POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#11 Happiness
Mingyu menatap ibunya dan Wonwoo bergantian. Ia merasakan perasaan bersyukur dan kebahagiaan melanda dirinya ketika ia melihat senyum tulus Wonwoo pada Ibunya. Sebenarnya, yang benar-benar ingin ia lakukan saat ini adalah mencium Ketua Kelasnya itu, tapi sebelumnya ia harus mengatasi ibunya.
"Ibu, terima kasih karena Ibu sudah datang, tapi aku tidak perlu buku itu hari ini. Ibu bisa pulang sekarang," ia mengatakan pada ibunya melalui isyarat tangan.
Ibunya menjawab,
"Baiklah, Ibu akan pergi sekarang."
"Aku akan mengantar ibu pulang, ayo."
Ny. Kim bangkit dari kursi di ruang guru itu, dan berdiri di samping putranya, yang jauh lebih tinggi darinya. Mingyu melingkarkan tangannya pada ibunya dan berjalan menyusuri koridor. Ny. Kim berbalik dan melambaikan tangannya pada Wonwoo disertai senyuman manis, yang dibalas oleh lambaian tangan dan senyuman Wonwoo. Mingyu juga menoleh ke belakang dan berkata,
"Aku mungkin akan terlambat masuk kelas. Aku akan menemuimu lagi nanti!"
Mingyu lalu kembali berjalan untuk mengantar ibunya. Ibu dan anak itu saling bergandengan tangan, dan Mingyu mencium puncak kepala ibunya. Melihat kekasihnya bersikap lembut seperti itu membuat Wonwoo benar-benar bahagia, dan membuatnya bertanya-tanya bagaimana bisa seseorang yang berbahaya dan dikenal menyukai kekerasan bisa terlihat penuh kasih sayang, dan lucu seperti itu. Setelah keduanya berpisah, bel istirahat makan siang berbunyi, menandakan dimulainya jam pelajaran ke-4. Wonwoo berjalan ke kelas, dan duduk di kursinya. Jun dan Minghao memasuki kelas bersama, keduanya sedang membicarakan tentang sesuatu yang kelihatannya menarik. Percakapan itu terhenti ketika guru mereka menyuruh mereka berdua untuk diam.
"Mingyu-ssi tidak masuk hari ini?"
"Kembali ke kebiasaan lamanya," "Aku tahu dia yang rajin sekolah tidak akan bertahan lama.", kasak-kusuk di dalam kelasnya mulai terdengar.
"Dia masuk, hanya saja dia akan sedikit terlambat."
"Oh, dan bagaimana kau bisa tahu, Wonwoo-ssi?" gurunya bertanya, terkejut karena dari semua orang, yang mengetahui keberadaan Mingyu adalah Wonwoo.
"Kami tadi pergi menemui ibunya yang datang untuk memberikan buku tulis Mingyu, dan sekarang Mingyu sedang mengantarkan ibunya pulang.", ia menjelaskan.
"Ooo~ jadi si berandalan itu adalah anak mama?" seorang temannya berkata, "Kenapa ibunya tidak bisa pulang ke rumah sendiri? Apa ibunya takut~" anak lain ikut menimpali. Hanya berani mengatakan itu ketika Mingyu tidak ada di kelas dan tidak bisa melakukan apa-apa.
"Yah! Kau lebih baik menjaga mulutmu.", Minghao berkata, menghilangkan senyuman mengejek dari salah satu wajah kedua anak itu, tapi satu anak yang lainnya mengalihkan pandangannya pada Minghao,
"Apa yang akan kau lakukan? Mengadukannya pada ibunya?" anak itu berkata dengan nada mengejek, dan Minghao tersenyum miring,
"Aku akan menonjokmu sangat keras sampai kau tidak bisa bicara selama seminggu. Dan tidak, aku tidak akan mengadu pada ibunya, mau tahu kenapa? Karena ibunya tuli." Minghao mengatakan yang sebenarnya.
Anak itu dengan canggung berdehem, dan membalikkan badannya, tidak punya cukup nyali untuk terus menatap mata Minghao. Guru mereka menginterupsi ketegangan yang terjadi sebelum Minghao benar-benar melaksanakan janjinya, dan memulai pelajarannya. Di tegah-tengah pelajaran, Mingyu masuk ke dalam kelas, terengah-engah dengan keringat mengalir di dahinya. Ia membungkuk ke arah gurunya, dan kali ini suara bisikan-bisikan yang biasanya terdengar entah membicarakan darimana ia atau apa yang tadi ia lakukan tidak terdengar. Mingyu berjalan ke bangkunya dengan keheningan yang rasanya asing untuknya, tersenyum pada Wonwoo ketika ia sudah duduk. Sisa pelajaran itu terlalui dengan cepat, tidak ada satupun yang bertanya pada Mingyu apakah yang dikatakan Minghao benar atau tidak, tapi di akhir pelajaran ke-4, gurunya memanggil Mingyu keluar kelas, mungkin untuk membicarakan tentang ibunya.
Pada akhir jam sekolah, Mingyu dan Wonwoo saling melambaikan tangan satu sama lain, dan Minghao memberitahu Mingyu kalau ia tidak akan pergi ke markas,
"Aku akan pergi dengan Jun hari ini," ucap pria berambut biru itu.
"Oh, oke. Tapi, kenapa~?" Mingyu bertanya, bertanya-tanya sejak kapan mereka berdua jadi dekat.
"Karena kau dan kekasih barumu membuatnya sedih, jadi aku akan menghiburnya sekarang."
"Tunggu! Bagaimana kau bisa tahu-" Ucapan Mingyu terhenti ketika Minghao tersenyum lalu berlari mengejar Jun yang sudah berjalan duluan.
Wonwoo harus pergi ke ruang guru untuk memberikan buku catatan teman-teman sekelasnya, lalu kembali lagi ke kelas untuk membersihkan ruangan dan membereskan meja-meja. Ia sedang memindahkan bangku-bangku di kelasnya, suara kaki meja berdecit karena bergesekan dengan lantai, membuatnya tidak bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke kelasnya, dan berhenti di pintu kelasnya.
"Butuh bantuan?" Suara berat yang terdengar tidak asing bertanya pada Ketua Kelas yang sedang membereskan kelas itu. Ia tidak tahu kalau ia tidak sendirian, jadi suara yang menawarkan bantuan itu mengejutkannya, dan Wonwoo sedikit terlonjak. Ia berbalik untuk melihat sesosok pria tinggi, dan tampan sedang menyandarkan tubuhnya di daun pintu, dengan tangannya di dalam sakunya.
"Mingyu-ya, aku pikir kau sudah pulang." Wonwoo berkata, dengan senyum di wajahnya.
"Memang. Saat istirahat makan siang." Mingyu menjawab, dengan bercanda. Ia menegakkan posisi berdirinya dan berjalan memasuki kelas, dan mulai membantu kekasihnya. Mereka tidak saling berbicara, tapi mereka sama-sama merasa senang dengan kehadiran satu sama lain. Setelah kelas terasa bersih dan rapi, mereka berdua berjalan bersama keluar sekolah. Mereka bergandengan tangan, dengan sebelah tangan Wonwoo yang membawa 2 buku berat. Mingyu menatap buku di tangan Wonwoo dan tahu kalau tas kekasihnya sudah cukup berat dengan buku-bukunya. Jadi, ia berhenti berjalan dan menarik tali tas ransel Wonwoo, dan berbohong,
"Resleting tasmu terbuka,"
Wonwoo lalu melirik ke belakang pundaknya, tapi tidak bisa melihat apakah yang dikatakan Mingyu benar atau tidak. Jadi, ia melepas tas ranselnya, dan baru akan melihat apakah resleting tasnya terbuka atau tidak, saat Mingyu dengan cepat mengambil tas itu dan menyampirkannya di bahunya sendiri.
"Tunggu, apa yang kau lakukan?" Wonwoo bertanya, lalu melihat kalau resleting tasnya baik-baik saja.
"Biar aku yang bawa, kau pegang saja bukumu itu... dan tanganku." yang lebih tinggi berkata sambil menatap tangan Wonwoo dengan senyum lucu. Wonwoo tersenyum, meraih tangan kekasihnya lalu melanjutkan perjalanan mereka.
"Wonwoo-ya, ayo kita jalan-jalan hari ini," Mingyu berkata, mereka kini sedang berjalan di tepian jalan.
"Hmmm, oke! Tapi aku harus pulang dulu ke rumah untuk menyimpan barang-barangku. Oh- dan aku juga mau berganti baju, jalan-jalan menggunakan seragam rasanya tidak nyaman." Wonwoo membalas.
Mingyu tersenyum dan berkata,
"Oke! Aku akan mengantarmu."
Lalu mereka berdua berjalan menuju rumah Wonwoo. Ketika mereka sampai, Mingyu menyadari kalau rumah Wonwoo yang terlihat cantik itu terlihat berbeda saat siang hari. Wonwoo meminta tas ranselnya yang masih berada di pundak Mingyu karena ia harus mengambil kunci rumahnya. Ia membuka pintunya, dan Mingyu baru akan berjalan pergi, setelah selesai mengantar kekasihnya, tapi sebuah suara wanita terdengar,
"Hai, sweetie," wanita itu menyapa Wonwoo, lalu,
"Oh! Apakah itu temanmu?", dan Mingyu berbalik, memperlihatkan senyuman menawannya dan membungkuk sopan. Ia mencoba untuk berjalan pergi, tapi wanita itu berkata lagi,
"Masuklah! Makan atau setidaknya minumlah dulu. Sekolah pasti membuatmu lapar, kan?" dan karena tidak ingin bersikap tidak sopan, Mingyu mengikuti Wonwoo masuk ke dalam rumahnya.
Ny. Jeon sangat cantik, dan Mingyu bisa melihat darimana wajah menarik Wonwoo berasal. Wonwoo dengan canggung menunjukkan jalan menuju dapur pada Mingyu, dimana mereka lalu duduk di meja makan.
"Jadi, siapa namamu?" Ny. Jeon bertanya ramah sambil menyimpan dua gelas soda di depan mereka.
"Kim Mingyu, Ny. Jeon." ia menjawab sopan. Ny. Jeon tertawa dan berkata,
"Well, kau sangat tampan, Mingyu-ssi."
Hell yeah, memang." Wonwoo dalam hati berkata setuju dengan pernyataan ibunya.
"Ah, terima kasih." Mingyu berkata sambil membungkukkan kepalanya.
"Mingyu, apa kau pernah kemari sebelumnya?" Ibu Wonwoo bertanya, sedikit mengenal wajah Mingyu yang terlihat tidak asing.
"Dia adalah orang yang mengantarku pulang ketika aku terluka." Wonwoo menjelaskan sambil meminum minumannya.
"Ah~, terima kasih untuk yang waktu itu Mingyu. Anak-anak berandalan di jalanan itu memang berbahaya, berhati-hatilah pada mereka." Ia berkata sambil menaruh sepiring kentang goreng dan burger di depan mereka. Wonwoo menatap Mingyu canggung, karena Mingyu juga sebenarnya adalah salah satu dari anak-anak berandalan itu.
"Ya, Ny. Jeon, aku akan berhati-hati." Mingyu berkata, menatap Wonwoo dengan senyum canggung.
Ny. Jeon lalu pergi dan membereskan dapur, sedangkan Wonwoo dan Mingyu menikmati makanan mereka, ketika mereka mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Tn. Jeon berjalan menuruni tangga, mengikat dasinya, dan hanya bisa melihat bagian belakang remaja yang duduk di sebelah putranya,
"Jun-ah! Sudah lama tidak bertemu." Ayah Wonwoo berkata saat ia menapaki tangga terakhir. Wonwoo dan Mingyu berbalik, membuat ayahnya terkejut karena ternyata bukan Junhui yang duduk di sebelah putranya.
"Oh! Maaf, Wonwoo tidak pernah membawa siapapun ke rumah kecuali Jun." ayahnya menjelaskan kesalahannya.
Wonwoo menutup matanya, dan menutupi wajahnya mendengar informasi yang baru dikatakan ayahnya. Mingyu tersenyum canggung, dan bangkit dari kursinya. Ia membungkuk sopan dan memperkenalkan dirinya,
"Halo. Aku Kim Mingyu. Terima kasih karena sudah menerimaku dengan baik disini."
Suara tawa ayah Wonwoo terdengar, berat, terdengar sama dengan Wonwoo,
"Tidak perlu terlalu sopan, Nak." lalu ia tersenyum.
Mingyu kembali duduk dan baru akan memakan burgernya, ketika ia melihat bibir Wonwoo bergerak pelan,
"Maaf~", yang membuat Mingyu membalasnya dengan tawa.
Setelah mereka selesai makan, Wonwoo dengan cepat berlari masuk ke kamarnya lalu membuka bajunya, menggantinya dengan celana jeans hitam, kaus putih, dan jaket merah yang dulunya adalah milik Mingyu. Ketika ia berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga, Mingyu tertawa lalu tersenyum,
"Jaketmu bagus," ia berkata dengan lembut.
"Aku tahu." Wonwoo mejawab, sambil tertawa.
Ia memakai sepatunya, dan mengatakan pada orangtuanya kalau ia akan pergi ke luar sebentar. Orangtuanya berdiri di serambi rumah mereka, menatap putra mereka, dan "teman"nya. Ny. Jeon mencium pipi Wonwoo, dan memberikan Mingyu sebuah pelukan singkat. Ny. Jeon mengacak rambut putranya, yang membuat putranya mengerang kesal. Wonwoo meletakkan tangannya di bahu Mingyu, membuat Mingyu terlonjak pelan. Orang tua Wonwoo tidak menyadarinya.
"Dah, anak-anak! Datanglah lagi lain kali, Mingyu. Bersenang-senanglah!"
Dan mereka berdua pun pergi, setelah melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka berdua berjalan sambil sesekali mengobrol, membicarakan tentang apapun yang bisa dibicarakan. Tapi setengah dari isi percakapan itu diisi oleh suara tawa mereka saat mengingat situasi canggung yang terjadi saat ibu Wonwoo membicarakan tentang anak-anak berandalan tadi.
"Kau tahu, kalian sebenarnya tidak seburuk itu..." Ucap Wonwoo, membicarakan tentang sekumpulan anak-anak 'nakal' yang diketuai oleh kekasihnya itu.
"Terima kasih." Mingyu berkata sambil tertawa.
"Maksudku, kalian sama sekali tidak sama dengan para gangster lainnya. Tidak seperti preman-preman yang waktu itu memukuliku."
Mingyu menatap jalan di depannya, memutuskan kontak matanya dengan mata kekasihnya yang mempesona.
"Aku dan teman-temanku tidak ada hubungannya dengan orang-orang itu..." Ia mendengus,
"Orang-orang di jalanan yang dimaksud ibumu tadi... Ibumu benar tentang mereka. Mereka berbahaya, dan senang melakukan kekerasan. Jadi, aku tidak mau melihat kau datang ke markasku tanpa salah satu dari teman-temanku, atau aku... Oke?"
Wonwoo bisa merasakan ketulusan dari ucapan Mingyu,
"Oke..."
Mingyu mencium puncak kepalanya, dan berbisik lembut,
"Terima kasih."
Mereka berdua berjalan menuju markas, yang anehnya kosong hari ini. Tanpa 10 anak-anak dan suara keras yang biasanya terdengar, Wonwoo sekarang bisa menatap sekeliling ruangan dengan lebih jelas. Ia sudah menyadari ada jendela loteng di ruangan itu sejak pertama kali ia ke tempat ini, tapi ia baru melihat kalau di sebelahnya ada sebuah teleskop. Wonwoo berjalan mendekati teleskop itu, dan mengamatinya. Ia tidak tahu apapun tentang teleskop, tapi ia tersenyum ketika membayangkan Mingyu berada di sini setelah matahari terbenam, mencari bintang-bintang dengan pancaran semangat di matanya. Sementara itu, Mingyu menaruh tasnya, dan melepas blazer sekolahnya, memperlihatkan kemeja putih yang sudah keluar dari celananya, terlihat pas di tubuhnya. Ia berjalan menuju Wonwoo yang masih mengamati teleskop dengan penuh kekaguman, dan berdiri di belakangnya. Mingyu memajukkan dagunya dan menaruhnya di puncak kepala Wonwoo, membuat Wonwoo tersenyum.
"Mingyu-ya. Apa kau sering menggunakan ini?", ia bertanya, menunjuk teleskop di depannya.
"Mhm, itu hadiah dari seorang teman dekat." yang lebih tinggi menjawab. Wonwoo bisa merasakan getaran di tenggorokan Mingyu saat Mingyu berbicara di atas kepalanya.
"Kau harus melihat bintang-bintang saat malam... Itu sangat indah." Ia melanjutkan.
Setelah itu Mingyu berbaring di sofa, dan Wonwoo duduk di ujung sofa itu. Mereka mengobrol dan mencoba saling mengenal satu sama lain. Rasanya menakjubkan karena seseorang bisa terlihat jauh lebih menarik setelah lebih jauh mengenalnya. Seiring berjalannya waktu, Mingyu mulai merasa lelah, dan kelopak matanya terasa berat. Wonwoo baru akan bangkit dari duduknya, ketika tiba-tiba ia merasakan sebuah tarikan di pergelangan tangannya. Mingyu menarik lengan Wonwoo, dan membawanya mendekat, membuat Wonwoo berbaring di sebelahnya. Mereka sekarang saling berhadapan, dan hanya berjarak beberapa inci dari wajah masing-masing. Wonwoo menatap Mingyu bingung sekaligus terkejut, lalu dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia menggunakan tangan Mingyu sebagai bantal, dan punggungnya bersentuhan dengan dada dan abs kekasihnya. Mingyu terkekeh pelan,
"Kau sangat lucu."
Wonwoo hanya tersenyum, jantungnya berdebar menggila saat ia memikirkan posisi mereka saat ini.
"Wonwoo-ya... Kau tahu kalau kau sangat penting untukku, kan?" Pria tinggi di belakangnya berkata dengan lembut.
"Benarkah?" Wonwoo bertanya, terkejut mendengar ucapan Mingyu. Lalu ia merasakan kalau lengan Mingyu yang tidak ia gunakkan sebagai bantal, melingkari pinggangnya dan menariknya mendekat, masuk ke dalam pelukannya yang terasa erat, dan penuh kehangatan.
"Mhm."
Wonwoo tersenyum mendengar itu, rasanya ia masih tidak bisa percaya mendengar kalimat itu, rasanya terlalu manis untuk jadi kenyataan. Ia merasakan kecupan Mingyu di belakang kepalanya, dan berkata,
"Terima kasih untuk apa yang sudah kau lakukan pada ibuku, hari ini."
Wonwoo mengingat sosok wanita yang senyumnya terasa ramah dan lembut.
"Ibumu sangat manis... Apa apa denganmu hari ini?" Wonwoo bertanya dengan nada bercanda, dan Mingyu tertawa berat, menunjukkan kalau ia sebentar lagi mungkin saja akan tertidur. Wonwoo merasa aman dan nyaman berada di pelukan Mingyu, jadi ia juga mulai merasa lebih relax dan sedikit lelah.
"Aku juga bisa bersikap manis." Mingyu protes, tapi kali ini matanya tertutup dan suaranya terdengar pelan.
"Hmmm.. Tapi aku suka kekasihku yang 'nakal'." Wonwoo berkata, matanya juga tertutup. Ia merasakan dada Mingyu bergerak teratur saat ia tertawa.
Tidak ada lagi suara setelah itu, karena mereka berdua jatuh tertidur dengan tenang. Tubuh mereka saling menempel, dan deru napas mereka terdengar beraturan. Keduanya tertidur dengan rasa bahagia dan berbunga-bunga.
.
Beberapa har kemudian di sekolanya terasa sangat sibuk, semua orang sibuk membicarakan Mingyu dan Wonwoo. Selama beberapa minggu terakhir, pasangan yang sedang ramai diperbincangkan itu meningkatkan public display of affection mereka, bukan seperti making out di dalam kelas, tapi hal-hal kecil seperti Mingyu membawakan barang-barang Wonwoo, atau menunggu Wonwoo sepulang sekolah, atau saling bergandengan tangan saat perjalanan pulang mereka, yang membuat orang-orang semakin membicarakan mereka. Orang-orang di sekitar mereka juga mulai menyadari jarak yang terbentang di antara Jun dan Wonwoo, yang dulunya tidak terpisahkan, dan sempat disebut-sebut sebagai pasangan serasi oleh teman-teman mereka. Jun dan Minghao juga akhir-akhir ini diperbincangkan dimana-nama, kedekatan mereka yang terasa tiba-tiba cukup membuat teman-teman yang lain curiga. Tapi, disamping perbincangan tentang kedua pasangan itu, perbincangan lainnya yang tidak kalah heboh di sekolah mereka adalah berita tentang kedatangan seorang siswa baru, Han Jaesuk. Siswa baru ini benar-benar menarik, dari segi penampilan. Visualnya hampir bisa disetarakan dengan Mingyu. Seluruh gadis di sekolah ini menggila gara-gara murid baru itu. Meskipun murid baru itu gay, ia masih menggoda gadis-gadis dengan wink dan lirikan-lirikan menggoda yang membuat hati gadis-gadis itu berdebar lebih kencang dari biasanya.
Satu hari, Minghao, Mingyu, Jun, dan Wonwoo, kombinasi yang terasa canggung itu terlihat sedang mengobrol bersama. Meskipun suasana canggung diantara mereka masih terasa, mereka memiliki satu kesamaan. Mereka berempat sama-sama tidak menyukai Han Jaesuk. Mereka berempat setuju kalau Han Jaesuk adalah seorang yang playboy, dan sombong, jadi mereka sebisa mungkin mencoba menjauh dari murid baru itu. Saat itu sebelum pelajaran pertama dimulai, mereka berempat mendengar jeritan-jeritan feminin gadis-gadis yang terdengar berasal dari pintu masuk. Coba tebak apa alasannya? Ya. Jaesuk berjalan masuk ke kelas diiringi gadis-gadis yang histeris di belakangnya. Ia melambaikan tangannya pada gadis-gadis itu, dan memutar tubuhnya, untuk menatap Mingyu. Mingyu kelihatan menarik di matanya, dan Mingyu juga memberikan kesan seorang bad boy, sama sepertinya. Jadi, Jaesuk mendekati Mingyu dan berkata,
"Hai."
Keempat orang tersebut menatap Jaesuk bersamaan, tapi ucapan salam Jaesuk hanya ditujukan untuk Mingyu. Mingyu tidak mengatakan apapun, hanya mengangguk ke arah Jaesuk, lalu kembali melanjutkan obrolannya dengan ketiga temannya. Jaesuk sudah terbiasa mendapatkan seluruh perhatian, dan mata-mata yang terpaku padanya karena penampilannya yang menarik. Tapi, untuk beberapa alasan yang ia sendiri tidak tahu, Mingyu sama sekali tidak tertarik padanya.
"Aku Jaesuk.", ia menginterupsi obrolan Mingyu dan teman-temannya sekali lagi.
"Aku tahu." Mingyu menjawab, tidak tertarik untuk melanjutkan, tapi Jaesuk terus mengganggunya,
"Siapa namamu?"
Mingyu mendengus,
"Apa urusannya namaku denganmu?"
"Karena," keempat anak itu mendengarkan jawaban Jaesuk,
"Kau cute dan aku ingin berkencan denganmu."
Mingyu memasang tampang jijik, dan Wonwoo menegang karena memikirkan kalau seseorang semenarik Jaesuk sedang berbicara dengan kekasihnya seperti itu,
"Aku menghargainya, tapi kau bukan tipeku."
"Aku tipe semua orang." Jaesuk berkata,
"Dude, pergi saja." Minghao berkata, merasa terganggu dengan Jaesuk yang jelas-jelas sedang menggoda sahabatnya.
"Aku sedang bicara dengan Mingyu, bukan kau." ia menjawab, dan Minghao mengepalkan tangannya, siap untuk menonjok pria itu jika ia mengatakan satu kata lagi.
"Well, kita sudah selesai bicara, jadi kau bisa pergi." Mingyu berkata, dan Jaesuk pergi, tidak lupa mengedipkan sebelah matanya ke arah Mingyu sebelum ia berjalan.
Selama jam makan siang, gadis-gadis terdengar saling mengobrol, dan Wonwoo mencuri dengan obrolan mereka yang membuatnya merasa resah,
"Yah-yah, bukankah Jaesuk Oppa sangat tampan?"
"Mhm! Hampir setampan Mingyu Oppa." salah seorang gadis itu mengangguk setuju,
"Tidak~, Jaesuk jauh lebih menarik."
"Tidak! Mingyu Oppa lebih kelihatan seperti bad boy."
"Mereka terlihat seperti mereka memang diciptakan untuk satu sama lain,"
"Mereka berdua sangat tampan~"
"Apa kau pikir mereka akan mulai berkencan? Aku harap begitu, mereka akan jadi pasangan paling mengagumkan sepanjang masa." Gadis lain bergabung dalam obrolan itu. Wonwoo berjalan pergi dari situ dengan cepat, dan mencoba menghilangkan pikiran-pikiran buruk dari kepalanya, tapi pada akhirnya, selama sisa hari itu, ia merasa terganggu dengan obrolan tadi dan membuatnya tidak berkonsentrasi.
.
Keesokan harinya, Wonwoo datang ke kelas sebelum Mingyu, Jun, dan Minghao sampai, dan seketika ia dikelilingi oleh banyak orang
"Apa benar kau dan Mingyu Oppa berkencan?" seorang gadis bertanya.
"Dia terlalu bagus untukmu, dia pasti hanya menjadikanmu barang taruhannya." seseorang menambahkan.
Wonwoo yang disergap oleh berbagai pertanyaan itu mulai merasa tertekan, jadi ia menjelaskan,
"Y-ya, kami berkencan."
Dan semua gadis disana saling berisik tidak percaya. Jaesuk juga berada di sana,
"Mingyu berkencan denganmu?" Jaesuk bertanya, memasang tampang jijik di wajahnya.
Wonwoo mengangguk, merasa tidak percaya diri, dan Jaesuk mendengus,
"Apa dia bercanda? Tidak mungkin seseorang semenarik Mingyu mau berkencan dengan seseorang sepertimu"
"Dia benar! Mingyu Oppa seharusnya berkencan dengan Jaesuk Oppa." Gadis di sebelah Jaesuk berkata.
Tepat setelah itu, Mingyu berjalan memasuki kelas, dengan Minghao dan Jun mengikuti di belakangnya. Mingyu bisa melihat wajah kekasihnya yang terlihat stress berada di tengah-tengah kerumunan orang dan Mingyu langsung menuju ke sisi Wonwoo, Minghao dan Jun berdiri di belakang Wonwoo.
"Mingyu-ssi, apa benar dia adalah kekasihmu?" seorang gadis bertanya, sambil menunjuk Wonwoo dengan dagunya.
Mingyu menatap Wonwoo, yang matanya terlihat ketakutan. Mingyu tersenyum miring lalu mendengus dan menggelengkan kepalanya,
"Tidak."
Wonwoo merasakan air matanya sebentar lagi turun, Minghao dan Jun menatap Mingyu bingung.
"Sudah kukatakan." Jaesuk mengatakan itu pada Wonwoo yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
Lalu, Mingyu meraih wajah Wonwoo, dan memberikan Wonwoo sebuah kecupan singkat yang terasa manis tepat di bibirnya. Ia tersenyum manis pada Wonwoo yang kini menatapnya bingung, lalu ia membalikkan tubuhnya ke arah kerumunan dan Jaesuk, mendeklarasikan dengan nada penuh kebanggaan,
"Aku miliknya."
.
.
.
To Be Continued...
Hai jadi kmrn ada yg komen chapter kmrn aneh ya HAHA aku malah baru sadar lohh:3 wkwk wonwoo bilang hpnya di cas di rumah tapi pas siangnya tiba tiba bisa sms mingyu wkwkwk
dan mamanya Mingyu itu tuli... bukan bisu. Ya tapi gabisa ngomong juga sih bener...
Chapter ini tuh sweet bgt mau nangis akutuh pas bacanya (+pas ngetiknya) ㅠㅠ apalagi setelah liat meanie momen di MV Smile Flower DUHHH SELAMAT BERMEANIE RIA DEH❤️❤️
kobam bgt ya di mvnya pake ada mingyu backhugged wonwoo huhuhu my kokoro:( meskipun agak kesel mereka ngga setim di OFD Season 2 tapi mv smile flower mengobati segalanya:') huehehehe
ps. thanks to-nya di rapel di chapter dpn aja ya! Karena ini updatenya dari hp jadi ribet-_-
Selamat bermalam minggu!
Read n Review?
Love,
seulgibear
