POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#24 Idiotic


Jun berjalan di trotoar, dengan arah tujuan yang pasti. Ia tidak benar-benar yakin dengan jalan yang diambilnya, tapi ia mendapatkan sedikit kepercayaan diri setiap kali ia melihat bangunan yang seakan memperingatinya kalau ia semakin dekat, atau setidaknya ia telah mengambil jalan yang benar.

Akhirnya, ia sampai di bangunan itu. Ia menyadari kalau pintu bangunan itu sedikit bengkok karena perkelahian minggu lalu. Jun tidak yakin kalau Mingyu berada di sini, tapi ia berpikir logis, dan berpendapat kalau putusnya hubungan Mingyu dan Wonwoo baru terjadi beberapa jam yang lalu, ia bersasumsi kalau Mingyu mungkin akan berada di rumahnya, atau di tempat ini, yang sudah seperti rumah kedua baginya. Jun menyadari kalau pintu yang rusak itu tidak tertutup seluruhnya. Jadi, dengan perlahan ia membuka pintu dan melihat kalau lampu di ruang utama menyala, mungkin seseorang ada di sini. Ia berjalan masuk, menutup pintu di belakangnya, dan berjalan menuju ruang utama, ketika ia menemukan sesosok pria berbaring di atas sofa. Sinar oranye yang berasal dari langit sore dan menerangi wajah itu sudah cukup untuk Jun. Menyadari wajah Mingyu, Jun merasa geram, dan menyerbu Mingyu. Mingyu menatap Jun, lalu meneruskan acara membacanya. Jun menarik buku dari tangan Mingyu, dan membantingnya ke lantai.

"The Hell's your problem?" Mingyu bertanya, mengambil kembali bukunya.

Jun menendang buku itu menjauh sebelum Mingyu sempat mengambilnya,

"Kau berani bertanya seperti itu padaku?"

Mingyu mendengus. Ia bangkit dari sofa, dan berdiri di depan Jun.

"Kau mau mengatakan sesuatu?", ia berkata, "Jika tidak, kau bisa pergi. Minghao tidak ada di sini."

"Aku datang kesini untukmu."

"Oh, aku? Wow, aku tersanjung." Mingyu berkata, sarkastis.

"Mingyu, apa yang sebenarnya kau lakukan?" Jun bertanya.

Mingyu manatap Jun.

"Kau jelas-jelas tahu apa yang sedang aku bicarakan,"

"Jadi, kau sudah tahu. Kenapa kau bertanya, kalau kau sudah tahu jawabannya?"

"Maksudku, kenapa."

"Hanya ingin saja. Lagipula sejak awal aku memang tidak terlalu tertarik padanya."

"Jangan memberikan alasan bullshit seperti itu padaku."

Jun mulai memanas. Ia tidak terlalu menyukai Mingyu, tapi setelah mengenalnya selama 4 bulan, ia belajar kalau Mingyu bukanlah pria yang buruk, kendati apa yang selama ini orang katakan tentangnya. Ia juga tahu bagaimana Mingyu bisa membuat Wonwoo bahagia, dan benar-benar percaya kalau Mingyu mencintai Wonwoo, dan masih mencintainya.

"Bullshit?" yang paling tinggi di antara mereka berdua mengulangi, "Kau pikir kau mengenalku? Kau pikir kau siapa datang ke sini dan bertanya alasan kenapa aku putus dengan Wonwoo?"

"Aku kesini karena Wonwoo terlalu patah hati untuk bisa melihat kebohonganmu."

Mingyu mendengus,

"Dengar, Jun. Aku tidak tahu bagaimana pendapatmu tentang aku selama 4 bulan ini, tapi aku bukan seorang pria luar biasa seperti yang kau bayangkan. Sederhananya, Wonwoo bukan orang yang tepat untukku."

Jun menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak meninju wajah Mingyu,

"Oh benarkah? Kalau begitu, kau tidak peduli lagi padanya."

"Tidak pernah sama sekali peduli padanya sejak awal, kalau boleh jujur." Mingyu menjawab sambil mengedikkan bahunya.

"Plus, bukankah kau seharusnya senang?"

Jun memberikan Mingyu ekspresi bingung,

"C'mon... Sekarang karena Wonwoo sudah sendiri, kau bisa memilikinya. Bukankah kau yang dulu bilang akan selalu ada untuknya? Hm? Selalu mengancamku.." Mingyu tertawa, tapi tidak dengan Jun. Bukannya tertawa, Jun malah semakin marah.

"Demi Tuhan, Mingyu, ini bukan tentangku!" Jun berteriak tidak sabar.

"Kalau ini bukan tentangmu, lalu kenapa kau ikut campur?!"

Kedua anak laki-laki itu saling berteriak. Saat ini, Jun terlalu marah untuk tetap berdiam diri, jadi ia menarik kerah baju Mingyu.

"Karena Wonwoo terlalu sibuk menangis untuk menyadari kalau kau memutuskan hubungan dengannya karena kau peduli padanya!"

Mingyu terkejut, bukan hanya karena perbuatan Jun, tapi juga perkataannya. Ia memalingkan wajahnya,

"Kenapa kau tidak mendorongku, huh? Lelaki sepertimu bisa dengan mudah mengalahkan orang sepertiku..."

"Karena aku tidak mau membuang-buang tenagaku untuk sesuatu yang tidak penting." Mingyu menjawab,

"Karena kau tahu aku benar." Jun mengoreksi.

Mereka berdua berdiri diam di sana, Jun masih mencengkeram kerah Mingyu,

"Kau memutuskan hubungan kalian hanya karena seks?" Jun mendengus, "Jangan bercanda. Kau memutuskan hubungan kalian karena kau tahu kalau kau tidak melakukannya, sesuatu seperti perkelahian kemarin akan terjadi lagi. Hanya saja kali ini, bisa saja semuanya berakhir lebih buruk dari hanya patah tangan untuk Wonwoo."

Mingyu memalingkan wajahnya sekali lagi, dan Jun mendengus,

"Kau bahkan tidak mau repot-repot membenarkan perkataanku."

"Karena aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Aku tahu kenapa aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Wonwoo," Mingyu membantah.

"Dan itu bukan hanya karena seks, aku yakin itu."

"Bagaimana kau bisa seyakin itu, hm? Aku remaja 18 tahun, kau tidak tahu apa-apa tentang hasratku. Wonwoo pria yang menarik-"

"Hasrat, ya? Seperti yang ayahmu lakukan?" Jun akhirnya mengangkat topik sensitif itu. Ia sebenarnya tidak ingin, tapi ia tidak masalah harus menjadi orang jahat jika Mingyu bisa sadar dengan apa yang sudah ia lakukan.

Mingyu menggeretakan gigi-giginya sambil berbarik mencengkeram kerah Jun,

"Jangan berani-berani kau menyebutkan lelaki itu."

"Lihat? Bukan itu alasan kalian putus... Aku tidak peduli apa yang kau katakan, karena aku pikir kau adalah orang yang cukup baik yang tidak akan merendahkan Wonwoo seperti itu, karena kau, dari semua orang pasti tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu."

Mingyu melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Jun.

"Kau hanya bertingkah bodoh, Mingyu. Benar-benar bodoh! Kau pikir dengan putus dengannya akan membuat segalanya membaik? Kau pikir Sungwon akan melepaskannya, hanya karena kau sudah putus dengannya?!"

Suara Jun kembali meninggi, dan segalanya semakin memanas.

"Dia harus melepaskannya!" Mingyu membentak, "Wonwoo sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi denganku, jadi dia tidak seharusnya menyentuh Wonwoo!"

Pria di depannya perlahan-lahan melepaskan cengkeramannya pada Mingyu.

"Aku pikir tadi kau bilang kau tidak peduli."

"Aku memang tidak peduli."

"Jadi, kalau Sungwon sampai melakukan sesuatu pada Wonwoo... Kau tidak akan peduli?"

"Itu tidak akan terjadi."

"Bagaimana kau tahu? Wonwoo tidak bodoh, Mingyu... Cepat atau lambat, dia akan sadar kalau kau mengakhiri hubungan kalian hanya untuk melindunginya."

"Sungwon tidak akan menyentuhnya, aku tidak akan membiarkannya."

"Jadi, kenapa kau memutuskan hubunganmu dengan Wonwoo? Ini sudah terlambat, dia sudah masuk dalam kehidupanmu, Mingyu... Ini hanya membuat segalanya memburuk."

"Ini belum begitu terlambat... Aku akan memastikan dia aman... Dan jika dengan membuat Wonwoo membenciku bisa membuatnya aman, maka aku akan menahannya."

Jun mendengus, ironis sekali karena Mingyu berpikir kalau Wonwoo membencinya, yang ada, Wonwoo sedang berbaring di atas kasurnya, patah hati dan mengeluh tentang dirinya yang masih mencintai berandalan ini.

"Jadi, kau juga terluka?"

Jun melangkah mundur, meninggalkan Mingyu untuk memikirkan perbuatannya.

"Kau sudah membuat kesalahan yang bodoh, Mingyu..."

Tiba-tiba, Mingyu menarik Jun, membuatnya berbalik dan mendorongnya ke dinding, Jun terperangkap oleh tubuh besar Mingyu.

"Kesalahan? Bodoh?"

Jun mulai merasa sedikit takut melihat mata Mingyu yang semakin dingin,

"Kesalahan di sini adalah Wonwoo yang terlibat dalam kehidupanku. Yang bodoh adalah fakta kalau aku mengencaninya selama 4 bulan."

"Karena menyebutnya beban bukan masalah menurutmu?"

Mingyu tiba-tiba meninju tembok di depannya, tepat di samping wajah Jun. Kontak tangan Mingyu dengan dinding itu bergema di telinga Jun, buku-buku jarinya berdarah, tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Kekuatannya sudah terbukti, dan jantung Jun berdetak lebih cepat saat ia melirik sekilas pada sebuah lubang kecil di dinding sebelahnya.

"Dia lemah. Dia tidak bisa membela dirinya sendiri. Wonwoo tidak bisa menahan pukulan seperti yang baru saja aku layangkan kepadamu. Tidak mungkin ia bisa bertahan di jalanan."

"Seberapa takutnya dirimu?"

Mingyu memicingkan matanya, dan mengerutkan keningnya,

"Seberapa takutnya kau untuk kehilangan orang yang kau cintai lagi? Kau mengatakan pada Minghao kalau Seokmin tidak ada hubungannya dengan hubunganmu dan Wonwoo, tapi saat ini, dialah alasan utama kau putus dengan Wonwoo." Jun berkata, dan Mingyu tetap diam.

"Apa 'menyelamatkan' Wonwoo sebanding dengan menghancurkan perasaannya seperti ini? Sebanding dengan penderitaan yang kau alami, dan berpura-pura tidak peduli saat mendengar Wonwoo kesulitan mengambil nafas di sela-sela isakannya. Apa itu sebanding dengan kau yang harus menahan perasaanmu, dan berperan sebagai orang yang jahat saat ini, dan mengambil sebuah kesempatan kecil yang menurutmu hanya karena kau sudah tidak berhubungan lagi dengannya, itu berarti Sungwon akan melepaskannya?"

Mingyu tidak tahu harus berkata apa. Bukan karena kepedulian Jun padanya, bahkan mungkin Jun tidak peduli sama sekali. Tapi karena semua yang dikatakan Jun benar. Mingyu berpikir,

Ya, aku tahu, ini bodoh

Dan sepertinya Jun bisa membaca pikirannya, atau mungkin Mingyu memang menyuarakan pikirannya, atau semuanya terlihat jelas di wajahnya, karena setelahnya Jun berkata,

"Ya... benar-benar bodoh."

Jun mendorong Mingyu, dan mengambil tasnya yang tergeletak di atas sofa, lalu berjalan menuju pintu.

Mingyu berdiri di sana, mengepalkan kedua tangannya, dan hanya diam memandangi Jun yang berjalan pergi. Ketika ia mendengar suara pintu yang ditutup, ia mengerang frustasi, dan mulai melayangkan beberapa pukulan di udara, lalu menyalurkan pukulannya pada dinding yang sudah ia tinju sebelumnya. Lubang di dinding itu semakin melebar, selagi Mingyu mencoba menahan air matanya dan menyalurkan perasaan sedihnya menjadi kemarahan.

Malam itu, Mingyu terlibat dalam beberapa perkelahian, mengeluarkan seluruh rasa frustasinya pada puluhan orang di jalanan yang berani menantang ketua 'The Kings'.

.

Sementara itu, Wonwoo berada di rumahnya, dan sekarang mencurahkan perasaanya pada ibunya. Narin menenangkannya dengan cara yang sama yang dilakukan Jun. Mengelus rambut Wonwoo dan punggungnya.

"Sayang, ibu tahu ini menyakitkan... Tapi, mungkin kau bisa melihat ini dari sisi baiknya." Narin mulai berbicara seperti seorang ibu,

"Akhir-akhir ini, kau terlibat dalam sisi hidup Mingyu yang tidak aman... Kau masih beruntung karena hanya tanganmu yang patah, Wonwoo-ya."

Wonwoo menatap ibunya dengan mata yang masih dipenuhi air mata.

"Jadi, maksud ibu, aku harus menyerah terhadapnya? Membiarkannya mengakhiri segalanya seperti ini?"

Narin memeluk Wonwoo lebih erat,

"Oh, sayang." Narin memulai, "Mungkin semua ini terjadi karena ada alasannya..."

"Tapi aku masih mencintainya, Bu." Wonwoo mengakui, dan Narin berkata,

"Aku yakin dia juga mencintaimu, sayang... Yang mungkin menjadi alasan kenapa ia memutuskan untuk putus denganmu?"

Wonwoo menatap ke arah ibunya dari dalam pelukan ibunya, memiringkan kepalanya bingung.

"Mungkin maksudnya, dia tahu alasan dari perkelahian itu. Mingyu anak yang baik, aku percaya pada instingku dalam menilai orang, dan mungkin Jum'at minggu lalu, ia sadar kalau ia tidak ingin melihatmu terluka lagi seperti itu."

"Tidak..." Wonwoo mengelak, "Tidak mungkin itu alasannya..."

"Sayang, coba bayangkan kalau kau berada di posisi Mingyu. Jika kau tahu Mingyu bisa saja terluka kalau dia terus berhubungan denganmu, apa kau akan mengakhiri hubungan kalian?"

Ketua Kelas itu berbaring dan berpikir selama beberapa saat.

"Cinta itu sesederhana dan serumit itu, Wonwoo-ya. Melepaskan seseorang bisa sama artinya dalam cinta, seperti menikahi orang tersebut." Narin dengan bijak berkata,

"Aku tahu rasanya menyakitkan sekarang, tapi mungkin kau bisa mencoba dan melupakan dia..."

Wonwoo menerima saran ibunya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Jum'at malamnya ia isi dengan menonton anime untuk mengalihkan dirinya sendiri, dan tumpukan tisu yang menggunung ketika dia mengingat kejadian itu, dan air mata mulai berlomba-lomba terjatuh lagi. Wonwoo pergi tidur malam itu sambil berpikir apakah Mingyu sama menderitanya dengan dirinya, memikirkan apa yang sedang Mingyu lakukan saat ini. Mingyu jatuh tertidur, kepalanya berdenyut-denyut dari pukulan yang ia terima malam itu, tubuhnya sakit semua dari perkelahian beberapa jam lalu. Ia pergi tidur dengan memikirkan apakah Wonwoo baik-baik saja, memikirkan apakah Wonwoo membuang semua barang-barang yang pernah ia berikan selama mereka masih berhubungan. Tapi, satu hal yang pasti, kedua remaja itu pergi tidur dengan pemikiran yang sama,

Apakah ini semua sebanding?

.

Akhir minggu terlalui dengan samar-samar, Mingyu menghabiskan sebagian besar waktunya di murah, dan Wonwoo juga melakukan hal yang sama. Minghao dan Jun bertemu pada akhir pekan, dan membicarakan tentang masalah itu. Minghao setuju kalau ia akan mencoba bicara pada Mingyu, tapi dengan catatan, ia tidak akan memihak pada siapapun. Ia mengatakan pada Jun kalau ia bisa mengerti kenapa Mingyu bersikap seperti ini, dan mungkin akan melakukan yang sama jika keselamatan Jun terancam.

Hari senin datang, dan kelas terasa dipenuhi oleh keheningan yang canggung. Mingyu tidak muncul saat pelajaran pertama, dan sepertinya sudah kembali ke kebiasaa lamanya, dan hanya bisa melihatnya saat pelajaran Sains. Ketika Mingyu masuk ke kelas, ia melihat Wonwoo yang sedang duduk di bangku di sebelahnya, membelakanginya, dan sedang berbicara dengan Jun. Seisi kelas berbisik-bisik menciptakan suara mirip dengungan ketika Mingyu masuk ke kelas di sela-sela pelajaran ke-4 dan ke-5, wajahnya dipenuhi oleh luka lebam, dan buku-buku jarinya dipenuhi darah. Bahkan Minghao merasa khawatir dan berdiri dari kursinya, menghampiri pria tinggi itu.

"Yah, Mingyu-ya... Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja." Mingyu menjawab, dengan pelan/

Ia berjalan menuju bangkunya, dan Wonwoo sama sekali tidak berbalik untuk melihat saat ia melakukan itu. Ketika ia sudah cukup dekat, ia menyadari ada sesuatu di atas mejanya. Sebuah benda kecil terlihat berkilau di terpa sinar mata hari, dan ketika ia sampai di bangkunya, ia menyadari kalau itu adalah cincin. Bukan hanya cincin biasa. Itu adalah cincin yang ia berikan pada Wonwoo saat Hari Natal, cincin yang menandai bersatunya hubungan mereka. Di dekat cincin itu, terdapat sebuah pesan, dengan tulisan Wonwoo yang sudah tidak asing bagi Mingyu,

Selama aku memiliki cincin ini, aku secara teknis akan selalu memilikimu... itu yang kau katakan dulu, kan? Jadi, ambil ini.

Dan di ujung secarik kertas itu ada tulisan yang lebih kecil bertuliskan,

Satu cincin lagi untuk kalungmu.

Mingyu menatap catatan itu dan menghela napas, menganggukkan kepalanya. Ia mendengus, dan menggenggam cincin itu dengan erat di tangannya. Wonwoo lega karena saat ini ia membelakangi Mingyu, selagi ia menggigit bibir bawahnya dan menahan diri untuk tidak berteriak di depan wajah Mingyu. Ia mengabaikannya, tapi ia mendengar Mingyu mengumpat pelan saat lelaki itu duduk di kursinya.

Sisa hari itu berjalan dengan canggung, pasangan yang biasanya selalu mengobrol tanpa henti satu sama lain, sekarang bahkan tidak saling melirik. Ketika bel pelajaran terakhir berbunyi, semua orang berjalan untuk pulang ke rumah masing-masing, dan Mingyu tidak bisa untuk tidak menyadari kalau jaket kebesaran berwarna merah yang dulunya adalah miliknya, yang biasanya Wonwoo gunakan setiap hari, kini sudah tergantikan oleh jaket biru tua yang terlihat pas di tubuh Wonwoo.

Mingyu tidak pulang bersama Minghao, ia berkata kalau ia akan langsung pulang ke rumah hari ini, dan mengatakan pada Minghao untuk memberitahunya jika terjadi sesuatu. Mingyu berjalan, menuju sebuah jalan yang jarang ia lalui, tapi ia ingat dengan jelas. Udara di sekelilingnya membuat moodnya turun saat ia memikirkan tentang tujuannya saat ini. Ia berjalan perlahan, tidak terlalu terburu-buru menuju tujuannya, tapi ketika ia sampai di tujuannya, ia menghela napas pelan dan melihat sekelilingnya. Ia berjalan ke sebuah tempat, lalu mendudukkan dirinya.

"Yo, Seokmin-ah." Mingyu berkata, menatap batu nisan sahabatnya.

"Sudah lama sejak terakhir kali aku mengunjungimu, maaf untuk itu." Mingyu melanjutkan, "Kau lihat, itu karena akhir-akhir ini aku menemukan seseorang yang membuatku benar-benar bahagia. Orang bilang segalanya berubah ketika kau sedang jatuh cinta, dan aku pikir itu adalah omong kosong semata sampai aku merasakannya sendiri."

Angin yang berhembus melalui dahan pohon menghasilkan suara siulan lembut dan membuat rambut Mingyu sedikit berantakan.

"Laki-laki ini, dia benar-benar seorang nerd. Like, bukan hanya itu, tapi ia juga pintar. Dia yang terbaik di kelas... Dia memiliki masa depan yang menjanjikan yang sudah menunggunya, Seokmin-ah."

Mingyu menarik napas dalam, dan melanjutkan,

"Jadi, apakah aku benar-benar bodoh karena memutuskan hubungan kami? Seseorang dengan masa depan cerah, harus terkontaminasi oleh orang sepertiku? Dia tidak pernah mengatakannya, tapi nilai-nilainya selama ini turun sedikit, dan aku tidak bisa tidak merasa kalau itu semua adalah salahku."

Lelaki tinggi itu terkekeh sendiri dalam keheningan,

"Kau tahu, rasanya hampir seperti aku bisa merasakan dan mendengar kau yang memukulku dan berteriak padaku karena memutuskan hubunganku dengannya... Seokmin-ah... jika kau tidak meninggal dengan cara seperti itu... Sepertinya aku tidak akan putus dengan Wonwoo saat ini." Ia berkata.

"Oh, ya, itu namanya. Jeon Wonwoo. Ia memiliki rambut sehitam arang yang sangat lembur dan halus, tapi ia lebih sering memakai topi. Dia sedikit kurus, aku harap ia makan lebih banyak lagi, dan, uh, oh! Dia sangat hebat dalam berlari, dan dia benar-benar berantakan. Tidak seperti penampilan luarnya dan kepribadiannya di sekolah, kamarnya benar-benar seperti bencana. Hmm, apalagi yang bisa aku ceritakan tentangnya padamu? Oh, dia sangat suka ketika aku memeluknya. Dan, dia menyukai sweater kebesaran, jadi dia mencuri banyak milikku. Sejujurnya, dia seorang yang hebat dalam berciuman." Mingyu tertawa,

"Maaf, informasi itu sangat tidak perlu, kan?" Mingyu menatap langit yang sekarang mulai berubah kejinggaan,

"Dia memiliki keluarga yang luar biasa, dan sahabat yang luar biasa. Sahabatnya menyebalkan, tapi aku tidak bisa menyangkal kalau dia benar. Oh! Namanya Jun, dan ingat ini, dia berkencan dengan Minghao. Yah~ aku juga berpikir kalau Minghao akan menjadi seorang playboy dengan sikapnya yang sering mengedipkan sebelah matanya pada para wanita dan sebagainya. Tapi, Wonwoo... Won freakin' Woo..." Mingyu berkata sambil menggelengkan kepalanya,

"Aku tahu kalau putus dengannya mungkin adalah pilihan paling aman untuknya... Tapi, aku tidak bisa menyangkal kalau aku masih mencintainya. Seokmin-ah, kau tidak akan percaya kalau aku mengatakan betapa hancurnya perasaanku hari itu, dan- dan melihat ekspresi wajahnya, melihat air mata berlomba-lomba menuruni wajahnya, melihat matanya yang menatapku, memohon padaku untuk berhenti membual... Aku pikir aku tidak akan pernah bisa melupakan itu.. Seokmin-ah... jangan membenciku karena ini, tapi aku pikir ini saatnya bagiku untuk merelakanmu. Aku tidak berkata kalau aku akan melupakanmu, bagaimana bisa aku melupakan sahabatku... dan cinta pertamaku."

Mingyu meraih pengait kalungnya di belakang lehernya, dan melepaskannya, mengeluarkan sebuah cincin dari kalung itu.

"Ini milikmu." Ia berkata, menaruhnya di atas pusara sahabatnya. Ia memasukkan cincin Wonwoo yang dikembalikan Wonwoo hari itu ke dalam kalungnya, dan memakainya kembali di lehernya.

"Seokmin-ah! Aku tidak akan berbohong, tapi kau adalah salah satu alasan aku putus dengan Wonwoo... Aku takut aku akan kehilangannya, seperti saat aku kehilanganmu. Jadi, aku menghakhiri hubungan yang membuatku merasa seperti orang paling bahagia yang pernah ada selama 4 bulan ini."

Mingyu berdiri dari atas tanah itu, lalu membersihkan celananya dari tanah yang mungkin saja menempel, lalu memandang batu nisan sahabatnya dengan sebuah senyuman di wajahnya.

"Sahabatmu ini sangat bodoh, kan, Seokmin-ah?"

Mingyu menepuk batu nisan itu, lalu berkata,

"Sampai jumpa lagi, teman!" Lalu ia berjalan pulang.

.

Minggu selanjutnya dilalui keduanya, –Wonwoo dan Mingyu–, dengan saling menghindari satu sama lain. Bukan karena sudah melupakan satu sama lain, tapi lebih kepada mengabaikan satu sama lain sampai sisa perasaan mereka mereda. Waktu terus berjalan, sampai Jun dan Minghao mulai kehilangan harapan untuk melihat pasangan itu kembali bersama.

Tapi lalu,

Suatu malam, Mingyu dan teman-temannya yang lain sedang menghabiskan waktu di markas, ketika tiba-tiba Jun masuk, kehabisan napas, dan wajahnya seperti habis dipukuli. Jihoon dan Jisoo langsung melontarkan beberapa pertanyaan padanya, bertanya apa ia baik-baik saja, yang hanya di jawab oleh anggukan oleh Jun dan langsung berjalan menuju Mingyu, yang sedang bermain-main dengan teleskop yang ia arahkan ke langit. Mingyu menyadari kehadiran Jun, menghentikan aktifitasnya, dan merasa sedikit khawatir ketika ia bisa melihat dari wajah Jun kalau ada sesuatu yang tidak beres,

"Jun? Minghao tidak ada di sini." Mingyu memberitahunya, berharap itulah alasan Jun datang ke markas mereka.

Di antara suara napasnya yang masih terengah-engah, ia berkata,

"Mingyu-ya," Jun berkata,

"Sungwon membawa Wonwoo."

.

.

.

To Be Continued...


HAI! Ini udah fast update yaa, cuma seminggu yeayy!;D updatenya mingguan kaya svt rilis lagu... tiap minggu... /apasih

Tadinya ini mau di satuin sama chapter selanjutnya tapi cliffhanger di chapter ini asik HAHA wonunya di culik ;3 jadi chapter selanjutnya aja yg di gabung yhaaa ;)

Ngomong-ngomong chapter kmrn galau ngga sih? Aku sih galau HUHU bagian yg di miringin sad bgt aku mau mati aja:(

Banyak jg ya yg nonton DE iya ya sayang kita ngga ketemu pas DE huhu padahal aku sendirian kaya anak ilang nonton DE ngga punya temen:')

Yaudah gitu aja, makasih banyak buat semua yang udah baca, review, fav, follow, pokoknya semuanya! luv!

Read n Review?

Love,

seulgibear