Namikaze Naruto, itulah nama dari pemuda yang memiliki paras manis dengan tubuh ramping, rambut berwarna kuning jabrik dengan kulit tan yang menghiasi badan menambah kesan seksi. Tentu saja sepasang mata sapphire seindah langit di siang hari memperindah ciptaan Tuhan tersebut. Senyum ramah dan pembawaan diri yang selalu ceria membuat orang-orang disekitarnya betah. Ia merupakan putra dari sepasang suami istri yang bernama Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Saat ini ia telah memasuki ke jenjang perkuliahan tingkat semester akhir tepatnya di Universitas Konoha. Kesibukannya semakin meningkat dengan segala urusan yang harus ia kerjakan sebagai bahan skripsinya nanti. Ditengah kesibukannya ia masih mengambil beberapa mata kuliah yang harus diperbaiki. Ia bukanlah mahasiswa pintar yang semudah menjetikkan jari langsung mendapatkan nilai A. Ia hanya mahasiswa dengan otak pas-pasan, karenanya ia butuh ekstra usaha lebih.

-Atap Kampus-

Kelas mata kuliah statistika telah berakhir sejak 15 menit yang lalu. Naruto telah duduk santai manikmati semilir angin yang menenangkan di atap kampus tempat favoritnya dengan sekotak bekal makan siang yang telah ia siapkan. Naruto mulai membuka bekal makan siangnya, tiba-tiba ia teringat kenangan 'masa itu'. Kenangan dimana ia dan sang sahabat yang selalu makan bersama di atap kampus. Tapi semua itu tidak pernah lagi terjadi sebab sang sabahat yang telah memiliki kekasih.

"haaaahhhh" Naruto menghela nafas. Ia merasa sesak dibagian dadanya jika mengingat kenangan itu.

"kau akan cepat tua kalau terlalu sering menghela nafas, dobe" ujar pemuda yang berdiri didekat pintu sambil menganggetkan sang blonde.

"Sa-Sasuke?! Sejak kapan kau disini?" tanya Naruto yang mencoba menormalkan detak jantungnya seakan selesai mengikuti perlombaan lari.

"hn"

"teme!"

Sasuke mulai berjalan mendekati Naruto dan duduk disebelah pemuda berparas manis itu. Ia membawa kotak makan siang yang telah dibuatkan sang bunda tercinta dan mulai membukanya. Sasuke mulai memakan bekal makan siangnya tanpa mempedulikan tatapan tak percaya dari sang blonde.

"Ke-kenapa kau ke sini? Kau tidak makan siang dengan Sakura-chan?" Naruto bertanya-tanya apa gerangan yang membuat seorang pemuda bermarga Uchiha tersebut datang menemuinya dan makan siang bersama.

"Sakura sedang absen" jawab sang raven singkat dan terus melanjutkan makan siangnya tanpa menyadari perubahan raut wajah pemuda disebelahnya. Naruto menatap sendu Sasuke, ia merasa kecewa. Ia mengira dirinya termasuk berharga bagi Sasuke, pada kenyataannya hanya selingan sesaat sang pemuda berambut raven yang terus melanjutkan makan siang.

"teme! Aku bukan selinganmu!" jawab Naruto kesal dengan nada terkesan biasa. Naruto mati-matian menahan air mata hingga tubuhnya bergetar. Naruto memalingkan wajahnya berlawanan dengan Sasuke dan mengusap air mata yang jatuh yang tak bisa ditahan lagi. Ia harus terlihat biasa didepan pemuda tampan itu agar perasaannya tak diketahui oleh sang pemuda. Naruto takut jika Sasuke mengetahui perasaannya, pemuda itu akan menjauhinya bahkan mungkin parahnya tak ingin berteman lagi. Setidaknya, dengan keadaan seperti ini dia bisa berdekatan dengan Sasuke walaupun harus menahan rasa cemburu.

-Skip time-

Naruto berjalan menyusuri lorong kampus yang mulai sepi. Kegiatan kampus yang dia ikuti menguras banyak waktu serta fisik. Pemuda berambut jabrik itu mengikuti kegiatan kampus hanya semata-mata mengisi kekosongan dan tentu mencari kesibukan agar terus tak memikirkan Sasuke. Saat Naruto berada di depan salah satu kelas, ia berpapasan dengan Sasuke dan Sakura. Mereka berdua terlihat sedang berbincang dan sesekali wajah Sakura terlihat memerah. Mereka juga terlihat sedang bergandengan tangan. Tidak, tepatnya Sakura lah yang menggandeng tangan sang Uchiha. Namun, pemuda itu tampak tak keberatan.

Mata mereka bertemu. Sapphire dan onyx saling bertatapan sesaat. Namun, Naruto mengalihkan terlebih dahulu pandangannya ke tempat lain asal tidak ke mata pemuda bersurai raven.

"hai Sakura-chan" sapa Naruto ke Sakura tanpa mempedulikan tatapan tajam dari Sasuke.

"oh hai juga Naruto. Kau mau pulang?" tanya Sakura ke Naruto yang merupakan sahabat baik kekasihnya.

"iya, aku akan pulang. Kalau begitu, aku duluan. Jaa naa" balas Naruto sekaligus berpamitan.

"tunggu dobe!" cegah Sasuke yang langsung memegang lengan kiri Naruto. Naruto menoleh dan melihat lengannya yang dipegang oleh Sasuke. Sesaat, terlihat wajahnya memerah namun dia mulai mengkondisikan diri.

"ayo pulang bersama" ajak Sasuke yang masih terus memegang lengan kiri Naruto.

"a-aah, a-aku sudah janjian dengan Kiba untuk pulang bersama. Lagipula, mana mungkin aku mengganggu kalian hehe" tolak Naruto dengan cengiran andalannya dan berusaha melepas genggaman Sasuke.

Sasuke masih menatap Naruto tajam dan genggaman tangannya makin erat, tapi sesaat setelahnya Sasuke melepas genggamannya.

"hn" jawab Sasuke.

"baiklah, aku duluan" sapa Naruto terakhir kali sebelum berpisah.

Sasuke terus memperhatikan Naruto yang sedikit berlari di sepanjang lorong dan meninggalkan mereka tanpa mempedulikan Sakura yang terus memanggil namanya.

Sasuke terus memperhatikan Naruto yang sedikit berlari di sepanjang lorong dan meninggalkan mereka tanpa mempedulikan Sakura yang terus memanggil namanya.

"Sa-Sasuke-kun? Ada apa?" tanya Sakura kepada Sasuke yang masih terus menatap ke arah pemuda blonde itu pergi.

"hn" jawab Sasuke sambil menarik lengan Sakura pergi dari tempat mereka menuju ke parkiran mobil.

Lagi. Lagi-lagi Naruto berlari menghindari Sasuke. Hal itu sudah menjadi kebiasaan pemuda itu untuk menghindari Sasuke. Ia hanya tak ingin mengganggu mereka. Ia juga tak akan lagi kuat menahan rasa sakit lagi. Menghindar. Itulah kata yang tepat yang ia lakukan untuk Sasuke. Ia takut jika terus-menerus bersama dengan Sasuke, akan menyebabkan perasaannya yang semakin dalam ke sang pemuda. Naruto berkomitmen ingin fokus terhadap skripsi juga mata kuliah yang masih diambil. Mulai sekarang, ia berkomitmen untuk melupakan Sasuke.

Naruto sedang berjalan menuju halte bis. Sekarang pukul 8 malam, itu berarti bis terakhir yang ditunggu akan tiba dalam 15 menit lagi. Saat beberapa langkah sampai di halte, Naruto dikagetkan dengan mobil hitam BMW Seri 7 yang secara tiba-tiba berhenti disebelah Naruto berdiri. Naruto sangat kenal dengan mobil itu, siapa lagi pemiliknya kalau bukan Uchiha Sasuke?

"masuk" ajak –lebih tepatnya perintah- Sasuke ke Naruto yang berada disebelah mobil setelah ia menurunkan kaca mobil penumpang.

"A-a-aku-"

"masuk!" potong Sasuke tanpa menunggu jawaban sang blonde.

Naruto mencebik bibirnya kesal tapi tetap mengikuti perintah Sasuke. Ia mulai memasuki mobil itu dan mobil mulai berjalan menuju arah apartemen Naruto. Dalam perjalanan, terasa atmosfir yang tak mengenakan dari sang Uchiha. Naruto gelisah dengan kebohongan yang telah ia buat dan diketahui sang Uchiha. Ia takut malam ini akan dapat ucapan dingin dan tatapan tajam dari sang Uchiha.

Sesampainya di depan apartemen Naruto, pemuda berambut blonde ingin langsung turun dari mobil. Namun oleh Sasuke dicegah dengan pertanyaan tanpa menoleh.

"dari mana saja?" tanya Sasuke dingin

"a-aku.. tadi ada rapat sebentar dan baru pulang" jawab Naruto sambil menundukkan wajahnya.

"rapat apa sampai kau baru pulang jam segini Naruto?" tanya Sasuke dengan penuh penekanan

"a-aku-" jawab Naruto namun terpotong

"tatap aku jika sedang berbicara" perintah Sasuke dengan tangan kiri menuju dagu sang blonde untuk mengangkat wajahnya.

"a-aku dari taman"

"kau berbohong dengan pulang bersama Kiba." Jelas Sasuke dengan tangan yang telah diletakkan kembali atas paha. Naruto gelisah dan ketakutan,

"ma-maaf, aku hanya tak ingin merepotkanmu. Lagipula aku tak ingin menganggu kalian" jawab Naruto ketakutan dengan jari yang dimainkan diatas paha.

"kau lebih penting daripada Sakura. Kau tahu itu"

Naruto hanya menundukkan kepala dan mulai menangis. Ia menangis karna sudah tak sanggup lagi menahan perasaannya terhadap Sasuke.

"tolong jangan seperti ini Sasuke" pinta Naruto dengan tangis yang semakin pecah.

"k-kau hanya semakin membuat pe-perasaanku terha-dap-mu bertambah besar. M-maafkan aku Sasuke, tapi a-aku menyukaimu, hiks..." ucap Naruto jujur dengan suara serak.

Mata onyx sang pemuda Uchiha yang mendengarkan sedari tadi melebar sesaat. Ia tak menyangka selama jika sang sahabat baik yang dimiliki memiliki perasaan terhadapnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dalam lubuk hati sang Uchiha dia ingin sekali memeluk Naruto yang menangis dan menenangkannya. Ia merasa sakit melihat sang sahabat menangis, tapi egonya berkata lain. Ia mencengkram kuat setir mobilnya.

"sebaiknya kau masuk ke dalam, ini sudah malam" ucap Sasuke mengalihkan pembicaraan tanpa menatap sang blonde.

Naruto kaget. Ia memandang tak percaya sang Uchiha. Jijik kah sang Uchiha atas pengakuannya? Apakah ini akhir dari persahabatan mereka? Naruto memandang kecewa. Ia merasa sakit, sangat sakit. Ia ingin menumpahkan kembali tangisannya, tapi ia tahu sang Uchiha yang mungkin telah jijik atas pernyataannya.

"a-aku m-mengerti" jawab Naruto

"ma-maaf atas pernyataanku. Kau pasti jijik kepadaku sekarang. Kuharap kau bahagia dengan Sakura. Mulai sekarang aku tak akan mengganggumu dan melupakanmu. Oyasumi, Sasuke" ucap Naruto dengan suara serak dan keluar dari dalam mobil.

"sial!" ucap Sasuke sambil memukul setir mobil dan menatap nanar ke arah Naruto pergi. Sejujurnya Sasuke tak ingin mengucapkan kalimat itu. Ia ingin menenangkan sahabat tapi egonya lebih besar. Entah kenapa, Sasuke merasa tak jijik sama sekali dengan ungkapan perasaan Naruto. Justru ia merasa senang? Tapi lagi-lagi Sasuke menepis semua dan menganggap hanya perasaan sesaat saja. Ia telah memiliki Sakura. Ya, ia mencintai kekasihnya. Semua ini pasti hanya perasaan kasihan terhadap Naruto. Sasuke tak ingin melakukan karena perasaan kasihan, karena ia tahu Naruto membenci itu.

Sasuke menghidupkan kembali mobilnya dan berjalan kembali menuju apartemennya. Ia butuh mengistirahatkan tubuhdan pikiran.

tbc..