We're Meet When Rainy Day
Awan kelabu perlahan menjatuhkan rintikan air yang telah lama disimpan olehnya. Rintikan-rintikan air itu pun berlalu meninggalkan sang awan kelabu yang lelah menimangnya kemudian menunjukkan eksitensinya membasahi dataran bumi. Meskipun hanya setitik demi setitik, banyak insan yang mulai bersiaga menghindar dari air pembawa berkah itu. Ada yang langsung sigap mengeluarkan payung dan mengembangkan pucuknya dan ada juga yang langsung mencari tempat berteduh tatkala titik-titik air itu mulai memanggil bala kawannya. Begitupula dengan pemuda surai hitam berwajah rupawan yang mulai lari tergopoh mencari tempat singgah sementara selagi hujan mulai mengguyur. Tak perlu menghabiskan waktu yang banyak, ia telah berhasil menemukan emperan toko elektronik yang dirasa pantas untuk melindungi diri dari guyuran hujan.
Pemuda itu –Kim Joonmyeon namanya-, menampakkan raut datar dan kaku ketika melihat guyuran hujan yang membasahi tanah kelahirannya kian menderas. Ia menghembuskan nafas, kemudian melihat arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Di saat itu pula bibirnya bergerak melengkung ke bawah lantaran tidak terima dengan situasi yang dialaminya sekarang. Sedikit pusing memikirkan situasi yang dialaminya, ia pun memijat dahinya pelan sambil memejamkan matanya. Meskipun pengaruhnya tidak terlalu besar, namun itu sudah lebih dari cukup baginya untuk meredam kekesalannya.
'Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyukai hujan.'
Joonmyeon membuka kedua matanya pelan. Ia pun mengangkat kepalanya menatap aliran air yang berlomba jatuh ke tanah dari bagian atap toko elektronik. Ia menghembuskan nafas lalu kembali melihat sejenak arloji di pergelangan tangan kirinya. 'Ayolah, kumohon jangan lama-lama hujannya. Aku harus pulang dan mengerjakan setumpuk laporan. Aku tidak ingin waktu tidur berhargaku terpakai hanya untuk mengerjakan laporan Praktik Akuntansi Perusahaan Dagang yang banyaknya bukan main.' ujarnya dalam hati.
Joonmyeon terus menatap guyuran air yang jatuh membasahi seluruh apapun di bumi. Sekaligus memohon kepada awan untuk berhenti menyiramkan sekian liter air ke tanah yang dipijakinya. Mana ia tidak bawa payung pula. Itulah penyebab utama yang membuatnya kejebak di tengah guyuran hujan yang deras. Setelah ini, ia jadi ingin terus menyimak siaran ramalan cuaca yang selalu ia hiraukan setiap pagi. Dengan begitu, ia jadi tahu kapan saja hujan akan mengguyur dan tentunya ia akan mempersiapkan payung sebagai bawaan wajib di ranselnya.
Saat sedang asyik-asyiknya memandangi hujan, tiba-tiba saja atensi Joonmyeon ditarik paksa oleh penampakan pemuda yang tengah berjalan pelan sekali. Kedua alisnya menyatu, dahinya mengernyit, tatkala melihat seorang pemuda yang mungkin seumuran dengannya berjalan dengan pelan sekali di bawah guyuran hujan. Ia semakin kebingungan ketika melihat sebuah payung di genggaman tangan kanannya. 'Apa yang sedang dia lakukan?' itulah isi pikirannya.
Joonmyeon melekatkan pandangannya pada pemuda kehujanan yang sekarang berjalan menuju ke arahnya. Ia pun masih menatap pemuda itu meskipun sudah berada tepat di sampingnya. Tidak ada yang tahu mengapa ia enggan untuk melepaskan pandangnya pada pemuda yang basah kuyup di sampingnya ini. Lihatlah wajah putih yang memucat, rambut yang benar-benar basah, dan kain yang menutupi tubuhnya menempel sempurna hingga kelihatan lekukan tubuh kurus pemuda asing itu.
Pertanyaan yang sedari tadi melayang-layang bebas di benak Joonmyeon hanyalah satu.
Mengapa pemuda itu tidak menggunakan payungnya?
Astaga, tahukah kalian? Joonmyeon sedari tadi sibuk merutuk kapan hujan berhenti dan mengapa ia tak bawa payung sebelum pergi hingga menghabiskan setengah jam waktu berharganya. Malah pemuda ini hanya berjalan santai menghiraukan dirinya basah kuyup dan tidak menggunakan payung untuk melindungi dari hujan. Ingin sekali ia berkata kasar. Namun, untuk apa ia berkata kasar pada pemuda itu, sedangkan pemuda itu tidak mempunyai satupun kesalahan. Justru hak pemuda itu sendirilah yang ingin menggunakan payung atau tidak.
Namun, sungguh!
Joonmyeon kesal sekali.
Tiba-tiba, kedua manik kuaci berwarna cokelat milik Kim Joonmyeon berbinar. Ia dapat ide bagus untuk pulang ke apartemen kesayangannya. Ia pun menoleh ke pemuda basah kuyup yang tengah menunduk di sampingnya. Dengan pelan, ia menepuk bahu sang pemuda tak dikenal.
"Permisi."
Joonmyeon melihat pemuda itu mulai menaruh pandang ke arahnya. Sekejap, ia mematung. Ia kaget melihat wajah pemuda itu yang tampak pucat sekali. Ia pun meneguk ludahnya perlahan lantaran perasaan sungkan langsung menyerangnya.
Joonmyeon langsung panik ketika pemuda itu mengalihkan pandang darinya dan kembali menundukkan kepala. Ia pun akhirnya berani berbicara setelah sekian menit dimakan rasa sungkan. "Apa kau.. sedang tidak butuh payung itu?" ucapnya sedikit ragu.
Pemuda itu tidak menjawab.
"Apa aku boleh meminjam payungmu?" tanya Joonmyeon. "Aku ada keperluan penting yang harus diselesaikan sekarang. Karena keperluan ini sangat darurat, aku tidak mempunyai banyak waktu menunggu hujan ini reda."
Sontak, Joonmyeon mengerjapkan matanya berkali-kali ketika pemuda itu langsung menyerahkan payung miliknya dengan enteng. Ia kaget ketika pemuda itu menaruh pandang kepadanya dan saat itulah kesempatan yang tepat untuk menelisik lebih dalam rupa pemuda di sampingnya ini. Menurutnya, meskipun wajah pemuda itu pucat, deskripsi 'manis dan cantik' masih tergambar jelas di wajahnya.
"Ambillah."
Joonmyeon menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak meminta payungmu. Aku hanya meminjamnya saja. Kalau bisa, aku akan mengembalikannya besok."
"Tidak perlu. Ambil saja." ucap pemuda itu. Ada rasa senang pada batin Joonmyeon ketika mendengar ucapan pemuda itu. Akhirnya setelah sekian lama ia terjebak di emperan toko elektronik, ia bisa pulang ke apartemennya. Oh, betapa bahagianya ia sekarang ini.
"Baiklah." ucap Joonmyeon sambil tertawa kikuk. "Terima kasih banyak, ..."
"Zhang Yixing."
"Oke. Terima kasih banyak Zhang Yixing." ucap Joonmyeon ramah lengkap dengan senyuman menawannya.
Pemuda itu –Zhang Yixing- tidak menjawab. Ia justru kembali menundukkan kepala. Menatap sepatu putih dengan garis hitam yang sudah kotor akibat terkena genangan hujan.
Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Joonmyeon segara mengambil ancang untuk pulang. "Aku duluan ya." pamitnya. Ia pun melayangkan senyuman angelic andalannya pada Yixing –yang masih saja menunduk- sebelum benar-benar meninggalkan pemuda manis itu sendirian.
Yixing pun akhirnya mengangkat kepalanya pelan. Ia menatap kepergian Joonmyeon dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia merasakan sakit yang semakin parah ketika melihat tubuh kokoh di bawah lindungan payung itu menghilang perlahan dimakan derasnya hujan. Ia pun mengulurkan telapak tangannya dan menengadahkannya. Membiarkan air-air itu berkumpul di permukaan telapak tangannya hingga tak bisa tertampung lagi.
"Memangnya, apa yang salah dengan hujan?"
Masih juga kurang.
Masih belum hilang.
Ketidakdewasaan dari jalinan telapak tangan ini.
'Hal baik apa yang hilang?'
'Hal buruk apa yang kita tahu?'
Aku basah kuyup oleh frasa-frasa itu di tengah hujan.
