POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#17 Christmas
Wonwoo menatap kekasihnya yang sedang tersenyum bodoh ke arahnya, membawa sebuket bunga dan boneka beruang di tangannya. Ketua Kelas itu terpaku, dan tidak langsung menerima hadiah itu. Mingyu berdiri di pintu, menatap kekasihnya. Mingyu mengenakkan topi Santa yang lucu di kepalanya, dan hanya tersenyum sambil terus menatap kekasihnya.
"Wonwoo-ya! Tutup pintunya, dingin! Siapa yang datang?" Narin bertanya dan bangkit dari duduknya, berjalan menuju putranya, sedikit takut kenapa Wonwoo begitu lama hanya untuk membukakan pintu. Ia sedikit terkejut melihat Mingyu berada di luar pintu rumahnya,
"Oh Mingyu-ya! Masuklah, udaranya dingin!" Narin berkata. Ia lalu memukul lengan Wonwoo,
"Kenapa kau membiarkan kekasihmu membeku di luar begini?" ia bertanya, menyadarkan Wonwoo dari lamunannya. Narin menyuruh Mingyu masuk, dan Mingyu membungkuk sopan sebelum akhirnya berjalan memasuki rumah keluarga Jeon yang sudah tidak asing baginya.
Wonwoo menutup pintu setelah kekasihnya masuk ke dalam. Narin dengan cepat menarik Mingyu untuk duduk di ruang tamu, tidak memberinya waktu terlalu banyak untuk melepas sepatunya.
"Oh! Mingyu-ya, apa yang membawamu kemari?"
Minsung berkata sambil bangun dari sofa untuk memberikan Mingyu sebuah pelukan, yang membuat Mingyu sedikit terkejut sebelum ia membalas pelukan Tn. Jeon. Wonwoo masih bingung dengan seluruh situasinya. Ia mengerutkan matanya dan memiringkan kepalanya untuk menunjukkan rasa bingungnya. Mingyu berbalik dan menatap Wonwoo, lalu sekali lagi mencoba memberikan hadiah pertama dari masih banyak lagi hadiah yang akan ia berikan hari ini,
"Merry Christmas."
Mingyu mengulang perkataannya, dan kali ini Wonwoo mengambil hadiah itu dan memeluk kekasihnya, sebuah senyum lebar yang tulus muncul di wajahnya.
"Merry Christmas.", ia membalas.
Narin tersenyum melihat pemandangan manis di depannya, dan ia memukul lengan suaminya keras karena gemas, membuat suaminya mengusap lengannya.
"Maaf karena datang selarut ini, aku hanya ingin mengantarkan hadiah pertama untuk Wonwoo," Mingyu berkata sambil menghadap kedua orang tua Wonwoo,
"Oh, tidak, tidak perlu minta maaf! Senang karena kau ada di sini, honey." Narin tersenyum.
"Kenapa kau tidak menginap, tidur setelah bertukar kado dan makanan, lalu nanti kau dan Wonwoo bisa melakukan rencana kecil kalian?" Minsung menyarankan, dan Narin mengangguk setuju.
"A-apa itu tidak apa-apa?" Mingyu bertanya, tidak yakin jika mereka bersungguh-sungguh menyuruhnya menginap.
"Tentu saja!" Narin menjawab dengan antusias.
"Baiklah, kalau kalian tidak keberatan, aku akan menginap disini malam ini." Mingyu berkata, dan menatap Wonwoo yang wajahnya kini memerah.
"Bagus! Sekarang, ayo kita buka hadiahnya, ini sudah lewat tengah malam." Narin berkata, dan menyuruh semua orang berkumpul di sekitar pohon natal.
Wonwoo menggenggam hadiah dari kekasihnya di dekat dadanya, dan bertanya,
"Apa kau punya pekerjaan?"
"Tidak," Mingyu menjawab sambil meminum cokelat panas yang diberikan Minsung untuknya.
"Kalau begitu, dari mana kau bisa membeli ini semua?" Wonwoo bertanya, menatap buket bunga dan boneka beruang di tangannya.
"Aku mencurinya."
Wonwoo memalingkan wajahnya cepat ke arah kekasihnya, dengan reputasi kekasihnya dan 'aktivitas' masa lalunya, besar kemungkinan apa yang di katakan Mingyu benar.
"Aku hanya bercanda," Mingyu terkekeh, "Aku mengambil pekerjaan selama musim panas, jadi aku punya sedikit uang."
Wonwoo menatap kekasihnya dengan tatapan curiga sebelum ia tertawa. Narin dan Minsung duduk di sofa, menatap anak mereka dan kekasihnya yang duduk di dekat pohon.
"Oh! Aku hampir lupa," Mingyu berkata sebelum mengeluarkan 2 kotak dari saku mantelnya. Ia berdiri dan berjalan menuju orang tua Wonwoo, memberikan dua kotak itu untuk mereka.
"Selamat Hari Natal," Mingyu tersenyum.
Narin dan Minsung saling berpandangan, lalu menatap kotak di tangan mereka. Mereka membukanya, di dalamnya ada cincin perak untuk Minsung, dan sebuah kalung perak cantik untuk Narin. Mereka saling berpandangan sekali lagi setelah menatap hadiah itu, dan langsung mencoba mengembalikan hadiah itu pada Mingyu, tapi Mingyu memaksa mereka untuk menerimanya.
"Kau tidak harus memberikan hadiah ini, Sweetie." Narin berkata pada Mingyu, yang dengan santai menjawab,
"Terima kasih karena sudah mengizinkanku untuk mengencani putra kalian yang luar biasa, dan memperlakukanku seperti anak kalian sendiri."
Minsung dan Narin memeluk lelaki tinggi itu, penuh kasih sayang. Lalu, Narin berjalan ke pohon natal, dan mengambil hadiah yang terbungkus rapi dengan pita merah di atasnya.
Hadiah itu bertuliskan label "Untuk; Mingyu", dan ia memberikan hadiah itu pada Mingyu.
"Dari kami!" Ia berkata, lalu duduk di sebelah Minsung.
Mingyu tersenyum sambil membuka hadiahnya dengan hati-hati, dan senyumnya semakin melebar ketika ia melihat isinya. Di dalamnya ada sebuah cardigan putih halus yang terlipat di atas sebuah kemeja denim. Ia menatap orang tua kekasihnya dan memeluk mereka, berterima kasih.
"Oke, apa kau berniat mengalahkan hadiahku?" Wonwoo berkata, membuat semua orang tertawa, Wonwoo mengambil hadiah dari bawah pohon natal dan memberikannya pada orang tuanya,
"Tidak apa-apa, kalian harus lebih menyukai hadiah dariku, aku anak kalian." dan Mingyu terkekeh,
"Mungkin Mingyu adalah calon... menantu kami?" Narin berkata, membuat pasangan itu tersipu,
"Ibu!", Wonwoo menegur komentar ibunya, membuat orangtuanya tertawa.
Tn. dan Ny. Jeon membuka hadiah itu yang berisi gift card senilai 20.000 won dan kupon satu hari di tempat spa.
"Sayang, darimana kau mendapat uang untuk ini?"
"Aku juga bekerja saat musim panas, Bu!", ia mengingatkan ibunya.
Ia memeluk orang tuanya, lalu berjalan kembali ke pohon natal dan mengambil hadiah untuk kekasihnya yang sedang duduk di atas karpet, tersenyum hangat. Wonwoo mengambil hadiah yang terbungkus kertas kado berwarna perak di tangannya, dan memberikannya pada Mingyu. Mingyu menaruh cokelat panasnya dan menatap Wonwoo,
"Bukalah," ia berkata.
Mingyu membuka hadiah itu dengan hati-hati, senyuman manis tersemat di bibirnya. Wonwoo menumpukan dagunya di tangannya sembari melihat reaksi kekasihnya. Kepala Mingyu terangkat dan menatap mata Wonwoo, sebuah senyum kekanakan muncul di wajahnya saat ia dengan cepat menarik Wonwoo masuk ke dalam pelukan eratnya,
"Terima kasih!" Mingyu berkata, membuat Wonwoo ikut tersenyum,
"Merry Christmas." Wonwoo berkata begitu pelukan mereka terlepas.
Mingyu menatap kotak di tangannya. Kado natal yang di berikan kekasihnya adalah sebuah proyektor. Bukan hanya proyektor biasa, proyektor itu hampir mirip dengan yang berada di star gazing theater ketika kencan pertama mereka. Proyektor itu mampu menunjukkan gambaran galaksi, dan cukup kecil untuk ditaruh di kamarnya, dan memang itu yang akan ia lakukan dengan hadiahnya. Wonwoo menatap kekasihnya, puas dengan kebahagian yang terpancar di wajah kekasihnya saat melihat hadiahnya.
"Aw, sekarang hadiahku terlihat seperti omong kosong dibandingkan ini." Mingyu berkata, membuat Wonwoo tertawa.
"Apa yang akan aku berikan untukku?"
"Itu rahasia," Mingyu memilih membuat Wonwoo penasaran dan bertanya-tanya.
Setelah saling bercerita tentang hari natal mereka di tahun-tahun yang lalu, keluarga Jeon dan Mingyu memutuskan bahwa sudah saatnya untuk tidur.
"Babe, apa kau punya baju lebih? Aku tidak merencanakan akan menginap disini malam ini." Mingyu berkata setelah menarik tangan Wonwoo.
"Aku pikir bajuku tidak akan muat..." Wonwoo berkata dengan jujur.
"Aku hanya membutuhkan celana lagipula," Mingyu berkata. Dan Wonwoo seakan diingatkan kalau kekasihnya hanya tidur mengenakkan celana, dan itu membuat darah berkumpul di pipinya, membuatnya merona.
"Pergi dan tunggulah di kamarku," Wonwoo lalu berjalan untuk menemui ayahnya, Mingyu menurut dan menaiki tangga. Ia memasuki kamar Wonwoo dan berdiri tepat di pintu masuknya.
"The Hell?"
Terlihat di depannya sebuah kamar yang berantakan, baju dimana-mana, seprai yang tidak rapi, kaleng minuman di mana-mana, dan rak bukunya benar-benar kacau. Satu-satunya yang terlihat rapi adalah mejanya. Mingyu hanya menatap pemandangan di depannya, tidak habis pikir bagaimana bisa kekasihnya setidak rapi ini.
"Ayahku bilang kau bisa meminjam ini,"
Wonwoo berkata sambil memasuki kamarnya, mengulurkan sebuah celana training abu-abu untuk kekasihnya.
"Babe, what the Hell?"
"Apa? Kau tidak suka warnanya?" Wonwoo bertanya, tidak yakin apa yang dimaksud kekasihnya.
"Tidak, tidak ada masalah dengan celananya, tapi, kamarmu..."
"Oh... Ya, maaf, kamarku sedikit berantakan."
"Sedikit?!" Mingyu mendengus, dan berjalan mengitari kamar, sedangkan Wonwoo menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, yang berada di pojok kamar.
"Bagaimana bisa Ketua Kelas seberantakan ini?" Mingyu bertanya.
"Biarkan saja~" Wonwoo mengeluh di balik bantalnya.
Mingyu tertawa lalu melepas pakaiannya, dan Wonwoo dengan cepat memalingkan wajahnya.
Mingyu tersenyum miring,
"Aku tidak sepenuhnya telanjang, kau tahu itu, kan?"
"Y-Ya aku tahu.."
"Jadi kenapa kau memalingkan wajahmu seperti itu?" Mingyu bertanya sambil tertawa.
"Karena..." Wonwoo tidak bisa memikirkan alasan yang masuk akal, jadi ia mengabaikan pertanyaan itu, pipinya semakin merona.
Mingyu memakai celana training yang terasa pas di tubuhnya. Ia melepas kausnya, memperlihatkan dada dan perutnya yang berwarna tan, dan Wonwoo sesekali mencuri pandang. Wonwoo berganti pakaian dengan yang lebih nyaman, dan berjalan ke tempat tidurnya.
"Jadi... Kau mau tidur di sebelah mana?"
"Jika kau mau, aku bisa tidur di lantai." Mingyu menawarkan dengan baik hati.
"Tidak, tidak apa-apa. Pilih saja kau mau tidur di sebelah mana." Wonwoo meyakinkan dengan sebuah senyuman canggung di wajahnya. Mereka berdua pernah tidur bersama sebelumnya, di markas atau di sofa, tapi untuk beberapa alasan Wonwoo merasa gugup kali ini.
"Aku akan tidur di sebelah sini," Mingyu berkata sambil memposisikan dirinya di dekat dinding. Wonwoo mengikutinya dan naik ke atas tempat tidurnya, lalu menyelimuti dirinya sendiri. Ia merasakan sebuah lengan melingkar di pinggangnya dan menariknya untuk mendekat ke arah tubuh Mingyu yang tidak mengenakan atasan. Mingyu dengan manis mengecup belakang kepalanya,
"Good night, babe"
Wonwoo tersenyum mendengar panggilan sayang kekasihnya.
"Good night."
Lalu mereka berdua tertidur, masih saling berpelukan. Sebelum Wonwoo jatuh tertidur, hal terakhir yang ia pikirkan adalah,
"Tidak ada 'i love you', huh?"
.
Keesokan harinya Mingyu dan Wonwoo dibangunkan oleh Narin,
"Boys~, sekarang sudah jam 10, kalian harus bangun." Ia berkata lembut sambil mengguncang tubuh Wonwoo pelan. Wonwoo menggerakkan tubuhnya berusaha melepaskan lengan Mingyu di pinggangnya, menarik selimutnya dan membuatnya memperlihatkan tubuh atas Mingyu yang shirtless, dan Narin langsung berteriak,
"Oh ya Tuhan! Maaf!"
Wonwoo sadar kalau ibunya mungkin salah sangka, dan baru akan menjelaskan tapi ibunya telah lebih dulu berlari keluar sambil berteriak,
"Buatlah pilihan yang tepat, Sayang!"
Wonwoo menghela napas, menutup matanya dan kembali merebahkan diri di tempat tidurnya, dan Mingyu langsung memeluknya, lalu menciumnya,
"Merry Christmas," Mingyu berkata, suaranya terdengar serak dan lelah karena baru bangun. Wonwoo tersenyum manis pada kekasihnya,
"Selamat pagi"
Mingyu tersenyum, matanya masih tertutup. Setelah cuddling beberapa saat, mereka akhirnya bangun dan Mingyu dengan cepat masuk ke kamar mandi, meminjam handuk Wonwoo. Ketika Mingyu keluar dari kamar mandi, Wonwoo masuk dan melakukan rutinitas paginya. Mereka berdua berganti pakaian, Mingyu memakai pakaian baru yang diberikan orangtua Wonwoo dan celana yang ia pakai kemarin. Ia terlihat mempesona -seperti biasa-, begitu juga dengan Wonwoo yang memakai kemeja hitam panjang. Ia memadukannya dengan celana hitam, dan setelah mereka selesai berpakaian, mereka turun untuk sarapan. Mereka duduk di meja makan yang sudah disiapkan, di depan Minsung yang sedang membaca koran. Narin datang memutari meja, menaruh 2 pancake di masing-masing piring. Lalu ia membawa scrambled eggs, dan semangkuk bacon sosis. Ia menaruhnya di meja, lalu keluarga Jeon dan Mingyu memulai sarapan mereka.
"Jadi, sayang... Apa kau bersenang-senang semalam?" Narin bertanya, menaikkan alisnya.
"Ibu." Wonwoo berkata dengan suara tegas.
"Oh, sayang, tidak apa-apa. Kau sudah 18 tahun, normal kalau kau sudah-"
"Aya~h, buat ibu berhenti!" Wonwoo berkata sambil mengarahkan garpunya ke arah ibunya.
Mingyu sepertinya mengerti apa yang Narin coba katakan, dan ia memberi penjelasan,
"Oh, Narin, aku pikir kau salah paham. Aku tidak akan pernah bersikap tidak menghormati Wonwoo seperti itu, jadi... aku hanya punya kebiasaan tidur tanpa mengenakan atasan."
"Wonwoo-ya... Bukankah Mingyu luar biasa?" Narin berkata, dan Wonwoo hanya menutup matanya, benar-benar sudah lelah dengan ibunya, dan kekasihnya hanya seperri menambahkan bensin ke dalam api.
"Ibu, bisakah kita berhenti membicarakan itu?" Wonwoo meminta, dan Mingyu mulai teryawa sambil menyuapkan telur ke dalam mulutnya.
Setelah sarapan, pasangan itu memutuskan untuk mengeksekusi rencana yang sudah Mingyu siapkan. Pertama, mereka berjalan keliling kota, saling bergandengan tangan. Mereka menikmati salju yang turun dengan perlahan, dan berakhir meleleh saat bersentuhan dengan kulit mereka. Wonwoo sedikit mengantisipasi, tapi memutuskan untuk tidak membiarkan harapannya terlalu tinggi. Ia tahu kalau apapun itu hadiahnya, selama hadiah itu tulus dari hati Mingyu, ia pasti akan menyukainya.
Setelah mereka berhenti di sebuah kafe kecil dimana Mingyu membelikannya latte, mereka meneruskan perjalanan mereka. Hela napas mereka terlihat saat mereka meminum latte panas dan bernapas di sekitar cuaca yang dingin. Mereka berdua duduk di sebuah bangku, saat Mingyu berkata,
"Oke, babe tutup matamu."
Wonwoo melakukan seperti apa yang diperintahkan, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia terlonjak saat ia merasakan dinginnya logam menyentuh lehernya, tapi tetap menutup matanya. Mingyu memasangkan sesuatu di lehernya, lalu setelah selesai ia menyuruh Wonwoo membuka matanya. Wonwoo membuka matanya dan perlahan menatap ke arah lehernya, dan ia melihat sebuah kilau perak. Kalung itu terlihat tidak asing, lalu ia menyadarinya. Kalung ini adalah kalung yang sama dengan yang Mingyu kenakan, sebuah kalung berantai perak dengan cincin perak sebagai bandulnya. Wonwoo menatap kalung itu dan sebuah senyum lebar, tulus, menyebar di seluruh wajahnya,
"Kau suka?" Wonwoo hanya bisa mengangguk dan Mingyu mendekat, menggenggam cincin itu.
"Cincin ini sangat istimewa," ia memulai, "ini melambangkan kesatuan. Jadi, selama kau memiliki ini, kau secara teknis akan selalu memilikiku. Oke?" Wonwoo menatap kekasihnya dan tersenyum, sebelum mengecup bibirnya. Mingyu tersenyum, dan berkata,
"Oke! Masih ada banyak lagi untuk hari ini, jadi ayo bergerak."
Mingyu berencana untuk mendatangi Lotte World, yang untungnya tetap buka. Meskipun ia benci ketinggian, ia tahu kalau Wonwoo menyukai roller-coaster, jadi ia menahan rasa takutnya dan menaiki wahana itu, dan ia puas melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Wonwoo. Mereka menaiki berbagai wahana, sangat banyak sampai Mingyu mulai merasa sedikit menyesali keputusannya, tapi pemikiran itu dengan cepat terhapuskan setiap kali Wonwoo tersenyum. Hari Natal adalah waktu untuk bersenang-senang, dan kebahagiaan, jadi itulah yang ingin Mingyu berikan pada kekasihnya.
Setelah beberapa jam di taman bermain, Mingyu memutuskan bahwa sudah saatnya untuk pulang ke rumah, membawa Wonwoo bersamanya. Wonwoo merasa sedikit gugup, tidak pernah datang ke rumah Mingyu sebelumnya, dan hanya sekali bertemu dengan ibunya. Ia tidak pernah bertemu dengan ayahnya sebelumnya, dan semua ketidak-tahuannya membuat jantung Wonwoo berdetak sedikit lebih cepat. Mereka berjalan bergandengan tangan, dan berhenti di sebuah rumah kecil yang indah, yang Wonwoo yakini adalah rumah kekasihnya. Mingyu melepaskan tangan Wonwoo sebentar, dan meraih kunci di sakunya. Ia membuka pintu, menahannya, dan menyuruh Wonwoo untuk masuk lebih dulu. Wonwoo masuk, dengan ragu-ragu, dan menatap ke sekeliling, seketika hatinya dipenuhi perasaan bahagia dan hangat. Mingyu menutup pintu ketika mereka berdua sudah masuk. Ia menyadari Wonwoo yang sedang menatap sekeliling rumahnya.
"Ada apa, sayang?"
"Tidak ada," ia berkata, dengan senyum di wajahnya, "Rumahmu nyaman."
Rumah keluarga Kim kecil, hangat dan nyaman. Rasanya benar-benar seperti rumah. Di ruang tamu terdapat pohon natal, sebuah sofa, dan perapian. Dekorasi rumah itu rapi, sederhana dan indah. Wonwoo masih mengamati rumah kekasihnya saat sesosok tubuh mungil keluar dari dapur, hampir menakuti Wonwoo. Ia adalah ibu Mingyu. Mingyu berjalan ke arah ibunya dan memeluknya lalu menciumnya.
Wonwoo membungkukkan tubuhnya sopan, lalu berkata dengan bahasa isyarat,
"Selamat Natal, Ny. Kim. Aku Wonwoo."
Gerakannya pelan, tapi ia berhasil menyelesaikannya. Ia meminta Mingyu untuk mengajarinya kalimat itu saat di perjalanan, dan yang membuatnya terkejut adalah ia bisa mengingatnya. Ny. Kim tersenyum, dan membalas,
"Selamat Natal, Wonwoo."
Dan dari sana, Mingyu mengambil alih. Ia pada dasarnya memberitahu ibunya kalau mereka akan ada di kamarnya beberapa lama, dan nanti mereka akan turun untuk mengambil makanan. Lalu Mingyu meraih tangan Wonwoo dan menariknya menaiki tangga, menuju kamarnya.
Kamarnya benar-benar terlihat berlawanan dengan kamar Wonwoo. Kamar Mingyu bersih, rapi, dan teratur. Kamarnya benar-benar rapi sampai Wonwoo berpikir kalau ia menyentuh apapun, Mingyu akan menjerit histeris. Tapi, Mingyu menuntun Wonwoo untuk duduk di tempat tidurnya.
"Wonwoo-ya, aku punya sesuatu untukmu."
Wonwoo merasa ia dilimpahi oleh banyak sekali hadiah, pertama boneka beruang dan bunga, lalu kalung. Ia sudah merasa sangat senang hanya dengan itu, dan kekasihnya masih terus memberikannya hadiah seakan-akan ia melewatkan hari ulang tahunnya beberapa tahun. Mingyu melepaskan pelukannya, dan berdiri, menyerahkan sebuah kertas poster. Wonwoo mengambilnya, dan membaliknya, untuk melihat apa yang ada dibaliknya. Ketika ia melakukannya, sebuah senyum langsung terbit di wajahnya,
"Kau suka?" Mingyu bertanya, tersenyum, Wonwoo hanya mengangguk sambil terus menatap poster itu.
Di poster itu terdapat kolase foto Mingyu dan Wonwoo. Wonwoo mengenal sebagian besar foto-foto itu, itu adalah foto saat mereka menghabiskan waktu bersama, tapi Wonwoo tidak pernah menatap kamera. Mingyu berfoto dengan Wonwoo di belakangnya, sambil yang lebih tinggi memegang sebuah sticky note bertuliskan 'i love you' di setiap fotonya. Wonwoo tertawa melihat setiap foto itu. Ia menatap Mingyu yang juga sedang tersenyum. Mingyu menggenggam wajah Wonwoo dan menciumnya tepat di bibirnya.
"Jeon Wonwoo. I love you."
Senyum Wonwoo semakin melebar,
"I love you too."
Mereka kembali bermesraan, dan Mingyu mulai tertawa sendiri,
"Hadiah yang cheesy, huh?"
Wonwoo hanya mengangguk, setuju, meskipun ia paling menyukai hadiah ini dari semua hadiah yang diterimanya hari ini. Ia bertanya-tanya apakah Jun memberitahu Mingyu, tapi ia berpikir kalau sahabatnya tidak mungkin melakukan itu.
Setelah menghabiskan waktu di rumah Mingyu, mereka pergi untuk makan malam sederhana, karena semua restoran mewah sudah penuh pada hari natal. Wonwoo tidak masalah dengan itu. Ia suka menghabiskan waktu bersama Mingyu dan itulah yang terpenting. Natal tahun ini istimewa.
Waktu sudah malam, dan matahari sudah terbenam, langit malam dan bintang-bintang memancarkan sinarnya menyinari jalan saat Mingyu mengantar Wonwoo pulang. Mereka bergandengan tangan, dan berjalan pelan menuju kediaman Jeon, jejak kaki mereka terlihat di atas salju. Selagi berjalan Mingyu berkata,
"Selamat Natal, sayang."
"Selamat Natal." Wonwoo berkata, "sayang." ia menambahkan, membuat mereka berdua tertawa.
Keheningan menyelimuti perjalanan mereka, masih lumayan jauh sampai rumah keluarga Jeon. Mingyu menghela napas, napasnya terlihat di udara malam yang dingin.
"Mau dengar sebuah cerita?", yang lebih tinggi berkata.
"Tentang apa, babe?" Wonwoo bertanya, sambil terus berjalan, dengan tangan yang masih saling bergandengan.
"Tentang Lee Seokmin."
.
.
.
To Be Continued
BAM!
Wonwoo mau diceritain seokmin! :3 tungguin part selanjutnya ya:)
okay so this was supposed to be updated sooner tapi karena tadi teaser jeonghan muncul and i was freaking out karena dammmnnnnnn his short hair somehow looks so great
kirain pledis bakal motong poninya jeonghan juga syukur aja deh engga:')
he somehow looks manly and still pretty at the same time:(
jadi gasabar teaser meanie DUHHHH
dan karena kelihatannya Mingyu ngga ganti rambut kali ini, ada kemungkinan dia comeback with his black hair and it will be the death of me HAHAHAHAHA:( apalagi kalo forheadnya udah kemana-mana:( /yaudah/
Makasih banyak yg udah review, favorite, follow, yg udah baca tapi diem diem juga thanks bgt:33
Read n Review?
Love,
seulgibear
