POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#15 Two


Wonwoo bangun keesokan paginya dan disambut oleh pesan manis dari kekasihnya,

Mingyu️❤️ : Maaf, semalam aku ketiduran. Oh, dan, Selamat pagi:)

Ketua Kelas itu tersenyum sambil menatap ponselnya dan meregangkan tubuhnya untuk menghilangkan kantuknya. Ia memutuskan untuk membalas pesannya begitu ia kembali dari kamar mandi. Wonwoo berjalan keluar kamarnya, lantai yang dingin mengirimkan kejutan menyegarkan setiap kakinya bersentuhan dengan lantai. Ia masuk ke kamar mandi, dan menatap dirinya sendiri di kaca. Rambutnya terlihat berantakan, mencuat kesana-sini, dan Wonwoo tidak berniat untuk membereskannya sepagi ini. Ia membasuh wajahnya agar ia sepenuhnya bangun, lalu ia mulai menyisir rambutnya seadanya.

Hari Minggu itu berlalu dengan cepat, hampir sepanjang harinya ia habiskan dengan berbicara dengan Mingyu, dan bermain laptop. Ketika Senin datang, ia merasa bersemangat karena itu berarti sekolah, dan sekolah berarti duduk di sebelah orang yang bertanggung jawab atas segala perasaan yang saat ini dirasakan Wonwoo.

Hari Senin, setengah hari itu terlewati dengan normal, Jaesuk akhirnya berhenti mengganggu mereka. Saat jam makan siang, Mingyu dan Wonwoo sedang mengobrol satu sama lain, tentang apa saja, ketika Minghao dan Jun bergabung dengan mereka. Mingyu menatap kedua orang itu, merasa ada seseuatu yang terjadi.

"Wonwoo-ya, mau pergi berkencan Jumat ini?"

Mingyu menyadari ekspresi malu-malu yang ditunjukkan Jun dan Minghao saat mendengar kata 'kencan', dan Wonwoo menjawab,

"Tentu, kemana?"

"Hmm. Aku berpikir untuk ke bioskop, lalu kita bisa memikirkannya setelah itu?"

"Kedengarannya bagus!"

"Bolehkan kami ikut?" Minghao bertanya, mencoba tidak membuatnya terlalu jelas dengan memakan sandwichnya dengan santai.

"Kami?" Mingyu bertanya, ia harus tahu ada apa dibalik tingkah mencurigakan sahabatnya.

"U-uh, Jun dan aku." Minghao menjawab terbata-bata.

"Jadi... kalian berdua akan menjadi orang ketiga selama kami berkencan?" Mingyu bertanya,

"Tidak, itu akan jadi double date." Jun berkata, mendapatkan perhatian penuh dari ketiga temannya yang lain. Minghao hampir tersedak sandwichnya, dan Wonwoo menatap pria berambut biru itu simpati.

"Oke." Mingyu berkata, bangga karena ia tahu kalau memang ada yang terjadi di antara kedua temannya itu. Jun hanya tetap memakan makan siangnya seakan-akan tidak terjadi sesuatu,

"Tunggu- apa?" Wonwoo bertanya, membutuhkan penjelasan yang jelas.

"Ayo kita pergi double date hari Jumat." Jun berkata.

"Dengan siapa?" Wonwoo ingin Jun mengatakan yang sejelasnya,

"Minghao dan aku."

Saat ini, Minghao sedang mencoba menyembunyikan wajahnya di sandwichnya, sedangkan Mingyu menyikut-nyikut tangan Minghao pelan, menggodanya.

"Kapan kalian berdua resmi?!" Wonwoo bertanya, merasa jadi satu-satunya yang tidak tahu apapun karena Mingyu sepertinya sudah tahu. Mingyu tahu bukan karena ada yang memberitahunya, ia tahu karena memang sudah terlihat jelas kalau Jun dan Minghao pada akhirnya akan bersama.

"Jumat minggu lalu di festival," Jun menjawab semua pertanyaan itu jujur.

"What the..." Suara Wonwoo terdengar tidak percaya, terkejut,

"Jadi! Apa kita jadi pergi hari Jumat ini?" Sahabat Wonwoo bertanya.

"U-uh, ya, tentu. Ini hanyalah kencan kedua kami, jadi-" Kalimat Wonwoo terinterupsi,

"Kedua?! Kita sudah sering menghabiskan waktu bersama!" Mingyu berkata, hampir tersinggung,

"Itu tidak masuk hitungan~" Wonwoo berargumen.

"Kenapa itu tidak dihitung?" Mingyu berkata sambil memasang wajah cemberut yang lucu, membuat Wonwoo memutarkan bola matanya.

"Aku tidak menganggap menghabiskan waktu di rumahku, menonton film berjam-jam, atau hanya mengobrol berdua sebagai kencan."

Mingyu mengerutkan keningnya, kesal, dan berkata,

"Hanya dengan bersamamu bagikut sudah lebih dari cukup untuk sebuah kencan."

Minghao dan Jun meringis mendengar pernyataan Mingyu, dan Wonwoo terkekeh pelan sambil berkata,

"Cute," dan Mingyu tersenyum, "Tapi tetap, kita baru berkencan satu kali." tetap tidak mengubah pikirannya. Mingyu memasang wajah cemberut sekali lagi dan menggerutu pelan.

"Jadi! Bagaimana?" Jun bertanya sekali lagi.

"Tentu, kupikir... Apa Minghao tidak apa-apa dengan ini?" Wonwoo bertanya, menatap pria berambut biru yang kini wajahnya benar-benar memerah.

"Babe, kau mau pergi?" Minghao mengangguk pelan, sedangkan Mingyu menunjuk pasangan di depannya.

"Lihat! Jun bisa memanggil 'babe' padanya!"

"Aku tidak bilang aku tidak menyukainya!"

"Tapi Jun tidak mendapat pukulan saat memanggilnya begitu!" Mingyu protes,

"Baiklah, kau boleh memanggilku begitu, ya Tuhan!"

Pertengkaran yang tidak terlalu penting itu diakhiri dengan Mingyu yang bersandar pada meja, dagu di tangannya, dengan senyum bodoh yang muncul di wajahnya saat ia menatap Wonwoo.

"Oke, babe."

Dan akhirnya, mereka berencana pergi bersama pada hari Jum'at. Sebuah double date. Sisa minggu itu terlewati dengan lancar, dan Wonwoo sejujurnya merasa bersemangat dan tidak sabar menunggu hari Jumat tiba. Ia senang menghabiskan waktu bersama Mingyu, tapi sekarang karena Jun dan Minghao sudah bersama, ia merasa kalau hari Jumat ini akan jadi kesempatan yang bagus untuk mempererat hubungan mereka berempat. Wonwoo memilih berpakaian kasual, dan tidak lupa memakai jaket Mingyu. Sejak hari itu, jaket Mingyu adalah jaket favoritnya, ia selalu memakainya dalam setiap kesempatan, dan ia suka saat jaket itu terlihat kebesaran di tubuhnya, jangan lupakan wangi menyegarkan Mingyu yang menempel di jaket itu. Setiap Wonwoo memakainya, ia merasa kalau Mingyu sedang memeluknya. Itu adalah jaket kesukaannya yang selalu mengingatkannya pada Mingyu.

Pada hari Jumat sepulang sekolah, semua orang pulang ke rumah masing-masing, dan berjanji untuk bertemu di bioskop iMAX di mall terdekat. Mereka semua berganti baju dengan baju kasual, dan Mingyu mendatangi rumah Wonwoo untuk menjemputnya, mengucapkan salam pada orang tua Wonwoo lalu dengan cepat pergi lagi untuk bertemu dengan Jun dan Minghao sebelum Tn. dan Ny. Jeon membahas obrolan makan malam mereka waktu itu lagi.

Di lain tempat, Minghao berjalan menuju rumah Jun dan menjemputnya, dan berjalan untuk menemui pasangan Mingyu-Wonwoo. Ketika mereka berempat bertemu, tantangan yang sebenarnya dimulai. Mingyu dan Minghao menyukai film yang sama, yang benar-benar berlawanan dengan apa yang disukai pasangan mereka. Mereka berempat berdiri memandangi jajaran film-film yang sedang ditayangkan selama hampir 20 menit sebelum akhirnya mereka setuju untuk menonton 'Oculus', sebuah film horror yang mereka pikir menarik. Mingyu suka ketika setiap adegan menegangkan muncul, Wonwoo akan melingkarkan tangannya di lengannya, dan Wonwoo akan mengeluarkan rengekan-rengekan pelan. Minghao tertawa ketika Jun berteriak dan dengan cepat menyembunyikan wajahnya di tubuh kekasihnya, menolak untuk melihat layar di depannya. Mingyu dan Minghao juga takut, tapi demi kekasih mereka yang lebih terlihat ketakutan, mereka menahan rasa takut mereka.

Ketika film selesai, mereka berempat berjalan keluar bioskop dan memutuskan mencari sesuatu untuk mengisi perut mereka. Mereka berempat mungkin masuk ke dalam jajaran top visual di sekolahnya, jadi mereka menerima banyak tatapan dan bisikan-bisikan saat mereka berjalan bersama. Bahkan, saat Wonwoo pergi ke kamar mandi bersama Jun, dan saat mereka kembali, kekasih mereka sudah dikelilingi gadis-gadis, bahkan beberapa diantaranya meminta berfoto bersama, yang ditolak dengan halus oleh mereka. Melihat kekasih mereka dikelilingi gadis-gadis seperti itu membuat mereka sadar kalau rasanya aneh bisa benar-benar berkencan dengan mereka. Lalu akhirnya mereka memutuskan untuk membeli pizza dan kentang goreng, mereka memesan pizza dengan topping separuh pepperoni dan separuh lagi sayuran. Mereka berempat menatap pizza di hadapan mereka, Minghao dan Mingyu memakan bagian pepperoni, sedangkan 2 orang lainnya menikmati pizza sayuran mereka.

"Ini aneh, jika orang lain melihat kita seperti ini, mereka mungkin akan berpikir kalau Mingyu dan aku yang berkencan," Minghao berkata, menerima lirikan tajam dari Jun,

"Tidak! Dia milikku." Wonwoo berkata sambil menggigit pizzanya, tersenyum.

"Dan kau, kau milikku. Bukan miliknya." Jun berkata, cemberut.

Mingyu tertawa mendengar kata-kata cheesy itu, dan Wonwoo melemparkan kentang goreng ke arahnya, yang ditangkap langsung oleh mulutnya. Ia mulai tertawa dan mengedipkan sebelah matanya sambil memakan kentang gorengnya. Mereka berempat menyelesaikan makanan mereka dan berjalan-jalan di sekitar mall itu, sambil memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

"Ayo kita makan es krim!" Wonwoo menyarankan,

"Tidak~, cuaca saat ini sedang dingin." Mingyu menolak ide itu.

"Aku setuju, aku ingin menghangatkan diri sedikit." Jun berkata, setuju dengan Mingyu kali ini.

"Tapi aku suka es krim~" Wonwoo berkata,

"Kau bahkan tidak menghabiskannya saat terakhir kali kita makan es krim! Kebanyakan dari es krim itu berakhir di wajahku," Mingyu berargumen,

"Kau yang memulainya, bukan aku!" Pertengkaran tidak penting itu pun dimulai. Jun dan Minghao menatap pasangan itu dengan sedikit iri, karena mereka bisa bercanda dan memiliki momen yang bisa mereka bicarakan.

Karena situasinya 3 lawan 1, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak membeli es krim dan berjalan-jalan dan masuk ke toko di sekitar mereka. Kedua pasangan itu berpisah untuk mencari pakaian untuk masing-masing, dan mereka berjanji bertemu lagi dalam beberapa jam. Mingyu dan Wonwoo berjalan ke arah kiri, sedangkan Jun dan Minghao berjalan ke arah sebaliknya.

Karena Halloween sebentar lagi, Jun dan Minghao memasuki toko kostum-kostum untuk bersenang-senang. Mereka berdua tertawa dan tersenyum saat mereka mencoba berbagai macam topeng, topi, wig, atau kostum. Minghao keluar dari kamar ganti menggunakan pakaian badut, dan Jun sudah menggunakan pakaian Sumo. Ketika mereka berdua menatap satu sama lain, mereka sama-sama tertawa melihat penampilan masing-masing. Jun dengan cepat mengeluarkan ponselnya, dan menyuruh Minghao untuk mendekat.

"Mendekatlah, kau tidak masuk dalam frame!" Jun berkata, tangannya terulur sejauh mungkin sambil memegang ponselnya untuk mengambil gambar mereka berdua,

"Ini karena pakaian gendut bodohmu ini!" Minghao berkata sambil tertawa.

Akhirnya, foto yang mereka ambil sedikit blur, tapi tidak menghilangkan raut bahagia di wajah mereka. Mereka mengambil beberapa foto, dengan berbagai pose dan ekspresi aneh. Ada satu foto dimana Minghao menggigit kostum sumo gendut Jun, dan Jun memakan rambut badut Minghao. Jun menyukai kebodohan mereka yang terlihat dalam foto ini, jadi ia menjadikan foto itu sebagai latar lock screen di ponselnya, dan Minghao tersenyum melihatnya. Mereka berdua menghabiskan waku di toko kostum Halloween, dan tidak membeli satupun dari kostum-kostum itu.

Sementara itu, Mingyu dan Wonwoo berjalan-jalan di toko baju biasa. Mereka berpisah sebentar untuk mencari baju yang mereka sukai, karena mereka pikir selera mereka benar-benar berbeda. Tapi, ternyata mereka salah. Mingyu sedang memegang sebuah sweater hitam putih ketika ia bertemu kekasihnya, yang kebetulan sedang memegang sweater yang sama.

"Oh, kau juga suka ini?" Wonwoo berkata, mengangkat sweater yang di pegangnya.

"Ya, ini bagus. Apa kau akan membelinya?" Mingyu bertanya,

"Mmm, ya, aku juga suka ini."

"Jadi, haruskah aku mengembalikkan milikku, atau-"

"Kenapa kau tidak jadi membelinya?"

"Aku akan mencuri milikmu", Wonwoo melirik kekasihnya, "hanya bercanda", ia menambahkan dengan senyum manis.

"Ayo kita beli ini, bersama."

"Jadi couple sweater?" Mingyu bertanya.

Wonwoo tersenyum menatap kekasihnya,

"Tidak ada yang salah dengan itu, kan?"

Mingyu mengangkat bahunya, lalu tersenyum. Mereka akhirnya membeli sweater itu -dan tentu saja Mingyu membeli yang ukurannya lebih besar dari milik Wonwoo-. Mereka lalu berjalan keluar toko itu, dengan kantung belanjaan di tangan mereka. Keduanya tersenyum mengingat apa yang ada di dalam kantung itu. Mereka lalu bertemu dengan Jun dan Minghao yang juga membeli sepatu yang sama.

"Ya Tuhan, kita benar-benar payah." Mingyu berkata, menutup matanya dan memalingkan wajahnya.

"Apa maksudmu dengan 'kita'?" Minghao bertanya,

Wonwoo mengeluarkan sweaternya dan dengan bangga berkata,

"Kami juga membeli sweater yang sama."

"Oke, babe, mereka sudah tahu." Mingyu berkata, menurunkan tangan kekasihnya yang memegang sweater,

Setelah itu, mereka berempat kembali ke markas, yang tidak kosong kali ini. Soonyoung, Jisoo dan Jeonghan ada di sana ketika mereka berempat masuk. Wonwoo masuk dengan santai, karena sudah beberapa kali berada di sana. Tapi, Jun sedikit ragu, karena ini pertama kalinya ia datang ke tempat itu, dan ia membungkuk 3 kali berturut-turut, membuat ketiga orang itu tertawa.

"Jadi, siapa ini?" Jeonghan bertanya,

"Ini kekasihku, Jun."

"Tunggu- Jun?" Soonyoung berkata, merasa tidak asing dengan nama itu.

"Jun yang itu?" Jisoo bertanya, bergabung dengan Soonyoung.

Jun menatap sekelilingnya, bingung dan sedikit takut dengan apa yang mereka maksud. Minghao menyadari Jun yang terlihat tidak nyaman dan meyakinkannya dengan berkata,

"Aku menyebutmu cute beberapa minggu yang lalu," dan ia terkekeh, "jangan segugup itu."

Jun sedikit lebih santai, tapi lalu ia bertanya-tanya,

"Beberapa minggu? Tunggu- sudah berapa lama kau menyukaiku?"

Wajah Minghao mulai memerah, dan semua orang di ruangan itu tertawa.

"Kalian berdua! Apa kalian sudah kembali baik-baik saja sekarang?" Soonyoung bertanya pada pasangan yang sedang duduk di sofa, saling berpegangan tangan. Wonwoo menaikkan tangan mereka yang masih bertautan,

"Yup!"

"Senang karena kau sudah memperbaiki kebodohanmu, Mingyu." Soonyoung menambahkan, dan Mingyu membalas,

"Yah! Aku tidak sebodoh itu..." Suaranya memelan, mengingat tingkah bodohnya hari itu.

"Oh, Wonwoo-ya, maaf karena sudah berbohong padamu hari itu, Mingyu menyuruh kami melakukannya." Jisoo meminta maaf, sambil bangkit untuk mencari buku bacaan.

"Apa- kau berbohong? Kapan?" Lalu Mingyu memalingkan wajahnya pada Jisoo, memberi sinyal untuk tidak membocorkan rahasianya.

"Mingyu ada di sini saat kau datang untuk mencarinya kesini." Bukan Jisoo, melainkan Jeonghan yang membocorkan rahasia Mingyu.

Wonwoo dengan cepat menolehkan kepalanya untuk menatap kekasihnya,

"Yah! Kau ada disini? Dan kau bahkan tidak menemuiku?!"

"Yah, ini bukan salahku! Kau juga tidak akan mau melihatku kalau kau memergokiku sedang berciuman dengan seseorang, iya kan?!" Mingyu memberikan alasan yang menurutnya masuk akal.

"Plus, aku sudah menyuruhmu untuk tidak datang kesini sendirian."

Wonwoo gugup, dan hanya berkata,

"Jangan mencoba menyalahkanku, sekarang." dengan lucu. Mingyu tersenyum dan mencium puncak kepalanya, sambil terkekeh.

Sore itu mereka habiskan untuk saling mengenal satu sama lain. Jun akhirnya merasa sepenuhnya nyama di sana, dan ia suka ketiga orang yang baru ia temui malam itu. Ia tahu kalau ada total 10 anak, dan ia baru bertemu dengan 5 orang -termasuk Mingyu dan Minghao-. Jun diberitahu kalau tempat itu adalah tempat mereka menghabiskan waktu, tapi tempat itu juga berbahaya, jadi Mingyu memberi saran seperti yang ia katakan pada Wonwoo, untuk tidak datang ke tempat itu sendirian, tanpa salah satu dari mereka.

Matahari sudah sepenuhnya terbenam, digantikan gelapnya malam. Mingyu berkata kalau ia ingin pergi ke atap. Ia membawa teleskop putihnya, dan teman-temannya mengikuti di belakangnya. Ketika mereka sampai di atap, mereka di sapa oleh dinginnya angin malam. Mingyu menatap langit di atasnya, mencari tempat untuk menyimpan teleskopnya. Pria tinggi itu memasang teleskopnya, dan teman-temannya duduk mengelilinginya. Setiap kali Mingyu menemukan bintang yang menurutnya menarik, ia akan mundur dan membiarkan teman-temannya melihatnya sambil memberikan sedikit penjelasan mengenai bintang itu. Passion kekasihnya pada galaksi dan bintang tidak pernah gagal membuat Wonwoo terpesona. Minghao memberikan jaketnya untuk Jun, saat cuaca di atap jadi semakin dingin. Hati dan tubuh Jun menghangat melihat kekasihnya itu.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, mereka memutuskan untuk pulang. Minghao dan Mingyu mengantar kekasih mereka pulang ke rumah masing-masing. Minghao dan Jun membicarakan dan tertawa mengingat apa yang mereka lakukan hari itu, dan Minghao meminta Jun untuk mengirimkan foto yang mereka ambil di toko kostum Halloween. Ketika mereka sampai di rumah Jun, ia melepaskan jaket Minghao dan mengembalikannya. Minghao mengecup bibir Jun cepat, membuat Jun mematung sambil menatap kekasihnya yang berjalan menjauh.

"Masuklah! Disini dingin!", suara kekasihnya itu menyadarkan Jun.

"Y-ya! Sampai bertemu hari Senin! Selamat malam!", Jun balas berteriak.

"Selamat malam! Aku akan menghubungimu." Minghao membalas.

Jun berlari masuk ke rumahnya. Ketika ia sampai di dalam, ia menutup pintu dan menyandarkan punggungnya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman manis, dan pipinya memerah saat ia mengingat kejadian hai ini.

Sementara itu, Mingyu berjalan mengantar Wonwoo pulang, dan ketika mereka sampai di rumah putih yang sudah tidak asing, mereka berhenti dan kini saling berhadapan.

"Hari ini menyenangkan,"

"Mhm! Hari ini adalah kencan kedua kita." Wonwoo berkata, sambil mengangkat kedua jarinya.

Mingyu tertawa melihat itu, dan memeluk kekasihnya. Ia suka karena kekasihnya jauh lebih pendek darinya, rasanya lebih mudah untuk memeluknya, seperti ini.

"Aku tidak percaya kau tidak menghitung kencan kita yang lainnya."

"Itu hanya hang out sessions!"

"Tapi tidak ketika kau bersama seseorang yang spesial. Sepertimu," Ucap Mingyu, membuat wajah Wonwoo memerah. Wonwoo pikir, ia sudah terbiasa dengan sikap manis kekasihnya setelah beberapa minggu, tapi ternyata ia salah.

Ketika mereka akan berpisah, Mingyu menjahili Wonwoo dengan hanya memberikannya sebuah pelukan. Wonwoo menatap kekasihnya,

"Apa- apa hanya itu? Hanya pelukan?"

Mingyu hanya mengangguk, dan Wonwoo memajukan bibir bawahnya, cemberut, jelas-jelas menunjukkan kalau ia ingin lebih dari sekedar pelukan. Mingyu menggodanya,

"Kau terlalu pendek. Aku tidak bisa membungkuk sejauh itu, punggungku sakit."Ia berkata sambil mengusap-usap punggungnya yang sebenarnya tidak kenapa-napa.

Wonwoo memasang wajah kesal, lalu menarik kerah kekasihnya, dan berjinjit, mencuri kecupan di bibir kekasihnya.

"Kalau kau tidak bisa membungkuk, aku akan berjinjit." Wonwoo berkata setelah ciuman kilat itu dan ia melepaskan tangannya dari sweater kekasihnya.

Mingyu tertawa, ia menyukai sisi baru kekasihnya ini. Ia menyukai semua sisi kekasihnya, tapi Mingyu hanya merasa bahagia karena Wonwoo yang kali ini memulai interaksi di antara mereka, dan ini membuat kekhawatirannya menghilang,

"Selamat malam!" Mingyu melambaikan tangannya saat ia berjalan menjauh, berterima kasih karena ia tidak bertemu dengan orang tua kekasihnya yang terkadang kelewat bersemangat saat bertemu dengannya.

.

Minggu dan bulan berlalu begitu cepat, dan segalanya berjalan lancar bagi kedua pasangan itu. Saat ini sudah memasuki bulan Desember, dan salju mulai turun. Sepulang sekolah, Wonwoo tetap berada di kelas untuk membereskan kelas, dan kali ini Jun ikut membantunya. Mingyu baru akan masuk ke kelas untuk menjemput kekasihnya, ketika ia tidak sengaja mendengar percakapan Jun dan Wonwoo,

"Jadi, Wonwoo-ya, Natal sebentar lagi!"

"Ya, aku tahu. Entah kenapa, aku merasa sangat bersemangat untuk Natal tahun ini,"

Jun tertawa,

"Itu karena kau sudah memiliki kekasih tahun ini." dan Wonwoo hanya membalas dengan kekehan.

"Jadi, kau sudah punya rencana untuk Natal nanti?"

"Ya sebenarnya. Aku akan menghabiskan waktu dengan Mingyu dan orangtuaku tahun ini." Wonwoo menjelaskan.

"Apa kau tahu apa yang kau inginkan dari Mingyu untuk hari Natal?"

Mingyu mendengarkan jawaban itu dengan seksama, berharap tahu apa yang diinginkan Wonwoo. Karena ia bingung dengan apa yang akan Wonwoo sukai, inginkan, atau butuhkan.

"Hmm," Wonwoo memikirkan jawabannya,

"Aku memiliki dua hal sebenarnya."


a/n. nyadar ngga sih kalo chapter ini junnya uke bgt lol:( yg ngasih jaket bukannya jun malah hao trs yg anter jemput juga hao wkwkwk


#16 A Song


"Dua?"

Jun bertanya, terkejut karena Wonwoo tahu apa yang ia inginkan kali ini. Setiap tahun ia harus menebak, tapi Wonwoo selalu menerima apapun hadiah yang ia berikan, jadi selama bertahun-tahun ini Jun berpikir kalau selama hadiah itu tulus dari hatinya, Wonwoo akan menerimanya dengan senang hati.

Wonwoo mengangguk sambil menyapu lantai,

"Tapi, aku tidak tahu, keinginanku rasanya sedikit cheesy."

Wajah Mingyu berubah bingung,

"Cheesy? Apa-apaan? Apa Wonwoo ingin pizza? Aku tidak mengerti." ia berkata dalam hati sambil tetap mendengarkan di luar kelas.

Jun terkekeh dan berkata,

"Katakan padaku, sekarang aku penasaran." ia berkata, berhenti menyapu dan menyandarkan kepalanya di gagang sapu yang dipegangnya.

"Tidak, tidak usah dipikirkan." Wonwoo berkata, menggelengkan kepalanya sambil terus membersihkan kelas.

"Ayolah, katakan padaku!" Jun memohon,

"Tidak~"

"Wow, kau tidak mau memberitahu sahabatmu. Aku mengerti." Jun berkata, dan melanjutkan menyapu.

"Really? Kau akan menggunakan alasan itu?" Wonwoo berkata, memasang wajah tidak percaya. Jun tertawa dan berkata,

"Yup! Kau sudah tidak percaya lagi padaku~ Aku bukan sahabatmu lagi~" Jun melanjutkannya, karena ia benar-benar ingin tahu.

"Katakan saja padanya, God dammit, aku juga perlu tahu." Mingyu berpikir, menanti jawaban Wonwoo dengan tidak sabar.

"Oke, fine, aku akan memberitahumu!" Wonwoo akhirnya mengalah pada sikap Jun yang seperti anak kecil.

"Akhirnya." Jun berkata keras, sedangkan Mingyu juga memikirkan hal yang sama.

"Awas kalau kau sampai tertawa. Kalau kau tertawa, aku akan melempar ini padamu!" Wonwoo memperingati dan mengancam, mengangkat pengki yang penuh dengan sampah.

Jun tertawa, dan mengangkat tangannya, menyerah,

"Aku tidak akan tertawa, aku janji."

Wonwoo menatap sahabatnya, dan perlahan menurunkan pengkinya. Ia menghela napas.

"Keinginanku benar-benar payah, dan cheesy, dan- ugh," Wonwoo jadi bingung dengan wishlistnya, dan Jun menahan tawanya.

"Oke. Yang kedua aku tidak terlalu yakin tapi, aku ingin Mingyu...,"

Mingyu mendengarkan permintaan kekasihnya dengan seksama, sedikit berharap itu bukan sesuatu yang terlalu mahal atau mewah.

"Mengatakan 'I love you'." Wonwoo berkata.

Jun hanya menatap Wonwoo, dan Mingyu memiringkan kepalanya sedikit.

"Jangan tertawa, aku tahu ini cheesy!" Wonwoo menaikkan suaranya sebelum sahabatnya mengatakan sesuatu. Pipinya memerah, dan bukan karena dingin.

"Itu manis." Jun berkata, dan Mingyu juga setuju.

"Tidak~ itu payah~" Wonwoo mengeluh, sambil mengusap wajahnya malu. "Ini karena dia tidak pernah mengatakan itu sebelumnya, kau tahu?"

"Jadi kenapa kau tidak mengatakannya duluan?"

"Karena! Bagaimana jika dia tidak membalas ucapanku? Lalu semuanya akan jadi canggung dan memalukan." Wonwoo mengerang saat memikirkan situasi canggung itu.

"Mungkin itulah kenapa dia tidak mengucapkannya padamu!" Jun berargumen. Wonwoo menggelengkan kepalanya,

"Aku hanya ingin dia mengatakannya duluan."

Jun memutar bola matanya dan menghela napas,

"Kau sangat payah."

Wonwoo memukulnya dengan sapu,

"Aku tahu aku payah!"

Dan mereka berdua mulai tertawa. Mingyu masih mendengarkan dan wajahnya sedikit memerah saat memikirkan kalau ia harus mengucapkan kalimat itu. Kalimat itu tidak bisa diucapkan begitu saja. 3 kata itu memiliki arti yang dalam, emosi, passion, rasa sayang. Itu adalah kalimat yang serius yang tidak mudah untuk dikatakan. Tapi, ia menghilangkan pikiran itu untuk saat ini dan kembali mendengarkan permintaan kedua kekasihnya, menunggu, berharap Jun akan bertanya lagi.

"Jadi, bagaimana dengan yang kedua?" Jun bertanya, menaruh sapunya dan menyimpan buku-buku di rak.

"Um, aku tidak terlalu yakin dengan yang ini. Aku merasa ini adalah permintaan yang terlalu berlebihan," Wonwoo menatap Jun dengan tatapan khawatir, "Tapi, lagipula dia tidak akan tahu, kan?"

Jun tertawa dan berkata,

"Aku tidak akan mengatakan padanya."

"Memang seharusnya begitu. Aku akan mati kalau kau mengatakannya." Wonwoo berkata dengan berlebihan, berharap kekasihnya tidak akan mendengar apa yang benar-benar ia inginkan untuk Natal nanti. Tapi yang ia tidak tahu adalah, Mingyu berdiri di balik dinding kelasnya, mendengarkan. Tidak perlu Jun untuk memberitahunya.

"Jadi, keinginanmu yang kedua?" Jun bertanya lagi,

Wonwoo berhenti menghapus papan tulis, dan menghela napas,

"Aku ingin tahu tentang Seokmin."

Mata Mingyu melebar, dan tubuhnya membeku saat mendengar nama itu. Nama itu masih membuat tubuhnya menggigil, dan membuatnya mengingat kenangan yang tidak ingin diingatnya. Kejadian-kejadian di masa lalu berputar dalam kepalanya, dan ia dengan cepat menggelengkan kepala untuk menghilangkan bayangan itu.

"Seokmin?" Jun bertanya, memutar kepalanya ke arah Wonwoo setelah ia selesai menaruh buku-buku di rak.

"Ya. Dia salah satu teman Mingyu dan Minghao di markas, tapi aku tidak pernah melihatnya sekalipun..." Wonwoo menjelaskan,

"Lalu bagaimana kau tahu tentangnya?"

Mingyu juga penasaran, bagaimana kekasihnya bisa tahu nama itu.

"Aku pernah mendengarnya di jalan beberapa kali. Minghao mengatakan pada Mingyu kalau aku mirip dengannya, jadi aku ingin tahu."

"Kau belum pernah melihatnya, tapi kau tahu kalau dia adalah bagian dari teman-teman mereka?" Jun bertanya, masih bingung dengan situasi seluruhnya.

"Ya. Di markas, ada foto yang di dalamnya ada 11 anak laki-laki... Salah satu dari mereka adalah wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya, jadi aku berasumsi kalau itu adalah Seokmin."

"Jadi, kau tidak tahu pasti, dan kau hanya berasumsi kalau pria bernama Seokmin ini dekat dengan mereka?"

"Yup, pada dasarnya. Itulah kenapa aku ingin tahu tentangnya, untuk mengetahui kebenarannya." Wonwoo berkata jujur.

Jantung Mingyu berdetak sedikit lebih cepat. Rasanya tidak sama seperti yang ia rasakan saat bersama Wonwoo, atau ketika ia bahagia bersama kekasihnya, bukan. Ini rasanya seperti saat ia berada di jalanan, perasaan yang ia dapat saat tahu kalau ia melukai seseorang saat sedang berkelahi. Takut dan cemas menjadi alasan utama kenapa jantungnya bekerja secepat ini, dan bukan karena perasaan bersemangat saat memikirkan kalau ia akan menghabiskan Natal bersama Wonwoo.

"Hmm, itu bukan hadiah yang bisa dibeli," Jun berkata,

"Ya, aku tahu. Tapi, itu berarti Mingyu berkata jujur padaku." Wonwoo tersenyum tulus,

"Jadi, aku akan senang hanya dengan hadiah itu."

Jun tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sahabatnya. Berminggu-minggu setelah kejadian ia mencium Wonwoo terjadi, Jun akhirnya berlajar untuk menghargai cara Mingyu membuat sahabatnya bahagia. Ia bersyukur hubungan mereka kembali normal, dan rasa canggung di antara mereka menghilang. Rasanya seperti kejadian dulu tidak pernah terjadi. Jun akhirnya bisa sepenuhnya melupakan perasaannya pada Wonwoo, dan Minghao membuatnya sadar kenapa semuanya tidak berjalan lancar di antara ia dan Wonwoo. Melihat sahabatnya bahagia membuatnya bahagia, dan itu sudah cukup. Sahabat, tidak lebih, tidak kurang.

Mingyu merasakan ketulusan dari ucapan kekasihnya saat mengatakan apa yang ia inginkan untuk Natal pada Jun. Mingyu berpikir, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Lagipula tidak ada yang harus ia sembunyikan tentang Seokmin, atau bukan berarti ia tidak mencintai Wonwoo. Tapi, apakah ia siap untuk mengatakan semua itu pada Wonwoo?

.

Hari terus berlaru, dan cuaca semakin dingin setiap harinya. Pada akhirnya, para murid memakai jaket tebal setelah blazer sekolah mereka, kecuali Wonwoo yang hanya menggunakan 2 jaket tipis, yang salah satunya adalah jaket merah milik kekasihnya.

"Yah, pakai jaket dengan benar, kau bisa sakit." Mingyu berkata, khawatir pada kekasihnya.

"Tidak, tidak akan, lagipula 2 jaket ini hangat." Wonwoo tidak setuju dengan Mingyu dan ia menaikkan resleting jaket merahnya, "Apalagi yang ini." Ia tersenyum lucu sambil memeluk dirinya sendiri.

Mingyu hanya tersenyum manis pada Wonwoo yang terlihat lebih puffy karena banyaknya pakaian yang dikenakannya. Ia memeluk kekasihnya itu dan berkata,

"Kau sangat menggemaskan~"

Wonwoo berusaha melepaskan tangan kekasihnya,

"Aku tidak!" Ia berkata, seakan-akan disebut 'menggemaskan' adalah sebuah hinaan.

.

Hari Natal hanya tinggal satu minggu lagi, dan hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum liburan musim dingin dimulai. Salju menutupi tanah, menyelimuti bumi dengan warna putih bersinar. Wonwoo, Mingyu, Minghao, dan Jun berjalan pulang bersama, suara salju yang terinjak terdengat saat mereka melangkah. Mereka semua memakai pakaian musim dingin, Mingyu memakai syal putih panjang yang terlihat kontras dengan jaket hitamnya, Jun dan minghao juga mengenakan syal, keduanya berwarna hitam, dan mereka memakai sepatu couple yang mereka beli bulan Oktober lalu. Wonwoo memakai beanie hitam yang warnanya sama dengan rambutnya.

Mereka berjalan berpasangan. Mingyu melepaskan pegangan tangannya dengan Wonwoo, dan dengan cepat berlari ke lapangan di dekatnya, salju menutupi sebagian lapang itu. Mingyu membuat jejak kaki di atas salju saat ia berlari ke tengah lapang dan membungkukkan tubuhnya untuk membuat sebuah bola salju. Minghao dengan cepat menyadari apa yang akan dilakukan sahabatnya dan menunduk saat Mingyu melempar bola salju itu ke arahnya, meleset mengenai dirinya dan malah mendarat sempurna di wajah Wonwoo.

"Yah!" Wonwoo berteriak, dan Mingyu mengerut saat mendengar suara teriakan kekasihnya yang memekakan telinga,

Jun mulai tertawa, menunjuk ke arah salju yang masih ada di wajahnya, dan jatuh ke jaketnya.

"Oh, ini lucu, huh?"

Wonwoo berkata sambil dengan cepat membuat bola salju dan melemparkannya pada sahabatnya. Bola itu tepat mengenai wajah Jun, membuat tawanya berhenti, Jun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan salju di wajahnya. Minghao tertawa melihat kekasihnya, lalu ia berlari ke arah Mingyu yang saat ini sedang membuat bola salju lainnya. Jun balas melempar Wonwoo, dan Wonwoo mulai mengejar Jun, sekarang keempat anak itu bermain di sekitar lapangan itu.

Tawa dan suara teriakan terdengar saat perang bola salju dimulai. Perang bola salju itu berlangsung sekitar 40 menit, dan 2 benteng sudah terbentuk. Mingyu dan Wonwoo merunduk di balik benteng yang mereka bangun, menunggu untuk menyerang pasangan lawan mereka. Perang itu berakhir ketika Minghao berdiri untuk melempar bola salju, dan Mingyu juga melakukan hal yang sama, menyebabkan mereka berdua terkena bola salju. Mingyu mengerang sambil memegangi bagian yang terkena bola salju, berpura-pura sakit, dan terjatuh dengan dramatis. Wonwoo berlari ke sisinya dan Mingyu menatapnya,

"Wonwoo-ya..."

Wonwoo hanya mengangguk, rasanya seperti mereka tengah memerankan sebuah adegan dari sebuah drama kerajaan.

"Aku... ingin mengtakan sesuatu padamu..." Mingyu berbisik lirih, seakan-akan sedang kesakitan,

"Mendekatlah."

Wonwoo mendekat untuk mendengar ucapan kekasihnya, tapi yang ia dapatkan selanjutnya adalah wajahnya dipenuhi salju. Mingyu dengan cepat bangkit, tertawa, meninggalkan kekasihnya di tanah dan Wonwoo mengejarnya.

Perang bola salju kekanak-kanakan itu selesai dengan keempatnya berbaring di atas salju, terengah-engah dan menatap langit di atas mereka. Matahari masih terlihat, tapi tidak begitu terik karena mereka masih bisa melihat uap saat mereka bernafas. Mereka semua tertawa, saat tiba-tiba Jun berdiri, membuat salju di sekitarnya mengenai wajah Minghao,

"Yah! Ayo cepat pulang, kita bisa terlambat datang ke pesta!"

Mingyu mengerutkan keningnya sambil mencoba mengingat maksud perkataan Jun, saat ia ingat, ia langsung bangkit mengikuti Jun, lalu memaki dirinya sendiri pelan karena bagaimana mungkin ia lupa tentang pesta itu?

"Oh benar!" Wonwoo berkata lalu bangkit dari tidurnya. Akhirnya mereka berempat bangun, dan setelah menghilangkan salju yang menempel di tibuh merek, lalu berlari ke rumah masing-masing, setelah berjanji untuk bertemu di pesta nanti.

Karena perang bola salju yang terjadi sangat menyenangkan untuk mereka berempat, mereka sampai lupa kalau mereka sudah mendapat undangan, dan setuju untuk datang ke Pesta Natal yang di adakan oleh seorang gadis di kelas mereka. Ia menundang seluruh siswa senior, jadi mereka berempat setuju untuk datang, toh tidak ada ruginya untuk mereka menghadiri pesta itu.

Kali ini, mereka tidak muncul bersamaan, Wonwoo adalah yang pertama datang dan duduk di antara siswa lainnya. Pesta itu di adakan di tempat karaoke, dan di tengah ruangan itu terdapat satu meja yang penuh oleh makanan dan minuman. Wonwoo memang cukup popular di kalangan siswa senior lainnya, ia ramah pada siapapun, dan 'musuh'nya hanyalah orang-orang yang terobsesi dengan Mingyu. Tapi, semua orang di pesta itu bersosialisasi satu sama lain, mengesampingkan masalah mereka dan hanya menikmati Hari Natal terakhir mereka di sekolah ini. Jun dan Minghao datang hampir bersamaan, dan bergabung di pesta itu. Mingyu adalah yang terakhir datang, dan ketika ia datang, suasana di pesta itu hening sejenak. Mingyu menatap Wonwoo yang juga sedang menatapnya, lalu bisik-bisik di sekitar mereka mulai terdengar. Jun dan Minghao tertawa melihat pasangan itu.

"Sweater yang bagus," tuan rumah pesta itu berkata, sambil menatap pasangan yang memakai sweater couple mereka, tanpa unsur kesengajaan. Mingyu menatap kekasihnya yang duduk dengan santai, dan hanya mengedikkan bahunya, tanda kalau ia sama sekali tidak tahu kalau Mingyu juga akan memakai sweater itu.

Mingyu berdiri di pintu masuk, sedikit canggung karena memakai pakaian yang sama dengan kekasihnya di depan seluruh teman-temannya,

"Mingyu-ya, apa wajahmu merona? Pipimu merah." Minghao menggoda dan Jun tersenyum setuju,

"T-tidak, ini karena udara di luar dingin." Mingyu memutar balikkan alasan sebenarnya kenapa pipinya memerah, tapi cuaca di luar memang benar-benar dingin.

Malam itu berlanjut dengan orang-orang yang bernyanyi, makan, bersosialisasi, dan menikmati waktu kebersamaan mereka. Mingyu, Minghao, Jun dan Wonwoo duduk bersama.

"Mingyu-ya, nyanyikan sebuah lagu," Minghao berkata, menerima lirikan tajam dari sahabat tingginya,

"Kau bisa bernyanyi?" Wonwoo bertanya, menolehkan wajahnya dalam pelukan kekasihnya,

"Tidak, tidak." Mingyu mengelak, yang membuat Minghao tidak setuju.

"Dia bisa! Surprisingly, suaranya bagus."

Mingyu memukul lengan Minghao, "Tidak, aku tidak begitu."

"Babe, mau bernyanyi untukku?"

Mingyu menatap kekasihnya yang sekarang sedang memeluk lengannya. Wonwoo memajukan bibir bawahnya dengan lucu,

"Please~?" Ia menambahkan.

Mingyu menatap mata gelap milik kekasihnya itu.

"Kau serius?"

Wonwoo mengangguk.

"Ya."

Mingyu menatap mesin karaoke, layar televise, kembali ke kekasihnya, lalu kembali lagi ke mesin karaoke.

"Hanya satu lagu." Ia berkata sebelum ia menarik napas dalam, dan berdiri dari tempat duduknya yang nyaman.

Pria tinggi itu dengan ragu meminta mic dari seorang gadis yang dengan malu-malu memberikannya, dan teman-temannya mulai berseru "ooo" ketika Mingyu memberikan gadis itu senyum menawan setelah menerima micnya.

Mingyu menatap buku daftar lagu di depannya, dan melemparkan remote mesin karaoke itu pada Minghao yang mengetikkan nomor lagu yang akan Mingyu nyanyikan. Suasana pesta itu hening karena perhatian semua orang tertuju pada seorang berandalan sekolah yang kini duduk di tengah ruangan, di depan layar untuk melihat lirik lagu yang akaakan dinyanyikannya. Semua orang menantikan untuk mendengar suara seorang Kim Mingyu saat bernyanyi, karena selama ini mereka hanya mendengar suara Mingyu saat berbicara baru-baru ini, dan ketika mereka mendengar sebelumnya, kebanyakan dari ucapan Mingyu adalah umpatan atau hanya satu-dua patah kata.

Ruangan itu semakin sunyi saat suara dentingan intro piano mulai terdengar. Wonwoo terkejut melihat kekasihnya memutuskan untuk menyanyikan lagu ballad.

I may seem strong, I may be smilingBut there are many times when I'm aloneI may seem like I don't have any worries, but I have a lot to sayThe moment I first saw you, I was so attracted to youI didn't weigh out my thoughts and just talked

Ruangan itu sunyi senyap. Semua orang di ruangan itu terpesona saat mendengar suara berat yang keluar dari mulut Mingyu, yang kini duduk di tengah ruangan. Wonwoo menatap kekasihnya, rahangnya hampir jatuh karena ia begitu terpesona. Ia menahan napasnya saat Mingyu terus bernyanyi, suaranya terdengar sempurna, dengan berbagai emosi di dalamnya. Minghao duduk di sana, sebuah senyum sedih muncul di wajahnya,

"Sudah lama sejak terakhir kali kau beryanyi seperti itu, Mingyu-ya." Ia berkata dalam hati.

Lagu itu terus berlanjut, dan bahkan gadis-gadis yang biasanya tidak bisa berhenti bicara tetap diam sampai lagu itu berakhir,

It's you

Mingyu menyelesaikan lagunya, dan ruangan tetap hening, sampai akhirnya suara tepuk tangan menggema, memberikan penghargaan untuk suara dalam Mingyu yang merdu. Minghao adalah yang pertama bertepuk tangan, karena ia sudah tahu kemampuan sahabatnya itu sebelumnya, yang membuat orang-orang di sekitarnya tersadar dari rasa terpesona mereka dan mulai bertepuk tangan dan menyorakinya. Mingyu hanya tersenyum canggung dan membungkukkan badannya, berterima kasih, lalu kembali ke tempatnya semula. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Wonwoo dan melingkarkan tangannya di leher kekasihnya. Wonwoo masih menatapnya penuh rasa kagum.

"Kau tahu, suaramu tidak pernah gagal membuatku terpesona." Minghao berkata, sambil meminum sodanya. Mingyu hanya mengangguk, menerima pujian itu.

"Yah..." Wonwoo memulai, menatap kekasihnya dengan binar kekaguman di matanya, "Kau luar biasa."

Mingyu terkekeh dan berkata, "Aku tahu."

Wonwoo tertawa, "Jangan dipirkan, kau biasa saja."

"Yah, yah. Kau coba sendiri kalau begitu. Coba kalahkan poin 100-ku yang sempurna itu, Tuan Ketua Kelas." Mingyu menggoda.

Wonwoo hanya memasang wajah kesal, membuat Mingyu tertawa. Mingyu mengecup kening kekasihnya sebelum kembali melanjutkan pesta itu.

Karena itu adalah pesta Hari Natal, Jun dan Minghao, salah satu pasangan yang ternyata lumayan aneh, memilih untuk mengambil alih suasana pesta itu dengan menyanyikan beberapa Christmas Carols, membuat suasana semakin meriah, membuat semua orang tertawa.

Pesta akhirnya berakhir, dan semua orang pulang ke rumah mereka masing-masing. Pesta itu selesai dengan sukses, Jaesuk tidak terlihat dimanapun, dan tidak ada drama yang terjadi, jadi malam itu adalah malam yang hebat. Mereka semua pulang ke rumah, dan untuk pertama kalinya, Mingyu tidak mengantar Wonwoo pulang. Ia bilang kalau ia harus cepat pulang ke rumah untuk ibunya malam ini, dan ia meminta maaf pada kekasihnya. Saat berjalan pulang, Wonwoo merasa sedikit aneh. Ada sedikit rasa sakit di hatinya karena ia berjalan sendirian malam ini, tanpa sesosok pria tinggi di sampingnya, seperti biasanya.

.

Minggu itu terlalui dengan cepat. Mingyu dan Wonwoo tetap saling berkomunikasi lewat pesan dan FaceTime. Hari itu Malam Natal, dan Wonwoo duduk di ruang keluarga bersama orangtuanya. Mereka memiliki tradisi untuk menunggu sampai tengah malam, lalu membuka kado mereka. Saat ini, Wonwoo memakai topi Santa lucu di kepalanya, ayahnya juga memakai topi yang sama, sedangkan ibunya memakai bando tanduk rusa. Keluarga itu duduk dengan bahagia sambil menonton film di TV, dengan orang tuanya yang duduk di sofa, dan Wonwoo yang duduk bersila di lantai, menunggu tengah malam datang.

Saat ini pukul 23:58, dan Wonwoo menatap pohon natal dengan bersemangat. Sebagian dari rasa bersemangat itu datang dari hadiah-hadiah yang ada di sana, dan sebagian lainnya berasal dari pikirannya. Ia membayangkan dalam beberapa jam lagi, ia akan menghabiskan hari Natal bersama kekasihnya. Begitu jam berdentang menunjukkan tengah malam, ia mendengar suara ketukan di pintu.

Wonwoo mengira kalau itu mungkin seorang pengemis, yang mencoba mencari kesempatan saat hari Natal dan meminta sedikit cokelat panas, atau tempat berteduh dari cuaca yang dingin, dan bersalju. Ia berjalan menuju pintu depan, dan melihat sebuah siluet seorang pria. Wonwoo dengan ragu membuka pintu, memperlihatkan sesosok pria tinggi yang kelihatan tidak asing. Pria itu membawa sebuket cokelat berbentuk bunga, dan membawa boneka beruang yang lucu.

"Selamat Natal", suara yang ia yakini milik Kim Mingyu berkata, saat ia menatap mata milik kekasihnya.

.

.

.

To Be Continued


in case ada yg nanya Mingyu nyanyi lagu apa, itu lagunya EXO yg My Answer di translate ke bahasa inggris:-)

ga kebayang aja ya Mingyu nyanyiin lagu itu wkwk

tunggu 1 part lagi yaa buat yg penasaran ceritanya seokmin! :)

Happy Holiday!

Read n Review?

Love,

seulgibear