POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#22 Good Ol' Days
Setelah kejadian dengan Sungwon, Mingyu jadi sedikit lebih berhati-hati dengan apa yang ia lakukan di jalan. Bukan karena ia merasa takut, ia bisa dengan mudah mengalahkan Sungwon dan kelompoknya, tapi ia hanya takut kalau Wonwoo terlibat. Ia memperingatkan teman-temannya yang lain, dan suatu hari saat jam mkan siang, Mingyu, Wonwoo, Jun, dan Minghao duduk bersama dan membahas masalah itu.
"Apa yang dia katakan padamu?" Minghao bertanya, lalu menggigit sushinya.
"Aku tidak terlalu yakin, hanya, kalimat-kalimat menggoda biasa, sepertinya."
"Itulah yang akan kau dapatkan karena kau terlalu menarik." Mingyu berkata, tegas dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda ia tidak setuju,
"Ya, ya. Teruslah bicara Tuan yang menerima 6 penyataan cinta dan berkotak-kotak cokelat kemarin."
"Yah, aku tidak menerima mereka." Mingyu berkata sambil meminum bubble tea milik Wonwoo.
"Kau mengatakan itu seakan-akan aku sengaja menerima apa yang dikatakan Sungwon padaku." Wonwoo berkata, merebut kembali bubble teanya dan meminumnya.
Mingyu tersenyum pada kekasihnya, dan tertawa kekanakkan,
"Hehe, love you too."
Wonwoo merotasikan bola matanya dan mulai mengejek perkataan kekasihnya dan Mingyu tertawa lalu memeluknya.
"Wonwoo, apa dia melakukan sesuatu padamu?" Jun bertanya, khawatir.
"Tidak, dia hanya bicara... Meskipun aku sedikit takut," ia menjelaskan.
"Jika dia berani menyentuh Wonwoo, mungkin aku sudah masuk penjara saat ini" Mingyu berkata, benar-benar serius.
"Jangan bercanda seperti itu, sayang." Wonwoo berkata, memukul lengan Mingyu pelan,
"Dia tidak bercanda." Minghao berkata, nada seriusnya membuat mood di sekitar mereka berubah.
"Maksudku, begitulah kami... aku kaget aku bisa menahan diri setelah apa yang Sungwon lakukan pada Seokmin. Jika siapapun berani menyentuh Jun, aku bersumpah aku akan-""
"Oke, kami mengerti."
Mingyu berkata, mencoba menggoda temannya. Ia tertawa canggung saat menyadari udara di sekitar mereka menegang, karena Minghao sedikit terpancing oleh situasi. Wonwoo juga tersenyum canggung, sedikit bangga karena bukan kekasihnya yang lepas kendali kali ini. Jun menepuk-nepuk punggung Minghao, dan mereka melanjutkan memakan makanan mereka, keadaan tegang di antara mereka mencair dan obrolan mereka kali ini jauh lebih santai dan bebas. Sisa makan siang itu mereka habiskan dengan saling mengobrol satu sama lain, seperti jam makan siang mereka biasanya.
Sepulang sekolah, Mingyu dan Wonwoo pulang ke rumah mereka masing-masing, berjanji akan saling mengirimi pesan dan melakukan FaceTime, atau menghubungi satu sama lain dengan berbagai cara. Minghao dan Jun memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, dan berakhir dengan pergi ke markas. Obrolan yang terjadi saat makan siang tadi menimbulkan beberapa pertanyaan di pikiran Jun, karena ia tidak tahu siapa itu Seokmin. Pasangan itu berjalan dengan saling bergandengan tangan,
"Oh benar... Kau baru kesini beberapa kali, kan?" lelaki berambut biru itu bertanya, tersenyum pada kekasihnya. Jun mengangguk dengan senyuman di wajahnya sebagai jawaban.
"Minghao-ah, aku punya pertanyaan." Jun berkata.
"Tanya saja," lelaki lainnya menjawab.
"Siapa Seokmin?"
Minghao berpikir selama beberapa detik lalu mulai menganggukkan kepalanya,
"Ahh~ benar. Aku belum pernah memberitahumu... Sepertinya ini saatnya giliranmu untuk mendengarkan cerita." ia berkata.
Ketika mereka sampai, mereka menemukan hanya ada mereka berdua di sana dan memutuskan untuk berbaring di sofa yang sama. Minghao menceritakan kisah tentang Seokmin, hampir sama dengan apa yang Wonwoo dengar saat Hari Natal. Jun tidak menangis seperti Wonwoo tapi ia bisa merasakan kesedihan, dan amarah menguar dari tubuh kekasihnya saat ia mengeratkan pelukannya pada kekasihnya. Minghao berhasil menyelesaikan ceritanya dan Jun berkata, tanpa berpikir,
"Jadi itulah kenapa sikapnya sangat dingin...", ia terkejut dan merutuki dirinya sendiri setelah mengatakan hal itu tanpa berpikir lebih dulu. Minghao terkekeh,
"Ya... Banyak orang salah paham padanya."
"Dia sangat jarang membiarkan orang lain mendekat padanya.. Aku terkejut melihat dia dan Wonwoo bisa berakhir bersama."
"Aku juga... Rasanya aku masih terkejut melihat Wonwoo bisa membuat Mingyu jadi terbuka seperti itu," Minghao berkata,
"Kau harus mempertimbangkan apa yang sudah Mingyu lalui selama ini... Aku dengar dia benar-benar menyebalkan padamu pada awalnya," ia melanjutkan, tertawa, dan Jun juga tertawa,
"Tapi, aku pikir dia merasa kalau semakin sedikit orang yang berhubungan dengannya akan semakin baik."
"Bukankah itu rasanya sepi?" Jun bertanya sambil meraih lengan Minghao, dan mulai bermain dengan cincin di jari manisnya.
"Ya, tentu saja. Maksudku, dia memiliki kita semua... Tapi sekali lagi, dengan begitu akan memperkecil kesempatan kasus seperti Seokmin terjadi lagi." Minghao berkata, dengan jujur.
Keheningan menyelimuti mereka berdua, dan bertahan selama beberapa menit.
"Mereka benar-benar pasangan yang tidak serasi." Jun berkata, terkekeh.
"Mingyu selalu berkata 'opposites attract', ketika kami bertanya tentang Seokmin," Minghao tertawa juga.
"Babe, orang seperti apa Seokmin itu?"
"Hmm. Dia luar biasa. Selalu tersenyum. Selalu berhasil membuat Mingyu bersikap terbuka, jadi dengan caranya sendiri, dia seperti Wonwoo."
"Ah~, begitu..." Jun menjawab, lalu keheningan sekali lagi mengambil alih.
Pasangan itu lalu berbicara tentang hal lainnya. Selagi mereka saling berbincang, Jun dan Minghao tertidur di pelukan masing-masing. Keheningan di dalam ruangan itu, bersamaan dengan napas teratur pasangan itu, terinterupsi oleh suara pukulan keras di pintu. Minghao langsung terbangun dan menyuruh Jun diam ketika kekasihnya terbangun, sedikit takut dan panik. Minghao menarik Jun mendekat dan menaruh jari telunjuk di depan mulutnya, meminta kekasihnya untuk tetap diam. Sedangkan suara gedoran di pintu itu terus berlanjut, dan terdengar semakin marah. Karena orang-orang itu tidak langsung berjalan masuk, Minghao langsung tahu kalau orang-orang itu bukanlah salah satu dari teman-temannya. Itu bisa saja polisi, tapi polisi belum pernah mengganggu mereka sekalipun, selama 3 tahun mereka menggunakan bangunan itu. Dan juga, ada sesuatu yang aneh dengan cara orang-orang itu 'mengetuk' pintu, ketukan itu berarti kalau siapapun orang itu, mereka sedang serius dan penuh kekerasan, bukan dengan cara profesional seperti yang mungkin dilakukan polisi. Dalam diam, Minghao bangkit dari sofa dan mengambil ponselnya. Ia menuliskan pesan dan menunjukan layarnya pada Jun,
"Cepat sembunyi, dan kirim pesan pada Mingyu. Katakan padanya ada sedikit masalah di markas, dan suruh dia cepat datang kesini. Naiklah ke atas, aku akan mengatasi siapapun yang ada di balik pintu itu."
Jun memberikan tatapan khawatir pada Minghao, yang tersenyum dan mulai mengetik catatan lainnya,
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku janji."
Jun lalu mengikuti instruksi kekasihnya dalam diam. Sedikit khawatir, tapi ia percaya pada Minghao dan naik ke atas, tidak membuat sedikitpun suara, yang membuat Minghao berterima kasih, tapi juga membuatnya sedikit aneh. Jun berhenti bergerak dan mengeluarkan ponselnya, ia mulai mengirim pesan pada Mingyu. Mingyu membalas dengan satu huruf 'k', lalu Jun duduk dan menunggu. Sedangkan, Minghao dengan perlahan mulai berjalan ke arah pintu yang sebenarnya membuatnya takut semakin ia mendekat, dan orang di balik pintu itu kembali menggedor pintu di hadapannya.
"Yah~, apa ada orang~?" suara itu berkata, dan Minghao tidak perlu melihat dari jendela lagi. Suara itu saja sudah membuatnya tahu siapa dalang di balik semua ini.
"Sungwon, apa yang kau inginkan?" Minghao berteriak balik, masih belum membuka pintunya.
"Oh! Siapa itu? Mingyu? Jihoon-ah?", Sungwon menjawab, lalu ia mulai tertawa dan kembali berteriak,
"Aku tidak mendengar apapun... Mungkin itu Seokmin?"
Minghao meninju pintu itu, cukup kuat untuk menyampaikan pesan kalau dia bukan Seokmin, dan dia tidak sedang dalam suasana hati yang tepat untuk mengurusi Sungwon yang sedang main-main. Bekas pukulan Minghao meninggalkan lekuk di pintu. Pukulannya juga cukup kuat untuk membuat Sungwon meloncat mundur karena terkejut,
"He-hei, jangan terlalu bersemangat, aku hanya ingin bicara."
Sungwon bersandar di pintu itu,
"Ayolah, ayo kita bicarakan tentang beberapa hal... Kita pria dewasa, kan?"
Minghao membuka pintu, dan melihat wajah Sungwon yang tidak begitu senang, dan di belakangnya ada beberapa anak laki-laki seusianya dengan senyum miring di wajah mereka.
"Apa yang kau inginkan?" lelaki berambut biru itu bertanya sambil mundur untuk membiarkan anak-anak itu masuk.
"Mari kita bicarakan tentang beberapa hal, oke?" Sungwon berkata.
Meskipun Minghao membiarkannya masuk, ia tidak sepenuhnya mempercayai Sungwon. Ia hanya berharap pada Tuhan kalau mereka tidak akan menemukan Jun, dan ia sedang tidak sabar menunggu Mingyu yang ia harap sedang dalam perjalanan saat ini. Mingyu berdiri dalam posisi bertahan, tinjunya terkepal kalau-kalau Sungwon memutuskan untuk menggunakan aksi daripada kata-kata untuk menyampaikan apapun pesan yang ingin ia sampaikan kali ini. Tinjunya terkepal di dalam saku celananya, untuk memberitahu Sungwon kalau untuk saat ini, ia masih ingin menggunakan cara damai.
"Hal apa?" Minghao berkata, suaranya terdengar tegas dan tenang, meskipun tetap terdengar mengintimidasi.
Jun tergoda untuk mengintip situasi di bawah sana, tapi otaknya masih bisa berpikir rasional dan ia memikirkan keselamatannya juga, jadi ia hanya harus puas dengan audio dari interaksi yang terjadi di bawah sana.
"Katakan, biarkan aku dan teman-temanku memiliki markas ini, hm?"
Minghao memberikan Sungwon pandangan aneh,
"Kalian sudah menempati tempat ini selama 3 tahun! Tidakkah kalian pikir bahwa ini saatnya untuk kalian pindah? Berikan kami kesempatan untuk bersenang-senang di bangunan keren ini, oke?"
"Langkahi dulu mayatku."
Suara itu tidak menunjukkan keragu-raguan sama sekali, nada suaranya tegas dan tidak bergetar sama sekali. Kelompok anak laki-laki itu berbalik dan berhadapan langsung dengan wajah Mingyu, dahinya dipenuhi keringat dan Minghao berkesimpulan kalau Mingyu berlari untuk sampai ke sini, dan Minghao salut karena Mingyu masih bisa bicara seperti itu pada Sungwon tanpa terengah-engah.
"Yah, as expected ketua kami."
Minghao berpikir sambil memberikan Mingyu sebuah senyuman tipis, yang tidak disadari Mingyu karena ia masih sibuk menatap Sungwon.
"Oh, Mingyu-ah! Tepat waktu sekali. Katakan, kenapa kau dan teman-temanmu tidak pensiun saja dari jalanan dan berikan tempat ini untuk kami bersenang-senang." Sungwon berkata, menempatkan sebelah tangannya di bahu Mingyu, seakan-akan mereka teman lama.
Mingyu menatap tangan itu, lalu menyingkirkannya dengan kasar disertai tatapan jijik dari wajahnya. Ia lalu berdehem dan berkata,
"Yah.", lelaki tinggi itu berjalan mendekat ke arah Sungwon yang kini senyumnya sudah menghilang.
"Apa kau tidak mengerti perkataanku? Aku bilang, langkahi dulu mayatku." Mingyu mengulangi perkataannya, matanya yang dingin menusuk tepat ke mata Sungwon. Sungwon tersenyum miring dan mulai tertawa,
"Yah... Aku sudah pernah melakukannya sekali. Kau pikir aku tidak akan melakukannya lagi? Kali ini bukan Seokmin korbannya, kali ini-"
Mingyu meninju wajah Sungwon, tinjunya melayang dan mendarat dengan tepat di wajah Sungwon. Sebelum Sungwon sempat bangkit dari keterkejutannya, Mingyu dengan cepat menarik kerahnya dan mengangkatnya dari atas tanah,
"Aku bersumpah jika kau berani menyebut nama Seokmin sekali lagi, aku akan menghancurkan isi kepalamu."
Teman-temannya yang ada di sekelilingnya kini mengejar Mingyu, beberapa dari mereka mendaratkan tinjunya ke perut Mingyu yang sama sekali tidak membuat Mingyu mundur, lalu Minghao dengan cepat menghentikan mereka.
"Ayolah! Aku bilang aku hanya ingin bicara... Atau kau ingin menggunakan tinju, seperti dulu, hm?"
Mingyu menaruh anak itu turun, dan Sungwon mulai tertawa sambil menyeka darah dari bibirnya menggunakan pergelangan tangannya.
"Ayo pergi, anak-anak. Sepertinya Mingyu tidak akan memberikannya hari ini." ia berkata sambil mengumpulkan pengikutnya dan mulai berjalan keluar. Sebelum ia keluar, ia berkata,
"Kami akan kembali."
"Kami masih akan tetap disini saat kau kembali." Mingyu membalas, bersamaan dengan Minghao yang berjalan dan berdiri di sisinya.
Pintu tertutup, dan Jun menyembulkan kepalanya dari ujung tangga, ia merasa lega ketika ia hanya melihat Mingyu dan Minghao berdiri disana. Ia menghembuskan napasnya ketika ia sadar kalau ia selama ini menahan napas, lalu turun menuruni tangga.
"Mereka memilih untuk mencari masalah sekarang? Setelah 3 tahun, kau mungkin berpikir mereka akan mengambil pelajarannya," Mingyu berkata saat Jun sudah cukup dekat dengan mereka.
"Oh, Jun, terima kasih karena sudah memberitahuku lewat pesan." Mingyu berkata, dan Jun tersenyum sebagai balasannya, "Oh! Kau tidak mengirim pesan pada Wonwoo... kan?"
"Tidak, aku hanya memberitahumu." Jun menjawab sambil berjalan menuju kekasihnya. Mingyu bernapas lega,
"Bagus. Kalau sampai dia tahu tentang ini, dia pasti akan khawatir, aku lebih senang kalau dia tidak tahu apa yang terjadi disini, atau setidaknya bagian 'menyeramkan' dari apa yang terjadi tadi." ia berkata.
Mingyu menepuk punggung Minghao, dan berkata kalau ia akan pulang ke rumah, dan menyuruh Minghao untuk menghubunginya kalau-kalau Sungwon dan teman-temannya datang lagi.
Untungnya, Sungwon dan pengikutnya tidak kembali malam itu... tapi sayangnya, malam itu bukan malam terakhir mereka melihat Sungwon dan teman-temannya.
Kenyataannya, dalam jangka waktu seminggu, segalanya berubah menjadi buruk.
Benar-benar buruk.
Semuanya dimulai dengan pertikaian kecil yang terjadi di markas, tidak ada yang terlalu serius. Tapi lalu pertikaian itu menjadi perkelahian kecil, yang sudah jelas dimenangkan oleh Mingyu dan teman-temannya, tapi lama-kelamaan perkelahian itu semakin membesar. Sampai mencapai titik dimana Minghao dan Mingyu datang ke sekolah terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali sampai jam makan siang karena mereka berada di markas, berhadapan dengan Sungwon.
Suatu hari di sekolah, Mingyu dan Wonwoo sedang berbicara berdua. Ketua Kelas itu menatap memar dan luka-luka di tangan dan wajah kekasihnya. Rasanya sudah lama ia tidak melihat kekasihnya dalam kondisi seperti itu, dan kalau boleh jujur, ia tidak menyukainya. Ia tidak suka melihat buku-buku jari Mingyu dipenuhi luka-luka, dan ia tidak suka melihat kekasihnya kadang meringis ketika Wonwoo mengecup pipinya yang dipenuhi memar baru.
"Sayang, aku tahu ini mungkin kedengarannya bodoh... Tapi, tidak bisakah kau memberikan markas itu pada mereka?" Wonwoo bertanya suatu hari saat mereka sedang berdua.
"Yap, itu kedengarannya bodoh," Mingyu berkata.
Wonwoo mengerucutkan bibirnya, dan Mingyu tertawa lalu mengecup puncak kepala Wonwoo.
"Hanya bercanda.", yang lebih tinggi menumpukan dagunya pada kepala Ketua Kelas itu, "Ini karena bangunan itu bukan hanya bangunan untuk kami bersepuluh." ia memulai,
"Itu adalah tempat yang bisa kami jadikan sebagai pelarian. Tempat dimana kami semua bisa pergi, dan merasa nyaman seperti berada di rumah di dalamnya. Tempat itu adalah tempat dimana hubungan persaudaraan kami tumbuh, tempat itu adalah tempat kami berlari bersama satu orang nerd yang akhirnya menjadi sahabat dekat kami..." Suara Mingyu bergetar, dan Wonwoo tahu siapa yang tengah ia bicarakan,
"Bangunan itu adalah tempat dimana kami semua bisa kembali. Mungkin tahun depan, atau 10 tahun dari sekarang. Tempat itu seperti rumah, dan aku pikir tidak ada satupun dari kami bersepuluh yang ingin memberikan tempat itu. Terlebih memberikannya pada orang yang merenggut nyawa Seokmin."
Mereka tidak melanjutkan membahas topik itu setelah Mingyu menjelaskan dengan tenang, dan Wonwoo bersyukur karena kekasihnya tidak marah dengan pertanyaan bodohnya.
.
Jum'at malam, semua teman-teman Mingyu berkumpul di markas, termasuk Jun dan Wonwoo yang menemani kekasih mereka dan berbaur dengan teman-temannya. Ketika tiba-tiba, terdengar suara pintu digedor dengan keras, yang langsung membuat mereka semua berdiri. Mingyu menyuruh Wonwoo untuk tetap duduk, dan sebagai ketuanya, ia langsung maju ke depan dan berjalan menuju pintu, 9 temannya mengikuti di belakangnya. Mingyu sudah semakin dekat dengan pintu, sebelum ia sempat membuka pintu, pintu itu terbuka lebar, mengenai wajah Mingyu dan membuatnya mundur beberapa langkah kesakitan/
"He-hei boys! Kalau kalian tidak mau memberikannya untuk kami... Sepertinya kami yang harus merebutnya sendiri." Sungwon mengumumkan, sambil menunggu di ambang pintu.
Saat ini, 2 kelompok anak laki-laki saling berhadapan, dengan ketua mereka berada di depan, berhadap-hadapan. Mingyu berdiri tegak, tahu kalau 9 saudaranya berada di belakangnya, dan Sungwon berdiri sama bangganya dengan Mingyu, tahu kalau ia membawa banyak anak buahnya, mungkin memang tidak sekuat kelompok Mingyu, tapi kali ini ia membawa banyak anak buahnya yang sudah gatal ingin berkelahi.
Apa yang terjadi malam itu adalah salah satu dari perkelahian paling menegangkan yang pernah 'The Kings' lakukan, sejak perkelahian yang melibatkan Seokmin terjadi. Kekacauan besar yang melibatkan tinjuan-tinjuan yang melayang di sana-sini, dan remaja laki-laki terlempar dan terkena tendangan dan tinjuan terjadi di bangunan kosong itu. Mingyu sebagian besar berhadapan dengan Sungwon, tapi begitu ia berhasil menjatuhkan Sungwon, ia langsung berlari untuk membantu teman-temannya yang sedang melawan anak buah Sungwon. Mingyu juga menerima pukulan di sana-sini, pengelihatannya mulai buram, dan ia menyentuh keningnya untuk melihat bahwa ujung jari yang ia gunakan untuk menyentuh keningnya tertutupi oleh darah. Sementara perkelahian itu terus berlanjut, Wonwoo meringkuk di belakang, berharap tidak ada seorangpun yang melihatnya, dan ia sedang bertarung dengan dirinya sendiri untuk menentukan haruskah ia menelpon polisi, atau meminta bantuan, atau hanya duduk dan menunggu di tempatnya. Ia menatap horror saat ia melihat sisi gelap 'The Kings' yang membuat orang-orang menakuti merek, dan ia tidak pernah tahu kalau mata Mingyu bisa terlihat sedingin dan semenakutkan itu. Ia tidak pernah berpikir kalau Jihoon, meskipun ia yang terpendek di antara teman-temannya, bisa menjatuhkan anak lelaki yang ukurannya dua kali lebih besar darinya dan tidak sekalipun merasa takut. Rasanya mengerikan melihat sisi baru anak-anak yang ia kira ia kenal. Tapi yang lebih mengerikan, adalah seorang anak lelaki yang terbaring di atas tanah, yang kini mulai bangkit, dan menemukan posisinya.
Wonwoo memekik kecil, dan semakin merundukkan tubuhnya di ujung ruangan, berharap semoga ia tidak terlihat.
Tapi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
Sungwon mulai berjalan menuju Wonwoo, dan Mingyu melihatnya. Mingyu dengan putus asa merangkak perlaha melalui beberapa orang, memukuli mereka tanpa ampun supaya ia bisa sampai dengan cepat ke sisi kekasihnya. Hari dimana Seokmin meninggal berkelebat dalam pikiran Mingyu saat ia mencoba berlari menuju Wonwoo, dan ia berdoa pada Tuhan, kalau kali ini, ia tidak ingin kehilangan seseorang. Hal terakhir yang Wonwoo lihat sebelum pikiran dan pandangannya menjadi gelap adalah Sungwon yang berjalan ke arahnya dengan senyum licik tersungging di bibirnya, dan tangannya terulur ke arah Wonwoo.
.
Keesokan paginya, Wonwoo terbangun pada cahaya putih yang menyinari ruangan tempatnya berada. Ia membuka matanya perlahan, sambil mencoba mengumpulkan ingatan tentang apa yang terjadi malam sebelumnya. Ia mencoba bangun, dan merasakan rasa sakit yang luar biasa di tangannya. Ia menatap ke bawah dan menyadari kalau tangan kirinya saat ini di gips, dan ia tiba-tiba merasa bersyukur karena ia tidak kidal seperti kekasihnya. Saat ia menatap gips di tangannya, Wonwoo ingat apa yang terjadi tadi malam. Serangan di markas, dan perkelahian besar dan ia dengan jelas mengingat Sungwon yang berjalan ke arahnya, dan meringis ketika ia mengingat malam mengerikan itu sebelum ia pingsan. Wonwoo lalu menatap ke sebelah kanan ruangan kamarnya, dan di salah satu kursi tunggu, terdapat ibunya, sedang tertidur menggunakan tangan sofa sebagai bantalnya. Ketua Kelas itu dengan perlahan turun dari tempat tidurnya, dan menyadari kalau pakaiannya terlipat di samping tempat tidurnya, lalu berjalan menuju ibunya.
"Ibu," ia mengguncang-guncangkan tubuh ibunya pelan, dan ibunya terbangun, membuka matanya perlahan-lahan dan menyesuaikan dengan cahaya ruangan itu. Narin duduk tegak di kursinya, dan langsung memeluk Wonwoo,
"Sweetie! Terima kasih Tuhan kau sudah sadar, aku sangat khawatir!" ia berkata, dan Wonwoo memeluknya balik.
"Ibu, apa ibu tahu dimana Mingyu?" Wonwoo berkata, masih memikirkan kejadian tadi malam,
"Honey, apa kau baik-baik saja?"
"Ibu, Mingyu"
"Oh, ya, ya, maaf... Dia yang membawamu kesini, atau itulah yang kudengar. Ketika aku mendapat telepon darinya, dia berkata kau ada di ruangan ini, dan dia bilang dia harus mengurus sesuatu." Narin menjelaskan, begitu ia melepas pelukannya dari Wonwoo.
"Apa da disini? Di rumah sakit?" Wonwoo bertanya, benar-benar khawatir apakah kekasihnya baik-baik saja.
Dia tahu apa yang sudah kekasihnya lalui dengan Seokmin, dan fakta kalau Mingyu harus membawa Wonwoo ke rumah sakit yang sama mungkin membawa kembali ingatan mengerikan itu, jadi Wonwoo khawatir tentang Mingyu, khawatir pada fisiknya dan perasaannya.
"Aku tidak tahu, sayang. Tapi, dia tidak terlihat terlalu buruk ketika aku bertemu dengannya, hanya wajahnya dipenuhi beberapa luka dan memar. Dia mungkin masih ada di sekitar sini, yang aku tahu, dia pergi ketika aku tertidur."
Wonwoo lalu mulai mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa, dan pergi untuk mencari Mingyu, tentu saja setelah mendapat izin dari dokter, dan berjanji kalau ia akan segera kembali.
"Wonwoo!", Narin berteriak saat Wonwoo sampai di depan pinu kamarnya, berhenti untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan ibunya selanjutnya,
"Apa yang kau lakukan di bangunan itu kemarin?" Narin bertanya, seperti seorang ibu pada umumnya,
"Aku akan memberitahu ibu nanti!" Wonwoo berkata sambil bergegas pergi untuk mencari Mingyu.
Untungnya, Mingyu masih berada di dekat situ, dan sedang duduk di sebuah taman yang berjarak sekitar 15 menit dari rumah sakit. Ia duduk di atas ayunan, punggungnya menghadap Wonwoo, jadi Wonwoo berlari di belakangnya dan melingkarkan tangannya di sekeliling leher Mingyu. Mingyu langsung berdiri dan berbalik, wajah terkejutnya melembut saat ia menyadari itu hanya kekasihnya. Pria tinggi itu langsung memeluk Wonwoo, dengan erat sampai Wonwoo ksulitan bernapas,
"Terima kasih Tuhan, kau baik-baik saja."
Mereka melepas pelukan masing-masing dan Mingyu meraih wajah Wonwoo. Wonwoo meletakkan tangan kanannya yang baik-baik saja dan menaruhnya di atas tangan Mingyu, dan tersenyum,
"Aku baik-baik saja."
Pasangan itu berbagi ciuman yang intim, dan rasanya seperti hanya ada mereka di dunia ini pada saat itu. Setelah wajah mereka saling berjauhan, Mingyu menatap wajah Wonwoo yang kini dihiasi memar, dan gips di tangan kirinya, dan matanya tiba-tiba berubah sendu. Mingyu seakan diingatkan pada Seokmin, dan ia menggigit bibir bawahnya, lalu menarik Wonwoo dan membawanya ke dalam pelukannya lagi,
"Maafkan aku." Mingyu berkata, tapi Wonwoo tidak yakin kenapa kekasihnya meminta maaf.
.
Minggu selanjutnya di sekolah terasa berat untuk Wonwoo. Untuk alasan yang ia tidak tahu, setelah akhir minggu itu, Mingyu sedikit menjauhkan dirinya dari Wonwoo. Mereka masih berbicara, tapi selalu Wonwoo yang memulai percakapan di antara mereka. Mingyu tidak tersenyum atau tertawa selama jam makan siang, dan ia juga akan berkata kalau tidak ada yang salah setiap kali Wonwoo bertanya ada apa.
"Jangan khawatir, dia mungkin masih marah karena perkelahian kemarin. Dia akan kembali seperti biasa setelah minggu ini berakhir," Minghao memberitahu Wonwoo, saat ia juga menyadari tingkah Mingyu yang aneh.
Hari ini hari Jum'at dan Wonwoo benar-benar terkejut melihat Mingyu menunggu di gerbang sekolah. Mereka tidak pernah berjalan pulang bersama seperti biasanya selama satu minggu ini, dan Wonwoo merasa senang karena akhirnya Mingyu mau memulai interaksi di antara mereka.
Sepertinya Minghao benar, Pikir Wonwoo saat ia dengan senang berjalan menuju kekasihnya.
"Wonwoo-ya, aku akan mengantarmu pulang!" Mingyu berseru ketika Ketua Kelas itu semakin mendekat. Wonwoo melompat-lompat kecil, dengan senyum manis di wajahnya dan berdiri di sebelah kekasihnya. Mereka tidak bergandengan tangan, karena tangan Wonwoo masih dalam balutan gips, dan untuk beberapa alasan, Mingyu memasukkan tangannya di saku celananya sepanjang perjalanan mereka. Wonwoo tidak mau terlalu memikirkannya dan berasumsi kalau Mingyu hanya tidak ingin memperlihatkan tangannya yang mungkin penuh dengan luka sisa perkelahian Jum'at lalu. Mereka berjalan menuju rumah Wonwoo, berbicara seperti biasanya yang membuat hati Wonwoo merasa tenang setelah selama satu minggu terakhir gelisah. Mereka sampai di rumah Wonwoo, rute itu terasa familiar bagi mereka, dan sekarang Mingyu berdiri di jalan kecil di pekarangan rumahnya, sedangkan Wonwoo berdiri di teras rumahnya, dan sekarang tinggi badan mereka terlihat sama.
Wonwoo baru akan mencium Mingyu, tapi sebelum ia bisa, sebelum ia sempat berkata apapun, seperti mengundang Mingyu masuk, atau berterima kasih karena sudah mengantarnya pulang, Mingyu bicara lebih dulu,
"Wonwoo-ya," suara berat yang tidak asing itu berkata, dan Wonwoo mendengarkan dengan serius.
"Ayo kita putus."
.
.
.
To Be Continued...
BABAM! BAM BAM! BAM BAM BAM BAM!
Meanie putus yeay...:''') jgn fluff mulu ya meanienya sekali-kali harus dibikin baper wkwkwk
aku tadinya sedang mood bikin fluff karena abis di notice plus di dadahin meanie pas send off DE sabtu kemarin:') eh tapi pas chapternya ini mereka putus._.
ini aku ngebut ya ngetiknya karena mood sedang bagus dan kangen meanie:(( aku kangen mereka HUHU kmrn DE jakarta momennya dikit:( aku haus meanie moment:')
yaudah, di baca aja dulu ya, jgn marah-marah sama aku tapi meanienya putus HA:3
Read n Review?
Love,
seulgibear
