Love in Secret
.
.
.
.
.
.
.
[Roronoa Zoro, Haruno Sakura}, [Nami, Sanji]
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Naruto, One Piece
.
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!
Selamat Membaca!
Malam semakin larut ketika Sanji sampai di apartemen kekasihnya. Sial. Dia benar-benar tidak menyangka jika hal ini akan terjadi, kepalanya menjadi pening sekali. Melepas sepatunya, Sanji mendudukan dirinya di sofa dan mengambil rokoknya.
Sialan. Ini keputusan yang sulit baginya.
Menghembuskan asap rokoknya, dia membiarkan pikirannya larut dengan asap rokok yang dihembuskannya. Pikirannya benar-benar kacau dan kalut. Dia tidak menyangka jika semua ini akan terjadi.
Dia tidak menyangka jika keluarganya datang untuk menjemputnya.
Tidak terasa jika sebungkus rokok sudah habis dan bir di tangannya juga sudah tandas. Mematikan rokok terakhirnya, Sanji bangkit dari duduknya. Dia melepas pakaiannya dan bertelanjang dada ketika masuk ke dalam kamarnya.
Matanya memandang Nami yang tidur dengan posisi membelakanginya. Wanitanya itu tampak sangat menawan. Betapa dia mencintai Nami.
"Ugh.. Sanji-kun?" Nami sedikit terganggu ketika Sanji memeluknya dari belakang. "Kamu dari mana, Sanji-kun?"
"Aku habis bertemu dengan teman." Sanji mengecup leher Nami. "Tidurlah lagi, Nami-swan."
"Jika ada masalah kamu bisa mengatakannya padaku." Nami memegang tangan Sanji dan semakin merapatkan pelukan pria itu padanya.
"Tidak ada Nami-swan, percayalah."
Nami tidak begitu saja percaya pada perkataan Sanji. Sejenak, dia teringat pada perkataan Ussop saat mereka berada di kantin.
"Apakah kamu tidak merasa, jika Sanji sedikit lebih pasif?"
Dia mengenal Sanji sudah lama, dia tahu jika Sanji dalam masalah, pria itu tidak mau menceritakannya. Sanji bukanlah tipe orang yang terbuka. Sanji terkadang lebih suka memendam masalahnya dari pada membuat orang yang disayanginya khawatir.
Tetapi, dia berharap semuanya baik-baik saja.
.
.
.
"Nii-chan, bangunlah!"
Zoro menggeliat malas ketika cahaya masuk ke dalam kamarnya. Membuka matanya, Zoro memandang adiknya yang berkacak pinggang di depan jendela kamarnya.
"Bangunlah, bodoh! Kamu ada kuliah pagi!"
"Ugh, berisik." Zoro menutup telinganya dengan bantal.
"Terserah, aku tidak akan membangunkanmu lagi. Biar saja kamu terlambat!"
Membiarkan adiknya keluar dari kamarnya, Zoro terdiam di kasurnya. Sial! Dia tidak bisa memikirkan Sakura. Apakah dia terkena karma? Menyebalkan sekali.
Sebelumnya dia tidak pernah jatuh cinta seperti ini. Sewaktu kecil, dia pernah jatuh cinta pada Kuina. Salah satu temannya di dojo tempatnya berlatih pedang. Mereka berpacaran dan hal itu tidak berlangsung lama. Pada akhirnya, Kuina tetap meninggalkannya dan menganggapnya sebagai adik kecil.
Jadi, dia merasa ada yang aneh. Beginikah rasanya dimabuk cinta?
Bangkit dari posisi berbaringnya, Zoro mengusap rambutnya.
Dia benci perasaan ini.
.
.
"Sekian pelajaran dari saya, sampai bertemu besok."
Hancock menutup bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Sakura menarik napas panjang dan bangkit dari duduknya. Dia menghampiri Boa Hancock.
"Ada apa, Sakura?" tanya Boa Hancock.
"Aku minta maaf soal pertengkaran anda dan Luffy-nii." Sakura mencoba mengungkapkan apa yang ada dihatinya.
"Luffy sudah mengatakannya dan itu hanya salah paham." Boa Hancock tersenyum. "Lagi pula, hubungan kami sudah membaik."
Sakura tidak bisa menahan senyum lebarnya. Tadinya dia pikir, jika dosennya itu akan marah. Tetapi sepertinya dia salah.
"Jika kamu tidak mau melukis Zoro-kun, kamu tidak harus melakukannya."
"Aku bisa melakukannya, sensei." Sakura memandang dosennya sebelum tersenyum. "Selamat siang."
Boa Hancock tidak bisa melakukan apapun. Dia menyingkap rambutnya sebelum mengambil ponselnya.
"Luffy-kun, aku merindukanmu."
.
.
Sakura merasakan bahunya pegal. Semakin lama tugasnya semakin banyak dan deadlinenya semakin dekat. Dia bahkan harus lembur untuk mengerjakan semua tugasnya. Dia lelah sekali, ditambah dia tidak bisa tidur ketika mendengar desahan heboh dari kamar kakaknya. Benar-benar pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Saat menolehkan kepalanya, dia terkejut melihat seseorang yang sedang menyandarkan tubuhnya di tembok yang berada tidak jauh darinya.
"Zoro senpai?" Sakura menghampiri seniornya itu. "Apa yang senpai lakukan disini?"
"Oh." Zoro membuka matanya dan sedikit melirik Sakura. "Aku ada dua tiket nonton, kamu mau?"
Bagaimana dia bisa menolaknya?
.
.
.
Nami-nee, aku akan nonton dan setelah nonton makan malam sebentar. Baik-baik dengan Robin-nee, ya!
"Dia sedang jatuh cinta." Nami melemparkan ponselnya keatas meja dan menopangkan dagunya. Di sampingnya Robin sedang membaca novel.
"Ada apa, Nami?" tanya Robin.
"Sakura sedang nonton bersama dengan Zoro, mungkin dia akan terlambat pulang karena akan makan malam berdua."
"Apa?! Sakura-chwan jalan dengan Kuso Marimo itu?!" Sanji yang sedang menata meja makan menanggapi.
"Seperti itulah." Nami menyandarkan tubuhnya. "Baguslah, aku tenang dia bersama dengan Zoro. Setidaknya, dia bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Kenshi."
Nami tidak tahu, jika ada sesuatu yang mengganggu Robin.
.
.
"Aku suka sekali filmnya! Bagaimana kocaknya, Jack Sparrow!"
Mereka keluar dari restaurant dan berjalan pulang. Sepanjang perjalanan, Sakura dengan semangat menceritakan tentang film yang baru saja mereka tonton dan tidak berhenti berbicara.
Dalam hati Zoro bersyukur jika Sakura menyukai filmnya. Tadinya dia sedikit khawatir jika Sakura tidak menyukai filmnya. Matanya melirik Sakura yang menceritakan film yang mereka tonton dengan matanya yang berbinar.
Di matanya Sakura sangat menggemaskan. Sakura mampu membuat sesuatu dalam dadanya berdesir dan dia tidak tahu apa itu. Sebelumnya saat bersama dengan Kuina, dia tidak merasakan perasaan itu.
"Dingin." Sakura memeluk dirinya sendiri. "Aku akan membeli ocha hangat sebentar."
Zoro berdiri di pinggir jalan dan memandang Sakura yang berjalan menyebrang. Gadis berambut merah muda itu menuju mesin minuman sebelum membeli dua botol ocha hangat.
Memang musim gugur adalah saat yang cukup dingin sebelum musim dingin tiba. Melepas jaketnya, dia berniat akan memakaikannya pada Sakura nanti. Dia tidak mau kerepotan saat Sakura kedinginan nantinya.
Mungkin karena terlalu bersemangat jalan bersamanya, Sakura tidak melihat ada mobil yang melaju ketika dia menyebrang. Melempar jaketnya sembarangan, tanpa pikir panjang lagi dia segera melompat untuk menyelamatkan Sakura.
"Awas!"
Rasanya Sakura seperti bermimpi ketika tubuhnya terlempar ke seberang. Tubuhnya terguling-guling dalam pelukan Zoro.
"Zoro senpai, apa kamu baik-baik saja?" Sakura melepaskan diri dari pelukan Zoro. Dia bisa melihat darah merembes dari bahu yang dia yakini adalah bekas luka tembak.
"Kita ke apartemenku sekarang."
.
.
.
"Kau ini memang pria yang tidak sayang nyawa, ya."
Sanji menghembuskan asap rokoknya ke udara. Dia berdiri memandang Robin yang sedang mengobati luka Zoro yang terbuka akibat menyelamatkan Sakura. Sedangkan Nami duduk tidak jauh bersama dengan Sakura.
"Cih, kau harusnya berterimakasih aku sudah menyelamatkannya." Zoro menahan sakit ketika Robin mengobati lukanya.
"Maafkan aku karena merepotkanmu, Zoro senpai." Sakura memandang Zoro.
"Ini bukan salahmu, Sakura-cwhan." Sanji memandang Sakura. "Baguslah karena Marimo itu melindungimu."
"Cih, aku tidak mau melakukan gencatan senjata denganmu."
"Siapa yang sedang melakukan gencatan senjata?!"
"Diamlah kalian berdua!" Nami memandang Sanji dan Zoro dengan mata menyalang. "Kalian membuat kepalaku terasa sakit sekali."
"Ngomong-ngomong Nami, apa kamu baik-baik saja?" tanya Robin. "Aku beberapa hari ini mendengar kamu muntah-muntah terus."
"Benarkah itu, Nami-swan?" Sanji berjalan mendekati kekasihnya dan menyatukan dahi mereka. "Apa kamu butuh sesuatu? Mau ke dokter?"
"Aku baik-baik saja, Sanji-kun." Nami mendorong dada prianya itu. "Sebaiknya kamu mengantarkan Zoro pulang, aku yakin dia tidak akan bisa naik kendaraan umum dengan lukanya yang kembali terbuka itu."
.
.
.
Nami membalikan novelnya ketika Sanji muncul dengan wajah lelah. Pria itu melepas kemejanya dan membuangnya sembarangan sebelum merebahkan diri di sampingnya. Nami memandang kekasihnya itu sebelum satu tangannya mengelus rambut pirang Sanji.
"Ada apa, Sanji-kun? Kamu kelihatan lelah."
Sanji tidak menjawab. Dia semakin merapatkan tubuhnya kearah Nami dan memeluk kekasihnya itu.
"Sanji-kun?"
"Aku minta maaf, Nami-swan."
Mengangkat satu alisnya, Nami gagal paham dengan maksud perkataan Sanji.
"Apa maksudmu, Sanji-kun? Kamu tidak berniat meninggalkanku, kan?"
"Bukan itu.." Sanji menggantungkan kata-katanya. "Aku terlalu sibuk hingga tidak memperhatikanmu. Aku bahkan tidak tahu jika kamu sakit."
Sebuah ciuman mendarat di bibir Sanji. Betapa Nami menyukai keromantisan yang diberikan Sanji kepadanya. Dia selalu luluh kepada setiap perhatian yang diberikan Sanji.
"Aku baik-baik saja, Sanji-kun. Terima kasih."
.
.
"Ugh.."
Roronoa Zoro membalikan tubuhnya dan merasakan bahunya terasa sakit. Lukanya membuatnya kesulitan untuk melakukan kegiatan dan dia tidak menyukainya. Meski dia sudah terbiasa melakukan hal-hal yang ekstrim atau melukai dirinya.
Dia bahkan mendapatkan luka di dada dan kakinya akibat hobbynya bermain pedang. Biasanya dia akan melakukan latihan bersama Kuina, tetapi teman semasa kecilnya itu sibuk dengan urusan sekolahnya. Keputusan mereka untuk berpisah sepertinya adalah yang terbaik.
Merasakan ponselnya bergetar, Zoro mengambil ponselnya dan memandang Caller ID yang tertera di layar ponselnya.
.
.
.
.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk-"
Sakura mematikan sambungan telepon dan merebahkan dirinya diatas ranjangnya. Ini sudah jam satu malam dan dia masih membuka matanya seperti orang bodoh. Di mencoba menelpon Zoro tetapi nomor milik pemuda itu sedang sibuk. Entah siapa yang sedang ditelponnya tengah malam seperti ini.
Entah mengapa dia menjadi gelisah. Dia juga tidak mengerti sejak kapan dia menjadi seperti ini, merindukan Zoro dan selalu ingin disamping pemuda itu. Dirinya bahkan tidak bisa tidur, dia hanya ingin menanyakan kondisi pemuda itu.
Mungkin dia akan menelponnya besok pagi.
.
.
"Moshi-moshi."
"Zoro no baka! Kenapa tidak pernah mengabariku, hah?!"
Zoro memejamkan matanya ketika mendengar suara Kuina di seberang telepon. Baru saja di pikirkan, Kuina menelponnya.
"Jika kamu menelpon hanya untuk mengomeliku, aku akan menutup teleponnya."
"Dasar bodoh! Aku menganggapmu sebagai adikku dan aku khawatir karena kamu tidak memberiku kabar!"
Inilah yang tidak dia sukai dari Kuina. Teman semasa kecilnya itu selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dilindungi.
"Aku sibuk."
"Apa kamu sibuk dengan kekasih barumu? Jangan mencoba membohongiku, Zoro. Aku tahu jika kamu pasti memiliki kekasih kan disana?"
"Bukan kekasih, mungkin kami sedang dalam tahap pendekatan."
"Jangan lepaskan wanita sepertinya, Zoro. Siapa namanya?"
"Haruno Sakura."
"Nama yang bagus. Aku akan mendukungmu sebagai kakakmu, jadi berjuanglah, Zoro."
Sambungan telepon terputus dan Zoro menerawang jauh. Dia mencari nomor di kontak ponselnya sebelum menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
.
.
Sakura baru memejamkan matanya selama sepuluh menit ketika ponselnya bergetar. Mengangkat telepon yang masuk, matanya sudah semakin berat.
"Sakura, apa aku mengganggumu?"
Rasanya Sakura seperti mendapatkan sengatan listrik satu juta volt. Tubuhnya kembali segar, dia bahkan mendudukan dirinya.
"T-tidak Zoro senpai." Sakura menjadi sedikit gugup. "Bagaimana dengan lukanya? Apa masih sakit?"
Di seberang telepon Zoro menerawang jauh. Jika ditanya, rasanya memang sakit. Tetapi dia tidak mempermasalahkan hal itu.
"Tidak begitu. Kenapa belum tidur?"
"Eh oh.." Sakura menjadi sedikit gelagapan. "Aku tadi mencoba menelponmu, tapi sedang sibuk. Aku hanya khawatir dengan keadaan senpai."
"Aku tadi sedang menelpon salah satu kakakku. Etto.. bukan kakak kandungku sih, hanya saja dia teman semasa kecilku."
Sakura sedikit merasa lega ketika Zoro mau menceritakan apa yang ada di hatinya.
"Istirahatlah, Zoro senpai. Bukankah kamu ada kuliah besok?"
"Kamu juga. Bukankah besok kamu ada ujian di kelas Kurenai sensei?"
Bagaimana Zoro bisa mengetahuinya?
oOo
"Robin!"
Nico Robin saat itu berusia enam belas tahun. Dia berada di kelas dua sekolah menengah atas di Hokkaido. Saat itu musim gugur dan angin bertiup cukup kencang ketika Robin menolehkan kepalanya. Dia menatap pemuda berambut hijau yang sekarang berdiri dihadapannya.
Rambut hijau dan mata hitam dengan senyuman di wajahnya. Namanya adalah Kenshi dan dia adalah teman sepermainannya, bersama dengan teman-temannya yang lain tentunya. Dia adalah pemuda yang ceria dan pintar. Murah senyum juga disukai oleh teman-temannya.
Kenshi tersenyum lebar ketika memandang Robin. Sedangkan dirinya membiarkan angin memainkan anak rambutnya yang berwarna hitam itu.
"Kenshi, ada apa?" tanya Robin.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" Kenshi mendekati Robin dan menggenggam tangan gadis itu.
Robin merasakan jantungnya berdegub dengan kencang. Lebih banyak dari biasanya. Tangan Kenshi terasa begitu hangat.
"Ada apa, Kenshi?"
"Aku sudah lama ingin mengatakannya padamu." Mata Kenshi berbinar dan senyumannya semakin lebar. "Aku akan mengungkapkan perasaanku pada Sakura."
Senyuman di wajah Robin menghilang. Tergantikan dengan rasa sesak yang menyeruak dalam dadanya. Dan senyumannya kembali terbit.
"Benarkah itu, kapan kamu akan mengungkapkannya?"
"Hari ini." Kenshi tersenyum. "Doakan aku."
"Tentu saja."
Mata hitamnya mengikuti kemana Kenshi pergi meninggalkannya. Tidak ada orang yang mengetahui perasaannya, jika dia menyukai Kenshi. Dia menyukai pemuda itu dan sangat senang berada di dekatnya.
Tetapi, ketika melihat senyuman Kenshi, dia tidak tega untuk merusaknya. Biarkan perasaannya disimpan dalam hatinya, asalkan dia bisa melihat pemuda yang dicintainya bahagia.
Dan Robin tidak tahu, jika itu hari terakhirnya bertemu dengan Kenshi.
.
.
Membuka matanya, Robin bisa mendengar suara pintu atap dibuka. Zoro muncul dengan pakaian kuliahnya dan tas yang dibawanya.
"Oh, kamu sudah datang, Zoro." Robin tersenyum ketika Zoro datang. "Ada apa?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu." Zoro merasakan pipinya bersemu merah. "Apa jika aku mengungkapkan perasaanku pada Sakura, dia akan menerimanya?"
Robin tidak bisa menahan tawa kecilnya. Dia seperti merasakan dejavu.
"Dia pasti akan menerimanya, percayalah." Robin tersenyum. "Jika kamu mau menemuinya, dia ada di apartemen bersama Nami dan Sanji saat ini."
"Terima kasih."
Mencoba untuk tersenyum, dia memandang punggung Zoro yang berjalan menjauh.
Kenapa, dadanya terasa sangat sesak?
.
.
.
.
.
"Aku ingin cookies."
Sanji yang sedang memasak di dapur menggerak-gerakan telinganya. Meski dia berada di tempat yang cukup jauh, apapun yang diucapkan Nami dan sekecil apapun suaranya, dia akan mendengarnya.
"Aku akan segera membuatnya, Nami-swan!"
Sakura yang sedang menata meja makan tidak bisa menahan tawanya. Sedangkan Nami mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Terkadang, dia tidak tahu apakah dia harus sedang atau sedih bisa mencintai lelaki seperti Sanji.
"Sanji-nii sangat mencintaimu, Nami-nee." Sakura tertawa. "Ah- hujan, Robin-nee juga belum pulang."
"Aku akan menelponnya." Nami mengambil ponselnya tepat ketika bel pintu apartemen mereka berbunyi. "Sakura, coba lihat siapa yang datang."
Dengan pakaian rumahan miliknya, Sakura melangkahkan kakinya menuju pintu untuk membukakan pintu bagi tamunya. Emeraldnya membulat ketika melihat Zoro berdiri di depan pintu apartemennya dengan baju yang basah.
"Zoro senpai?"
"Boleh aku masuk?"
.
.
Zoro memandang kamar yang sekarang dia tempati. Kamar ini bernuansa pink dan dia bisa melihat beberapa foto Sakura terpajang disana. Entah apa yang ada di pikirannya, dia menembus hujan demi bertemu dengan Sakura.
Dengan handuk yang dikenakannya, dia duduk diatas ranjang milik Sakura. Kamar ini begitu rapi dan wangi, dia bisa mencium aroma cherry blossoms menguar dalam kamar milik Sakura. Setelah dia membersihkan diri, dia membiarkan Sakura membawa pakaiannya untuk dikeringkan.
"Zoro senpai." Sakura melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. "Aku meminjam pakaian milik Sanji-nii."
Menerima pakaian dari Sakura, dia segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Sakura menghela napas panjang dan mendudukan dirinya di ranjangnya sembari menunggu Zoro selesai berganti pakaian.
Entah apa yang dipikirkan pria itu, terkadang Sakura tidak paham dengan pemikirannya. Terkadang pria itu bisa nekat, terkadang tidak sayang nyawa juga. Sepertinya Zoro yakin sekali jika dirinya adalah kucing yang memiliki sembilan nyawa.
Sanji mengomel panjang lebar tentang betapa bodohnya pria itu. Sakura tidak tahu apa yang membuat pria itu rela menembus hujan dan datang ke apartemennya.
Pintu kamar mandi dibuka dan Zoro muncul dengan kaos hitam milik Sanji dan sebuah celana pendek. Sakura dapat melihat betapa seksinya Zoro dengan pakaian itu, dan kenapa dia baru menyadarinya?
"Um, Zoro senpai." Sakura buka suara. "Kenapa Zoro senpai datang ke apartemenku sampai menembus hujan begitu?"
Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, pipinya bersemu merah. Dia adalah pria yang tidak pandai mengungkapkan apa yang ada di hatinya dengan kata-kata. Dia lebih suka menunjukannya dengan sikapnya.
Jadi, ketika dia harus mengatakan jika dia memiliki rasa pada Sakura, rasanya sangat sulit. Padahal semalam dia sudah berlatih sampai diajari oleh adiknya pula. Tetapi, dia sekarang merasa bodoh sekali.
"Zoro senpai?"
Sakura terkejut ketika Zoro mencium bibirnya dengan lembut. Lidah milik Zoro masuk dan menjelajahi isi mulutnya bahkan menghisapnya dengan lembut. Sakura belum pernah merasakan sebuah ciuman dan ini yang pertama kali baginya.
Pasrah akan segala sentuhan yang dilayangkan oleh Zoro, Sakura tidak menyadari jika dirinya sudah berada diatas ranjangnya dengan posisi Zoro yang ada diatasnya. Sakura baru menyadari jika Zoro sangatlah tampan. Tangannya terjulur untuk menyentuh wajah Zoro.
"Kamu tampan sekali, Zoro-kun."
Ciuman Zoro berpindah dileher Sakura dan gadis berambut merah muda itu hanya bisa pasrah ketika bibir Zoro menjelajahi leher jenjangnya. Dia meremas rambut hijau milik Zoro dan mendesah ketika merasakan tangan besar milik Zoro meremas payudaranya yang sekal dan kencang.
Kancing piyama miliknya sudah terlepas dan menunjukan bra pink yang dikenakannya. Demi apapun! Zoro merasa jika Sakura sangat seksi saat ini. Dengan wajah memerah dan piyama yang sudah tidak berbentuk lagi, apalagi dengan air liur yang ada di sudut bibir Sakura.
Detik berikutnya, bra milik Sakura sudah terlepas bersama dengan piyama miliknya. Zoro melabuhkan mulutnya pada payudara Sakura. Dia menghisap payudara Sakura dan meremas-remas gundukan daging yang menggunung itu. Begitu kenyal dan kencang, payudara itu membuatnya mabuk.
Dan desahan Sakura semakin menggema ketika satu tangan Zoro beralih menuju miliknya yang mulai basah.
.
.
.
.
Wanita berambut hitam itu meneguk kopi miliknya dan menarik napas panjang. Dia mengambil spaghetti yang ada di piring dengan garpu sebelum melahapnya. Hujan masih saja awet padahal jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Dan cafe dimana tempatnya duduk sekarang semakin ramai dengan pelanggan yang datang.
Dia tidak berniat pulang ke apartemennya. Entah mengapa, meski dia mendukung perasaan Zoro, ada perasaan sesak di dalam dadanya.
Mungkin, dia bisa menginap di tempat Franky atau Ussop.
"Robin-ya."
Menolehkan kepalanya, dia memandang seorang pria berambut hitam dengan janggut tipis di wajahnya. Robin terkejut ketika melihat siapa yang datang.
"Torao?"
Bagaimana dia tidak terkejut. Ketika melihat mantan kekasihnya ada dihadapannya.
.
.
.
.
"Uh.. ah.. Zoro-kunnhh.."
Sakura hanya bisa mendesah ketika Zoro menggempur miliknya dengan sangat keras. Mereka sudah melakukan dengan banyak posisi dan Sakura merasakan tubuhnya sangat lelah, sedangkan stamina Zoro belum terkuras sama sekali.
Mereka berada di posisi Doggy style sekarang. Dengan Zoro yang menggempurnya dari belakang dan tubuhnya bergerak seirama dengan sodokan Zoro. Payudaranya tidak dibiarkan bergerak bebas karena detik berikutnya, tangan besar Zoro sudah meraup payudaranya dan meremasnya.
"Oh shit.. fuck!"
Entah sudah berapa banyak kata-kata kotor yang keluar dari mulut Zoro. Matanya merem melek merasakan betapa sempitnya milik Sakura meremas miliknya.
"A-aku akan keluar." Sakura meremas sprei dibawahnya ketika merasakan oragasmenya akan sampai sebentar lagi.
Zoro semakin mempercepat gerakannya dan memasukan miliknya ke dalam milik Sakura ketika merasakan pencapaiannya. Sedangkan Sakura merasakan tubuhnya bergetar hebat ketika pelepasannya datang.
oOo
"Ugh.."
Sakura membuka matanya ketika matahari sudah mulai tampak. Dia merasakan tubuhnya sangat sakit akibat 'pertarungannya' semalam. Apa yang dilakukannya dengan Zoro merupakan pertama kali baginya.
Entah mengapa, semalam dia bisa melupakan Kenshi dan tidak memikirkannya sama sekali. Semenjak bertemu dengan Zoro, dia mampu melupakan Kenshi dan tergantikan oleh pria berambut hijau yang mirip dengan Kenshi itu.
Sekarang, Zoro sedang tidur di sampingnya dengan selimut yang menutupi hingga pinggangnya. Dalam diam, dia memperhatikan wajah Zoro. Enggan untuk membangunkan pria yang kini mengisi hatinya itu. Sakura baru menyadari, jika Zoro sangat tampan.
Mendudukan dirinya, Sakura mencoba membuat gerakan sekecil mungkin. Dia mendekati Zoro dan memandang wajah itu dengan seksama sebelum mencium bibirnya dengan lembut. Betapa Sakura menyukai bibir itu.
Sebuah tangan memeluk pinggangnya hingga membuatnya lebih merapat. Sedetik kemudian posisi mereka sudah berubah dengan Zoro yang ada diatasnya dengan napas yang terengah-engah.
"Zoro-kunh..engghh.."
Karena status mereka juga berubah, maka panggilannya pun berubah. Sakura menyukai saat-saat dimana dia memanggil nama kekasihnya dengan suffix-kun. Meski Zoro tidak mengatakannya, dia tahu jika hubungan mereka sudah berubah.
"Jangan salahkan aku, salahmu karena membangunkan macan tidur, Sakura."
"Zoro-kunh aahh!"
Sakura mendesah ketika merasakan payudaranya dihisap dan digigit oleh Zoro.
"Berisik! Kalian mengganggu, tahu!"
Sakura buru-buru mendorong dada bidang Zoro ketika sebuah teriakan terdengar di luar kamarnya. Kakaknya pasti terganggu dengan 'pembukaan' yang mereka lakukan. Sakura tidak bisa menahan tawanya ketika melihat bagaimana wajah Zoro yang merengut kesal.
"Sebaiknya kita keluar, Zoro-kun."
.
.
.
"Mereka pagi-pagi sudah berisik."
Dengan sebuah tanktop putih dan hot pants berwarna pink dan apron putih miliknya, Nami mengeluarkan sebuah coklat dari dalam kulkas. Semalam, dia dan Sanji tidak bisa tidur dan memutuskan untuk membuat sebuah coklat.
Selagi dia menyiapkan coklat buatannya, Sanji memasakan sarapan untuk mereka. Nasi goreng dengan telur mata sapi terlihat mengguggah di meja makan. Segelas susu dan secangkir kopi juga sudah disiapkan. Begitu pula dengan jus jeruk kesukaan Mellorine -nya.
"Aku tidak menyangka jika Sakura-cwhan akan menyukai pria seperti Marimo itu." Sanji buka suara.
"Sepertinya Sakura memang tidak bisa jauh-jauh dengan pria yang mirip seperti Kenshi." Nami tersenyum. "Sanji-kun, coklatnya sudah selesai."
Sanji memeluk kekasihnya dari belakang dan tersenyum. Nami menyodorkan coklat yang ada di bibirnya dan langsung dilahap oleh Sanji. Dia melumat bibir Nami dan menghisapnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Nami ketika Sanji melepaskan ciuman mereka.
"Masakan Nami-swan memang yang terbaik."
Nami tidak bisa menahan tawanya dan kembali menyiapkan coklatnya. Membiarkan tangan besar milik Sanji memeluk pinggangnya.
"Siapa yang pagi-pagi sudah bermesraan, eh?"
Menolehkan kepala mereka, Nami bisa melihat Sakura yang berdiri di dekat pintu dapur bersama dengan Zoro. Pasangan yang sedang di mabuk asmara itu tampak serasi.
"Sakura-cwhan! Kamu ingin sarapan? Aku sudah membuatkannya untukmu!" Dengan tarian mellorine nya, Sanji mendekati Sakura yang tersenyum aneh.
"Terima kasih, koki sialan."
"Cih, aku tidak membuatkan sarapan untukmu, Kuso marimo."
Nami merasakan kepalanya berdenyut sakit. Akhir-akhir ini kepalanya terasa pusing dan tubuhnya terasa lebih cepat lelah. Ini tidak seperti dirinya yang biasanya.
"Kalian ini, bisa diam tidak?!" Nami memandang sengit keduanya dan menghentikan perdebatan tidak penting mereka.
"Ngomong-ngomong, Nami-nee." Sakura buka suara. "Dimana Robin-nee?"
.
.
.
.
.
Kantin di Universitas Tokyo ramai dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswinya yang mengisi perut sebelum perkuliahan dimulai. Di sudut ruangan tampak ramai dengan seorang pria yang kekenyangan setelah makan berpiring-piring daging. Terlihat dari perutnya yang membesar.
"Luffy, nafsu makanmu masih sama saja," komentar Robin.
"Huaah.. Hancock tidak sempat memasakan sarapan untukku, padahal aku butuh energi setelah pertarungan kami semalam."
"Kau ini, kenapa tidak nikahi saja Hancock sensei?" tanya Ussop.
"Emmhh.. sebentar lagi." Luffy tertawa. "Tenang saja, aku akan segera menikahi Hancock."
"Robin-chwhaaaaannnn!"
Sanji datang dan dengan tarian anehnya segera mendekati Robin yang tertawa. Di belakangnya, Nami mengikuti dengan satu tarikan napas panjang. Terkadang, memiliki kekasih yang agak idiot memang merepotkan.
"Kamu kenapa tidak pulang semalam?" tanya Sanji.
"Oh, aku bertemu dengan Torao. Jadi, aku menginap di tempatnya semalam." Robin tersenyum.
"Torao-eh- maksudmu Trafalgar Law?" Nami memandang Robin. "Mantan kekasihmu?"
Robin menganggukan kepalanya.
"Um.."
.
.
"Apa tidak masalah jika aku bergabung dengan mereka?"
Sakura tertawa dan menggenggam tangan Zoro dengan lembut. Dia tahu, jika Zoro pasti merasa tidak nyaman bersama dengan teman-temannya.
"Oh, bukannya itu Zoro? Yo Zoro!" Luffy melambaikan tangannya.
"Ayo kita kesana." Sakura menarik tangan Zoro.
"Oh kalian, ayo duduk disini." Ussop tertawa.
Zoro tidak terbiasa dengan kehangatan yang ada disini. Dia lahir bersama dengan kekerasan yang ada di dunianya. Dia dituntut untuk hidup di dunia yang kejam dan keras.
Dan entah kenapa, dia merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya ada sesuatu yang membuat dadanya menghangat. Apalagi ketika melihat senyuman Sakura yang membuatnya nyaman.
.
.
.
.
"Oi, Marimo. Jangan buat Sakura menangis atau lakukan hal yang aneh padanya."
"Hah?! Kau mau mengajakku berkelahi?!"
Nami merasakan kepalanya berdenyut sakit. Semenjak Sakura menjalin tali Kasih bersama dengan Zoro. Pria berambut hijau itu sering datang dan menginap. Tentu saja, hal itu membuat apartemennya semakin ramai dengan pertengkaran keduanya.
"Mereka berisik sekali."
Robin yang sedang membaca buku tertawa kecil. Sakura hanya tertawa aneh. Mereka berkumpul di kamarnya dan Nami yang sedang menata rambutnya.
Hari ini, niatnya mereka akan pergi ke rumah dimana Zoro tinggal karena adiknya Zoro penasaran dengannya dan ingin bertemu. Jadi, Nami ingin membantunya untuk tampil lebih cantik hari ini.
"Rasanya sulit ya melihat keduanya akur." Sakura tertawa.
"Nah, sudah selesai."
Whoah! Sakura seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Dia meminjam gaun putih selutut milik Nami dan rambut merah mudanya sudah terkekang dengan rapi. Wajahnya di poles dengan make up tipis tetapi terlihat sangat natural.
Rasanya seperti bukan dirinya sendiri.
"Bagaimana menurutmu, Robin?" tanya Nami.
"Cantik. Aku seperti tidak mengenalinya."
"Baiklah, sekarang segera keluar dan bawa kekasihmu pergi." Nami mendorong Sakura keluar kamar. "Aku tidak mau melihatnya bertengkar dengan Sanji-kun."
Baik Sanji maupun Zoro menolehkan kepala mereka ketika Sakura keluar dari kamar. Zoro bahkan tidak berkedip ketika memandang Sakura. Dia memandang Sakura dari atas kebawah dan terfokus pada wajah Sakura yang terlihat malu-malu.
"Whoah! Lihat ini! Kamu cantik sekali!" Sanji mendekati Sakura. "Mellorine~ aku seperti melihat malaikat!"
"Sanji-kun.."
Sanji mematung ketika mendengar suara halus nan sarat akan aura hitam terdengar.
"Hai' Nami-swan! Aku akan kesana!"
Zoro merasakan pipinya merona merah ketika melihat betapa cantiknya Sakura. Dia sudah sering melihat wanita cantik seperti ini ketika berada di Amerika. Tetapi, baru kali ini ada yang membuat jantungnya berdegub hingga tidak karuan.
"Ma-mau berangkat sekarang, Zoro-kun?" tanya Sakura.
"Ayo."
Sakura tersenyum malu-malu dan mengamit lengan Zoro ketika mereka berjalan keluar apartemen. Dia merasakan kakinya meleleh seperti Jelly.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Asap rokok memenuhi udara di sebuah balkon kamar. Sanji dengan mengenakan celana hitamnya dan tanpa atasan menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara. Mata hitamnya melirik kekasihnya yang sudah tertidur lelap.
Beberapa hari ini insomnia melandanya. Apalagi setelah dia bertemu dengan seseorang yang membawa berita buruk untuknya. Menghembuskan asap rokoknya ke udara, Sanji merasakan ponselnya bergetar. Mengambil ponselnya dari saku celananya dia memandang nomor tidak dikenal yang menelponnya.
"Ada apa?"
"Ini sudah waktunya, Sanji."
Sanji tidak bergeming. Dia mematikan rokoknya sebelum membalikan badannya.
"Aku akan segera kesana."
Mengambil kemejanya, Sanji memandang kekasihnya yang sedang terlelap tidur. Dia mendekati Nami sebelum mengecup puncak kepala itu dengan lembut. Dia mengambil bolpoint dan kertas sebelum menuliskan sesuatu.
"Aku akan segera kembali."
Pintu kamar tertutup dan Sanji yang berjalan keluar dari apartemen.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Halllooooooooo... ada yang ingat sama fict ini? huhuhuhu.. entah kenapa rasanya galau banget tau Sanji bakalan nikah. Soalnya Saku ada di kapal Sanji Nami :3 dan pas Sanji ditangkep sama Bege (bener kan gini tulisannya?) dan meluk Nami dkk itu, rasanya nyes gitu..
Kok malah curhat aneh wkwkwkwkwk..
Baiklah, sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
