Love in Secret

.

.

.

.

.

.

.

{Roronoa Zoro, Haruno Sakura} {Nami, Sanji}

.

.

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

Naruto, One Piece

.

.

.

DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!

Selamat Membaca!

Robin memandang pria yang sekarang memandangnya dengan pandangan bertanya. Rasanya dia seperti kembali ke masa lalu. Dia seperti terkena dejavu dan jantungnya berdegub tidak karuan.

Saat dia dan kedua saudara angkatnya menjadi anak asuh dari Rayleigh, mereka memiliki teman bernama Kenshi. Dia murah senyum dan sangat menyenangkan. Dia sebaya dengan Nami dan mungkin sedikit lebih menyebalkan.

Mereka sering kali bermain bersama, membolos dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Hingga kemudian Kenshi meninggal kare a kecelakaan saat mengetahui Sakura sakit demam. Padahal, hari itu Kenshi berniat untuk mengungkapkan semua perasaannya pada Sakura.

Sebagai teman semasa kecil, Kenshi sudah lama menaruh hati pada Sakura. Kenshi hanya bisa memandang Sakura dari kejauhan tanpa bisa mengungkapkannya. Dan saat keberanian itu datang, Kenshi harus pergi tanpa sempat mengucapkan semuanya.

Saat itu adalah masa SMA dan dirinya juga Nami berada di kelas dua sekolah menengah atas begitu pula dengan Kenshi. Sedangkan Sakura berada di sekolah menengah pertama.

Sakura sangat depresi dan frustasi. Dia mengurung dirinya hampir seminggu lamanya dan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Kenshi. Hatinya tercabik-cabik melihat bagaimana Sakura begitu terpukul.

Lalu, siapakah yang harus disalahkan? Kami-sama?

Angin sore menerbangkan rambut milik Robin. Berjalan mendekat, Zoro memasang wajah waspadanya.

"Roronoa Zoro?" tanya Robin.

"Mau apa kau?" Zoro memandang wanita dihadapannya.

"Aku hanya ingin memastikan jika kamu bukan Kenshi."

"Jadi, kau teman dari orang-orang aneh itu?" tanya Zoro.

Robin tidak bisa menahan tawanya. Dia mendudukan dirinya di samping Zoro dan menerawang jauh.

"Mereka bukan orang-orang aneh. Hanya saja-"

Zoro mengorek telinganya dan memandang Robin dengan pandangan cuek. Dia bangkit dari duduknya dan memasukan tangannya ke saku celananya.

"Aku tidak tahu apa maksudmu menceritakan hal itu padaku. Hanya saja yang pasti, aku bukan teman kalian yang bernama Kenshi itu dan aku tidak mengenalnya."

Melangkahkan kakinya, Zoro berjalan menjauh. Dia membuka pintu atap kampus.

"Zoro."

Panggilan Robin membuat Zoro menghentikan langkahnya.

"Apa kamu percaya dengan takdir?"

Zoro tersenyum meremehkan.

"Aku tidak percaya takdir. Aku bahkan tidak percaya pada dewa."

Ditinggalkan seorang diri, Robin tersenyum. Dia sedikit menyingkap rambutnya.

"Menarik."

.

.

.

.

"Tidak bisa. Itu adalah syarat jika kamu ingin mengikuti ujian."

Sakura menggigit bibirnya dan memandang dosennya. Sekarang dia berada di ruangan dosennya.

"Tapi Hancock sensei, saya tidak bisa melukisnya."

"Katakan alasanmu tidak mau melukisnya." Boa Hancock memandang mahasiswinya.

Menundukan kepalanya, dia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia jadi teringat dengan masa lalunya.

"Tidak mungkin, Kenshi-kun.."

"Maaf Sakura, dia sudah menemui Kami-sama."

"Ini pasti salahku.. Kenshi-kun.. Kenshi-kun.."

"Kenapa kamu malah melamun?"

Mengangkat kepalanya, Sakura menarik napas panjang dan mengambil tasnya.

"Kalau begitu saya permisi, sensei."

Boa Hancock memandang Sakura dengan pandangan bingung. Tidak biasanya Sakura bersikap pasif seperti ini.

.

.

.

Mustahil. Mustahil.

Dia pindah ke Tokyo untuk melupakan masa lalunya. Dia tidak mungkin terus hidup di bawah bayang-bayang orang yang bahkan sudah tiada. Dia tidak mengerti mengapa Cinta harus serumit ini.

Saat Kenshi meninggal, hampir setiap hari dia datang ke makam Kenshi dan mengganti bunga yang telah layu dengan yang baru. Ayah angkatnya bahkan sangat khawatir dengan kondisinya. Hingga akhirnya, kedua kakaknya memutuskan untuk membawanya ke Tokyo untuk memulai lembaran baru.

Bohong jika dia mengatakan sudah melupakan segalanya. Nyatanya, semuanya masih terasa sangat nyata. Masih hangat dalam benaknya ketika Kenshi di makamkan di tengah guyuran hujan.

"Sakura-cwhan!"

Menghentikan langkahnya, Sakura memandang Sanji yang sedang melambaikan tangannya. Sakura mencoba tersenyum sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantin.

"Kenapa wajahmu pucat, Sakura-cwhan?" tanya Sanji.

"Tidak. Aku hanya sedang lapar." Sakura tersenyum dan mendudukan dirinya di samping Luffy yang sedang makan. "Dimana Nami-nee?"

"Dia sedang ada kelas." Ussop yang sedang membaca komik menjawab.

"Oh."

"Makanlah dulu, Sakura-chan. Aku yang membayarnya." Sanji meletakan sepiring onigiri dihadapan Sakura.

"Terima Kasih, Sanji-nii."

Sakura memandang onigiri dihadapannya. Dia lupa jika memiliki orang-orang yang sayang padanya. Tetapi permintaan dosennya membuatnya gundah. Disaat dia ingin melupakan semua yang terjadi, tiba-tiba saja orang itu kembali hadir.

"Kauh kenapwah Sakurah?" tanya Luffy sembari memakan daginya.

"Bicara yang benar baru makan, dasar bodoh." Sanji menghidupkan rokoknya.

"Kau mau daging?" Luffy menyodorkan daging di tangannya. "Tapi hanya setengahnya saja."

"Kau ini masih saja pelit." Ussop menanggapi.

"Sakura-chan, ceritakan saja apa yang menjadi beban hatimu. Kami pasti akan membantu," ucap Sanji.

Sakura menundukan kepalanya dan meremas pakaiannya.

"Aku hanya sedang bingung. Hancock sensei memintaku untuk menggambar model yang mirip dengan Kenshi-kun. Bukankah kalian tahu, jika aku.. Aku.."

"Kami paham, Sakura." Ussop memotong kata-kata Sakura. "Apa tidak ada jalan lain?"

"Aku sudah bicara dengan Hancock sensei, tapi beliau tetap bersikeras."

"Oi, Luffy." Sanji menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Bantulah Sakura-chan dengan bicara pada kekasihmu itu."

"Oh, boleh." Luffy tersenyum lebar. "Tapi kamu harus mentraktirku sepuluh daging!"

Dan sebuah jitakan dihadiahkan Sanji untuk Luffy.

oOo

Zoro menguap lebar dan merebahkan dirinya di ranjangnya. Memandang langit-langit kamarnya, dia teringat pada pembicaraannya dengan wanita cantik bertubuh semampai di atap kampus tadi.

Tidak. Kenapa pula dia harus memikirkannya? Takdir? Dia bahkan tidak pernah berdoa pada dewa. Seumur hidupnya, dia tidak mengenal adanya dewa. Meski ibu dan adiknya seringkali berdoa di kuil.

Ada hal lain yang harus dia pikirkan.

"Nii-chan." Peronna membuka pintu kamarnya dan memandangnya. "Keluarlah untuk makan malam. Sebenarnya apa yang kau pikirkan."

Peronna adalah adiknya satu-satunya. Adiknya adalah penggemar boyband korea dan dandanannya sangat nyentrik. Dia tidak paham dengan jalan pikiran adiknya, dan adiknya adalah orang yang mampu berdebat dengannya. Lagi pula, adiknya itu super cerewet.

"Aku akan keluar untuk makan."

Zoro sengaja pulang ke rumah milik ayahnya saat ayahnya tidak di rumah dan tidak keluar untuk makan malam. Dia hanya tidak siap untuk bertemu dengan orang yang menjadi ayahnya. Ingatannya tentang seorang ayah sangat samar, dia hampir tidak pernah memiliki bayangan tentang seorang ayah.

Di usianya yang kesepuluh tahun, ibunya memasukan dirinya ke salah satu dojo untuk berlatih pedang. Kemudian ibunya bercerita jika ayahnya adalah seorang pendekar pedang yang hebat dan bekerja untuk kepolisian Jepang. Tetapi dia tidak tertarik dengan kepolisian atau apapun itu. Dia berlatih pedang hanya untuk mengisi waktu luangnya.

Meski sekarang dia tinggal bersama ayahnya, tapi tetap saja ada rasa canggung. Apalagi sekarang orang yang paling dia sayangi sudah tiada.

Melangkahkan kakinya menuju ruang makan, dia melihat Peronna makan seorang diri. Ada rasa bersalah hinggap dalam hatinya ketika melihat adiknya makan seorang diri. Ayahnya adalah orang yang gila kerja dan dia sengaja menghindari ayahnya. Dia tidak memikirkan bagaimana perasaan adiknya.

"Oi." Zoro mengambil tempat di samping adiknya. "Bagaimana jika aku mengantarkanmu sekolah besok?"

Peronna memandang kakaknya dengan pandangan tidak percaya. Dia bahkan sampai menjatuhkan sendoknya karena terkejut.

"Apa? Apa yang terjadi padamu, nii-chan? Kau menyeramkan."

Tidak bolehkah Zoro menebus semuanya untuk adiknya?

.

.

.

.

"Oh ah.. L-Luffy-kunhh.."

Suara deritan ranjang dan suara alat genital yang menyatu dan bertabrakan terdengar memenuhi sebuah ruangan di sebuah apartemen mewah. Aroma seks menguar dengan hebat di tengah pertarungan panas sepasang adam dan hawa yang saling membagi Cinta.

Monkey D. Luffy sibuk menggerakan pinggulnya dengan wajah memerah dan penuh kenikmatan merengkuh surga dunia yang sedang dijelajahinya. Di bawahnya, Boa Hancock melebarkan kedua kakinya dan memeluk pinggang Luffy yang sedang menyodok-nyodok miliknya. Suara desahannya menggema di seluruh kamar dan mereka tidak perlu takut akan gangguan yang datang. Karena itu adalah apartemen pribadi milik wanita cantik itu.

"Luffy-kunh.. Luffy-kunhh.."

Boa Hancock terlihat sangat seksi dan menggairahkan dengan payudara yang bergerak seirama denga sodokan Luffy dan wajah yang memerah. Luffy meremas kedua payudara Hancock sebelum melumat bibir sensual itu.

"Aku akan keluar." Boa Hancock semakin mengeratkan kakinya dan Luffy sangat menyukai bagaimana milik kekasihnya itu menjepit miliknya.

"A-aku juga.."

Tiga puluh detik kemudian, Luffy memasukan semua miliknya dengan tubuh bergetar, begitu pula dengan Hancock. Mereka sudah mencapai Puncak dari surga dunia yang menyenangkan. Luffy ambruk diatas tubuh kekasihnya dan membuat peluh mereka menyatu.

"Permainanmu masih hebat seperti biasanya, Luffy-kun." Boa Hancock mengelus rambut kekasihnya.

"Hancock, ada yang ingin aku katakan." Luffy mengangkat kepalanya dan memandang kekasihnya. "Apakah kamu bisa membatalkan tugasmu?"

"Hah?" Hancock memandang Luffy dengan pandangan tidak mengerti. "Tugas?"

"Sakura-chan." Luffy tersenyum lebar dan tanpa dosa. "Bisakah kamu membatalkan tugasmu untuk melukis pria berambut hijau itu?"

"Kenapa kamu ingin aku membatalkannya?" tanya Hancock.

"Karena aku tidak bisa melihatnya murung terus."

Sebuah suara gaduh pukulan terdengar disertai oleh pintu yang dibanting.

"Hancock, kenapa kamu mengunciku diluar? Hancock, aku kedinginan." Luffy merengek dan menggedor pintu apartemen Hancock.

"Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu."

"Ne, Hancock." Luffy menarik napas panjang. "Ya sudah, mungkin aku bisa menginap di rumah Ussop."

.

.

.

"Dinginnya."

Nami memeluk dirinya sendiri saat salju turun. Dia memandang kiri dan kanan ketika jalanan sudah mulai sepi. Dia ada tugas yang harus di kerjakan di kampus dan membuatnya lupa waktu. Jika bukan karena tukang sapu yang menyuruhnya pulang, mungkin dia akan di kampus sampai larut malam.

Dia sudah menghubungi Sanji dan meminta pria itu untuk menjemputnya. Akan tetapi, sepertinya kekasihnya itu akan terlambat karena restauran yang ramai saat malam hari seperti ini.

"Nami-swaaan!"

Suara menggelegar yang dia kenali terdengar. Dari jauh, dia bisa melihat Sanji datang dengan baju hangat yang berwarna hitam.

"Maaf aku terlambat. Ketika menerima teleponmu aku langsung berlari kesini."

"Kau berlari?" Nami tidak tahu apakah pilihannya untuk menjadi kekasih Sanji adalah benar. Mengingat Sanji adalah makhluk yang bodoh setelah Luffy.

Jarak antara Baratie dengan kampus mereka cukup jauh. Dia tidak tahu apakah Sanji memang sungguh bodoh atau gila. Dia berlari demi menjemputnya. Entah dia harus terharu atau mengamuk.

"Ayo Nami-swan, kita pulang." Sanji memeluk pinggang kekasihnya dengan erat. "Kamu lelah? Jika kamu lelah aku bisa menggendongmu."

"Tidak perlu, Sanji-kun. Aku tidak mau membuatmu kelelahan setelah berlari."

"Oh Nami-swan, aku mencintaimu."

"Hai' hai'"

.

.

Sakura menekuk lututnya dan memandang kartun malam yang sedang tayang. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam dan kakaknya yang berambut oranye itu tak kunjung pulang. Dia percaya kakaknya akan baik-baik saja selama bersama dengan kekasihnya, tetapi dia tetap khawatir.

Robin sedang membaca buku di kamarnya. Sudah menjadi rutinitas Robin sebelum tidur, dia juga tidak berniat mengganggunya. Kemudian pikirannya menerawang jauh.

Tidak mungkin Kenshi hidup lagi. Seumur hidupnya, tidak ada penyesalan terbesar selain kematian Kenshi. Andaikan dia tidak sakit dan Kenshi dengan gegabah ingin menyusulnya, dia tidak mungkin kehilangannya.

Tetapi, pria berambut hijau yang baru-baru ini dia ketahui bernama Zoro sangat mirip dengan Kenshi. Dia tidak tahu apakah ini memang takdir, ada seseorang yang benar-benar mirip bahkan hingga nyaris seratus persen.

Mungkin yang membedakannya adalah sifatnya. Kenshi memiliki sifat yang dewasa dan murah senyum. Sedangkan pria yang bernama Zoro ini terlihat cuek, acuh tak acuh juga berandalan. Tetapi tetap saja, itu membuat sesuatu dalam dadanya bergetar.

"Kenshi, apakah kamu bermaksud untuk membuatku melupakanmu?"

Pintu apartemen mereka dibuka dan Nami muncul dengan pakaian hangatnya. Di belakangnya, Sanji muncul dengan rokok di tangannya. Pria berambut kuning itu memeluk dirinya sendiri.

"Dinginnya." Sanji memandang kekasihnya. "Mau coklat hangat?"

"Boleh. Terima Kasih, Sanji-kun." Nami tersenyum. "Sakura? Kenapa belum tidur?"

"Aku belum mengantuk." Sakura mengerling nakal memandang kakaknya. "Tenang saja, aku tidak akan mengganggu nee-chan kok, jika ingin melakukannya dengan Sanji-nii. Aku akan tutup telinga."

Kok kesel ya?

oOo

"Mou, nii-chan. Sudah aku katakan jika aku akan baik-baik saja." Peronna menatap kakaknya dengan kesal.

"Aku kan hanya mengantarkanmu sampai disini saja." Zoro mengabaikan beberapa remaja kelebihan hormon yang menatapnya. Dia tidak berminat dengan gadis ingusan atau gadis yang berpenampilan seperti orang dewasa.

"Sudah, aku mau masuk. Nii-chan cepatlah berangkat kuliah."

Zoro memandang adiknya yang masuk ke dalam sekolahnya dengan bercengkrama bersama teman-temannya. Setidaknya adiknya sudah bahagia dengan hidupnya. Membalikan tubuhnya, Zoro melangkahkan kakinya menuju kampusnya.

Matanya kemudian menatap wanita berambut pink yang berjalan menuju kantin. Wanita itu tampak cantik dengan balutan pakaiannya. Entah kenapa, dia menghafal bagaimana rupa Sakura karena kesan pertama saat dia memasuki kelas dosennya untuk menjadi model yang dilukis. Sakura bersikap aneh dan gadis itu langsung keluar dari kelas.

"Yo. Sakura." Franky yang sibuk dengan peralatan robotnya menolehkan kepalanya. Robin duduk di samping pria berambut biru itu.

"Ara, Sakura-chan." Robin tersenyum. "Tadi pagi aku ingin membangunkanmu, tapi tampaknya kamu sangat kelelahan. Kamu juga tidak ada kuliah pagi, bukan?"

"Iya, untungnya." Sakura tersenyum.

"Sakura-cwhan!" Sanji menghampiri adik dari kekasihnya itu. "Apa kamu sudah sarapan? Ingin makan apa?"

"Bisa pesankan aku sandwich dan coklat hangat?"

"Segera datang!" Sanji dengan hati yang berbunga-bunga berjalan untuk memesankan makanannya.

"Oi, Nami. Aku masih tidak percaya jika dia sudah bertaubat." Ussop memandang Nami yang sedang menarik napas panjang.

"Sepertinya itu memang penyakitnya dari lahir. Aku tidak memperhatikannya sedikit saja maka dia akan menjadi seperti itu, dasar." Nami mendudukan dirinya di salah satu kursi. "Dimana Luffy? Biasanya dia sudah datang terlebih dahulu untuk makan."

"Aww, aku juga belum melihatnya."

"Ngomong-ngomong soal Luffy-" Ussop sengaja menggantungkan kata-katanya.

Dari kejauhan, seorang pemuda dengan rambut acak-acakan berjalan menuju kantin. Beberapa orang memandangnya dengan pandangan ngeri.

"Teman-teman."

Saat mereka menolehkan kepalanya, mereka terkejut melihat apa yang ada dihadapan mereka.

"Luffy?!"

Luffy dengan wajah lesu dan wajah yang babak belur mendudukan dirinya di sebelah Nami.

"Sanji! Daging!" Luffy beteriak.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Nami.

"Dia diusir dan dihajar oleh Hancock." Ussop mewakili menjawab.

"Aw, dia ganas juga ternyata." Franky menimpali.

"Tapi aku pikir, Hancock mencintai Luffy."

"Memang apa masalahnya?" Nami memandang Luffy dengan pandangan bingung.

"Aku membicarakan Sakura saat sedang bercinta dengannya. Aku pikir dia bisa membatalkan tugasnya untuk meminta Sakura melukis seseorang yang mirip Kenshi itu."

"Bodoh. Kalau mau meminta Hancock untuk melakukannya, jangan lakukan itu saat bercinta. Bodoh." Nami mendumel.

"Maafkan aku, Luffy-nii. Ini pasti salahku. Aku tidak seharusnya menceritakan ini."

"Jangan begitu, Sakura-chan." Sanji meletakan makanan pesanan Sakura diatas meja. "Kami semua peduli padamu dan ingin membantumu."

Sakura menganggukan kepalanya dan sedikit mengusap sudut matanya. Nami tidak bisa menahan senyumnya, melihat bagaimana kekasihnya bersikap dewasa terhadap adiknya. Mana mungkin dia tidak jatuh Cinta pada Sanji?

.

.

.

.

.

.

"Terima Kasih banyak, datang kembali."

Sakura tersenyum kepada pelayan roti yang tersenyum. Sepulangnya kuliah, dia mampir menuju toko roti yang sejalan dengan stasiun. Sebelumnya dia juga pergi ke toko buku untuk membeli beberapa novel dan mampir ke toko roti setelahnya.

Dia yakin, sesampainya dia di apartemen. Kekasih dari kakaknya itu pasti akan mengomelinya. Karena dia membeli roti padahal kekasih kakaknya adalah seorang koki. Ponselnya bergetar, satu tangannya mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk.

Nami-nee : kau dimana, Sakura? Kenapa belum sampai di apartemen?

Sakura membiarkan pesan kakaknya begitu saja dan kembali memasukan ponselnya. Dia hanya butuh ketenangan setelah semua yang terjadi. Dia terus berjalan menuju stasiun dan membayangkan betapa nikmatnya membaca novel sambil memakan roti.

Dia tidak menyadari jika ada beberapa pria yang berlawanan arah dan melewatinya tiba-tiba berhenti. Mereka menolehkan kepalanya sebelum tersenyum.

"Bos pasti akan suka dengannya."

.

.

.

Sakura merasa gelisah ketika bebarapa pria mengikutinya. Dia bukannya tidak sadar, tetapi dia merasa panik dan langkah kakinya menjadi semakin cepat. Dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi siapapun.

"Nee-chan, angkatlah."

Langkah kakinya terhenti ketika dia berada di sebuah gang buntu.

"Kau tidak akan bisa lari lagi, cantik."

Sakura meneguk ludahnya dan sambungan telepon kemudian terhubung.

"Sakura, ada apa?"

"Nee-chan, tolong aku."

Sakura menatap ngeri beberapa pria yang berjalan mendekat itu dan kakinya sudah gemetar.

"Sakura-"

Pletak!

Sebuah Batu mengenai salah satu pria yang ada di belakang.

"Sialan! Siapa itu?!"

Seorang pemuda berdiri tidak jauh dari mereka dengan Batu krikil di tangannya. Tatapan matanya menyeramkan.

"Siapa bilang kalian boleh menyentuhnya?"

Sakura menatap pemuda itu dengan pandangan tidak percaya.

"Kau-"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Hai hai! Ada yang suka sama jalan cerita ini gak sih? Entah kenapa pengen bikin aja wkwkwkwkwk..

Mungkin cerita yang lain akan dilanjut secara bertahap, harap bersabar ya! Sampai ketemu di chap depan! Jangan lupa tinggalkan komentar di kotak review!

-Aomine Sakura-