POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the story here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#8 Falling
Wonwoo hanya tetap diam saat mereka lanjut berjalan. Mereka berjalan, dan suara yang terdengar hanyalah suara daun kering yang hancur terinjak kaki mereka. Ia tidak mau menjawab pernyataan sahabatnya, tapi di saat yang sama, ia juga tahu kalau rasanya tidak adil membiarkan perasaan Jun menggantung begitu saja, dan seolah-olah ia memberikan harapan kalau mereka bisa lebih dari sekedar teman. Sedangkan, Mingyu dan Minghao juga sedang membicarakan hal yang serupa.
"Yah, Mingyu-ya... Kau harus memberitahu Wonwoo sebelum kau kehilangannya." Minghao yang menggunakan penutup mata memberitahu temannya.
"Apa maksudmu?" Mingyu menjawab.
"Jangan bertingkah bodoh." respon Minghao.
"Aku tidak bersikap bodoh, aku hanya... lebih berhati-hati." Mingyu berkata.
Minghao menarik napas, dan mendongakkan kepalanya memandang langit, meskipun ia tidak bisa melihatnya. Mereka berjalan menuruni bukit, dan Minghao memutuskan untuk mengambil kesempatan ini untuk berbicara serius dengan temannya.
"Apa yang kau takutkan, sebenarnya?" Ia bertanya.
"Aku hanya... tidak ingin melalui hal seperti itu lagi." Mingyu berkata. "Dan, mungkin saja aku hanya menjadikannya seperti pengganti, kau tahu? Aku benar-benar tidak tahu apakah aku memang menyukainya atau tidak..."
"Jun tahu. Suatu saat, kau mungkin akan kehilangan Wonwoo dan Wonwoo jatuh ke pelukan sahabatnya yang selalu ada untuknya sejak dulu... Jadi, kalau aku jadi kau, aku akan bergerak cepat."
Ada keheningan di antara kedua sahabat itu,
"Aku tidak mau ia terlibat denganku... Seperti, masa laluku, kehidupan "jalanan"ku, atau apapun itu... Aku tidak mau dia harus mengalami sesuatu yang tidak akan dia alami kalau dia bersama Junhui.", Mingyu berkata sambil menatap tanah di bawahnya yang dipenuhi dengan daun yang berguguran.
"Jadi kau hanya akan menyerah begitu saja terhadapnya?" Minghao bertanya, "Seokmin mungkin akan kecewa." Pria berambut biru itu memutuskan untuk inilah saatnya memainkan kartu asnya.
"Yah, Minghao-ah. Jangan membawa-bawa Seokmin, dia tidak ada hubungannya dengan ini," Mingyu berkata sambil menggelengkan kepalanya dan menatap pria yang matanya ditutup itu. Minghao tertawa mengejek,
"Apa maksudmu dengan tidak ada hubungannya dengan ini? Kau dan aku sama-sama tahu kalau dialah alasan utama atas sikapmu yang pengecut ini."
Mingyu biasanya akan marah jika ada yang membahas tentang itu, tapi kali ini ia tidak bisa karena ia tahu apa yang Minghao katakan benar. Ia juga tahu kalau temannya yang berambut biru itu mengatakan itu semata-mata karena peduli padanya, dan sejujurnya hanya ingin ia bahagia. Dua sahabat itu berjalan dalam keheningan sekarang, ketika mereka mendengar suara daun-daun yang terinjak, suara gedebuk keras, dan sebuah teriakan. Minghao refleks langsung melepas penutup matanya, dan mereka berdua saling berpandangan. Setelahnya, mereka berdua berlari cepat, menuju arah suara teriakan tadi. Mereka berdua lari dalam kecepatan yang sama, keduanya panik, mencoba menenangkan diri. Ketika mereka sampai di sumber suara, mereka menyadari kalau seseorang jatuh ke dalam jebakan, dan sekarang berada di bawah tanah. Mingyu menyuruh Minghao untuk berlari ke penginapan, mencari bantuan. Minghao mengangguk dan mulai berlari ke penginapan. Sedangkan, Mingyu menyingkirkan tumpukan daun yang terdapat di atas jebakan itu, mungkin untuk kamuflase. Setelah menyingkirkan daun-daun itu, korban jebakan itu sekarang terlihat, dan Mingyu, dengan wajah bingung berkata,
"Wonwoo-ya?"
Wonwoo melihat ke atas dari bawah jebakan itu, memperlihatkan satu-satunya orang yang ada di sana, Mingyu.
"Ah! Mingyu-ya!" Wonwoo berkata, tersenyum karena sekarang ada seseorang yang menemaninya.
"Dimana Jun?" Mingyu bertanya, bertanya-tanya kenapa Wonwoo sendirian.
"Dia sedang mencari bantuan, sepertinya sebentar lagi juga dia akan kembali." jawabnya. Mingyu melihat ke sekeliling, dan memperkirakan kalau jarak dari tempatnya dan Wonwoo berada menuju penginapan adalah sekitar 30 menit. Mengingat kecepatan berlari Minghao, mungkin Minghao akan bertemu Jun di jalan.
"Oke," Mingyu berkata. Ia lalu mengulurkan tangannya ke dalam lubang tempat Wonwoo jatuh,
"Lompat dan pegang tanganku." ucap Mingyu, yang membuat Wonwoo tersenyum sedih dan berkata,
"Sepertinya pergelangan kakiku terkilir. Aku tidak bisa berjalan."
Mingyu mengutuki situasi ini pelan, dan mulai berpikir bagaimana caranya mengeluarkan Ketua Kelas yang terjebak. Ia merencanakan sebuah rencana, dan mulai menjalankan rencananya. Ia melompat turun ke dalam jebakan, dan mendaratkan kakinya di sebelah Wonwoo. Wonwoo memandangnya bingung, dan Mingyu menjelaskan,
"Oke. Kau akan naik ke bahuku, dan kau akan mendorong dirimu sendiri untuk naik ke atas, mengerti? Mengerti? Bagus." Mingyu menjelaskan, dan berjongkok, menunggu Wonwoo untuk menempatkan dirinya pada bahunya. Wonwoo berjalan pincang ke arahnya dan duduk di bahunya. Ia panik ketika ia hampir kehilangan keseimbangannya ketika Mingyu berdiri.
"Yah, kau sangat ringan... Apa kau makan?" Mingyu bertanya,
"Ya, ibu, aku makan.", Wonwoo bercanda dengan Mingyu.
Mingyu berjalan mendekat ke dinding jebakan itu, dan tinggi badan mereka disatukan sudah cukup untuk Wonwoo mencapai tanah di atasnya. Ia menyangga tangannya di tanah, dan mulai menaikkan dirinya sendiri. Tangannya bergetar, tapi ia berhasil mengangkat tubuhnya sendiri, dan sekarang berbaring di tanah.
"Kau berhasil?" Mingyu bertanya dari bawah.
"Yeah." Wonwoo menjawab, dan mengulurkan tangannya ke arah Mingyu yang masih berada di lubang,
"Lompat dan pegang tanganku," ucapnya.
"Wow, sangat original." Mingyu berkata dan dengan kuat memegang tangan Wonwoo. Mereka mencoba, tapi selalu berakhir gagal karena Wonwoo tidak cukup kuat untuk menarik Mingyu ke atas.
"Yah~, kenapa kau sangat lemah." Mingyu berkata. Mingyu lalu berjalan mundur dan berkata,
"Mundur," kepada Wonwoo yang berlari menjauh dari tepian lubang itu.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.
"Berlari, duh." Mingyu menjawab.
Mingyu mencoba untuk mundur sejauh mungkin dari dinding jebakan itu, dan berlari ke sisi dinding yang lain. Ia berlari menuju dinding dan berhasil menempatkan tangannya di tanah di atasnya, dan kekuatannya berhasil membuatnya mengangkat tubuhnya sendiri, mendarat di samping Wonwoo. Mingyu berdiri tegak, dan menawarkan tangannya untuk Wonwoo gunakan sebagai bantuan karena Wonwoo kesulitan untuk berdiri.
"Ayo kita ke penginapan," Mingyu menyarankan, "naik ke punggungku."
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu Jun dan Minghao dulu?" Wonwoo bertanya, sambil menatap jalan di depannya yang menuju ke penginapan.
"Kita kemungkinan akan bertemu mereka di jalan," Mingyu berkata, masih berjongkok, menunggu yang lebih pendek untuk naik.
"Tapi, kalau kita tidak bertemu mereka bagaimana?"
Mingyu berbalik dan menatap Wonwoo,
"Well, kalau kita tidak segera kembali ke penginapan, pergelangan kakimu bisa jadi semakin parah, jadi hentikan semua alasanmu dan naik."
Wonwoo memasang wajah kesal, dan naik ke punggung Mingyu. Lalu, Mingyu berjalan sambil menggendong Wonwoo, seperti waktu itu. Wonwoo menumpukan dagunya di bahu Mingyu, dan berkata,
"Kau selalu ada untukku ketika aku terluka."
Kalimat itu membuat mata Mingyu melebar. Wajah Mingyu memerah sedikit, dan ia sangat bersyukur karena Wonwoo saat ini tidak bisa melihat wajahnya, atau kalau tidak, Wonwoo akan terus menggodanya tanpa henti. Mereka sedang melewati sebuah turunan, dan Mingyu menjawab,
"Apa yang kau bicarakan? Diamlah." Ia berkata, gugup.
"Tidak~ Aku serius. Kau selalu ada untuk menyelamatkanku-"
"Kalau kau mengatakan satu kata lagi, kita akan kembali ke tempat tadi dan aku akan menjatuhkanmu di lubang itu lagi." Mingyu mengancan.
Itu berhasil, karena Wonwoo hanya mengeluarkan suara "Tch", dan tidak bicara lagi setelahnya. Ia menyamankan posisi kepalanya di bahu Mingyu. Mereka berdua berjalan menuruni turunan yang menuju penginapan ketika mereka mendengar suara, dan langkah kaki yang semakin mendekat. Mereka memperlambat jalannya dan diam, setelah melihat Jun, Minghao, dan 2 orang guru lainnya datang menuju bukit dan melihat mereka berdua.
"Itu dia!"
Jun berkata sambil menunjuk sahabatnya yang sedang berada di punggung musuhnya. Tim penyelamat itu mulai berlari, dan akhirnya sampai ke tempat mereka berdua. Minghao melihat Wonwoo berada di punggung temannya, dan memberikan Mingyu tatapan puas. Jun menghampiri Wonwoo dan Mingyu menurunkannya perlahan, memastikan kalau pergelangan kakinya tidak menginjak tanah dengan keras. Jun lalu memegang tangan Wonwoo dan menaruhnya di sekitar lehernya, menempatkan tangannya sendiri di sekitar pinggang Wonwoo, lalu membantu menopang hampir seluruh berat Wonwoo saat mereka mulai berjalan. Dari balik bahunya, Wonwoo memberikan Mingyu senyuman, dan Mingyu hanya melambaikan tangannya. Jun dan Wonwoo berjalan kembali ke penginapan ditemani 2 orang guru, sedangkan Mingyu dan Minghao berjalan di belakang.
"Wah~. Aku menyuruhmu untuk cepat bergerak, tapi maksudku bukan secepat itu... Seberapa kasarnya kau dengannya sampai dia tidak bisa berjalan setelahnya?" Minghao bercanda.
Mingyu memberikan pria berambut permen karet itu tatapan yang menjijikan, lalu berkata,
"Kau menjijikan. Dan, kau tahu bukan itu yang terjadi."
Mereka berdua sampai di penginapan, begitu juga dengan siswa senior yang lainnya -yang tentu tidak tahu apa yang sudah terjadi-. Lalu, setelah mengambil tas masing-masing, dan mengucapkan terima kasih pada para staff, mereka mulai menaiki bis lagi, dan perjalanan selama 3 jam kembali ke rumah pun di mulai. Posisi duduk tetap sama seperti sebelumnya, tapi perjalanan kali ini terasa lebih sepi. Seluruh siswa kelelahan karena acara barbekyu yang berlangsung hingga larut dan harus bangun pagi keesokan harinya untuk berjalan, jadi kebanyakan siswa jatuh tertidur. Ketika mereka sampai di sekolah, para siswa menuruni bis dan berkumpul di depan gerbang untuk pengabsenan. Mingyu meregangkan tubuhnya, dan kausnya terangkat sedikit, memperlihatkan v-linenya, dan menguap. Minghao meninju perut Mingyu, dan Mingyu terbatuk lalu mengunci kepala Minghao dengan tangannya. Mereka berdua tertawa, dan setelah seluruh siswa selesai diabsen, mereka semua membubarkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing. Jun membantu Wonwoo untuk pulang, dan Mingyu dan Minghao berjalan bersama menuju tempat biasa mereka berkumpul.
Keesokan harinya di sekolah, ada banyak gosip yang tersebar tentang ciuman antara pasangan yang tidak memiliki kecocokan satu sama lain, Wonwoo dan Mingyu, saat di acara perkemahan. Junhui tidak datang ke sekolah karena ia memiliki urusan keluarga di Pulau Jeju. Mingyu mengabaikannya, tapi Wonwoo tidak bisa berbohong kalau ia merasa terganggu dan malu mendengar gosip-gosip itu. Saat istirahat makan siang, Wonwoo pergi ke kantin untuk membeli roti dan sedang berjalan kembali ke kelas. Saat tiba-tiba, 3 orang gadis mengelilinginya, dan mulai menekannya dengan berbagai pertanyaan,
"Kenapa kau memaksakan dirimu pada Mingyu Oppa?"
Wonwoo memutar bola matanya, dan berkata,
"Aku tidak memaksakan diriku padanya... Itu hanya sebuah permainan."
Gadis-gadis di sekelilingnya saling bertatapan satu sama lain dan kembali menekan Wonwoo.
"Kau tidak pantas menciumnya, sekarang kau merusak bibirnya."
"Dia mungkin bukan gay, dan kau membuat kenangan buruk tentang sebuah ciuman untuknya..." Gadis-gadis itu bicara tanpa henti.
"Hanya karena kau gay, bukan berarti Mingyu Oppa juga...", dan Wonwoo mengigit bibirnya mencoba untuk tidak menangis. Bukan karena sedih, tapi karena frustasi dan karena ia sudah muak dengan percakapan ini.
"Sialan. Aku juga tahu kalau ada kemungkinan Mingyu bukan gay. Aku lebih tahu dari siapapun, dan kau pikir kau siapa mengatakan padaku kalau aku merusak bibir seseorang. Kau pikir kenapa aku mencoba sangat keras untuk menekan perasaanku?" Ketua Kelas itu berpikir dalam hati, sambil menatap ke lantai koridor, menolak untuk menatap gadis-gadis di hadapannya.
Tepat sebelum gadis-gadis itu bisa melanjutkan omongan kasar mereka, suara berat yang tidak asing terdengar di sepanjang koridor.
"Yah, Wonwoo-ya. Ayo kita pergi makan sesuatu.", ucapnya. Mingyu menatap gadis-gadis itu, yang saat ini sedang menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Aku tidak apa-apa, aku sudah membeli roti." Wonwoo berkata, dan mencoba keluar dari lingkaran itu.
"Mingyu Oppa menawarimu makan siang, dan kau berani untuk meno-"
"Diam." Mingyu berkata kepada gadis yang sedang bicara pada Wonwoo. Mingyu berjalan menuju kerumunan itu dan menarik pergelangan tangan Wonwoo, dan menyeretnya menyusuri koridor menuju kelas mereka,
"Aku bilang~, ayo makan siang!" Mingyu mengulangi. Ia mengambil roti yang ada di tangan Wonwoo, dan melemparkannya kepada salah satu gadis di sana, yang menangkapnya. Pria tinggi itu memberikan tatapan tajam pada masing-masing gadis di sana, dan terus berjalan bersama Wonwoo. Mereka melewati kelas mereka, dan Mingyu memberi sinyal kepada Minghao yang sedang duduk di kelas. Minghao berlari keluar kelas, dan bergabung dengan kedua temannya,
"Yah, kita mau kemana?"
"Aku juga ingin tahu jawabannya." Wonwoo menambahkan setelah Minghao.
Mingyu tersenyum dan menempatkan tangannya di dalam saku.
"Suatu tempat."
Minghao tersenyum, dan berhigh-five dengan Mingyu. Wonwoo terus berjalan, masih tetap keberatan untuk menghabiskan waktu makan siangnya di tempat itu.
Setelah berjalan selama 20 menit, mereka bertiga sampai di markas, dan jantung Wonwoo mulai berdebar kencang. Ia gugup karena ia ingat kalau Mingyu berkata teman-temannya yang lain sering berkumpul bersama di sini saat makan siang, jadi itu berarti ada 9 orang pria lainnya yang menunggu di markas. Ketua Kelas itu mulai merapikan rambutnya, menjadi kurang percaya diri dengan penampilannya. Tingkah Wonwoo disadari Minghao, dan Minghao mulai tertawa. Semakin mereka bertiga mendekat, Wonwoo mulai mendengar beberapa suara yang datang dari bangunan itu. Mingyu tidak mengetuk, karena pada dasarnya ia yang memiliki tempat itu, dan berjalan masuk, Minghao mengikuti di belakangnya, dan Wonwoo berjalan di paling belakang. Suara-suara itu terhenti sebentar, lalu seseorang berkata,
"Yah! Kenapa kalian terlambat, kami pikir kalian mendapat masalah."
Minghao mulai tertawa,
"Kami tidak terkena masalah, tapi Mingyu iya... dia memiliki masalah cinta~." Pria berambut biru itu menggoda saat berjalan melewati Mingyu dan bergabung dengan teman-temannya yang sekarang berkata kompak,
"Ooo~~~".
Mingyu tertawa dan menatap kesamping,
"Kami terlambat karena kami harus menjemput sesuatu." Mingyu menjelaskan.
"Oo! Apa itu makanan?", tanya salah seorang temannya.
"Bukan, dia-" Mingyu berbalik dan menyadari kalau Wonwoo tidak berada di sampingnya, ia menatap ke arah pintu masuk dan melihat Wonwoo yang masih ragu-ragu untuk masuk.
"Yah! Apa yang kau lakukan disana? Masuklah."
Wonwoo lalu mengangguk dan dengan canggung berjalan masuk, akhirnya bertemu dengan 8 pria lainnya. Ia membungkuk sopan dan berkata,
"Halo, aku Jeon Wonwoo."
Ruangan itu hening, dengan 10 pasang mata yang menatap Wonwoo. Wonwoo memiringkan kepalanya dan melihat 8 wajah yang asing untuknya, ia menyadari kalau seseorang tidak ada di sana, dari foto yang ia lihat. Mereka semua memakai seragam yang berbeda, tapi buku-buku jari mereka memar dan terluka, dan beberapa di antaranya juga memiliki luka di wajahnya. Tapi, wajah ramah mereka membuat Wonwoo sedikit lebih tenang. Mereka semua duduk di sofa, di lantai, dan beberapa berdiri, dan Mingyu berdiri di sebelah Wonwoo. Setelah beberapa saat dalam keheningan, semua pria di sana tersenyum ramah dan melambaikan tangan mereka, lalu setelahnya menyapa Wonwoo,
"Hai Wonwoo!" "Halo" "Yo~" "Wassup!"
Salah satu teman Mingyu memisahkan diri dari kerumunan, dan berjalan menuju Wonwoo dan mengulurkan tangannya. Wonwoo menjabat tangan itu, dan membungkukan kepalanya saat anak itu berkata,
"Tidak usah membungkuk!" Ia tertawa sedikit dan matanya hampir hilang saat tersenyum, lalu mengenalkan dirinya sendiri, "Namaku Soonyoung."
Mingyu menyuruh Soonyoung untuk kembali ke tempatnya supaya ia bisa mengenalkan Wonwoo pada teman-temannya yang lain. Di mulai dari sebelah kiri,
"Soonyoung, kau tahu. Jihoon, Joshua, Jeonghan, Vernon," ia berhenti, "Ah, untuk Vernon, itu adalah namanya di jalanan, tapi nama aslinya adalah Hansol," Mingyu melanjutkan,
"Minghao, Seungcheol, maknae kita, Lee Chan."
Mingyu menatap Wonwoo yang masih terlihat tidak nyaman dan mengumumkan,
"Ini Wonwoo, seperti yang kalian tahu dari perkenalannya. Dia ada disini karena gadis-gadis di sekolahku tidak bisa menutup mulut mereka," ia berkata dengan suara yang terdengar tidak tertarik dan sedikit kesal,
"Ooo~ Wonwoo-ya, apa kau seorang playboy? Apa mereka semua mengejarmu? Karena itu kau ada disini?" Soonyoung bertanya dengan senyum jahil.
"Tidak, mereka melakukan itu karena mereka marah saat tahu kalau Wonwoo dan Mingyu berciuman." Minghao mengatakannya tanpa rasa bersalah. Wonwoo melebarkan matanya terkejut, dan wajahnya mulai memerah karena malu, mengutuk Minghao pelan.
"Tunggu!" Vernon berkata, "Mingyu menciumnya?!"
Wonwoo mempersiapkan dirinya sendiri untuk umpatan-umpatan lain seperti "Kenapa kau menciumnya? Kau tidak pantas menciumnya". Tapi, bukannya cacian dan umpatan seperti yang ia bayangkan, seisi ruangan itu malah tertawa.
"Mingyu-ya~. Selamat untuk ciuman perta-", Mingyu dengan cepat mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Jihoon untuk menghentikan ucapan Jihoon. Tapi, itu sudah terlambat karena Wonwoo sudah mengerti apa yang akan Jihoon katakan.
"Ciuman pertama? Aku ciuman pertama Mingyu?"
Ketua Kelas itu berpikir dalam hati, dan menatap Mingyu yang jadi gugup, dan wajahnya memerah. Wonwoo memasang ekspresi wajah tertarik karena ia belum pernah melihat wajah Mingyu memerah atau gugup sebelumnya. Mingyu berdehem, dengan pipi yang masih memerah,
"Terima kasih Minghao.", ia memberikan tatapan kesal pada sahabat berambut birunya, "Jadi, yeah. Baik-baiklah padanya, dia orang yang santai. Tapi, jangan terlalu kasar, dia tidak seperti kita. Mengerti?" Mingyu menyelesaikan, teman-temannya berkata serempak,
"Yup!", dan melanjutkan obrolan mereka.
Minghao menyuruh Wonwoo untuk mendekat, dan Wonwoo dengan canggung bergabung dengan Jisoo, Jeonghan, Minghao dan Jihoon. Ketika Wonwoo bergabung, perhatian kesembilan anak di ruangan itu terarah padanya, dan sekarang semua orang bergabung dalam percakapan mereka. Wonwoo jadi jauh lebih nyaman bersama mereka, tapi ia masih menjaga jarak, takut-takut kalau ia mengatakan sesuatu yang salah. Mereka semua sedang makan sekarang, dan mereka saling berbagi makanan, bahkan dengan Wonwoo yang rotinya dilempar oleh Mingyu. Wonwoo menyukai teman-teman Mingyu dan senang karena mereka memperlakukannya dengan normal, dan tidak mengucilkannya. Mereka tidak pernah meninju atau memukul orang-orang yang tidak bersalah, dan Wonwoo tidak mempermasalahkan titel 'biang onar' yang melekat pada mereka. Lalu, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan, kebanyakan tentang Mingyu dan Wonwoo,
"Wonwoo-ya. Apa kau dan Mingyu berpacaran?" Lee Chan, sang maknae bertanya.
Wonwoo hampir tersedak makanannya, ia mengatakan "Tidak" sambil terbatuk, dan menggelengkan kepalanya.
"Benarkah? Lalu... kenapa dia membawamu kesini?", Jeonghan bertanya, benar-benar penasaran. Wonwoo hanya mengedikkan bahunya dan lanjut memakan makanannya,
"Apa kau menyukainya?" Jisoo bertanya. Wonwoo berbohong dan berkata,
"Tidak."
"Ah~. Jadi Mingyu kita sedang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, huh?" Hansol berkata. Wonwoo memberikan Hansol tatapan bingung, dan Minghao tersenyum.
"Wonwoo-ya, lihat ini. Kami semua memiliki "peraturan", dimana kami harus mengatakan yang sejujurnya ketika ditanya tentang suatu hal yang serius. Tapi, kami hanya mengatakannya pada satu sama lain. Orang lain tidak dihitung." Minghao tertawa,
"Ah! Aku mengerti apa yang akan kalian lakukan."
Vernon berkata dan tersenyum. Setelah beberapa detik dilalui dengan saling bertatapan satu sama lain, semua anak di ruangan itu setuju dan mengangguk, kecuali Wonwoo yang hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Semua anak mengalihkan perhatiannya pada Mingyu yang sedang duduk di pojok ruangan, membaca buku tentang Astrologi.
"Mingyu-ya!", Suara halus Jeonghan memanggil.
"Apa?" Mingyu menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari bukunya.
"Apa kau menyukai Wonwoo?"
Wonwoo berhenti makan dan fokus pada jawaban Mingyu. Di sisi lain, ia bertekad untuk tidak memikirkan apapun jawaban yang Mingyu katakan, karena mana ada orang yang benar-benar mengikuti aturan untuk mengatakan hal yang sejujurnya seperti itu? Mingyu mengangkat wajahnya dari buku yang dibacanya, dan tanpa berpikir lagi menjawab,
"Yep.", sambil menganggukkan kepalanya.
To Be Continued...
Chapter ini tuh lucu bgt terakhirnya hahaha Mingyu ih:33 anw, buat yang ngarepin jun sama mingyu bersaing sampe jambak-jambakan(?) ngerebutin wonwoo i have to say it's not gonna happen karena jun karakternya tuh sahabat yg baik bgt huhu;(
Makasih banyak buat yang udah review, follow, fav;)))
Special Thanks To kimbapchu, baekvelvet, hoshilhouette, jeononu, gyugyugyu, 7D, Guest, bananona, chypertae, Hannie, Re-Panda68, KMaddict, , WooMina, reminie, NikeishaFarras, nikeagustina16, RPuspitasary21, wonuumingyu, Albus Convallaria majalis, Kyunie, wonwoo like boomboom
Read n Review?
Love,
seulgibear
