POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#18 Kim Mingyu


Kim Mingyu.

Setiap orang di jalanan, dan dari segala usia tahu nama itu. Ketua dari salah satu gang yang paling baik, tapi ahli dalam hal berkelahi, di lingkungan mereka. Tidak ada seorangpun yang memiliki keberanian, ataupun kekuatan untuk melawan grup yang beranggotakan 10 anak laki-laki itu. Hanya orang yang naif, yang baru mengenal hidup di jalanan, yang akan menyerang mereka, tertipu oleh wajah flower boy dan prestasi sekolah yang mereka miliki.

Kelompok mereka memiliki banyak sebutan, sebelumnya yang paling sering dipakai adalah '17', banyak rumor yang mengatakan kalau itu adalah jumlah kelompok lain yang sudah mereka kalahkan. Tapi itu 2 tahun yang lalu. Sekarang, kelompok itu dikenal dengan 'The Kings', tapi mereka tidak terlalu peduli dengan itu. Kalaupun mereka peduli, mereka memanggil diri mereka sebagai 'keluarga'. Mereka dihormati, ditakuti oleh siapapun. Tidak ada seorang pun yang berani datang ke markas mereka jika tidak diundang. Mereka takut dipukuli, atau bahkan dibunuh. Mereka tidak tahu kalau satu-satunya yang anak-anak itu lakukan di markas hanyalah hal-hal bodoh yang biasa dilakukan remaja lelaki. Meskipun mereka terkenal karena reputasi mereka, sebenarnya, kesepuluh anak itu hidup dengan normal. Hanya jika sudah tiba waktunya, mata mereka yang tadinya membentuk bulan sabit karena tersenyum berubah menjadi tatapan yang mematikan yang bahkan tidak berkedip ketika melayangkan pukulan. Mata yang hanya melihat terget mereka. Mata tajam yang secara natural menurut pada leader mereka. Mata yang sudah sering melihat perkelahian, adu argumen, luka, orang-orang yang berteriak kesakitan. Tapi juga adalah mata yang sama yang menatap sesuatu dengan rasa bahagia, kasih sayang, cinta. Jadi, ketika kau menatap mata kesepuluh anak ini, pikirkan semua kejadian mengerikan yang sudah biasa mereka lihat, meskipun jika itu disebabkan oleh mereka sendiri. Dibalik itu semua, mereka masih bisa tersenyum tulus, tertawa sampai perut mereka sakit, dan sampai air mata muncul di mata mereka. Anak-anak yang dikenal di jalanan sebagai 'The Kings', dan bagaimana mereka bersikap di rumah mereka masing-masing, sama sekali tidak memiliki kesamaan. Tentu, mereka memiliki aura yang mengintimidasi, mata mereka dingin, dan tangan mereka memar disana-sini.

Tapi siapa mereka sebelum ini? Siapa yang ada di belakang semua ini, atau apakah mereka memang selalu seperti ini?

Kim Mingyu tidak terlahir dengan piercing, tatapan mematikan, atau reputasi anak berandalan. Ia berubah menjadi seperti ini... Dan itu semua dimulai pada satu hari. Mungkin itu bukan hari dimana ia mulai berkelahi, tapi ini adalah yang menjadi pemicunya. Hari dimana ia bertemu anak laki-laki seusianya, yang bernama Lee Seokmin.

Kehidupan Mingyu di rumah sejujurnya terasa seperti neraka. Meskipun ibunya tuli, ia berhasil bertemu seorang pria yang 'katanya' mencintainya, dan akan memperlakukannya dengan baik. Pria itu adalah ayah Mingyu. Beberapa tahun pertama masa kanak-kanaknya berjalan seperti keluarga pada umumnya. Pesta ulang tahun dengan kue, balon, dan hadiah sederhana untuknya. Itu adalah saat-saat terbaik dalam kehidupan Mingyu, karena begitu ia sudah cukup besar untuk bicara dan berjalan, dan masuk sekolah, saat itulah keadaan berbalik menjadi buruk. Kali pertama itu terjadi ketika ia berada di kelas 2, di awal tahun ajaran baru. Mingyu baru berumur 6 tahun, dan masih merasa senang pergi ke sekolah, menyukai gurunya, teman-temannya, dan pelajaran di sekolahnya juga tidak terlalu buruk. Tapi suatu hari, ia pulang kerumah dengan tanda 'buruk' di ujian mengejanya. Ia menunjukannya pada orangtuanya, dan ibunya menulis di sebuah kertas,

"Tidak apa-apa, sayang. Kau bisa mencobanya lebih keras lain kali, oke?"

Mingyu membaca catatan ibunya, dan mengangguk, berjanji pada ibunya untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lain kali. Ayahnya, di sisi lain, mengatakan kalau ia akan bicara dengannya nanti. Ketika Mingyu sedang bermain di kamarnya, ia mendengar sebuah ketukan di pintu kamarnya.

"Mingyu-ya, ini ayah. Ayah masuk,"

Suara pria itu terdengar ketika ia membuka pintunya, berjalan masuk menuju kamar anak kecil itu, dan menutup pintu di belakangnya.

Ia berjalan menuju Mingyu, dan Mingyu berdiri di hadapan ayahnya. Di tangan ayahnya adalah selembar kertas, kertas ujian mengeja Mingyu.

"Bisa kau jelaskan ini?"

Mingyu tidak tahu harus berkata apa. Ia bukan anak yang bodoh, dan ia juga tahu itu, jadi ia tidak tahu harus memberi alasan apa untuk nilainya yang jelek itu. Sebelum anak kecil itu bisa mengatakan apapun, sebuah tangan menampar wajahnya. Mata Mingyu melebar, terkejut dan kesakitan.

"Kau lebih baik memperbaiki nilaimu, son."

Mingyu menatap lantai, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ini adalah pertama kalinya ayahnya mendaratkan tangannya di wajahnya, tapi jelas saja itu tidak akan jadi yang terakhir kalinya. Mingyu berpikir kalau ayahnya mungkin hanya terlalu tegas, jadi ia menanggapi tamparan itu dengan pikiran yang positif, beranggapan kalau mungkin ayahnya hanya tidak ingin ia gagal dalam hal apapun.

Ya... Ayahnya memukulnya karena ia ingin Mingyu sukses, itulah yang Mingyu pikirkan dalam kepalanya. Tapi alasan itu tidak bertahan lama.

Setelah menamparnya, ayah Mingyu berjalan keluar kamar. Mingyu masih tetap berdiri, terdiam di tempatnya sambil menaruh tangannya di pipinya yang memerah dengan rasa perih yang masih jelas terasa. Ia menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya sendiri dari pikirannya dan melanjutkan bermain dengan Lego yang tersebar di seluruh lantai kamarnya, menganggap kejadian tadi sebagai pengalamannya untuk lebih disiplin lain kali. Tapi, begitu ia beranjak dewasa, dan nilai peringkatnya tinggi dan terus konsisten, kekerasan yang dilakukan ayahnya terus berlanjut. Tidak peduli nilai berapapun yang ia dapatkan dalam ujian, karena sekarang Mingyu hanyalah samsak tinju ayahnya. Mingyu meringkuk dan membungkuk setiap kali ayahnya melayangkan tangannya, memohon,

"Jangan pukul aku," "kumohon, ayah!" dan tangisan memohon pertolongan lainnya.

Satu kali, ayahnya memukulinya, dan yang bisa Mingyu lakukan hanyalah menangis dan berteriak.

"Berteriaklah sesukamu," pria itu berbisik sambil menarik rambut Mingyu, membawa telinganya mendekat ke bibirnya.

"Lagipula ibumu tidak akan bisa mendengarmu."

Itu sangat mengerikan. Bagaimana bisa seseorang yang bersikap manis pada ibunya, dan seorang pria yang sukses dalam pekerjaannya, bahkan memiliki perusahaannya sendiri, dan kelihatannya bisa menahan diri, bisa melakukan ini pada putranya sendiri. Selama acara pesta atau rapat, ayahnya selalu tersenyum, tertawa, menipu orang-orang dengan keberhasilannya, dan tingkahnya yang penuh kasih sayang. Tidak ada seorangpun yang tahu kalau di rumah, kepribadian aslinya muncul. Mingyu tidak bisa memberitahu ibunya karena pria itu mengancamnya,

"Jika kau memberitahu ibumu, aku akan meninggalkannya."

Sebagai anak kecil, bahkan Mingyu bisa melihat kalau ibunya mencintai pria itu, atau setidaknya mencintai sisi baik yang ditunjukkan pria itu. Cara mereka bersikap satu sama lain, kau mungkin akan berpikir kalau pria itu menyayangi anaknya, dan mereka adalah keluarga yang bahagia. Ia bahkan mau belajar bahasa isyarat, dan begitulah mereka pertama kali bertemu. Jadi, Mingyu, tidak ingin menghancurkan kebahagiaan ibunya, dan memilih untuk tetap diam tentang apa yang terjadi padanya.

Ia tidak mengatakannya pada siapapun.

Semakin ia beranjak dewasa, senyum anak laki-laki kecil yang polos dan naif tergantikan oleh wajah yang jarang menunjukkan ekspresinya. Ia berhenti masuk sekolah, lelah membuat berbagai alasan saat ditanya kenapa wajahnya terluka dan memar disana-sini. Banyak orang salah menganggap kalau ia adalah anak kecil yang tempramental, anak kecil yang tidak bisa menahan amarahnya. Mingyu kehilangan apa itu artinya kebahagiaan, keluarga, cinta, dan kepercayaan.

Bagaimana bisa seseorang melakukan itu pada darah dagingnya sendiri?

Terkadang ia akan duduk di kamarnya dalam kegelapan, memandangi luka dan memar di tangan dan kakinya, bertanya-tanya dimana lagi pria itu akan menambahkan luka yang baru. Ia tidak pernah membalas, sekalipun tidak pernah, tapi itu bukan berarti ia tidak marah.

Tahun demi tahun berlalu, dan kekerasan itu terus berlanjut, kombinasi dari perasaan benci, marah, dan jahat mulai tumbuh di hati anak yang bahkan belum berusia 12 tahun. Saat ia berusia tepat 12 tahun adalah ketika pria itu melangkah terlalu jauh...

Itu adalah pertama kalinya Mingyu melawan, tapi ia berakhir dengan melarikan diri dari rumah beberapa waktu.

Pria itu memulai dengan cara yang seperti biasa; memukulinya, menamparnya, meninjunya. Ia melakukan ini semua di tengah malam, ketika ibu Mingyu sedang tertidur, dan kemungkinannya sangat kecil ibunya akan memergoki aksi kekerasan itu. Tapi lalu, pria itu mulai merasakan tubuh Mingyu. Mingyu tidak benar-benar tahu apa yang terjadi, tapi ia benar-benar takut dan lebih mengharapkan kalau pria itu memukulinya seperti biasa. Mingyu mendengar suara pergerakan kain, pria itu membuka celananya sendiri. Mingyu mendapatkan firasat tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sekolah, dan di ajari saat tahun keempatnya tentang 'bagian pribadi' dan seharusnya tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya. Anak kecil itu mulai menggerak-gerakan tubuhnya, melawan dan mencoba untuk melepaskan diri, tapi itu sia-sia karena ia melawan cengkeraman seorang pria dewasa. Hari itu adalah hari dimana kepolosan Mingyu diambil paksa darinya. Oleh seseorang yang ia pikir seharusnya mencintainya, menyayanginya. Oleh seseorang yang mengatakan 'Love you, son', seseorang yang memberikan hadiah ulang tahun untuknya dan mencintai ibunya.

Oleh ayah kandungnya.

Ketika pria itu 'selesai' ia dengan cepat memakai kembali baju tidurnya, meninggalkan Mingyu di kamarnya dan kembali ke kamarnya sendiri.

Bagaimana bisa orang semengerikan itu masih bisa tertidur dengan lelap, sedangkan anaknya yang sudah dipukuli dan direnggut seluruh kepolosan dan kesuciannya masih terbangun, menangis dalam diam di tengah malam dan mencoba menahan jeritannya. Mingyu duduk di atas tempat tidurnya, celana dan celana dalamnya tersebar di lantai kamarnya. Ia menangis, air mata itu air mata kesedihan, frustasi, marah. Ia tidak mau tinggal di sini lagi, ia tidak mau terus diperlakukan seperti itu. Jadi, di umur 12 tahun, Mingyu kecil pertama kali melarikan diri dari rumah.

Mingyu dengan cepat memakai celananya dan keluar dari kamarnya melalui jendela. Ia melompat dari jendelanya dan mendarat di semak-semak, membuat kakinya tergores dan sedikit terkilir. Mingyu berlari dengan pincang dari rumah sialan itu, air mata terus jatuh di wajahnya. Ia meringis merasakan bekas lengket yang masih menempel di perutnya, membuat kausnya menempel pada tubuhnya. Ia terus berlari, tidak memiliki tujuan dan ia juga tidak ingin berhenti. Mingyu menaiki bukit, lalu menjatuhkan dirinya sendiri, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dadanya naik turun dengan cepat. Ia memandang langit malam, dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya dan berakhir jatuh di atas rumput. Mingyu menyesuaikan napasnya dan berbaring di tanah.

"Bintang sangat indah..."

Mingyu berpikir sambil mengagumi titik-titik putih yang tersebar di langit malam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mingyu merasakan sedikit rasa damai. Sambil masih mengagumi bintang, ia terkejut ketika seorang remaja lelaki seusianya muncul di atasnya, menatapnya yang sedang terbaring di tanah. Ia terkejut dan takut, langsung berpikir kalau itu adalah ayahnya, dan menutup matanya erat, mengubah posisinya jadi meringkuk,

"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!"

Mingyu terus mengulang-ulang kalimat itu sambil menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya, menggoyang-goyangkan tubuhnya, bersiap untuk menerima pukulan lainnya. Anak laki-laki itu menatap Mingyu bingung, tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat Mingyu berhenti, jadi ia hanya berbaring di sebelahnya. Ia menepuk punggung Mingyu, membuatnya berhenti menggerak-gerakkan tubuhnya, dan perlahan membuka sebelah matanya. Ketika Mingyu membuka matanya, ia melihat sebuah wajah yang tersenyum ke arahnya. Senyuman itu murni penuh kebahagiaan, matanya hampir terpejam.

"Bintangnya bagus malam ini, kan?"

Anak laki-laki itu terus tersenyum pada Mingyu. Perlahan, Mingyu mulai tenang, dan menegakkan tubuhnya dari posisi defensifnya. Ia kembali ke posisinya semula, tidur di atas tanah sambil menatap langit.

"Ya..." Mingyu berkata tanpa perlawanan. Jawabannya membuat anak laki-laki itu tersenyum.

"Aku penasaran apa nama bintang itu. Mereka pasti memiliki nama, kan?"

"Aku tidak tahu... Apa kau tidak sekolah?" Mingyu menjawab.

Anak itu tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya,

"Ya, tapi sains adalah mata pelajaran terburukku." ia berkata sambil tersenyum.

Mingyu menangkap senyuman itu dari ujung matanya. Ia tidak bermaksud tidak sopan, atau jahat, tapi ia tidak ingin terlalu percaya dengan seseorang yang baru saja ia temui. Ia sudah mengenal ayahnya sepanjang hidupnya, tapi lihat apa yang terjadi. Rasanya sulit mempercayai seseorang setelah seseorang yang seharusnya bisa ia percayai dan menyayanginya apapun yang terjadi, mengkhianatinya, dan memperlakukannya seperti itu. Mereka berdua berbaring di atas tanah, berdampingan, menatap langit malam. Mingyu perlahan-lahan mulai merasakan ketenangan, tidak terlalu mengacuhkan anak laki-laki di sampingnya. Tapi lalu ia mulai bertanya-tanya,

"Apa yang kau lakukan di sini selarut ini?"

Mingyu bertanya sambil memalingkan wajahnya untuk menatap anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu juga memalingkan wajahnya dan sekarang mereka saling berhadapan,

"Well... Sebenarnya aku tersesat. Aku baru pindah kesini, jadi aku tidak tahu jalan di sekitar sini... Jadi aku mulai berkeliling, lalu aku melihatmu disini." anak itu berkata sambil tersenyum di akhir kalimatnya. Mingyu perpikir itu konyol dan ia tertawa,

"Jadi, kau memutuskan untuk kemari dan bicara padaku?"

"Ya. Lagipula, tidakkah kau pikir kelihatannya sedih sekali melihat bintang-bintang yang indah itu sendirian?" anak itu berkata, dan Mingyu memikirkan hal yang sama.

"Bagaimana denganmu? Bukankah kau seharusnya ada di rumah?"

Kepala Mingyu dipenuhi oleh bayangan-bayangan menjijikan itu dan tubuhnya bergetar, merasa jijik pada dirinya sendiri, dan pria yang ia sebut 'ayah'. Lalu ia berpikir tentang ibunya yang sendirian bersama monster itu, yang membuatnya dengan yakin berkata,

"Ya... sepertinya aku harus pergi."

Mingyu berhenti menatap bintang dan mulai berdiri, menepuk-nepuk punggungnya kalau-kalau ada rumput yang menempel di bajunya. Anak laki-laki itu mengikutinya dan mereka sekarang berhadapan, Mingyu bisa melihat anak itu lebih jelas karena sinar bulan. Anak laki-laki di depannya sedikit lebih pendek darinya, dan kelihatannya seusia dengannya. Satu-satunya yang berbeda di wajah mereka adalah wajah anak laki-laki itu terlihat bahagia. Tidak seperti mata Mingyu yang memantulkan kesedihan dan rasa putus asa, mata anak itu penuh oleh kebahagiaan dan harapan.

"Apa kau bisa memberitahuku dimana jalan Sugeok?"

"Pasti dia tinggal disana," Mingyu berpikir,

"Ya, kau tidak berjalan terlalu jauh. Jalan saja ke arah itu, dan kau akan melihat plang jalan." Mingyu berkata sambil menunjuk jalan di depannya. Anak itu tersenyum dan berkata,

"Terima kasih!"

Mingyu tinggal di arah yang berlawanan, jadi mereka berpisah jalan. Semakin mereka jauh, Mingyu menyadari kalau itu adalah pertama kalinya setelah sekian lama seseorang bicara padanya tanpa rasa takut atau bertanya tentang memar dan luka yang ia dapat. Untuk beberapa alasan, anak ini membuatnya merasa berbeda. Ia membuatnya merasa sedikit senang, dan ia memutuskan untuk memanggilnya,

"Namaku Kim Mingyu! Namamu siapa?"

Anak laki-laki itu berbalik dan sinar bulan menerangi senyum lebarnya,

"Lee Seokmin!"

Ia menjawab, membuat Mingyu secara tidak sadar tersenyum,

"Sampai jumpa lagi!" Mingyu kembali berteriak dan Seokmin melambaikan tangannya sebagai balasan.

Lalu kedua anak itu kembali ke rumah masing-masing. Ia sedikit khawatir kalau-kalau Seokmin tersesat lagi. Siapa yang tahu orang-orang yang berkeliaran saat tengah malam? Mingyu menyusup ke dalam rumahnya, berhasil untuk tidak membangunkan orangtuanya dan masuk ke kamarnya. Ia membersihkan dirinya dengan handuk basah sebelum naik ke tempat tidurnya, dan untuk kali ini ia tidak menangis dalam tidurnya. Alih-alih menangis, ia jatuh tertidur sambil memikirkan tentang seorang anak laki-laki yang memiliki senyum lebar dan senang melihat bintang.

.

12 adalah usia yang paling membekas dalam ingatam Mingyu. Ingatan yang buruk, tentu saja, tapi ada sedikit cercah kebahagiaan ketika ia bertemu Lee Seokmin. Sayangnya, ia hanya melihatnya saat itu, dan tidak pernah lagi bertemu dengannya selama sisa musim panas. Dan juga, di usia 12 adalah ketika ia bertemu dengan orang-orang yang akan menjadi saudaranya di masa depan dan dikenal sebagai 'The Kings', meskipun mereka belum dipanggil seperti itu saat itu. Ia bertemu mereka semua ketika ia pindah sekolah ke sekolah yang sedikit lebih jauh dari sekolah lamanya, yang kalau dipikir-pikir lagi, itu adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidupnya. Ia bertemu 9 anak lainnya di hari pertamanya sekolah di Sekolah Dasar Seorin. Mingyu berusia 12, jadi mereka berada di kelas 7 saat mereka saling mengenal. Di usia 12 juga, ia melayangkan pukulan pertamanya. Memulai di usia dimana masa pubertas mulai mengubah seseorang, Mingyu jadi sedikit lebih moody dan sensitif, suaranya semakin berat, dan tubuhnya semakin tinggi, lebih tinggi dari 'ayah'nya, dan jelas lebih tinggi dari teman-temannya. Kesepuluh anak itu membuat janji untuk selalu bersama, dalam suka dan duka, karena meskipun hidup berubah jadi semakin sulit, mereka bisa melaluinya bersama... Karena mereka tim, mereka keluarga; mereka satu.

Sepertinya karena Mingyu adalah yang tertinggi di kelompoknya, atau karena ia memiliki sosok seorang pemimpin, tapi 9 anak lainnya selalu menuruti keputusan Mingyu ketika mereka sedang bersama-sama. Kebanyakan dari mereka mendengarkan apa yang ia katakan, tapi Mingyu selalu memastikan untuk mendengarkan pendapat semua orang tentang apa yang harus mereka lakukan sepulang sekolah. Itulah yang membuatnya menjadi pemimpin yang baik. Jadi, semakin kepercayaan dan ikatan mereka tumbuh, Mingyu secara tidak sadar menjadi pemimpin mereka, dan akan terus seperti itu di masa yang akan datang.

Suatu hari, mereka berjalan pulang dari sekolah, ketika mereka mendengar suara-suara orang mengerang kesakitan dari ujung jalan. Dengan rasa penasaran yang dimiliki anak-anak berusia 12 tahum, mereka mengintip untuk melihat apa yang terjadi. Mingyu tentu saja berada di depan barisan itu, menjadi yang pertama melihat anak lelaki seusianya, yang rasanya tidak asing, memakai seragam, berada di tengah lingkaran orang-orang yang menendanginya berulang-ulang. Anak itu memakai kacamata, hanya itu yang bisa Mingyu lihat dari balik kaki-kaki yang terus menendanginya. Mingyu merasa takut, tapi kejadian di depannya membuat hatinya tergerak. Melihat seorang anak lelaki seusianya berbaring di lantai, menerima pukulan dan tendangan mengingatkannya pada dirinya sendiri. Hanya saja kali ini, bukan ayahnya yang memukulinya, dan ibunya tidak terlibat; jadi ia bisa melawan, kan?

Dan ia melakukannya.

Mingyu berlari ke ujung jalan itu, di belakangnya teman-temannya berteriak memanggil namanya menyuruhnya kembali, tapi itu sia-sia, jadi akhirnya teman-temannya mengikutinya di belakangnya. Mingyu berlari ke kerumunan itu, langsung memukul anak terdekat yang masih menendang. Tinjunya yang melayang ke wajah anak itu, membuat teman-temannya yang lain langsung membantunya. Tunjuan pertamanya benar-benar lemah dibandingkan sekarang, tapi itu cukup berhasil, mendorong anak itu keluar dari lingkaran, memegangi hidungnya kesakitan. Anak yang lainnya mencoba menyerang Mingyu, tapi dihentikan oleh 9 temannya yang mengikuti Mingyu. Sedangkan anak yang menjadi korban pemukulan itu masih berada di tanah. Mingyu dengan cepat menarik anak itu, melingkarkan tangannya di lehernya, dan membantunya berdiri. Setelah berhasil mengeluarkan anak itu, Mingyu dan teman-temannya mulai berlari, mereka tidak tahu harus kemana, tapi mereka harus cepat berlari sebelum keempat anak-anak tadi mengejar mereka, yang berteriak bersumpah akan membalas perbuatan mereka.

Meskipun itu adalah pengalaman yang mengerikan, Mingyu dan teman-temannya berlari, dengan wajah menatap ke depan dengan senyum di wajah mereka.

Apa kebahagiaan itu karena rasa adrenalin mereka yang terpicu? Dari fase pemberontakan dalam masa pubertas mereka? Atau untuk Mingyu, apakah itu rasa bahagia yang datang karena merasa terlepas dari bayangan pria yang selalu memukulinya berulang kali?

Anak-anak itu berlari, dan berhenti untuk menoleh ke belakang ketika mereka mencapai batas Maporo dan Daebangro, lalu mereka berlari masuk ke dalam sebuah bangunan yang sudah ditinggalkan. 11 anak itu bersandar di dinding, tangan bertumpu pada lutut mereka masing-masing sambil mencoba menarik napas sedalam-dalamnya.

"Yah, kau." Soonyoung berkata, masih terengah-engah,

"Kau gila."

Ia berkata, kepada Mingyu yang masih menghela napas, dan masih membantu anak laki-laki yang berjalan pincang di sebelahnya. Mingyu menatap teman-temannya, dan memutuskan kalau saat itulah saat dimana mereka merasa seperti saudara. Maksudku, kau tidak akan secara tiba-tiba memutuskan untuk ikut berkelahi, bukan?

Ia melihat wajah teman-temannya memerah, kekurangan oksigen, kegembiraan dan adrenalin terlihat jelas, lalu ia tertawa. Mereka saling berpandangan lalu sebuah senyum muncul di wajah mereka dan mereka mulai tertawa sampai kehabisan napas lagi. Tawa itu berhenti ketika mereka mendengar suara sesuatu terjatuh, dan itu adalah anak laki-laki yang Mingyu tolong, tubuhnya terjatuh di atas lantai, tidak sadar.

Ketika anak laki-laki itu terbangun, ia melihat 10 wajah anak laki-laki mengelilinginya, 10 pasang mata yang menatapnya. Ia bangkit duduk, mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, wajahnya terlihat bingung, diantara memar dan luka-luka. Ia menatap sekelilingnya, dan anak-anak di sekitanya yang menatapnya tertarik. Lalu, ia melihat wajah yang tidak asing untuknya,

"Mingyu-ya!"

Ia berkata, dan anak-anak itu menatap Mingyu, yang sendirinya juga terkejut bagaimana bisa anak ini tahu namanya. Lalu, anak yang berbaring di atas sofa mengeluarkan senyum lebarnya, dan Mingyu ingat anak laki-laki di musim panas lalu, yang menatap bintang bersamanya dan membuat perasaannya jauh lebih tenang.

"Seokmin-ah!"

.

.

.

To Be Continued


Ini full flashback dan ngga ada meanienya sama sekali.

Ini baru chapternya mingyu, selanjutnya baru full tentang seokmin.

Kesel banget kalo udah ngetik bagian ayahnya Mingyu:( mingyuku sayang kasian:( bapaknya emang bener-bener sialan huhu

yaudah segini aja dulu, intinya mingyunya kasian dan mingyu ganteng banget di teaser al1:') teaser meanie juga:')

22nd May please come soon!

Read n Review?

Love,

seulgibear