.

Hanya ada satu kemungkinan.

"Ubito-Kun!." serunya panik.

Dia seketika bangkit dan membenahi baju tidurnya.

Berjalan cepat membukakan pintu untuk suaminya.

Matanya membola.

Ada genangan darah di lantai, menetes-netes dari tangan suaminya.

"Oh, Kami-sama." dia membekap mulutnya tak percaya.

.

"maaf membangunkanmu."

"kau gila!"

Obito diam saja.

"kau kacau!"

Masih diam.

"kau bermasalah!"

Tetap diam.

"kau bo..."

"Nyonya!" menggeram, dia benci dikatai bodoh. Kata itu membunuh karakter, banyak anak 'berubah' setelah dikatai bodoh.

Wanita di depannya mencebik lalu melanjutkan tugasnya. Membebat telapak tangan kanan Obito.

Dia Mio, Uchiha Miora, Istri ke-4 The Great Uchiha-sama. Dia lebih tua lima tahun dari Obito. Sejak kecil sudah seperti kakak perempuan baginya, siapa yang menduga kalau akhirnya jadi istrinya juga.

"Kakashi-kun lagi?" (Mio)

"Hn."

"kenapa dia?." (Mio)

"dia bercinta dengan cinta pertamanya." (Obito)

"huh?" ada nada geli disana.

"Nyonya, aku melihatnya sendiri. Ku fikir aku akan baik-baik saja. Ternyata tidak. Aku cemburu. Beberapa hari sudah berlatih melupakannya, tapi tidak bisa. Tanpa sadar aku malah menumpuk amarahku. Malam tadi, aku hilang kendali..." (Obito)

Jeda.

"Sekilas aku berambisi mengurung Kakashi untuk diriku sendiri..." (Obito)

Jeda lama.

"kenapa tidak kau lakukan?" (Mio)

"apa?" (Obito)

"mengurungnya. Menurutku, Kakashi-kun akan dengan senang hati meng-iya-kannya." (Mio)

"mungkin, tapi Sakumo-san tidak akan membiarkannya." (Obito)

"Sakumo-san tidak senang kalian bersama?"(Mio)

"bukan seperti itu. Dia senang sekali sebenarnya, tapi, hanya jika Kakashi adalah satu-satunya." (Obito)

Mio terdiam.

"sudah selesai."

"terima kasih."

"apakah, kau akan menceraikan kami setelah bayi lahir?" anehnya, Mio berbinar-binar.

Obito menyeringai. "aku tidak sejahat itu, Nyonya."

Istrinya mendesah kecewa.

"tapi akan kutunggu kalian menggugat cerai padaku."

"Kyaaa...terimakasih." Mio langsung memeluk dan mengecupi wajahnya, terakhir mengecup bibir Obito dalam-dalam.

"Nyo...Nyonya..." mata Obito membulat. Dia segera melepaskan pelukan Istrinya dan berlari ke toilet. Memuntahkan isi perutnya.

Begitu kembali ke kamar dia disambut,

"Dasar Gay!"

,Oleh istri durhakanya.

Obito meleletkan lidah, masa bodoh. Kemudian berbaring di samping istrinya dengan space dua guling di tengahnya.

"tidur disini?"

Obito mengangguk.

"Ah..." Mio memegang perutnya.

"ada apa?" Obito segera bertanya.

Istrinya menggeleng. "dia menendang."

"benarkah?" Obito menyodorkan tangan kirinya.

Mio mengambil tangannya dan meletakkannya ditempat junior menendang.

"Oh Tuhan..." Obito merasakan tendangan kecil di telapak tangannya. Hatinya menghangat, ada kebahagiaan murni yang menyusup di celah gelap hatinya.

"sepertinya dia senang kau berkunjung."

Obito terdiam.

"bukan, bukan begitu maksudku." (Mio)

Obito mengerti. Dia mendekatkan wajahnya ke perut istrinya.

"Maafkan aku, Nak." dikecupnya perut bulat itu dalam-dalam. Dia tidak selalu ada disamping istrinya. "maaf."

"ah..., dia menendang lagi. Kurasa dia menerima ucapan maafmu."

Ayah muda itu tersenyum senang. "Terimakasih." dikecupnya sekali lagi.

Dia selalu takjub dengan bayi dalam kandungan. Dan wanita hamil itu luar biasa sekali.

"kau luar biasa, Nyonya. Terimakasih sudah mengandung anakku."

Mio tersenyum saja.

"kalau begitu, bisakah kau memelukku di sisa malam. Sebagai ungkapan terimakasih mungkin?." Istrinya tersenyum manis.

Obito pucat pasi.

Tawa Istrinya meledak.

"Ya Tuhan, aku hanya bercanda." (Mio)

"tidak lucu!"

Keduanya terdiam.

"huh?"

"ada apa?"

"lihat ini..." Mio memperlihatkan layar ponsel pintarnya ke Obito. Ada chatting-an Mio dengan kontak nama 'Pacar Gelapku'.

'Kami akan bercerai setelah bayi lahir. ^_~.'

'aku sudah tahu, sayang.'

"bagaimana dia sudah tahu?" Mio terlihat tidak percaya.

Obito tertawa, "karena aku yang memberitahunya."

"Ha?, kapan?"

"sebelum kita menikah, Nyonya. Pacarmu itu datang dan menonjok mukaku." Obito menunjuk wajahnya.

"wow, keren sekali dia. Kenapa dia tidak memberitahuku?" istrinya cemberut.

"karena aku memintanya diam. Kau pikir kenapa dia mau terus menghubungimu?" dia menyeringai.

"Aku menangis tiga hari tiga malam di hadapannya setelah menikah. Kyaaaaaa... Malunya. kyaaaaaaaa..." raung istrinya.

"Ratu Drama." Obito memutar bola matanya.

Bug!

"Itte!." sebuah guling menghantam wajahnya.

"kalian para laki-laki mempermainkan perasaanku."

Bug!

"jahat!" (Mio)

Bug!

"Itte, berhenti Nyonya!"

Bug!Bug!Bug!

.

.

.

Hari ke-5 setelah kelahiran bayi.

Hanae dan bayinya -yang masih didalam inkubator- sudah di pindahkan ke rumah, beserta perawat-perawat dan dokternya. Sepertinya Obito mengidap gejala awal father-complex to be perfect.

Hari kelima adalah hari yang sakral bagi para Uchiha, karena sang ayah akan memberi nama bayi mereka, disaksikan seluruh anggota klan.

"aku menamainya Madara, Uchiha Madara. Seperti nama kakek buyutku. Semoga putraku kelak menjadi sehebat beliau."

Seharusnya bayinya diangkat dan dipotong rambutnya oleh para tetua, tapi karena si bayi masih di dalam inkubator, Obito hanya mengangkatnya saja dari lubang sarung tangan di sisi belakang.

Setelah si bayi ditidurkan kembali, para hadirin serempak bertepuk tangan rendah, mengucapkan syukur pada Tuhan dan selamat pada sang ayah.

Acara berikutnya adalah makan bersama, berbagi hidangan pada keluarga dan saudara, sebagai ungkapan syukur atas anugerah Tuhan pada bayi mereka.

.

.

Masih di hari ke-5.

'Selamat Kakashi, konsermu sukses besar. Maaf kali ini tidak bisa menemanimu. Tapi aku melihat semua aksimu, di YouTube tentunya.

Obito.'

Tidak ada balasan.

.

.

.

Hari ke-6 setelah kelahiran.

'Kakashi, kenapa kau tidak membalas pesan-pesanku?. Apa kau marah?. Maaf tidak bisa mengunjungimu, maaf.

Tolong maafkan aku, aku tahu semua salahku. Aku harap aku bisa menebusnya.

Obito.'

Tidak ada balasan.

Dan begitulah hari-hari berlalu. Obito tak sekalipun menerima balasan untuk notes yang selalu dia kirimkan.

.

.

.

Hari ke-10 setelah kelahiran bayi.

"Potake, kau tidak lupa mengirim makan siang untuk Kakashi, kan?" Obito bertanya pada kepala dapur rumahnya.

"tidak pernah lupa, Uchiha-sama." Potake tersenyum lebar, Kakashi adalah favoritnya.

"apa kau yakin tidak pernah melupakan notes ku?"

"tidak pernah, Uchiha-sama. Saya selalu menyertakannya bersama kotak luch, dan selalu memastikannya sebelum membungkusnya dengan serbet."

"apa kotak bekalnya selalu kembali?"

"selalu kembali dengan bersih di hari berikutnya, Obito-sama."

"hn" Obito mengangguk. "siapa yang kau minta mengantarkannya?"

"Torifu-san, Obito-sama."

"oh, baiklah. Terimakasih." Obito tersenyum dan mengacak rambut Potake.

"um, Obito-sama..."

"ya?"

"Kakashi-san tidak pernah memuji masakanku lagi..." pemuda tujuh belas tahun itu menunduk murung.

"tidak sekalipun?" Obito mengerutkan keningnya.

Potake menggeleng sedih.

"sekedar ucapan terimakasih?"

Potake menggeleng lagi.

Kerutan di dahi Obito semakin dalam. Kakashi-nya selalu memuji masakan-masakan Potake lewat kertas juga. Kalau dia marah padanya dan tidak membalas, Obito bisa memaklumi. Tapi jika dia tidak mengucapkan terimakasih sekalipun pada Potake, itu aneh sekali rasanya. Seperti bukan Kakashi saja.

Hn, ada apa ini sebenarnya?

.

.

.

Hari ke-14 setelah kelahiran bayi.

Obito adalah laki-laki yang sangat konvensional -jangan mengatainya kuno karena dia akan menendang pantatmu- yang punya pemikiran kalau wanita baik adalah yang tinggal di rumah mengurus anak dan suami, seperti ibunya. Namun saat dia memutar tubuh dan melihat istrinya yang gelisah di kursi malasnya, mau tidak mau dia jadi menilai buruk istrinya -yang sebentar lagi akan jadi mantan istrinya, mungkin-. Obito tahu Hanae bukannya wanita yang tidak baik, dia baik tapi bukan tentang rumah-suami-anak, dia wanita karir sejati, rumahnya adalah ruanga di Uchiha Corp, suaminya adalah komputer-laptop-ponsel, berkas-berkas perusahaan adalah anak-anaknya.

"aku bisa kembali bekerja kan?"

Obito menghela nafas.

"kau baru melahirkan empat belas hari yang lalu, Hanae-san. kau masih harus istirahat." katanya.

"tapi..."

"kita tunggu setidaknya satu minggu lagi untuk luka sesarmu, okay?"

"tapi..."

"Hanae-san!"

"baiklah."

Obito menghela nafas dan memutar tubuh lagi, memandang bayinya.

Senyumnya tumbuh begitu bayi dalam inkubator didepannya bergerak sedikit.

"Ya Tuhan, gemasnya." Ungkapnya.

"jangan mulai lagi!." Hanae berkata sebal dari belakang.

"Oi, kalau Hanae-san bekerja, siapa yang akan menyusuinya?"

"susu formula, tentu saja."

"Ha?" Obito tidak terima. "tidak bisa, dia harus mendapat susu eksklusif darimu Hanae-san!"

Hanae mendecih, "kalau aku punya ASI yang bagus, bayi itu sudah meminumnya sejak lahir Baka-sama."

"memangnya selama ini yang dia minum bukan ASI-mu?"

"tidak. Dia minum susu formula."

"Kau..."

"tunggu!, jangan menyalahkanku dulu, aku punya alasan. Aku sudah diperiksa oleh dokter. ASI-ku tidak baik untuk bayi."

Obito terdiam. Dia tahu hal semacam itu ada dari buku panduan 'Bayi dan Balita'.

"kasihan sekali kau, Nak." bisiknya.

.

.

.

Tiga hari berikutnya, Obito mendapatkan jawaban dari kebingungannya.

'Aku mulai bosan dengan hubungan ini, Obito. Maaf.'

Dunianya berhenti berputar seketika. Kekasihnya... Bosan. Oh Tuhan. Obito segera membalasnya dengan permintaan penjelasan, dan jawaban yang dia terima lebih menyakitkan.

'aku tidak bisa begini Obito. Kau tidak selalu ada disampingku. Aku lelah. Aku tidak bahagia bersamamu. Aku memang mencintaimu, tapi itu dulu. Maafkan aku.'

Obito sering memikirkan hal ini, Kakashi akan menanyakan keabsenannya, hanya yang tak dia duga, Kekasihnya itu... berhenti mencintainya. Uh, jangan tanya seperti apa sakitnya.

'kurasa sebaiknya kita akhiri saja sampai sini. Aku tidak menyalahkanmu karena mementingkan keluarga, itu memang tugasmu. Maafkan aku, aku menemukan orang lain yang kurasa lebih cocok denganku. Tolong lupakan aku.'

Jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik, di ikuti tetesan-tetesan keputus asaan dari kedua matanya. Jadi ini alasan Kakashi tidak membalas surat-suratnya, tidak memberi pujian pada kepala dapurnya. Oh Kami-sama... Kakashi ingin memutus segala hal tentangnya. Melupakannya.

.

Obito tak tahan, sesak sekali rasanya. Sakit. Perih. Terluka. Tak berdaya. Dia bersimpuh di depan makam Ayahnya.

"Otou-sama, rasanya aku ingin mati saja."

.

.

.

TBC.

.

Hei, saya terjebak dengan fiksi ObiKaka di AO3. Khususnya yang berjudul 'Living Western' oleh Galeforcefish. Keren banget pokoknya. Yang ngaku seneng tembak-tembakan 'n' kejar-kejaran, baca sana. (nyolek yang lagi baca).