Air mata Pina mengalir deras dari kedua matanya, menetes tanpa henti ke atas selimut.
"Hiks...hiks...hiks..." rintihan tangisnya terdengar sayup-sayup di tengah keheningan.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dari mimpi buruk yang menghantuinya.
Apa yang terjadi padanya?
Mengapa ia merasakan emosi yang begitu kuat?
Namun, dalam hatinya, ia tahu betul bahwa itu bukan hanya sekadar mimpi. Ia teringat betapa kejamnya mereka memperlakukan orangtuanya: memenggal kepala ayahnya di depan semua orang, memperkosa ibunya hingga kemaluannya rusak.
Pina tidak bisa menahan tangisnya, merasakan rasa sakit dan amarah yang begitu kuat mengalir bersama dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar.
Bagaimana mungkin manusia bisa melakukan hal sekeji itu?
Berusaha menenangkan diri, ia berulang kali mengatakan bahwa itu hanya mimpi buruk. Namun, setiap kali ia terbangun, sakit kepala dan mual yang sangat menyiksa selalu menyerangnya kembali.
Dia mengingat kembali kedua orangtuanya.
Ayahnya yang dikenal sebagai penguasa yang baik dan ibunya yang dikenal sebagai pribadi yang sangat lembut. Mereka berdua adalah orang yang baik. Tidak pantas bagi mereka untuk diperlakukan dengan sehina itu.
Seseorang harus membayar untuk ini.
Pina ingin memburu para pelaku, membunuh mereka semua, dan kemudian menyeret mereka ke neraka. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk bunuh diri, namun segera menepis pikiran itu dari kepalanya.
Pina menghela nafas dan menyembunyikan wajahnya dengan sebelah tangan.
Sudah terlambat. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Pina sadar bahwa ia tidak bisa kembali ke masa lalu. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah memikirkan masa depan.
"Pina?"
"Mm?"
"Kamu baik-baik saja?"
"I-iya." Pina menjawab dengan sedikit gemetar.
Naruto memeluk Pina dengan erat, mencoba menenangkan gadis itu. Pina dapat merasakan kehangatan yang memancar dari pelukan itu, dan perlahan air matanya mulai mereda.
"Kamu sudah bangun?" sapa Naruto dengan senyum hangat.
Pina mengangguk ragu, "Y-ya."
Naruto segera berdiri dan berjalan ke sisi kamp, meninggalkan Pina sendirian dengan pikirannya.
"Dapatkah kamu berdiri?" suara pria itu terdengar dari kejauhan.
"S-saya baik-baik saja," Pina menjawab sambil bangkit dari tempat tidurnya dan berlutut di depan pria itu.
"Terima kasih karena kamu telah menjaga dan menemaniku saat-saat paling sulit," kata Pina.
"Nggak usah berterima kasih, yang penting kamu baik-baik aja," jawab Naruto sambil membantu Pina bangkit.
"Gospozha Naruto, kamu habis bercukur tadi?" tanya Pina, memecah keheningan di antara mereka.
"Ya," jawab Naruto sambil menepuk-nepuk dagunya dan bawah hidungnya.
"K-kenapa?"
"Aku hanya ingin menghilangkan rambut halus yang membuatku tidak nyaman."
"Oh, begitu," kata Pina sambil mengangguk-angguk. Keduanya saling berpelukan dan bertukar ciuman tanpa malu.
Kemudian, Naruto mengajak Pina makan.
"Apa kamu lapar?"
"Iya, aku lapar," jawab Pina.
"Baiklah, mari kita makan," ucap Naruto sambil mengenakan kembali pakaiannya.
Sebelum mereka selesai makan, Pina menyatakan keinginannya untuk membicarakan sesuatu kepada Naruto.
"Gospozha Naruto, ada yang ingin saya bicarakan denganmu," ucap Pina serius.
"Hal apa yang ingin kamu sampaikan, Pina?" tanya Naruto dengan penuh perhatian.
"Apakah kamu masih ingat tentang kedua orangtuaku yang dibunuh oleh para Bangsawan?" tanya Pina.
"Tentu, aku masih ingat."
"Sebenarnya, kondisinya tidak sesederhana itu."
"Apa maksudmu?" tanya Naruto, penasaran.
Pina mulai menceritakan semua yang ia lihat dan ketahui pada hari itu. Dari awal pembantaian hingga ia diselamatkan oleh Naruto saat ia dan rekan-rekannya diserang oleh kawanan binatang buas di dalam hutan.
Setelah ia selesai menceritakan semuanya, Pina bertanya.
"Menurutmu apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita melawan orang-orang yang membunuh keluargaku atau membiarkan mereka untuk saat ini?"
Naruto berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kupikir penting untuk tahu siapa yang akan kita lawan, Pina. Jika kita bertindak dengan gegabah, maka kitalah yang akan dirugikan karena tidak mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi."
"Iya..."
Pina menganggukkan kepalanya dan terus makan sambil merenungkan kembali jawaban atas pertanyaannya.
"Pina, aku tahu ini mungkin terdengar egois, tapi ada baiknya jika kamu meminimalkan kontak dengan siapa pun yang tidak dapat kamu percayai. Termasuk orang-orang terdekatmu."
"Mengapa begitu?"
"Karena kamu telah berstatus sebagai buronan negara. Jika ada seseorang ingin menyakitimu atau memanfaatkanmu, mereka akan dengan mudah membocorkan keberadaanmu ke pihak musuh dan kamu akan kesulitan untuk menghindari upaya pembunuhan nantinya."
"I-itu..."
"Aku tahu, tapi aku tidak ingin mengambil risiko. Aku ingin melindungimu sekuat dan semampuku."
"Oke..."
"Dan, Pina, berjanjilah padaku mulai detik ini; kamu harus mengesampingkan balas dendammu. Aku tidak mengatakan bahwa kamu tidak boleh untuk membalaskan dendammu. Tapi setidaknya, cobalah untuk berpikir rasional serta kritis mulai dari sekarang."
"Baik, saya berjanji…"
"Gadis Pintar."
Mereka berdua lalu kembali menikmati hidangan yang mereka buat bersama. Selama sesi makan, baik Pina maupun Naruto hanya fokus pada hidangan yang sedang mereka santap.
Selesai dengan urusan perut mereka, Naruto yang teringat akan sesuatu lantas bertanya kepada Pina tentang perihal apa yang sedang ia pikirkan; "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kondisimu saat ini? Sudah bisakah kamu menggerakkan-'nya'?"
"Hmmmm..."
Pina menyentuh 'tangan kiri'-nya yang sudah diregenerasi oleh nano-machine dan kemudian mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"S-saya tidak bisa... saya bahkan tidak bisa menggerakkan jari-jariku dengan benar..."
"Itu karena kamu masih belum terbiasa. Beri dirimu sedikit waktu untuk membiasakan diri, nanti kamu juga akan terbiasa."
"O-Oke..."
"Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya soal situasi kita saat ini," kata Naruto dengan mimik wajah yang serius. "Dari apa yang bisa kusimpulkan sejauh ini, kedua orangtuamu sepertinya memiliki posisi yang tinggi di pemerintahan. Yang jadi pertanyaanku adalah, apakah mereka berasal dari kalangan bangsawan? Mengapa mereka sampai dibunuh?"
"T-tidak bisakah kita membicarakannya nanti?"
"Aku tidak masalah jika kamu tidak ingin mengungkitnya sekarang, namun aku hanya ingin memastikan agar kita tidak terjerumus ke dalam masalah yang jauh lebih besar nanti."
Awalnya Pina masih terlihat ragu, namun setelah dibujuk berulang kali, ia pun mengalah dan mau menceritakan semuanya kepada Naruto.
"Ya… kedua orangtuaku memang berasal dari kalangan bangsawan."
"Kalau boleh tahu, apa gelar kebangsawanan yang disandang oleh ayahmu dan berada diperingkat keberapa dia? "
"I-itu…"
"Ada apa? Apakah kamu masih belum bisa mempercayaiku?"
"T-tidak! B-bukan begitu! H-hanya saja kita…"
"Oke, oke, kita kesampingkan itu untuk nanti," ucap Naruto sambil mengambil beberapa kesimpulan dari hasil percakapan mereka. "Lalu mengapa kedua orangtuamu bisa dibunuh? Apa latar belakang yang mendasari pembunuhan itu?"
Pina dengan sedih menceritakan semuanya yang ia ketahui kepada Naruto.
Ia menceritakan bagaimana pemerintah pusat di negaranya akhirnya jatuh ke dalam kudeta militer yang dilakukan oleh pihak oposisi. Mereka merampas kekuasaan dari penguasa yang sah dan menyatakan diri mereka sebagai penguasa yang baru.
Tidak berhenti sampai di situ, mereka kemudian menempatkan orang-orang mereka sendiri di pemerintahan demi bisa mengambil alih kekuasaan. Setelah kudeta berhasil, semua individu yang terkait dengan pemerintahan sebelumnya ditangkap dan dieksekusi mati. Termasuk kedua orangtua Pina.
Naruto berpikir sejenak sebelum pada akhirnya bertanya, "Jadi orang-orang yang melakukan kudeta adalah pihak yang telah membunuh kedua orangtuamu?"
"Iya. Mereka menganggap kedua orangtuaku tidak lagi setia pada rezim."
"Tapi mengapa?"
"Orangtuaku mendukung upaya distribusi kekayaan yang lebih merata. Itu sebabnya mereka dibenci oleh para bangsawan."
"Distribusi kekayaan?"
"Iya, itu berarti, 'Tidak boleh ada perbedaan kasta di antara rakyat jelata dan bangsawan'. Semua orang harus menerima pelayanan dan barang yang sama, tanpa terkecuali."
"Hmm..." Naruto kemudian memandang Pina dengan tatapan dalam. Dia bisa melihat di mata Pina bahwa dia masih dipenuhi rasa marah dan benci terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kematian kedua orangtuanya.
"Aku ingin kamu memahami ini... Aku tidak mengatakan bahwa membunuh bangsawan itu benar hanya karena mereka adalah bangsawan. Tapi jika seseorang bertanggung jawab langsung atas kematian keluargamu, maka kamu memiliki hak untuk membalas mereka."
"Y-ya..."
Pina mengangguk dan kemudian merasa lega. Dia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa memaafkan mereka yang bertanggung jawab atas kematian kedua orangtuanya. Namun, dia juga menyadari bahwa dia tidak bisa membiarkan kemarahannya memakan dirinya dan membuatnya menjadi gila.
"Lalu, adakah upaya perlawanan dari pihakmu?" tanya Naruto
"Iya, sebagian besar orang yang tinggal di negeriku mengangkat senjata mereka untuk melawan. Kami telah berusaha melawan para bangsawan sejak kudeta terjadi."
"Begitu. Jadi apa peranmu di sana?"
"Saya merupakan pemimpin dari Batalyon Roza. Tugas saya adalah memimpin perlawanan dan menyiapkan tindakan balasan terhadap musuh."
"Mmn…"
"Tetapi pasukan saya dihancurkan dan sekarang saya menjadi buronan di negara saya sendiri."
Naruto mengambil tegukan air lagi ketika Pina menjelaskan lebih lanjut tentang dirinya dan situasinya. Ketika Pina selesai menceritakan semuanya, tiba-tiba Naruto berdiri dari kursinya.
"Oke, Pina. Kamu telah melakukannya dengan baik. Sekarang biarkan aku menunjukkan sesuatu padamu."
"Huh?"
Pina mengikuti arahan Naruto. Saat dia berjalan di belakangnya, dia merasa bingung dan gelisah. Dia sudah lama berada di hutan, tetapi lingkungannya berbeda dari apa yang ia ingat.
"Kita mau kemana?"
"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu."
Akhirnya, setelah berjalan agak jauh, Naruto berhenti dan menunjuk ke bawah.
"Apa itu?"
"Lihat."
Pina membungkuk dan menatap tanah dengan saksama.
"Hmmm… Apakah itu bunga?"
Dia melihat sekeliling dan mendapati dirinya dikelilingi oleh bunga-bunga.
"Wow!" Pina berseru. Dia kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh salah satu dari mereka dan menemukan bahwa bunga itu sangat lembut.
"Terlihat indah bukan? Semua yang ada di sini memiliki keindahan mereka masing-masing. Begitu juga denganmu, Finn."
"Ih! Jangan menggombal, ah!"
Naruto tersenyum dan berjalan ke salah satu bunga. Setelah sampai di sana, dia memetik bunga tersebut dan menyelipkannya dengan lembut di telinga Pina.
Pina terkejut saat merasakan bunga tersebut. Namun, dia dengan segera terkikik ketika melihat senyum lebar Naruto.
"Maaf sudah menggodamu tadi."
"Tidak, tidak apa-apa. Saya juga menyukainya."
Pina meraih tangan Naruto dan menekannya ke pipinya sambil menatap wajahnya.
"Aku senang kamu menyukainya. Ngomong-ngomong, Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu."
Naruto mendekatkan dirinya ke Pina dan mencium bibirnya dalam-dalam. Setelah mengakhiri ciuman yang penuh dengan gairah itu, Naruto mengeluarkan pisaunya dan memotong sedikit tangkai dari bunga kedua yang telah disiapkan secara khusus untuk Pina.
"Pina, ini untukmu."
Bunga itu berwarna putih dan kecil. Kelopaknya melengkung rapat dengan batang yang tipis.
Sambil menangis bahagia, Pina dengan hati-hati memegang bunga itu dan menatap Naruto dengan tatapan mata yang memuja.
"Terima kasih, Gospozha Naruto. Terima kasih…" ucap Pina sambil memeluk erat pria yang ia cintai.
Keduanya berdiri di tengah taman bunga yang indah, saling berpandangan dan tertawa bersama. Mereka merasa sangat bahagia dan damai bersama di antara keindahan bunga-bunga yang bermekaran.
