POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#4 Opposites
Suara pintu kelas yang dibanting memenuhi seisi kelas dengan keheningan yang menegangkan. Wonwoo menatap Jun, yang masih memulihkan dirinya setelah menerima pukulan Mingyu. Junhui mengusap ujung bibirnya yang mulai berdarah akibat pukulan tadi. Beberapa saat setelah suara pintu dibanting, suara lain kembali memenuhi kelas. Kali ini, suara kursi yang bergesekan dengan keramik lantai. Suara itu datang dari bangku paling ujung; bangku Minghao. Minghao bangkit dari kursinya, dan dengan cepat mengejar temannya yang baru saja diskors. Guru matematika mereka memanggil nama anak berambut biru permen karet itu, yang diabaikan oleh anak baru tersebut. Minghao berlari keluar kelas, dan menuju koridor. Lalu, guru mereka meninggalkan kelas untuk pergi menuju Ruang Kepala Sekolah untuk memberitahu kalau 2 murid pergi meninggalkan kelasnya. Dengan dorongan kuat, Wonwoo sudah hampir akan berlari mengejar Mingyu, sebelum dihentikkan Jun yang berdiri di hadapannya. Wajah babak belur Ketua Kelas dengan cepat berada di tangan Jun. Jun memegang wajahnya dengan tegas, tapi tidak terlalu keras, memastikan tangannya tidak melukai wajahnya. Ia mengamati, seperti apa yang Mingyu lakukan malam sebelumnya. Mengingat kejadian kemarin, Wonwoo dengan cepat melepaskan tangan temannya, wajahnya menghangat karena malu, tapi lalu rasa marah menguasainya.
"Ya. Kenapa kau seperti ini?" Jun berkata, sepenuhnya tahu apa alasan Wonwoo seperti itu, tapi mencoba bersikap seperti tidak tahu apapun. Wonwoo menatap pria di depannya tepat di matanya.
"Kenapa kau seperti ini?" Wonwoo menjawab dengan pertanyaan lain, dengan nada yang serius.
Jun melangkah ke samping, dan mencoba untuk mencairkan suasana dengan nada yang tidak serius,
"Seperti apa? Apa ini tentang yang kemarin? Wonwoo-ya, ciuman itu tidak ada artinya, tidak ada perasaan apapun dibaliknya, aku hanya penasaran-" Jun mencoba berbohong tentang situasi malam kemarin. Tentu saja Junhui benar-benar memiliki perasaan kepada sahabatnya, tapi tidak mungkin ia mengakuinya saat ini. Ia masih ingin mempertahankan harga dirinya setelah kemarin ditolak.
"Bukan tentang itu." Wonwoo memotong pperkataan Jun.
"Lalu, apa maksudmu?" tanyanya.
Wonwoo bergerak mendekat ke arah Jun, dan membawa wajahnya semakin dekat ke wajah Jun. Ia lalu menunjuk ke arah pintu yang dilalui Mingyu untuk keluar, dan berkata dengan suara rendah penuh kemarahan,
"Kau pikir kau siapa, menuduh Mingyu melakukan ini padaku?"
Jun menatap sahabatnya, terkejut. Selama 3 tahun persahabatan mereka, Wonwoo dan Jun tidak pernah terlibat dalam pertengkaran serius. Kepribadian mereka sangat cocok satu sama lain, sehingga mereka jarang berbeda pendapat atau berselisih. Tapi, akan selalu ada yang pertama untuk segala sesuatunya.
"Wonwoo, tenang... aku hanya khawatir-"
Sekarang, Wonwoolah yang memotong pembicaraan mereka. Ia harus menjelaskan maksudnya, ia tidak peduli kalaupun ia harus marah pada sahabatnya.
"Tenang?" Wonwoo secara tiba-tiba menarik kerah seragam Jun, seperti yang dilakukan Jun pada Mingyu.
"Bagaimana denganmu, huh? Menuduh Mingyu melakukan sesuatu yang bahkan tidak dia lakukan. Menariknya seperti ini, meskipun dia tidak melakukan apapun selain membantuku, ketika kau tidak bisa ada di sana."
Wonwoo berkata, menggeretakan giginya dengan marah. Matanya dipenuhi dengan air mata. Jun tidak tahu harus berkata apa, karena ia tidak pernah melihat Wonwoo seperti ini sebelumnya. Sahabatnya selalu bersikap tenang, dan dapat menguasai diri. Wonwoo memang terkadang bisa jadi sangat emosional, tapi Jun tidak pernah melihat Wonwoo semarah ini. Ketua Kelas masih mencengkeram seragam Jun, dan terus memandangnya tajam, menunggu jawabannya dengan tidak sabar.
"M-maafkan aku... Aku tidak tahu kalau aku membuatmu semarah ini." Jun berkata pelan, dan tulus. Wonwoo mengabaikan rasa bersalah yang menderanya, dan melanjutkan kemarahannya,
"Kau seharusnya bukan meminta maaf kepadaku..." ucapnya, dan akhirnya melepaskan Jun.
Tidak ada kata-kata lagi setelah itu diantara dua orang sahabat itu selama setengah hari setelahnya. Ketika jam makan siang tiba, sebelum Jun sempat mendatangi bangku Wonwoo untuk menjelaskan sisa kesalah pahaman mereka, Wonwoo membereskan barang-barangnya dan berjalan keluar kelas. Jun menyaksikan "sahabat"nya berjalan keluar kelas, dan tidak kembali lagi selama sisa hari itu. Ketika jam pelajaran ke-4 dimulai, Jun bertanya kepada guru mereka kemana Wonwoo pergi, dan gurunya memberitahunya kalau Wonwoo izin pulang, dan tidak akan kembali dengan alasan merasa tidak enak badan.
.
.
Ketika Wonwoo meninggalkan sekolah, ia memiliki misi untuk membawa Mingyu kembali ke sekolah untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya, agar hukuman skorsnya dibatalkan. Masalahnya adalah, Wonwoo tidak tahu dimana Mingyu berada saat ini, ia tidak kenal siapapun yang dekat dengan Mingyu, dan tahu dimana Mingyu berada. Minghao bahkan pergi untuk menyusul Mingyu, dan anak baru itu adalah satu-satunya harapan Wonwoo... setidaknya menurutnya begitu. Setelah berkeliling di sekitar sekolah sebentar, Wonwoo berpikir dan sadar kalau ia tahu seseorang yang mungkin tahu dimana Mingyu berada. Memang ada resikonya, dan juga besar kemungkinannya orang itu tidak ada di tempat yang Wonwoo tahu, atau orang itu tidak tahu dimana Mingyu, tapi Wonwoo mengambil kesempatan itu, dan mulai berjalan menuju tempat tersebut. Ketua Kelas yang canggung dan kaku itu mulai berjalan ke tempat dimana ia dipukuli kemarin. Hatinya terus dipenuhi keragu-raguan selama di perjalanan, dan bermaksud untuk memutar balik. Tapi, ketika ia sudah dekat dengan jalan gang itu, ia merapat di tembok, seperti mata-mata kuno, yang membuatnya mendapatkan pandangan aneh dari orang-orang yang berjalan melewatinya. Wonwoo mengintip ke gang tersebut, berusaha sehati-hati mungkin. Gang itu benar-benar terlihat berbeda ketika terkena sinar matahari, dan tidak terlihat semenyeramkan tadi malam. Tapi, ketika Wonwoo melihat dengan hati-hati, ia melihat geng berandalan yang kemarin memukulinya sedang duduk berkumpul di atas kardus kosong, dengan ketua mereka duduk di tengah-tengah kerumunan itu. Di kanan dan kirinya ada 2 sampai 3 remaja yang memasang ekspresi dingin, dan membuat Wonwoo ketakutan. Ia baru akan menjauh dari gang itu, meyakinkan dirinya sendiri kalau ia bisa menemukan Mingyu dengan cara lain, ketika tiba-tiba,
"YA!" Sebuah suara dari gang itu terdengar berteriak, membuat Wonwoo melompat karena terkejut, lalu membeku.
"Fu~~ck."
Wonwoo berbisik pelan. Lalu ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat mendekatinya. Tubuhnya ditarik dengan kasar oleh seorang pria, yang membalikkan badannya dan membawanya ke sekumpulan berandalan itu. Wonwoo memberontak sedikit pada awalnya, lalu ia menyadari itu sia-sia dan hanya pasrah saat ia dibawa mendekat ke arah pria yang memukulinya kemarin. Wonwoo berdiri di depan sekumpulan berandalan itu, suasananya menegangkan, dan ia merasakan keringat mengucur semakin deras di telapak tangannya. Dengan cepat, ia sudah dikelilingi oleh 4 orang, tapi lalu mereka dibubarkan oleh ketua mereka, ketika ketuanya berkata,
"Ya~! Kids, jangan sentuh dia." Ia menatap mata Wonwoo, dan menaikkan alisnya, "Dia milik Mingyu."
Saat ketua mereka menyebutkan nama Mingyu, keempat orang yang mengelilinginya langsung mundur, dan kembali duduk di tempat mereka semula, di sekitar ketua mereka. Wonwoo ingin berbicara, karena ia tidak suka dengan apa yang dikatakan ketua geng mereka, seakan-akan ia dimiliki oleh Mingyu.
"Aku bukan miliknya... meskipun aku tidak akan keberatan-" Wonwoo menggelengkan kepalanya, dan mengenyahkan pikiran itu.
"Jadi. Apa yang membawamu kesini?" tanya ketua mereka.
"U-Uhm. Aku hanya ingin bertanya apakah kau tahu dimana Mingyu berada biasanya pada jam segini?" Wonwoo bicara dengan sopan, dan formal, membuat pria di depannya tertawa. Ia memajukkan duduknya, menumpukkan sikunya di lututnya dan bertanya,
"Dan ada hubungan apa, pecundang sepertimu, dengan salah satu lelaki terkuat di daerah sini. Hm?" tanyanya lagi.
Wonwoo baru akan membela dirinya sendiri, tapi karena ia baru dipukuli berkali-kali di bagian wajahnya, pengelihatannya sedikit mengabur, jadi ia harus memakai kacamatanya hari ini. Ia dengan canggung berdehem, dan membenarkan letak kacamatanya.
"A-aku harus memberikan sesuatu untuknya dari sekolah." Wonwoo sedikit memutar balikkan kebenarannya. Tapi secara teknis, ia memang harus bertemu dengan Mingyu karena urusan sekolah.
"Jadi, kau bukan temannya?" Sang ketua bertanya. Wonwoo tidak tahu harus menjawab apa,
"Well, uhm. Sepertinya... aku hanya kenalannya saja." jawab Wonwoo.
"Benar! Tidak mungkin Mingyu mau berteman dengan seseorang selemah dan seculun dia," ucap seseorang yang duduk di belakang.
"Yeah! Mingyu-ssi tidak akan pernah mungkin. Semua teman-temannya sama seperti dia... kuat, dan mematikan." Suara lain menambahkan.
"Diam, boys." Ketua mereka berkata sambil menahan tawanya. Ia menatap Wonwoo dari ujung kepala sampai ujung kaki, yang sedang berdiri canggung di depannya menunggu jawaban.
"Karena Mingyu, menjemput pria ini sendirian tadi malam." Ia berkata sambil tersenyum miring.
"Tunggu, benarkah?" seorang remaja di sebelah Wonwoo bertanya, terkejut.
Ketua mereka hanya mengangguk geli.
"Tunggu, tapi... Mingyu tidak pernah muncul lagi di sekitar sini setelah apa yang terjadi pada Seok-" Sebuah suara memulai, tapi lalu diinterupsi ketika ketua geng mereka mencengkeram tas remaja yang ada di sebelah kanannya, dan menyeretnya ke depan pria yang sedang berbicara.
"Kau tahu kau tidak seharusnya menyebutkan nama itu." Ketua mereka berkata dengan nada yang serius, dan menatap mata remaja yang ketakutan itu.
Wonwoo masih berdiri di antara mereka semua, dengan canggung. Ketua mereka, setelah melemparkan tas pada salah satu anggotanya, berbalik ke arah Wonwoo lagi.
"Aku tidak yakin apakah dia ada di sana, tapi biasanya dia ada di markasnya. Tempatnya di sebuah bangunan yang sudah tidak digunakan, di persimpangan Maporo dan Daebangro." Wonwoo mengangguk setelah mengingat lokasinya, lalu membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Saat ia mulai berjalan keluar gang itu, sang ketua geng itu berteriak ke arahnya,
"Aye Kid!" Wonwoo berbalik,
"Kau tidak seharusnya datang kembali ke sini sendirian. Ini bukan tempat yang aman untuk orang sepertimu. Di jalan ini, hanya orang-orang seperti Mingyu-mu-lah yang bisa bertahan."
Wonwoo menatap ke arah tanah di bawahnya, dan memikirkan apa yang baru saja dikatakan pria itu kepadanya. Ia lalu memiringkan kepalanya sedikit, bingung, dan berbicara pelan pada dirinya sendiri sambil berjalan menjauh,
"Mingyu-mu? Tapi Mingyu bukan milikku..."
Ketua Kelas itu berjalan menuju ke lokasi yang diberitahu ketua berandalan tadi. Karena jalannya cukup jauh, ia memiliki banyak waktu untuk berpikir. Hal utama yang ada di pikirannya adalah apa yang akan ia katakan pada Mingyu untuk meyakinkannya untuk kembali ke sekolah. Tapi, hal lain yang melintasi pikirannya adalah nama yang dianggap 'tabu'. Ia hanya mendengar suku kata pertamanya, karena sisanya tidak bisa ia dengar. Seok? Wonwoo berpikir sebentar, dan bertanya-tanya apakah itu nama sahabat Mingyu. Pikirannya yang bercabang sampai pada sebuah kesimpulan ketika ia menyadari kalau ia sudah bisa melihat bangunan di depannya. Ia lanjut berjalan, dan sekarang berdiri di bangunan yang sudah tidak dipakai itu. Ia baru akan mengetuk, ketika ia melihat pintunya sedikit terbuka. Karena rasa penasaran, Wonwoo memutuskan untuk menempelkan telinganya di dekat pintu. Ia mendengar 2 suara yang terdengar tidak asing sedang berbicara. Setelah memastikan kalau memang ada orang di dalam, Wonwoo mendekat dan mengintip melalui celah di pintu. Ia bisa mengenali Mingyu yang sedang tiduran di atas sofa, dan ia sedang berbicara dengan seseorang. Menyesuaikan posisinya supaya bisa mlihat lebih jelas, Wonwoo menyadari kalau orang yang sedang berbicara dengan Mingyu adalah Minghao. Sejujurnya, Wonwoo merasa sedikit cemburu karena Minghao ada bersama Mingyu, dan mungkin mereka sudah ada disini sejak pergi dari sekolah. Karena ia sudah tahu siapa yang ada di dalam, ia memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka setelah mendengar namanya disebut.
"Bagaimana dengan Wonwoo?" Minghao bertanya.
"Ada apa dengannya?" Mingyu bertanya meminta penjelasan.
"Apakah dia tidak mengingatkanmu dengan... kau tahu... Seokmin?"
Lalu ada keheningan yang lama. Sekitar 2 menit sebelum Wonwoo mendengar suara Minghao dipenuhi oleh rasa bersalah,
"Maaf..."
Mingyu berdehem dan menjawab,
"Tidak apa-apa."
"Tapi, aku penasaran. Bagaimana bisa seseorang seperti Wonwoo bisa mendapatkan perhatianmu?" Minghao bertanya, dan sekali lagi Mingyu tetap diam.
Wonwoo mendengarkan dengan hati-hati apa yang akan Mingyu katakan, karena sebenarnya ia juga penasaran. Tapi, bukan berarti Wonwoo menganggap Mingyu memang memberinya perhatian lebih, ia hanya penasaran kenapa setelah 3 tahun mereka berada di sekolah yang sama, pria misterius itu tiba-tiba berbicara padanya. Karena sejujurnya, ia merasa sedikit kesal dengan cara orang-orang memberinya label seperti itu. Apa yang mereka maksud ketika mereka berkata "seseorang seperti dia"?
"Ayolah, bro. Dia sama sekali tidak ada kesamaannya denganmu.. Faktanya, dia benar-benar seperti kutub yang berlawanan denganmu!" dan sang Ketua Kelas mendengar suara tawa dari Mingyu setelahnya.
"Oke, dengar. Sebagai perbandingannya, kalau Wonwoo adalah musim dingin, kau seperti musim panas... atau kau bisa menukarnya karena Wonwoo juga sedikit hot, dan kau dingin as fuck." Minghao berkata, membuat Wonwoo tertawa sedikit. Wonwoo mendengar Minghao berkata "aw" pelan dan ia menyimpulkan kalau Mingyu memukul temannya sebagai jawaban. Setelah berdiri di sana selama 3 menit, Wonwoo memutuskan untuk mengetuk pintunya. Wonwoo menarik napas, dan menahan napasnya selama ia mengetuk pintu itu 3 kali, yang dibukakan oleh Minghao.
Karena kebiasaan, Wonwoo membungkukkan badannya dan mengucapkan salam, membuat Minghao tertawa keras.
"Siapa itu?" Mingyu bertanya, kepada Minghao, tapi ia tidak berdiri dari sofanya.
"Kekasih barumu~" Minghao menggoda, dan Mingyu melemparkan bantal ke wajahnya.
Wonwoo berjalan masuk, hampir menyeret langkahnya karena rasa canggung dan tidak nyaman yang ia rasakan di sana. Mingyu melihat pria yang lebih pendek, dan menegakkan posisinya.
"Apa yang kau lakukan disana?" Mingyu bertanya pada Wonwoo, dengan nada yang sedikit kesal.
"Aku kesini untuk membawamu kembali ke sekolah, untuk menjelaskan ke Kepala Sekolah apa yang sebenarnya terjadi. Aku sejujurnya tidak berpikir kalau kau pantas mendapatkan hukuman skors karena Jun yang pertama kali melayangkan pukulan." Jelasnya.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini? Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" Mingyu melanjutkan interogasinya.
Sedangkan, Minghao menyelinap keluar markas mereka, dan mulai tertawa-tawa.
Mingyu dan Wonwoo berada di dalam dan menatap ke arah pintu, lalu kembali menatap satu sama lain. Mingyu menaikkan alisnya, mendorong Wonwoo untuk segera menjawab,
"Oh, uh. Aku kembali ke tempat orang-orang yang kemarin, kau tahu, di gang sempit itu, dan mereka memberitahuku-" Mata Mingyu melebar. Ia tiba-tiba mencengkeram bahu Wonwoo,
"Kau kembali kesana?" Mingyu bertanya, kekhawatiran terdengar dari suaranya. Sebelum Wonwoo bisa menjawab, Mingyu lagi-lagi menginspeksi tubuhnya. Mingyu dengan cepat menatap Wonwoo, ujung kepala sampai ujung kaki, dan seperti malam sebelumnya, ia meraih wajah Wonwoo, dan menggerakannya ke kanan dan ke kiri, mencari luka ataupun memar. Cara Mingyu memegang dan menyentuh wajah Wonwoo, dan cara Jun melakukan hal yang sama, benar-benar terasa berbeda. Tangan Jun menyentuh wajahnya dengan tegas. Tapi, Mingyu menyentuh wajahnya seakan-akan ia terbuat dari gelas kaca, yang jika ia sentuh terlalu keras, bisa membuatnya pecah. Rasanya seperti ia sedang melindungi sesuatu yang rapuh agar tidak pecah.
"Mereka tidak menyakitiku," Wonwoo meyakinkan Mingyu dengan tawa yang terdengar canggung. Mingyu mencengkeram bahunya lagi, dan menatap matanya.
"Kau, dengar aku. Kau tidak boleh kembali lagi kesana, oke? Tempat itu bukan tempat untuk orang-orang sepertimu... Kau bisa benar-benar terluka."
Wonwoo mendengarnya lagi, "orang sepertinya.", tapi ia bisa merasakan kekhawatiran dari suara Mingyu, dan melihat sedikit ketakutan di matanya. Mingyu melepaskan Wonwoo, dan kembali ke posisi santainya di sofa. Wonwoo tetap berdiri, dan dengan canggung berkata,
"Jadi... apa kau akan kembali?"
Mingyu mengalihkan pandangannya dari manga yang sedang dibacanya,
"Jangan tersinggung, tapi... kenapa kau peduli?"
"Aku juga ingin tahu kenapa." Wonwoo berkata dalam hati.
"Uh, well... kau teman sekelasku, dan-"
"Hentikan omong kosong itu."
Wonwoo terlihat sedikit terkejut, lalu melanjutkan,
"Oke, sebenarnya, aku hanya berpikir kau tidak seharusnya diskors karena Jun yang memulainya."
Mingyu tertawa, dan Wonwoo menambahkan,
"Oh dan aku sedikit marah karena Jun menuduhmu melakukan ini padaku. Dan, aku sudah memberitahunya kalau bukan kau yang melakukannya, jadi..."
Mingyu sekali lagi menatapnya. Ia menatap Ketua Kelas yang masih berdiri, dengan mata yang penuh keingin tahuan.
"Wow, aku tidak pernah berpikir kalau kau bisa marah padanya. Maksudku, dia terlihat seperti kekasihmu atau sejenisnya." Mingyu berkata.
"Dia bukan kekasihku, dia hanya sahabatku." Wonwoo berkata, membela dirinya.
Wonwoo berpikir apakah dia seharusnya memberitahu Mingyu yang sebenarnya, dan ia berkesimpulan kalau ia bisa memberitahunya.
"Well, sesuatu terjadi diantara kami dan segalanya jadi terasa canggung."
Mingyu menatap Wonwoo sebentar. Tiba-tiba, ia menjentikkan jarinya, dan menunjuk Wonwoo sambil berkata,
"Ah." sebuah senyum jahil muncul di wajahnya, "Dia menciummu, kan?"
Mata Wonwoo melebar, dan pipinya bersemu merah. Mingyu mulai tertawa di sofa saat melihat reaksi yang dikeluarkan Wonwoo.
"B-bagaimana kau tahu?" Wonwoo tergagap.
"Kalian berdua pada dasarnya berkencan. Siapapun bisa tahu itu, kecuali kalian berdua, kalau kalian memiliki perasaan satu sama lain."
"Itu tidak benar." Wonwoo membantah.
Mingyu berdiri dari kursi dan mulai berjalan ke arah Wonwoo dengan kepala yang dimiringkan,
"Tolong, jelaskan."
Wonwoo tanpa sadar menjauh sedikit demi sedikit ketika Mingyu semakin mendekat. Mereka akhirnya berhenti bergerak ketika punggung Wonwoo sudah menyentuh dinding, dan ia hanya memiliki sedikit ruang untuk bergerak.
"Well, uh. Aku tidak punya perasaan seperti itu untuknya, tapi dia membuat segalanya jelas, maksudku, bagaimana perasaannya padaku." Ia menjelaskan, dengan sederhana.
"Ah... jadi, kau menolaknya." Mingyu mengambil kesimpulan.
"Tunggu- kalau begitu... kenapa kau memakai pakaiannya kemarin?" Lalu mata Mingyu melebar. Wonwoo memiringkan kepalanya sedikit, lalu menyadari apa yang dipikirkan Mingyu.
"Oh Tuhan, tidak! Kami tidak- Ya Tuhan, tidak. Aku hanya sedang ada di rumahnya, menonton sesuatu- well, anime lebih jelasnya, lalu dia menciumku." Wonwoo menjelaskan. Mingyu mengangguk, tapi tidak berpikir kalau itu kebenaran seluruhnya.
"Jadi, kau dari sana kemarin." Mingyu menambahkan.
"Yeah," Wonwoo menjawab.
"Tapi, kenapa kau melarikan diri?" yang lebih tinggi bertanya.
"Aku hanya merasa... terkhianati, dalam beberapa hal. Aku juga merasa buruk karena tidak sadar akan perasaannya. Tapi, dari semua itu, aku pikir aku merasa sangat tidak nyaman mencium seseorang yang tidak kusukai, ketika aku pikir aku mulai memiliki perasaan untuk orang lain." Wonwoo menjawab, tidak yakin pada dirinya sendiri.
Mingyu yang hanya berjarak beberapa inci dari Wonwoo, menatap mata Wonwoo dan tersenyum miring,
"Aku."
.
.
.
.
.
#5 Declaration
Tidak bisa memberikan respon, Wonwoo hanya berdiri di sana, terperangkap oleh pria tampan tinggi yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Ketua Kelas tetap diamn, mulutnya terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Ia tidak memutuskan kontak matanya dengan Mingyu, yang matanya juga hanya terfokus pada mata Wonwoo. Mata Wonwoo dipenuhi rasa malu, dan sedikit khawatir, dan ia merasa pipinya menghangat seakan semua darahnya berkumpul di pipinya. Wonwoo ingin membela dirinya sendiri, dan mencoba berbicara, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar. Setelahnya, senyuman miring Mingyu berubah menjadi senyuman kekanak-kanakkan, Mingyu menjauh dari Ketua Kelas itu. Mingyu mulai tertawa sambil berjalan kembali ke sofanya, dan mengambil manganya lagi.
"Sialan, dia hanya menggodaku." Wonwoo mengutuk dalam hati sambil memutar bola matanya,
Mingyu melihat itu dan terkekeh.
"Ya, tenang saja. Aku hanya bercanda." Ia meyakinkan dari sofanya.
Wonwoo berdehem, dan tertawa canggung,
"Duh. Kenapa juga aku harus menyukai seseorang sepertimu?" Mingyu mengalihkan pandangannya dari manganya ketika mendengar perkataan Wonwoo.
"Apa maksudnya itu?"
Wonwoo hanya mengulangi apa yang sudah ia dengar seharian ini.
"Kita sama sekali tidak punya kesamaan. Kita adalah kutub yang berlawanan, jadi tentu saja kau bercanda!" Wonwoo berkata, tidak benar-benar percaya pada ucapannya, tapi jika apa yang ia katakan bisa meluruskan segala kecurigaannya, ia tidak masalah sedikit berbohong.
Mingyu hanya mengangguk dan berkata,
"Jadi, tipemu adalah orang yang mirip denganmu. Cocok denganmu, dan memiliki banyak kesamaan denganmu." Mingyu berasumsi.
Untuk lebih menjauhkan Mingyu dari kesempatan untuk mengetahui perasaan Wonwoo yang sebenarnya, yang Wonwoo sendiri juga belum yakin, ia dengan percaya diri mengangguk dan berkata,
"Mhm!"
Mingyu tertawa,
"Jadi, beritahu aku lagi kenapa kau menolak Junhui?"
Wonwoo baru akan menjawab,
"Maksudku, kalian berdua terlihat cocok bersama. Seperti yang kukatakan, kalian berdua pada dasarnya berkencan. Yang tidak terjadi hanyalah ciuman... tapi, itu juga tidak berjalan lancar, kelihatannya." Mingyu menambahkan.
Wonwoo lalu menjawab dengan alasan standar,
"Well, ada seseorang yang lain."
Ia berkata, berharap meningkatkan rasa penasaran Mingyu. Apa itu ia lakukan untuk membuat Mingyu cemburu? Sebenarnya, Wonwoo juga tidak tahu, tapi ia terlalu menikmati situasi ini. Pikirannya bercabang tentang apakah ia benar-benar menyukai pria ini, Jun juga berada di salah satu pikiran bercabangnya, yang menyebabkannya menyebutkan seseorang, yang bahkan tidak ada.
Mingyu tidak bereaksi, dan Wonwoo sedikit merasa kecewa. Mingyu hanya menganggukan kepalanya, dan tidak menggali lebih dalam tentang topik "seseorang" itu. Keheningan yang canggung memenuhi ruangan, yang memberikan Wonwoo waktu untuk melihat-lihat sekitarnya. Bangunan itu sudah tidak digunakan, tapi strukturnya masih bagus. Di tengah-tengah ruangan terdapat sofa, dan tepat di atasnya sinar matahari langsung. Di sekitar ruangan itu terdapat banyak benda, pikir Wonwoo. Ada pemukul baseball di ujung, bola basket di dekat sofa. Tapi juga ada rak buku di belakang Mingyu, yang dipenuhi oleh manga. Sejujurnya, "markas" itu terlihat seperti kamar anak remaja pada umumnya. Surprisingly, tidak ada poster gadis seksi, yang membuat Wonwoo merasa sedikit tenang. Tapi, ada sebuah foto yang menarik perhatiannya. Di rak buku terdapat sebuak figura foto, dan semakin Wonwoo mendekat, ia melihat kalau itu adalah foto sekumpulan anak laki-laki. Mingyu masih membaca, jadi dia tidak menyadari Wonwoo berjalan ke arah foto itu. Wonwoo mengambil figura itu, dan mengamatinya. Ia menyadari beberapa wajah yang ada di foto itu. Mingyu terlihat benar-benar bahagia di foto itu, dan sedikit lebih muda... Mingyu terlihat masih polos, dan bahagia, pikir Wonwoo. Ia menyadari Mingyu melingkarkan tangannya di leher seseorang, dan juga ada tangan lain di sekitar lehernya. Tangan itu menghubungkan Mingyu dengan pria di sebelah kirinya, yang terlihat ceria dengan senyum lebar. Matanya hampir tidak terlihat karena wajahnya yang kelewat bahagia. Mingyu dan anak laki-laki itu terlihat sangat dekat. Mata Wonwoo beralih ke sekitar foto itu, dan ia menyadari wajah lain, Minghao. Ada sekitar 11 anak laki-laki di foto itu.
"Ya, siapa orang-orang ini?" Wonwoo bertanya, masih menggenggam foto itu.
Mingyu mengalihkan pandangannya ke arah Wonwoo. Matanya menyusuri wajah Wonwoo, lalu ke arah tangannya, dan ia melihat apa yang Wonwoo maksud.
"Ah~." Mingyu berkata, dan senyum sedih muncul di wajahnya. Wonwoo memiringkan kepalanya penasaran,
"Apa ini gengmu?"
Mingyu tertawa dan berkata,
"Well, ya, orang-orang biasa menyebut kami begitu... Tapi, kami lebih seperti saudara... Kami kadang berkelahi, tapi, itu normal, kan, untuk remaja seusia kita?"
Wonwoo lanjut menanyakan pertanyaan.
"Apa kalian biasa berkumpul disini?"
"Ini adalah tempat biasa kami bertemu, jadi, ya, kami banyak menghabiskan waktu disini." jawabnya.
"Apa kau ketuanya?"
Mingyu tertawa lagi,
"Well, sepertinya kau bisa menganggapnya begitu... Minghao juga kadang menjadi pemimpinnya."
Wonwoo baru akan bertanya tentang lelaki di sebelah Mingyu, tapi untungnya ia memutuskan kalau ini bukan saat yang tepat dan menanyakan pertanyaan lain,
"Jadi... dimana mereka sekarang?"
Mingyu tersenyum dan menunjuk jam yang ada di dinding.
"Sekolah, Tuan Ketua Kelas."
"Oh yeah~."
Lalu, ia ingat kalau ia berlari keluar kelas saat jam makan siang. Ia juga ingat alasan utamanya datang ke tempat ini, dan mengambil resiko kembali ke gang kemarin. Sambil melihat jam, ia lalu menyadari kalau ia sudah membuang waktu selama satu jam disini, dan belum mengatakan apa maksud sebenarnya datang kesini.
"Ya. Ayo kembali ke sekolah."
Mingyu menatap Wonwoo dan menaikkan alisnya.
"Kenapa?"
Wonwoo memutar bola mataya,
"Ya. Aku sudah memberitahumu tadi, ayo kita jelaskan situasi sebenarnya pada Kepala Sekolah!"
Ketua Kelas berkata, suaranya semakin meningkat di akhir kalimatnya. Ia juga mulai memukuli kepala Mingyu pelan dengan figura foto itu.
"Ah A-ah, YAH!" Mingyu berkata sambil melindungi dirinya sendiri. Wonwoo tertawa melihat yang lebih tinggi, yang dikenal sebagai orang yang kuat, dan seorang berandalan sekolah, melakukan itu.
"Ya, Wonwoo-ya. Berhenti."
Korban pukulan Wonwoo berkata, sambil tertawa kecil, yang membuat Wonwoo tidak ingin berhenti. Ketua Kelas itu melanjutkan acara memukuli Mingyu,
"Berhenti~~. Figura itu berharga." ia berkata, mengeluh.
Wonwoo menjawab,
"Aku akan berhenti kalau kau berdiri dari sofa itu."
Mingyu mengangkat tangannya, menyerah dan berkata,
"Oke, oke." Ia lalu bangkit.
Wonwoo masih memegangi figuranya di tangannya, bersiap untuk meneruskan memukuli Mingyu jika Mingyu kembali duduk. Tapi, Mingyu tidak melakukannya dan melompat dari sofa, mendarat tepat di depan Wonwoo, dan mengambil foto itu. Ia menaruhnya ke tempat semula, dan sekali lagi, senyum sedih muncul di wajahnya. Mata Wonwoo ikut sedih melihat ekspresi Mingyu, tapi lalu ia mengerutkan keningnya dan menggeretakan giginya ketika Mingyu menghela napas setelah menaruh figura itu, naik lagi ke atas sofa, dan melanjutkan membaca manga. Sejak Wonwoo datang dari sekolah, Wonwoo masih memakai tasnya, dan ia membuka resletingnya, mengeluarkan tempat pensilnya dan melemparkannya ke arah Mingyu. Tempat pensil itu tepat mengenai manga, membuatnya terjatuh di atas wajah Mingyu.
"Aku bilang, ayo pergi."
Mingyu mengambil buku dari wajahnya, memasang wajah yang kelihatan terganggu,
"Ya! Aku jadi lupa membaca sampai halaman berapa."
"Ayo~" Wonwoo berkata, ia juga mulai jengkel saat ini.
"Kenapa kau peduli~" Mingyu mengejek, dengan nada yang sama dengan nada yang digunakan Wonwoo.
"Karena aku Ketua Kelas. Sekarang, cepat angkat bokongmu dari sofa itu dan pergi." Wonwoo memerintah.
Mingyu tersenyum licik,
"Kau tidak bertingkah seperti Ketua Kelas selama 2 bulan sebelum ini. Kemana kau ketika aku membolos kelas sebelum-sebelum ini, hmm?" Mingyu bertanya, dan Wonwoo tidak membalas, karena sebenarnya ia juga tidak tahu jawabannya.
"Yeah, tapi sekarang aku menyukaimu, duh." Wonwoo berkata dalam hati, ia tidak akan pernah mengatakan itu keras-keras, karena ia juga belum sepenuhnya mengakui perasaan itu.
"Plus, sekolah sudah akan berakhir dalam 10 menit, tidak ada gunanya. Jadi, jika kau datang kesini hanya untuk itu, kau bisa pergi sekarang." Mingyu berkata sambil menunjuk ke arah pintu.
Wonwoo tidak mengatakan apapun, selain merencanakan sebuah rencana di kepalanya. Ia menjadi yang terbaik di kelasnya bukan karena keberuntungan semata, dan ia memutuskan untuk menggunakan otaknya dalam situasi ini. Ia menginat perjalanan dari sekolah ke sini kira-kira membutuhkan waktu 20 menit, tapi ia juga berhenti sebentar di gang sempit itu. Dan juga, setelah hidup di kota yang sama selama 18 tahun, Wonwoo tahu semua jalan di sini, jadi ia sudah menemukan rute tercepat dari sini menuju sekolah. Jadi, jika perjalanannya menghabiskan waktu selama 20 menit dengan berjalan, kira-kira berapa waktu yang ia butuhkan jika ia menempuh kecepatan orang yang "sedang berlari dari kehidupannya.". Wonwoo berpikir kalau sekolah sudah selesai ketika mereka sampai di sana, tapi tidak apa-apa, karena para guru semuanya masih berada di kantor staf, dan mereka tidak mungkin sedang mengajar, yang membuatnya jauh lebih mudah untuk mencari waktu untuk menjelaskan. Tujuan Wonwoo bukan untuk membuat Jun berada dalam masalah, ia hanya ingin memperjelas semuanya, karena Mingyu tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan padanya. Setelah membuat kesimpulan kalau rencananya punya kesempatan sukses yang besar, Wonwoo memutuskan untuk melaksanakan rencananya.
"Baik." Wonwoo memulai, tapi tidak bergerak sedikitpun, ia tetap berdiri seperti patung di dekat rak buku. Ia melihat foto yang berisi 11 lelaki remaja itu, dan berpikir,
"Aku mengandalkanmu."
Wonwoo lalu menatap Mingyu,
"3", ia menghitung mundur dalam hati,
Mingyu hanya menatap Wonwoo yang masih berdiri,
"2." Wonwoo lanjut menghitung, mempersiapkan dirinya. Ia tidak memutuskan kontak mata dengan Mingyu. Ia menghela napas dalam,
"1."
Lalu, dengan gerakan cepat, Wonwoo meraih figura foto itu dari rak buku, dan berlari secepat mungkin ke arah pintu. Mingyu melihatnya dan melebarkan matanya karena terkejut. Ia mengutuki Wonwoo pelan, bangkit dari posisi santainya, dan mulai berlari mengejar si Ketua Kelas. Saat ini, Wonwoo tidak memiliki waktu atau ketertarikan dalam olahraga, tapi jangan salah paham, ia lumayan hebat dalam hal itu. Terlebih dalam hal berlari. Wonwoo berlari keluar markas, dan berjarak beberapa jarak darinya, Mingyu juga ikut keluar dari pintu. Lalu, pengejaran pun dimulai. Kemampuan olahraga Wonwoo mungkin memang suatu keuntungan, tapi kaki Mingyu yang panjang hampir menyusulnya. Mingyu juga menyukai olahraga basket, jadi kecepatannya setara dengan Wonwoo. Wonwoo melarikan diri ke sekolah, menggenggam figura foto yang penting itu di tangan kanannya. Wonwoo menengok ke belakang sesekali untuk memastikan Mingyu masih mengikutinya.
"Foto ini pasti sangat penting, huh?" Ia berpikir sambil menatapnya saat berlari. Mereka semakin mendekat ke sekolah, dan Wonwoo memutuskan untuk mempercepat larinya. Wonwoo berlari kencang melewati jalan sempit yang dipenuhi para berandalan.
"Hei! Lihat, si peduncang itu lagi!"
Tapi, setelah sosok Wonwoo melewati jalan itu, Mingyu di belakangnya menyusul. Sekumpulan berandalan itu menatap pemandangan unik di depan mereka, seorang pembuat masalah paling terkenal di daerah mereka, sedang mengejar seorang kutu buku. Asumsi-asumsi mulai tercipta di antara mereka,
"Aku penasaran apa yang si pecundang itu lakukan sampai membuat Mingyu marah."
"Tapi, si kutu buku itu tersenyum. Tidak ada yang tersenyum saat sedang dikejar Mingyu-ssi."
"Benar... tapi, kenapa Mingyu mau menyia-nyiakan waktunya dengan orang seperti itu?"
Dua orang yang berlari itu semakin mendekat ke sekolah, dan Mingyu mulai berhasil mengejar Wonwoo. Bangunan sekolah akhirnya terlihat, dan ada beberapa kumpulan siswa yang berjalan menjauh. Wonwoo menebak kalau sekolah baru saja selesai. Wonwoo terus berlari, dan Mingyu menyusul di belakangnya. Ada beberapa teriakan datang dari sekelompok siswa-siswa, saat mereka melihat sang Ketua Kelas dengan senyum di wajahnya, sedang dikejar oleh seseorang yang menurut mereka berbahaya. Jun, yang sedang berjalan dengan Minghao dan sedang mengobrol melihat sahabatnya melewatinya. Dan di belakangnya ada seseorang yang ia benci. Minhao juga melihatnya, dan mulai tertawa seperti anak kecil, ketika ia melihat kecemburuan di mata Jun.
"Ya, kau bertingkah terlalu jelas." Minghao berkata, membuat Jun bingung, yang membuat anak baru itu tertawa semakin keras.
Pasangan itu sekarang melanjutkan kejar-kejaran mereka di dalam sekolah. Wonwoo berlari menuju ruang staff. Ketua Kelas itu membanting pintu, membuat guru-guru yang berada di dalam terkejut. Wonwoo membungkuk sopan, dan memaksakan senyuman kepada semua gurunya. Ia mendengar suara kaki yang semakin mendekat, jadi matanya mulai berkeliling ke ruangan itu, mencoba menemukan guru yang memberi Mingyu hukuman, Pak Hyuk. Wonwoo menemukannya, dan matanya melebar lega dan senang, berterima kasih karena gurunya itu masih ada di sana, dan mulai berjalan ke arahnya. Mingyu berlari masuk ke ruangan itu, mendapatkan tatapan tajam dari gurunya, yang membuatnya langsung membungkuk sopan. Ia melihat Wonwoo, dan dengan marah mempercepat langkahnya mendekat. Ia lalu menyadari siapa yang sedang berbicara dengan Wonwoo, lalu mengalihkan pandangannya, tidak ingin berurusan dengan ini, tapi sudah terlambat.
"Pak Hyuk," Wonwoo berkata dengan nada sopan.
Mingyu mencoba menarik tangan Ketua Kelas untuk menghentikannya, tapi Wonwoo melepaskannya.
"Ah, Wonwoo-ssi. Bagaimana kabar Siswa Teladan kita?"
Mingyu memutar bola matanya saat mendengar gelar bergengsi itu.
"Sebenarnya, Pak, saya ingin bicara pada anda tentang skors yang anda berikan pada Mingyu." Wonwoo mengabaikan pertanyaan itu, dan menyuruh pria lebih tinggi untuk berdiri di sebelahnya.
"Ah, ya." Gurunya mengamati Mingyu, dari atas ke bawah. "Mingyu-ssi." ia berkata dengan sedikit ketidak setujuan di suaranya.
"Ya. Dia-"
"Kau tidak harus mengatakannya untukku."
Wonwoo baru akan menceramahi Mingyu, memberitahunya kalau ia harus menjelaskan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri, ketika Mingyu melanjutkan bicaranya,
"Pak, pukulan yang anda lihat dari saya hari ini hanyalah bentuk pembelaan diri. Junhui memukul saya pada awalnya, dan saya hanya membalasnya. Saya minta maaf." Mingyu berkata, membungkuk sopan.
Wonwoo terkejut, karena Mingyu akhirnya mau menjelaskan situasi yang sebenarnya. Ia bahkan tidak mau repot-repot melakukan itu saat mendapat hukuman waktu itu. Dan, ia bahkan tidak repot-repot memberitahu Jun kalau Mingyu tidak memukulnya. Gurunya melipat tangannya di atas meja yang dipenuhi dengan kertas ujian, karena ia sedang memeriksanya.
"Begitu. Mingyu-ssi, kau kembali ke sekolah, berarti ini menunjukkan kalau kau memang ingin tetap masuk sekolah.
Mingyu harus menahan tawanya mendengar itu. "Ya, tentu. Aku sampai ingin mati rasanya karena ingin tetap ke sekolah." ia berkata dalam hati.
"Tapi, kau masih terlibat dalam kekerasan. Kekerasan bukanlah solusi, Mingyu." Gurunya berkata. Mingyu sudah terlalu sering mendengar kalimat itu, tapi ia masih menganggukkan kepalanya.
"Aku akan memberi hukuman hari ini, dan kau bisa kembali ke sekolah besok. Aku akan bicara pada Kepala Sekolah. Mingyu-ssi, kau bisa menungguku di kelas 112 dan aku akan segera kesana."
Mereka berdua membungkuk dan keluar dari ruangan itu. Dua orang yang saling berlawanan watak itu berjalan di koridor yang sepi, bersebelahan. Mereka tidak bicara, tapi Wonwoo menikmatinya. Tiba-tiba, Mingyu mengulurkan tangannya, ke arah Wonwoo. Tidak tahu harus melakukan apa, Wonwoo dengan ragu-ragu menaruh tangannya di atas tangan Mingyu. Mingyu memberikan tatapan bingung, dan berkata,
"Fotonya."
Wonwoo dengan cepat menarik tangannya dari tangan Mingyu, dan mengambil figura foto itu, bingung dan malu. Wonwoo menaruh foto itu di tangan Mingyu, dan tetap diam. Mingyu menerima foto itu, dan menutup mulutnya ketika ia mulai tertawa. Wonwoo memukul lengan Mingyu, dan mulai berjalan lebih cepat, meninggalkan Mingyu di belakang. Kebetulan, Wonwoo meninggalkannya di depan kelas 112, dimana Mingyu harus tetap tinggal. Jadi, ketika Wonwoo masih berjalan di depannya, Mingyu memanggilnya,
"Wonwoo-ya!" Wonwoo berbalik ragu-ragu, karena ia tidak mau Mingyu melihat wajahnya yang memerah. Tapi, Wonwoo tetap berbalik, dan saat melihat pipinya, Mingyu tertawa.
"Apa?!" Wonwoo berkata, malu, dan yang ia inginkan hanya pergi dari situ.
Mingyu tersenyum manis,
"Kau terlihat lucu memakai kacamata."
Mata Wonwoo melebar karena malu, dan langsung membalikan wajahnya sebelum pipinya yang sudah merah semakin memerah. Ia mendengar Mingyu tertawa, dan suara pintu terbuka.
"Sampai jumpa besok!" Mingyu menambahkan,
Lalu, Wonwoo mendengar pintu kelas 112 tertutup. Ia mulai berjalan lebih cepat, hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan mengejar ketertinggalannya karena membolos untuk bertemu Mingyu. Sambil berjalan menjauh, senyum malu muncul di wajahnya.
"Sampai jumpa besok, huh?"
.
Keesokan harinya, Wonwoo masuk ke kelas dengan senyuman di wajahnya. Ia melewati meja Jun dan Minghao, memberikan Jun senyum canggung dan melambai sebentar. Jun membalasnya dengan senyuman lebar, dan juga lambaian tangan. Wonwoo berjalan ke kursinya, dan mulai tersenyum dalam hati ketika ia melihat kalau bangku di sebelah kirinya tidak kosong. Ia duduk di kursinya dengan pelan, karena ia tahu kalau Mingyu sedang tertidur.
"Ya!" Wonwoo berkata, membuat pria di sampingnya terkejut dan bangun dari tidurnya. Wonwoo mulai tertawa dan begitu juga dengan Mingyu.
"Selamat pagi." Mingyu berkata sambil menguap, suaranya terdengar dalam karena ia baru bangun tidur.
"Pagi!" Wonwoo membalas dengan ceria, "Apa kita ada pelajaran Sains kali ini?" Ia bertanya dan mulai mengeluarkan buku dari tasnya.
"Tidak ada," Mingyu berkata, dan Wonwoo memberinya tatapan bingung,
"Lalu kenapa kau ada disini?" Wonwoo bertanya.
"Hanya ingin datang saja." Mingyu menjawab, dan ia melihat Wonwoo dengan sebuah senyuman. Wonwoo mulai tertawa dan berkata,
"Yah~. Biang onar sekolah akhirnya masuk sekolah.. Keajaiban memang benar-benar terjadi."
Mingyu mengangkat tangannya, berpura-pura akan memukulnya,
"Mau mati?"
Mereka berdua mulai tertawa. Interaksi mereka terlihat lebih natural sekarang, tapi masih ada keheningan yang canggung diantara mereka. Suara tawa mereka mendapat perhatian dari Minghao dan Jun. Minghao menatap Jun untuk mengamati reaksinya, dan wajah Jun berubah jadi serius saat melihat mereka berdua. Minghao menghela napas dan hanya melanjutkan obrolannya dengan teman barunya.
Guru mereka masuk ke dalam kelas, dan menatap Mingyu dengan wajah yang terkejut sekaligus puas.
"Oke, anak-anak! Hari ini, aku punya pengumuman spesial." Gurunya memulai, dan kelas mulai berbisik satu sama lain karena penasaran dan tertarik.
"Jadi! Kami sudah merencanakan sebuah perjalanan spesial untuk kalian. Ini perjalanan menginap," dan pengumumannya di interupsi oleh suara siswa-siswi yang semakin mengeras.
"Hush, diam, anak-anak." Ia menenangkan kelas, dan setelah keadaan cukup sepi, ia melanjutkan,
"Ini adalah perjalanan menginap, dan kita akan mengadakan kamping. 2 hari, 1 malam. Aku membawa surat permohonan izin disini, tapi beberapa dari kalian sudah ada yang berusia 19 tahun dan bisa menandatangani surat ini sendiri. Tapi, bagi yang masih berada di bawah 18, silahkan meminta tanda tangan dari orang tua atau wali kalian. Sekarang, dengan mengangkat tangan, aku ingin tahu siapa saja yang sudah berencana untuk ikut?" Ia bertanya.
Wonwoo langsung mengangkat tangannya,
"Aku!"
Lalu, sebuah suara dari belakang berkata,
"Aku juga!" dan Jun mengangkat tangannya. Wonwoo menatap sahabatnya dan memberikannya senyuman, yang dibalas oleh senyuman Jun.
Mingyu menatap Jun, menatapnya tajam. Jun juga menatap Mingyu tajam, tidak ada satupun dari mereka yang memutuskan kontak mata itu. Setelahnya, Mingyu tersenyum miring, mengembalikan fokusnya pada guru di depan kelas dan berkata,
"Ditambah aku, jadi tiga." dan ia mengangkat tangannya di udara.
Keikut sertaan Mingyu mengejutkan semua orang, dan Wonwoo menatapnya, Mingyu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah. Mingyu lalu menatap Jun lagi yang sedang menatapnya penuh kemarahan. Mereka berdua saling melemparkan tatapan tajam dengan tangan yang masih terangkat. Wonwoo menatap mereka berdua, lalu menatap Minghao, yang berkata tanpa suara,
"Itu. Berarti. Perang."
.
.
.
To Be Continued
Dua part lagi disatuin karena ini panjang...
Setelah ini sih fluff fluffnya meanie gitu belum ada konfliknya. Tungguin terus yaa! love
Thanks to mingyusforehead [makasih pujiannya loh xoxo], Albus Convallaria majalis, S , allaetsy'sfam, lulu-shi, kkokkoyah, Guest, Park RinHyun-Uchiha, KMaddict, Ourwonu, Guest (2), kimbapchu, Kyunie, Hannie, Nikeisha Farras, wonppa, nikeagustina16, WooMina, ftzbhd, NdiwhY, hitmeanie, MoniqJen, Jjangmyeon, wonuke, Guest (3), saymyname, Swag yoongi, kkmyerim, aliciab.i, Ahnyona, Honeylili, 17issCarat, reminie, Guest (4), Guest (5), awmeanie
Thankyou buat yang udah repot-repot review;) review dong! Aku ngga gigit kok wkwkwk;3
Makasih juga buat yang udah fav + follow ceritanya:-)
Read n Review?
seulgibe
