Love in Secret

.

.

.

.

.

.

.

[Roronoa Zoro, Haruno Sakura}, [Nami, Sanji]

.

.

.

.

.

©Aomine Sakura

.

.

.

Naruto, One Piece

.

.

.

DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!

Selamat Membaca!

"Ini rumahku."

Sakura menatap sebuah rumah yang cukup besar dihadapannya. Dia sudah mendengar cerita dari Zoro, jika ayahnya Zoro adalah seorang Polisi yang hebat di Jepang. Dia juga mendengar, jika Dracule Mihawk berteman dengan salah satu Polisi hebat yang terkenal yang notabene adalah ayah dari Monkey D. Luffy.

"Ayo kita masuk."

"Perutku sakit, Zoro-kun."

Zoro menghentikan langkahnya dan menatap Sakura.

"Apa kamu butuh sesuatu?"

"Tidak. Aku hanya gugup."

Membuka pintu rumahnya, Sakura semakin gugup. Dia membayangkan bagaimana wajah ayah dari Zoro. Apakah menyeramkan atau tidak. Zoro sudah bercerita tentang ayahnya yang salah satu pendekar pedang yang terkenal, sepertinya menyeramkan.

"Kau sudah pulang, nii-chan?"

Peronna muncul dengan pakaian rumahannya. Wanita berambut yang sama dengan Sakura itu terkejut ketika melihat siapa yang bersama dengan kakak laki-lakinya.

"Siapa ini, nii-chan?" Peronna berjalan mendekat dan memutari Sakura. "Apakah ini kekasihmu yang membuatmu mabuk cinta itu?"

Zoro melotot menatap adiknya yang mengatakan hal yang tidak perlu. Terkadang Peronna itu suka berbicara yang tidak diperlukan.

"Ayo masuk, siapa namamu?" tanya Peronna. "Untung saja aku memasakan banyak masakan untukmu. Bagaimana jika kamu menginap disini saja?"

"Eh?"

.

.

.

"Selamat datang, Sanji."

Sanji berdiri di sebuah rumah yang besar bak Istana dan memandang ayahnya yang berdiri menatapnya. Di belakangnya, semua saudara-saudaranya berdiri.

"Aku sudah menepati janjiku dan ada disini, sekarang ayah tidak bisa mengganggu si tua Zeff ataupun Nami-swan dan yang lainnya."

"Aku selalu menepati janjiku." Vinsmoke Judge menatap putra ketiganya itu. "Serahkan ponselmu, kita akan makan malam bersama."

.

.

"Siapa dia, Peronna?"

Dracule Mihawk muncul dengan kemeja putih miliknya. Sakura hanya bisa menahan napas ketika ayah dari Roronoa Zoro muncul. Jadi, inilah pendekar pedang yang terkenal itu, bahkan suasananya pun berubah.

"Se-selamat malam, saya Haruno Sakura." Sakura membungkukan badannya.

"Dia calon istriku." Belum ditanya, Zoro sudah buka suara. "Aku tidak peduli apakah tou-san akan merestuiku atau tidak."

"Aku tidak mengatakan jika aku tidak merestuimu." Mihawk menatap putranya. "Peronna, sambut tamu kita dengan makanan yang istimewa."

.

.

"Sanji-kun?"

Nami membuka matanya dan tidak menemukan kekasihnya dimanapun. Seingatnya, Sanji ada disini bersamanya sebelum dia tertidur, dan sekarang kekasihnya itu sudah tidak ada.

Belum ada satu menit nyawanya terkumpul, dia merasakan asam lambungnya naik dan rasa mual menyerangnya. Dengan segera dia menuju toilet untuk memuntahkan semua isi perutnya. Akhir-akhir ini, dia sepertinya masuk angin, karena rasanya mual sekali.

Membasuh mulutnya dengan air dari kran. Nami memandang wajahnya yang pucat. Apa yang menjadi ketakutannya mulai melandanya.

.

.

.

"Sanji."

Pria berambut kuning itu menolehkan kepalanya dan memandang kakaknya yang berambut pink sedang berdiri di depan kamarnya. Jika bukan ayahnya yang mengancam dirinya, dia tidak akan pernah mau kembali kepada keluarganya.

Dia tidak sudi kembali ke tempat busuk seperti ini.

"Apa maumu?" Sanji bertanya tanpa menolehkan kepalanya.

"Aku tahu, kamu ingin menelpon kekasihmu." Vinsmoke Reiju berjalan mendekati adiknya dan memberikan ponsel miliknya. "Teleponlah."

"Aku tidak mau." Sanji mengalihkan pandangannya. "Aku tidak mau orang tua itu menyiksamu hanya karena kamu meminjamkan ponselmu untuk adikmu."

"Ayah tidak akan marah padaku, gunakan saja." Reiju menggenggamkan ponselnya kepada adiknya. "Aku ingin menentang soal pernikahanmu, Sanji. Tetapi, aku tidak bisa. Maafkan aku."

Pintu kamarnya ditutup dan dia memandang ponsel pintar berwarna pink di tangannya. Mendudukan dirinya di lantai, dia mulai menekan beberapa angka yang sudah dia hafal di luar kepalanya.

.

Nami memandang ponselnya yang bergetar. Mendudukan dirinya diatas ranjangnya, satu alisnya terangkat ketika nomor yang tidak dia kenali masuk ke dalam ponselnya. Tangannya menyentuh layar ponselnya guna mengangkat telepon yang masuk.

"Moshi-moshi."

"Apa aku membangunkanmu, cantik?"

"Sanji-kun?!" Nami tidak bisa menahan keterkejutannya. "Apa ini kamu? Kemana ponselmu? Kenapa kamu menelpon dengan nomor yang tidak aku kenali?"

"Dengarkan aku, Nami-swan. Aku akan menceritakan semuanya." Sanji menghela napas panjang. "Nama lengkapku adalah Vinsmoke Sanji. Kau pasti terkejut ketika mendengar margaku. Benar, aku adalah putra dari seorang raja mafia yang terkenal, keluarga Germa66, keluarga Vinsmoke."

Wanita berambut oranye itu tidak bisa melakukan apapun selain terdiam di tempatnya. Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Vinsmoke. Bagi orang biasa, tentu saja tidak akan mengetahui tentang keluarga Vinsmoke yang menguasai pasar gelap dan juga mafia. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk membunuh orang yang membocorkan rahasia mereka.

Nami tidak sengaja mengetahuinya saat membaca sebuah buku tentang Germa66 yang ditulis oleh salah satu penulis. Kemudian, buku itu ditarik dan berita yang disebarkan menghilang bagai ditelan bumi dan kemudian rakyat Jepang melupakannya. Dan yang dia dengar, penulis itu kemudian menghilang tanpa jejak.

Setahunya, keluarga Vinsmoke memang memiliki lima orang anak yang hebat. Satu orang perempuan dan empat orang laki-laki. Penulis membahas tentang keempat orang anak keluarga Vinsmoke, tetapi tidak dengan putra ketiganya. Menurut kabar, keluarga ketiga keluarga Vinsmoke itu menghilang ditelan bumi.

Dan sekarang dia tahu, kemana putra ketiga keluarga Vinsmoke itu.

"Aku kabur dari rumah saat usiaku sepuluh tahun, aku sedikit lupa. Aku diperlakukan tidak manusiawi oleh keluargaku. Tadinya kakak perempuanku juga memperlakukanku seperti itu, namun dia berubah. Hanya kaa-san dan kakak perempuanku yang tidak memperlakukanku seperti binatang. Kau tahu rasanya, Nami-swan?"

Mendengar cerita yang keluar dari mulut kekasihnya membuat air mata mengalir di pelupuk mata milik Nami. Dadanya terasa sangat sakit dan berdenyut-denyut.

"Aku kemudian bertemu dengan Zeff dan belajar memasak darinya. Dia sudah menjadi seperti ayahku sendiri dan membesarkanku hingga saat ini, menyekolahkanku dan memberikanku kasih sayang. Bahkan, aku tidak mendapatkannya dari ayahku sendiri. Lalu, saat itu aku bertemu dengan dirimu. Aku masih ingat, kamu bahkan tidak mau melihatku, tetapi kemudian aku sangat bahagia saat kamu mau menerimaku apa adanya. Terima kasih karena telah mencintaiku, Nami-swan."

"Hentikan! Cukup, Sanji-kun!" Nami memeluk kedua lututnya. Air matanya tak berhenti mengalir. "Kamu dimana, Sanji-kun? Kenapa kamu menceritakan semua masa lalumu padaku? Aku akan kesana untuk menjemputmu."

"Orang tua sialan itu menjodohkanku, Nami-swan." Sanji tersenyum. Dia menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Aku hanya pergi sebentar saja, aku akan kembali lagi."

"Sanji-kun, berhenti mengatakan hal yang bodoh. Aku akan menjemputmu sekarang juga."

"Aku mencintaimu, Nami-swan."

Sambungan telepon diputus.

.

.

"Aku mengenal Rayleigh saat berkunjung ke Hokkaido." Mihawk meneguk anggurnya. "Jadi, dia adalah ayah angkatmu?"

"Iya. Kami bertiga dibesarkan olehnya."

Zoro meneguk sakenya dan di sampingnya Sakura sedang memakan steak miliknya. Wanita itu tampak sangat cantik dan juga sopan. Apalagi saat Sakura tertawa, dia sangat menyukai tawa itu.

Tadinya, dia menyangka jika ayahnya akan menyambut mereka dengan pandangan sinisnya. Dia sudah menyiapkan berbagai kata-kata guna digunakan jika ayahnya itu tidak menerima Sakura. Tetapi dugaannya salah, ayahnya bahkan menerima Sakura dengan tangan terbuka dan mereka hanyut dalam obrolan panjang.

Adiknya juga sepertinya menyukai Sakura. Peronna menceritakan segala hal dan mereka sudah seperti bertemu bertahun-tahun lamanya. Biasanya adiknya itu cuek dan selalu mencibir apapun yang ada dihadapannya. Tetapi, adiknya dengan semangat menceritakan apa yang dilaluinya di sekolah yang bahkan tidak pernah diceritakan padanya.

"Menginaplah disini saja, Sakura."

"Hah?"

Zoro tidak bisa menahan senyum gelinya ketika menatap wajah memerah milik Sakura. Terlihat dua kali lebih menggemaskan dan membuatnya ingin memakannya.

"Tidak usah, Paman Mihawk." Sakura tersenyum. "Aku harus pulang, perasaanku tidak enak."

.

"Kau yakin aku tidak mau menginap disini?"

Zoro menatap kekasihnya dengan pandangan khawatir. Mereka sampai di apartemen Sakura hampir tengah malam dan apartemen Sakura sudah sepi. Rasanya dia tidak mungkin meninggalkan Sakura sendirian.

"Tidak apa-apa, Zoro-kun. Aku tidak enak dengan paman Mihawk dan Peronna jika kamu menginap disini." Sakura tersenyum.

"Tidak. Aku akan menemanimu disini."

Sakura akhirnya sedikit menggeser tubuhnya agar Zoro bisa masuk. Terkadang, jika Zoro mulai keras kepala, hal itu sungguh menyebalkan. Jadi mengalah adalah jalan satu-satunya.

Pria berambut hijau itu langsung masuk ke dalam kamar Sakura seolah-olah itu adalah kamarnya. Sedangkan dirinya menuju dapur untuk mengambil air mineral. Dia yakin, jika dia akan membutuhkan air mineral setelah pertempuran panjang mereka.

"Sakura, sudah pulang?"

Mendengar suara lembut yang dia kenali, Sakura membalikan badannya.

"Robin-nee, belum tidur?" tanya Sakura.

"Aku masih belum mengantuk." Robin menunjuk novel yang dibawanya. "Dimana Zoro? Dia tidak bersamamu?"

"Tuan pemalas itu langsung masuk ke kamarku untuk tidur, dasar menyebalkan." Sakura menggembungkan pipinya. "Sebaiknya kamu segera tidur, Robin-nee. Tidak baik terlalu sering begadang."

Robin tersenyum dan mengambil sebuah kaleng kopi di dalam kulkas. Dia memandang Sakura yang berjalan menuju kamarnya sebelum mendudukan dirinya di salah satu sofa dan kembali membaca novelnya.

Mungkin, sudah saatnya dia untuk mencari pasangan. Zoro sudah bersama dengan Sakura dan Nami sudah bahagia dengan kehidupannya. Jadi, sekarang gilirannya untuk bahagia dengan kehidupannya.

Ddrrtt.. Ddrrtt..

Tangannya merogoh saku celananya dan membaca pesan yang masuk. Robin tidak bisa menahan senyumnya ketika membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

Trafalgar Law : Robin-ya, segeralah tidur. Aku tahu kamu masih berkutat dengan novelmu.

Sepertinya. Dia akan mempertimbangkan ajakan Law untuk kembali menjalin hubungan.

oOo

"Ugh.."

Sakura membuka matanya dan memandang kamarnya. Dia bisa merasakan sebuah lengan yang memeluk perutnya dan suara napas yang teratur di tengkuknya. Pipinya merona merah ketika membayangkan wajah kekasihnya yang sedang memeluknya.

Dia masih belum terbiasa dengan Zoro yang memeluknya saat tidur. Rasanya masih seperti mimpi, jika dia menjadi kekasih Roronoa Zoro. Pria yang mirip sekali dengan Kenshi.

Sedikit banyak, dia masih teringat akan Kenshi. Banyak kenangan yang mereka lalui dan rasanya tidak mudah untuk melupakan apalagi menghilangkan semua kenangan yang telah mereka buat dan lalui bersama. Tetapi saat ini, dia memiliki Zoro yang ada di sampingnya.

Meski Zoro dan Kenshi terlihat mirip. Tetapi, dia bisa merasakan jika keduanya berbeda dan dia mencintai Zoro dengan sepenuh hatinya. Bukan berarti ia akan melupakan Kenshi. Tetapi, bukankah orang yang hidup harus terus berjalan?

Menyibak selimutnya dengan pelan. Dia tidak mau membangunkan Zoro dari tidurnya. Ini hari minggu, jadi dia akan membiarkan Zoro tidur lebih lama.

"Robin-nee, selamat pagi." Sakura tersenyum memandang Robin yang sedang memasak. "Dimana Nami-nee? Masih tidur?"

"Sepertinya. Sanji juga tidak kelihatan."

"Sanji-nii? Tumben sekali. Apa mereka sedang bertengkar?"

"Entahlah."

Sakura merasa aneh ketika kekasih kakak perempuannya yang selalu menari tarian mellorine itu tidak terlihat. Biasanya Sanji adalah yang paling rajin bangun pagi dan memasakan sarapan untuk mereka.

"Aku akan bangunkan Nami-nee."

Baru saja dia beranjak menuju kamar kakaknya, pintu apartemen mereka diketuk. Sakura segera beralih untuk membukakan pintu bagi tamu yang sudah berkunjung pagi-pagi seperti ini.

Dan ketika pintu apartemennya dibuka. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat siapa yang datang.

"Tou-san?!"

.

.

.

.

Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar di sebuah rumah megah. Sanji melahap steak buatan koki keluarga Vinsmoke bersama dengan keluarganya. Tidak ada yang berbicara satu sama lain sampai mereka benar-benar selesai makan.

"Sanji, kamu akan menikah dengan Putri dari menteri Perdagangan kita, Purin."

Linlin atau yang dikenal sebagai Big Mom merupakan salah satu menteri perdagangan di Jepang yang terkenal tegas dan disiplin. Tetapi, mengingat ayahnya yang seorang mafia. Dia tahu, ada suatu kerja sama yang menguntungkan keduanya. Dan dia merupakan tumbal dari kerja sama keduanya.

Meneguk ochanya, dia tidak berminat dengan pembicaraan di meja makan mengenai pernikahannya. Sekarang yang ada dipikirannya hanyalah kekasihnya. Dia tidak akan sudi untuk menikah dengan wanita lain selain Nami. Tetapi, dengan ancaman yang diberikan ayahnya. Mau tidak mau, dia harus menuruti semuanya.

"Aku mau beristirahat."

Sanji mengambil rokoknya dan menghidupkannya. Dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya. Dia muak tinggal bersama keluarganya yang seperti ini.

Dia memang anak yang dibuang. Dianggap produk gagal yang tidak bisa membanggakan keluarganya, terutama ayahnya. Sedari kecil hobbynya memasak dan dia tidak pintar dalam mata pelajaran hitungan. Berbeda dengan keempat saudaranya yang mampu menggapai apa yang diinginkannya dengan mudah.

Tetapi, bukankah setiap orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing?

"Sanji? Kamu baik-baik saja?"

Vinsmoke Sola masuk ke dalam kamarnya dan dia segera mematikan rokoknya. Dia tidak pernah mau merokok dihadapan ibunya dan kakaknya karena masih menghargai keduanya. Apalagi ibunya.

Ibunya memiliki senyuman yang Indah dan tingkah laku yang lemah lembut dan keibuan. Terkadang, dia tidak habis pikir, bagaimana ibunya bisa tahan menikah dengan ayahnya.

"Kaa-san."

"Kaa-san senang kamu pulang, Sanji." Sola mengelus rambut putranya dan tersenyum lembut.

Sanji tidak bisa melakukan apapun selain meletakan kepalanya di pangkuan ibunya dan membiarkan mengelus rambutnya dengan lembut. Satu-satunya hal yang dia rindukan hanyalah ibunya.

"Maafkan kaa-san, Sanji-kun. Kaa-san tidak bisa melakukan apapun untuk membatalkan perjodohanmu. Jika kaa-san memiliki keberanian untuk menentang ayahmu."

Memejamkan matanya, Sanji kemudian menggenggam tangan ibunya.

"Tidak apa, kaa-san."

Vinsmoke Sola tidak bisa menahan air matanya. Dari kesemua anak-anaknya, dia lebih menyayangi Reiju dan Sanji. Dia masih ingat, saat dia sakit. Sanji dan Reiju membuatkannya bubur yang lezat dan sebuah bando dari bunga.

Sanji dan Reiju adalah anak-anak yang sangat sayang padanya. Sedangkan ketiga putranya yang lain seperti sang ayah yang lebih mementingkan kehidupan pribadinya.

"Kaa-san sayang padamu, Sanji."

.

.

.

.

.

"Sakura, bagaimana kabar Putri tou-san ini?"

Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk pria dihadapannya dengan erat. Karena kesibukan mereka, mereka sampai belum sempat untuk mengunjungi ayah mereka yang ada di Hokkaido.

"Kenapa tou-san bisa ada disini?" tanya Sakura memandang ayahnya.

"Memangnya tou-san tidak boleh mengunjungi putri-putri tou-san?"

"Tou-san?"

Robin yang baru muncul dari dapur langsung memeluk ayah angkatnya.

"Kenapa tidak mengatakan jika akan datang ke Tokyo?" tanya Robin.

"Kalian ini, memangnya aku sebegitu tuanya hingga tidak boleh memberi kejutan kepada putrinya?"

Sakura maupun Robin tersenyum. Betapa beruntungnya mereka memiliki ayah angkat seperti Rayleigh.

"Sakura, siapa lelaki tua berjanggut putih itu?"

Menolehkan kepalanya, Sakura melotot memandang Zoro yang berdiri diambang pintu kamar dengan hanya mengenakan celana panjangnya. Bagaimana bisa, kekasihnya itu mengatakan hal yang tidak sopan kepada ayah angkatnya.

"Zoro-kun!"

"Ah, Roronoa Zoro." Rayleigh tersenyum dan menghampiri Zoro. "Jadi, kamu berpacaran dengan Sakura?"

"Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?" tanya Zoro.

Sakura memberikan kode kepada Zoro untuk tidak bertindak gegabah. Biar bagaimanapun, restu hubungannya berasal dari Rayleigh juga.

"Aku? Hoo, aku adalah ayahnya Sakura."

Mati aku! Apakah dia baru saja menantang calon mertuanya?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Haluuuuuu! Kembali lagi dengan Saku disini! Btw, chap depan ffn ini udah tamat wkwkwkwkwk... Jd mungkin chap depan adalah chap terakhir :3

Daaaannnn.. Terima Kasih untuk yang sudah membaca dan mereview hingga saat ini.. Saku senang sekali kalian mau mendukung Saku *okeabaikan*

Sekian cuapcuap gak penting Saku, sampai ketemu di chap terakhir!

-Aomine Sakura-