Saya sedang kesal, serius.
Saya sudah nulis bab 12 sejak tiga hari setelah bab 11 update. Disela-sela jadwal yang padat banget di akhir tahun, saya nulis sedikit demi sedikit, hingga akhirnya dapet 2k kata. Dapet setengah bab. Tapi...
Tapi apa?
BANK!
Gak hujan, gak angin, File-nya rusak, RUSAK. Rusak!. Ya Allah. Dan yang rusak itu cuma file bab 12 thok. Bab ini saja, yang tulisan lain baik semua. OMG.
Gigit bantal!
Kesal. Sebel. Geregetan. Jengkel. Mangkel. Gondok. Gemes. Dan, Pokoknya, So Aaaaarrrgggghhhjhhhhhhhh sekali deh.
Kacau pokoknya!.
Nulis lagi dari awal :'(
Dan sialnya itu. Saya gak bisa nulis dua kali yang sama persis. Hueeeeeee.
Bott!Kakashi
Rate : M
Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
Catatan: Saya mempelajari dunia bisnis dari bacaan dan tontonan (maklum saya anak pendidikan, jadi awam bisnis).
Baru-baru ini saya nonton 'Beloved Enemy', serial China. Cerita lurus berbau BL. Setelah nonton itu, saya mengerti, CEO tidak selalu pemilik perusahaan (habis kebanyakan bacaan bikinnya ya CEO ya pemilik), tapi bisa juga orang yang dipekerjakan oleh pemilik untuk menduduki kursi tersebut.
Ini memberi saya solusi, awalnya saya bingung, Obito kan pemimpin Uchiha Underground dan Akatsuki, kalau ditambah Uchiha Corporation, rasanya kok maksa banget. Jadi saya buat CEO-nya Uchiha Corp. Orang lain saja, lagi pula, pemegang saham terbesar adalah Kakashi, jadi siapa CEO-nya terserah dia.
happy reading...
.
.
"siapa?" Terdengar suara lirih seorang wanita.
"dua berandal internasional. Kin dan Gin." suara seorang lelaki menjawab disertai helaan nafas.
Sunyi beberapa saat.
"Bagaimana keadaannya?" (perempuan)
Terdengar helaan nafas lagi. "kali ini mungkin yang terberat. Mereka...merusaknya terlalu jauh."
Yang perempuan memekik kecil.
"sayang sekali ANBU sudah menangkap mereka." si laki-laki menggeram. "aku akan membalas mereka suatu hari nanti."
"bukankah seharusnya dia terlindungi?" yang perempuan bertanya putus asa.
"Bocah Uchiha itu menarik semua penjaganya." diucapkan dengan bibir terkatup. Geram.
"Ah?" pekikan tak percaya, "bagaimana mungkin?, kelihatannya Obito-kun sangat... tergila-gila padanya." suara yang perempuan tercekat.
"atau, hanya kita yang berfikir demikian."
"apakah...apakah tidak sebaiknya kita tinggal saja...dengannya?" suara yang perempuan bergetar. Mungkin sudah ada air mata di pelupuk matanya.
"kita sudah pernah mencobanya, sayang. Tapi bukan itu yang Kakashi harapkan. Dia ingin menjemput bahagia dengan jalannya sendiri."
"tapi..." suaranya terhenti karena isakan.
"sssshhh, tenanglah." ada bunyi kecupan bibir, "Dia akan melewati ini dengan tegar. Kau jangan khawatir, ya. Lagi pula, aku sudah mengganti penjagaannya dengan orang-orangku sendiri. Sekarang-"
Sai melepas headphone dari kepalanya, merasa sudah cukup mendengarkan. Dia mengusap air mata yang menuruni pipinya. Dia sedih mendengar kabar tentang kakak tercintanya.
Adik tiri Kakashi itu menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan keras sampai terpantul-pantul.
"Papa, Mama, maaf aku menguping. Lagi." ucapnya datar. Entah dia merasa berdosa atau tidak, tak terdeteksi.
Tapi dengan kata 'lagi' dalam ucapannya, kemungkinan besar dia sama sekali tidak merasa berdosa.
Tiga bulan yang lalu dia menemukan situs belanja online yang menjual mainan alat-alat mata-mata. Awalnya dia hanya iseng meletakkan koin penyadap di kamar orang tuanya, dia ingin tahu segala tentang bisnis ayahnya.
Setelah beberapa hari, Sai kurang puas dengan hasil penyadapannya, tapi juga menemukan bahwa dirinya sangat menikmati apa yang di dengarnya. Orang tuanya tidak banyak bicara penting di kamar mereka. Kebanyakan hanya percakapan ringan seputar dirinya dan kakaknya. Kamar tidur benar-benar ruang untuk keluarga. Yang membuat Sai paling bahagia adalah bahwa ayahnya sangat menyukai lukisannya, memuji bakatnya, dan mendukung sepenuhnya. Sai sangat bersyukur diberi ayah seperti Papa Sakumo, dia adalah ayah terbaik di seluruh dunia. Lebih-lebih lagi, Sai sangat bersyukur telah diberi saudara yang sangat penyayang, Kakashi Nii-san.
"Kakak, aku ingin melihat langsung keadaanmu..."
Sai mengambil ponsel pintarnya, dia punya bisnis rahasia yang harus diselesaikan sebelum tertangkap orang tuanya.
"paman, sejauh mana persiapannya?"
"tenang saja Shimura-kun, bulan depan kau sudah bisa berangkat."
"kenapa masih lama sekali?" Sai cemberut dengan wajah datar.
"Huaaaaaaa, kau menggemaskan sekali." pupil laki-laki dilayar berubah 'love' komikal.
"Pamaaannn..."
"Ya Tuhan - Ya Tuhan - Ya Tuhan, kau harus berhenti!" laki-laki di layar gupuh membersihkan hidung, mimisan.
"paman Arashi. Serius, tolong."
"okay - okay." Arashi berdehem, "membuat ilegal jadi legal butuh waktu, Shimura-kun. Kau tahu kan, aku harus mendapat tanda tangan asli orang tuamu. Disitu masalahnya, ayahmu itu sama pintarnya denganku ("Narsis", komentar Sai), mengakali Sakumo-sama bukan perkara gampang, btw."
Sai mengangguk faham.
"Tapi kalau kau memaksa minggu depan berangkat, ada satu cara, sih. Asal kau mau saja."
"aku mau - aku mau, bagaimana caranya?" mata Sai berbinar.
"mudah, bicara saja pada ayahmu. Aku jamin, satu minggu sudah jadi."
Sai membuang muka, sebal. Rugi dia merelakan pipi mulusnya untuk diperawani paman pecinta shota ini.
"atau minta bantuan Kakashi-kun saja. Itu lebih cepat lagi, dua hari selesai."
Putra Sakumo yang punya marga berbeda itu terdiam, hatinya sudah sangat sesak.
"Jangan - jangan - jangan, jangan menangis. Ya Tuhan, jangan menangis." Arashi panik sendiri.
"aku...akan...hiks...bilang papa..., kalau...paman...hiks...sudah...menciumku...hiks...hiks..."
"Jangaaannn. Ya Tuhan, jangan. Please - please, jangan mengadu pada Sakumo-sama, please. Aku bisa mati kalau ayahmu tahu!" wajah Arashi pucat pasi.
"aku...bilang...hiks...kakak..saja...hiks."
"demi Tuhan, baiklah - baiklah. Beri aku waktu dua minggu, okay. Akan kuselesaikan secepatnya, aku janji - aku janji. Tapi tolong jangan mengadu pada meraka, ya - ya?"
"janji?"
"janji!"
"okay, terimakasih paman." Sai kembali datar, tangisannya bagai imajinasi. Tak berwujud, tak berbekas.
Laki-laki 37 tahun itu melotot tak percaya.
"senang berbisnis denganmu, Namikaze-san. Sampai jumpa dua minggu lagi."
"dasar pemeras kecil!"
Sai mematikan sambungan VC-nya.
Walau bibirnya tidak melengkung, dari matanya yang berbinar, semuo orang akan tahu kalau bocah yang usianya selisih 4,5 tahun dengan Kakashi itu tengah bersemangat dan bahagia.
"Kakak, tunggu kedatanganku, ne."
.
.
Obito memandang matahari senja Amegakure lewat jendela kaca super besar di ruangannya. Disela-sela kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk memandang landscape indah ciptaan Tuhan itu. Bibirnya menyunggingkan senyum, teringat seseorang disana yang juga menyukai pemandangan senja seperti dirinya. Walaupun sudah kandas, hatinya masih menghangat hanya dengan mengingat kenangannya, dia masih bahagia telah memberikan cintanya, dan mungkin sampai kapanpun perasaannya akan selalu sama. Selalu, hatinya adalah milik Kakashi saja, pujaannya.
Ah, seandainya Obito adalah pemuda kampus biasa, dia pasti sudah berlari menggedor pintu Kakashi, meminta penjelasan langsung dari pacarnya yang kini telah menjadi mantan pacarnya. Dan jika jawabannya tetap sama, dia akan menawarkan persahabatan sebagai gantinya, Kakashi orang yang baik, dia pasti tidak akan menolak tawaran kebaikan. Tapi, ah, semua hanya 'seandainya'.
Faktanya, enam jam setelah dia menerima gugatan putus Kakashi, tepat saat dia kembali dari makam ayahnya, seseorang telah menunggunya untuk membawanya ke Amegakure. Bank data Akatsuki di bobol oleh seorang hacker. Yahiko dengan segala kelembutan hatinya, gagal mengeksekusi hacker tersebut. Sialnya, bocah nakal itu malah kabur ke Konoha dan meninggalkan puluhan dokumen untuknya.
Ketukan di pintu membuatnya sadar bahwa dia telah melamun. Dia mengutuk kecerobohannya, melamun berarti menurunkan kewaspadaan. Dengan banyaknya mata yang mengincarnya, nyawanya bisa melayang kapan saja.
"masuk."
Dua laki-laki berambut coklat dan putih memasuki ruangan. Kakuzu dan Hidan.
"Bagaimana?" Obito duduk tegak di kursi kerjanya.
"maaf sebelumnya jika kami lambat, Obito-sama..." Kakuzu membungkuk.
"langsung saja, tolong."
"dia sedang dekat dengan Namikaze Arashi, CEO Uchiha Corporation. Hatake-kun sering berada di perusahaan. Sering terlihat jalan berdua. Selalu pulang-pergi bersama. Sering menginap di rumah Namikaze-san." Hidan selesai, tapi seperti belum selesai.
Obito mengerutkan keningnya, "ada lagi?"
"mmm, akhir-akhir ini... dia... terlihat berantakan." diucapkan dengan ragu-ragu.
Tapi cukup membuat Obito kehilangan detak jantungnya seper sekian detik. Kakashinya berantakan? Seks di kantor, kah?. Dia hafal sekali, pujaan hatinya itu, sangat suka mencoba hal-hal baru. Dan Arashi, laki-laki badass yang pasti lebih dari sekedar mau menuruti fetish Kakashi. Lagi pula siapa sih yang akan menolak pemuda se-seksi Kakashi?.
Shit!, Ada denyutan sakit di hati Obito.
Ya Tuhan, Arashi punya kecenderungan eksibi. Wajah sang Leader memucat.
"apa ada yang melihatnya?" tanyanya tegang.
"semua orang melihatnya, Obito-sama." Hidan menjawab bingung, tentu semua orang melihatnya, kan?
"apa mereka melakukannya dengan penonton?" tubuhnya sudah separuh berdiri, kaku.
"hah?, eh, iya, tentu saja."
Obito menghempaskan tubuhnya putus asa. Segera jari-jarinya memijat kening, migrain mendadak.
Hidan terlihat semakin bingung. "Kakuzu, kenapa Leader-sama terlihat depresi?, apa aku salah melapor?"
Parternya menghela nafas. "Maaf Obito-sama..."
Obito melirik mereka berdua. "masih ada lagi?." ucapnya lesu.
"menurut saya, ada sedikit kesalah fahaman disini."
"kesalah fahaman apa, Kakuzu?. Tolong jangan berputar-putar." Obito memijat keningnya semakin keras. Pusing sekali rasanya.
"Berantakan yang dimaksud Hidan, bukan sesuatu yang mengarah ke seksual, Obito-sama. Dia terlihat sakit, pucat dan kurus. Semua orang melihatnya tentu saja, Hatake-kun bukan makluk kasat mata."
.
.
Bocah dengan rambut biru gradasi merah itu memakai kembali kaos dan celananya. Wajahnya cerah dengan aura kepuasan duniawi.
"humz, seks selalu bagus untuk menyegarkan pikiran." gumamnya. Dia memungut jaketnya didekat pintu keluar.
"kau akan langsung pergi, Zutter?" tanya perempuan setengah telanjang dari pintu kamar mandi.
"ya." dia memakai jaketnya dengan gaya. "terimakasih untuk malamnya, kau luar biasa Mamori-san."
"kau bisa memanggilku Lenny."
"hn." dia menghampiri teman wanitanya dengan seringai tampan.
Setelah satu lagi ciuman panas, bocah nakal itu meninggalkan kamar.
"kau lama." di lobi, dia langsung disambut tampang kesal 'partner in crime'nya dengan wajah sudah semerah rambutnya.
"kau tahu, untuk benar-benar menikmati wine, kau harus menyesapnya sedikit demi sedikit." dia menyeringai.
"kau bajingan, U$, tunggu sampai paman tahu kebiasaan burukmu!" yang berambut merah memperingatkan.
"lebih baik meminta maaf dari pada meminta izin, benar?" (U$)
"Kuso!, ayo jalan." (TY)
"yare-yare." (U$)
Mereka adalah Zutter, U$ (Yu. Es) dan TY (Ti. Way), mereka sangat terkenal di sepanjang jalanan Konoha. Entah itu karena kenakalan mereka, maupun kebaikan mereka.
Penampilan mereka badass, dengan rambut dicat, kaos fishnet dibalut jaket, celana dengan robekan dengkul dan rantai, sneakers boot edisi terbatas, juga aksesoris seperti pierching dan kalung sebagai pelengkap. Look so, kaya; metropolitan dan bergaya; bonus wajah tampan yang sedap dipandang mata. Tapi jangan kecewa kalau melihat rekening mereka, isinya hanya jatah uang sebulan saja, itupun standar biasa, maklum masih anak SMA.
"HOI, KUSOYARO!, BERHENTI DISANA!"
"apakah itu kita?" tanya TY, langkahnya masih stabil.
"entah." U$ mengedikkan bahu.
"HOI!, BERHENTI KATAKU!, DASAR BEGUNDAL!"
"kita bukan begundal, pasti bukan kita." U$ menyeringai, dalam hati dia yakin kalau yang diteriaki adalah mereka.
TY juga menyeringai, faham situasi.
"HOI ZUTTER, BERHENTI KALIAN!."
U$ dan TY berhenti.
"nah, kalau yang itu, baru kita." U$ tersenyum kekanakan.
TY mengacungkan jempol, "kau rajanya."
Saat mereka berbalik, ada selusin preman dengan tongkat baseball di hadapan mereka.
"ini baru liburan!." keduanya beradu toas.
.
.
Arashi menindih anak bosnya dengan seluruh kekuatan. Dia tidak menyangka, tubuh pucat kurus dibawahnya ini menyimpan begitu banyak tenaga.
"berhenti meronta, bocah!." perintahnya.
"tidak akan!."
Arashi membelit kaki bocah dibawahnya dengan kakinya, "jangan membuat sulit."
"jangan memaksaku!"
"untuk kebaikanmu!" satu tangannya menekan erat dua tangan bocah keras kepala ini diatas kepala.
"apa yang baik dari memasukkan benda sialanmu ke tubuhku?!"
"oi, Kakashi-kun, hanya telingaku saja atau kata-katamu memang terdengar cabul?" laki-laki bersurai kuning terang itu terkikik. Meletakkan dua pil pahit dilidahnya, meminum seteguk air, menahannya. Kemudian satu lagi tangannya memaksa rahang bocah dibawahnya terpisah agar mulutnya terbuka, dan terjadilan ciuman intens bagi mata yang salah menafsirkannya.
"tidak sulit, kan." Arashi melepaskan kungkungannya dan berguling kesamping.
"kau...uhuk - uhuk...memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!"
"bukan salahku kau menjadi sulit."
.
.
Obito merasa bodoh. Sangat bodoh.
Setelah seminggu penuh menguras tenaga menyelesaikan semua pekerjaan demi melihat kekasih tercinta, inilah balasan yang ia terima -
Orang yang memenuhi benaknya tengah bercumbu mesra dengan kekasih barunya, tragis.
"tentu saja dia melakukan itu, kau kan hanya mantannya, Obito bodoh!" pemimpin Uchiha memaki dirinya sendiri.
Dengan bahu merosot dia meninggalkan apartemen Kakashi.
Mendadak dia merasa sangat lelah dan mengantuk. Efek tidak tidur dan kurang makan selama berhari-hari menimpanya seperti beton.
"sudah selesai?, maaaaa ~ maaa cepat sekali." supir sekaligus asistennya -Shiro Zetsu- mengoceh saat membukakan pintu.
Obito duduk dangan ketenangan mengerikan. "antar aku ke tempat pijat terbaik di kota ini, dengan layanan plus."
"Kau serius, Obito?" Asistennya yang lain -Kuro Zetsu- yang duduk di sebelah saudaranya, menengok ke arahnya dengan alis bertaut.
"ya. Bangunkan aku saat sampai." sang pemimpin memejamkan mata.
"pastikan dia tahan banting. Aku ingin menidurinya sampai pingsan!." tambahnya dengan suara alpha.
TBC.
Maaf pendek.
.
Bayangkan saja anak-anak Zutter itu segila video MV-nya T. O. P - G. D, dengan judul yang sama tapi memakai kostum beda. Tentang siapa mereka, pasti sudah ketebaklah siapa.
