POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#21 February 14th


Segalanya berjalan lancar bagi kedua pasangan itu, termasuk dalam hal pelajaran. Sebentar lagi, Januari berganti menjadi Februari. Salju yang menutupi bumi seperti lautan salju kini mulai mencair, meskipun udaranya masih dingin. Rerumputan masih dilapisi lapisan tipis salju saat kedua pasangan itu berjalan pulang. Kedua pasangan itu saling bergandengan tangan, masing-masing memiliki obrolannya sendiri.

"Kau tahu sebentar lagi hari apa, kan?" Junhui bertanya, dan Minghao menatap langit di atasnya dengan wajah berpikir.

"Hmm... Tidak, ulangtahunmu bulan Juni jadi tidak mungkin itu.."

"Bukan itu~, bulan ini."

"Februari... Februari... Apa ada sesuatu yang penting bulan ini?"

Jun menatap kekasihnya, mendengus, lalu mencoba berjalan menjauh sebelum Minghao menarik lengannya,

"Tunggu~! Petunjuk, beri aku petunjuk!" ia memohon.

"Tanggal 14!" Jun berkata.

Minghao menatap Jun sedikit bingung,

"Ah! Hari Valentine~" Minghao akhirnya sadar, lalu tertawa.

Jun memutar bola matanya. Mereka kembali bergandengan tangan dan tertawa bersama sambil terus berjalan. Tidak sengaja mendengar percakapan pasangan di belakangnya, Wonwoo mendengar kata 'Hari Valentine', dan bola matanya melebar. Mingyu sedang mendengarkan musik, jadi Wonwoo berpikir kalau ia tidak mendengar percakapan pasangan di belakangnya. Wonwoo memikirkan hari Natal mereka yang lalu, dan bahkan semua kencan mereka, dan ia menyadari kalau selama ini, Mingyulah yang merencanakan dan menjalankan semua kencan mereka, memastikan Wonwoo bersenang-senang, jadi ia berpikir kalau ini saatnya untuk melakukan sesuatu untuk kekasih tingginya. Meskipun ia adalah anak yang rapi di kelas, tapi ia tidak yakin harus melakukan apa agar hari Valentine mereka terasa lebih spesial. Semakin ia memikirkan hal itu, Wonwoo semakin berpikir kalau Mingyu luar biasa karena bisa merencanakan dan bahkan melaksanakan rencananya. Ia menatap kekasihnya penuh rasa kagum dan tatapan penuh cinta. Mingyu menyadari hal itu dan menatap kekasihnya, membuat kontak mata dan melepas sebelah headsetnya.

"Hm? Ada apa?" Ia bertanya.

Wonwoo tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya pelan,

"Tidak ada. Kau sedang mendengarkan apa?"

Bukannya menjawab, Mingyu melepas headsetnya dan memasangkannya di telinga Wonwoo lalu setelahnya ia mencium hidung Wonwoo yang memerah karena udara dingin. Wonwoo tersenyum, dan mendengarkan, menyandarkan kepalanya di bahu Mingyu sambil terus berjalan. Melalui headset di telinganya, Wonwoo mendengar suara piano yang lembut mengalun, bersamaan dengan suara lembut seorang wanita

Until the stars all fall down

They empty from the sky

But I don't mind, if you're with me

Then everything's alright.

Wonwoo sedikit terkejut mendengar lagu yang didengarkan oleh kekasihnya, tapi lagu itu sangat indah.

"Lagu ini sangat indah," Wonwoo berkata.

Mingyu terus menatap lurus ke depan dan berkata,

"Ya, memang."

Wonwoo melihat senyum sedih muncul di wajah Mingyu, dan ia dengan bijak memilih untuk tidak bertanya. Pasangan itu terus berjalan, dan Wonwoo memutuskan untuk mulai merencanakan Hari Valentine mereka.

"Sayang, apa yang akan kau lakukan tanggal 14 nanti?"

"Hmm? Tanggal 14?"

"Hari Valentine, apa yang akan kau lakukan pada Hari Valentine?"

"Ohh...", yang lebih tinggi berkeata setelah diingatkan,

"Kau?" Mingyu menggoda, dan Wonwoo memukul lengan Mingyu, keras.

"Aku hanya bercanda~" ia berkata, memeluk Mingyu yang memasang wajah sebal dan mencoba berjalan duluan.

"Apa yang akan kau lakukan hari itu, babe?" Mingyu berkata, benar-benar serius bertanya.

"Tidak~, aku yang bertanya duluan." Wonwoo merengek, "Aku ingin merencanakannya kali ini, dan mengajakmu berkeliling, membuatmu bahagia."

Mingyu tersenyum lembut mendengar kalimat kekasihnya,

"Kalau begitu, buat aku terkejut."

"Membuatmu terkejut? Apa- Tidak! Bagaimana aku bisa tahu apa yang kau inginkan, dan apa yang kau sukai?"

"Yah, apa aku bertanya padamu apa yang kau inginkan saat Hari Natal?"

Wonwoo menjawab dengan gelengan kepala, dan Mingyu tersenyum dalam pelukan mereka.

"Well, aku menyukaimu. Jadi, apapun yang kau lakukan atau rencanakan sudah cukup untukku."

"Oke! Kalau begitu, aku yang akan semuanya, setuju?" Wonwoo berkata,

"Yah, siapa bilang kalau jadwalku kosong pada hari itu?"

"Excuse me, tapi apa lagi yang akan kau lakukan pada hari itu, atau dengan siapa kau punya rencana pada hari Valentine?" Wonwoo bertanya,

"Hm, well dia mengajakku bertemu di tempat karaoke bar, lalu pria yang lainnya mengajakku untuk pergi ke hotel-"

Wonwoo melepaskan pelukan mereka kali ini, mempercepat jalannya sebelum Mingyu menghentikannya sekali lagi,

"Hanya bercanda~"

"Sayang, aku ingin hari Valentine ini jadi spesial dan kau menganggapnya seperti lelucon." Wonwoo berkata, serius.

"Ini karena setiap hari bersamamu sudah terasa spesial!" Mingyu berkata sambil menumpukan dagunya di kepala Wonwoo.

"Oke, oke. Maafkan aku, kita pasti akan menghabiskan tanggal 14 bersama." Mingyu mengecup pipi Wonwoo dengan manis.

"Oke, sayang?" nafasnya membuat pipi Wonwoo menghangat, membuat wajahnya sedikit memerah.

Sementara, Jun dan Minghao juga sedang merencanakan hari Valentine mereka. Mereka memutuskan untuk merayakan hari Valentine di rumah, keduanya setuju dan merasa lebih baik tinggal di dalam rumah, dan bersantai daripada harus berdandan rapi dan makan di restoran yang bahkan tidak memberikan porsi makanan yang cukup.

"Apa kau yakin itu yang ingin kau lakukan?" Jun bertanya, tidak yakin kalau Minghao akan puas hanya dengan rencana yang sudah mereka bicarakan.

"Apa aku terlihat seperti seseorang yang lebih menyukai memakai jas dan berpura-pura menikmati makanan yang harganya kelewat mahal? Minghao menjawab sambil terkekeh.

"Tidak, tapi aku yakin kau akan terlihat bagus memakai jas." Jun membalas, sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Tidak, aku terlihat lebih bagus saat tidak memakai apapun," Minghao merespon sambil tersenyum jahil.

Jun memasang wajah jijik, lalu tertawa bersama dengan Minghao.

.

Sayang sekali karena Hari Valentine tidak jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, tapi Jum'at rasanya sudah cukup. Pada Kamis malam, Wonwoo menghabiskan setengah dari sorenya untuk mengerjakan semua tugas-tugasnya, dan setengahnya lagi dengan berkutat di dapur bersama ibunya.

"Honey, apa kau melihat bubuk cokelat?" Narin bertanya sambil mencari di lemari.

"Apa? Tidak bu, aku tidak pernah memasak, jadi-" Wonwoo menjawab sambil mengeluarkan mangkuk kaca besar dari buffet di bawah tempat mencuci piring.

"Ah! Ketemu!" Narin berkata sambil membawa sekantung bubuk cokelat.

"Okaey, jadi resep apa yang akan kita gunakan?" Ia bertanya pada Wonwoo yang sedang memainkan spatula dan kocokan telur di tangannya,

"Aku pikir ibu punya resep?" Wonwoo menjawab.

"Oh, benar benar. Apa Mingyu punya alergi terhadap sesuatu?"

Wonwoo menghentikan kegiatannya dan berpikir, lalu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari saku hoodienya.

Wonwoo : Sayang, apa kau punya alergi terhadap sesuatu?

Ia mengirimkan pesan itu langsung pada kekasihnya, hanya untuk memastikan kalau hadiah Hari Valentine darinya tidak akan menjadi yang terakhir untuk Mingyu.

Mingyu : Ya, berada jauh darimu

Mingyu membalas disertai dengan emoji cium,

Wonwoo : Kau benar-benar norak. Tapi, serius, apa kau punya alergi?

Mingyu : Lol, you love me. Tidak, aku tidak punya alergi, kenapa?

Wonwoo : Tidak ada! Ttyl, selamat malam, sampai bertemu besok babe!

Wonwoo dengan cepat mematikan ponselnya sebelum ia melanjutkan obrolannya dengan kekasihnya. Setelah memastikan kalau kekasihnya tidak akan kenapa-napa dengan bahan-bahan yang akan mereka gunakan, ia kembali menyimpan ponselnya di saku hoodienya dan kembali memperhatikan ibunya,

"Jadi, apa dia punya alergi?" Narin bertanya sekali lagi setelah melihat Wonwoo menaruh kembali ponselnya dengan senyuman di wajahnya,

"Tidak ada! Kita bisa melanjutkannya."

Wonwoo mulai mencari dan memilih bahan-bahan yang tersebar di seluruh permukaan meja, sebuah senyum manis mengembang di wajahnya saat ia memikirkan tentang cokelat dan kue yang akan ia buat dan akan ia berikan pada seseorang yang spesial besok. Narin tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah putranya,

"Sayang, kau sangat mencintainya, ya?"

"Ibu, ibu sudah bertanya tentang hal ini padaku, dan jawabanku masih sama." Wonwoo menjawab, tersenyum pada ibunya.

"Oke! Ayo kita mulai memasak, ini sudah hampir jam 10," Narin berkata sambil menggulung lengan bajunya dan berdiri di sebelah Wonwoo yang memasang wajah semangat.

Wonwoo tidak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi tahun ini untuk Hari Valentine, ia memutuskan untuk membuat kue dan cokelat untuk diberikan pada kekasihnya besok. Ia tidak terlalu ahli dalam hal membuat kue, tapi sekali lagi ia memang tidak pernah mencobanya, jadi ia tidak memiliki pengalaman. Jadi, ia berusaha keras malam ini untuk membuat kue itu seenak mungkin. Sayangnya, Wonwoo sedikit ceroboh sehingga tangannya teriris pisau beberapa kali, dan tangannya terbakar saat mencoba mengeluarkan kue dari ovennya. Narin ada di sana, hanya mendampingi, Wonwoo mengatakan padanya kalau ia ingin melakukan segala sesuatunya sendiri sehingga hadiah ini jadi hadiah yang benar-benar berarti untuknya.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi saat Wonwoo selesai memasak dan membereskan dapur, dan Narin sudah naik ke kamarnya, karena ibunya harus bekerja esok hari. Wonwoo menatap kantung makanan buatannya dan tersenyum, menaruhnya di kulkas semalaman, dan akhirnya berjalan menuju kamarnya. Setelah mandi, ia memasangkan plester pada luka-luka di tangannya, dan pergi tidur.

Karena ia baru tertidur pukul 2 malam, Wontoo tidak terbangun saat alarmnya berbunyi dan tidak masuk sekolah sampai jam makan siang. Ketika ia akhirnya terbangun, ia disapa oleh pesan selamat pagi dari Mingyu, pada dasarnya mengucapkan "Selamat Hari Valentine", dan separagraf penuh berisi tentang betapa pria tinggi itu mencintainya. Ia bangun dari tidurnya, dan mulai panik, karena ia sudah melewatkan setengah hari, untungnya acaranya dan Mingyu akan berjalan sepulang sekolah,dan satu-satunya yang akan ia lakukan di sekolah adalah memberikan hadiah kecilnya untuk Mingyu. Sebenarnya Wonwoo masih merasa sedikit kesal ketika ia terbangun dan mendapati rumahnya kosong, sampai ia mengirim pesan pada ibunya dan bertanya kenapa ibunya tidak membangunkannya. Ibunya menjawab kalau ia, juga, terlambat bangun untuk bekerja, dan melihat lampu kamar Wonwoo yang mati, ia berpikir kalau Wonwoo sudah berangkat ke sekolah. Wonwoo berangkat ke sekolah tepat pada jam makan siang. Ketika ia sampai, ia bertemu dengan Jun yang mengatakan kalau Mingyu bertanya tentangnya. Wonwoo menemukan Mingyu di tangga dekat kantin. Wonwoo menggenggam kantung hadiahnya di tangannya dan berjalan menuju tangga, dengan langkah yang ringan. Sebelum ia berbelok, ia bisa melihat 2 bayangan dan suara seorang gadis yang berkata,

"Mingyu-ya, Happy Valentine's Day"

Wonwoo bisa melihat dari bayangannya kalau gadis itu mengulurkan lengannya ke arah kekasihnya, menawarkan hadiah atau semacamnya. Wonwoo memilih untuk mengintip dari tempatnya berdiri saat ini, untuk melihat seorang gadis cantik memberikan Mingyu sekotak cokelat mahal. Ketua Kelas itu langsung menatap kantung makanan di tangannya. Cokelat dan kuenya tidak terlihat sempurna, miliknya terlihat jelas seperti buatan rumah dan dibuat dengan penuh cinta. Tapi, dari segi penampilan, cokelatnya tidak bisa dibandingkan dengan buatan profesional, di dalam kotak mahal yang mungkin punya rasa yang luar biasa. Sinar di wajah Wonwoo mulai meredup, berpikir kalau Mingyu menerima kotak itu, maka Mingyu akan sedikit kecewa ketika ia menerima hadiah dari Wonwoo. Lalu, ia mendengar kekasihnya berkata,

"Ah, terima kasih, tapi aku tidak bisa menerima ini."

"Eh~? Kenapa tidak? Ini hari Valentine, dan Wonwoo bahkan tidak ada disini. Ayolah, kumohon?" gadis itu membalas, membuat Wonwoo sedikit kesal.

"Aku alergi cokelat, jadi menerima ini hanya akan membuat cokelatnya terbuang percuma. Berikan saja ini pada orang lain!"

Mingyu berkata sambil berjalan menjauh, dan berbelok menuju tempat Wonwoo berdiri. Panik, Wonwoo mencoba berlari supaya ia tidak ketahuan sedang menguping, tapi tidak terlalu jauh ketika ia mendengar Mingyu menggerutu,

"Itu adalah kebohongan keempat yang kukatakan hari ini, dimana sebenarnya Wonwoo."

Pasangan itu saling bertatapan, dan dengan cepat sebuah senyum lebar merebak di wajah Mingyu,

"Wonwoo-ya!" ia berkata, dan sebelum Wonwoo bereaksi Mingyu sudah menariknya ke dalam pelukan, dan mengecup bibirnya. Melihat Mingyu yang kelewat bersemangat membuat mereka terlihat seperti pasangan yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, dan itu membuat Wonwoo terkejut. Setelah melepaskan pelukan mereka, Mingyu dengan cepat menarik lengan Wonwoo dan mulai berlari, setengah berbisik,

"Ayo! Dia bisa melihat kita" ia berkata, merujuk pada gadis yang baru saja ia bohongi dan tolak.

Sambil berlari, Wonwoo berkata,

"Aku pikir kau tidak punya alergi terhadap apapun,"

Mingyu, yang berada di depannya, masih menggenggam tangan Wonwoo, berbalik dan memasang senyum kekanakan,

"Memang tidak"

Wonwoo membalas senyuman kekasihnya dan terus berlari di sepanjang koridor, memegang kantung hadiahnya dengan perasaan bahagia. Pasangan itu berhasil melalui koridor dan berhenti di sebuah tangga kosong untuk mengambil napas. Ketika jantung mereka sudah berhenti berdetak cepat dan berhasil meredakan napas mereka yang terengah-engah, Mingyu mulai berbicara, memasukkan tangannya ke dalam sakunya.

"Happy Valentine's Day, sayang" ia berkata, mendekat ke arah Wonwoo. Wajah mereka semakin dekat, dan dengan cepat kedua bibir itu bertemu, menyalurkan perasaan mereka masing-masing.

"Happy Valentine's Day" Wonwoo berkata, tersenyum dalam ciuman mereka, dan membuat senyuman Mingyu semakin melebar.

"Yah! Kemana saja kau?" Mingyu berkata setelah menarik wajahnya

"Aku ketiduran! Aku tidur larut sekali tadi malam, membuat-"

"Membuatkan itu untukku?" Mingyu berkata dengan senyuman lucu di wajahnya sambil menunjuk kantung yang sedari tadi di genggam Wonwoo erat-erat.

Wonwoo cemberut dan mengalihkan pandangannya,

"T-tidak, aku hanya tidak bisa tidur."

"Kau tahu, setelah berkencan denganmu selama 4 bulan, kau masih bisa membuat perutku seakan di penuhi kupu-kupu. Kau benar-benar menggemaskan," Mingyu mengerutkan hidungnya lucu, mencoba menahan diri untuk mencubit Wonwoo yang menurutnya menggemaskan.

"B-berhenti bertingkah seperti itu!" Wonwoo berkata sambil mencoba menutupi wajahnya yang benar-benar memerah dengan kantung hadiahnya.

Mingyu mundur satu langkah, tangannya masih berada di dalam saku celananya, ia menatap Wonwoo dengan sebuah senyuman di wajahnya.

"Ini," Wonwoo berkata, mengulurkan lengannya untuk memberikan kantung yang sedari tadi ia pegang, tapi sebelum Mingyu menerimanya, Mingyu menyadari plester yang ada di tangan Wonwoo, dan ia dengan cepat menggulung lengan baju Wonwoo ke atas, melihat luka di tangan kekasihnya. Wonwoo menatap kekasihnya yang terlihat khawatir dan dengan lembut membalikkan tangannya, melihat berbagai goresan luka dan luka bakar kecil. Mingyu menggenggam tangan Wonwoo dan mengecupnya, membuat Wonwoo memerah sekali lagi,

"Itu bukan apa-apa, aku hanya ceroboh saat memasak." Wonwoo meyakinkan.

Mingyu terus menggenggam lengan seputih susu milik Wonwoo yang sekarang dihiasi beberapa luka, dan Mingyu berkata,

"Seharusnya hanya aku yang memiliki luka seperti ini di tanganku... aku yang berandalan disini, kau ingat?"

"Aku terluka saat memasak," Wonwoo berkata, lalu tersenyum mendengar kata-kata kekasihnya.

Mingyu juga tersenyum, dan akhirnya menerima kantung yang berisi hadiahnya. Kantung itu dihiasi oleh sebuah pita merah dengan sebuah kartu menggantung yang bertuliskan

Untuk: Kim Mingyu

Dari: Kekasihmu yang luar biasa

Mingyu tertawa melihat tulisan di atas kartu itu, dan Wonwoo tersenyum melihat reaksi kekasihnya. Mingyu lalu melepas ikatan pita itu dengan hati-hati, membuka kantung itu dan melihat isinya. Di dalamnya ada cokelat berbentuk bintang, dan yang lainnya berbentuk hati. Ada juga beberapa kue gula yang di atasnya dihiasi tulisan dari cokelat di atasnya. Di atas kuenya terdapat pesan-pesan kecil seperti "I love you, Kim Mingyu!" atau, "Terima kasih untuk jaketmu", dan yang paling Mingyu sukai, "Aku akan selalu ada untukmu.". Di kuenya yang lain, ada sebuah gambar rasi bintang kesukaannya, dan sebagai puncak dari hadiah Hari Valentine-nya, ada sebuket bunga, dengan cokelat cincin di sekelilingnya. Cincin itu adalah replika dari cincin yang Wonwoo gunakan di jari manisnya, dan bandul yang ada di kalung Mingyu. Mingyu menatap hadiah yang baru diterimanya dan tersenyum, tanpa bisa ditahan, lalu memeluk Wonwoo dan tidak melepaskan pelukan mereka selama lebih dari 5 menit.

"Yah~ kau juga luar biasa... Apa kau yakin aku kekasih pertamamu?" Mingyu berkata, dan Wonwoo tersenyum,

Mingyu melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Wonwoo, tertawa.

Mingyu mengecup pipi Wonwoo.

"Terima kasih, sayang. Selamat Hari Natal."

Wonwoo tersenyum dan menjawab,

"Selamat Hari Valentine."

Pasangan itu menghabiskan istirahat makan siang mereka bersama, berbicara satu sama lain dengan Mingyu yang duduk di atas tangga sambil memeluk Wonwoo dari belakang. Sisa hari mereka di sekolah berlalu dengan cepat. Keempat lelaki itu sudah tidak sabar dan ingin cepat-cepat melaksanakan rencana Hari Valentine mereka. Ketika bel pelajaran terakhir berbunyi, siswa-siswi berhamburan memenuhi seluruh penjuru sekolah, banyak pasangan berjalan bersisian sambil bergandengan tangan, siswa-siswi yang cukup populer berjalan dengan berbagai kotak cokelat warna-warni di tangan mereka. Sambil berjalan, Wonwoo bertanya-tanya sudah berapa banyak kotak cokelat yang Mingyu tolak, dan ia merasa luar biasa senang karena Mingyu menerima miliknya, meskipun ia adalah kekasihnya.

Wonwoo dan Mingyu berjalan menuju rumah masing-masing, sedangkan Minghao dan Jun berjalan menuju rumah Minghao bersama untuk melaksanakan kencan mereka di rumah. Pasangan Mingyu dan Wonwoo, pulang ke rumah masing-masing karena Wonwoo bersikeras kalau ia tidak mau melaksanakan rencana Hari Valentine mereka menggunakan seragam sekolah. Dalam perjalanan pulang, Mingyu membeli sebuket bunga, 2 sebenarnya, dan pergi ke toko kartu untuk membeli kartu ucapan Valnetine yang manis. Setelah membayar, lelaki tinggi itu berdiri di meja dekat kasir dan mulai menulis di atas kartu ucapannya. Saat ia sedang menulis, beberapa gadis berjalan melewatinya dan saling berbisik-bisik,

"Kekasihnya sangat beruntung," dan "Dia sangat tampan! AKu berharap akulah kekasihnya"

Mingyu lalu melanjutkan perjalanannya, dengan dua buket bunga di tangannya dan kartu ucapan di tangannya yang lain. Ia memasuki rumah dan menemukan ibunya di dapur, ia memberikan bunga yang dibelinya pada ibunya dan mengecup kening ibunya dan memberikannya pelukan hangat, lalu ia berkata menggunakan bahasa isyarat

Selamat Hari Valentine, Bu. I love you

Ibunya tersenyum, dan membalas

Terima kasih, Mingyu-ya. Sekarang, cepatlah bersiap untuk kencanmu dengan Wonwoo!

Mingyu tertawa dan sekali lagi mengecup kening ibunya, lali naik ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia memilih mengenakan pakaian semi-formal, tidak terlalu santai. Ia mengenakan celana panjang hitam yang terlihat pas di kaki panjangnya, dan memadu-padankannya dengan kemeja denim berkerah putih, dan menggulung lengan bajunya sampai siku. Sambil berjalan keluar, ia mengenakan sepatu Vans-nya, dan mengambil buket bunga dan kartunya dan mengucapkan selamat tinggal pada ibunya, lalu mulai berjalan menuju tempat yang telah ia dan Wonwoo setujui, markasnya.

Sementara itu, Wonwoo juga sedang bersiap-siap, berpakaian sebaik kekasihnya. Pasangan itu bertemu, dan Mingyu memberikannya sebuket bunga dengan sebuah kartu ucapan manis yang membuat Wonwoo rasanya ingin menangis bahagia. Lalu, setelah makan bersama, yang dibayar oleh Mingyu saat Wonwoo sedang berada di toilet, membuat Wonwoo marah, mereka mulai berjalan menuju tempat selanjutnya.

"Aku ingin merencanakan segalanya hari ini!"

"Kau memang sudah merencakan segalanya! Tapi bukan berarti kau harus membayar makanan kita tadi." Mingyu berkata.

"Tapi-,"

"Shh. Berhenti protes, kau akan menghancurkan hari sempurna kita." yang lebih tinggi berkata, dan Wonwoo tidak punya pilihan lain selain menurut.

Mereka terus berjalan bersamaan dengan matahari yang mulai terbenam, menciptakan bayangan dan gradasi warna oranye di sepanjang gedung yang mereka lalui, saling bergandengan tangan. Kebetulan, Wonwoo memakai jaket merah kebesaran yang lengannya terlalu panjang dan menutupi tangannya saat ia bergandengan dengan kekasihnya. Mereka berhenti berjalan sebentar, ketika Wonwoo mengeluarkan sesuatu dari sakunya,

"Sayang, kemarilah, membungkuk sedikit," ia berkata.

Mingyu menurut dan mendekatkan dirinya pada Wonwoo,

"Tutup matamu,"

Mingyu memberikan tatapan curiga mendengar itu, lalu mengerucutkan bibirnya yang membuat Wonwoo mengecupnya sekilas, lalu memasangkan penutup mata pada kekasihnya.

"Yah, yah Wonwoo, apa yang kau lakukan?"

"Percaya saja padaku, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi aku ingin membuatnya jadi sebuah kejutan."

Mingyu mencoba melepaskan penutup matanya yang membuat Wonwoo berkata,

"Ayolah, sayang. Dulu kau mempercayaiku saat menyeberangi jembatan tali itu... Apa kau sudah tidak mempercayaiku lagi?" Wonwoo berkata, mengerucutkan bibirnya lucu meskipun Mingyu tidak bisa melihatnya. Tapi ia Mingyu terlalu mengenal kekasihnya, dan ia bisa tahu dari nada suaranya apa yang sedang kekasihnya itu lakukan,

"Berhenti mengerucutkan bibirmu. Oke, cepat pergi kalau begitu." Mingyu akhirnya setuju dan berhenti bergerak kesana-kemari, membiarkan Wonwoo memasangkan penutup matanya dengan tenang, dan mulai menggenggam tangannya saat ia mulai berjalan. Butuh waktu beberapa menit sampai mereka memasuki sebuah bangunan, Mingyu bisa mendengar Wonwoo membuka sebuah pintu, dan langkah kaki mereka berubah dari suara lantai beton menjadi lantai keramik. Lalu, pasangan itu berhenti berjalan beberapa menit, sampai Wonwoo akhirnya melanjutkan perjalanan mereka. Wonwoo memandu Mingyu memasuki bangunan itu, dan saat ia memasuki pintu lainnya, ia memperingatkan,

"Hati-hati, ada tangga, tapi memang tidak terlalu curam."

Mingyu masih berhati-hati saat melangkah, supaya ia tidak terjatuh, dan Wonwoo menggenggam tangannya. Mereka berbelok melalui barisan kursi-kursi dan Mingyu berasumsi mungkin mereka akan menonton film. Pasangan itu akhirnya duduk di salah satu kursi itu dan Wonwoo akhirnya melepaskan penutup matanya. Mingyu menatap sekelilingnya yang ternyata bukanlah sebuah bioskop, tapi sebuah auditorium star-gazing. Sama seperti kencan pertama mereka, mereka membaringkan kursi mereka dan menatap langit-langit. Sekarang, Wonwoo juga sudah bisa mengidentifikasi beberapa nama bintang, menggunakan dada kekasihnya sebagai bantal sambil menunjuk langit-langut dan dinding di sekitanya. Mereka berbaring disana bersama, di tempat itu ada beberapa pasangan lainnya, tapi Wonwoo dan Mingyu seakan berada dalam dunia mereka sendiri. Mereka berada di sana selama beberapa jam, dan saat mereka meninggalkan tempat itu, matahari sudah sepenuhnya terbenam. Mingyu memutuskan untuk mengantar Wonwoo pulang seperti biasanya. Saat mereka berjalan, dan Mingyu meninggalkannya sebentar untuk pergi ke toilet, Wonwoo menunggu dengan sabar di pinggir jalan, melihat kekasihnya dengan sopan bertanya kepada salah satu pegawai cafe untuk menggunakan kamar mandi mereka. Sambil menunggu, beberapa orang pria berjalan ke arahnya, dan Wonwoo mengela salah satu dari mereka. Itu adalah pria dari acara camping sekolahnya yang memiliki bekas luka di wajahnya, dan pria itu berjalan tepat ke arahnya

"Hei, darling! Sendirian saat Hari Valentine?" suara berat itu berkata.

Wonwoo memilih untuk mengabaikan pria itu, dan mengalihkan pandangannya menuju jendela cafe, memohon dalam hati supaya kekasihnya cepat kembali.

"Ayolah, aku akan memberimu beberapa cokelat dan perman." Suara itu berkata lagi. Wonwoo lagi-lagi mengabaikannya,

"Bagaimana dengan itu, tuan puteri?", pria itu mulai terkekeh, "Meskipun, permen dan cokelat itu tidak akan semanis dirimu,"

Wonwoo baru akan berteriak ketika suara dingin kekasihnya menginterupsi,

"Yang pasti tidak akan semanis saat aku memukul wajahmu." Mingyu berjalan ke sisi Wonwoo, "Iya, kan, Sungwon?"

"He-hey," Sungwon masih tertawa, "Jangan meninggalkan pria manis sepertinya sendirian. Kau tidak akan tahu ketika seseorang mungkin saja menculiknya... Aku hanya mengingatkan."

Mingyu menarik pergelangan tangan Wonwoo, dan mulai berjalan kembali menuju rumah Wonwoo. Di perjalanan, mereka tidak membicarakan kejadian yang baru terjadi, keduanya setuju untuk membiarkannya, dan merasa bersyukur karena tidak terjadi sesuatu yang lebih dari itu. Di pekarangan rumah Wonwoo, pasangan itu saling berciuman dan menatap mata masing-masing selama beberapa saat. Tangan Mingyu melingkari pinggang Wonwoo, sedangkan yang lebih pendek melingkarkan tangannya di leher kekasihnya.

"Aku tahu aku sudah terlalu sering mengatakan ini, tapi I love you." Wonwoo berkata, tersenyum. Wonwoo menatap mata kekasihnya,

"I love you too." yang lebih tinggi membalas.

Mereka berbagi ciuan sekali lagi, dan sebelum Wonwoo masuk ke rumahnya, mereka saling berbisik,

"Happy Valentine's Day."

.

.

.

To Be Continued...


INI LAMA BGT YA TAU KOK:(( maafin... pengennya cepet-cepet beres sih tapi real life lagi bener2 nyita perhatian HUHU

ini masih fluff meanie buat semua yg nungguin ff ini:') dan masih unbeta-ed jadi pasti banyak typo mohon dimaklumi...

enjoy!

Read n Review?

Love,

seulgibear