POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#23 That's What You Said
"Eh?" Wonwoo berkata, memiringkan kepalanya, dengan sebuah senyum lelah di wajahnya. Ia mengerutkan alisnya, bingung dan khawatir, dan hanya berharap kalau apa yang ia dengar dari Mingyu salah. Mingyu menghela napas dan menyelipkan ibu jarinya di ikat pinggang di celananya,
"Ayo kita putus.", ia berkata, dengan natural dan memastikan Wonwoo mengerti perkataannya kali ini.
"A-apa, kenapa? Ap-apa aku melakukan kesalahan? Kenapa sekarang? Kenapa-" Wonwoo terbata-bata sambil mencari jawabannya. Kenangan mereka bersama berkelebatan dalam ingatannya, mencari petunjuk atau sesuatu yang memberitahu Wonwoo kalau hari ini akan datang. Ia mencari-cari apa kesalahan yang sudah ia perbuat, atau mungkin membuat Mingyu marah, tapi ia tidak menemukan apapun.
"Hanya, aku tidak ingin berkencan denganmu lagi." Mingyu berkata, menganggukkan kepalanya.
Wonwoo merasakan air mata berkumpul di ujung matanya, sambil mencoba untuk tetap tenang.
"Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Apa kau marah? Tidak bisakah kita membicarakan tentang itu? Kenapa... Aku tidak mengerti, kenapa kau- Bisakah kau memberikan alasan?" Wonwoo memohon, menahan air matanya sekuat yang ia bisa.
"Sudah kukatakan, aku tidak ingin berkencan la-"
"Itu bukan alasan." Wonwoo berkata, dan ia sudah tidak bisa menahannya sehingga sebulir air mata akhirnya terjatuh turun menuruni kedua pipinya. Mingyu mengabaikan itu dan melanjutkan perkataannya, dengan dingin.
"Kita sudah berkencan selama 4 bulan, dan kita belum sekalipun melakukan seks." Mingyu berkata. Wonwoo terkejut mendengar perkataan itu,
"Aku masih tidak mengerti."
Mingyu memutar bola matanya,
"Dengar, kau tahu kau tampan dan menarik, kan? Jadi, aku hanya menyukaimu karena penampilanmu... Tapi jelas, aku tahu akan membutuhkan beberapa waktu sampai akhirnya kau mempercayaiku atau 'mencintai'ku, jadi aku menunggu. Tapi 4 bulan, dan yang selama ini kita lakukan hanyalah berciuman, jadi aku lelah menunggu."
Keheningan mengambil alih selagi Mingyu mencoba menahan dirinya sendiri dari menghapus air mata di pipi Wonwoo.
"Jadi... kau berkencan denganku hanya untuk meniduriku?" Wonwoo berkata, masih tidak percaya kalau itu alasan Mingyu.
"Yup. Aku remaja laki-laki, apalagi yang kau harapkan? Aku pikir kau akan mudah di dapatkan, tapi ternyata tidak."
Ya, teruslah merendahkannya sampai dia membencimu. Berbohong sampai dia tidak mencari tahu kebenarannya.
"Jadi, lalu kenapa kau mengencaniku sampai 4 bulan? Kenapa kau menghabiskan waktu dan tenaga untuk menyiapkan Hari Natal, dan kencan-kencan kita?" Wonwoo bertanya, memohon pada Mingyu untuk menghentikan ucapan-ucapan kejam itu.
"Alasan sebenarnya aku sadari minggu kemarin," Mingyu berkata.
Wonwoo memiringkan kepalanya sekali lagi dan Mingyu melanjutkan,
"Kau lemah."
Wonwoo mengedipkan matanya, air mata kembali berlomba-lomba menuruni wajahnya selagi ia mencoba untuk memproses semua hal yang Mingyu katakan. Ia menatap pada perban di tangannya dan kembali menatap Mingyu,
"Lihat, aku cukup kuat, kan? Minggu lalu di markas, aku sadar kalau kau benar-benar lemah, dan bahkan tidak mencoba untuk melawan balik."
Aku senang kau tidak mengayunkan satu tinju pun, dan aku harap kau akan selalu begitu... Jangan menjadi sepertiku.
"Wonwoo, saat ini aku mencoba mengatakan kalau kau adalah beban untukku."
Itu bohong, kalaupun iya, kau malah mengangkat beban dari pundakku.
"Beban." Wonwoo mengulangi perkataannya, suaranya terdengar penuh rasa sakit dan kesedihan. Mingyu menggigit lidahnya, menahan diri agar dirinya tidak menangis atau berteriak, atau bahkan menarik Wonwoo kedalam pelukannya,
"Yup, beban", Mingyu berkata,
"Plus, kau sendiri yang bilang, kan? Orang dengan sifat berlawanan tidak bisa bersama... Rasanya gila seseorang sepertiku bisa berkencan dengan seseorang sepertimu."
Rasanya gila menyadari betapa beruntungnya aku mengenalmu... Beruntungnya aku bisa mencintaimu, dan menerima cinta darimu. Rasanya aku bisa gila karena melakukan hal ini sekarang.
"Jadi... semua perkataan "I love you" yang keluar dari mulutmu tidak berarti apa-apa? Itu semua hanyalah kebohongan?"
"Itu sama sekali tidak berarti dan hanya perkataan kosong... Jadi, aku pikir, ya, aku berbohong."
Satu-satunya kebohongan yang pernah kukatakan padamu adalah saat ini. Aku mencintaimu, Jeon Wonwoo, karena itulah aku melakukan ini.
"Semua pelukan, ciuman, kencan, itu juga tidak berarti sama sekali untukmu, Mingyu-ah?" Wonwoo bertanya, air mata terus mengalir di wajahnya, suaranya pecah saat ia berkata.
"Mungkin itu berarti, saati itu... Tapi sekarang tidak lagi."
Sial, berbohong padamu sangat sulit. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, atau aku bisa saja menciummu sekarang dan menghancurkan segalanya.
"Jadi... kau benar-benar ingin putus denganku, huh?"
Mingyu bisa mendengar nada patah hati dari suara Wonwoo, dan melihatnya di kedua matanya,
"Ya."
Hell, no. Tapi aku harus.
Keheningan mengisi udara di sekitar mereka lagi. Mingyu tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Wonwoo, sedangkan Wonwoo menatap mata Mingyu yang sekarang melirik ke segala arah selain matanya. Mingyu menggigit bibir bawahnya selagi mencoba untuk tidak menangis, tapi itu rasanya sulit saat ia mendengar isakan dari (mantan)kekasihnya,
"Oke." Wonwoo akhirnya bicara, dan Mingyu mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dan menatap mata Wonwoo. Matanya masih tertutupi oleh air mata, suara Ketua Kelas itu masih terdengar pecah ketika ia menganggukkan kepalanya dan dengan pelan berkata,
"Kalau begitu, kita putus."
Mendengar kalimat itu dari bibir Wonwoo benar-benar membuatnya patah hati. Tapi Mingyu tetap tenang, dan mulai menganggukan kepalanya,
"Kita putus, seperti ini." Ketua Kelas itu melanjutkan,
"Apa kau benar-benar baik-baik saja dengan ini, Mingyu-ah?"
Tidak, aku tidak baik-baik saja. Dan aku benar-benar tahu kalau kau juga tidak baik-baik saja. Kau memanggilku 'Mingyu' dan bukan 'babe'... Rasanya aneh. Rasanya seperti ada yang hilang. Tapi, ini untuk yang terbaik.
"Jika aku tidak baik-baik saja, aku tidak akan mungkin mengatakan ini duluan, kan?" Mingyu menjawab.
Wonwoo mengangguk, dan sebuah senyum sedih ia berikan untuk Mingyu, sambil terus menangis, ia berkata,
"Kalau begitu, saat ini, detik ini, kita sudah berpisah."
Mingyu tidak tahu harus berkata apa, karena ia juga hampir saja menangis. Tapi lebih dari apapun, ia ingin memeluk Wonwoo dan meminta maaf, tapi ia perlu Wonwoo untuk membencinya. Ia harus memastikan kalau Wonwoo tidak mau lagi berurusan dengannya, supaya ia tidak terluka lagi. Jadi, yang lebih tinggi hanya mengangguk, dan menatap dengan keheningan yang terasa menyakitkan saat Wonwoo mengusap wajahnya dan tiba-tiba berlari menuju pintu rumahnya.
"Wonwoo, tungg-"
"Selamat tinggal, Mingyu!" Wonwoo berteriak saat ia membuka pintu rumahnya, dan langsung menutupnya keras, tidak memberikan waktu pada Mingyu untuk melakukan apapun.
Wonwoo sudah masuk ke rumahnya saat ini, bersandar di balik pintu yang baru saja ia banting di hadapan kekasih –coret- mantan kekasihnya. Jantungnya berpacu cepat, dan hancur berantakan pada saat yang sama. Ia mulai terisak saat tubuhnya merosot ke lantai, memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Dari luar pintu, Mingyu bisa mendengar isakan Wonwoo, dan ia dengan cepat berbaluk lalu berjalan menjauhi kediaman Jeon yang sudah tidak asing baginya, menahan desakan untuk menggedor pintu rumah Wonwoo, dan meminta maaf. Air mata berjatuhan di setiap langkahnya, hatinya hancur setiap kali ia mendengar suara Wonwoo yang kesulitan menghirup oksigen di antara isak tangisnya. Mingyu mengacak rambutnya kasar, dan melayangkan tinjuan ke udara, berteriak keras, dan menangis frustasi, penuh kesedihan dan penyesalan.
Ini yang terbaik. Yang terbaik untuk Wonwoo, jadi bertahanlah.
Ia berpikir dalam hati saat ia berjalan menuju rumah keduanya, markas.
.
Sementara itu, Wonwoo yang merasa hancur masih duduk di depan pintu rumahnya. Isakannya menggema di rumah kosong itu, dan itu membuatnya merasa bersyukur, tapi juga pada saat yang sama ia berharap orangtuanya tidak bekerja lembur hari ini. Ia butuh ditenangkan, seseorang yang bisa mengalihkan perhatiannya dari apa yang baru saja terjadi. Ia butuh sebuah pelukan, dari Mingyu- tunggu, tidak, orang lain. Bukan dari seseorang yang baru saja merobek-robek hatinya menjadi ribuan bagian dan masih bicara dengan tenang seakan tidak ada yang terjadi. Isakannya semakin keras saat ia meremas hatinya yang terasa sakit. Wonwoo mencoba menenangkan dirinya sendiri, cukup untuk membuatnya bisa bicara dengan jelas. Wonwoo meraih ponselnya yang berada di saku, dan membuka fitur kontak. Ia hampir menekan nomor 1 pada speed dial, tapi beruntung ia ingat dengan cepat dan menekan tombol lain.
"Halo? Wonwoo-ya?" suara di seberang sana berkata,
"Jun-ah... Tolong aku." Wonwoo berhasil mengatakan itu di sela isakannya.
Jun tiba-toba merasa khawatir, dan hampir berteriak di telepon.
"Wonwoo-ah?! Yah! Apa kau baik-baik saja?! Kau dimana, apa yang terjadi?!"
"Aku di rumah... Bisakah kau-"
"Aku akan segera kesana!" Jun berteriak sebelum Wonwoo sempat melanjutkan.
Panggilan itu berakhir dengan cepat, dan Wonwoo menjatuhkan ponselnya. Ia mengeluarkan isakan keras untuk terakhir kalinya, lalu bangkit dari lantai, dan membenahi dirinya sebelum Jun datang. Ia menyeret kakinya menuju kamar mandi di kamarnya, lalu membasuh wajahnya. Ketika ia menatap cermin, ia melihat matanya masih memerah karena air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Wonwoo masuk ke kamarnya, dan hampir saja terjatuh lagi. Rasanya seperti semua hal, sampai hal paling kecil sekalipun, mengingatkannya pada Mingyu. Dan yang membuatnya semakin kesal, adalah dirinya yang masih mencintai pria tinggi, bodoh, dan berandalan yang menghabiskan 4 bulan terakhir ini bersamanya. Ia terjatuh di atas tempat tidurnya, menahan air mata yang akan kembali mengalir sekuat yang ia bisa. Ia menenggelamkan wajahnya di atas bantal dan menolak untuk membuka matanya, karena semua hal di kamarnya mengingatkannya pada Mingyu. Jaket merah yang menggantung di balik pintunya, poster 'I Love You' yang ia dapat saat hari Natal di taruh di atas mejanya. Boneka beruang yang berada di sudut tempat tidurnya, yang lalu ia tendang ke atas lantai. Beberapa saat kemudian, Wonwoo mendengar suara bel berbunyi, lalu ia keluar dari kamarnya dan membuka pintu. Di balik pintu itu berdiri sahabatnya, memegang sekantung makanan ringan kesukaan Wonwoo dan memakai sling bag yang kelihatannya cukup penuh. Jun menyunggingkan sebuah senyum cerah, dan tulus untuk sahabatnya,
"Yo, Wonwoo-ya!", ia berseru,
"Sepertinya kau membutuhkan sedikit hiburan." Jun berkata.
Wonwoo tidak dapat menahan senyumannya, untuk sepersekian detik pikirannya teralihkan dari putusnya hubungan ia dan Mingyu yang baru saja terjadi. Jun memasuki rumah yang sudah tidak asing untuknya dan melepaskan sepatunya,
"Ibu! Ayah! Aku akan menginap!~" Jun berteriak pada Narin dan Minsung,
"Mereka bekerja lembur" Wonwoo memberitahu.
"Ah, begitu." Jun berkata.
Lelaki itu beridir diam dan mengamati Wonwoo. Ia menyadari mata merah Wonwoo, dan lengan bajunya yang basah oleh air mata. Jun ingin bertanya apa yang terjadi, tapi memutuskan untuk menenangkan Wonwoo terlebih dahulu dan menghentikan tangisannya, dan membuat Wonwoo melupakan apa yang membuatnya sampai menangis seperti ini.
"Aku membawa beberapa makanan, dan laptopku, jadi ayo kita menonton sesuatu!" ia berkata sambil naik ke kamar Wonwoo. Wonwoo mengikuti di belakangnya, mencoba sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri, dan bersyukur akan kehadiran kekasihnya saat ini.
Jun membereskan kamar Wonwoo yang berantakan, dan Ketua Kelas itu hampir saja meledak dalam tangisan lagi saat bayangan Mingyu melakukan hal yang sama muncul dalam pikirannya. Pria tinggi itu akan selalu berkata,
"Kenapa kau sangat berantakan, sayang? Setidaknya bereskan kamarmu."
Jun meletakkan laptopnya di atas bantal lalu membentuk selimut Wonwoo menjadi seperti sarang kecil, dan menaruh berbagai makanan di atasnya. Wonwoo tanpa perlawanan berbaring di tempatnya, dan Jun mengikutinya, membuka sekantung keripik kentang, dan memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya, lalu menawarkannya pada Wonwoo. Wonwoo menolak dengan halus, menggelengkan kepalanya,
"Ayolah, ini adalah rasa kesukaanmu! Biasanya kau tidak menolak" Jun berkata, mendorong keripik itu mendekat pada Wonwoo yang lalu menerimanya, lalu memakannya. Jun tersenyum karena merasa menang, lalu membuka laptopnya dan mulai mencari-cari apa yang harus mereka tonton.
"Kau ingin menonton sesuatu?" ia bertanya,
"Tidak masalah untukku. Apapun boleh." Wonwoo menjawab, sambil terus memakan keripik kentangnya.
"Hmmm, bagaimana dengan komedi?" Jun menyarankan, memutuskan kalau itu adalah genre terbaik untuk menghibur Wonwoo.
Ketua Kelas itu mengangguk setuju, lalu bersandar di kasurnya dan bersantai, sekantung keripik kentang masih berada di tangannya, tangannya yang lain meraih sekotak Ferrero Roche. Jun memilih sembarang film, lalu bersandar di sebelah Wonwoo, sambil membuka sekantung permen.
Film sudah berjalan setengah, ketika Jun memutuskan inilah saatnya untuk membicarakan apa yang telah terjadi. Setengah dari makanan ringan itu sudah habis, dan Jun tidak menyesal menghabiskan 25 dollar hanya untuk membeli makanan kesukaan sahabatnya, karena itu membantu menghibur Wonwoo.
Itulah gunanya sahabat.
Tapi, saat ini Jun harus mengerti Wonwoo sampai ke dasar kesedihannya. Alasan di balik isakannya yang tidak berhenti yang ia dengar melalui sambungan telepon tadi. Ia harus tahu, supaya ia bisa mencari cara untuk membuatnya lebih baik.
"Wonwoo-ya..." Jun memulai, dan Wonwoo menatapnya, alisnya terangkat sebagai jawaban, meminta Jun untuk melanjutkan.
"Apa kau baik-baik saja?", ia bertanya hati-hati. Ia menyaksikan bagaimana mata Wonwoo kini dipenuhi air mata, dan satu persatu air mata itu terjatuh menuruni pipinya. Wonwoo menggelengkan kepalanya dan terus menangis, suaranya bergetar ketika ia berkata,
"Tidak."
Jun langsung membawa Wonwoo ke dalam pelukannya, mengusap rambutnya. Wonwoo menenggelamkan wajahnya di dada sahabatnya selagi Jun tetap diam, memutuskan kalau diam adalah pilihan terbaik daripada mengatakan kalimat-kalimat menenangkan pada Wonwoo, ketika ia tidak tahu apa yang sudah terjadi.
"Kau bisa memberitahuku apapun, ketika kau siap." Adalah satu-satunya kalimat yang Jun katakan, dan ia terus mengusap-usap rambut hitam legam Wonwoo.
Wonwoo menangis cukup lama dalam pelukannya, tapi Jun tidak peduli. Lalu beberapa menit setelahnya, Wonwoo mulai menenangkan dirinya sendiri, isakannya berkurang dan ia bisa bernapas lebih teratur. Ia mengangkat wajahnya dari dada Jun dan mengusap matanya.
"Maaf," Wonwoo memulai, "Aku menghancurkan kausmu."
"Tidak apa-apa, ini hanya kau... Apa yang aku khawatirkan saat ini adalah dirimu." Jun berkata.
Pria berambut cokelat itu memikirkan segala kemungkinan yang bisa membuat sahabatnya sampai menangis seperti itu. Apa keluarganya ada yang meninggal? Mungkin ia stress atau sesuatu? Ia tidak tahu, dan ia menunggu dengan sabar sampai Wonwoo memberitahunya. Lalu, Wonwoo tersenyum sedih pada Jun, memperlihatkan gigi-giginya, sinar bulan dari jendela kamarnya memantulkan kesedihan yang menyisakan jejak di pipi Wonwoo. Senyumnya membuat hati Jun hancur, karena sebagai sahabatnya, ia merasakan patah hati dan kesedihan memancar dari senyumnya yang berharga itu.
"Mingyu putus denganku." Wonwoo berkata, tersenyum dan menangis saat mengatakan itu.
Mata Jun melebar tidak percaya, ia memiliki banyak pertanyaan, untuk Mingyu juga, tapi ia memutuskan untuk tetap diam saat ia menyadari Wonwoo mencoba menenangkan dirinya sendiri lagi dan mencoba mengatakan sesuatu.
"D-dan rasanya sangat menyakitkan, karena aku masih mencintainya..." Wonwoo melanjutkan, suaranya pecah di sana-sini, dan Jun hanya bisa menyaksikan sahabatnya hancur, tanpa bisa membantunya.
"Orang selalu berkata kalau putus dalam sebuah hubungan bukanlah akhir dari segalanya... Tapi ini sangat sangat menyakitkan, saat tahu bahwa orang yang kau cintai dengan sepenuh hati tidak mencintaimu lagi. Atau, mungkin orang itu tidak pernah mencintaimu sejak awal..." Wonwoo berkata.
Ia menatap mata Jun, dan berkata di antara air matanya,
"Ini benar-benar, fucking, menyakitkan, Jun-ah..." Wonwoo menangis keras, meremas tempat dimana hatinya berada, seperti anak kecil yang menangis kesakitan.
Jun kembali menarik Wonwoo dalam sebuah pelukan, membiarkan kausnya basah oleh air mata lagi. Wonwoo menangis, bersyukur ia memiliki sahabat yang luar biasa.
Hanya "Maafkan aku, Wonwoo-ya..." yang bisa Jun katakan, sambil terus mengusap punttung Wonwoo, dan menenangkannya lewat perbuatan.
Kenapa, Mingyu? Kenapa?
Setelah Wonwoo menenangkan dirinya sendiri, dan saat isakan itu berubah menjadi tangisan dalam diam, Jun memutuskan untuk menggali lebih dalam tentang masalah itu.
"A-apa dia memberitahumu alasannya?" Jun bertanya, hati-hati.
Wonwoo mengangguk dan berkata,
"Dia bilang, dia berkencan denganku karena dia hanya ingin berhubungan seks denganku..."
Apa? Untuk apa? Itu tidak masuk akal... Untuk seseorang yang memiliki masa lalu seperti Mingyu, ia pasti masih memiliki trauma dan rasa takut pada hal-hal seperti itu?
Jun berpikir, tapi menurutnya akan lebih baik baginya untuk tidak mengatakan apapun sekarang.
"D-dan, dia bilang kalau aku lemah... Kami tidak bisa- atau mungkin, tidak boleh bersama karena aku beban untuknya. Dia bilang dia menyadarinya saat malam dimana perkelahian itu terjadi, ketika aku mematahkan tanganku."
Jun hampir mengeluarkan sumpah serapah untuk mengekspresikan kemarahannya bagi pria yang sudah mematahkan hati sahabatnya, tapi terinterupsi saat Wonwoo berkata,
"Dan karena, aku masih mencintai si bodoh itu. Aku ingin membencinya, tapi aku tidak bisa... Aku ingin melupakannya, tapi aku pikir aku tidak akan bisa melakukannya... karena aku benar-benar mencintainya, Jun-ah, dan aku masih mencintainya." Ia berkata, dengan sebentuk senyum sendu di wajahnya saat ia mengingat semua kenangan manis yang ia bagi dengan Mingyu.
Jun menatap sahabatnya itu, hatinya ikut sakit melihat Wonwoo. Ia memutuskan untuk tidak bertanya tentang situasinya lagi, dan menemani Wonwoo sampai orang tuanya pulang.
Sekitar jam 6, Narin dan Minsung berjalan memasuki rumah. Jun mengintip dari kamar Wonwoo dan berlari keluar dan menuruni tangga,
"Ibu! Wonwoo membutuhkanmu!" ia berkata,
"Oh! Jun-ah! Sudah lama tidak berkata!", ia berkata.
"Cepat!" Jun memerintah, menggunakan tangannya untuk membuat wanita yang sudah seperti ibu keduanya itu berjalan lebih cepat.
"Hai Ayah!" Jun menyapa, selagi Narin melepaskan sepatunya dengan cepat dan menaiki tangga.
"Hei, son." Minsung menjawab, "Apa yang kau lakukan disini?"
"Hanya menemani Wonwoo. Aku akan pergi sekarang kalau begitu!" ia berkata.
Jun kembali ke kamar Wonwoo, dan menepuk punggungnya sebelum keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
"Bye! Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu,"
"Terima kasih, Jun-ah."
"Apapun untukmu!"
Dan sahabatnya itu pergi.
Jun berpapasan dengan Minsung di jalan menuju pintu depan, tas dan laptopnya ia sampirkan di bahunya. Ia meninggalkan semua makanan ringan yang masih utuh di kamar Wonwoo, siapa tahu Wonwoo bisa menggunakannya sebagai makanan penenang. Ia memberikan Minsung pelukan singkat, berterimakasih karena sudah menerimanya di rumah itu, lalu pergi keluar rumah. Jun menutup pintu rumah keluarga Jeon, dan menatap langir. Langit menunjukkan gradasi warna oranye dan ungu yang menyatu alami untuk membuat langit di sore hari yang indah. Ia menghela napas kesal dan marah, lalu ia berjalan, bukan ke rumahnya. Ia pergi ke sebuah bangunan tidak asing tapi terasa asing di saat yang bersamaan. Tempat dimana biasanya kekasihnya berada, tapi kali ini ia berharap orang lain yang ada disana. Seorang pria tinggi, yang biasa menyebut dirinya sendiri kekasih Wonwoo. Jun memikirkan apa yang akan ia katakan ketika ia sampai di sana, saat ia berjalan menuju markas.
Sialan Kim Mingyu... Kau bilang kau mencintai Wonwoo, kan? Itulah yang kau katakan dulu, jadi kenapa...
.
.
.
To Be Continued...
HNGGGG INI AKU BAPER NGETIKNYA HUHUHUHUHUHUHUHUUHUHUHU
udah lama ngga baca ini lalu sadar part ini nyesek bgt:( Mingyu brengseknya sampe akhir lagi:')
Aku tahu ini ngga matching karena meanie akhir-akhir ini lagi clingy-clingynya, kemana-mana nempel, moment di airportnya DUHHHHHH bikin aku yang baper:( sampe di iket-iket segala kan pas mv trauma, tapi chap ini malah sedih sedih HAHAH
trsu trus yang bagian mingyu ngomong dalem hati yg bagian di italic itu tiba-tiba aku inget partnya meanie di don't wanna cry ;-;
ini pendek aku tahu, tapi aku puas bgt HAHAHA kalo ada typo kasih taunya, biar mood bacanya ngga keganggu typo karena part ini nyeseknya pol WKWK
yaudah seitu aja, makasih banyak buat semua reviewnya! dan komentarnya! luv
Read n Review?
Love,
seulgibear
