Love in Secret
.
.
.
.
.
.
.
.
[Rorona Zoro, Haruno Sakura], [Nami, Sanji]
.
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
Naruto, One Piece
.
.
.
.
.
.
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR ATAUPUN ADEGAN DI DALAMNYA SILAHKAN KLIK TOMBOL 'BACK'! DLDR!
Selamat Membaca!
Robin tertawa kecil ketika melihat sikap Zoro yang berubah. Ekspresi wajah Zoro sudah tidak bisa digambarkan lagi. Sedangkan Sakura hanya melotot memandang Zoro yang sekarang tak berkutik.
Seumur hidupnya, dia tidak pernah takut pada apapun. Bahkan mafia terkejam di Amerika pun berhasil dia taklukan dengan seni bela diri pedang miliknya. Tidak ada yang bisa mengalahkannya kecuali dirinya sendiri.
Namun, ketika dihadapkan dengan pria dihadapannya. Dia tak berkutik. Mau dia menebas Rayleigh sekalipun, dia akan dibenci oleh Sakura dan dia sangat tidak menginginkan hal itu. Dia tidak mau kehilangan Sakura.
"Hahaha, jangan tegang begitu anak muda." Rayleigh menepuk bahu Zoro. "Ayo kita minum sake, kamu suka sake?"
Sakura menghela napas lega ketika ayahnya tidak marah. Tadinya dia mengira jika ayahnya akan marah dan membuat hubungannya dan Zoro kandas laksana orang tua kehilangan tongkat. Dia tidak mau hal itu terjadi.
Zoro memandang Sakura dan mendapatkan anggukan kepala dari kekasihnya. Sepertinya minum sake bersama calon mertuanya bukanlah hal yang buruk untuk pagi ini.
.
.
"Sanji, Purin-chan sudah datang."
Reiju membuka pintu kamar adik ketiganya itu dan memandang Sanji yang sedang berdiri di balkon dengan rokok yang terselip di bibirnya. Di rumah ini, hanya dirinya dan ibunya yang masih memiliki hati. Jika bukan karena ibunya, rasanya dia ingin sekali pergi dari rumah ini.
Dari keempat adiknya, dia memang paling menyayangi Sanji. Sedari kecil, adiknya itu memang sudah bersikap sangat manis terhadap wanita. Rasanya dia sudah melewatkan banyak perkembangan milik Sanji. Entah sejak kapan adiknya itu menjadi pecandu rokok berat.
Seingatnya, saat kecil dulu Sanji adalah anak yang ceria dan sangat manis sekali. Hingga kemudian, kakeknya mengambil Sanji secara paksa agar terhindar dari siksaan yang selalu diberikan ayahnya. Awalnya Sanji menolaknya karena tidak tega meninggalkan ibunya. Namun, dia memaksanya karena mungkin ini yang terbaik untuk Sanji.
Dia tidak mengikuti perkembangan adiknya dan Sanji sekarang sudah menjadi pria dewasa yang menakjubkan.
"Sanji, aku tahu berat rasanya berpisah dari Nami-chan." Reiju berjalan mendekat. "Jika kamu mau, aku bisa membantumu-"
"Tidak usah, nee-chan." Sanji membalikan badannya. "Aku tidak peduli jika aku harus mati sekalipun. Asalkan Nami-swan baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku."
Demi Kami-sama, kenapa ini harus terjadi pada adiknya?
.
.
.
"Jadi, sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Sakura?"
Zoro meletakan gelasnya sebelum mengisinya kembali dengan sake di dalam botol.
"Tiga bulan."
"Apakah selama itu dia baik-baik saja?" tanya Rayleigh. "Syukurlah kamu bisa merubahnya."
Mengangkat satu alisnya, Zoro memandang calon mertuanya dengan pandangan bingung.
"Dia sama sekali tidak bisa melupakan Kenshi. Dia merasa sangat bersalah dan terpukul karena kematian Kenshi. Ketika aku mendengar jika kamu adalah orang yang mirip dengan Kenshi, aku ingin membuktikannya dan aku bahkan masih tidak percaya jika kamu bukanlah Kenshi." Rayleigh meneguk sakenya. "Aku rasa, Sakura mencintaimu karena dirimu dan bukan karena Kenshi."
"Ya, aku tahu."
Tentu saja dia tahu, apalagi Sakura rela menyerahkan tubuhnya. Lagi pula, dia tidak suka menyakiti wanita dan bermain-main dengan wanita. Dia berniat serius dan tidak ingin kehilangan Sakura.
Robin tidak bisa menahan senyumnya ketika mendengar penuturan Zoro. Mungkin awalnya dia merasa nostalgia ketika bertemu dengan Zoro, kemudian dia bertemu dengan Law dan mereka terlibat kencan. Mungkin saat itu dadanya terasa sangat sesak melihat bagaimana Zoro bersama dengan Sakura, namun melihat keduanya yang saling mencintai, membuatnya bahagia dan bersyukur.
Kemudian matanya menatap Sakura yang berlari dengan panik.
"Sakura, ada apa?" tanyanya.
"Nami-nee tidak bangun. Tubuhnya demam."
.
.
.
Sanji duduk di meja makan dengan tenang dan ayahnya duduk di sampingnya. Kedua kakak laki-lakinya dan adik laki-lakinya tampak bercengkrama dan tidak peduli dengan kehadirannya. Meneguk tehnya, dia juga tidak peduli kepada keluarganya.
Dihadapannya, seorang gadis cantik berambut kecoklatan duduk dengan anggun dan mengobrol bersama ibunya. Kakak perempuannya sepertinya juga tidak tertarik dengan hal ini.
"Apa tidak apa-apa kamu datang sendiri Purin-chan?" tanya Sora.
"Tidak apa-apa, kaa-san." Purin tersenyum. "Lagipula, aku ingin mengenal Sanji-kun lebih dekat lagi."
Suara kursi yang digeser membuat semua orang memandangnya. Sanji bangkit dari duduknya.
"Aku mau ke toilet."
Purin terus memandang kemana calon suaminya itu pergi.
.
.
.
"Tidak apa-apa, dia hanya shock dan kelelahan."
Sakura bernapas lega ketika Trafalgar Law selesai memeriksa kondisi kakaknya. Dia benar-benar panik ketika kakak perempuannya tidak mau bangun dan suhu tubuhnya sangat tinggi.
"Tetapi, ini tidak baik dengan kandungannya yang masih sangat muda."
Robin memandang kekasihnya dengan pandangan tidak percaya sedangkan Sakura menutup mulutnya karena terkejut. Rayleigh adalah orang yang pertama kali bereaksi.
"Apa maksud anda dengan kandungannya?"
Trafalgar Law memandang Robin, mencoba meminta pendapat apakah dia boleh mengatakannya atau tidak. Robin menganggukan kepalanya, tanda dia boleh mengatakan diagnosa tentang apa yang di derita oleh Nami.
"Nami-san hamil dan sudah masuk pada trimester pertamanya."
"Hamil?" Rayleigh menatap kedua putrinya dan mencoba meminta penjelasan.
"Tou-san masih ingat dengan Sanji, kan? Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Tetapi sepertinya mereka bertengkar dan membuat Nami menjadi seperti ini." Robin menjelaskan apa yang terjadi.
"Sebaiknya, jangan membebaninya dengan pertanyaan yang akan membuatnya bertambah stres karena bisa mempengaruhi kondisinya."
Robin menghela napas panjang. Sepertinya akan ada badai besar yang datang.
.
.
"Sanji-san."
Sanji menolehkan kepalanya dan memandang Purin yang datang menghampirinya. Dia mengabaikan Purin dan terus menghisap rokoknya sembari memandang langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang.
Seperti ini memang bukanlah sikapnya. Mungkin dulunya, dia tidak akan pernah bisa mengabaikan wanita secantik apapun dan akan menggodanya. Tetapi, dia sudah lama bersama Nami dan semakin hari dia semakin mencintainya. Dia memang sering menggoda adik-adik dari Nami, tetapi hanya mereka dan tidak lebih.
Mungkin, dia memang tidak bisa menghilangkan apa yang menjadi sifat dasar para lelaki. Tetapi, bukankah berubah untuk menjadi lebih baik bukan masalah?
"Aku tahu, kita akan menikah tanpa dasar cinta. Tetapi, aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik."
Bisakah, bisakah dia mempercayai jika semuanya akan baik-baik saja?
.
.
.
"Nami, aku ingin bicara padamu."
Robin membuka pintu kamar Nami dan menemukan wanita berambut oranye itu duduk diatas ranjang sembari memandang jendela kamarnya. Sakura ikut masuk merasa sedih melihat bagaimana kakaknya seperti mayat hidup. Kakaknya bukanlah wanita yang lemah, Nami adalah wanita yang kuat dan baru kali ini dia melihat kakaknya menjadi seperti ini.
"Makanlah, Nami. Ingat jika kamu sedang mengandung."
Sakura menatap kakaknya dengan pandangan prihatin. Nami adalah orang yang ceria dan galak diantara mereka. Dia selalu tegas dan semua urusan rumah tangga akan selesai ditangannya. Jadi, ketika melihat bagaimana kondisi kakaknya yang sekarang membuatnya sedih.
"Nami, ada apa dengan Sanji? Kenapa dia tidak kembali?" tanya Robin. "Nami, jika kamu menceritakannya, kami mungkin bisa membantumu."
"Sanji.. Sanji-kun akan menikah."
"Apa? Menikah?"
.
.
Sakura menghela napas panjang sebelum memandang wajahnya di cermin. Siapa yang menyangka jika Sanji adalah anak seorang mafia terbesar yang ada di Jepang. Germa 66, tadinya dia mengira jika itu hanyalah dongeng, tetapi ternyata keluarga itu sungguhan ada.
Ternyata selama ini Pemerintah menutupi tentang Germa 66 dan semua ini terasa seperti kejutan baginya. Mungkin masih ada cara untuk membatalkan pernikahan keduanya dan membawa Sanji-nii kembali kepada kakaknya, namun hal itu sepertinya mustahil terjadi.
Menarik napas panjang, Sakura berjalan keluar kamarnya dan apartemen yang ditempatinya sudah sepi. Ayahnya tidur di kamar milik Robin dan kakaknya itu memutuskan untuk menemani Nami tidur. Sedangkan Zoro tidur di sofa yang ada di ruang keluarga.
Jika mengingat bagaimana ekspresi kekasihnya saat mengetahui tentang ayahnya membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. Namun, dia tidak tega melakukannya karena hal itu pasti akan membuat Zoro ngambek. Biar begitu, Zoro termasuk pria yang suka sekali ngambek seperti anak kecil.
"Zoro-kun, sudah tidur?"
Sakura menghampiri sofa dimana Zoro tidur dan menemukan kekasihnya sudah memejamkan matanya. Tidak biasanya Zoro tidur cepat, biasanya kekasihnya itu tidur hanya tiga jam hanya untuk menonton televisi atau minum sake.
Sepertinya Zoro kelelahan hingga tertidur dengan nyenyak. Memandangi wajah kekasihnya, Sakura tersenyum. Dia mendekati Zoro dan mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya itu.
"Hmm.. mencuri ciumanku?"
Sakura terkejut dan memandang Zoro yang membuka matanya.
"Mou, Zoro-kun! Kamu sedang menjahiliku! Dasar usil!" Sakura merengut kesal dan memukul dada kekasihnya dengan gemas.
"Jangan berisik, Sakura. Aku tidak mau ayahmu terbangun."
"Hoo, kau takut pada ayahku, heh?" tanya Sakura. "Tenang saja, Tou-san tidak galak kok. Dia pasti akan merestui kita."
"Ya, terserahmu saja."
Zoro menutupi wajahnya menggunakan lengannya dan membuat Sakura tersenyum. Betapa dia bersyukur dipertemukan dengan Zoro, karena hal itu dia sedikit demi sedikit bisa melupakan Kenshi.
oOo
"Apa?! Sanji akan menikah?!"
Sakura menganggukan kepalanya dan menyeruput jus Strawberry miliknya. Luffy menatapnya dengan pandangan geram dan Ussop yang membuka mulutnya dengan tidak percaya.
"Oi, oi, apa yang kamu katakan benar?" tanya Ussop.
"Iya. Sekarang Nami-nee tengah hamil, aku sedih melihat bagaimana terpuruknya Nami-nee. Aku yakin, Sanji-nii juga pasti tersiksa dengan perjodohan ini."
"Aww, kasihan sekali Nami." Franky buka suara.
"Aku mendapatkan ide!" Luffy menatap teman-temannya.
"Oi, aku merasa jika ide Luffy adalah ide yang buruk." Ussop berbisik kepada teman-temannya.
"Shishishi.. kita tinggal menghancurkan pesta pernikahannya saja kan?" Luffy tersenyum lebar. "Sudah diputuskan! Kita akan mengacau di pesta pernikahan keduanya!"
"Sudah kuduga." Ussop mengusap wajahnya. "Jika dia sudah membuat keputusan, kita bahkan tidak bisa kabur lagi."
Robin tidak bisa menahan tawanya.
"Aku akan membantu kalian, aku rasa Torao juga akan membantu dengan membawa pasukan tenaga kesehatan miliknya." Robin menopangkan dagunya.
"Aku tahu jika Luffy adalah putra dari kepala polisi di Tokyo. Tapi melawan Germa 66?" Ussop menatap mereka dengan ngeri.
"Kenapa? Kau takut?" tanya Zoro. "Aku akan menebas kepala mereka semua. Bukankah kamu seorang penembak jitu? Ayahmu juga seorang penembak jitu, kan?"
"Itu memang benar, tapi-"
"Jangan jadi pengecut seperti itu." Zoro meneguk minumannya.
"Jadi, bagaimana rencananya?" Franky menatap mereka semua. "Luffy?"
"Hah?" Luffy yang sedang memakan dagingnya balik menatap mereka. "Kita akan gunakan serangan langsung dan dadakan! Persiapkan diri kalian semua! Yahahahahaha!"
Robin tertawa kecil dan Ussop membuka mulutnya lebar-lebar.
"Sudah kuduga ini akan menjadi sebuah tragedi yang besar."
"Aaah, terserah kalian saja."
Dan rencana mereka terbentuk begitu saja.
.
.
.
.
"Kalian semua tidak harus melakukan hal itu."
Robin dan Sakura berkumpul di kamar Nami setelah mereka menceritakan semuanya. Robin sudah mengajukan cuti sementara untuk Nami, mengingat kondisi Nami yang belum sepenuhnya pulih.
Sakura memeluk guling milik kakaknya dan menatap keduanya. Dia hanyalah anak bungsu dan hanya bisa menurut kepada kakak-kakaknya yang memiliki pengalaman lebih banyak darinya.
Rasanya dia kesepian tanpa Zoro di apartemennya. Kekasihnya bilang, dia ingin berlatih pedang sebelum hari eksekusi datang. Sepertinya, meskipun Zoro terlihat tidak peduli pada sekitarnya, namun kekasihnya itu peduli pada orang-orang sekitarnya.
"Sudah Nami, kami semua sayang padamu dan ingin membantumu." Robin tersenyum. "Kamu kan tahu bagaimana teledor dan cerobohnya Luffy, jadi kami sudah menyiapkan rencana cadangan."
Nami memeluk wanita yang ada dihadapannya dan tidak tahu harus mengatakan apa. Betapa dia bersyukur memiliki orang-orang yang sayang dan peduli padanya.
.
.
"Aku ingin menyelamatkan Sanji!"
Pletak!
"Apa yang baru saja kau katakan, Luffy?!"
Monkey D. Grap memandang cucunya yang kini tengah mengaduh sakit dengan sebuah benjol sebesar bakpao yang ada di kepalanya. Luffy menatap kakeknya dengan pandangan kesal dan ayahnya hanya diam saja sembari meminum teh.
"Sudah aku katakan! Aku ingin menyelamatkan Sanji!"
"Siapa yang mengajarimu cara berbicara yang tidak sopan seperti itu, hah?!" Garp memandang cucunya dengan pandangan membunuh miliknya dan siap memukulnya lagi.
"Tidak bisa, Luffy."
Monkey D. Dragon menghela napas panjang dan menatap putranya.
"Kamu tahu kan, jika berani menggagalkan pesta pernikahan ini kamu berhubungan dengan siapa? Germa66 bukanlah mafia sembarangan, Luffy. Mereka membantu memberantas orang-orang jahat yang tidak bisa dilakukan oleh beberapa polisi, mereka bahkan melindungi pedagang dan pemilik restaurant kecil dari beberapa preman yang ingin menguasai mereka.
Lagi pula, Purin adalah putri dari Big Mom. Kau tahu siapa dia kan? Dia menteri perdagangan yang menguasai pasar ekonomi Jepang, Luffy. Terutama di bidang makanan dan membuat Jepang tidak kelaparan. Kita tidak bisa begitu saja menggagalkannya."
"Tapi aku ingin menyelamatkannya, tou-chan."
Dragon menatap putranya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya. Luffy sudah memasang puppy eyes miliknya dan Luffy terlihat seperti anak kecil meski dia sudah dewasa sekarang. Genetik milik istrinya benar-benar menurun pada Luffy.
"Masih ada satu cara."
Menolehkan kepalanya, mereka menemukan seorang pria berdiri membawa banyak makanan di tangannya.
"Shanks?!" mata Luffy berbinar. "Daging!"
"Hahahaha.. kau masih saja seperti itu, Luffy." Shanks menatap Garp dan Dragon sebelum duduk di sebelah Luffy.
"Apa yang kau lakukan disini, Akagami?" tanya Garp. "Bukankah kau ada di Perancis, hah?"
"Urusanku sudah selesai." Shanks tersenyum.
Dia adalah salah satu mafia yang menguasai ekonomi Perancis. Pada awalnya, dia tinggal di Jepang dan merintis usahanya untuk menguasai pasar ekonomi. Namun, karena perseteruannya dengan Big Mom, Shirohige, Kaido, dan Kurohige, membuatnya harus melebarkan sayapnya ke Perancis.
"Aku dengar, kau berseteru dengan Kaido." Dragon meminum sakenya.
"Ah iya, hanya perseteruan biasa."
Pada akhirnya, Big Mom yang menang dan menguasai pasar Ekonomi Jepang. Saingannya, Kaido menguasai pasar mafia di Argentina, Brazil dan Mexico. Sedangkan Shirohige menguasai Inggris dan Kurohige berada di New York.
"Aku sudah mendengar semuanya, Luffy." Shanks mengusap kepala Luffy dengan lembut. "Mengamuklah sesukamu, aku yang akan bertanggung jawab."
"Kau jangan macam-macam, Akagami!" Garp bangkit dan menggebrak meja dihadapannya. "Kau tahu apa yang terjadi jika berseteru dengan Big Mom, kan?!"
"Aku akan mengatasinya." Shanks menatap tajam Garp. "Jangan dikira karena aku terlalu lama di Perancis, aku tidak bisa mengalahkan Big Mom."
"Apa rencanamu?" tanya Dragon.
"Selama aku berada di Perancis, beberapa anak buahku bekerja di bawah pimpinan Big Mom dan melaporkan segala perkembangan yang terjadi. Mereka tidak akan mengkhianatiku, jadi tidak masalah, Luffy."
"Yosha!" Luffy memeluk Shanks dan tersenyum. "Terima kasih, Shanks! Aku menyayangimu."
"Duduklah, Akagami," ucap Dragon. "Katakan apa rencanamu."
oOo
"Kalian benar-benar tidak harus melakukannya."
Nami memandang dirinya di cermin yang menampilkan dirinya dengan balutan gaun berwarna merah. Pagi-pagi buta, apartemennya sudah dipenuhi teman-temannya yang sudah siap dengan persenjataan mereka semua.
Rambutnya kini sedang ditata oleh Sakura yang dengan setia selalu menemaninya. Gaun miliknya juga gaun yang diberikan oleh Robin. Dia benar-benar bersyukur memiliki saudara seperti Sakura maupun Robin.
"Tenang saja, Nami-nee. Semuanya sudah diatur." Sakura tersenyum. "Lagipula, Zoro-kun juga akan ikut andil dalam menghajar mafia menyebalkan itu."
"Benarkah aku bisa mengandalkan si bodoh itu?" tanya Nami.
"Tentu saja! Jangan meremehkan Zoro-kun!"
Nami tidak bisa menahan tawanya dan membuat Robin yang berdiri tidak jauh dari mereka tersenyum.
"Saat kita pergi nanti, orang-orang suruhan Akagami akan membawa beberapa barang kita dan akan bertemu di Bandara. Kita akan tinggal di Perancis dan aman dibawah perlindungan Akagami."
"Lalu, bagaimana dengan kalian?" tanya Nami. "Kalian semua tidak seharusnya melakukan hal ini untukku. Aku bisa membesarkan bayi ini dan-"
"Aku rasa, Luffy-nii tidak akan senang mendengarnya." Sakura memeluk Nami. "Kau tahu, Nami-nee. Diantara kami semua, Luffy-nii yang paling bersemangat untuk menyelamatkan Sanji-nii dan kamu ingin menggagalkannya? Jangan menanggung semuanya sendirian, Nami-nee."
Dan Nami tidak bisa menahan air mata yang membasahi pipinya.
.
.
Pernikahan Sanji dan Purin dilaksanakan di sebuah gedung megah yang tertutup. Beberapa wartawan sudah disogok untuk memberikan berita yang baik untuk pernikahan antara Vinsmoke Sanji dan Charlotte Purin.
Sanji sudah siap dengan pakaian pernikahannya. Sebuah setelan jas berwarna putih dengan bunga mawar di saku jas bagian kirinya. Rambutnya sudah ditata dengan rapi dan dia sudah siap untuk menikah dengan gadis yang dipilihkan orang tuanya. Bukan gadis yang dicintainya.
Mengambil sebuah foto dari dalam saku celananya, matanya menatap foto wanita berambut oranye dan menatapnya. Dia sangat menyukai senyuman dari Nami. Dia menyukai bagaimana wanita itu tersenyum dan wanita itu yang menerima dirinya apa adanya saat keluarganyapun tidak mau menerimanya. Dia pernah membaca sebuah kutipan dari komik, "Karena keluarga yang sebenarnya, bukanlah yang kebetulan bertalian darah denganmu. Tetapi mereka yang menyambutmu dengan hangat ketika dia pulang."
Sekarang prioritasnya bukanlah kebahagiaannya, namun keselamatan Nami dan juga semua orang yang ada di Baratie. Dia akan bahagia apabila semuanya selamat dan dia bisa melihat bagaimana mereka semua tersenyum.
"Sanji."
Menolehkan kepalanya, matanya memandang kakaknya yang telah siap dengan gaun pestanya yang indah. Reiju melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Maaf, seharusnya aku memiliki kekuatan untuk menentang segala keputusan ayah."
"Tidak apa, nee-san." Sanji tersenyum dan membuat hatinya tercabik-cabik. "Ini semua adalah pilihanku dan aku yang akan menjalaninya."
Dan air mata Reiju tidak dapat dibendung.
.
.
"Hentikan mobilnya, Ussop!"
Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan sebuah gedung. Seorang pria berambut putih keabu-abuan sudah menunggu mereka bersama dengan beberapa anak buahnya. Shanks tersenyum ketika Luffy dan teman-temannya sudah datang.
"Dimana yang namanya Nami?" tanya Shanks.
"Aku disini." Nami turun dari dalam mobil.
"Baiklah, begini rencananya." Shanks memandang mereka semua. "Aku butuh seorang penembak jitu dan seseorang yang bisa menebas dalam sekali tebasan."
"Aku bisa menebas semuanya." Zoro buka suara.
"A-aku bisa menembak." Ussop juga buka suara.
"Hoo.. kau anaknya Yassop, bukan?" Shanks tersenyum lebar. "Ayahmu ada di dalam. Baiklah, kau anaknya Yassop dan kau yang bisa menebas masuk bersama Luffy dan Nami. Sisanya akan menunggu diluar dan setelah mereka membawa Sanji keluar, segeralah menuju Bandara."
"Bagaimana denganmu, Shanks?" tanya Luffy.
"Aku bisa mengatasi semuanya." Shanks tersenyum. "Ayahmu dan kakekmu akan membantuku. Di Perancis kalian akan disambut oleh Sabo."
"Sabo?! Dia ada di Perancis?!" Luffy memandang Shanks.
"Um ya. Baiklah, kita harus segera bergegas."
Sebuah tangan menarik tangan Zoro dan tiba-tiba sebuah benda kenyal masuk ke dalam mulutnya. Sakura menciumnya dan meremas rambutnya sebelum melepaskan ciuman mereka.
"Kembalilah dengan selamat, Zoro-kun."
Kenapa rasanya dia seperti orang yang akan pergi Perang?
.
.
Sanji dengan khidmat mendengarkan apa yang pendeta katakan. Kepalanya terasa sangat sakit dan dia tidak tahu harus berkata apa. Diluar sana, banyak orang yang pasti iri dengan kehidupannya. Dia akan menikah dengan putri seorang menteri dan istrinya sangat cantik. Siapapun pasti akan iri dan menginginkan kehidupannya.
Tetapi sayangnya, dia tidak menginginkannya.
"SANJIIIIII!"
Rasanya sebuah suara yang familiar terdengar di telinganya. Dan saat dirinya menolehkan kepalanya, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Disana, Luffy berdiri dengan napas yang terengah-engah. Di sampingnya, Nami berdiri dan juga ada sahabat-sahabatnya. Rasanya dia seperti mimpi.
"Luffy? Nami-swan?"
Entah mengapa, air mata mengalir dari kedua matanya. Padahal dia sedang tidak ingin menangis saat ini.
"Siapa kalian?!" Big Mom bangkit dari duduknya. Begitu pula dengan beberapa anak-anaknya.
"Jangan bergerak." Sebuah pistol sudah berada dihadapannya.
Beberapa orang berteriak panik dan berlari keluar gedung. Big Mom menatap anak buahnya maupun anak-anaknya yang kini dalam keadaan tak berdaya dengan pistol yang ditodongkan pada mereka.
"Selamat pagi, Big Mom." Shanks muncul dengan senyumannya.
"Akagami." Big Mom berdesis. "Aku sudah menduga jika ini semua ulah kalian."
"Meski bos besar kami ada di Perancis dan kami bergabung denganmu, kami tidak akan pernah mengkhianati bos kami." Yassop tersenyum.
Beberapa anak buah Shanks bergabung dengan Big Mom setelah dirinya pergi ke Perancis dan melebarkan sayapnya disana. Meski begitu, mereka semua masih setia padanya dan dia berjanji akan membawa mereka semua bersamanya dan menebus semuanya.
"Sanji-kun!"
Ditengah suara hiruk-pikuk manusia, telinganya bisa mendengar suara dari Nami.
"Sanji-kun! Aku hanya ingin menikah denganmu! Aku mencintaimu! Aku tidak peduli dengan semuanya!"
Sanji menatap Nami dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Pergilah, bodoh!" Reiju mendorong Sanji untuk segera kabur. "Jangan pikirkan semuanya dan kejarlah kebahagiaanmu!"
Suara tembakan dan pedang terdengar memenuhi ruangan. Sanji menghampiri Nami dan segera memeluknya. Dia tidak bisa mendiskripsikan betapa bahagianya dirinya saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka jika sahabat-sahabatnya akan menyelamatkannya.
"Nami-swan.."
"Kita bicarakan nanti, Sanji-kun. Sekarang kita harus segera pergi." Nami tersenyum.
"Oi, Luffy! Kita harus segera pergi!" Zoro menebas beberapa orang yang mencoba menyerang mereka.
"Shanks! Bagaimana dengan dirimu?!" Luffy menatap Shanks.
"Aku akan menyelesaikannya. Aku akan menemuimu di Perancis." Shanks tersenyum. "Pergilah."
Mendapatkan perintah, mereka segera berlari keluar dari gedung pernikahan yang sebentar lagi akan berubah menjadi lautan darah. Suara tembakan dan logam yang saling beradu terdengar, terdengar sangat kacau dan malaikat maut sudah berada di dalam untuk memenuhi tugas mereka.
"Nami-nee! Sanji-nii! Cepatlah!" Sakura melambaikan tangannya dari dalam mobil. "Cepatlah lari!"
Dengan tergesa-gesa, mereka segera masuk ke dalam mobil dan sebuah tembakan menghujani mobil mereka.
"Cepat jalan, Franky!" Luffy memberi perintah. Mobil yang mereka naiki segera melesat pergi dari gedung pernikahan itu.
"Apakah ada yang terluka, Mugiawara-ya?"
"Tidak ada, Torao." Ussop yang menjawab.
Nami dan Sanji duduk dengan napas yang terengah-engah. Sanji membawa kekasihnya ke dalam pelukannya sebelum menciumi wajah Nami dengan penuh kasih sayang. Disaat dia merasa putus asa, lagi-lagi Nami datang dan membawanya menuju cahaya dimana hanya ada kebaikan dan ketulusan hati. Dia benar-benar bersyukur dipertemukan oleh orang-orang yang baik.
"Kau seharusnya tidak melakukannya, Nami-swan."
"Tidak melakukannya bagaimana?!" Nami memandang Sanji dengan galak. "Jadi, kamu lebih suka menikah dengannya?!"
"Tentu saja tidak, Nami-swan." Sanji memeluk Nami dengan erat. "Tentu saja aku hanya ingin menikah denganmu, Mellorine!"
Sakura tidak bisa menahan senyumnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Zoro. Dia benar-benar merasa bahagia karena kakaknya akhirnya bisa bahagia.
"Aku akan mempercepat lajunya, kalian semua pegangan!"
Dan semuanya belum berakhir sampai disini.
.
.
.
"Luffy-kun!"
Boa Hancock menanti mereka bersama dengan May O' Rayleigh. Hancock melambaikan tangannya ketika rombongan yang membawa kekasihnya datang. Tadinya, dia ingin sekali ikut bersama dengan kekasihnya, namun Luffy melarangnya dan memintanya untuk menunggu di bandara.
"Tou-san."
Rayleigh terkejut ketika Sanji bersujud di kakinya. Tidak hanya Rayleigh, namun mereka semua terkejut ketika Sanji melakukan hal yang diluar dugaannya.
"Maafkan aku, Tou-san." Sanji berujar sembari bersujud di kaki Rayleigh. "Aku membuat Nami-swan sedih dan aku tidak bisa melawan kehendak ayahku. Andaikan saja aku memiliki keberanian-"
"Bangunlah, anak muda," ucap Rayleigh. "Semuanya sudah terjadi dan tidak perlu disesali lagi. Sekarang yang terpenting kamu ada disini, karena kebahagiaan Nami ada padamu."
"Oh, mengharukan sekali."
Seorang pria berambut kuning berdiri dengan kacamata pilot yang ada diatas kepalanya.
"Sa-Sa-Sabo?!"
Luffy memandang siapa yang berdiri di depan pintu pesawat dengan pandangan terkejut. Dia segera berlari dan menghambur memeluk pria yang disebutnya 'Sabo' itu.
"Sabo huweeee! Sabooo!"
"Siapa dia?" tanya Sakura sembari menunjuk pria yang dipeluk Luffy.
"Dia adalah pilot kita, namanya Sabo dan dia adalah kakaknya Luffy." Hancock menjelaskan.
"Kakak?!" mereka semua berkata bersamaan.
"Yosh, yosh, sudah Luffy. Kita bicarakan nanti." Sabo tersenyum sembari mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. "Aku pilot kalian di penerbangan ini dan aku membutuhkan satu co pilot yang bisa membantuku."
"Aw, aku bisa melakukannya."
Franky berjalan masuk mengikuti Sabo dan mereka semua segera masuk ke dalam pesawat megah yang telah disiapkan untuk mereka.
"Pasang sabuk pengaman kalian, anak-anak," ucap Rayleigh.
Luffy masih sesenggrukan dan Hancock dengan setia ada di sampingnya sembari menghapus ingus yang keluar dari hidung kekasihnya. Di matanya, Luffy sangatlah menggemaskan dan dia semakin mencintai Luffy.
"Apa?! Kau hamil?!"
Suara menggelegar milik Sanji membuat mereka semua memandang pasangan yang baru saja bersatu itu. Nami mencubit lengan Sanji dengan wajah yang merona merah.
"Jangan dikatakan keras-keras, bodoh!"
Robin tidak bisa menahan tawanya. Dia memandang Trafalgar Law yang duduk di sampingnya.
"Mereka memang jagonya membuat orang iri." Robin tersenyum.
Trafalgar Law mengalihkan pandangannya dengan pipi yang merona merah.
"Biasa saja."
Nico Robin tertawa kecil melihat betapa menggemaskannya kekasihnya saat malu-malu.
Sedangkan Sakura memandang Roronoa Zoro yang sudah tertidur dengan lengannya yang digunakan untuk menutupi sebagian wajahnya. Senyumnya tak henti-hentinya berkembang dan matanya terus menerus memandangi cincin yang ada di jari manisnya. Entah sejak kapan, Zoro memasangkan cincin yang indah di jarinya.
"Jangan memandanginya terus." Zoro berkata tanpa mengubah posisinya.
"Aku menyukainya." Sakura tersenyum sumringah.
"Setelah koki bodoh itu menikah, kita bisa menikah setelahnya."
Sakura menolehkan kepalanya dan memandang kekasihnya.
"Apa? Kamu mengatakan apa, Zoro-kun?"
"Tidak ada."
"Bohong! Aku mendengarmu mengatakan sesuatu!" Sakura memukul dada bidang kekasihnya. "Aku akan menciummu jika kamu tidak mau mengatakannya."
"Cium saja jika kamu berani."
Lengannya diturunkan oleh Sakura dan satu ciuman di dapatkannya.
"Wajahmu memerah, Zoro-kun."
"Urrusai."
Sakura menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Zoro. Dia senang, karena semuanya baik-baik saja.
Kenshi, kamu bisa mendengarku? Aku bukannya melupakanmu. Tetapi aku sudah menemukan orang yang akan menjadi belahan jiwaku dan terima kasih karena pernah mengisi hari-hariku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Owari-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Omake-
Sebuah desa yang ada di pinggir negara Perancis begitu damai dan tenang. Setelah insiden perjodohan antara keluarga Vinsmoke dan Charlotte berakhir, mereka tinggal di sebuah desa yang ada di pinggir Perancis.
Nami resmi mengubah namanya menjadi Vinsmoke Nami lima bulan yang lalu dan kini usia kandungannya sudah masuk bulan ketujuh. Mereka hidup bahagia dan Sanji membuka sebuah restaurant yang terkenal di kota Paris.
Shanks kembali dengan selamat dan semuanya sudah beres seperti apa yang sudah dijanjikannya. Kehidupan damai mereka baru dimulai.
"Sekarang, kalian boleh berciuman."
Sebuah kuil kecil menjadi saksi pernikahan dua insan manusia yang saling mencintai. Sakura tampak cantik dengan balutan kimono yang dibuat Nami dan Robin dengan susah payah dan di sampingnya Zoro berdiri dengan gagah.
Awalnya, Nami dan Robin menginginkan pernikahan yang mewah dan megah untuk adik mereka. Namun Sakura menolaknya, dia menginginkan pernikahan yang sederhana dan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya.
Dagunya diangkat dan Zoro menciumnya dengan lembut. Dia bisa merasakan perasaan yang mendalam yang dituangkan Zoro melalui ciumannya. Namun, lama kelamaan ciuman Zoro menjadi ganas dan membuatnya kehabisan napas.
"Oi Marimo! Kau ingin membunuhnya, hah?!" terdengar suara Sanji.
"Lakukan di kamar saja, Zoro!" terdengar suara Ussop.
"Nyahahaha.. dia sangat bersemangat sekali." Luffy tertawa lebar.
"Aww, aku sangat terharu." Franky menghapus air matanya.
"Mereka sangat romantis." Robin tertawa.
"Mattaku, dasar si mesum itu." Nami menggelengkan kepalanya.
Mendengar komentar-komentar yang membuatnya naik darah, Zoro melepaskan ciumannya dan mulai marah-marah tidak jelas kepada sahabat-sahabatnya. Sakura tidak bisa menahan tawanya melihat bagaimana Zoro sekarang menjadi lebih hidup.
Dari kejauhan, dia bisa melihat sesosok Kenshi yang berdiri dengan senyuman di wajahnya.
Aku senang kamu bahagia, Sakura.
Sakura tersenyum dan memandang Zoro. Dia benar-benar bersyukur bertemu dengan pria seperti Zoro.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tamaaaaattttt TTvTT
Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mengikuti cerita ini dari chapter pertama! Arigatou Gozaimasta! Saku benar-benar terharu dan menangis! Huweeee!
Terima kasih banyak yang tak terhingga untuk kalian yang sudah mendukung yang tidak bisa diungkapkan satu persatu! Pokoknya Saku senang sekali kalian sudah mendukung Fict ini!
Kurang mantap, ya? Hahahaa.. silahkan dilanjutkan dalam imajinasi kalian masing-masing yaaa!
Terima kasih banyak dan sampai jumpa di cerita Saku yang lainnya!
Salam hangat,
-Aomine Sakura-
