POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#8 First


Jawaban Mingyu singkat, dan langsung pada intinya. Wonwoo bersyukur karena ia menghentikan acara makannya, karena jawaban Mingyu yang cepat dan mungkin jujur itu bisa membuatnya tersedak makanan yang ada di mulutnya. Wonwoo memukul-mukul dadanya, karena ia benar-benar tersedak. Minghao menepuk-nepuk punggungnya sambil tertawa, mencoba membantu Wonwoo yang kesulitan bernafas. Mingyu tidak bermaksud untuk mengakuinya semudah itu, tapi buku di tangannya mengambil alih hampir seluruh perhatiannya, dan ia mengatakan yang sejujurnya saat ditanya oleh suara Jeonghan yang tidak asing, lembut, dan terdengar seperti malaikat. Jadi, dengan melupakan keadaan sekitarnya, ia lupa kalau orang yang disebutkan dalam pertanyaan Jeonghan ada di tempat yang sama dengannya, Mingyu menjawab dengan jujur. Bagaimana bisa seseorang yang dikenal menyeramkan, berbahaya, dan kuat bisa menyukai Ketua Kelas yang canggung dan kutu buku? Setelah mendengar suara batuk yang terdengar putus asa, Mingyu baru sadar kalau Wonwoo berada di sana, jadi ia langsung mencoba menutupinya, berkata dengan terbata-bata,

"Mak-maksudku, sebagai teman, tentu saja. Hanya-hanya sebagai teman."

Teman-temannya yang mengelilingi Wonwoo tertawa keras saat mendengar ketua mereka berusaha menyembunyikan kebenaran yang sudah terucap.

"Sayang sekali, Mingyu. Pria ini," Seungcheol menaruh tangannya di bahu Wonwoo yang sekarang wajahnya memerah karena kekurangan oksigen.

"Tidak memiliki perasaan yang sama denganmu."

Mingyu menatap Wonwoo dan Wonwoo memalingkan tatapannya, tidak bermaksud sok jual mahal, tapi ia hanya tidak bisa percaya seluruh situasi ini. Bagaimana kalau ini hanya sebuah prank, atau sebuah lelucon dan Wonwoo benar-benar mengakui perasaannya? Itu akan sangat menyeramkan, dan ia mungkin tidak akan bisa menunjukkan wajahnya di depan Minghao atau Mingyu lagi.

"Sudah kukatakan~" Minghao berkata,

"Kau mungkin sudah kalah dengan Jun." Ia menambahkan.

"Jun?", Jisoo bertanya.

"Sahabatnya," Minghao menjawab.

"Dia lumayan cute, aku tidak bohong." Ia menambahkan.

Mereka semua menatap Minghao,

"Anyway~" Hansol berkata,

"Jadi, apa kau berpacaran dengan Jun?" ia melanjutkan.

Wonwoo menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan pelan,

"Tidak, dan aku tidak menyukainya dalam konteks seperti itu." Ia menjelaskan.

"Oh! Jadi, apa itu berarti aku bisa memilikinya?" Minghao berkata, ia menerima lirikan dari Wonwoo.

"Hanya bercanda." ia meyakinkan dengan sebuah senyum manis dan tawa. Mingyu sedang menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik buku astrologinya, ketika Lee Chan tiba-tiba memanggilnya.

"Mingyu hyung, aku pikir Wonwoo hyung tidak menyukaimu."

Wonwoo duduk di sana dengan canggung, tersenyum saat mendengar Lee Chan memanggilnya "hyung". Ia sedang menganalisa situasinya. Ia mengingat wajah Mingyu yang memerah dan malu, dan Minghao juga bukan orang yang senang bercanda tentang hal-hal seperti itu. Dan juga, kenyataan bahwa ia adalah ciuman pertama Mingyu... Apa Mingyu benar-benar mengatakan yang sebenarnya, secara tidak sengaja? Hal-hal itu membuat Wonwoo mulai berpikir, mulai berharap, kalau Mingyu memang benar menyukainya juga. Tapi, percakapan itu terhenti ketika Mingyu mengalihkan topiknya menjadi Jun.

"Mereka berciuman," Mingyu membongkarnya, dan Wonwoo jadi gugup.

"Wah~~", suara itu datang dari semua orang di ruangan itu.

"Tapi kalian juga berciuman." Seungcheol mengingatkan.

"Tapi, Jun yang pertama." Mingyu membalas.

"Itu tidak dihitung... Jun bukan ciuman pertamaku, setidaknya aku tidak berpikir begitu." Wonwoo berkata, merasa kalau obrolan ini tetap berlanjut, akan ada lebih banyak kesalahpahaman. Jeonghan memasang wajah berpikir dan berkata,

"Jadi, kalau begitu..."

Semua teman-temannya secara bersama-sama menatap Mingyu yang sudah kembali membaca. Ia merasakan tatapan dari teman-temannya, dan mengalihkan pandangan dari bukunya,

"Apa?"

"Kalian berdua adalah ciuman pertama satu sama lain?"

Jeonghan menyuarakan pemikirannya. Suara "Ooo~" yang serempak datang dari teman-temannya. Mingyu berdehem dan berdiri dari tempat duduknya. Dengan pipinya yang sekarang berwarna pink, ia mengatakan kalau ia akan kembali ke sekolah, dan mengatakan pada teman-temannya untuk menikmati makan siang mereka. Teman-temannya tertawa melihat reaksi ketua mereka setelah obrolan ini. Karena Wonwoo masih merasa tidak nyaman dengan teman-teman Mingyu yang lain, dengan refleks ia membereskan barang-barang yang ia bawa dan berkata,

"Aku ikut denganmu!"

Dan mengikuti Mingyu keluar dari ruangan itu. Ketika Wonwoo sudah tiba di luar, Mingyu sudah berada lumayan jauh di depannya, Wonwoo mengejarnya dan sekarang berjalan di samping Mingyu. Mingyu melirik ke sebelahnya dan melompat sedikit karena terkejut melihat kedatangan Wonwoo yang tiba-tiba. Mingyu berhenti berjalan, dan Wonwoo menatapnya,

"Yah. Kenapa kau ada disini?"

Wonwoo merasa sedikit tersinggung mendengar pertanyaan itu, dan ia menunjukkannya lewat ekspresi wajahnya,

"Kau yang membawaku kesini, dan kau meninggalkanku dengan 9 orang lainnya yang baru hari ini kukenal. Ya, kenapa aku mengikutimu keluar?" Ia menjawab dengan sarkastis. Mingyu memutar bola matanya dan berkata,

"Aku pergi karena pembicaraan tadi membuatku merasa tidak nyaman. Dan, aku yakin kau juga merasa canggung,"

"Tepat sekali! Itulah kenapa aku mengikutimu kesini" Wonwoo mendebat.

"Oke, aku mengerti itu, tapi sekarang teman-temanku mungkin sedang membicarakan kita. Mungkin membuat gosip-gosip seperti kita memang berpacaran, atau apalah itu." Mingyu berkata sambil menatap gedung di belakangnya dan mengacak rambutnya, frustasi.

"Jadi... kau tidak mau mereka berpikir kalau kita berpacaran." Wonwoo berkata, sedikit kecewa. Mingyu menatapnya, menyadari nada suaranya dan berkata,

"Tidak." Mingyu menjawab sambil menyilangkan tangannya di depan dada, memancing reaksi dari Wonwoo.

"Jadi, kau akan merasa malu kalau orang-orang mengatakan kau berpacaran denganku..." ucapnya.

"Ini bodoh." Mingyu berkata pelan, dan memegang bahu Wonwoo, membungkukan wajahnya sedikit sehingga sekarang wajah mereka saling berhadapan,

"Tidak, aku tidak akan merasa malu. Alasan kenapa aku tidak mau mereka berpikir kalau kita berkencan adalah karena salah satu dari kita berbohong tentang perasaan kita di ruangan itu, dan aku akan mengatakan sesuatu padamu. Bukan aku yang berbohong." Mingyu berkata dengan nada yang serius, menatap mata Wonwoo. Wonwoo mencoba menghindari tatapannya, tapi gagal dan pada akhirnya mereka saling menatap mata satu sama lain. Mingyu masih bisa melihat kebingungan di mata Wonwoo,

"Ya Tuhan, apa aku harus mengatakannya lagi padamu?"

Yang lebih pendek tetap diam,

"Aku. Menyukaimu." Mingyu berkata, dengan tegas, untuk menghindari kecurigaan Wonwoo lagi. "sangat menyukaimu, sebenarnya." Ia menambahkan.

Wonwoo menatap Mingyu, tercengang. Mingyu menghela napas, dan melepaskan bahu Wonwoo, dan mulai berjalan menjauh. Wonwoo tersadar dari pikirannya, dan secara tidak sadar menarik tangan Mingyu,

"Aku juga menyukaimu.", Wonwoo mengakui sambil menatap tanah di bawahnya. Mingyu tersenyum bodoh melihat Wonwoo yang polos, dan membalas,

"Aku tahu."

Wonwoo menatap Mingyu, berdecih, dan melepaskan tangannya, mulai berjalan duluan,

"Tidak usah dipikirkan, aku menarik perkataanku."

Mingyu mulai tertawa,

"Kau tidak bisa mengambil ciuman pertamamu lagi~" Mingyu menggodanya dan berlari untuk mengejar Wonwoo yang memukul tangannya ketika ia melakukannya.

Mereka berdua berjalan, dengan senyuman di wajah masing-masing, tapi tidak saling berbicara, dan hanya menikmati kehadiran satu sama lain.

"Jadi... apa yang kau sukai dari aku?", Wonwoo bertanya dengan canggung. Mingyu menarik napas dalam, dan memicingkan matanya dan berpikir sebentar.

"Aku tidak tahu, sejujurnya..."

"Bagus, terima kasih." Wonwoo menjawab sambil tertawa.

"Tidak, aku memang menyukaimu... Aku hanya, tidak tahu alasannya kenapa." Mingyu berkata, ekspresi wajahnya terlihat berpikir keras.

"Benarkah? Aku tahu kenapa aku menyukaimu." Wonwoo menggoda, tersenyum sambil menatap ke depan. Mingyu menatap yang lebih pendek, dengan mata yang penuh rasa ingin tahu,

"Benarkah? Katakan padaku!" Mingyu bertanya, membuat Wonwoo tertawa,

"Aku akan mengatakannya padamu kalau kau juga mengatakannya padaku."

"Tch. Baiklah, aku pegang janjimu!"

Mereka berdua lanjut berjalan dan Wonwoo mengeluarkan ponselnya untuk mengecek sesuatu, lalu ia melihat jam.

"Yah! Kita sudah terlambat!"

Wonwoo baru akan mulai berlari, ketika tangan Mingyu menahan tangannya,

"Wonwoo-ya. Bisakah kau membolos sekali ini saja?"

Wonwoo memberikan tatapan "seriously?" pada Mingyu.

"Kumohon," Mingyu terus memohon.

"Untuk apa?"

Mingyu tersenyum, dan matanya membentuk bulan sabit yang terlihat lucu,

"Ayo kita jalan-jalan."

Sebelum Wonwoo bisa menolak dan berceramah tentang betapa pentingnya pendidikan, dan tahun ini adalah tahun terakhir mereka, dan mereka harus belajar dan fokus untuk masa depan, Mingyu menyambar pergelangan tangannya, dan menariknya. Di perjalanan, Wonwoo terus-terusan merengek, meminta Mingyu untuk memutar balik dan kembali ke sekolah, tapi rengekan itu hanya dianggapa angin lalu oleh Mingyu. Akhirnya, mereka sudah berada cukup jauh sehingga Wonwoo menyerah, dan berhenti bicara, lalu mengikuti Mingyu dengan sukarela. Mingyu menyadari itu, dan akhirnya melepaskan pegangannya pada lengan Wonwoo, dan memimpin perjalanan mereka dengan ceria. Untung saja Wonwoo sudah membawa barang-barangnya dengannya ketika mereka pergi dari sekolah untuk makan siang, sehingga mereka tidak perlu kembali ke sekolah setelah acara "jalan-jalan" mereka. Mereka sampai di sebuah dome putih, dengan kaca gelap yang mengelilingi bangunan putih itu, Wonwoo menatap dengan kagum dan rasa penasaran. Mingyu mengajak yang lebih pendek untuk masuk ke bangunan itu, tahu kemana harus berbelok, dan ruangan mana yang harus mereka tuju. Ketika mereka berdua berjalan memasuki ruangan, ruangan itu seperti bioskop, sangat gelap dan ada puluhan kursi tersusun. Mereka berdua duduk bersebelahan, dan Wonwoo menyadari kalau kursi-kursi itu tersusun berbaris di sepanjang jalan.

"Apa ini?" Wonwoo bertanya, mengacu kepada tempat yang saat ini mereka duduki. Mingyu menatap yang lebih pendek dengan mata melebar,

"Kau belum pernah kesini sebelumnya?" Mingyu menjawab dengan sebuah pertanyaan.

"Tidak," ia menjawab sambil menggelengkan kepalanya.

Mingyu menatap Wonwoo dengan rasa kecewa di matanya, dan bukannya memberitahu Wonwoo mereka sedang ada dimana, ia tersenyum dan berkata,

"Lihat ke atas."

Wonwoo menuruti perkataan Mingyu, dan melihat ke atas untuk melihat langit-langit yang indah. Sebuah layar di langit-langit yang memproyeksikan warna biru gelap dengan corak hitam, gradiasi warna putih, pink, dan kuning, yang membentuk warna langit malam yang menakjubkan. Mata Wonwoo berbinar penuh kekaguman, dan Mingyu tersenyum tulus melihat reaksi pria di sampingnya, matanya dipenuhi oleh cinta. Momen kecil ini membuat Mingyu semakin jatuh hati pada Wonwoo. Wonwoo tersenyum, gigi putihnya yang sempurna terlihat saat ia sedang menatap langit-langit.

"Tempat ini adalah tempat favoritku yang paling sering kudatangi, selain markas." Mingu berkata, dan Wonwoo mengalihkan perhatiannya untuk menatap Mingyu yang sekarang sedang menatap langit yang terproyeksi di langit-langit itu, dengan senyum di wajahnya.

"Ini adalah Stargazing Theater Planetarium..." Mingyu menatap Wonwoo, dan mereka sekarang saling berhadap-hadapan, hanya terpaut beberapa sentimeter. Mingyu tersenyum,

"Keren, kan, huh?" ia berkata. Senyuman Mingyu membuat bibir Wonwoo juga ikut tersenyum, ia mengangguk dan kembali menatap langit buatan di atasnya,

"Mhm."

Mereka berdua menghabiskan hampir 2 jam di dalam ruangan itu. Saat proyektor berputar untuk memperlihatkan area langit yang berbeda, Mingyu menjelaskan dan memperkenalkan nama-nama bintang dan rasi bintang kepada Wonwoo yang mendengarkan dengan tertarik. Wonwoo merasa terpesona dengan pengetahuan Mingyu tentang astrologi yang luas. Ia jadi mengerti kenapa Mingyu hanya masuk kelas saat pelajaran Sains, dan tanpa sadar terjatuh semakin dalam pada pesona Mingyu saat ia membicarakan tentang bintang dengan bersemangat.

"Berapa banyak yang kau tahu tentang bintang dan galaksi?" Wonwoo bertanya, dan menatap Mingyu yang matanya masih terpaku pada langit-langit di atasnya.

"Aku tidak memiliki masa kecil yang begitu menyenangkan, jadi... ketika segalanya memburuk di rumah, aku akan pergi keluar, berbaring di atas bukit dan memandangi bintang-bintang.", ia menjawab, dengan sebuah senyuman lembut di wajahnya. Wonwoo tidak memperdalam obrolan itu, dan kembali mengalihkan pandangannya pada galaksi di atasnya,

"Ini mengagumkan...," Wonwoo berkata, menatap Mingyu dan berkata dalam hati, "Kau mengagumkan."

Setelah menghabiskan waktu hampir 2 jam, mereka berdua memutuskan untuk berkeliling di sekitar kota, dan karena keduanya merasa lapar -setelah makan siang mereka di markas terganggu-, mereka memutuskan untuk mencari makan. Mereka keluar dari planetarium, dan mulai berjalan keliling kota, mencari tempat untuk makan. Wonwoo sedang ingin makan burger, dan Mingyu ingin makan ayam, jadi mereka memutuskan untuk memakan keduanya. Mereka membagi burgernya, dan memesan 6 potong ayam, dan membaginya sama rata. Wonwoo membuka resleting tasnya, mencoba mengambil dompet untuk membayar makan siang mereka, tapi Mingyu sudah terlanjur membayarnya sebelum Wonwoo berhasil mengeluarkan dompetnya. Wonwoo menatap Mingyu dan berkata,

"Aku akan membayar separuhnya," dan kembali mencari dompetnya di tas. Mingyu menarik tangan Wonwoo menjauh dari tasnya, dan menutup resletingnya,

"Aku yang bayar," lalu ia tersenyum manis dan berkata, "Karena Ketua Kelas kita sudah membolos pelajaran untuk berjalan-jalan denganku."

Wonwoo memutar bola matanya, tersenyum, dan duduk di hadapan Mingyu. Mereka memakan makanan mereka di bagian luar restoran cepat saji itu, karena semua kursi di dalam sudah dipenuhi oleh para pelanggan yang menunggu pesanan. Mereka makan, dan membicarakan tentang hal-hal random, tertawa beberapa kali. Selagi makan, Wonwoo berpikir tentang betapa anehnya situasi di antara mereka saat ini. Sekarang, mereka sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, mereka sama-sama tahu kalau mereka saling menyukai... Jadi, selanjutnya apa? Apa sekarang mereka sudah resmi berpacaran? Apa ini kencan pertama mereka? Pikiran-pikiran seperti itu memenuhi kepala Wonwoo. Ia tidak yakin, tapi ia juga tidak yakin kalau ia ingin membahasnya secara langsung dan bertanya pada Mingyu tentang apa yang terjadi selanjutnya. Dan untungnya, ia tidak harus melakukan itu.

"Wonwoo-ya", Mingyu berkata, "Aku harap kau sadar ketika aku mengatakan 'aku menyukaimu', maksudku adalah lebih dari sekedar seorang teman..." suara Mingyu yang terdengar dalam berkata.

Wonwoo mengingat perkataan Mingyu di markas tadi, dan memutuskan untuk menggodanya,

"Oh benarkah? Tapi kau tidak bilang begitu saat di markas tadi."

Mingyu mendengus.

"Lupakan tentang apa yang kukatakan di markas tadi." Ia berkata sambil tertawa kecil,

"Aku benar-benar menyukaimu. Aku berkata yang sejujurnya dan tulus." ia melanjutkan.

Wajah Wonwoo memerah saat mendengar pengakuan Mingyu, dan ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, jadi ia menyentil dahi Mingyu sebagai hukuman atas kata-katanya yang terdengar cheesy. Mingyu terlonjak sedikit saat merasakan perih akibat perbuatan Wonwoo dan berkata,

"Yah. Aku sudah membuat pengakuan yang jujur, dan begitu balasanmu?!"

Mata Mingyu berkilat kesal saat mengatakan itu, tapi rasa kesal itu sekejap hilang ketika ia menatap Wonwoo yang sekarang wajahnya berwarna merah padam, dan sedang mencoba menyembunyikan wajahnya di lengan baju seragamnya,

"I-idiot..." Wonwoo berhasil mengeluarkan sepatah kata meskipun terbata-bata, masih menyembunyikan wajahnya yang merah padam di lengan bajunya,

"Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, aku juga menyukaimu."

Mingyu tersenyum, dan berkata,

"Wonwoo-ya, tatap aku."

Wonwoo tidak bergerak sedikitpun, jadi Mingyu mengangkat wajah Wonwoo dengan tangannya, dan sekarang menggenggam wajahnya. Ia menaikkan dagu Wonwoo dan dengan lembut sehingga sekarang mereka saling bertatapan. Mingyu terus menampilkan senyum manisnya saat melihat wajah Wonwoo yang menurutnya lucu saat ini, dan berkata,

"Jadi, karena kita sudah mengatakannya...", wajah mereka sekarang benar-benar dekat, Wonwoo bisa merasakan deru nafas Mingyu di wajahnya.

"Jeon Wonwoo. Maukah kau jadi kekasihku?"

Mata Wonwoo terasa basah saat mendengar itu, dan setetes air mata jatuh menuruni pipinya. Orang-orang di sekitar mereka mulai menatap mereka dan saling berbisik-bisik. Ditambah kenyataan kalau Mingyu sedang memegang wajahnya, dan wajah Mingyu dipenuhi memar dan luka, ia benar-benar terlihat seperti preman jalanan.

"Yah, yah. Kenapa kau menangis?"

Mingyu berkata, mencoba mengusap air mata di wajah Wonwoo dengan putus asa dan mencoba menghentikan tangis Wonwoo. Ia bangkit dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengusap pipi Wonwoo.

"Yah! Orang-orang akan menyangka kalau aku sedang melakukan hal yang tidak-tidak padamu!"

Mingyu berkata, panik. Wonwoo juga tidak mengerti kenapa ia menangis. Apa karena ia bahagia? Lega karena akhirnya Mingyu juga menyukainya? Takut dan sedih akan apa yang akan mereka berdua hadapi selanjutnya? Air matanya mungkin mengandung ketiga emosi itu. Mingyu menatap ke sekelilingnya, membungkukkan kepalanya untuk meyakinkan orang-orang di sekitarnya kalau Wonwoo sama sekali tidak kenapa-napa, dan sebelum Mingyu sempat menyuruhnya menghentikan tangisnya untuk kedua kalinya, Wonwoo melingkarkan tangannya di leher Mingyu dan menariknya ke dalam sebuah pelukan. Wonwoo menenggelamkan wajahnya di bahu Mingyu yang terasa tidak asing dan nyaman. Hanya saja kali ini berbeda, ia tidak terluka dan tidak sedang memeluknya dari belakang. Memeluk Mingyu dari depan, Wonwoo bisa merasakan turun naiknya dada Mingyu saat Mingyu bernapas. Mingyu berdiri diam, terkejut atas gerakan tiba-tiba Wonwoo. Ia baru akan membalas pelukan Wonwoo, tapi Mingyu memutuskan untuk menundanya,

"Jadi... apa itu berarti 'ya'?"

Wonwoo tersenyum di bahu Mingyu, dan mulai tertawa.

"No shit." ia berkata dengan sarkastis.

Mingyu juga tertawa, dan mulai membalas pelukan Wonwoo lalu melingkarkan tangannya di pinggang kekasih barunya itu. Pasangan baru itu terus tersenyum, bibir mereka tertarik ke atas membentuk senyuman lebar yang dipenuhi rasa bahagia. Mingyu mengeratkan pelukannya, dan sekali lagi Wonwoo merasa kalau pelukan Mingyu, meskipun terasa erat, tetap terasa lembut, seakan-akan Wonwoo adalah benda yang bisa hancur kapan saja jika dipeluk terlalu erat. Mereka berdua melepas pelukan mereka, Mingyu tersenyum dan mengecup wajah Wonwoo, yang matanya hampir tidak terlihat karena senyumnya yang lebar.

"Ah! Berikan ponselmu,"

Mingyu memerintah, dan Wonwoo menurut sambil mengeluarkan iPhone putihnya dan memberikannya pada Mingyu. Mingyu masuk ke fitur kontak di ponsel Wonwoo, dan baru akan menambahkan nomornya ke daftar 'Favorites', lalu ia merengut. Wonwoo berjinjit untuk melihat apa yang membuat Mingyu merengut seperti itu. Di daftar Favorites di kontaknya, sebelum nomor Ibu dan Ayahnya, ada nomor Junhui.

"Aku akan mengganti ini," Mingyu berkata dan Wonwoo tertawa melihat sikap kekanak-kanakan Mingyu. Mingyu lalu mengetikkan nomornya, menyimpan namanya dengan emoji gembok dan hati.

"Kau sangat norak~", Wonwoo berkata.

Ketika Mingyu mengembalikan ponselnya, Wonwoo melihat kalau Mingyu tidak menghapus nomor jun dari daftar Favoritesnya, hanya saja sekarang nomor sahabatnya itu berada di posisi kedua. Ia menatap Mingyu yang sekarang mengedipkan sebelah matanya dan berkata,

"Sekarang, aku yang pertama."

Ia berkata sambil membusungkan dadanya dengan bangga, membuat Wonwoo tertawa. Mereka berdua berdiri setelah menyelesaikan makanan mereka, dan mulai berjalan. Wonwoo berjalan sedikit lebih cepat untuk menyesuaikan langkahnya dengan langkah Mingyu yang besar-besar. Mingyu terus menatap Wonwoo, bukan menatap wajahnya, tapi menatap tangannya yang bergoyang-goyang bebas di sampingnya. Ia menatap sekitarnya, lalu menyelipkan tangannya di antara jemari Wonwoo. Wonwoo menatap tangannya, dan menatap Mingyu yang wajahnya sedikit merona, lalu mengeratkan genggaman tangan mereka. Mereka berdua kembali berjalan, dengan jari jemari yang saling bertautan. Genggaman tangan mereka rasanya pas sekali, seakan-akan mereka memang diciptakan untuk satu sama lain. Mereka terus bergandengan tangan sampai mereka tiba di pintu masuk toko es krim, Mingyu melepaskan genggaman tangannya dan seperti seorang gentleman membukakan pintu toko itu untuk Wonwoo yang sekarang sedang mendengus melihat sikap cheesy Mingyu. Mingyu memesan satu eskrim cokelat, sedangkan kekasihnya memilih es krim vanila. Tentu saja, mereka tidak suka rasa es krim satu sama lain. Mereka lalu kembali berjalan, saling bergandengan tangan lagi, tangan mereka yang lainnya memegang es krim masing-masing. Wonwoo menghela napas dan sebuah senyuman muncul di wajahnya,

"Jadi seperti ini rasanya memiliki kekasih?" Wonwoo bertanya.

Mingyu mengangkat bahunya, sambil menjilat es krimnya,

"Aku tidak tahu, aku tidak pernah punya kekasih sebelumnya." Mingyu menjawab. Wonwoo menghentikan jalannya dan menjawab,

"Tidak mungkin... Kau bercanda."

Mingyu menggelengkan kepalanya,

"Tapi kau sangat tampan..."

Wonwoo berkata, suaranya terdengar ragu dan ia merasa semakin bingung. Mingyu terkekeh, dan Wonwoo berkata,

"Kau pasti setidaknya pernah menyukai seseorang, kan?"

Mingyu mengangguk pelan, dan menjawab,

"Yeah... Tapi, tidak terjadi apa-apa setelahnya, jadi kau adalah yang pertama untukku."

Wonwoo tidak ingin memperdalam pembicaraan mereka jadi ia hanya tersenyum dan berkata,

"Kau juga yang pertama untukku,"

"Aku tahu. Kau bahkan tidak sadar kalau Jun menyukaimu,"

"Itu karena aku hanya fokus pada kau-"

Mereka berdua saling bertatapan, dan Wonwoo yang gugup mencoba mengelak,

"Kau~liah. Maksudku aku hanya fokus belajar untuk kuliahku nanti." Ia menyelesaikan kalimatnya.

Mingyu tertawa dan berjalan mendekati Wonwoo, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit sehingga mereka sekarang berdiri sejajar,

"Ada es krim di hidungmu,"

Mingyu berkata pada Wonwoo yang sekarang menjulingkan matanya untuk mencari es krim di hidungnya,

"Dimana?"

Mingyu tersenyum dan berkata,

"Di sini~!"

Hidung Wonwoo tiba-tiba terasa dingin, dan ia tidak bisa bernapas dengan benar. Mingyu tertawa sambil menarik es krim cokelatnya dari hidung kekasihnya. Mulut Wonwoo terbuka karena terkejut, dan tersenyum jahil saat ia berhasil membalas dendam pada Mingyu dengan melakukan hal yang sama. Lalu setelahnya perang es krim pun tidak terhindarkan, yang membuat wajah keduanya di penuhi dengan es krim. Sambil tertawa, Mingyu menarik pinggang Wonwoo dan menariknya mendekat sehingga Wonwoo tidak bisa bergerak ke manapun dan mendorong es krimnya yang tinggal sedikit ke wajah Wonwoo. Wonwoo juga melakukan hal sama pada Mingyu, dan sekarang mereka berdua tertawa, dengan wajah yang berada sangat dekat... lalu mereka melakukannya. Mingyu memajukan tubuhnya dan mencium bibir Wonwoo sekilas dengan manis. Wonwoo tersenyum dan berpikir, setelah ini, mungkin es krim cokelat rasanya tidak akan terlalu buruk?

Setelah itu, mereka berdua membersihkan wajah di toilet umum di sekitar situ, lalu Wonwoo berkata kalau ia harus pulang ke rumah untuk menyelesaikan tugasnya supaya orangtuanya tidak khawatir. Akhirnya mereka berpisah, keduanya saling membalikkan tubuh mereka beberapa kali untuk saling menatap satu sama lain. Ketika Wonwoo sampai di rumah, ia menyelesaikan tugasnya dan mandi, lalu tiduran di tempat tidurnya saat ia melihat ponselnya bergetar dan berbunyi di mejanya. Wonwoo mengerang, dan mengambil ponselnya, merasa malas harus berdiri dan bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman. Di layar ponselnya yang terkunci, terlihat preview pesan dari Mingyu. Wonwoo tiba-tiba merasa bersemangat, dan dengan cepat membuka kunci ponselnya,

Mingyu️️❤️ : Hei. Semoga kau sampai rumah dengan selamat, dan aku bersenang-senang hari ini.

Wonwoo menatap layar ponselnya, tersenyum secara tidak sadar sambil bertanya-tanya darimana Mingyu mendapat nomornya. Lalu, ia sadar kalau Mingyu mengirim pesan pada dirinya sendiri ketika ia menyimpan nomornya di ponselnya tadi.

Wonwoo: Hai, ya, aku sudah sampai. Aku juga bersenang-senang hari ini!

Ia membalas, hatinya berdebar kencang dan tersenyum menatap pesan Mingyu. Mereka mungkin baru saja berpacaran secara resmi, tapi Wonwoo suka caranya Mingyu yang mengiriminya pesan setelah kencan mereka.

Mingyu️️❤️ : Wonwoo-ya. Hari ini adalah kencan pertama kita dari banyak kencan lainnya, oke?

Ketua Kelas itu menatap layar ponselnya, tersenyum, dan mengetikkan balasannya.

Wonwoo: Oke.

.

.

.

To Be Continued


"Itu karena aku hanya fokus pada kau-"

Mereka berdua saling bertatapan, dan Wonwoo yang gugup mencoba mengelak,

"Kau~liah. Maksudku aku hanya fokus pada kuliahku nanti." Ia menyelesaikan kalimatnya.

Kalimat itutuh kalo dibahasa inggris jadinya lucu gituuu:3

aslinya gini, "That's because I was focused on only you-" "U~niversity." he finished his sentence. tapi di translate ke bahasa jadinya awkward gitu:( jadi garing HAHAHAHA maafin ya haha

abis ini tuh full fluff so please bear with cheesy meanie :3:3

ps. ini updatenya dari app fanfiction sekalian coba fitur barunya aplikasi ffn yg skrg bisa update story:3 jadi kalo ada typo atau layoutnya aneh komen yaa!:)

Thanks to ftzbhd, Yxxx1106, Guest, Hannie, lulu-shi, jeononu, aigyuu (aku juga post abis liat v livenya mingyu lol dia unyu gitu kan ya di vlive, disini sok preman HAHAHA), bananona, Mrs. EvilGameGyu, Albus Convallaria majalis, kurangaqua, Guest (2), utsukushii02, Nikeisha Farras, hoshilhouette, gyugyu, , Re-Panda68, 7D, Guest (3), kokomilang, kimbapchu, reminie, , RPuspitasary21, KMaddict, nikeagustina16, perfectaugust, Kyunie, Syupit, WooMina

Read n Review?

Love,

seulgibear