A Hope In The Rain

Joonmyeon tersenyum bangga ketika memandang rintik-rintik hujan yang kian menderas. Ngomong-ngomong, ia sudah bertobat untuk menyimak acara ramalan cuaca yang selalu dihiraukan olehnya tiap pagi. Berkat dari tobatnya itu, ia bisa langsung membawa payung tanpa ba-bi-bu ketika acara itu mengatakan hari ini akan hujan lebat. Berkat dari tobatnya jugalah, senyuman bangga yang berbinar-binar menghiasi wajah tampannya. Dengan penuh kebahagiaan yang haqiqi, ia pun membuka pucuk payung kemudian berjalan menerobos derasnya hujan dengan santai.

Langkah Joonmyeon pun berhenti tiba-tiba. Ia terdiam dan kedua kelopak matanya berkedip-kedip tanda ia sedikit bingung. Ia melihat seorang pemuda kemarin yang ia pinjami payungnya kini kembali basah-basahan. Saat itu pula, ia jadi teringat sesuatu.

'Oh, iya. Payungnya ketinggalan di apartemen.'

Joonmyeon pun tersentak ketika maniknya kedapatan sosok Zhang Yixing yang menatap intens ke arahnya. Ia pun tersenyum, kemudian berjalan menghampiri pemuda manis itu.

Namun sayang.

Di saat itu pula pemuda manis yang bernama Zhang Yixing juga berjalan kemudian mendahului Joonmyeon.

Seketika Joonmyeon langsung berbalik dan langsung menahan Zhang Yixing dengan menggenggam lengannya.

"Ada apa?" tanya Zhang Yixing setelah ia berbalik.

"Aku ingin mengembalikan payungmu." jawab Joonmyeon sambil mendekatkan jaraknya pada Zhang Yixing hingga berdiri di satu perlindungan yang sama.

"Tidak perlu kau kembalikan, ambil saja."

"Aku tidak ingin mengambilnya. Aku ingin mengembalikannya padamu."

Joonmyeon menatap dalam manik hitam yang sinarnya redup itu. Ia pun menghela nafasnya ketika menangkap arti 'Tidak Menerima Bantahan dan Penolakan' dari manik kelam itu.

"Katakan, dimana rumahmu."

Yixing tidak menjawab. Ia hanya menatap Joonmyeon datar tanpa ekspresi.

Joonmyeon pun menghela nafas lebih berat dari sebelumnya. "Kau selalu kehujanan seperti ini. Apa kau tidak sayang dengan tubuhmu, huh?"

Yixing menatap Joonmyeon datar kemudian menjawab, "Aku tidak peduli."

Joonmyeon berdecak kesal. "Katakan dimana rumahmu! Aku akan mengantarmu sampai ke rumah." ucapnya. "Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku akan menyeretmu paksa ke apartemenku. Kau tidak akan ku izinkan keluar sampai hujan reda."

Yixing mematung seketika. Ia pun menatap dalam manik cokelat Joonmyeon. Sedangkan Joonmyeon, ia justru membalas lebih dalam lagi tatapan manik kelam milik Yixing. Namun, entah mengapa ia menangkap suatu harapan untuk bangkit dari kesedihan yang mendalam di kedua manik kelam itu.

Yixing memejamkan mata, menundukkan kepala, kemudian menghela nafasnya pelan.

"Aku akan mengatakannya." ucap Yixing. Ia pun mengangkat kepala kemudian menatap wajah rupawan Kim Joonmyeon.

Joonmyeon tersenyum. Tangan kirinya terulur menangkap pergelangan Yixing dan tangan satunya lagi memberikan secara paksa payungnya pada pemuda manis itu. "Pegang dulu sebentar." ucapnya. Ia pun membuka jaket yang membaluti tubuh kokohnya kemudian memasangnya pada tubuh Yixing, meskipun nyatanya jaket itu hanya menyelimuti bagian pundak Yixing. Sesudahnya, ia langsung merampas payung di genggaman Yixing dengan tanpa dosa.

"Supaya kau merasa sedikit hangat." ucap Joonmyeon ketika menatap Yixing yang berkedip-kedip polos nan bingung ke arahnya.

"Ayo." ajak Joonmyeon lengkap dengan senyuman ramah yang terlihat sangat menawan sekali.

Yixing pun menurut, ia mulai berjalan beriringan dengan Joonmyeon berada di sisi kanannya. Ia bisa merasakan jaraknya kian menipis dengan telapak tangan Joonmyeon di lengan kirinya. Juga, ia merasakan tubuhnya terdorong ke samping hingga tak ada lagi jarak di antara tubuhnya dengan tubuh Joonmyeon. Saat itu juga, ia merasakan dadanya bergerumuh lantaran jantungnya berdegup tak biasa. Selain itu, ia bisa merasakan hangat yang menyenangkan hingga pipinya bersemu samar.

'Sudah lama aku tidak merasakan perasaan aneh ini. Aku pikir, aku tidak bisa merasakannya lagi.'

"Hei."

Yixing menoleh pada Joonmyeon. Ia tak menjawab. Ia hanya cukup melihat wajah Joonmyeon dan menaikkan sebelah alisnya.

"Aku capek merangkul bahumu."

Yixing tak bergeming. Namun, ia tetap memikirkan maksud dari perkataan Joonmyeon.

"Rangkul lenganku dong. Peluk juga boleh." ucap Joonmyeon santai.

Tanpa bernegoisasi lagi, Yixing langsung memeluk lengan kiri Joonmyeon. Joonmyeon pun memindahkan pegangan payung yang awalnya di tangan kanannya, kini di tangan kirinya.

"Nah gitu dong. Jauh lebih mendingan." ucap Joonmyeon santai.

Yixing tak menjawab. Ia lebih memilih untuk memandang jalanan yang dilaluinya bersama Joonmyeon.

Perjalanan Joonmyeon mengantar Yixing lumayan memakan waktu yang cukup banyak. Joonmyeon heran dibuatnya. Jika jarak rumah Yixing lumayan jauh seperti ini, mengapa tidak menaiki bus saja? Jauh lebih cepat dan efisien ketimbang berjalan kaki. Tak apalah pikir Joonmyeon, ia sudah susah-susah berbaik hati mengantarkan pemuda yang menurutnya selalu kehujanan ini ke rumahnya dengan selamat.

"Terima kasih, ..."

Joonmyeon mengangkat sebelah alisnya. Jadi, pemuda manis yang sudah berdiri depan pintu rumahnya ini tidak tahu namanya? Tunggu. Sepertinya, wajar pemuda manis bernama Zhang Yixing itu tidak tahu namanya. Wong kemarin ia langsung pergi ketika mendapat persetujuan meminjam payungnya. Ia pun jadi merasa bersalah ketika menyadarinya.

"Kim Joonmyeon."

Yixing tersenyum simpul. Akibatnya, lengkungan dalam di pipi kanannya menyembul keluar. Hal itu berpengaruh pada Joonmyeon yang terdiam mematung seketika. Pemuda rupawan itu jadi terkagum melihat senyuman itu yang terlihat sangat manis dan terasa sangat hangat di dada.

"Terima kasih, Kim Joonmyeon."

Suara lembut itu langsung menginterupsi kegiatan tak terduga Joonmyeon. Ia pun gelagapan dibuatnya. "O-Oke. Jangan sungkan." ucapnya sambil mengelus tengkuknya canggungnya. "Aku pulang dulu."

"Hati-hati."

Joonmyeon tak menjawab. Ia hanya membalasnya dengan senyuman ramah. Ia pun mengambil payungnya yang tergeletak dua langkah dari posisinya semula. Ia mulai berjalan menjauh dari perkarangan rumah Yixing sambil melambaikan tangan pada sang tuan rumah.

Yixing membalas lambaian Joonmyeon dengan senyuman manis di wajahnya. Ia melihat Joonmyeon yang kini berbalik kemudian berjalan menjauh hingga pandangannya tak lagi menangkap sosok dengan punggung yang terlihat kokoh, beserta payung berwarna hitam itu. Ia pun menghela nafasnya berat. Dengan berat hati, ia menggenggam kenop pintu kemudian membukanya perlahan.

'Sesungguhnya, aku tidak ingin pulang.'

Pintu telah tertutup. Yixing pun menatap tanpa ekspresi sosok yang tengah duduk santai di sofa itu sedang meminum secangkir minuman hangat.

'Aku benci rumah.'

"Oh. Sudah pulang ya." ucap orang itu tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya pada layar televisi.

Yixing tidak menjawab. Pemuda manis itu masih setia berdiri di tempatnya tanpa ada niatan sedikitpun untuk meninggalkan posisinya.

"Kau pasti hujan-hujanan." Orang itu menoleh. Ia pun tersenyum simpul pada Yixing.

"Mandilah. Aku tunggu kau di kamar."

Yixing menatap orang itu yang beranjak dari sofanya kemudian berjalan meninggalkan ruang tengah. Ia pun menghela nafasnya berat lalu menggigit bibir bawahnya. Ia berbalik, kemudian melihat keadaan luar yang masih diguyur rintikan hujan melalui jendela kecil di pintu cokelat itu. Ia menatap dalam juga benar-benar memerhatikan bagaimana rintikan hujan itu menghantam tanah keroyokan. Saat itu juga, dadanya terasa sesak dan batinnya terasa berat. Manik kelamnya itu terasa panas dan ingin mengeluarkan buliran air di sana.

'Apa aku boleh berharap padamu..'

'Kim Joonmyeon?'


Author's note:

Sumpah, ini buah hasil kegabutan gegara gak tau lagi mau ngisi apa di soal try out TKD Saintek maren-marennya-lagi. Sangking frustasinya. Kertas coretan tak dijadikan media draft FF huhuhu:')

Anyway.

Teman-teman.

Selain kena Writer Block. Saya juga ngerasa sedikit gak nge-feel saat buat fanfic SuLay. Entah karena apa, saya nggak tahu. Entah itu males. Entah itu pengen fokus dulu ama ujian masuk universitas. Entah itu dah lama gak nulis Fanfic SuLay. Entahlah, I don't know. Pokoknya gitu. Sedikit gak nge-feel saya. Saat buat draft ini di kertas coretan, saya agak ngerasa aneh gitu. Apa jangan-jangan.. saya sudah diberi pencerahan untuk kembali ke jalan yang benar? Eh?

Ya gitu deh. Semoga enggak. Semoga itu hanyalah kejenuhan belaka.

Udah lah ya. Panjang jadinya Notes ini wkwk

Sekian.

Love Sign,

AqueousXback.