Friend or Love (EXO vers.) Chap 4

Author: Geu Shak Ki (Byun, Jung, Jun, dan Han)

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Xi Luhan, Hwang Zi Tao, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Kim Jongin

Pairing: Sesuai alur cerita

Genre: Friendship, Love, Drama etc

Rate: T

Disclaimer: Byun Baekhyun dan Wu Yifan milik Byun, Oh Sehun dan Do Kyungsoo milik Jun, Park Chanyeol dan Hwang Zi Tao milik Jung, Xi Luhan dan Kim Jongin milik Han. Hehe tidak tidak tidak. Mereka bukan milik kami. Mereka milik orangtua dan diri mereka sendiri. Tapi FOL 100% milik kami.

Warning: GS for ukes! OOC! Typo(s) merajalela! Bahasa Babak Belur! Tidak sesuai EYD! Dan penyakit-penyakit sejenis lainnya.. xD

...

Annyeong~

Apa updatenya terlalu lama? Maafkan kami ne. Terlalu banyak godaan selama ramadhan dan lebaran. Baru bisa update sekarang. :(

Ya udah tanpa memperpanjang muqadimah *eh? Emang mau pidato?/plak*

Happy reading our lovely readers ^^

.

.

.

"Hiks.. Hiks.." isak Tao sepanjang jalan, air matanya tak hentinya mengalir, kakinya terus berjalan tanpa tahu arah. Perkataan Chanyeol tadi terus terngiang di telinganya.

"Baekhyun-ah!" panggil Chanyeol dalam.

"Ne?" sahut Baekhyun.

"Apa di wajahmu ada aliran listrik?" tanya Chanyeol.

"Ye?" Baekhyun tak mengerti dengan perkataan Chanyeol.

"Kenapa setiap kita berdekatan jantungku berdegup sangat kencang? Kenapa setiap kali aku menyentuhmu, kulitku terasa dialiri tegangan listrik ribuan volt? Kenapa melihatmu bersama namja lain, bahkan hanya mendengar kau menyebut namja lain, emosiku terasa menaik, aku benci itu, sangat benci, kenapa? Kenapa Baekhyun-ah?" celoteh Chanyeol, Baekhyun mengernyit, tak satupun perkataan Chanyeol yang dia mengerti.

"A..a..pa yang kau bicarakan?" tanya Baekhyun tak mengerti. Chanyeol tersenyum.

"Karena aku mencintaimu Baekhyun-ah! Saranghae.." tutur Chanyeol. Tangannya masih menangkup wajah Baekhyun. Baekhyun tertegun, jantungnya berdegup semakin kencang.

"Baekhyun-ah, Saranghae. Would you be my girl?" tanya Chanyeol dalam.

"Aargh! Aku tak mau mengingatnya lagi!" teriak Tao di tengah taman kota, ia duduk di sebuah kursi taman sembari memegang kepalanya erat. Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang yang ada di taman.

Bahkan ia tak sadar seseorang yang lebih dahulu menduduki kursi tempat ia duduk merasa terganggu.

Namja berambut coklat yang sedang memangku gitar di pahanya menatap sinis ke arah Tao. Tao tak menyadarinya, ia masih terus terisak. Namja itu berdecak. Ia tak lagi memedulikan Tao. Tangannya mulai memetik satu persatu senar gitarnya, nada mulai mengalun dari senar-senar gitar itu.

Tao mendengar, ia menoleh ke samping, matanya terbelalak, mulutnya ternganga mendengar permainan gitar namja itu. Nada-nada yang mengalun menenangkan hati Tao yang terluka. Ia benar-benar terhanyut mendengar alunan nada yang indah itu. Tiba-tiba saja ada tangan lembut yang menyeka air matanya yang sedari tadi jatuh, Tao hanya bisa terpaku melihat tindakan namja itu –yang memainkan gitar.

"Jangan pernah lagi menangis apalagi di tempat umum, karena.."

Namja itu menggantung perkataannya. Dengan tatapan serius namja itu menatap Tao tajam.

"Kau menganggu, arra?"

Namja itu menarik tangannya dan langsung meninggalkan Tao.

Tao tak berkomentar, dia hanya tersenyum kecut. Baru kali ini seorang namja memperlakukannya seperti itu. Tak terasa air mata Tao bukannya habis tapi malah bertambah deras. Takut jika dipermalukan lagi, ia segera berlari pulang ke rumahnya.

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

Keesokan paginya, Chanyeol dengan tampang bahagia mengetuk pintu rumah sahabat dekatnya, siapa lagi kalau bukan Tao. Chanyeol sudah tak sabar ingin menyampaikan sebuah kabar gembira kepada Tao. Ia menekan bel rumah Tao dengan sangat semangat.

"Ne, Chamkkaman!" sahut Tao dari dalam.

Tak lama kemudian, Tao pun membuka pintu, tanpa dipersilahkan masuk, Chanyeol sudah terlebih dahulu masuk dan duduk di sofa merah rumah Tao.

Tao hanya diam, penampilan nya benar-benar kacau begitu juga dengan rumahnya. Tao memandang sekilas ke arah cermin dan mendapati matanya memerah dan sangat bengkak, ia segera meraih kacamata hitamnya yang terletak di samping cermin dan memakainya. Tao pun mulai merapikan sofanya yang bertebaran majalah-majalah yang tadi malam ia pakai untuk melampiaskan amarah nya dan tisu bekas yang bertebaran dimana-mana.

Chanyeol hanya duduk di sofa dan memandang Tao sambil tersenyum lebar. Tao tetap diam dan mengacuhkan Chanyeol.

"Tao-ah!" panggil Chanyeol.

"Hmm.."

"Waeyo?"

"Anio," balas Tao singkat.

"Lalu kenapa kau memakai kacamata?" tanya Chanyeol heran.

"Ah.. Aku hanya sedang ingin memakainya," jawab Tao singkat. Ia berusaha tersenyum agar Chanyeol mempercayai perkataannya. Chanyeol membalas senyuman Tao dengan cengiran lebarnya.

"Tao-ah. Aku punya kabar bagus!"

"Mwoga?" tanya Tao. Dia berpura-pura tertarik walaupun ia tau kabar yang akan disampaikan Chanyeol itu bukan berita baik untuknya.

"Aku dan Baekhyun sekarang sudah resmi berpacaran. Aku menyatakannya di puncak bukit yang pernah kau tunjukkan kepada ku. Bukankah itu sangat romantis?" ucap Chanyeol panjang lebar.

"Jinjja? Chukae!" Tao terus memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum.

"Tapi kau jangan memberitahu yang lain. Berpura-puralah kau tak tau, apalagi di depan Baekhyun karena ia memintaku untuk merahasiakannya."

"Gurae. Tapi kau harus mentraktirku makan!" cengir Tao. Ini lah salah satu keanehan Tao jika ia berada di dekat Chanyeol, ia tak pernah benar-benar menampakkan kesedihannnya, di dekat Chanyeol suasana hatinya dapat berubah dengan cepat, walaupun ia bukan orang yang cepat untuk melupakan suatu masalah.

"Kaja! Kau mau makan apa?" tanya Chanyeol.

"Ice cream!" sahutnya lantang.

"Ayo kita berangkat!"

Chanyeol dan Tao pun berjalan menuju café yang terletak di persimpangan jalan. Selama di perjalanan Tao seperti menjaga jarak dengan Chanyeol. Tapi Chanyeol segera menariknya mendekat dan menggandeng tangan Tao.

"Yak! Mwohae? Kalau Baekhyun melihat, dia akan marah besar!" Meskipun sebenarnya Tao merasa senang dengan perlakuan itu tapi ia sadar Chanyeol sudah menjadi milik sahabatnya.

"Gwaenchana. Baekhyun tak akan marah, karena dia tahu aku sudah menganggapmu sebagai adik kandungku."

Kaki Tao melemas mendengar pernyataan tersebut, Tao baru menyadari jika perlakuan Chanyeol kepadanya selama ini hanya sebatas perhatian seorang Oppa terhadap dongsaengnya. Bukan perhatian seorang namja terhadap yeoja yang disukainya. Tapi ia segera mengingatkan dirinya untuk tidak lagi berharap terlalu banyak dari seorang Park Chan Yeol.

"Jadi aku boleh memanggilmu Oppa?" tanya Tao.

"Shireo! Kau membuatku kelihatan tua padahal kita lahir di bulan yang sama," balas Chanyeol.

"Kalau tidak Oppa berarti Hyung?" goda Tao dengan nada meledek.

"Yak! Apa-apaan itu? Aku tak mengizinkanmu memanggilku Hyung!"

"Chanyeol Hyung-ah~" ledek Tao sambl menjauhkan diri dari Chanyeol. Mereka pun berkejar-kejaran sampai akhirnya tiba di tempat yang mereka tuju.

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

"Tugas untuk minggu ini kalian harus menciptakan sebuah lagu yang bertema 'Kebahagiaan'. Tugasnya akan dikumpul tiga hari lagi. Mungkin hanya sekian perjumpaan kita hari ini. Sampai jumpa!" ucap Mr. Cho mengakhiri pelajaran hari itu.

"Huaa.. Kenapa tugas minggu ini harus menciptakan lagu?" keluh Tao, walaupun hanya berbisik, Jongin dapat mendengarnya.

"Apa kau tak suka menciptakan lagu?" tanya Jongin.

"Ani. Hanya saja aku sedang dalam mood yang buruk akhir-akhir ini." Tao pun melangkahkan kakinya keluar kelas.

Setelah mengirimkan pesan teks kepada teman-temannya bahwa ia tidak akan berkumpul di kantin, Tao berjalan ke belakang kampus. Beberapa hari yang lalu ia menemukan tempat yang ia rasa tepat untuk mencari inspirasi.

Tao pun duduk di bawah pohon yang rindang dan mengeluarkan kertas partiturnya. Tak ada satu pengalaman membahagiakan yang berada di otaknya saat ini, semuanya buyar saat bayang-bayang Chanyeol dan Baekhyun hadir di benaknya.

Brukk!

"Kyaaa.." pekik Tao, di sampingnya mendarat seorang namja berambut coklat.

"Yak!" teriak Tao pada namja itu. Namja bertampang dingin itu menatap sinis Tao.

"Yak! Monyet!" teriak Tao lagi.

"Mwo? Monyet?" timpal namja itu dengan tatapan tajam.

"Apa namanya kalau bukan monyet? Tiba-tiba jatuh dari atas pohon!"

"Aish! Benar-benar parasit! Kemarin malam meraung-raung di tengah taman, sekarang duduk resah di bawah pohonku!" Namja itu menatap Tao sekilas dengan tatapan meremehkan sebelum beranjak pergi.

"Yak! Nappeun!" teriak Tao. Namja itu berlalu dengan senyuman sombongnya.

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

Sementara di kafetaria seseorang juga sedang emosi.

"Ayo minum kalau memang kau berani!" tantang Chanyeol, matanya menatap tajam mata Baekhyun, Baekhyun menelan ludah berat, ia menyesal telah berbohong demi tak mau kalah dari Luhan.

"Ayolah Baekhyun sayang! Palli! Aku yakin kau tak akan bisa!" ledek Sehun, dia tertawa keras diikuti Luhan dan Kyungsoo.

"Yak! Jangan memakai panggilan itu padanya!" timpal Chanyeol spontan.

"Mwo? Sayang? Wae?" sahut Luhan. Sedari tadi ia merasa Chanyeol dan Baekhyun terlalu aneh, mereka terlihat canggung dan dekat di saat bersamaan. Tatapan Chanyeol pada Baekhyun pun aneh menurutnya.

"A-anio," jawab Chanyeol gelagapan. Luhan, Kyungsoo dan Sehun menatap Chanyeol dengan tatapan yang berbeda-beda.

"Ah, aku akan meminumnya sekarang!" Baekhyun mencoba mengalihkan perhatian teman-temannya.

Srup!

Baekhyun benar-benar menyeduk kuah sup super pedas yang mereka pesan, tadinya Luhan sudah mencoba, dia berhasil menghabiskan satu gelas kecil meskipun sesudah itu telinganya berubah menjadi cerobong asap sementara. Nah, karena itulah Luhan mulai emosi, Sehun sudah gelagapan mencarikan minum, sedang Chanyeol dan Baekhyun malah tertawa.

Sehun, Kyungsoo, dan Luhan bersiap-siap untuk tertawa, sedang Chanyeol terlihat sangat cemas.

"Eomma! Pedas sekali!" pekik Baekhyun.

Chanyeol dengan sigap memberikan air pada yeojachingu-nya itu. Alih-alih tertawa Luhan malah kesal pada Chanyeol. Ketika dia kepedasan, Chanyeol tak peduli, sekarang giliran Baekhyun dia terlihat cemas sekali.

Cemburu? Ya, memang benar Luhan cemburu, dia cemburu melihat keakraban Chanyeol dan Baekhyun, dia cemburu melihat perhatian Chanyeol yang lebih kepada Baekhyun, bukan cemburu seorang sahabat tapi cemburu seorang yeoja kepada namja yang disukainya.

"Gwaenchana?" tanya Chanyeol.

Baekhyun merengek manja ke arah Chanyeol,"pedaass!"

Chanyeol tertawa melihat aegyo Baekhyun, tangannya mencubit hidung Baekhyun.

Baekhyun memukul bahu kiri Chanyeol yang saling menyentuh dengan bahu kanannya. Chanyeol tertawa lagi, Baekhyun cemberut. Luhan, Sehun, dan Kyungsoo hanya melongo melihat tingkah Baekhyun dan Chanyeol yang tidak biasa.

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

Kyungsoo berjalan ke kelas sembari bersenandung kecil, matanya sibuk pada ponsel, tak memperhatikan jalan di depannya hingga tak sengaja menabrak seseorang. Memang hobi sekali yeoja itu menabrak sesuatu, beberapa hari yang lalu tiang, sekarang orang, besok apa? Mobil? Semoga saja tidak.

"Aish! Kalau jalan pakai mata!" bentak Kyungsoo, dia tak sadar yang tidak memperhatikan jalan adalah dia. Jongin –orang yang ditabrak terkekeh.

"Kau berbakat sekali menjadi pelempar," ledek Jongin. Kyungsoo meliriknya.

"Kau?" kata Kyungsoo terkejut.

"Hai!" Sapa Jongin, tangannya melambai sebelah pada Kyungsoo, bibirnya mengulas senyum.

"Pelempar apa?" timpal Kyungsoo bingung. Jongin kembali terkekeh.

"Pelempar batu sembunyi tangan," celetuk Jongin.

"Mwo?" timpal Kyungsoo.

"Hu uh. Aku duluan ne?" balas Jongin, dia meninggalkan Kyungsoo, bibirnya mengulas senyuman sembari kakinya melangkah menuju kelas.

"Pelempar batu sembunyi tangan? Apa maksudnya?" gumam Kyungsoo. Dia tak sadar juga rupanya, yang dimaksud Jongin dialah yang salah, malah balik menyalahkan Jongin, bukan begitu?

"Tao-yaa." Panggil Baekhyun. Tao menoleh kebelakang, tertangkaplah olehnya dua orang yang tidak ingin dilihatnya saat ini, Chanyeol dan Baekhyun, sekonyong-konyong di baliknya tubuhnya ke depan lagi, telinganya menangkap langkah kaki berlari menujunya. Begitulah jika bersahabat, kita tak bisa menghindari atau persahabatan akan hancur jika tetap mengikuti keegoisan.

Baekhyun mengandeng tangan kiri Tao sedang Chanyeol berjalan di sisi lain Baekhyun.

"Kenapa kau tak bergabung tadi?" tanya Baekhyun sembari menatap Tao.

Tao hanya mencoba terkekeh tanpa membalas tatapan Baekhyun. Belum. Dia belum siap melihat wajah manis sahabatnya itu, belum siap menatap kedua manik mata yang tak terlalu tajam namun hitam milik sahabatnya itu, wajah dan mata yang menarik perhatian namja yang dicintainya.

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

"Tentu saja Baekhyun paling cantik!"

"Aku bilang ketika menari, memangnya Baekhyun bisa menari?" tukas Sehun sembari memandang kesal Chanyeol.

Chanyeol seperti akan menjawab, namun Luhan mendahului, ia tak suka jika Chanyeol menganggap Baekhyun lebih cantik dibanding dirinya.

"Ya! Kenapa kau terus membela Baekhyun sejak kemarin? Apapun selalu Baekhyun yang terbaik di matamu. Ada apa dengan kalian? Kalian berkencan?" tukas Luhan. Raut muka Chanyeol dan Baekhyun sekonyong-konyong menegang.

"A..a..nio" jawab Chanyeol dan Baekhyun hampir serempak.

Ekspresi wajah mereka terlalu tegang menurut Luhan. Dia merasa seolah kedua sahabatnya itu tengah menyembunyikan sesuatu. 'Mungkinkah mereka memang berpacaran?' batinnya. Memikirkannya saja sungguh membuat hati Luhan tercabik-cabik.

Luhan berniat meneruskan interogasinya, namun bel menghalanginya. Sungguh keberuntungan untuk Baekhyun dan Chanyeol, keduanya bisa bernafas lega untuk saat ini, sedang Luhan mendesah gusar.

"Ayo ke kelas!" ajak Tao.

"Berhati-hatilah lain kali, jangan terlalu menuruti hatimu!" bisik Tao di telinga Chanyeol sebelum bangkit berdiri.

Chanyeol mengangguk pelan, dia melirik Baekhyun yang hanya balik menatapnya datar.

"Mianhae, Baekhyun-ah,"sesal Chanyeol. Baekhyun sedikit merasa bersalah mendengar suara lirih Chanyeol, disentuhnya tangan kiri Chanyeol yang tergantung di pahanya.

Chanyeol tersenyum begitu merasakan telapak tangan Baekhyun menyentuh punggung tangannya.

"Gwaenchana!" ujar Chanyeol. Dia menarik tangan Baekhyun untuk berdiri.

Baekhyun dan Chanyeol kembali seperti biasa, bercanda gurau dengan suka ria, bahkan hingga sudah duduk di kelas.

"Tentu saja aku lebih suka Tao! Dia lebih tinggi dan lebih cantik daripadamu!"

Baekhyun memukul bahu Chanyeol. Dia mempout bibirnya hingga Chanyeol tak tahan untuk tak mencubit pipinya. Dan entah apa yang terjadi beberapa menit sesudahnya mereka tertawa tanpa sadar bahwa mereka sedang berada di kelas.

"Chanyeol! Baekhyun! Keluar!" perintah Mr. Park. Chanyeol dan Baekhyun tersenyum kecut dan menekuk wajah malu sembari keluar dari kelas. Mereka malu, karena mereka berdua merupakan mahasiswa terbaik di bidang acting, sungguh memalukan diusir dari kelas.

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

"Mwo? Kau lagi?!" teriak Tao frustasi. Baru saja seorang namja berambut coklat, setinggi tiang listrik menabraknya hingga ia terjerembab jatuh ke taman. Namja itu adalah namja yang Tao temui di taman belakang sekolah waktu itu, namja yang tiba-tiba melompat dari atas pohon.

"Aish! Bertemu yeoja parasit lagi!" desis namja itu malas.

Tao yang ternyata mendengar perkataan namja itu sontak bangkit. "Mwo? Parasit? Kau yang parasit?!" seru Tao keras.

"Kau yang parasit, tiga kali bertemu kau, aku selalu terganggu!" balas namja itu santai. Dia berjongkok untuk mengambil gitarnya yang jatuh di samping tempat Tao tadi tertelentang. Tao mengernyit.

"Tiga kali? Ku rasa aku baru bertemu namja monyet ini dua kali," gumam Tao.

Saat dia hendak bertanya kapan saja mereka pernah bertemu, mata Tao malah dibuat melebar, karena namja itu sudah menghilang.

"Hii! Apa dia hantu?" gumam Tao bergidik. Ckck! Dia pikir ini dunia fiktif? Bagaimana mungkin dia bisa melihat hantu? Memangnya dia seorang indigo?

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

"Ayolah sunbaenim.." rengek seorang namja imut berambut kecoklatan pada Kyungsoo.

"Ya! Xiumin! Aku tak mau. Kau pikir aku ini apa? Seenaknya kau menyuruhku menjadi yeojachingumu!" timpal Kyungsoo acuh.

"Kau milikku! Terserahku mau menyuruh apa!" balas namja yang disebut Xiumin. Kyungsoo membulatkan matanya.

"Ayo kita temui Eommaku sekarang!" perintah Xiumin sembari menarik tangan Kyungsoo.

Xiumin merupakan hoobae Kyungsoo di fakultas musik, dia cukup kenal dengan Kyungsoo. Eomma dan Appanya ingin menjodohkan dia, padahal saat ini Xiumin baru menjalani semester pertama kuliahnya. Karena tak ingin dijodohkan, Xiumin meminta Kyungsoo berpura-pura menjadi yeojachingunya.

"Tidak mau!" teriak Kyungsoo, dia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Xiumin dari tangannya. Sementara itu seorang namja tampan yang sedang menikmati alunan music dari earphone-nya tak sengaja melihat Kyungsoo ditarik paksa oleh Xiumin. Dia melebarkan matanya, setelah yakin bahwa dia mengenal yeoja yang ditarik Xiumin, dengan segera menghampiri yeoja itu.

Dia menahan tangan kiri Kyungsoo, Kyungsoo terkejut. Xiumin menatap namja itu garang.

"Yak! Apa yang kau lakukan?!" bentak Xiumin.

"Kemana akan kau bawa dia?" balas namja itu.

"Terserahku, apa urusanmu? Memangnya kau siapa? Bukan namjachingunya, kan?" timpal Xiumin dengan nada meremehkan.

"Ne. aku namjachingunya. Karena itu lepaskan yeojaku sekarang juga!" ucap Jongin spontan. Kyungsoo membelalak tak percaya, tapi Jongin tak menghiraukan Kyungsoo.

"Yeo..yeojamu?" balas Xiumin tak percaya.

"Ne," jawab Jongin mantap. Jongin melepas paksa tangan Xiumin dari tangan kanan Kyungsoo dan bergegas meninggalkan Xiumin.

Di sinilah mereka saat ini, di sebuah taman yang tak terlalu jauh dari Kyung Hee University. Entah kenapa Jongin membawa Kyungsoo ke sini dan entah kenapa pula Kyungsoo mau mengikutinya. Bahkan Jongin sendiri pun tak tahu apa alasannya membawa Kyungsoo kemari.

"Ehm, gomawoyo. Karena telah membantuku," tutur Kyungsoo pada akhirnya setelah hampir lima menit mereka berdiaman.

"Ne, cheonmaneyo," balas Jongin kikuk. Diam lagi…

.

.

.

~HESTEWMN~

.

.

.

Sudah dua minggu lebih Chanyeol dan Baekhyun menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih, tak satupun dari teman-teman mereka yang tahu kecuali Tao, namun kecurigaan tetap saja ada, terlebih di hati Luhan. Dia sangat takut jika Chanyeol dan Baekhyun benar-benar pacaran.

Malam ini, Minggu malam. Chanyeol mengajak Baekhyun keluar. Mereka pergi ke pasar malam. Cuaca malam hari cukup dingin, cukup dingin untuk menciptakan uap-uap dari napas setiap orang saat bicara. Namun itu menguntungkan bagi Chanyeol, dia memiliki alasan untuk menggenggam erat tangan lembut yeojachingunya. Baekhyun tersenyum saat merasakan tangan Chanyeol di tangan kirinya.

Mereka menelusuri pasar malam. Sudah hampir satu jam mereka bermain-main, keduanya sangat lelah, mereka memilih duduk di kursi yang disediakan jauh dari keramaian.

"Kau haus?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk.

"Tunggu di sini ne, aku beli minuman dulu," ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk lagi. Saat punggung Chanyeol telah menghilang dari pandangan, dua orang namja berpenampilan seperti preman mendekati Baekhyun.

"Hai manis!" goda salah satu diantaranya, tampangnya benar-benar menakutkan, rambutnya panjang keriting dan dibiarkan tergerai, kumisnya tebal, bibirnya menyeringai pada Baekhyun. Baekhyun makin merapat ke sudut kursi, dia memandang takut kepada kedua namja itu.

"Kenapa yeoja secantik kau sendirian di sini?" tanya yang satunya lagi, tawanya menggelegar, tampangnya tak kalah menakutkan dari namja pertama, dia lebih tinggi dan berdegap dibanding namja pertama, rambutnya sebahu, hitam dan berantakan, napasnya kentara berbau alkohol. Baekhyun semakin takut, 'Ya Tuhan, mana Chanyeol? Kenapa dia lama sekali?' batin Baekhyun lirih.

"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" seru Baekhyun dengan suara bergetar ketakutan.

"Whoa! Dia benar-benar manis!" ucap namja pertama kepada namja kedua sembari tertawa.

"Kau mau bersenang-senang, sayang?" tanya namja kedua melecehkan.

Baekhyun semakin merapat ke sudut kursi. Namja pertama mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi mulus Baekhyun namun dengan segera Baekhyun menepis tangan besar namja itu. Tawa kedua namja itu semakin keras.

"Bukankah itu Baekhyun?" gumam Luhan yang sedang berada dalam mobil, dia melihat Baekhyun dari belakang, dia tak terlalu yakin itu adalah sahabatnya, Baekhyun, namun tetap saja dia menghentikan mobilnya dan bergegas menuju tempat kejadian.

Chanyeol sekonyong-konyong berlari begitu melihat Baekhyun meringkuk di kursi taman penuh ketakutan sedang dua orang namja tinggi besar sedang mencoba menyentuhnya.

BUGH!

Kaki kanan Chanyeol menghantam keras tubuh namja pertama, namja itu terjatuh dan tepat sekali di tanah ada batu besar runcing, kepala namja itu membentur sudut runcing batu.

Blush

Darah memuncrat dari kepalanya. Baekhyun yang phobia terhadap darah segera menjerit ketakutan.

Perbuatan Chanyeol menimbulkan ledakan emosi di hati namja kedua. Dia meninju kuat wajah Chanyeol, Chanyeol terhuyung, namun dengan cepat ia kembali berdiri tegap, dibalasnya namja kedua, Chanyeol cukup hebat di bidang bela diri. Tapi namja kedua itu terlalu besar untuk menjadi lawannya, namja kedua hendak memelintir tangan kiri Chanyeol, Baekhyun menjerit, kedua tangannya menutup telinganya, matanya terpejam erat, air matanya mulai mengalir.

Beruntung polisi datang tepat waktu, namja itu tak jadi memelintir sempurna tangan Chanyeol, tapi tetap saja dia sudah memelintir tangan Chanyeol. Polisi membawa kedua preman itu meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun.

Luhan yang tadinya memanggil polisi tak jadi mendekati Chanyeol dan Baekhyun. Dia terkejut melihat Chanyeol yang memeluk Baekhyun dengan cara berbeda, tak seperti seorang sahabat. Chanyeol memeluk Baekhyun yang meringkuk di atas kursi dengan tangan menutup kedua telinganya dan terisak. Chanyeol memeluk Baekhyun dalam. Baekhyun terisak di dada Chanyeol, dia takut dan terkejut.

"Gwaenchana, chagi. Mereka sudah pergi," Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun, dia mengelus punggung Baekhyun lembut.

DEG!

Jantung Luhan berdegup kencang mendengar sebutan 'chagi' yang digunakan Chanyeol pada Baekhyun.

"Maaf Baekhyun-ah. Maafkan aku," lirih Chanyeol, hatinya perih mendengar tangisan Baekhyun.

Dia merasa bodoh karena meninggalkan Baekhyun terlalu lama di tempat sepi ini, dia merasa bodoh juga karena tadi meladeni penjual minuman yang menggodanya, dia merasa bodoh karena tak mencari penjual minuman lainnya dan terus menunggu penjual minuman itu memberikan minuman padanya. Beruntung Baekhyun tak apa-apa, bagaimana jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada Baekhyun? Dialah orang yang akan paling menyesal.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun setelah isakannya terhenti, namun ia masih membanamkan kepalanya di dada bidang Chanyeol.

"Aku baik-baik saja. Maafkan aku, Baekhyun-ah. Aku memang namja bodoh. Tak seharusnya aku meninggalkan yeojachinguku di tempat seperti ini. Mianhae Baekhyun-ie," tutur Chanyeol.

DEG!

Jantung Luhan terasa berhenti berdetak, kakinya melemas hingga rasanya tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. 'Yeojachinguku', 'chagi'. Semua itu, berarti Baekhyun dan Chanyeol memang berpacaran?

Luhan mendekati Chanyeol dan Baekhyun, air matanya sudah menggenang, bersiap merasakan terjun bebas di pipi putih mulus Luhan.

"Yeojachingu? Chagi?" tanya Luhan yang sebenarnya lebih cocok disebut gumaman. Chanyeol dan Baekhyun saling melepas diri, mata mereka membulat begitu melihat Luhan.

"Lu..lu…han," bata Baekhyun dan Chanyeol tergagap, sekonyong-konyong mereka bangkit berdiri.

"Ka..kali..an ber..pa..ca..ran?" tanya Luhan tercekat. Air matanya sudah mulai menerjang penjara kelopak mata.

"Lu..Luhan.. Wae ureo?" tanya Baekhyun terkejut dengan air mata Luhan. Dia mendekati Luhan. Baekhyun hendak menyentuh Luhan, tapi yeoja itu lebih dahulu menepis tangannya.

"Kalian membohongi kami!" tekan Luhan. Air matanya terus mengalir.

"Luhan, bukan begitu," sanggah Chanyeol.

Luhan tak mau mendengar penjelasan Chanyeol dan Baekhyun. Hatinya terlalu sakit, sakit sekali. Dia berlari meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun, keduanya bingung dengan tingkah Luhan. Mereka berdua pun ikut berlari mengejar Luhan.

"Luhan!" teriak Baekhyun.

.

.

.

TeBeCek

.

Bagaimana readers sayang? Apa chap ini terlalu gaje? Mian ne hiks hiks. Byun, Jun, Jung, dan Han semuanya pada galau, yah begini deh hasilnya.

Huwaaa terima kasih banyak untuk semua reviewers. Terima kasih udah nyempatin baca ff gajeboh ini ditambah review lagi. Terima kasih juga buat para siders. Terima kasih udah nyempatin baca ff kami. Kami senang jika kalian menikmati cerita kami, tapi akan lebih sangat pake teramat senang kalau para readers ninggalin review.

Akhir kata, sampai jumpa chap depan! Jangan lupa review ne ^^