Yang dikhawatirkan teman-temannya terjadi.

Bukan hanya mengalami lemah-letih-lesu, Mina terlihat tidak mood di segala keadaan. Emosinya naik turun seperti jet coaster.

"Sudahlah Mina, berhenti diet saja. Lagipula apa pengaruhnya sih naik satu atau dua kilo?" Ami mencoba mempengaruhi ksatria nomor urut lima itu dengan menggeser sepiring crepes di atas meja dengan harapan Mina akan tergerak untuk mencomot makanan menggiurkan itu, "Aku lebih was-was kalau nilaimu jatuh satu atau dua angka."

Benar-benar logisnya Ami.

"Aku juga berusaha tidak memikirkannya, tapi kepikiran terus." jujur Mina.

Sejenak pembicaraan itu menyita salah satu wajah baru yang ikut berada di ruangan. Tangannya masih fokus menulis jawaban dari soal-soal yang dihidangkan oleh buku cetak, "Aku sependapat dengan Ami. Sebaiknya kau berhenti diet."

"Aku tidak mau, Haruka!

Yang berambut pendek mengangkat bahu kalem menanggapi penolakan. Berbeda dengan gadis berambut ikal di sebelahnya. Tangan Mako seperti sudah gatal ingin menyodok crepes yang sedang dimakannya ke dalam mulut Mina.

"Pokoknya hari ini semua makanan di meja harus habis!"

Gadis beranting mawar itu ikut-ikutan kesal dengan acara diet kali ini, pasalnya makanan yang susah payah dibuatnya lebih sering bersisa jadinya dia bertanggung jawab menghabiskannya. Lihat sekarang siapa yang kiloannya terancam naik.

"Tidak. Tidak. Tidak. Aku sudah bertekad!" mina menggebrak meja dengan kaleng sodanya miliknya yang sudah kosong, "ada pepatah bersakit-sakit dulu karena tepian pasti ada!"

Kayaknya pepatah Mina melenceng banget ke salah satu lirik sister grup dari idola negeri Sakura yang sedang naik daun. Ami cuma bisa geleng-geleng, malas mengoreksi.

Diet Mina sudah berlalu tiga minggu sejak pertama dikumandangkan, dua minggu sejak olahraga dilakukan dan seminggu sejak Haruka melakukan pengawasan, tapi hasilnya tetap nihil.

"Kau berjanji untuk membantu mengawasi diet Vi, kan? Bagaimana nih, Haruka?" suara Usagi yang terdengar gugup malah terdengar manis di telinga Haruka.

"Aku memang membantu mengawasi, tapi hanya itu. Tidak lebih." walau kata-katanya terdengar cuek, tapi Usagi yakin pangeran tampan itu sedang memikirkan sesuatu. Soalnya dia berkali-kali memergoki sepasang safir gelap Haruka mengawasi Mina diam-diam.

Tapi dasar Usagi, dia tetap mengutarakan apa yang ada di pikirannya blak-blakan termasuk mengucapkan kata apatis, "Bohong!"

Haruka hanya tertawa menanggapi. Sekali lagi maniknya mengintai kembaran sang putri bulan kini sedang bersama sang gadis bermahkota biru gelap—yang sedang berjuang menginterogasi Mina dengan pikiran logis dan bahasa se-down to earth mungkin.

Harus Haruka akui, dia kagum dengan sosok Ami yang benar-benar ulet.

"Mina, satu hal…" putri tunggal keluarga Mizuno itu terdengar lebih serius,

"—kenapa. kau. harus. diet?"

Beberapa detik Mina hanya menatap teman seperjuangannya itu dengan pandangan polos sebelum nyengir kuda, "Soalnya aku punya rencana ikut acara take me out buat cari jodoh!"

Ami muntah pelangi.


「 "I thought: This is not racing, it's a suicide mission."

—Barry Sheene 」


Entah ada angin apa Ami akhirnya memutuskan mengikuti jadwal olahraga Usagi dan Mina yang (akhirnya diketahui) ternyata berakhir di game center. Awalnya gadis berambut biru pendek itu memicing tajam pada junjungannya yang terus menyumput di balik punggung Mina. Tidak ada dalam kamus logisnya kalau mengajak orang ke game center untuk berolahraga, tapi melihat kondisi fisik Mina sedang dalam tahap kronis, mau tidak mau Ami luluh juga.

Tidak hanya Ami, Rei dan Mako juga ikut datang beriringan. Yah, sekalian refreshing plus memantau perkembangan pemeran utama kita kali ini.

"Haruka!"

Sebuah nama membuat gadis-gadis itu melihat ke satu sosok tinggi yang sudah berdiri di sebelah Makoto. Gadis berambut ikal itu sendiri menyingkir beberapa langkah karena kaget.

"Hai. full team nih?" tanya Haruka teduh sambil menggandeng helm merah kesayangannya.

"Iya, kami semua sedang jalan-jalan."

"Bukannya kalian semua seharusnya sibuk belajar?"

"Haruka sendiri tidak belajar?"

Ami begitu cerdas membalikkan pertanyaan.

"Hari ini jadwalku main. Lagipula besok kita juga belajar bareng, kan?" jawabnya menggampangkan. Tapi mengingat prestasi Haruka di sekolah memang tergolong baik, Ami terpaksa bungkam.

"Ngg, Minako bagaimana?" Rei yang selama ini terlihat cuek mulai menunjukkan rasa cemasnya.

"Aku kenapa?"

Lagi—Mako menjerit sawan karena terperanjat kedua kalinya hari itu. Untung dia sering makan makanan bergizi dan berlatih keras sehingga jantungnya terlatih. Tapi untuk emosi sih lain soal, "Kalo muncul jangan ngagetin dong!" sewotnya.

"Sudah beres olahraganya?" tanya Ami datar.

Kalo dilihat seksama, ada aura pekat dan logo palang merah imajiner timbul di daerah kepalanya. Yang dilihatnya, Mina dan Usagi sedari tadi hanya memainkan game balap atau pukul buaya. Mereka bahkan tidak menyentuh mesin dansa yang jelas lebih banyak mengeluarkan keringat. Ami lagi mencoba menahan darahnya yang mulai naik.

"Seru banget! Aku haus nih!" seru Mina ringan tanpa dosa.

"Bareng yuk, kebetulan aku juga baru mau beli minum." Haruka melangkahkan kaki ke mesin penjual minuman otomatis yang terletak agak jauh. Mina mengangguk lalu mengikuti langkah Haruka.

Sesampai di depan mesin pendingin, Mina menunggu gilirannya dengan sabar. Setelah Haruka membeli sebotol air, gadis itu menyusul membeli sekaleng kopi dingin. Dengan tidak sabaran dia membuka tutupnya dan menenggaknya mantap. Agak terburu-buru hingga ada tetes mengalir bebas dari ujung bibirnya, melewati kulit putih lehernya yang halus menggoda, Haruka tidak mengabaikan hal itu.

"Minako."

"ya?"

Tidak tertarik menjelaskan, sang ksatria Uranus menarik lengan mungil sasarannya kemudian menyeretnya kasar ke kamar mandi.

Iya kamar mandi—tapi yang khusus cowo karena saat itu memang sedang tidak ada orang. Berbeda dengan kamar mandi perempuan yang selalu penuh antrian setiap saat padahal tidak ada sembako di sana.

"Haruka! Apa-apaan—" Mina protes keras saat Haruka menghempasnya dengan tidak manis ke dinding yang ada. Bahkan kaleng kopinya yang masih setengah penuh harus dia relakan terhempas hingga isinya menggenang di lantai. Mina berjanji akan meratapi soal ini nanti.

"Dengar daritadi aku melihatmu dan sangat tidak tahan." Haruka mendesis sensual.

"M-melihat apa?"

"Kau ingat aku pernah bicara soal neraca bening, kan?"

Merasakan hembus napas lawan bicara sudah menyentuh ujung hidungnya, Mina cuma mengangguk cepat seperti orang kesetrum. Ada semburat merah muda menghiasi kedua pipinya sekarang.

"—Aku akan mengajarkannya padamu, walau memakai cara kasar." Haruka mendesak isi tangannya ke dada Mina, membuat sang gadis meloloskan jerit tertahan.

"Tunggu Haruka! Apa yang—"

"Buka!"

"Ah—eh—ahh—" Mina gelagapan mendengar perintah ambigu Haruka.

"Atau aku yang buka dan memasukkannya ke mulutmu."

BLUSHHH

Sedikit ketakutan Mina menuruti perintah Haruka, jemarinya gemetar karena tekanan yang dipancarkan rekan sailor di depannya. Semua Pretty Soldier tahu kalau Haruka adalah seorang wanita juga. Tapi entah kenapa Jantung Mina berdetak sekencang mobil di arena balap. Eh tunggu, sebenarnya dia juga tidak yakin Haruka itu cewe 100%, yang dia tahu pelindung Uranus itu memakai rok melambai saat bertugas sebagai pretty soldier. Titik.

Hei! di jaman post modern, laki-laki crossdress dan metroseksual itu sudah biasa!

"S-sudah kubuka."

Gadis itu makin terpojok saat Haruka mendekatkan wajahnya yang terlanjur merah padam, "Yah kau tahu kelanjutannya, tunggu apalagi?"

Bagi Mina sekarang bumi mungkin berputar penuh hanya dalam beberapa detik karena kepalanya mendadak pusing.

Samar, tawa teman-temannya yang tak jauh masih terdengar di telinga Mina. Ah—yang lain sedang asik bersenda gurau tanpa tahu punggungnya sedang bermesraan dengan dinginnya dinding kamar mandi plus oksigen minim di dalam otaknya. Membuat seluruh muka gadis itu sudah sewarna pita merah besar yang menghiasi helai indah panjangnya yang keemasan.

Tidak melepas kontak mata dengan Haruka, Mina mulai membuka sepasang bibir ranumnya sesuai perintah.


.

.

.

"Mina, kau terlihat segar."

"kulitmu juga makin cerah."

"Dan kau jarang mengeluh sakit pinggang akhir-akhir ini, apa ada yang terjadi?"

Sementara yang menjadi topik pembicaraan hanya mesem-mesem mencurigakan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan ujung kuku. Seketika wajahnya memerah ketika tahu sosok Haruka masih hadir bersama lima sekawan itu dalam belajar kelompok mingguan.

"Jatuh cinta lagi, ya?"

JLEBBBBBB

Tolong, deh! Kenapa Usagi itu orangnya tidak pernah peka sih.

"Ya, gitu deh. Dietku berhasil. Makasih ya semua…" tutur Mina sambil melebarkan simpul senyum.

Mendengar itu, sontak semua yang di ruangan (kali ini termasuk Rei) berteriak kegirangan. Walau tidak sedang ulang tahun, Mina diberi selamat secara berlebihan. Bahkan ada acara menyanyi lagu kebangsaan segala yang dilantunkan sumbang oleh Usagi.

"Kok bisa? Padahal katanya kau sudah menyerah?" Rei berusaha menyembunyikan lagi rasa senangnya. Ah—Rei memang Tsun.

"Jangan bilang kau tidak makan selama seminggu atau olahraga ekstrim setiap hari." air muka Makoto mendadak horor. Maklumlah, gadis berambut ikal itu kan sangat memperhatikan detail asupan gizi ke perut teman-temannya. Kalau sampai ada rekan sesama sailor dinyatakan kurang gizi, mungkin dia bisa menangis siang malam sampai yang bersangkutan sembuh.

Entah kenapa pipi Mina semakin panas sehingga dia kesulitan menjawab, "Bukan, t-tapi…"

"Dia hanya gagal mengukur neraca bening." Haruka mengganti posisi Mina untuk menjawab.

"Neraca bening?" tanya semua gadis kompak.

"Mitos lama. Neraca bening sendiri digunakan para gadis Yunani untuk mengukur persentase asupan likuid ke dalam tubuh mereka."

"Apa cuma aku yang bingung di sini?" jujur Usagi sambil menggosok-gosok belakang kepalanya.

"Yang kumaksud itu air, tuan putri."

"Air?"

"Kalian tidak lihat selama ini yang diminum Minako hanya jus, teh dingin, soda, minuman-minuman kaya pemanis buatan? Aku tidak pernah sekalipun melihatnya minum air mineral." jelas Haruka sambil membuka majalah sport di tangannya, sementara muka orang yang dibicarakan semakin terbakar karena aibnya terbongkar, "Kalian memerhatikan asupan gizi dan olahraga untuknya, itu bagus. Tapi dia kesulitan menurunkan berat badan serta keluhan sakit pinggang karena kekurangan air dengan oksigen cukup."

Mako yang menyadari hal itu langsung ikut malu. Sebagai pemerhati makanan sehat, dia tidak menyangka bahwa hal kecil seperti air mineral ternyata mempunyai dampak yang sangat besar. Mungkin setelah ini dia akan menangis di kamar, meratapi kebodohannya.

Ami juga jadi merasa bersalah. Semua yang dikatakan Haruka merupakan ilmu dasar yang biasa diterapkan sehari-hari, tapi bisa luput begitu saja hanya karena dirinya terlalu fokus pada kegiatan olahraga. Sungguh memalukan. Ami berjanji untuk membaca lebih banyak buku gizi dan kesehatan untuk selanjutnya.

"Karena itu aku melakukan terapi air seperti yang disarankan Haruka. Meminum segelas air dalam sekali teguk selama delapan kali setiap hari di jam-jam yang sudah ditentukan." imbuh Mina dengan volume suara diperkecil.

"Tapi kau senang kan Vi!? Kau tidak perlu diet lagi!"

"Iya aku senang. Jadi kembalikan coklatku, Usagi!"

"Kukira kau kapok dan tidak akan banyak ngemil lagi…?" Rei bergidik ngeri ketika melihat Mina meraup segenggam biskuit coklat dan menghabiskannya dalam hitungan detik.

"Iya… aku sudah berusaha menguranginya. Tapi selama aku rajin minum air putih, semua pasti baik-baik saja kan?"

Uh—oh. Tampaknya semua tidak senang dengan arah pembicaraan ini.

"—air putih akan mengembalikan jatah cemilanku. Nafsu makanku tetap normal. Berat badanku tetap normal. Dan semua akan berjalan kembali normal!"

Penjelasan seenaknya dari Mina membuat Haruka, Ami dan Rei membenturkan kepala mereka ke meja bersamaan. Rei menghembuskan nafas panjang, Ami mengutuk diri di balik mulutnya sementara Haruka mencoba menenangkan keduanya dengan kalimat (yang mungkin saat itu terdengar) bijak,

"Setidaknya… kita bisa melihat Minako yang sudah kembali normal."


END

.

.

.

A/N:
Huwaaaaaa, akhirnya two shot ini kelar (setelah harus menulis ulang seluruh chapter dua ini karena laptop sempat error).
Terus plotnya busuk banget, ya udahlah. Mudah2an di kesempatan selanjutnya bisa ditebus dengan karya yg lebih kedce.

Makasih buat yang udah sempet review sebelumnya, dan maaf belum bisa ngasih slight Rei-Usagi karena ngga ada scene yang cocok.
Mungkin di kesempatan lain, Ok? Ok? *peluk kecup*

R&R maybe? C: