POLAR
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#20 Reminder
Wonwoo terbangun keesokan paginya, meskipun rasanya sulit untuk membuka matanya karena air mata yang semalaman ia keluarkan sudah mengering. Ia lupa kenapa ia bisa sampai menangis, lalu perlahan-lahan ia ingat saat foto 11 anak laki-laki memenuhi kepalanya. Ketua Kelas itu juga mengingat masa lalu sulit yang dialami kekasihnya, yang mungkin masih menghantuinya hingga saat ini, dan membuatnya memulai harinya dengan air mata yang jatuh perlahan menuruni pipinya bersamaan dengan salju yang turun di luar jendelanya. Ia masih menangis ketika ibunya mengetuk pintu kamarnya dan memasuki kamarnya untuk membangunkannya. Wonwoo menatap ibunya, matanya terlihat sedih dan ia masih melanjutkan tangisannya.
"Oh, sayang..." Narin berkata sambil memeluk putranya.
"Kenapa dia bisa setegar dan sebahagia itu, Bu?" Wonwoo bertanya saat air matanya mulai berhenti mengalir, dan hanya menyisakan isakan perlahan.
"Itu karena dia masih memiliki saudara-saudaranya yang lain yang mendukungnya. Ibu yang menyayanginya, karena dia memiliki orang seperti Seokmin di sisinya. Dan juga karena dia memilikimu sekarang.", Narin menjawab.
Wonwoo tersenyum dalam pelukan ibunya,
"Kau yang terbaik, Bu."
"Hehe, tentu saja.", ibunya berkata sembari menangkup wajah Wonwoo di tangannya, dan menghapus air matanya.
"Kau benar-benar mencintainya, huh?" Narin bertanya, dan Wonwoo tersenyum semakin lebar, menganggukkan kepalanya.
"Oke, well, ayo bangun, sarapan sudah siap." Ia berkata, dan Wonwoo melepaskan selimut hangat yang menyelubungi tubuhnya.
Narin meninggalkan kamarnya dan turun menuju dapur lalu mulai membuat secangkir cokelat panas untuk Wonwoo, dan 2 kopi untuknya dan Minsung. Sementara Wonwoo bangkit dari kasurnya, tidak mau repot-repot merapikan tempat tidurnya, dan langsung menuju kamar mandi, tidak lupa membawa ponsel di saku hoodienya. Setiap kali kakinya melangkah, ia merasakan kejutan dari rasa dingin yang menjalari kakinya saat bersentuhan dengan lantai, membuatnya mempercepat langkahnya menuju kamar mandi. Ketika ia sampai di kamar mandi, ia menatap cermin dan tertawa pada dirinya sendiri melihat rambut hitam legamnya mencuat kesana-sini, dan ia sedikit mengerucutkan bibirnya ketika melihat bekas air mata yang mengering di pipinya. Ia sedang menggosok gigi ketika ia merasakan getaran dari sakunya, dan ia tersenyum tanpa perlu menatap ponselnya. Begitu ia membuka ponselya, di layar ponselnya tertera sebuah pesan dari kekasihnya.
Mingyu❤️: Selamat pagi! Terima kasih karena sudah mau menghabiskan Hari Natal denganku kemarin. Kau tahu kalau aku mencintaimu, kan? hehe
Wonwoo terkekeh melihat pesan manis yang dikirimkan Mingyu, dan mulai membalas pesannya, menggigit sikat giginya supaya ia bisa menggunakan kedua tangannya.
Wonwoo : Terima kasih untuk hari yang luar biasa kemarin... dan benarkah? Hmm, aku tidak ingat kau mengatakan hal seperti itu kemarin
Wonwoo menggodanya. Wonwoo senang mendengar Mingyu mengatakan "I love you", dan mengatakan hal seperti itu di dalam pesan juga rasanya sama menyenangkannya. Wonwoo melanjutkan acaranya menyikat gigi, menunggu Mingyu membalas pesannya, tapi tiba-tiba ia mendapat permintaan FaceTime, yang langsung ia terima tanpa memikirkan tentang penampilannya saat ini. Itu sudah jadi kebiasaan, ia bahkan tidak memastikan apakah itu memang Mingyu dan hatinya sedikit berdetak keras memikirkan kemungkinan apabila orang lain yang tiba-tiba muncul, tapi lalu ia bernapas lega ketika wajah mengantuk milik kekasihnyalah yang muncul di layar ponselnya. Sebelum Wonwoo mengatakan apapun, Mingyu berkata,
"I love you~" dengan suara yang kekanakan, dan sebuah senyum di wajahnya. Matanya masih tertutup, jadi Wonwoo beranggapan kalau Mingyu pasti baru saja bangun. Ketika Mingyu membuka matanya, ia tertawa melihat penampilan berantakan kekasihnya. Wonwoo mengerucutkan bibirnya lucu, lalu berkata,
"Yah, diaml-"
Tapi ia memuncratkan pasta gigi ke layar ponselnya, membuat suara tawa Mingyu terdengar lebih keras saat Wonwoo menggunakan lengan bajunya untuk membersihkan layar ponselnya.
"Jadi, kau sudah mendengarku dengan jelas dan keras, kan?" Mingyu berkata, setelah menenangkan dirinya, meskipun masih terdengar sedikit tawa dari suaranya.
"I love you, too~" Wonwoo tersenyum, tersenyum masih dengan pasta gigi di mulutnya, membuat Mingyu sekali lagi tertawa.
Awal yang indah untuk memulai hari. Ketika kau sedang jatuh cinta, pesan ucapan selamat pagi jadi terasa lebih spesial, dan bisa membuat suasana hatimu baik seharian, tepat seperti yang Mingyu lakukan. Natal sudah lewat dan sebentar lagi Tahun Baru. Pasangan itu setuju kalau mereka akan menghabiskan Tahun Baru mereka bersama keluarga masing-masing, karena mereka sudah menghabiskan waktu bersama saat hari Natal, tapi mereka berjanji untuk saling menghubungi, berkirim pesan, FaceTime, dan bertemu selama sisa liburan musim dingin mereka. Mereka menghabiskan waktu bersama tanpa terganggu oleh kelas, menghabiskan waktu di markas bersama teman-temannya -yang kini sudah membuat Wonwoo nyaman-.
Suatu hari, Mingyu sedang berada di markas mereka bersama beberapa temannya, dan Wonwoo memutuskan untuk membuat kejutan untuknya, hanya untuk bersenang-senang. Wonwoo berhasil memasuki markas dengan diam-diam, dan baru saja akan berlari menuju ujung dinding yang menghubungkannya dengan ruangan utama, ketika ia menyadari percakapan yang sedang berlangsung.
"Jadi, ya, aku memberitahunya tentang Seokmin...", itu adalah suara kekasihnya.
"Bagaimana dia menerimanya?" Seungcheol bertanya, hati-hati. Mingyu terkekeh kecil,
"Apa maksudmu dengan bagaimana dia menerimanya? Kau membuatnya terdengar seperti aku baru saja memberitahunya bahwa kami harus putus."
Wonwoo memasang sedikit ekspresi ketakutan memikirkan kalau sampai hal itu terjadi.
"Dia menangis, dan terus meminta maaf, ketika itu bukan salahnya sama sekali... Melihatnya seperti itu membuatku benar-benar ingin menjaganya." Mingyu melanjutkan.
"Mingyu-hyung..." Lee Chan memulai, membuat semua orang di ruangan itu menatapnya.
"Wonwoo-hyung, atau Seokmin-hyung?"
Wonwoo berhenti bernapas sesaat setelah mendengar pertanyaan itu, perbandingan. Seungcheol langsung melemparkan bantal kepada maknae grup mereka itu, menyampaikan pesan bahwa apa yang baru saja ia katakan adalah kesalahan. Bukan hanya Mingyu, tapi semua mata orang yang berada di sana melebar dan Lee Chan menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Beberapa saat dalam keheningan yang terasa seperti selamanya membuat pikiran Wonwoo dipenuhi dengan berbagai pikiran yang membuatnya cemas dan khawatir. Rasanya sulit dibandingkan dengan cinta pertama kekasihmu sendiri. Dari ceritanya saja, ia bisa langsung tahu kalau Mingyu dan Seokmin benar-benar dekat, dan bahkan seluruh teman-temannya menyukainya. Tapi bagaimana dengannya? Ia baru benar-benar mengenal Mingyu selama 5 bulan terakhir? Sedangkan Mingyu dan Seokmin sudah berteman selama bertahun-tahun. Ketua Kelas itu mulai mempersiapkan diri untuk jawaban dari kekasihnya yang mungkin bukan namanya. Ia bermaksud menutupi telinganya, atau masuk ke dalam sebelum Mingyu bisa menjawabnya, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan ia hanya diam disana, mendengarkan apapun jawaban Mingyu. Anak-anak di dalam ruangan itu terdiam, menunggu jawaban ketua mereka.
"Tentu saja," Mingyu memulai, dan Wonwoo sekali lagi menahan napasnya, mempersiapkan dirinya untuk jawaban yang mungkin tidak sesuai dengan harapannya.
"Wonwoo.", ia melanjutkan, suaranya terdengar percaya diri, tidak menunjukkan tanda-tanda keraguan, atau gugup.
Wonwoo merasa kalau pipinya memerah, membuatnya memarahi dirinya sendiri dalam hati. Mingyu adalah kekasihnya, tapi ia masih bisa merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya hanya dengan kalimatnya, perbuatannya, atau bahkan hanya dengan kehadirannya.
"Jangan salah sangka, Seokmin masih sangat penting untukku, dan aku pikir aku tidak akan pernah bisa melupakannya..." ia menjelaskan, dan teman-temannya mendengarkan.
"Tapi, dia sudah tidak di sini lagi." Mingyu mengingatkan.
"Mingyu-ya.." Jeonghan berkata dan bahkan Wonwoo bisa mendengar sedikit kesedihan di suaranya.
"Aku menghargai dan mengenang kenangan dengan Seokmin, dan aku yakin kalian juga begitu," Mingyu berkata, dan semua teman-temannya bergumam setuju.
"Tapi itu masa lalu, dan kita tidak hidup di masa lalu. Kita hidup saat ini, di sini, dan saat ini, orang yang aku cintai dan membuatku bahagia adalah Wonwoo. Semuanya sesederhana itu. Kebahagiaanku saat ini, dan orang yang aku cintai adalah Wonwoo." Ia menjawab.
Keheningan sekali lagi menyelimuti ruangan itu, Wonwoo memegangi dadanya dan air mata mengalir di kedua pipinya, tapi tidak yakin apakah itu tangisan bahagia. Tiba-tiba, Seungcheol berdiri dari duduknya dan mengunci leher Lee Chan oleh tangannya,
"Lain kali~", ia berkata sambil mengacak rambut Chan, "jangan bertanya hal bodoh seperti itu lagi."
Ketegangan itu pecah dan semua anak disitu tertawa, dan Chan memukul lengan Seungcheol yang berada di lehernya.
"Oke, hyung! Oke!" ia berkata masih mencoba melepaskan diri dari Seungcheol.
Wonwoo memutuskan kalau saat ini adalah saat yang tepat untuk masuk. Ia lalu di sapa oleh teman-teman dan kekasihnya. Wonwoo duduk di sebelah Mingyu yang langsung melingkarkan tangannya di pinggangnya, dan menariknya mendekat. Wonwoo tiba-tiba mengecup bibir kekasihnya cepat, dan berkata,
"I love you", dan tersenyum sambil memikirkan jawaban kekasihnya atas pertanyaan bodoh Lee Chan tadi.
.
Sisa liburan musim dingin terlalui dengan cepat, dan sebentar lagi mereka akan kembali masuk sekolah. Pada hari pertama sekolah, seluruh kelas kelelahan dan belum berfungsi dengan benar, semua orang masih berada dalam mode liburan, bahkan Ketua Kelas mereka sulit terjaga saat pelajaran Sejarah berlangsung. Saat ini memasuki bulan Januari, dan segalanya berjalan lancar. Mingyu masuk sekolah dengan rajin, dan dengan cepat bisa mengejar ketertinggalan nilainya, membuatnya menempati peringkat ke-4, Minghao selalu berada di atasnya dan mereka berdua selalu bertengkar akan hal itu. Tentu saja, Top 2 ditempati oleh Jun dan Wonwoo, tapi sebenarnya mereka berdua bangga dengan prestasi kekasih mereka masing-masing. Dengan kelasnya yang berjalan lancar dan baik-baik saja, Wonwoo hampir lupa kalau ia sedang berkencan dengan salah seorang berandalan sekolah, sampai suatu hari Mingyu dan Minghao tidak muncul pada pelajaran pertama. Itu aneh, jadi Jun dan Wonwoo mengetikkan pesan untuk kekasih mereka, dan keduanya sama-sama tidak mendapatkan balasan apapun. Saat memasuki pertengahan pelajaran ke-2, ketika pintu kelas mereka terbuka, sedikit keras, memperlihatkan kedua anak laki-laki yang membungkukkan badan mereka hormat pada guru mereka. Wonwoo menyadari luka baru dan darah di wajah dan tangan Mingyu,
"Sayang, apa yang-"
"Tidak sekarang, Wonwoo." Mingyu berbisik, nada tegas sedikit terdengar dari suaranya.
Wonwoo sedikit terkejut, dan untuk beberapa alasan, ia merasa tersinggung. Sudah lama sejak terakhir kali Mingyu memanggilnya "Wonwoo", biasanya ia akan memanggilnya 'sayang', 'baby' atau nama panggilan cheesy lainnya yang akan membuatnya geli, tapi sekarang saat Mingyu hanya memanggilnya dengan namanya, ia berharap semua panggilan menggelikan itu kembali. Jun yang juga khawatir pada Minghao hanya mendapat jawaban kalau mereka akan berbicara saat jam makan siang, sedangkan Wonwoo sama sekali tidak tahu apakah Mingyu akan menceritakannya padanya nanti atau tidak.
Pelajaran kedua berakhir, tapi kali ini Mingyu sama sekali tidak mencatat, ia hanya mencorat-coret buku tulisnya sambil menggoyangkan kakinya ke atas dan kebawah, hampir tidak sabaran. Ketika jam istirahat berbunyi, Mingyu berdiri dari kursinya, mengambil ponsel di sakunya dan berjalan keluar kelas untuk mengangkat, yang menurut pengamatan Wonwoo, telpon penting di koridor. Minghao langsung menyusul di belakangnya, setelah sebelumnya meyakinkan Jun.
Sedangkan di koridor, Mingyu sedang berbicara dengan Seungcheol di ujung ponselnya,
"Ya, mereka ada di sana tadi pagi... Aku dan Minghao sudah mengurusnya, tapi aku tidak tahu apakah mereka akan kembali... Yah, agak sedikit sulit ketika kami harus melwana 8 orang, oke? Ditambah, sudah lama sejak terakhir kali kami berkelahi." Minghao hanya mendengar jawaban Mingyu tapi ia tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Tadi pagi, Mingyu dan Minghao berada di markas mereka, berjanji untuk berangkat ke sekolah bersama, tapi rencana itu dikacaukan ketika Sungwon datang untuk 'berkunjung'. Tentu saja kunjungan itu menghasilkan beberapa tinju melayang di sana-sini, tapi untungnya Sungwon hanya membawa beberapa teman-temannya, jadi Mingyu dan Minghao masih bisa untuk mengalahkan beberapa dari mereka, dan berhasil melarikan diri dengan sedikit luka di tubuh mereka. Setelah berurusan secara fisik dengan mereka, mereka memutuskan untuk bicara, lebih kepada mengancam mereka dan menantang mereka untuk kembali ke markas ini, karena lain kali tidak hanya akan ada mereka berdua. Setelah panggilan tersebut, Minghao memutuskan untuk menegur Mingyu atas sikapnya pada Wonwoo,
"Yah, Wonwoo khawatir, kau tahu."
"Dia tidak perlu tahu, dan kalaupun dia tahu kita berkelahi, itu hanya akan membuatnya semakin khawatir,"
"Memangnya dia tidak tahu saat melihat luka dan memar kita, huh?" Minghao berkata, sambil mengangkat tangannya yang buku-buku jarinya memerah.
"Dia kekasihmu, Mingyu-ya." Minghao mengingatkan karena tingkahnya terlihat seperti ia lupa siapa Wonwoo untuknya.
"Tentu saja dia akan khawatir, tapi dia akan lebih khawatir kalau dia tetap tidak tahu apapun tentang situasinya."
"Kau tahu aku tidak ingin menyeretnya ke dalam masalah ini, ke dalam dunia kita, masa lalu kita, perkelahian kita, karena dia tidak ada hubungannya dengan mereka." yang lebih tinggi berargumen,
"Bukan berarti kau harus memaksanya untuk ikut berkelahi, atau diam di markas kita, hanya saja katakan sesuatu padanya!" Minghao mulai merasa kesal.
"Aku juga tidak memaksa Seokmin untuk tinggal bersama kita, dan lihat apa yang terjadi!" Mingyu berteriak.
Keheningan mengambil alih, Mingyu menggigit bibirnya, dan mengalihkan pandangannya sedangkan Minghao menatap lantai di bawahnya. Minghao tahu kehilangan Seokmin membuat Mingyu sangat terpukul, membutuhkan waktu cukup lama bagi ketua mereka itu untuk menerima kepergian Seokmin. Minghao juga tahu kalau alasan Mingyu mengigit bibirnya saat ini adalah untuk mencegah supaya air matanya tidak mengalir, jadi ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kemarahannya. Ia menghela napas dan menenangkan diri sebelum hendak mengatakan sesuatu, ketika mereka berdua menyadari Wonwoo berdiri di dekat pintu kelas mereka,
"Mingyu-ya...", suara beratnya berkata, dan Minghao melirik Mingyu tajam, matanya berkata 'Kalau kau tidak memberitahunya sesuatu, aku yang akan melakukannya. Ini bukan masalah besar, beri Wonwoo sedikit kejelasan, jangan biarkan Wonwoo dalam kegelapan dan tidak mengetahui apapun.'
Minghao lalu meninggalkan pasangan itu sendirian, setelah sebelumnya menepuk punggung Mingyu karena ia tahu kalau perkataannya sebelumnya mungkin lumayan mengguncang Mingyu. Wonwoo perlahan berjalan mendekat setelah Minghao memasuki kelas,
"A-apa kau baik-baik saja?", ia bertanya hati-hati. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali ia bicara terbata saat sedang berkomunikasi dengan Mingyu. Tapi sekali lagi, ini juga pertama kalinya setelah sekian lama ia melihat sisi gelap Mingyu.
Mingyu menatap kekasihnya, dan hanya mengangguk, berkata pelan,
"Ya."
Wonwoo tersenyum,
"Oke! Itu bagus," lalu ia mulai berjalan kembali ke kelas,
"Tunggu, kau tidak mau tahu apa yang terjadi?" Mingyu bertanya, sedikit terkejut melihat perilaku kekasihnya.
Wonwoo, masih tersenyum, berbalik dan berkata,
"Jika kau mau aku tahu, kau akan mengatakannya padaku, kan? Kalaupun tidak, selama kau baik-baik saja, aku tidak apa-apa."
Tepat saat itu, Mingyu mungkin jatuh cinta padanya sekali lagi. Mingyu seakan diingatkan betapa luar biasanya kekasihnya sekarang, dan dengan cepat ia menarik pergelangan tangan Wonwoo, membuatnya berputar dan Mingyu menciumnya, memegang dagunya lembut. Ketika ciuman mereka usai, bel berbunyi, jadi Mingyu mengedipkan sebelah matanya dan berkata,
"Ayo bicara saat jam makan siang," lalu masuk ke dalam kelas.
Wonwoo tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat ia mengikuti kekasihnya, dan duduk di samping kekasihnya.
.
Saat jam makan siang, Mingyu menjelaskan apa yang terjadi pada Wonwoo yang duduk di pangkuannya, sambil melingkarkan tangannya di pinggang Wonwoo dan Wonwoo yang bersandar pada dada Mingyu. Mereka duduk di tangga yang menuju atap,
"Yah! Kenapa kau bersikap seolah-olah itu hal yang besar? Kau menakutiku," Wonwoo memarahi Mingyu ketika ia tahu apa yang terjadi tadi pagi.
"Maafkan aku~~ Aku hanya tidak tahu apakah mereka akan kembali lagi atau tidak... Plus aku tidak mau menyeretmu ke dalam masalah ini," Mingyu berkata, menyandarkan dagunya di antaran leher dan bahu Wonwoo, Ketua Kelas itu sedikit berjengit ketika Mingyu mencium kecil lehernya.
"Well, sayang sekali, aku sudah terlanjur berkencan denganmu, jadi itu berarti aku berurusan dengan siapa kau saat ini, bagaimana masa lalumu, dan apapun yang akan terjadi di masa depan. Itu termasuk sisi gelap dalam hidupmu, karena aku mencintaimu apa adanya." Wonwoo membalas, menyilangkan tangannya di depan dadanya dengan manis.
Mingyu menatap kosong ke arah sepatu mereka, terpesona akan kalimat kekasihnya. Ia sampai berpikir kalau ia bisa saja menangis saat ini karena bahagia, dan ia tidak memerlukan tisu, hanya dekapan kekasihnya. Tapi, ia tidak menangis, ia malah menggelitiki Wonwoo dan meniup-niup leher kekasihnya dan berkata,
"Yah~ Sejak kapan kekasihku jadi cheesy, huh?"
Wonwoo tidak bisa menjawab karena ia sedang sibuk tertawa dan meminta Mingyu untuk berhenti menggelitikinya, itu adalah kelemahan utamanya. Terlebih jika itu adalah bagian lehernya, jadi meskipun ia tertawa, ini seperti sebuah siksaan untuknya, dan Mingyu terus menggelitikinya, menikmati pemandangan kekasihnya yang bergerak kesana kemari dan tertawa melihat Wonwoo mencoba melepasan diri. Mingyu akhirya berhenti menggelitiki kekasihnya ketika air mata mulai mengalir di wajah Wonwoo yang memerah karena kekurangan oksigen. Begitu ia berhenti, Wonwoo yang masih berada di antara kedua kakinya berbalik dan memukul dadanya,
"Aish! Aku membencimu~", ia mulai merapikan seragamnya, tahu sebentar lagi bel akan berbunyi,
"Kenapa kau tidak mendengarku ketika aku menyutuhmu untuk berhenti~", ia merengek begitu ia berdiri dari posisinya dan berjalan menjauh.
Mingyu tiba-tiba menarik pergelangan tangan Wonwoo, membuatnya berputar dan menekan punggungnya menuju tembok, mengukungnya dengan kedua tangannya di samping wajah Wonwoo yang sedikit terkejut. Ia membawa wajahnya mendekat pada wajah kekasihnya, lalu tersenyum miring,
"Maafkan aku, tapi sepertinya kau lupa kalau kau sedang berkencan dengan seseorang yang tidak begitu menyukai mendengarkan... atau mengikuti perintah." Mingyu berkata, suaranya rendah dan mengintimidasi.
Wonwoo hanya menatap kekasihnya dalam diam, dan Mingyu tersenyum sekali lagi, sedikit tertawa,
"See, itu bahkan selalu berhasil saat aku berada di jalanan," ia berkata, lalu mengedipkan sebelah matanya dan berjalan menuruni tangga untuk pergi kembali ke kelasnya.
Ketua Kelas itu berdiri disana, lalu memproses perkataan kekasihnya,
"Yah! Awas saja kalau kau berani melakukan hal seperti tadi pada orang lain..." ia berkata, sambil berlari kecil untuk menyusul kekasihnya.
Mingyu memutar tubuhnya, tersenyum, dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
"Kenapa~? Apa kau akan cemburu?" ia menggoda kekasihnya saat Wonwoo berada di sampingnya, dan Wonwoo menatapnya sambil tersenyum lucu,
"Nope! Aku hanya akan membalasmu!" Ia menjawab.
"Bagaimana? Jun dan Minghao sudah berkencan..." Mingyu berkata.
Wonwoo tersenyum jahil dan berkata,
"Jaesuk-ah~!" sambil mulai berlari menuruni tangga.
Mata Mingyu melebar mendengar sebuah nama yang membuatnya marah,
"Yah. Babe, yah!" Ia berteriak sambil berlari mengejar Wonwoo.
.
Untungnya, Sungwon tidak menyerang lagi setelah insiden itu, meninggalkan Mingyu dan tenang-tenangnya dengan tenang. Tapi, melihat sedikit sisi gelap Mingyu mengingatkan Jeon Wonwoo dengan siapa ia berpacaran. Ia ingat sosok tinggi, berandalan sekolah yang menyeramkan, yang hanyalah orang asing beberapa bulan lalu, dan betapa berbedanya sifat mereka berdua. Melihat luka dan memar di buku-buku jari kekasihnya mengingatkan ia pada kata-katanya sendiri waktu itu, kalau ia tidak percaya dengan ungkapan 'opposite attract
Cinta memang bekerja dengan cara yang misterius,
dan melihat sisi berandalan kekasihnya sekali lagi, mengingatkan Wonwoo tentang hal itu.
.
.
.
To Be Continued...
Oke ini super lama dan super pendek:') tadinya mau update abis lebaran eh tapi kerjaan sedang numpuk-numpuknya setelah ditinggal libur lebaran:(( maafkan HE HE
Btw, ada yang nonton DE in JKT? kalo ada see you!;)
Read n Review?
Love,
seulgibear
