POLAR
.
.
a story by minseokmyass
www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple
Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.
Rate : T
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
and the others SVT members
Happy reading!
#25 Are You Sure?
Mingyu bangkit dari sofa dengan cepat, membuat teleskopnya terjatuh karena hilang keseimbangan, dan hampir berakhir dengan hancur berantakan di atas lantai jika saja Lee Chan tidak dengan cepat menyelamatkan hadiah untuknya 2 tahun lalu itu.
"K-kami sedang berjalan lalu kami mendengar suara-suara dari belakang kami. Dia mulai berbicara tentang hal-hal menjijikan pada Wonwoo, atau sejenisnya. D-dan lalu anak buahnya menyerang kami. Mereka mulai memukuliku, tapi lalu mereka membawa Wonwoo, Sungwon menyuruh anak-anak itu untuk melepaskanku, karena bukan aku yang dia inginkan..."
Jun mencoba menceritakan kejadiannya seefisien yang ia bisa, tubuhnya masih bergetar sisa dari pukulan pertamanya yang pernah ia terima. Setelah mendengar informasi itu, Mingyu mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan, seperti perasaannya sedang berkonflik apakah ia harus menyelamatkan Wonwoo atau tetap berpura-pura tidak peduli. Jun menyadari itu dan berkata,
"Demi Tuhan, Mingyu, tidak ada waktu untuk mementingkan harga dirimu saat ini!"
"Aku tahu itu- aku- aku tahu!" Mingyu berteriak balik, panik.
"Kalau begitu, pergilah! Kau bilang kau tidak akan membiarkan Sungwon melakukan apapun pada W-"
Ceramah Jun terpotong ketika Mingyu mengumpat dan mendorong Jun, hampir membuat anak itu terjatuh, dan berlari ke arah pintu. Mingyu berhenti dengan cepat dan berteriak pada Jun yang sedang mengusap-usap punggungnya.
"Dimana dia?!"
"Kami di serang di dekat mini market!" Jun berteriak balik.
Mingyu berdiri di dekat pintu selama sesaat, meskipun rasanya seperti selamanya. Kening lelaki tinggi itu berkerut, dan ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menghitung rute tercepat menuju tempat itu, lalu ia berlari lagi. Lelaki tinggi itu berlari dengan cepat, di perjalanan menuju mini market, Mingyu berkata kepada dirinya sendiri,
"Sungwon, aku bersumpah ketika aku mendaratkan tanganku di wajahmu..."
Suaranya memelan saat ia merasa semakin geram, dan berpikir seberapa banyak rasa sakit yang harus ia berikan pada lelaki itu saat ia bertemu dengannya nanti.
"Sial, Wonwoo, aku sudah mengatakan padamu untuk tidak pergi ke tempat seperti itu."
Sedangkan di markas, Jun sedang diobati oleh Jisoo dan Seungcheol. Menyuruh yang paling muda untuk membeli perban dan es,
"Lee Chan-ah, pergilah dan beli es di mini market."
"Apa? Tidak, hyung! Aku akan diculik juga seperti Wonwoo-hyung." Sahut Lee Chan.
Seungcheol memukul dahinya pelan sebelum memberikan uang padanya,
"Mini market yang lain, bodoh~" yang lebih tua menjawab, mengatakan kata terakhirnya dengan nada bercanda dan kesal pada saat yang sama. Lee Chan mengatakan 'oh' dan meminta maaf lalu bangkit dan pergi meninggalkan markas untuk membeli es. Jun duduk di atas sofa, sembari menunggu es untuk lukanya, Jisoo dengan hati-hati membersihkan lukanya, dan membalutnya dengan plester.
"A-apa menurutmu Wonwoo akan baik-baik saja?" Jun bertanya hati-hati, benar-benar khawatir akan keadaan sahabatnya saat ini.
"Ya, Mingyu mungkin akan memperi Sungwon pelajaran sekali seumur hidup." Jisoo menjawab dengan tenang,
"Apa kau yakin?"
Jisoo mengalihkan tatapannya dari luka yang sedang ia bersihkan, memberikan Jun senyum menenangkan,
"Aku yakin Wonwoo akan baik-baik saja."
Jun mengerenyit saat merasakan sensasi alkohol di lukanya yang terbuka, yang meskipun lukanya kecil, tapi tetap saja itu terasa sakit.
"Oh, maaf." Jisoo berkata dan menepuk-nepuk luka itu dengan lembut. Jun tersenyum berterima kasih sebagai balasannya,
"Jun-ah!" Soonyoung berkata dari seberang ruangan,
"Apa kau memberitahu Minghao apa yang terjadi?"
Jun menggelengkan kepalanya,
"Aku belum memiliki kesempatan untuk memberitahunya, aku langsung datang kemari."
Dan setelah Jun mengatakan itu, Minghao menyerbu masuk melalui pintu, membuat pintu itu terbuka lebar, menabrak dinding di baliknya.
"Yah, Minghao-ya!" Seungcheol berteriak, suaranya dipenuhi kemarahan yang menyebabkan semua orang di markas terkejut.
"Kami baru saja membetulkan pintu itu!"
Seungcheol berteriak, kesal karena Minghao kembali merusak pintu yang baru saja dibetulkan setelah rusak beberapa minggu lalu. Wajah panik dan marah Minghao dengan cepat berganti dengan wajah yang meminta maaf sebelum dengan pelan menutup pintu depan. Seungcheol mengerang dan memutar bola matanya saat Minghao meringis sambil menutup pintu, memperlihatkan dinding dengan sebuah lubang yang tercipta saat gagang pintu itu menabrak dinding dengan keras. Suara tawa terdengar dari semua orang di ruangan itu, menertawai Minghao yang dalam sekejap berubah menjadi seperti anak anjing lucu.
"Maaf, hyung..." Minghao berbisik dan menggaruk belakang kepalanya dengan sebuah senyum lucu di wajahnya.
Lelaki berambut bitu itu lalu mengubah ekspresinya lagi, ingat apa alasannya masuk ke markas seperti itu. Matanya berkeliling ruangan, dan berhenti pada Jun yang sedang menatapnya, takjub setelah melihat apa yang baru saja dilakukan kekasihnya.
"Jun!" ia berteriak, dan berlari menuju Jun yang sedang duduk, menunggu es datang.
Minghao langsung memeluk Jun,
"Ow- Babe, yah- ow" Jun berkata, saat Minghao memeluknya terlalu erat dan menekan luka-luka lebam yang baru ia dapatkan.
"Oh, maaf!" Minghao berkata, melepasnya dengan cepat.
Jun menatapnya dengan sebuah senyum di wajahnya, dan dengan cepat mengecup bibir Minghao, membuat Minghao tersenyum. Minghao mengamati kekasihnya,
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Lee Chan sedang membeli es untuk luka lebamku." Jun memberitahu kekasihnya.
Minghao menggigit bibir bawahnya dan merasa kembali marah, ia melepaskan tangannya dari bahu Jun lalu dengan marah berjalan menuju pintu depan, bergumam,
"Fucking Sungwon, aku bersumpah-"
Soonyoung langsung bertindak, dan menghentikan langkah Minghao sebelum ia berjalan lebih jauh, memegangi pundaknya dan menariknya sambil berkata,
"Yah, yah... Tenanglah,"
Soonyoung menepuk-nepuk punggungnya,
"Mingyu sudah pergi ke sana... Biarkan dia yang mengurus Sungwon, oke?"
"Ya, dialah yang memberitahuku lewat pesan..." Minghao berkata.
Sebuah "Ah" pelan keluar dari bibir Jun saat Minghao memberitahu bagaimana ia bisa tahu apa yang terjadi.
Minghao dan Soonyoung berbalik, dan berjalan menjauh dari pintu,
"Apa Wonwoo baik-baik saja?" Minghao bertanya, pertanyaan itu ditujukan untuk siapa pun yang ada di ruangan itu.
"Aku tidak tahu... Aku hanya berharap Mingyu sampai di sana sebelum sesuatu yang serius terjadi." Jun menjawab.
Anak-anak itu menghela napas berat bersamaan, dan Jun sedikit terkesima melihat kesatuan di antara mereka. Ia sudah menyaksikannya saat malam perkelahian itu, tapi cara mereka saling menyayangi satu sama lain benar-benar mengagumkan.
"Apa Mingyu akan baik-baik saja?" Jun bertanya, dan menerima tatapan dari semua anak di sana. Soonyoung tertawa,
"Yah... Kau sedang berbicara tentang Mingyu. Tentu saja dia akan baik-baik saja." Ia berkata.
"Dia ketua kami kalau kau tidak ingat!" Lee Chan berkata, berjalan melalui pintu depan, sekantung es berada di tangannya. Yang paling muda melihat lubang di dinding di sebelah pintu,
"Minghao hyung!" anak itu berteriak, berjalan menuju Jun yang mengulurkan tangannya untuk mengambil es dan mengambilnya dengan penuh terima kasih.
"Bagus! Sekarang Seungcheol hyung akan menyuruhku membetulkan pintu ini lagi." Lee Chan protes, dan anak-anak lainnya tertawa,
"Maaf, Chan-ah!" Minghao berkata, mengayunkan lengannya ke leher yang paling muda dan mengacak rambutnya.
Jun menaruh es yang baru di dapatnya di bekas lukanya, lalu Minghao duduk di sebelah kekasihnya, menawarkan diri untuk memegangi esnya sambil menyandarkan kepala Jun di dadanya. Jun bisa mendengarkan detak jantung kekasihnya, dan itu terdengar luar biasa. Detak jantung kekasihnya berdetak lebih cepat dari biasanya, menunjukkan kalau ia benar-benar khawatir pada Jun, dan mungkin lebih khawatir pada Mingyu dan Wonwoo.
Markas itu dipenuhi dengan sedikit ketegangan, dan kecemasan karena mereka tahu satu-satunya yang bisa mereka lakukan saat ini untuk kedua teman mereka hanyalah menunggu. Mereka semua mempercayai Mingyu, tapi pada saat yang sama, mereka semua tahu tentang putusnya hubungan mereka beberapa waktu lalu, dan sedikit khawatir apakah Wonwoo dan Mingyu akan baik-baik saja. Juga ada kemungkinan kalau Mingyu tidak datang tepat waktu, atau Wonwoo tidak berada di tempat terakhir kali Jun melihatnya, dan bisa saja situasinya di luar keinginan mereka. Anak-anak itu mengobrol dan tertawa untuk mengalihkan pikiran mereka dari situasi yang menegangkan, sambil menunggu bagaimana hasilnya malam itu.
Sementara itu, Wonwoo sedang ditarik menuju sebuah gang kecil oleh Sungwon dan anak buahnya. Tentu saja, Ketua Kelas itu berontak sekuat yang ia bisa, menolak, tapi setiap kali ia berontak, ia menerima sebuah pukulan yang membuatnya kesulitan bernapas untuk beberapa saat. Wonwoo di lempar ke atas tanah, ia mengerang kesakitan sambil terbatuk, dan saat itulah ia menyadari kalau ada darah di atas tanah yang keluar saat ia terbatuk. Sungwon menarik rambutnya, dan mendekatkan kepalanya supaya ia bisa mengatakan sesuatu tepat di sebelah telinganya,
"Dimana pangeran berkuda putihmu, eh, Wonwoo-ya?"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Wonwoo menjawab,
Sungwon menarik rambutnya semakin keras, membuat Wonwoo mengerang kesakitan,
"Jangan bertingkah sok pintar denganku, Wonwoo... Dimana Mingyu-mu, hm?"
Wonwoo mendengus, ujung bibirnya yang kini dihiasi bercak darah terangkat,
"Dia tidak akan peduli padaku, jadi jangan bertanya padaku."
"Oh?" Sungwon berkata, nada suaranya terdengar tertarik, "Aq~ apa little princess kami putus dengan Evil King?"
Wonwoo menggelengkan kepalanya bebas, dan sambil menggeretakan giginya, ia berkata,
"Aku bukan princess-mu. Dan ya, dia sudah putus denganku."
Sungwon tersenyum miring dan berjongkok, memudahkannya untuk berbicara dengan Wonwoo yang masih berada di atas tanah.
"Ah... Mingyu memang pintar... Sayang sekali aku tidak peduli."
Wonwoo merasa bingung,
"Apa?" ia berkata.
"Oh, ayolah. Kita semua tahu kalau alasannya putus denganmu adalah karena apa yang terjadi pada Seokmin dulu. Dia tahu aku mungkin akan melakukan sesuatu padamu, dan kalau kulihat lagi sekarang," Sungwon menggenggam dagu Wonwoo dengan kasar.
"Dia benar."
Wonwoo merasa takut. Cara Sungwon menggenggam dagunya benar-benar berbeda dengan sentuhan lembut Mingyu padanya.
"K-kau salah. Dia putus denganku karena dia sudah tidak peduli denganku. Mungkin sejak awal dia memang tidak pernah peduli." Wonwoo bersikeras, bertambah gugup memikirkan apa yang akan dilakukan Sungwon selanjutnya.
"Kau bilang dia tidak peduli padamu?" Sungwon berkata.
"Kalau begitu, dia tidak akan peduli kalau ini terjadi padamu?" ia melanjutkan, dan menyuruh anak buahnya untuk memukuli Wonwoo dengan gerakan tangannya. Wonwoo melindungi dirinya dari pukulan dan tendangan yang terus datang bertubi-tubi di tubuhnya. Ia tahu kalau mungkin beberapa tulangnya patah, atau sejenisnya, karena baru pertama kali ia merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti ini. Pandangan Wonwoo sedikit mengabur dengan darah yang terus mengalir dari luka di wajahnya. Dan lalu, seseorang memukul kepalanya keras, membuatnya terjatuh ke atas tanah. Mata Wonwoo melebar, meskipun ia hamper tidak bisa melihat apapun. Pukulan itu mengaburkan pandangannya, dan membuat telinganya berdengung selama beberapa saat, membuatnya berada dalam kondisi setengah sadar.
"Kau masih berpikir kalau dia tidak akan peduli, jika aku melakukan…. ini?" Sungwon menyuruh anak buahnya untuk menghentikan pukulan mereka, dan Wonwoo mempergunakan kesempatan itu untuk menarik napas, dan berusaha tidak menangis dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sungwon berjalan ke arahnya, dan menyentuh tubuhnya kasar. Wonwoo terlalu banyak terluka untuk bisa melawan, tapi ia tetap mencoba sebisa mungkin saat merasa kalau tangan Sungwon memasuki kausnya.
"Tidak. Tidak, berhenti!" Wonwoo berteriak,
Sungwon menjejalkan sebuah bandana ke mulut Wonwoo, meredam teriakannya,
"Shh." Sungwon berbisik, "Ayolah… Kau bilang Mingyu tidak akan peduli, kan?"
Sungwon meletakkan tangannya di tempat yang tidak pernah Wonwoo inginkan. Wonwoo mengerang, dan berteriak dari balik kain di mulutnya, air matanya mulai mengalir selagi ia membayangkan tentang hal mengerikan yang akan Sungwon lakukan padanya. Lelaki di atasnya menurunkan tangannya menuju celana Wonwoo, menyelipkan tangannya ke dekat karet celana training Wonwoo. Wonwoo berteriak dan menggerak-gerakkan tubuhnnya, tapi keadaannya yang setengah sadar sama sekali tidak membantunya. Sungwon tersenyum miring, dan mulai tertawa.
"Kau benar-benar sesuatu, Wonwoo-ya…" dan Wonwoo meringis jijik saat Sungwon dengan paksa mencium pipinya.
Setelah memaksa mencium pipi Wonwoo, Sungwon melihat sekelebat bayangan sesosok lelaki tinggi yang berlari di ujung gang itu. Anak buah Sungwon langsung mencoba menghentikan sosok itu, tapi dengan mudahnya di jatuhkan hanya dengan satu pukulan dari Mingyu. Sebelum Wonwoo sempat melihat siapa penyelamatnya, ia sudah tidak sadarkan diri setelah Sungwon menghantam kepalanya, sekali lagi. Mingyu sampai di sana cukup cepat untuk melihat apa yang coba dilakukan Sungwon pada Wonwoo, untuk melihat seseorang yang bukan dirinya, menyentuh kekasihnya di tempat yang ia tahu tidak akan disukai kekasihnya. Lelaki tinggi itu akhirnya sampai pada Sungwon, yang baru saja bangkit dari posisinya semula. Kombinasi antara rasa marah Mingyu dan sisa tenaga yang masih dimilikinya setelah berlari mampu menimbulkan pukulan yang sangat keras yang kini mendarat tepat di wajah Sungwon. Sungwon terdorong mundur, memegangi hidungnya yang patah dan berdarah. Tapi Wonwoo tidak berhenti sampai di sana, ia terus memukuli Sungwon, tanpa henti. Pukulan ia layangkan pada wajahnya, perutnya, dan Mingyu memastikan untuk mematahkan beberapa tulang Sungwon. Lalu, Sungwon mengeluarkan sebuah pisau lipat, dan menusuk Mingyu dari samping. Mingyu mengabaikan itu, dan menarik keluar pisau itu dari tubuhnya, lalu melemparkannya jauh, supaya Sungwon tidak bisa mengambilnya lagi. Mingyu melanjutkan memukuli Sungwon, Sungwon hampir tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menghentikannya. Saat Mingyu sudah puas dengan apa yang ia lakukan, Sungwon sudah terbaring lemas di atas tanah, dengan wajah lebam yang hampir tidak bisa dikenali lagi, anak itu sekarat. Mingyu kehabisan napas, masih mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, adrenalin mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia berjongkok di sebelah Sungwon dan berkata,
"Sungwon, aku bersumpah, lain kali kalau kau masih mencari masalah dengan kami, aku akan membunuhmu."
Lelaki tinggi itu bangkit, dan berlutut di sebelah Wonwoo, menarik tubuh Wonwoo ke punggungnya, dan mengerang kesakitan saat ia mencoba berdiri. Ia melirik sisi tubuhnya, dan menyadari kalau kini kausnya berwarna merah darah, dan menempel pada tubuhnya. Ia mengabaikannya, dan terus berjalan, memastikan Wonwoo aman di punggungnya.
Di jalan menuju rumah sakit, Mingyu berhenti sebentar di markas, untuk memberitahu teman-temannya kalau mereka berdua baik-baik saja. Ia tidak tinggal terlalu lama di sana, dan meneruskan perjalanannya menuju rumah sakit secepat mungkin, berlari, meskipun setelah mengecek sekilas keadaan Wonwoo di maras tadi dan memastikan tidak ada luka serius. Dari luka lebam yang ia dapati di kulit pucat Wonwoo, Mingyu menyimpulkan kalau mungkin Wonwoo mematahkan beberapa tulangnya, dan harus di bawa ke rumah sakit.
Ketika ia sampai di rumah sakit yang sudah tidak asing baginya, iaberlari mencari dokter dan menelpon kedua orang tua Wonwoo, memberitahu apa yang terjadi pada Wonwoo. Wonwoo masih tidak sadar, dan Mingyu sedikit merasa bersyukur akan itu. Dokter jaga yang berada di rumah sakit membawa Wonwoo, dan meninggalkan Mingyu di ruang tunggu. Anak itu menunggu di sana sampai ia melihat Narin dan Minsung, yang berlari memasuki pintu rumah sakit, ekspresi khawatir terlihat jelas dari wajah keduanya. Mingyu berdiri dari kursi yang sudah didudukinya sejak tadi, lalu membungkukkan tubuhnya sopan pada orang tua mantan kekasihnya. Meskipun setelah apa yang terjadi dan menimpa anaknya, Narin sedikit marah karena Wonwoo terlibat dalam hal seperti ini, tapi ia juga bisa melihat kalau Mingyu juga menderita. Jadi, ia tiba-tiba memeluk lelaki tinggi di depannya, dan mengecup pipinya yang lebam, lalu berbisik,
"Dia masih mencintaimu." Setelah mereka selesai berpelukan, Narin menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu, dan Mingyu balik menatapnya, mencoba mempertahankan wajah datarnya,
"Dan aku juga tahu kalau kau masih mencintainya, Mingyu-ya."
Mingyu tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya tersenyum canggung dan membungkukkan badannya setelah menganggukkan kepalanya pada Minsung. Ia berjalan menjauh, meninggalkan Wonwoo karena orangtuanya sudah sampai, ketika Minsung menyadari bercak darah yang terlihat di atas lantai saat Mingyu berjalan. Tiba-tiba, lelaki tinggi itu pingsan di tengah lorong, membuat Minsung dan Narin berlari dengan khawatir menghampiri Mingyu.
"Mingyu?! Mingyu-ya! Sadarlah," Minsung berkata, sambil menepuk-nepuk wajah Mingyu pelan, "Dokter! Apa ada dokter?!" Pria dewasa itu berteriak.
Ternyata, Mingyu kehilangan banyak darah, tapi dokter meyakinkan orang tua Wonwoo kalau ia akan baik-baik saja setelah istirahat beberapa jam, dan lukanya di perban. Wonwoo masih tidak sadar dan baru terbangun keesokan paginya, ia membuka matanya sedikit, cukup untuk melihat sesosok pria tinggi berdiri di atasnya, memperbaiki letak selimutnya untuk menutupi tubuh Wonwoo yang penuh luka. Wonwoo bertanya-tanya siapa pria itu, tapi ia tidak ingin kalau pria itu tahu ia sudah bangun, jadi ia tidak mau mengambil resiko untuk membuka matanya lebih lebar lagi. Tapi ia tidak perlu melakukan itu. Matanya menatap sekilas sebuah kalung yang terlihat tidak asing tergantung di atas wajahnya, dengan 2 cincin sebagai liontinnya.
Setelah memperbaiki letak selimutnya, Mingyu lalu membuat semangkuk mie instan, menambahkan air panas pada mangkuk mie itu, dan menutupnya. Lalu ia meninggalkan ruangan, dan kembali membawa sebuket bunga yang ia simpan di vas bunga di sebelah meja. Wonwoo yang masih setengah sadar menyaksikan Mingyu menatapnya lama untuk terakhir kali, lalu ia mendengar lelaki itu menghela napas berat sambil menggigit bibir bawahnya, lalu keluar dari ruangan rumah sakit itu. Wonwoo menunggu beberapa lama, kalau-kalau Mingyu akan kembali, dan setelah beberapa menit, ia menghela napas lega, lalu membuka matanya sepenuhnya. Ia menyadari kedua orang tuanya terlelap di sudut kamarnya. Wonwoo menatap keduanya sedih, lalu mengerang kesakitan saat ia mencoba bangkit. Ia mematahkan beberapa tulang rusuknya, dan sekarang memakai penyangga, membuatnya bergerak seperti robot.
"Maafkan aku, Ayah, Ibu…" ia berkata, meminta maaf karena memiliki kekasih yang senang menimbulkan berbagai masalah, meskipun hubungan mereka sudah selelasi. Tapi ia lebih merasa bersalah karena ia masih mencintai Mingyu, dan sekarang ia bertekad untuk mendapatkannya kembali, memikirkan apa yang Mingyu lakukan tadi dan menganggapnya sebagai bukti kalau Mingyu juga masih mencintainya.
Ketika orang tuanya terbangun, mereka langsung bangkit menuju sisi Wonwoo, menanyakan keadaan Wonwoo. Wonwoo mengangguk sebagai jawabannya,
"Ibu, Ayah…" Wonwoo memulai, "Yang membawaku kesini Mingyu, kan?" ia berkata.
Pasangan itu saling bertatapan, lalu Narin dengan ragu berkata,
"I-itu, saying-"
"Kalau dia meminta ibu untuk tidak mengatakannya padaku, terlambat. Aku sudah tahu." Wonwoo berkata, tersenyum sambil menatap jarinya di atas pangkuannya.
"Ugh, aku memiliki kekasih yang sangat bodoh." Wonwoo melanjutkan.
"Tapi tetap saja aku mencintainya… Dan dia juga masih mencintaiku, kan?" Ia bertanya, menatap orang tuanya. Mereka saling bertatapan lalu mereka tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Ibu, Ayah. Apa kalian akan tetap mendukungku- maksudku, kami?" Wonwoo berkata, dan sekarang kekasihnya tahu kalau ia bertekad untuk kembali bersama dengan seorang idiot yang berpikir kalau putus dengannya demi keselamatannya adalah pilihan yang terbaik.
"Tentu saja!" Minsung berkata, sebelum Narin, yang biasanya lebih dulu setuju dengan Wonwoo.
"Apa Ayah yakin?" Wonwoo berkata, tahu kalau persetujuan orang tuanya mungkin adalah hal yang paling penting. Juga, itu akan memberikan dukungan yang besar dalam usahanya untuk mendapatkan Mingyu kembali.
"Kau memilih anak yang sangat baik untuk dicintai, Wonwoo-ya." Narin berkata,
"Meskipun, Ayah tidak pernah tahu kalau kau berkencan dengan seorang bad boy." Minsung berkomentar.
"Bad boy? Apa Ayah yakin?" Wonwoo mengulangi, "Ya, karena bad boy itu meninggalkanku dengan sebuket bunga, dan membuatkanku ramen selagi aku tertidur…" Wonwoo berkata, tertawa pada dirinya sendiri.
"Oke, jadi Ayah berasumsi kalau kau akan mengkonfrontasi Mingyu langsung tentang hubungan kalian?" Minsung bertanya.
"Ya, aku benar-benar berpikir kalau aku harus mencoba dan membuat hubungan kami kembali berhasil." Wonwoo menjawab.
"Tapi, berhubungan dengannya sedikit berbahaya… Apa kau yakin?" Narin bertanya, meyakinkan sekali lagi.
Wonwoo menatap ramen yang masih mengepul, dan menyadari buket bunga yang diberikan Mingyu adalah bunga yang sama dengan yang ia berikan pada Hari Valentine, dan menatap kembali pada orang tuanya dengan senyum percaya diri,
"Aku yakin."
.
.
.
To Be Continued...
Hai... pertama-tama... aku mau ngucapin beribu maaf karena ini ngaretnya sebulan lebih:(( maafkan aku... huhu jadi sebulan ini aku lagi transisi karena baru pindahan kerja jadi masih adaptasi dan hampir ngga ada waktu buat translate ini heu maaf ya...
Terus maaf juga karena kemarin kalo ngga salah aku janjinya ngasih 2 chapter ;-; tapi ngga keburu:( dari pada makin lama mending aku update dulu ini satu ya...
Udah, itu aja sih, intinya aku minta maaf xoxo next chapter chapter favorite aku honestly... jadi tungguin kejutannya next chapter ya...
Still unbeta jadi tolong kasih tau kalo ada typo yaa
Selamat membaca dan semoga seventeen menang MAMA hari ini! Seventeen collab sama nuest is all i've ever asked yeah \m/
Read n Review?
Love,
seulgibear
