POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#6 Confrontation


Mereka bertiga duduk di sana, dengan tangan yang masih terangkat, Jun dan Mingyu masih saling bertatapan. Wonwoo menatap mereka berdua, lalu akhirnya guru mereka memecahkan ketegangan yang memenuhi kelas.

"Baik! Baguslah karena Mingyu akhirnya akan bergabung dengan kita," Pak Hyuk berkata, dan Mingyu memberikannya senyum yang dipaksakan.

"Jadi, anak-anak! Saya akan membagikan formulirnya, dan berikan pada saya besok! Kita akan berangkat dalam 2 hari. Sekolah lain juga mungkin akan berada di tempat perkemahan yang sama, jadi cobalah mencari teman baru!" ia berkata, menyelesaikan pengumumannya.

Pak Hyuk lalu berjalan ke sekeliling kelas, membagikan formulir untuk murid-murid. Setelah itu, ia memulai pelajarannya, Geografi. Setelah pelajaran pertama usai, para siswa mulai kembali berbicara satu sama lain. Mingyu berdiri dari duduknya, dan seperti biasa Wonwoo mengatakan,

"Bye," dan melambaikan tangannya.

Mingyu tertawa dan berkata,

"Aku tidak akan pergi." dan berjalan menuju bangku Minghao. Saat berjalan, ia berpapasan dengan Jun yang akan menuju ke bangku Wonwoo, dan mereka berdua saling membisikan beberapa kata.

"Aku tidak akan membiarkanmu memilikinya." Jun berbisik, sambil tetap menatap datar ke depan,

Mingyu tersenyum miring, sambil menatap ke depan juga, berkata,

"Tapi dia bukan milikmu."

Mereka lalu berpisah dan mengambil jalan yang berbeda. Ketika Mingyu sampai di bangkunya, Minghao bahkan tidak bertanya kenapa ia mau ikut acara sekolah ini, karena Minghao tahu. Tapi, Mingyu mengajak Minghao untuk ikut juga.

"Yah, apa kau gila?"

"Bisa dibilang begitu,"

"Aku tidak mau ikut, aku lebih baik tetap disini," Minghao mengeluh.

"Ini akan menyenangkan. Seperti ketika kita dan anak-anak yang lain biasa berkemah." Mingyu membantah.

"Kita tidak 'berkemah', kita hanya tidur diluar karena kita semua tidak ingin pulang ke rumah." Ucap Minghao.

"Oh... benar."

Mereka berdua mulai tertawa, tapi pada akhirnya Mingyu berhasil meyakinkan Minghao untuk ikut, sesuatu tentang Bro Code, atau kesetiaan, atau apalah itu.

Sedangkan, Jun, setelah sampai di meja Wonwoo, duduk di depannya seperti biasa. Wonwoo merasa sedikit canggung mengucapkan hai, tapi Jun tidak terlalu memikirkannya, mengerti kenapa sahabatnya merasa seperti ini.

"Hai!" Jun berkata, dan Wonwoo tersenyum.

"Jadi, kita akan duduk bersebelahan di dalam bis kan untuk perjalanan ini?" Jun bertanya, dan Wonwoo mengambil waktu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Jun tersenyum melihatnya, lalu berkata,

"Bisakah aku bicara denganmu sebentar?" Jun bertanya, hati-hati.

"Tentu." Jawab Wonwoo, dan mereka berdua bangkit dari kursi mereka. Mereka berjalan ke luar kelas, mendapatkan tatapan dari Mingyu saat ia melihat mereka berdua keluar. Jun dan Wonwoo berada di koridor, berdiri saling berhadapan yang membuat jantung Wonwoo berdetak cepat, karena gugup.

"Aku hanya ingin meminta maaf..." Jun berkata, rasa bersalah terdengar dari suaranya.

"Karena sudah menyalahkan Mingyu, karena tidak mendengarkanmu, karena sudah... menciummu." Ia berkata. Wajah Wonwoo memanas mendengar kata terakhir Jun.

Wonwoo dengan pelan berkata,

"Tidak apa-apa..." lalu setelah itu hanya hening.

"Jadi, ya... Dan juga, aku hanya ingin memperingatkanmu."

"Maaf?" Wonwoo bertanya, sambil memiringkan kepalanya karena bingung.

Jun tertawa,

"Kau benar-benar tidak menyadarinya, ya?" dan Wonwoo tetap bingung, "Terserahlah, nanti kau akan tahu... Tapi mulai sekarang, aku akan berusaha sebisaku. Jadi, bersiaplah."

Lalu Jun kembali ke kelas, meninggalkan Wonwoo yang masih kebingungan di koridor. Bel pelajaran kedua berbunyi, membuyarkan Wonwoo dari pikirannya, dan ia dengan cepat kembali ke kelas.

Setengah hari pertama terlewati dengan cepat, Wonwoo tertawa melihat Mingyu kesulitan saat belajar pelajaran yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. Tapi yang mengejutkan, Mingyu mengerti dan menyerap pelajaran dengan cepat, dan ia juga pintar. Ini membuat Wonwoo penasaran kenapa ia selalu membolos pelajaran selain pelajaran Sains. Kalau Mingyu rajin masuk kelas, mungkin ia yang akan jadi Ketua Kelas. Selama makan siang, Mingyu datang menuju bangku Minghao, dan mereka berdua pergi meninggalkan kelas, meninggalkan Wonwoo dan Jun yang sedang berbicara dengan canggung. Namun, selama jam makan siang berjalan, mereka kembali mengobrol dan saling melemparkan lelucon mereka yang biasa, seperti kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi. Wonwoo merindukan saat-saat Jun berada di sisinya, dan ia setuju dengan dirinya sendiri kalau ia tidak akan memperlakukan Jun berbeda hanya karena ia sadar perasaan Jun kepadanya. Setelah makan siang adalah pelajaran Sains, Minghao dan Mingyu masuk ke kelas terlambat, mereka berdua tertawa dan terengah-engah. Mereka membungkuk, mengembalikan nafas mereka setelah berlari, dan kembali ke bangku masing-masing. Wonwoo bertanya pada Mingyu,

"Kalian dari mana?"

"Suatu tempat." Mingyu menjawab, masih menyesuaikan nafasnya, sambil memasang senyum di wajahnya.

"Dari markas?" Wonwoo menebak, dan Mingyu mengangguk.

"Kenapa kau terlambat?"

"Maafkan aku, Ibu." Mingyu menjawab dengan candaan setelah menerima serangan pertanyaan Wonwoo.

"Karena hampir semua teman-temanku bersekolah, kami semua berkumpul saat jam makan siang." Ia menjelaskan,

"Ah~, begitu." Wonwoo berkata sambil menganggukkan kepalanya, dan melanjutkan pekerjaannya.

Hari selanjutnya, semua siswa membawa formulir perjalanan mereka. Ketika Minghao menyerahkan formulirnya, ia memberikan Mingyu tatapan menjijikan dan Mingyu tersenyum lucu ke arahnya, membuat Minghao semakin kesal. Mereka berdua saling bersalaman ketika Minghao kembali ke tempat duduknya. Jun juga menyerahkan formulirnya, dan menatap Wonwoo yang tersenyum ke arahnya, lalu membalas senyumannya.

.

Hari itu pun tiba. Seluruh siswa senior berkumpul di depan gerbang sekolah, saling berkerumun dengan kelompoknya masing-masing. Mereka semua membawa satu atau dua tas besar, para siswi yang kebanyakan membawa dua tas. Jun dan Wonwoo membawa tas mereka di punggung, dan sedang mengobrol satu sama lain. Mereka tidak menggunakan seragam, semua siswa memakai pakaian santai masing-masing. Mereka berdua masih mengobrol ketika mendengar gadis-gadis saling berbisik, disertai dengan sedikit pekikan. Ternyata, Mingyu dan Minghao terlihat benar-benar menarik ketika sedang tidak menggunakan seragam, dan membuat gadis-gadis saling berbisik. Mereka berdua berjalan menuju gerbang bersama, saling mengobrol, tapi setelah mendengar gadis-gadis itu, Mingyu memutar bola matanya dan hanya menatap lurus ke depan, sedangkan Minghao mengedipkan sebelah matanya dan melambaikan tangan ke arah gadis-gadis itu.

"Hentikan itu," Mingyu berkata sambil memukul tangan Minghao, merasa malu.

"Kenapa?~ Aku merasa seperti artis!" Ia berkata, sambil mendorong Mingyu dan mereka berdua mulai tertawa.

Minghao mengenakan celana jins hitam, dan kaus Off-White, dengan sweater putih yang dililitkan di sekitar pinggangnya. Ia membawa tas Nike hitam, dan berjalan dengan nyaman menggunakan Vans. Mingyu membawa tas selendang Adidas di bahu kanannya. Ia memakai celana ripped washed jeans gelap, dan sepatu Vans. Ia menggunakan atasan berwarna putih biasa dengan jaket hitam, dan ketika Wonwoo melihat jaket itu, ia ingat benda yang ia bawa di tasnya.

"Mingyu-ya!" Wonwoo berteriak, mengalihkan perhatian Mingyu. Bersama Minghao, ia mulai berjalan ke arah Wonwoo,

"Ya?"

Wonwoo lalu membuka resleting tasnya, mengeluarkan jaket yang terlipat rapi di bagian atas tasnya. Ia mengeluarkannya, dan menyerahkannya pada Mingyu, yang mengambilnya, lalu menatap Wonwoo.

"Aku lupa mengembalikannya." Ucap Wonwoo.

Minghao menatap jaket itu, lalu menatap Mingyu yang masih memasang wajah datarnya, lalu ia tersenyum, menyenggol Mingyu.

"Terima kasih." dan ia menaruhnya di tasnya. Mereka berempat berdiri bersama, menunggu guru mereka datang, dan menyuruh mereka menaiki bis. Ketika akhirnya guru mereka datang, pengabsenanpun dimulai dan mereka mulai menaiki bis. Minghao dan Mingyu duduk bersama, dan tentu saja Jun dan Wonwoo juga begitu. Dua orang 'biang onar' itu duduk di belakang Jun dan Wonwoo. Dan dengan itu, pada jam 7 pagi, dimulailah perjalanan panjang selama 3 jam menuju tempat perkemahan mereka. Di dalam bis, Wakil Kepala Sekolah yang akan mengawasi perjalanan mereka menjelaskan kalau mereka akan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan saat berkemah, tapi mereka akan tetap tidur di kamar penginapan. Mayoritas siswa-siswa merasa senang mendengar kabar itu.

"Yah, ingat ketika kita mencoba untuk membangun tenda?" Wonwoo mendengar Minghao bertanya pada Mingyu. Mingyu mulai tertawa dan menjawab,

"Dude, kita mematahkan tiang penyangganya, waktu itu." Mingyu menjawab, dan Minghao mulai tertawa juga.

"Oke, lagipula itu memang tidak akan berhasil. 11 orang anak dan 1 tenda." Minghao menyahut.

Wonwoo merasa terhibur mendengar percakapan mereka, lalu Jun juga mengajaknya mengobrol.

"Wonwoo-ya. Ingat ketika kita berkemah dengan keluarga kita, dan kita menangkap ikan yang besar?"

"Apa maksudmu dengan 'kita'? Aku yang menangkapnya! Kau kan takut pada umpan cacingnya." Wonwoo protes, dan mereka berdua juga mulai tertawa sambil mengenang kenangan lama mereka.

Wakil Kepala Sekolah kemudian menjelaskan tentang peraturan dan keinginannya akan perjalanan ini, dan berkata kalau para siswa akan satu kamar dengan 3-4 orang. Akhirnya, setelah 3 jam, mereka sampai. Mingyu tertidur, bersandar di bahu Minghao yang juga tertidur, bersandar pada jendela. Wonwoo membangunkan mereka, sebelum mereka ditinggalkan di dalam bis. Setelah semua orang turun dari bis, dan mengatakan terima kasih pada supir bis yang mengantar mereka. Mereka sampai di penginapan jam 10 pagi untuk menyimpan barang bawaan mereka. Setelah menyuruh para siswa berbaris, para guru mulai membagikan kamar dan teman sekamar para siswa.

"Di kamar 134, Jeon Wonwoo, Wen Junhui," dua sahabat itu saling bertatapan lalu saling berhi-five senang. "Xu Minghao, dan Kim Mingyu," guru mereka mengumumkan 2 murid yang juga akan satu kamar dengan mereka.

Senyum Jun dengan cepat berubah menjadi masam ketika ia mendengar kalau ia akan berbagi kamar dengan Mingyu. Mingyu dan Minhao bertatapan dan saling tersenyum. Lalu, Mingyu menatap Wonwoo yang memasang wajah terkejut. Ia tersenyum, lalu bertatapan dengan Jun.

Keempat remaja itu berjalan menuju kamar mereka, dan mereka semua setuju kalau Wonwoo yang akan membawa kunci kamar mereka karena ialah yang paling bertanggung jawab dan rapi. Mereka memasuki kamar, dan menyimpan tas mereka. Kamar itu terasa nyaman, dan cukup besar. Kamar mandinya juga bersih, dan mereka bisa mengatur suhunya. Satu-satunya masalahnya adalah, hanya ada 2 tempat tidur. Sekarang, biasanya mungkin akan jadi seperti ini, Mingyu dan Minghao, lalu Wonwoo dan Jun, tidak ada masalah. Tapi, Wonwoo masih merasa sedikit tidak nyaman dengan Jun, dan Jun menyadari itu, ia tidak memaksakan dirinya sendiri dan tidak mengatakan apapun. Jadi, mereka berempat hanya menaruh tas mereka, lalu kembali berjalan ke depan penginapan, meninggalkan masalah tempat tidur itu untuk nanti malam ketika mereka akan benar-benar tidur.

Mereka berjalan menuju pintu masuk penginapan dimana para guru sedang menjelaskan aktivitas apa saja yang akan mereka lakukan malam itu. Para guru mengatakan kalau ada sekolah lain yang juga ada di sana, dan mungkin akan berinteraksi dengan siswa sekolah itu saat mereka beraktivitas. Acaranya adalah, Mendaki dan Mencari Harta Karun, Tes Kepercayaan, Memancing, dan di malam terakhir, mereka akan mengadakan pesta BBQ dan api unggun. Karena yang mengikuti acara ini adalah para senior, para guru bersikap baik hati dan mengatakan kalau mereka tidak akan hadir saat acara BBQ, hanya akan mengecek situasinya selama beberapa waktu sekali, jaga-jaga jika sesuatu terjadi. Setelah penjelasan panjang, para guru membawa siswa-siswi ke hutan luas di belakang penginapan.

"Oke! Jadi, diantara pohon-pohon ini, ada benda-benda yang tersembunyi. Tim kalian adalah teman sekamar kalian! Setiap tim akan menerima selembar kertas yang terdiri dari benda-benda yang harus kalian temukan, setelah menemukan semuanya, kalian bisa kembali ke penginapan! Sekarang, setiap tim memiliki satu walkie-talkie, kalau-kalau ada sesuatu terjadi, kalian bisa menghubungi kami." Jelas gurunya.

Lalu, ke-10 tim berangkat. Jun, Wonwoo, Mingyu, dan Minghao berjalan di depan, dan 9 tim lainnya berada di belakang mereka. Tapi, sebelum mereka sempat pergi jauh, seseorang menabrak grup mereka. Seorang remaja yang usianya kira-kira sama dengan mereka, tapi menggunakan seragam lain. Badannya besar, berotot, memiliki bekas luka di wajahnya, yang membuatnya terlihat lebih menyeramkan lagi. Di belakangnya ada teman-temannya yang juga sama menyeramkannya, yang membuat Wonwoo hampir akan membungkuk dan meminta maaf, sebelum pria itu berkata,

"Yah... Lihat siapa ini." Ia berkata dan Wonwoo menegakkan badannya dari posisi membungkuknya dengan bingung. Lalu, Minghao dan Mingyu melangkah maju, melindungi Jun dan Wonwoo. Konfrontasi itu membuat siswa-siswa lain di belakang mereka mulai saling berbisik.

Pia menyeramkan di depan mereka tersenyum meremehkan,

"Lama tidak bertemu, Minghao, Mingyu."

Wonwoo memperhatikan pria yang sedang bicara dengan anggota timnya itu. "Sekolah Kirin" tertulis di badge yang ada di seragamnya.

"Ah~. Sekolah lama Minghao?" Wonwoo berkata dalam hati.

"Hae Sungwon." Mingyu berkata, suaranya terdengar serius.

"Kau mengingatku. Aku tersanjung, Mingyu-ya."

Mingyu mengabaikan komentar itu, tapi tetap berdiri tegak di depan Wonwoo dan Jun.

"Minghao-ah. Ingat aku?" Sungwon menyentuh bekas lukanya dengan tangannya, "Karena aku mengingatmu."

Minghao tersenyum jahat, lalu para siswa mulai berbisik-bisik lagi. Wonwoo dan Jun saling berpandangan dengan kengerian sedikit tergambarkan di wajah mereka.

"Yah, yah. Apa Minghao yang melakukan itu padanya?" siswa-siswa lain saling berbisik.

"Tentu saja aku mengingatmu." Minghao menjawab.

"Sepertinya tidak. Minghao Oppa terlalu imut untuk melukai seseorang, iya, kan?" para gadis saling bergosip.

"Yah~, seperti yang kuharapkan. Kau tahu, kau meninggalkan sedikit rasa sakit untukku, eh?" Sungwon berkata, dan senyum menyeramkan muncul di wajahnya, ia mulai berjalan mendekat. Minghao dan Mingyu tidak lantas mundur, malah, Minghao bergerak maju, dan sekarang berkonfrontasi langsung dengan Sungwon, berhadap-hadapan.

"Aku tahu." dan Minghao menahan amarahnya dengan menggeretakan giginya, "dan aku akan dengan senang hati melakukannya sekali lagi."

Sungwon mendengus mengejek dan mengayunkan tinjunya ke arah Minghao, yang tidak bergerak sedikitpun. Tapi, tunjunya dihentikan oleh Mingyu.

"Yah, yah. Jangan lakukan ini di depan anak-anak lain." Mingyu berkata, dan melihat kerumunan yang terbentuk di belakang mereka, cukup jauh di belakang mereka, kebanyakan karena takut dan alasan lainnya.

Sungwon tertawa, dan menurunkan tinjunya, lalu menatap ke belakang Mingyu dan Minghao untuk melihat apa yang sedang mereka lindungi. Ia bertatapan dengan Wonwoo, yang langsung mengalihkan pandangannya takut.

"Dia lumayan juga," pria itu berkata. Mingyu menatap ke belakang, dan melihat ekspresi ketakutan Wonwoo.

"Aku akan membuatnya jadi milikku." dan ucapan itu membuat Mingyu marah. Mingyu memberikan Sungwon tatapan mematikan, dan Sungwon masih saja berani melanjutkan,

"Seperti halnya Seokmin... aku akan merebutnya." lalu Mingyu lepas kendali. Ia menarik kerah seragam Sungwon dan mengangkatnya dari tanah, mulai berjalan, dan mendorongnya keras ke sebuah pohon. Geng Sungwon mendekati Mingyu, tapi dihentikan oleh Minghao yang membuat mereka semua jatuh hanya dengan satu pukulan. Teriakan dan pekikan datang dari siswa lain yang menyaksikan itu, sebagian melarikan diri karena takut perkelahian besar akan dimulai. Mingyu menatap tepat mata Sungwon,

"Kalau kau berani mendaratkan seujung jaripun ditubuhnya... aku akan membunuhnya. Dan itu adalah janji." Mingyu berkata sambil menggeretakan giginya karena marah. Minghao menarik tangan Mingyu, menyuruhnya untuk melepaskan Sungwon. Mingyu melakukannya, dan Sungwon kembali menginjak tanah, berdiri di antara teman-temannya yang tidak sadar.

"Sepertinya kalian berdua masih jago berkelahi," ia berkata, mengacu pada kekuatan dan kemampuan berkelahi mereka.

Minghao dan Mingyu berjalan menjauh, kembali ke Wonwoo dan Jun yang menatap mereka horror.

"Kau seharusnya lebih tahu dari siapapun, Mingyu-ya... Pria cantik milikmu itu dalam bahaya." dan Mingyu mengerutkan keningnya, memicingkan matanya, tapi tetap melanjutkan perjalanannya. Minghao dan Mingyu kembali bergabung dengan tim mereka, dan Minghao kembali memasang senyumnya yang biasa. Wonwoo dan Jun memandang mereka berdua, terkejut, dan takjub karena Minghao ternyata memiliki sisi menyeramkan. Sedangkan Mingyu, tetap marah karena pertemuannya dengan Sungwon tadi, dan tidak berjalan dengan kecepatan yang sama dengan 3 orang anggota timnya.

"Berikan dia waktu, dia akan segera melupakannya dalam 7 menit." Minghao meyakinkan Wonwoo yang khawatir, dan juga Jun yang sedikit khawatir. Dan akhirnya, Mingyu kembali bergabung bersama timnya dan membantu mencari benda-benda yang harus mereka temukan. Lalu, karena penasaran dan khawatir, Wonwoo bertanya,

"Apa kau tidak akan mendapat masalah?"

"Karena apa?" Wonwoo dan Jun melirik Minghao.

"Ah~. Karena memukuli mereka? Tidak, aku meragukannya." ia berkata, sambil memperhatikan tanah di bawahnya untuk mencari 1 benda lagi yang harus mereka temukan.

"Ya, mereka tidak akan mengadukan kejadian tadi." Mingyu menambahkan.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Jun bergabung.

"Well, sekarang coba pikirkan. Mereka adalah orang-orang seperti kami, hanya saja kami tidak seburuk mereka... Dan mereka pasti memiliki harga diri yang tinggi, atau apalah itu."

"Dan juga, karena mereka rasa percaya diri mereka sangat tinggi, mereka tidak akan mau mengakui kalau kami memukuli mereka."

"Ya, tapi aku masih sependapat dengan Jun.. Bagaimana bisa kalian seyakin itu?" Wonwoo bertanya.

Minghao dan Mingyu mengerang dan memutar kedua bola mata mereka.

"Oke." Minghao berkata, mengambil tanggung jawab untuk menjelaskan sebelum Mingyu mulai mengatakan sesuatu yang kasar.

"Jadi, mungkin mereka adalah pembuat masalah terhebat di Kirin, well setelah teman-temanku dan aku keluar. Jadi, jika ada berita yang menyebar di sekolah mereka kalau mereka dipukuli, imej menakutkan dan kuat mereka akan benar-benar rusak. Mengerti?" Minghao menjelaskan dengan kalimat yang mudah dimengerti.

"Ah~" Wonwoo dan Jun berkata bersamaan dan menganggukkan kepala mereka.

"Ya Tuhan," Mingyu berkata sembari memutar bola matanya. Minghao mulai tertawa, dan mereka berempat lanjut mencari benda yang harus mereka temukan. Mereka sudah menemukan kompas, stopwatch, peluit, dan sekarang yang tersisa dari tugas yang membosankan itu adalah senter kecil. Setelah satu jam, mereka akhirnya menemukan lampu senter itu, lalu mereka berempat kembali ke penginapan. Mereka semua kelelahan sehabis mendaki, dan punggung mereka sakit karena terus membungkuk saat mencari benda-benda di tanah. Jadi, ketika mereka akhirnya sampai di penginapan, mereka berempat jatuh kelelahan, protes tentang tubuh mereka yang terasa sakit. Mereka senang karena bukan mereka yang terakhir datang, jadi mereka bisa istirahat sebentar selagi menunggu kelompok yang lain. Jam 12 siang, 40 siswa senior sudah berkumpul di penginapan, dan dengan cepat melanjutkan ke kegiatan kedua mereka. Tes kepercayaan.

Meskipun Mingyu kuat dan berbahaya, ia memiliki satu kelemahan besar. Ketinggian. Minghao tahu itu, dan mulai tertawa ketika mereka sampai di tempat aktivitas mereka selanjutnya. Mereka dikelilingi pepohonan yang luar biasa tinggi, dan ada sebuah jembatan, zipline, dan berbagai tali pengaman di udara, menyambungkan pepohonan itu. Mingyu menatap dengan ketakutan, dan menelan ludahnya keras. Minghao tertawa, sampai-sampai air mata hampir keluar dari matanya karena melihat keadaan menyedihkan sahabatnya. Jun mulai tertawa bersama Minghao, sedangkan Wonwoo menatap Mingyu yang ketakutan dengan takjub.

"Jadi, ada sesuatu yang bisa membuatmu takut..." Wonwoo berkata, dan mendapatkan tatapan tajam dari Mingyu. Ketua Kelas itu mulai tertawa bersama 2 orang lainnya, dan Mingyu hanya menutup matanya, menahan diri untuk meninju muka ketiga temannya.

Instruktur mereka memberitahu kalau setiap grup akan memulai dengan melalui jembatan. Tapi, tidak akan sesederhana itu, ini adalah tes kepercayaan. Dengan setiap anggota tim bergantian, setiap orang akan melintasi jembatan dengan memakai penutup mata, dan dibimbing oleh salah satu anggota lainnya. Mingyu rasanya ingin mati saat ini, ia tidak terlalu percaya dengan siapapun di timnya. Wonwoo aneh, Minghao mungkin akan mendorongnya untuk kesenangannya sendiri, dan Jun jelas-jelas membencinya, Mingyu berpikir sambil bertanya-tanya tentang siapa yang akan menjadi penunjuk jalannya. Karena ada dua jembatan, tim mereka bisa langsung memulai. Sambil menaiki tangga menuju jembatan, Minghao terus-terusan menarik celana Mingyu sambil berkata,

"Oh! Hati-hati, kau akan jatuh.", yang membuat Mingyu ingin sekali menendang temannya yang menyebalkan itu.

Ketika mereka sampai di atas, mereka bermain gunting, kertas, batu untuk menentukan siapa yang akan maju pertama. Dan tentu saja, Mingyu yang pertama. Pria tinggi itu menghela napas, dan menutup matanya sambil memasang penutup mata. Di bawah jembatan, ada jaring untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, tapi itu tidak membuat Mingyu merasa lebih baik. Ketika ia memasang penutup mata, ia berdiri di belakang jembatan, menunggu anggota timnya yang akan membantunya melewati jembatan. Minghao adalah orang pertama yang menyuruhnya untuk mulai berjalan, dan Mingyu bersyukur bukan temannya itu yang akan menjadi penuntun jalannya. Kemungkinannya tinggal 2. Jembatan itu terbuat dari kayu dan tali, yang bergerak-gerak saat terbawa angin. Mingyu melangkah satu langkah ke jembatan dan begitu ia menginjakkan kakinya di jembatan, rasanya ia ingin turun. Keseimbangannya tidak terlalu baik, tapi ia disemangati oleh dua suara di belakangnya yang menyuruhnya untuk terus melangkah. Mingyu terus berjalan, dan ia bisa merasakan kehadiran seseorang di hadapannya. Mingyu terus berjalan sampai ia merasa jembatannya bergoyang, dan ia berteriak, takut jatuh. Saat tiba-tiba, dua tangan, dengan tegas, namun lembut memegang tangannya yang menggapai-gapai, dan sebuah suara yang tidak asing milik Ketua Kelasnya berkata,

"Tidak apa-apa. Aku disini."


#7 Overnight


Mingyu merasa seolah waktu membeku selama beberapa detik setelah mendengarkan kalimat penenang itu. Mingyu kembali menjaga keseimbangannya, dan lanjut berjalan. Wonwoo perlahan melepaskan tangannya ketika ia melihat Mingyu mulai berjalan menyeberangi jembatan, dan ia kesulitan berjalan mundur, dan kadang secara tidak sengaja membuat jembatannya bergoyang, membuat Mingyu berhenti beberapa saat. Mingyu sudah separuh jalan menyeberangi jembatan ketika Minghao memutuskan untuk mengerjai temannya karena ia bosan melihat Mingyu menyeberangi jembatan dengan mudah.

"Yah! Awas, papannya ada yang hilang!" Minghao berteriak.

Mingyu langsung panik, membuat jembatannya bergoyang keras, dan Wonwoo juga panik karena gerakan Mingyu. Tapi, ia berhasil menenangkan Mingyu, dan memegang tangannya,

"Tenanglah, dia hanya bercanda. Aku masih disini." Mereka berdua saling berpegangan, dan Wonwoo dengan perlahan menarik Mingyu ke arahnya, suaranya terdengar lembut saat berkata,

"Pelan-pelan. Ayo kita sebrangi ini bersama.", dan mereka berdua mulai berjalan lagi.

Sedangkan, Minghao sudah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi temannya. Mingyu mendengarnya dan berteriak,

"YAH MINGHAO-AH! AKU AKAN MEMBUNUHMU BEGITU AKU SELESAI MENYEBERANGI INI!"

Minghao memegangi perutnya, tertawa dan rekasi polos dan lucu Mingyu membuat Wonwoo juga tertawa.

"Yah. Aku tidak butuh kau yang juga menertawaiku," Mingyu berkata, dan Wonwoo menutup mulutnya, menahan tawanya. Mereka berdua masih berpegangan tangan, dan dengan perlahan menyeberangi jembatan itu. Mereka sudah 3/4 perjalanan, dan Wonwoo berkata,

"Hampir sampai."

Mingyu menjawab,

"Aish. Aku benar-benar benci ini.", dan karena Mingyu sedang bersikap polos dan lucu, Wonwoo memutuskan untuk mengambil keuntungan dari sikapnya itu. Wonwoo berpura-pura melepaskan pegangannya dan berkata,

"Oke, kalau begitu aku akan berjalan duluan-"

Mingyu langsung menarik tangan Wonwoo, membuat Ketua Kelas itu terkejut.

"Tidak, tinggallah disini." Mingyu memohon, "Aku benci berjalan di jembatan sialan ini, bukan kau."

Wajah Wonwoo mulai memerah, dan benar-benar berterima kasih karena mata Mingyu tertutup. Ia kembali meraih tangan Mingyu, dan menuntunnya. Mereka berdua akhirnya sampai di ujung jembatan. Mingyu langsung jatuh berlutut begitu sampai di akhir jembatan. Wonwoo tertawa melihat itu, lalu menyandarkan punggungnya di pohon sambil menunggu Minghao dan Jun berjalan menyeberangi jembatan. Minghao memutuskan kalau ia yang akan berjalan di atas jembatan itu, karena dia tidak terlalu peduli. Hanya saja rasanya menyenangkan melihat dua orang yang baru saling berteman sudah mempercayai satu sama lain seperti ini. Mereka tidak berpegangan tangan atau yang lainnya, Jun hanya memandunya melalui suaranya, dan Minghao mendengarkan dan mengikuti instruksi itu dengan hati-hati. Mereka menyelesaikan itu dengan cepat, dan Minghao memamerkan fakta itu pada Mingyu, yang hanya memukul dada temannya yang menyebalkan itu. Sisa dari tes kepercayaan itu termasuk ziplining, dan tentu saja yang paling klasik, trust fall.(itu apa sih namanya yang satu orang jatoh gitu dari atas, terus di bawahnya temen satu grupnya harus nangkep gitu? ya itu lah ya pokoknya:(). Tapi, yang satu ini berbeda. Mereka harus terjatuh dari ketinggian 20 kaki, dan hanya mempercayai anggota tim yang berada di bawah, yang akan menangkapmu ketika terjatuh.

"Kenapa juga semua hal ini harus berhubungan dengan ketinggian?" Mingyu bertanya, kesal begitu sampai pada kegiatan ketiga, dan terakhir mereka.

"Ini akan meyenangkan... Kecuali, kau tahu, kalau kami memutuskan untuk tidak menangkapmu karena kau menyebalkan." Minghao berkata, dan tertawa. Ia mundur ketika Mingyu melayangkan tinjunya ke arahnya, berpura-pura akan memukulnya.

"Aku tidak menyebalkan." Ia berkata, membela dirinya.

"Kau menyebalkan." Minghao dan Jun menjawab serempak, dan saling berhi-five satu sama lain.

Trust Fall terselesaikan dengan cepat, Mingyu tidak seberisik saat ia berada di atas jembatan. Sekarang mereka berada di aktivitas terakhir mereka untuk hati itu, sebelum pesta barbekyu, yaitu memancing. 40 siswa senior kembali ke penginapan, mengambil alat pancing mereka, umpan, dan ember, lalu berjalan ke sungai. Setiap tim mendapatkan wilayah memancingnya masing-masing. Minghao dan Mingyu memutuskan untuk saling berlomba. Biang Onar vs Kutu Buku, Minghao menyebutnya. Jun setuju pada ide lomba tersebut, tapi tidak setuju pada nama yang disebutkan Minghao. Mereka berempat lalu mulai memancing secara berpasangan. Tidak ada taruhan dalam kompetisi itu, tapi mereka melakukannya demi harga diri. Jun ingin menang, untuk membuat Wonwoo terkesan. Dan kompetisi memancing itupun dimulai. Selagi tim lain memancing dengan santai dan nyaman, mereka berempat mencoba sebisa mereka untuk mendapatkan ikan. Setelah satu jam terlewati, kedua pasangan itu berakhir dengan seri, 11 - 11. Pada akhirnya, pasangan biang onar itu kalah, Wonwoo dan Jun saling berhi-five saat tahu mereka menang. Wonwoo dan Jun hanya menang tipis, 13 - 12, kompetisi itu berakhir pada pukul 6 sore. Karena kalah, Minghao dan Mingyu mulai saling menyalahkan satu sama lain, dan berdebat. Ketua Kelas dan sahabatnya hanya menonton dari samping, saat Minghao mendorong Mingyu ke sungai. Mulut mereka terbuka karena terkejut, lalu mereka mulai tertawa. Saat Mingyu terjatuh, Mingyu berhasil menarik tangan Minghao, dan membawanya masuk ke dalam air juga. Mereka berdua bergulat di dalam air, dan air terciprat kemana-mana. Mereka mendapat teguran dari guru yang berada di sana, lalu mereka berbohong saat berkata,

"Oh maaf, Pak, Mingyu jatuh dan aku hanya mencoba menolongnya." Minghao menjelaskan.

Mereka berdua keluar dari air, dengan baju yang sepenuhnya basah kuyup, tapi mereka tertawa dengan saling melingkarkan lengan di leher satu sama lain. Kaus putih polos yang Mingyu kenakan sekarang jadi transparan, memperlihatkan bentuk tubuhnya. Wonwoo mendapati dirinya sendiri memandangi Mingyu saat ia keluar dari sungai.

"Yah, kalian bodoh. Kalian berdua sekarang basah kuyup." Jun memberitahu Mingyu.

"Tidak apa-apa, aku masih punya pakaian lain di penginapan," ucapnya.

"Kau harus cepat ganti baju atau kalau tidak kau akan sakit kalau terus memakai baju basah." Wonwoo mengomel seakan-akan ia ibunya Mingyu.

"Oh, benarkah?" Mingyu bertanya, sambil menaikkan sebelah alisnya, "oke."

Mingyu lalu melepas kausnya yang basah, dan memerasnya, membuat air pada kausnya jatuh kembali ke dalam sungai. Ia sekarang tidak memakai atasan, memperlihatkan absnya yang mulai terbentuk, dan beberapa bekas luka dari perkelahiannya, pikir Wonwoo. Mingyu mengacak rambutnya yang basah, mengingatkan Wonwoo pada hukumannya dengan Mingyu waktu itu.

'Bukan itu maksudku, tapi oke.'

Pikiran Wonwoo diinterupsi oleh teriakan gadis-gadis ketika melihat tubuh atas Mingyu yang telanjang. Mighao menunjuk bekas luka di tubuh Mingyu,

"Bekas luka itu masih ada?" Ia bertanya, terkejut.

"Yeah. Pisau yang dia gunakan dulu sangat besar, man."

Wonwoo sedikit berharap kalau ia tahu apa yang mereka berdua bicarakan, karena ia merasa tidak tahu apa-apa, dan tidak mengerti pembicaraannya ketika mereka membicarakan sesuatu yang hanya mereka berdua yang mengalaminya. Minghao juga basah kuyup, tapi ia hanya memakai sweaternya dan menggeleng-gelengkan kepalanya sampai rambutnya sedikit lebih kering. Mingyu berjalan kembali ke penginapan menggunakan jaketnya, tanpa memakai apapun lagi di balik jaketnya.

Para siswa diberikan waktu sekitar satu jam untuk membersihkan diri dan beristirahat, lalu mereka akan berkumpul lagi untuk pesta barbekyu. Di kamar 134, mereka berempat tiduran di sekeliling ruangan. Mingyu di lantai, Minghao tertidur di kursi, Wonwoo sedang duduk di tempat tidur, dan Junhui berada di tempat tidur yang satunya. Mereka hanya bersantai dan menunggu, ketika terdengar sebuah ketukan di pintu mereka. Ketika mereka membukanya, seorang gadis berdiri malu-malu memanggil mereka untuk acara BBQ. Mereka berempat berganti pakaian. Sekarang, Minghao mengenakan celana training hitam, dan atasan hitam, ditambah snapback putih yang ia gunakan terbalik, yang terlihat kontras dengan warna rambutnya. Mingyu mengenakan sweater hitam, dan celana putih, dengan jaket merah yang dililitkan di pinggangnya. Dua orang lainnya mengenakan pakaian yang hampir sama, keduanya memakai celana jins, tapi Wonwoo mengenakan kaus putih, sedangkan Jun memutuskan untuk mengenakan sweater marun gelap. Mereka berjalan ke tempat api unggun, yang sudah dipenuhi oleh sekitar 30 siswa. Mereka semua duduk bersebelahan, urutan dari kiri ke kanan adalah Minghao, Mingyu, Wonwoo, dan Jun. Di sebelah mereka berempat, ada para gadis dan teman-teman mereka. Acara BBQ itu seperti acara api unggun pada umumnya.

"Minghao Oppa, bagaimana kau bisa mengenal Sungwon yang tadi itu? Oppa bukan orang yang memberinya bekas luka itu, kan?" seorang gadis di sebelah Minghao bertanya.

"Dia bukan seseorang yang ingin kau kenal, dan ya, aku yang memberinya bekas luka itu. Dia pantas mendapatkannya." Minghao menjawab.

"Ah~, Oppa lumayan menakutkan juga," gadis itu membalas dengan aegyo, membuat Mingyu meringis dan Jun dan Wonwoo memutar kedua bola mata mereka. Minghao hanya tersenyum manis pada gadis itu.

"Mingyu Oppa," Mingyu hampir tersedak sodanya ketika ia mendengar "Oppa". Minghao yang melihat temannya, mulai tertawa.

"Apa kau punya kekasih?" Ia bertanya dengan secercah harapan di matanya. Wonwoo mendengarkan pertanyaan ini, dan mengharapkan jawabannya, karena ia tidak pernah berpikir kalau mungkin Mingyu straight. Ketua Kelas itu benar-benar berharap pada harapan kalau Mingyu mungkin juga menyukainya, kalau ia tidak pernah berpikir Mingyu hanya bersikap ramah padanya. Tapi, ia selalu berpikir kalau Mingyu hanya menggodanya, jadi Wonwoo tidak pernah benar-benar percaya kalau Mingyu mungkin membalas perasaannya.

"Tidak," Mingyu menjawab, "Aku tidak pernah punya kekasih." Ia menambahkan.

Kebanyakan gadis-gadis itu terkejut mendengar jawaban itu.

"Tidak mungkin, kau sangat tampan, bagaimana bisa kau tidak punya kekasih?" gadis itu bertanya.

"Hanya tidak punya saja, aku juga tidak tertarik." Ia menjawab.

Obrolan itupun berlanjut bersamaan dengan hari yang semakin malam. Karena Wonwoo hanya mengenakan kaus, ia mengusap lengannya sambil berkata,

"Dingin."

Mingyu menatap Ketua Kelas yang kedinginan itu, dan mulai melepaskan ikatan jaket di pinggangnya. Ia memberikan jaket itu pada Wonwoo, yang menerimanya dan berkata,

"Aku selalu mengambil jaketmu.", sambil tertawa kecil.

Mingyu tersenyum dan berkata,

"Simpan saja yang itu, dengan begitu kau tidak harus selalu mengambil milikku," ia menjawab.

Sisa malam itu dilalui dengan saling mengobrol, dan para siswa lebih saling mengenal satu sama lain. Ketika hampir jam 11 malam, seorang siswa menyarankan sebuah permainan yang disebut "King Game". Mereka semua setuju, dan salah seorang siswa berlari ke penginapan, dan kembali dengan membawa 40 stik eskrim dan spidol. Ia lalu mulai menandai stik itu dengan nomor 1 sampai 39, lalu menandai stik terakhir dengan gambar mahkota. Mahkota itu menunjukkan kalau siapapun yang mengambilnya, adalah Raja, lalu ia memiliki keuntungan untuk membuat 2 nomor dari 1-39 melakukan sesuatu. Mereka menaruh semua stik itu di dalam satu tempat, dan permainan itu dimulai dengan para siswa yang mengambil stik eskrim itu. Beberapa ronde pertama berjalan lancar, tidak ada satupun dari mereka berempat yang terpilih. Seorang siswa dari seberang api unggun berkata,

"Nomor 13 dan 9, berpegangan tangan sampai permainan berakhir.", yang membuat seorang murid laki-laki dan perempuan, yang tidak saling mengenal, berpegangan tangan.

"Nomor 23 duduk di pangkuan Nomor 32 sampai permainan berakhir," dan 2 orang siswa pria yang mendapatkan kedua nomor tersebut meringis mendengarnya.

Ronde selanjutnya pun terus bergulir, dan para siswa tertawa, menikmati permainannya. Lalu, akhirnya seseorang melakukannya. Seorang pria yang menjadi raja pada ronde itu berkata,

"Nomor 11 dan Nomor 39... Berciuman.", seluruh siswa saling melirik ke kanan dan kekiri, mencoba mencari tahu siapa yang mendapatkan hukuman itu.

"Siapa nomor 11?" Sebuah suara akhirnya bertanya, dan Mingyu berdiri dari duduknya.

"Aku." ucapnya.

Mata Wonwoo melebar, ketika ia melihat stik miliknya. Semua gadis, setelah tahu kalau Mingyu mendapat nomor 11, melihat ke arah stik mereka kalau-kalau salah satu dari mereka mendapat nomor 39, tapi tidak ada satupun di antara mereka yang mendapat nomor 39.

"Kalau begitu! Siapa yang nomor 39?" Minghao bertanya, menatap ke sekeliling lingkaran. Wonwoo ragu-ragu mengangkat tangannya,

"A-aku." dan seluruh gadis mendengus cemburu, sedangkan mata Jun melebar dengan emosi yang sama. Minghao menatap mereka berdua dan sebuah senyum muncul di wajahnya, lalu setelahnya tertawa dan menyenggol Mingyu di sebelahnya. Mingyu balas memukulnya.

"Oke, kalian bisa berciuman." ucap Raja.

Wonwoo dan Mingyu menatap siswa itu, lalu saling menatap satu sama lain. Wonwoo mulai berkata,

"A-aku bisa menukar nomorku dengan murid perempuan disini, kalau kau mau. Maksudku, bukan berarti aku membencimu, hanya saja kau mungkin merasa tidak nyaman mencium-",

Suara beratnya diinterupsi oleh sepasang bibir yang terasa pas dengan bibirnya. Tangan Mingyu memegang dagu Wonwoo dan sedikit mengangkatnya, selagi ia sedikit membungkuk saat menciumnya. Itu hanyalah ciuman singkat tapi rasa bibir Mingyu terus menempel di bibir Wonwoo, membuatnya menginginkannya lagi. Mingyu kembali duduk setelah ciuman itu, dan Wonwoo melakukan hal yang sama setelahnya. Keheningan yang canggung mengambil alih setelahnya, yang lalu dipecahkan oleh Minghao, yang menyarankan untuk melanjutkan permainan sampai tengah malam, dan setelahnya semua orang bubar, kembali ke penginapan.

Mereka berempat kembali ke kamar, dan lalu harus menghadapi masalah mereka. 2 tempat tidur, 4 orang, suasana canggung meliputi 3 orang dari mereka. Jadi, untuk mencegah pembagian teman tidur yang tidak adil, mereka memutuskan untuk bermain gunting, kertas, batu. Dan secara kebetulan, Wonwoo dan Mingyu mengeluarkan gunting, sedangkan Jun dan Minghao mengeluarkan batu. Dengan begitu, diputuskanlah Minghao dan Jun tidur dalam satu tempat tidur, dan Mingyu dan Wonwoo di tempat tidur lainnya. Minghao mengalungkan lengannya di sekitar leher Jun dan mulai bicara,

"Yay~ Waktunya tidur. Ayo tidur, Jun-ah." dan Jun bertanya-tanya bagaimana bisa seseorang yang seimut ini bisa melukai seseorang, dan meninggalkan bekas luka di wajahnya.

Setelah mereka berempat membersihkan diri, dan sedang bersiap tidur, Mingyu mengatakan sesuatu,

"Wonwoo-ya. Aku hanya tidur dengan celana pendek, dan tidak memakai atasan... Hanya memperingatimu."

"Yeah, dia aneh. Bahkan saat musim dingin, dia tidak bisa tidur kecuali kalau dia telanjang." Minghao berkata.

"Aku tidak telanjang, aku hanya merasa lebih nyaman tanpa ada pakaian yang membatasi gerakku saat aku tidur." Mingyu berkata, membela diri. Yang membuat seisi kamar tertawa, bahkan Jun yang sedang menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, sedangkan Minghao bersandar di bahunya dengan nyaman.

"Aku tidak masalah kalau itu memang membuatmu nyaman." Wonwoo berkata pada Mingyu.

Mingyu tersenyum, "Terima kasih,"

Ia lalu melepas atasannya, dan Wonwoo berhasil menahan dirinya untuk sedikit lebih tenang kali ini. Wonwoo tidak pernah benar-benar memperhatikan, mungkin karena itu berada di bawah pakaiannya, tapi Mingyu memakai sebuah kalung dengan 2 cincin sebagai bandulnya. Mingyu merasakan tatapan Wonwoo dan menggodanya,

"Aku bisa memberikanmu foto tubuhku, kalau kau mau. Foto lebih tahan lama." yang membuat Wonwoo memutar bola matanya, dan menerima padangan menjijikan dari Jun dan Minghao.

"Apa itu yang ada di kalungmu?" Ketua Kelas itu bertanya dari tempat tidur yang ia duduki, menunggu teman satu kamarnya itu untuk menaiki tempat tidur supaya ia bisa mematikan lampunya.

"Ah, ini." Mingyu berkata sambil memegang cincin itu, memutarnya, memperhatikannya.

"Ini hanya cincin persaudaraan, semua teman-temanku punya satu.", ia menjawab. Minghao mengangkat tangannya dari tempat tidurnya, dan di jari manisnya terdapat cincin yang sama,

"Yep!" ia mengkonfirmasi dengan senyuman di wajahnya.

"Kenapa kau punya 2?" Wonwoo bertanya.

Selanjutnya hening, dan Mingyu menghela napas dalam sebelum berkata,

"Itu karena-"

"Dia ketuanya. Jadi, dia memakai 2 yang mencirikan... kekuatan, pokoknya begitu." Minghao menyelesaikan penjelasannya. Mingyu menatap temannya yang berambut biru, dan memberikannya senyum sedih, yang dibalas Minghao dengan anggukan dan senyuman. Mereka tidak melanjutkan pembicaraan itu, dan akhirnya Mingyu menaiki tempat tidur. Lampu kamar mereka ditaruh di sebelah tempat tidur, jadi tidak ada seorangpun yang harus bangun untuk mematikan lampu. Mereka berempat saling mengucapkan selamat tidur, kecuali Minghao dan Mingyu yang mengatakan,

"Semoga kau jatuh dari tempat tidur,"

"Fuck you too~"

Lalu lampu dimatikan, meninggalkan kamar itu dalam kegelapan dan keheningan. Wonwoo dan Mingyu menghadap ke arah yang berlawanan, tapi Wonwoo berbalik dan sekarang berhadapan dengan punggung Mingyu. Punggung Mingyu berwarna tan, dan berotot. Tiba-tiba, Mingyu berbalik ke arah yang sama, dan sekarang mereka saling berhadapan, hidung mereka hampir bersentuhan. Wonwoo bisa merasakan napas Mingyu yang tenang, dan Wonwoo terus menatapnya. Ia menatap bibir Mingyu yang sedikit terbuka, lalu ciuman mereka terbayang lagi di kepalanya. Matanya beralih memandang wajah Mingyu, menatap dan mengingat setiap detil wajahnya. Lalu, ia beralih menatap matanya, yang ternyata masih terbuka.

"Apa kau yakin kau tidak mau fotonya?" Mingyu berbisik ketika Wonwoo panik karena itu sedikit menyeramkan.

Mereka berdua masih saling berhadapan, tidak ada satupun yang mengubah posisinya.

"Aku pikir kau sudah tidur..." Wonwoo berbisik.

"Oh, jadi kau hanya memandangiku ketika aku tidak sadar." Mingyu membalas, membuat Wonwoo tertawa. Mereka berdua saling menatap mata satu sama lain, dan keheningan kembali mengambil alih. Mingyu berkedip, dan berkata,

"Oke. Baiklah, kau menang." dan Wonwoo tersenyum atas kemenangannya dalam kompetisi saling tatap menatap yang tidak ia sadari itu. Mingyu lalu mengucapkan selamat tidur lagi, dan menutup matanya, tapi tidak berbalik atau mengubah posisinya. Wonwoo juga memejamkan matanya, masih menghadap ke arah Mingyu, sampai ia tertidur.

.

Keesokan paginya, Wonwoo terbangun, memicingkan matanya saat melihat sinar matahari yang langsung masuk ke matanya. Ia merasa kalau bantalnya sudah digantikan oleh sesuatu yang lain, dan akhirnya ia sadar kalau bantalnya sekarang adalah dada Mingyu. Wonwoo berbaring disana, tidak tahu apakah ia harus bergerak atau tidak, karena takut membangunkan Mingyu, jadi ia hanya diam dalam posisinya selama beberapa saat. Wonwoo bisa mendengar detak jantung Mingyu yang teratur, kepalanya ikut turun dan naik saat Mingyu bernafas. Wonwoo lalu takut kalau kedua teman sekamarnya yang lain melihat mereka seperti ini, dan berasumsi kalau Minghao mungkin akan mengambil foto mereka, jadi ia bangun dari dada Mingyu dengan pelan dan hati-hati, lalu turun dari tempat tidurnya, memastikan kalau pergerakannya tidak membangunkan Mingyu. Ia lalu berjalan ke kamar mandi, menggosok gigi dan merapikan rambutnya. Saat ia sedang menggosok giginya, Mingyu juga masuk ke kamar mandi, masih setengah terbangun, dan menggaruk kepalanya. Ia masih tidak menggunakan atasan, tapi sekarang Wonwoo sudah belajar untuk mengontrol dirinya sendiri. Mingyu berjalan dan berhenti di samping Wonwoo, mengambil sikat giginya dan mulai menggosok gigi. Sambil menggosok gigi, mata Mingyu masih tetap terpejam, masih setengah sadar dan setengah tidur. Mingyu tertawa ketika melihat rambut belakang Mingyu mencuat acak-acakan. Lalu, Jun bergabung,

"Selamat pagi," tersenyum pada sahabatnya, dan berdiri di antara Mingyu dan Wonwoo.

"Pagi!" Wonwoo membalas dengan senyuman.

Mingyu masih belum sepenuhnya terbangun, jadi ia hanya melanjutkan menggosok giginya, dengan mata yang masih terpejam.

Pukul 8 pagi, keempatnya sudah terbangun, dan mulai membereskan barang-barang mereka. Mereka masih memiliki satu kegiatan terakhir, dan kegiatan itu adalah berjalan berpasangan dengan memakai penutup mata. Mereka memutuskan kalau Mingyu dan Minghao akan berpasangan, dan Jun berpasangan dengan Wonwoo.

Perjalanan itu berjalan lancar, kedua pasangan itu berpisah jalan, dan akhirnya untuk pertama kalinya selama acara itu, Jun bisa berduaan bersama Wonwoo, yang memakai penutup mata.

"Wonwoo-ya."Ia berkata.

"Ya?"Sahabatnya menjawab,

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Jun merespon.

Wonwoo diam selama beberapa detik, bertanya-tanya pertanyaan apa yang akan ditanyakan Jun, sebelum akhirnya mengangguk dan berkata,

"Tentu." disertai dengan senyuman.

Jun tetap menatap tanah di bawahnya saat mereka berjalan,

"Apa kau menyukai Mingyu?"

Wonwoo berhenti berjalan, dan senyumannya berubah jadi datar saat ia memikirkan jawabannya. Sejujurnya, ia sendiri juga tidak tahu. Mereka sama sekali tidak memiliki kesamaan, dan Mingyu mungkin tidak menyukainya, jadi, apakah ia menyukai Mingyu? Wonwoo berpikir dalam hati. Sebelum ia sempat menjawab, Jun menambahkan,

"Tidak usah dipikirkan, aku tidak ingin tahu jawabannya." Ekspresi terkejut Wonwoo terlihat dari balik penutup matanya. Jun melanjutkan,

"Karena, meskipun jawabannya ya ataupun tidak, meskipun kau masih belum bisa menerimaku sepenuhnya... Aku akan membuatmu jadi milikku."

.

.

.

To Be Continued...


BAM! Wah Jun wahh;3;3

Jadi waktu aku pertama baca ff ini pas bagian ini tuh aku mikir, duh wonu enak bgt tidur di dada telanjang mingyu ha ha ha:( mingyunya jg cubgt pas takut tinggi hihihi;3

Ini masih 2 chap dijadiin satu ya, next part bakalan super pendek karena aku cuma bakal post 1 chap. Paling banyak 3k+ words tapi bisa kurang dari itu...

Next chap itu gabisa disatuin karena akhir chapternya tuh cliff hanger bgt menurutku, jadi kalo dipotong feelnya ntar gaasik HAHA

Makasih banyak buat yang udah review di chap sebelumnya! I really appreciate that! Thanks for the supporting word, for the kind word! love!

Makasih juga buat yang udah fav + follow:))

Ps. Tadinya reviewnya mau aku balesin disini tapi pasti jadinya panjang bgt dan ngebosenin... jadinya aku sebutin aja namanya, yaa. Aku baca semua reviewnya, btw!

Pss. Tolong kasih tau ya kalau masih ada typo... udah di cek sih tapi siapa tahu ada yang kelewat:))

Thanks To WooMina, 7D, Hannie, JWW, kimbapchu, Ourwonu, nikeagustina16, , Kyunie, Nikeisha Farras, wonuumingyu, NFGDRGN, Park RinHyun-Uchiha, Jjangmyeon, tfiiyy, KMaddict, guedter, Guest, sumpit mie ayam (cute usern, btw haha) mingyusforhead, reminie, syupit, kkokkoyah, jeononu, Albus Convallaria majalis, Mrs. EvilGameGyu, Re-Panda68 (hai juga salam kenal, duh dipanggil seulgi jadi malu HAHA!:)), awmeanie, chypertae, Honeylili

Read n Review?

Love,

seulgibear