Hari demi hari berlalu, dan Pina terus mempelajari ilmu bela diri dari Naruto dengan tekun.
Dia rajin berlatih setiap hari, mencoba menyerap semua yang diajarkan Naruto kepadanya. Lambat laun, Pina merasa semakin percaya diri dengan keterampilannya dan kemampuan bertarungnya yang semakin meningkat.
Suatu malam, setelah selesai berlatih, Pina dan Naruto menghabiskan waktu bersama di tempat yang sunyi.
Mereka saling berciuman dengan gairah. Lidah Naruto perlahan memasuki mulut Pina dan memainkan lidahnya dengan lembut. Pina tak mau kalah dan langsung melilitkan lidah mungilnya ke lidah Naruto. Keduanya terus berciuman dengan penuh nikmat, menciptakan desahan yang merdu dan memabukkan.
Ketika mereka berbaring berdampingan, mereka merasakan keintiman yang begitu kuat sehingga mereka hampir kehilangan napas. Mereka terperangkap dalam pelukan, tidak peduli dengan dunia luar.
"Nao... Nao..." bisik Pina lembut ke telinga Naruto.
Keduanya tidak menyadari bahwa tubuh mereka telah basah oleh keringat.
"Pina," Naruto memanggil dengan suara serak.
"Nao..." Pina merespons dengan penuh gairah.
Naruto perlahan menarik dirinya dari Pina, melepaskan bajunya di atas kepalanya. Kulitnya berkilau karena keringat, dan dadanya yang terbuka membuat jantung Pina berdegup kencang.
Naruto kemudian membungkuk dan mencium leher Pina, hingga mencapai tulang selangkanya. Sambil mengambil napas dalam-dalam, tangannya bergerak ke puncak bukit Pina.
"Ahh...," desah Pina saat jemari Naruto menyentuh putingnya, membuatnya gemetar tak terkendali.
Sensasi jari-jari Naruto yang menyentuh putingnya membuat Pina gemetar kegirangan. Matanya terus terpejam, menikmati setiap kesenangan yang tak terukir di kedua putingnya.
Nafas Pina menjadi dangkal saat ia meronta-ronta, ingin lebih sentuh oleh Naruto. Otaknya tidak lagi dapat berpikir jernih, karena ia hanya terfokus pada setiap sentuhan Naruto di kulitnya.
Sebuah rintihan keras keluar dari bibir Pina saat ia mencapai klimaks, menangis saat tubuhnya dilanda oleh sensasi seperti tornado.
"Nao..." erang Pina lagi, masih lemah setelah orgasme. "Nao…"
Naruto tersenyum ke arah Pina sambil terus memainkan payudaranya, dengan lembut mencubit putingnya.
"Pina."
Tangan Naruto mulai membelai area di atas tungkai paha Pina, membuat nafas gadis itu menjadi semakin terengah-engah.
Naruto membungkuk, bibirnya mengecup bibir Pina intens. Pina lalu membalas ciuman itu dengan melingkarkan lengannya di leher Naruto dan menariknya lebih dekat, menciumnya dalam-dalam. Mereka berdua menikmati momen intim tersebut saat bibir mereka saling melumat.
Setelah beberapa menit berciuman, Naruto akhirnya melepaskan diri dari Pina. Ia melihat ke dalam mata Pina, dan melihat betapa besar cinta dan hasrat yang ada di mata sang gadis. Wajahnya menyeringai saat melihat ekspresi ini, merasakan dorongan hasrat di dalam dirinya yang semakin terbakar.
Perlahan, Naruto melepas celana dalam Pina dan membuangnya ke samping.
Rambut merah tipis yang tumbuh di sekitar bibir vagina Pina menambah pesona keindahan bentuknya yang indah dan tembam. Terlihat klitoris Pina menonjol keluar beserta cairan bening yang mengalir dari dalam memeknya.
"Mmm… mmhh… Nao…" desah Pina pelan.
Tanpa ragu, Naruto menunduk dan mencium vagina Pina. Setiap kali Naruto menjilat dan menggigit klitorisnya dengan lembut, Pina akan mengejang dan menggeliat tak terkendali.
"Aahh… Nao… aaahhh… aaah…" desah Pina.
Naruto terus memuaskan Pina dengan menjilat, menyedot, dan mengulum bibir vaginanya yang tembam dengan mulutnya.
"Nao... Nao... aaah... mmmhhh... ahh..." desah Pina dengan nafas yang berat dan tak beraturan saat lidah Naruto semakin dalam menjelajahi vaginanya.
Pina menggeliat dan mendesis tak karuan, pinggulnya menegang menikmati sensasi itu. Sambil meremas dan memainkan puting Pina yang sensitif, Naruto melirik ke atas dan mengigit klitoris Pina.
Tindakan itu membuat Pina meronta-ronta dan menyemprotkan cairan cintanya ke wajah Naruto dengan desahan yang tak terkendali.
"MMM! NAOO! Argghh! Aaahhh... AHHH!"
Pina berteriak keras, tak mampu lagi mengendalikan dirinya.
"Ha haa~!" Naruto tertawa bahagia, merasakan kelezatan madu manis Pina yang membuatnya tak bisa berhenti untuk meminumnya.
"Kamu enak sekali, Pina!"
Naruto terus menjilat hingga Pina mencapai puncak kenikmatannya. Setelah tetesan terakhir dari vagina Pina mengalir ke mulut Naruto, ia menelan sisa dari cairan itu layaknya jus.
"Anak baik," katanya dengan puas. "Sekarang giliranku."
Dengan hati-hati, Naruto merangkak maju di atas Pina dan menempatkan penisnya di atas bibir vagina Pina yang basah. Perlahan, ia memijat-mijat bibir vagina gadis itu dengan ujung penisnya, semakin merangsang Naruto untuk menjebol keperawanan Pina.
"Tu-tunggu…"
Pina menghentikan Naruto sebelum ia mendorong penis itu ke dalam memeknya.
"Ja-jangan, Nao... jangan dimasukin…" ucap Pina sambil ketakutan.
Naruto tersenyum lembut pada wanita muda yang terbaring di bawahnya, senang melihat ekspresi kepuasan Pina saat dia memberinya kenikmatan.
"Kenapa?" tanya Naruto dengan ramah.
"Aku takut…" kata Pina dengan gugup sambil menatap penis berukuran jumbo yang hampir masuk ke dalam dirinya.
Naruto tersenyum lembut saat melihat Pina gemetar di bawahnya.
"Jangan khawatir," kata Naruto sambil memasukkan jarinya perlahan ke dalam memek Pina. "Bukankah terasa nikmat saat aku menyentuhmu di sini?"
"Uh huh," angguk Pina.
Naruto terus memaju-mundurkan jarinya di vagina Pina, merasakan betapa panas dan basahnya lubang itu di jarinya.
"Kamu sangat basah," ujarnya sambil menggerakkan jarinya lebih cepat.
Pina mendesah pelan saat merasakan sensasi dari jari-jari Naruto yang bergerak di dalam dirinya. Ia merasakan tekanan yang semakin besar di dalam rahimnya dan sensasi terbakar di dalam panggulnya.
Naruto kemudian memasukkan satu jari lagi ke dalam Pina dan mulai memainkannya dengan cepat, meningkatkan intensitas gerakannya.
"Ini dia, sayang," ujar Naruto memberikan semangat sambil tersenyum pada Pina. "Biarkan aku membuatmu merasa lebih baik."
Pina tiba-tiba merasakan sensasi kuat saat mencapai orgasme lagi. Ia berteriak keras dan tubuhnya gemetar dengan hebat.
"Ahhhhh!"
Pina tidak bisa berhenti mengeluh saat orgasme. Tubuhnya terasa bergetar dan tertutup keringat, ia merasakan rasa lega yang menyenangkan di selangkangannya.
"Pina," kata Naruto dengan lembut.
"Mmm?"
"Sekarang aku akan memasukkannya, boleh?"
"O-oke…"
Naruto perlahan menusukkan ujung penisnya ke dalam vagina Pina, merasakan basah dan hangatnya daging berlendir itu di sekitar kemaluannya.
Pina mengejang setiap kali Naruto mendorong penisnya, memaksa otot-otot di vaginanya untuk berkontraksi.
Naruto terus memasukkan penisnya secara perlahan, memberikan waktu untuk Pina terbiasa dengan ukurannya yang jumbo. Pina, di sisi lain, merasa kesakitan karena lubangnya yang sempit, tetapi Naruto tetap sabar dan berusaha memberikan kenikmatan lebih untuk Pina.
"Mmmhh… Aaah… Aaa… Aaahh… Nao… Nao…"
Pina mendesah, merasakan sensasi yang berbeda dan sakit di awal. Namun, Naruto memberikan semangat dan terus memasukkan penisnya secara perlahan, memperluas dinding vagina Pina dengan hati-hati.
"Kalau sakit, bilang ya…?" bisik Naruto.
Pina mengangguk dan membiarkan Naruto semakin menjamahnya. Ketika penis Naruto menyentuh selaput dara Pina, pria itu terdiam dan menatap Pina untuk meminta persetujuannya.
"Apakah kamu ingin aku berhenti?" tanya Naruto pada Pina, sambil melihat wajahnya yang sedikit kesakitan dan menahan napas.
"Nao... a-aku… aku takut, ta-tapi aku akan mencoba menahannya," jawab Pina sambil memerah.
"Baiklah, jika kamu yakin..."
Pina menoleh, tidak bisa mengatakan apa-apa lagi ketika Naruto mulai memasukkan penisnya kembali ke dalam vaginanya, perlahan-lahan mendorongnya hingga mencapai ujung.
"Aaahhh… argghh… Na-Nao… pe-pelan-pelan…" rintih Pina sambil menahan sakit.
Meskipun penis Naruto awalnya menyebabkan rasa sakit yang tajam, semakin mereka bergerak, rasa sakitnya semakin berkurang. Akhirnya, selaput dara Pina pun robek dan penis Nao masuk ke dalamnya dengan mudah.
"Mmmh... Nao... Nao... Ahhhhh... Nao... Nao..."
Suara Pina terdengar parau dan gemetar, membuat Nao tersenyum lebar. Sesaat, priaitu melirik ke bawah dan melihat darah segar yang mengalir pelan dari selangkangan Pina.
"Ahhh… ahhh… ge-gede… ahh… pu-punya… Na-Nao… aaahh… gede banget… oohh…" desah Pina.
Wajah Pina memerah padam, sambil terus merintih dan menggigit bibirnya ketika Naruto terus mendorong penisnya hingga menyentuh rahimnya. Tubuhnya terasa panas dan lemas, seolah-olah tak sanggup menahan kenikmatan yang terus meluap-luap di dalam memeknya.
Dengan lembut, Naruto membelai pelan rambut merah panjang Pina dan mengecup bibir gadis itu demi bisa menenangkannya.
"Kalo udah gak sakit lagi bilang ya, sayang…" bisik Naruto dengan suara lembut.
Pina mengangguk, menggigit bibirnya sambil memejamkan mata.
"Mmm… terusin Nao…" pinta Pina. "Tapi pelan-pelan…"
Naruto terus menekan ke dalam vagina Pina, memasukkan penisnya dengan lembut dan perlahan-lahan. Setiap sentuhan Naruto menyebabkan tekanan dan sedikit rasa sakit di vagina Pina, namun gadis itu mampu menahannya dengan penuh kesabaran.
"Aaahh! Aahh… Nao! Pelan… pelan… AANN! Ooh… aaahh!" Pina menjerit-jerit kesakitan dan nikmat di saat yang sama.
Pikiran Naruto semakin kabur. Akal sehatnya menyuruhnya untuk menghentikannya untuk menyetubuhi gadis yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya sendiri, namun nafsunya justru berkata lain.
"Ooohh… Pina… ka-kamu… sempit bangeeet… Arghh!" desah Naruto.
Kedua tangannya menjangkau ke atas dan merebas-remas sepasang payudara Pina yang bergoyang-goyang seirama dengan hantaman penis Naruto.
"Nao… aaahhh… Nao… punyamu… aaahhh... punyamu... Mmmhh! Kegedean... aahhh... MHHH!" jawab Pina tak mau kalah.
Dinding vagina Pina kembali berkontraksi, semakin menjepit erat penis Naruto yang sudah sangat ereksi.
"Aaahh… aaahhh… mmmhh! Mmmnn… Nao… Nao…" Pina mendesah setiap kali penis Naruto menembus vaginanya.
Pinggul Naruto seakan bergerak sendiri, tidak bisa berhenti menggesekkan batangnya ke dinding vagina Pina. Sempit dan hangatnya vagina Pina, dipadukan dengan empuknya pantatnya yang memukul-mukul pinggang Naruto, semakin membuat pria itu bernafsu untuk menghamili gadis itu.
Seakan kesurupan, Naruto menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Kepala penisnya terus menghantam-hantam mulut rahim Pina, membuat gadis itu semakin mendesah keras.
"Aaahhh! Nao… Nao… oooh… pu-punyamu… Eemm… punyamu ta-tambah gede… di dalam… Aaahh! Aaah! Aaah! MMMHHH! Nao… NAAOOO!" jerit Pina.
Nafasnya semakin tak beraturan ketika Naruto semakin menekan penisnya ke dalam. Suara pantat Pina yang menghantam pinggang Naruto dapat terdengar di dalam tenda.
"Nao! Nao… a-aku! Aku! Aku! Ma-mau… KELUARRR!"
Pina tiba-tiba berteriak. Tak lama kemudian, gadis itu menyemburkan cairan vaginanya dengan kencang ke penis Naruto yang masih menghujamnya. Semprotan itu begitu kuat dan berulang-ulang, membuat Pina terkapar tak berdaya di atas selimut.
"Nao... Nao... Nao..." rintih Pina.
Tanpa memperdulikan Pina yang baru saja mencapai orgasme, Naruto kembali menghujamkan penisnya dengan kuat ke dalam liang gadis itu. Kali ini lebih mudah, terutama setelah semprotan hebat tadi, membuat vagina Pina menjadi semakin basah dan licin.
"Aaahhh! Nao... Nao! Nao... Nnhhh!" jerit Pina.
Ia hampir tidak bisa bernafas atau berbicara dengan benar karena Naruto terus menerus menyodokkan penisnya ke dalam memeknya. Tidak butuh waktu lama hingga Pina mencapai klimaks lagi.
"AAAAAH! AAHHHH! AAAHNNGH!"
Sekali lagi, Pina menyemprotkan cairannya di sekitar penis Naruto yang membuatnya merintih panjang.
Kaki Pina gemetar tanpa kendali, tubuhnya ditutupi keringat dan rambutnya berantakan. Ia tidak bisa lagi berdiri, sepenuhnya kelelahan karena berulang kali mencapai orgasme.
Namun Naruto masih jauh dari kata 'selesai'. Dia meraih paha Pina dan menariknya ke arahnya, melebarkan kakinya lebar-lebar.
"Nao... Nao... Nao..." erang Pina.
Naruto menatap memek merah muda Pina, yang kini berkilau dengan lapisan tipis pelumas yang membanjiri selimut Naruto.
"Ahhh... ahhhhh... ahhhhh... AHHH!" erang Pina saat merasakan penis Naruto yang semakin mengesek-gesek klitorisnya yang sudah sangat 'membengkak'.
Setiap hujaman penis Naruto di dalam memeknya membuat Pina semakin menggila karena menikmati seks pertamanya.
"Urgh… Pinaaa… a-aku… mau… keluar… urgh… urgh…" kata Naruto.
Penis Naruto semakin berdenyut-denyut, ingin segera menyemburkan benihnya ke dalam rahim perawan Pina yang subur.
"Aaahhh... aaahhh… ja-jangan… di dalam… Nao… jangan… AAAHHH!" pinta Pina.
Sensasi yang ditimbulkan oleh tusukan keras dan cepat Naruto menyebabkan Pina merasakan orgasme yang sangat kuat. Otot-otot vaginanya mengejang mengelilingi penis Naruto, membuat batang pria itu berdenyut-denyut dan semakin membesar ketika ia menyemburkan benih tebalnya ke dalam rahim Pina.
"Aaahhhh! Aaahhhh! Aaahhhh! AAAAAHHH!"
Pina merintih keras ketika orgasme yang luar biasa itu meledak. Tubuhnya terasa mati rasa, tak sanggup digerakkan lagi, lengan dan kakinya terasa lemas karena terlalu banyak merasakan kenikmatan.
"Mmmm…"
Dia meresapi sensasi yang tersisa dengan desahan lembut, mulutnya terbuka dan matanya masih tertutup ketika dia mengambil nafas berat. Setelah orgasme berakhir, tubuhnya mulai rileks dan kesadarannya kembali.
Pina membuka matanya dan tersenyum lembut pada Naruto, yang sedang terengah-engah di atasnya. Keduanya tinggal di sana untuk sementara waktu sampai mereka pulih sepenuhnya dari kenikmatan yang mereka rasakan.
Akhirnya, mereka duduk bersama dan berpelukan, menikmati kehangatan tubuh mereka yang saling terjerat dalam pelukan satu sama lain.
"Itu tadi… enak banget," bisik Naruto kepada Pina.
"Ya," setuju Pina dengan senyum bahagia.
Keduanya terdiam, hanya terdengar suara napas mereka yang terengah-engah. Beberapa saat kemudian, Naruto menoleh dan menatap Pina, yang sudah tidak perawan lagi.
"Nao, kalau aku sampai hamil, ngimana?" tanya Pina khawatir. "Tadi kamu keluar banyak banget di dalamku…"
Pina menggenggam tangan Naruto erat-erat, seakan tak ingin melepaskannya. "Apakah kamu juga akan meninggalkanku seperti orang-orang yang aku cintai, yang mati akibat perang saudara di tanah airku?" tanyanya dengan suara halus namun penuh ketakutan.
Naruto merangkul Pina dengan erat dan meyakinkannya, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Pina. Aku di sini untukmu, selamanya."
Meskipun tersenyum, Pina masih khawatir, "Tapi bagaimana jika aku benar-benar hamil? Kita bahkan belum siap menjadi orang tua…"
Naruto dengan lembut menenangkan Pina, "Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama, Pina. Aku janji."
Setelah hening sejenak, Pina berbicara lagi dengan suara gugup, "Jadi... bisakah kita melakukannya lagi kapan-kapan?"
"Tentu saja," kata Naruto, menyeringai senang. "Sebanyak yang kamu mau, Tuan Putri."
