Friend or Love (EXO vers.) Chap 5

Author: Geu Shak Ki (Byun, Jung, Jun, dan Han)

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Xi Luhan, Hwang Zi Tao, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Kim Jongin

Pairing: Sesuai alur cerita

Genre: Friendship, Love, Drama etc

Rate: T

Disclaimer: Byun Baekhyun dan Wu Yifan milik Byun, Oh Sehun dan Do Kyungsoo milik Jun, Park Chanyeol dan Hwang Zi Tao milik Jung, Xi Luhan dan Kim Jongin milik Han. Hehe tidak tidak tidak. Mereka bukan milik kami. Mereka milik orangtua dan diri mereka sendiri. Tapi FOL 100% milik kami.

Warning: GS for ukes! OOC! Typo(s) merajalela! Bahasa Babak Belur! Tidak sesuai EYD! Dan penyakit-penyakit sejenis lainnya.. xD

...

Annyeong~

Mianhae updatenya lama bangeeeeetttt T.T

Semoga chingudeul masih ingat dengan fic ini.


"Yeojachingu? Chagi?" tanya Luhan yang sebenarnya lebih cocok disebut gumaman. Chanyeol dan Baekhyun saling melepas diri, mata mereka membulat begitu melihat Luhan.

"Lu..lu…han," bata Baekhyun dan Chanyeol tergagap, sekonyong-konyong mereka bangkit berdiri.

"Ka..kali..an ber..pa..ca..ran?" tanya Luhan tercekat. Air matanya sudah mulai menerjang penjara kelopak mata.

"Lu..Luhan.. Wae ureo?" tanya Baekhyun terkejut dengan air mata Luhan. Dia mendekati Luhan. Baekhyun hendak menyentuh Luhan, tapi yeoja itu lebih dahulu menepis tangannya.

"Kalian membohongi kami!" tekan Luhan. Air matanya terus mengalir.

"Luhan, bukan begitu," sanggah Chanyeol.

Luhan tak mau mendengar penjelasan Chanyeol dan Baekhyun. Hatinya terlalu sakit, sakit sekali. Dia berlari meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun, keduanya bingung dengan tingkah Luhan. Mereka berdua pun ikut berlari mengejar Luhan.

"Luhan!" teriak Baekhyun.


"Luhan-ah, ireona. Palli ireona!" isak Baekhyun sambil berlari mengiringi tempat tidur yang sedang di dorong oleh beberapa perawat.

"Mianhae Agaesshi, anda tidak diperbolehkan masuk," ucap salah seorang perawat di depan ruang gawat darurat.

Chanyeol menarik tangan Baekhyun menjauh. Isakan Baekhyun makin keras terdengar, Chanyeol memeluk Baekhyun erat, mencoba menghentikan air mata yang jatuh di pipi Baekhyun.

"Semuanya akan baik-baik saja, Chagi-ah. Kau tak perlu terlalu cemas!"

"Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Luhan?" tanya Baekhyun.

"Semuanya kita serahkan pada dokter yang menanganinya, kita hanya perlu berdoa kepada Tuhan," tambah Chanyeol. Baekhyun tampak menundukkan kepala, berdoa. Chanyeol segera mengambil ponselnya dan memberitahu keadaan Luhan pada teman-teman yang lain dan orang tua Luhan.


Di sebuah kafe salah satu mall besar Seoul tampak seorang yeoja yang duduk di pojok ruangan membuka sebuah pesan masuk di ponselnya. Tiba-tiba di pelupuk mata yeoja itu berlinang air mata. Ia benar-benar kaget karena sahabatnya saat ini sedang kritis di rumah sakit.

Dengan tergesa-gesa ia memungut barang-barang yang ada di atas meja dan menjejalkannya ke dalam tas. Ia pun meninggalkan café itu dengan cepat.

Bruk!

Tao –yeoja itu terjatuh karena tertabrak oleh seseorang yang sepertinya seorang namja karena tenaganya yang cukup kuat hingga Tao terduduk di lantai. Ternyata orang yang menabrak Tao itu adalah orang yang selalu mencari masalah dengannya -namja monyet .

"Yak! Ternyata kau benar-benar parasit, apakah kau menjadi stalkerku sekarang?" tanya namja itu sinis.

Yang di tanya hanya diam tak bersuara, tampak badannya mulai bergetar menahan tangis. Tak lama kemudian terdengar isakan yang semakin keras dari mulut Tao. Para pengunjung mall melirik menyelidik ke arah namja monyet, seolah-olah namja itulah yang telah membuat Tao menangis.

"Yak! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menangis disini?" Tao tetap diam sambil berdiri dan meninggalkan namja itu.

"Lihat, namja itu benar-benar bodoh. Teganya ia mencampakkan yeoja cantik itu," bisik salah seorang pengunjung mall, semua orang menatap namja itu dengan kebencian. Tak tahan dengan tatapan orang-orang ia berlari mencari keberadaan Tao.

Tao ditemukan di parkiran ketika ia akan memasuki mobilnya. Namja itu segera menarik tangan Tao.

"Apa kau yakin akan menyetir dengan keadaan seperti ini?" tanyanya.

Kenapa kau peduli, Tuan?

"Pindahlah ke samping! Biar aku yang menyetir!"

Hati namja itu luluh melihat Tao yang sangat gelisah. Tao pun mengiyakan perkataan namja itu dan duduk di sebelah kemudi. Dia tak dapat memikirkan apa-apa lagi, pikirannya sangat kalut.

"Kau mau ke mana?"

"St. Paul Hospital," jawab Tao singkat. Mobil pun segera menuju alamat yang diberikan Tao, tempat Luhan dirawat.


"Yak! Sehun! Buka pintunya!" Kyungsoo dengan sekuat tenaga mengetuk pintu rumah Sehun.

"Seperti suara Kyungsoo." Sehun mempertajam indera pendengarannya.

"Yak! SEHUN!" pekik Kyungsoo, urat-urat lehernya mencuat keluar.

"Memang Kyungsoo. Aish, mengganggu saja." Sehun segera keluar dari tempat persemediannya (read: WC).

"Yaa.. Ada apa?" Sehun membuka pintu dan mendapati Kyungsoo yang dibanjiri air mata.

"Kyungsoo-ah, wae ureo?"

"Kau tidak membaca pesanku? Kenapa kau lama sekali membuka pintu?" Kyungsoo tanpa sadar membentak Sehun.

"Apa yang terjadi Kyungsoo-ah?"

"Luhan…" Kyungsoo menjelaskan keadaan Luhan dengan air mata yang tak berhenti turun.

"Luhan?!"

"Ne. Luhan kritis Sehun-ah," isak Kyungsoo. Ia refleks memeluk Sehun.

"Tenangkan dirimu dulu Kyungsoo-ah. Sekarang kita berangkat ke rumah sakit ya." Bujuk Sehun seraya mengusap-usap kepala Kyungsoo.

Tao terengah-engah berlari di lorong rumah sakit, di belakangnya namja monyet berusaha mengimbangi larinya. Di kejauhan tampak Baekhyun yang berada di pelukan Chanyeol. Chanyeol menatap Tao dengan mata sayu.

"Mana Luhan?" tanya Tao.

Chanyeol hanya memberi isyarat dengan matanya menuju sebuah ruangan tertutup. Tao mengangguk mengerti. Baekhyun segera melepas pelukannya dari Chanyeol ketika mendengar suara Tao.

"Tao-ah. Wasseo?" tanya Baekhyun. Tao mengangguk lagi.

Secara tak sengaja Baekhyun beradu pandang dengan namja yang berada di belakang Tao. Mereka bertatapan lama sekali. Hingga akhirnya terdengar langkah kaki dari arah lorong rumah sakit. Sehun dan Kyungsoo jalan tergopoh-gopoh.

"Apa yang terjadi dengan Luhan?" tanya Sehun cemas.

"Tertabrak truk," balas Chanyeol singkat.

"Apa kau sudah menghubungi orangtua Luhan?"

"Sudah. Tetapi Omoni dan Aboji masih ada di Jepang saat ini. Mungkin mereka akan tiba besok pagi," terang Chanyeol.

Sehun, Kyungsoo, dan Tao beranjak untuk menduduki kursi tunggu di depan ruang UGD. Chanyeol mengikuti, tapi langkahnya terhenti saat Baekhyun masih diam di tempat.

"Baekhyun-ah" panggil Chanyeol. Baekhyun sedikit terlonjak karena sedari tadi ia sedang melamun, entah untuk alasan apa jantungnya berdebar-debar saat bertemu dengan namja yang datang bersama Tao tadi dan entah karena apa rasanya wajah dan tatapan namja itu sudah familiar baginya.

'Ah, maja. Namja itu, ke mana dia?' batin Baekhyun saat sadar namja itu sudah tak ada. Baekhyun celingak celinguk melihat sekelilingnya namja itu sudah menghilang.

"Kau mencari apa Baekhyun?" tanya Chanyeol.

"A..a..ani.." jawab Baekhyun bingung. Dia juga ikut menduduki kursi tunggu di depan ruang UGD kembali berfokus pada Luhan.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan dokter keluar dari ruang UGD. Semua orang berkumpul mengelilingi sang dokter.

"Bagaimana keadaan Luhan, Uisanim?" Baekhyun memulai percakapan.

"Apa kalian keluarganya?"

"Kami sahabat-sahabatnya. Keluarga Luhan tak bisa datang malam ini," lanjut Sehun.

"Sahabat kalian telah melewati masa kritisnya tapi sekarang dia masih dalam keadaan koma," jelas Uisanim.

"Apa kami sudah bisa melihatnya Uisanim?"tanya Tao.

"Silahkan! Tapi kalian tidak diperbolehkan membuat keributan. Saya tinggal dulu!" ucap Uisanim sambil beranjak pergi.

"Khamsahamnida Uisanim!" Sehun, Chanyeol, Baekhyun, Tao dan Kyungsoo membungkuk ke arah Uisanim.

Mereka memasuki ruangan Luhan. Tampak tubuh Luhan yang kecil dipenuhi dengan alat-alat medis. Semua memandang khawatir, tetapi yang dipandang hanya tidur tak bergerak.

"Sebaiknya kalian pulang, biar aku dan Chanyeol yang menjaganya di sini," usul Sehun. Tapi perkataannya dibalas tatapan tajam Baekhyun, Tao, dan Kyungsoo.

"Andwae!" ucap mereka serempak.

"Kami juga ingin menjaganya," tambah Tao.

Setelah perdebatan yang cukup lama akhirnya mereka berlima sepakat untuk berjaga di rumah sakit.


Keesokan paginya, Aboji dan Omoni Luhan yang baru saja tiba di Korea segera menuju ke rumah sakit tempat Luhan dirawat. Setelah mendapat paksaan dari Aboji dan Omoni untuk kuliah, akhirnya Baekhyun, Sehun, Kyungsoo, Chanyeol pulang dengan mobil Sehun. Setelah sampai di rumah masing-masing, mereka bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


Chanyeol, Baekhyun, Sehun, Kyungsoo, dan Tao berjalan lemas menuju kafetaria. Saat mereka hendak menduduki kursinya, tangan Tao tiba-tiba ditarik dari arah belakang. Dia berbalik.

"Kau lagi?" bentaknya, begitu melihat namja monyet yang menarik tangannya.

Sahabat-sahabat Tao memandang penuh selidik pada namja tersebut, kecuali Baekhyun, lagi-lagi jantungnya berdebar tak menentu melihat namja monyet, setelah beberapa saat ia sadar kalau namja itu adalah namja yang sama dengan namja di rumah sakit semalam.

'Ah, jantung ini kenapa?' batinnya. Debar jantungnya semakin kencang, namun jangan disalah artikan, debarannya bukan debaran jika melihat orang yang disukai, debarannya berbeda.

"Kris!" panggil Kyungsoo. Kris -namja monyet- berpaling pada Kyungsoo, dia tersenyum tipis.

"Kau kenal dengan namja monyet ini, Kyungsoo-ah?" tanya Tao dengan kening berkedut dan mata melirik sinis ke arah Kris.

"Ne. Dia satu fakultas denganku, speciality gitar," jelas Kyungsoo sembari tersenyum.

"Jadi yeoja parasit ini temanmu Kyungsoo-ah?" seletuk Kris sinis.

"Mwo? Parasit? Namanya Tao bukan parasit!" timpal Chanyeol polos.

"Aku tidak peduli dengan namanya, bagiku dia tetap saja parasit!" balas Kris acuh.

"Yak! Beraninya kau menyebut temanku parasit!" geram Sehun sok berani.

Chanyeol dan Sehun sibuk beradu mulut dengan Kris, sedang Baekhyun memperhatikan Kris.

'Tadi Kyungsoo menyebutnya siapa? Kris bukan? Apa dia si Pangeran Bekicot? Sifat angkuhnya, cara dia menatap orang, sama dengan Pangeran Bekicot,' batin Baekhyun.

Setelah begitu lama memperhatikan Kris, pada akhirnya Kris menyadari tatapan Baekhyun, dia memalingkan matanya ke arah Baekhyun, mata mereka saling bertemu, lagi-lagi Kris merasakan perasaan yang sama dengan tadi malam saat ia dan Baekhyun beradu tatap seperti saat ini. Perasaan yang melompat-lompat tak menentu di hatinya, jantungnya yang berdegup tak normal, rasa pengenalan terhadap wajah dan tatapan Baekhyun.

'Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku seperti ini?' tanya Kris dalam hati.

"Baekhyun!" sentak Chanyeol kesal melihat yeoja-nya saling menatap dengan namja lain.

'Baekhyun? Byun Baekhyun-kah namanya?' tanya Kris penasaran, hanya dalam hati saja, tentunya.

"Ah! Kenapa kau kemari?" tanya Chanyeol mengalihkan perhatian Kris dari Baekhyun.

"Ani, tak ada. Aku pergi dulu!" jawab Kris yang sepertinya melupakan tujuannya mendatangi Tao. Sebelum meninggalkan meja Chanyeol, Baekhyun, Sehun, Kyungsoo, dan Tao, Kris kembali melirik Baekhyun, begitu pun sebaliknya.

"Baekhyun!" bentak Chanyeol geram.

"A..ah.." sahut Baekhyun tergagap.

"Kau mengenal Kris, Tao-ah?" tanya Kyungsoo.

"Ani. Aku sering saja bertemu monyet itu, namanya saja aku baru tau," jawab Tao santai sembari mengutak atik ponsel.

"Siapa? Kris? Wu Yi Fan kah nama lengkapnya?" sela Baekhyun yang langsung membuat Chanyeol melempar tatapan tajam ke arahnya, tapi Baekhyun mengacuhkan saja.

"Aku tak terlalu tau, kalau tak salah iya. Kenapa memangnya Baekhyun-ah?" timpal Kyungsoo.

'Jinjja? Dia menepati janjinya? Dia benar-benar menyusulku?' tanya Baekhyun dalam hati.

"Baekhyuun~ Kau mendengar kami?" sentak Sehun, Baekhyun tersenyum gugup, sesungguhnya ia tak mendengar apapun.

"Ah, nanti kita langsung ke rumah sakit bukan?" tanya Baekhyun berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tentu saja," jawab Sehun mantap.


"Hyung~ beritahu padaku. Di fakultas mana ia berada?" rengek Kris.

"…"

"Ayolah Hyung. Aku sudah frustasi, sudah 7 bulan aku di Seoul tapi aku belum juga menemukannya."

"…"

"Aish! Kau pelit Hyung!" Kris mematikan ponselnya dengan kesal.

"Astaga!" pekik Kris saat ia berbalik di belakangnya sudah berdiri Tao yang sedang melipat tangan di dada.

"Aish! Kau lagi!" tukas Kris.

"Kemarin malam kau mengantarkanku bukan? Mana kunci mobilku?" tuntut Tao yang baru sadar mobilnya tinggal di rumah sakit dan kuncinya tak ada saat Kyungsoo bertanya.

"Ah! Nanti ku kembalikan! Tunggu saja aku di gerbang nanti, aku ada urusan sekarang." Secepat kilat Kris telah menghilang. Tao berdecak kesal.


"Mana sih namjamu itu? Lama sekali? Aku ingin segera ke rumah sakit," gerutu Sehun. Tao membulatkan mata.

"Namjaku? Yak! Dia bukan namjaku!" protes Tao tak terima.

.

.

.

TeBeCek

.

Mianhaeeeeeeee kami updatenya telaattt buangeeettt huhu
Masih adakah yang ingat dengan fic ini?
Sebenarnya chap ini masih abu-abu, masih belum pantas dipost, belum diedit pula lagi, jadi pasti sangat kacau, tapi berhubung kami sudah sangat lama gak pernah update, ya udah dipaksain aja update.. Kalau ada waktu diusahain buat ngedit lagi ^^

Makasih buat semua yang udah baca apalagi yang udah review ^^
Jangan lupa review lagi ne.. Biar kami semangat ngelanjutin.. Terima kasih! See you next chap :))