.
Chapter 27
Upaya Pembunuhan
.
.
.
Pina merasa sakit kepala saat bangun di pagi hari. Ada sesuatu yang mengganggunya, tetapi dia tidak bisa memahaminya dengan pasti. Pina teringat bahwa Nao punya rencana hari ini, sehingga dia tidak akan ada di sini sepanjang waktu.
Pina mengenakan gaun katun sederhana dan duduk di atas selimut untuk mencuci muka. Saat ia hendak menggosok gigi, Pina tiba-tiba menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengannya.
"I-ini…" Pina merangkul dirinya sendiri dan merasakan bahwa kedua payudaranya tumbuh menjadi lebih kencang dan lebih bulat dari sebelumnya.
Pina memikirkannya sejenak dan ingat bahwa Naruto berjanji akan menunjukkan sesuatu yang menarik padanya. Tiba-tiba, pikiran Pina kembali ke kejadian tadi malam. Dalam ingatannya, Naruto menggodanya sepanjang malam dan bertanya tentang pandangannya menjadi orang dewasa.
"Nao..." Pina merasakan kehangatan aneh di dalam dirinya. Dia memandang ke bawah dan melihat tonjolan yang tidak biasa di perutnya. Saat Pina menyentuh perutnya dan mengalirkan energi sihir ke sana, ia bisa merasakan adanya energi kehidupan asing yang bersemayam di dalam perutnya.
"Nao! Nao! Kamu dimana?!" teriak Pina bingung.
Pina merasa khawatir dan bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia berharap Naruto bisa membantunya dalam situasi ini.
Pina berlari dengan cepat menelusuri area sekitar kamp, mencari Naruto dengan penuh harap.
Saat ia berjalan di tepi sungai, tiba-tiba ia dikejutkan oleh hujan anak panah yang tiba-tiba datang dari arah yang tidak disangka.
Pina terkejut dan berusaha menghindari serangan itu, tetapi sayangnya salah satu anak panah berhasil mengenai lengannya.
"Arghh…!" rintih Pina dengan kesakitan.
Tiba-tiba, terdengar ledakan keras dari arah hutan. Di saat yang sama, ia merasakan adanya rasa sakit yang terus saja menusuk-nusuk jantungnya tanpa henti.
"Nao! Nao!" teriak Pina sambil jatuh tersungkur ke tanah dan mencengkeram dadanya.
Naruto segera merespons panggilan Pina dan berlari ke arahnya, tetapi sayangnya Pina sudah tak sadarkan diri.
Naruto memeriksa luka di lengan Pina dan segera mencabut anak panah itu, lalu membaringkan Pina di atas tanah.
Setelah memastikan bahwa luka Pina tidak mengancam nyawanya, Naruto melihat ke arah sumber ledakan dan mencari tahu lokasi para penyerang.
Tak lama kemudian, Naruto melihat tiga orang pria yang sedang berlari mendekat ke arah mereka.
"Wise—!" seru Naruto.
["Roger."]
Tubuh Naruto langsung diselimuti oleh cangkang pertahanan nanosuit yang membuatnya siap melawan para penyerang.
Nanosuit berbeda dari setelan tempur biasa. Awalnya dirancang untuk memungkinkan tentara bertahan di luar angkasa, namun kemudian setelah itu dimodifikasi agar lebih tahan lama dan cocok digunakan untuk pertempuran melawan Arachne.
Setelah Naruto menerima sampel data biologis dari Pina, nano-machine di dalamnya menyesuaikan struktur dan desain nanosuit agar sesuai dengan kebutuhan Naruto.
Nanosuit mampu melindungi pemakainya dari berbagai jenis bahan peledak dan senjata berkaliber besar, serta meningkatkan kecepatan dan kekuatan pemakainya sehingga menjadi lebih cepat dan lebih kuat dari manusia biasa.
"Mati!" seru Naruto sambil menyerang pembunuh pertama dan membunuhnya dengan tangan kosong. Penyerang kedua mencoba menikam Naruto, tapi dia dengan cepat memblokir serangan itu dengan tangannya dan membanting penyerang itu ke tanah. Naruto kemudian menghantamkan kakinya ke penyerang ketiga.
"Bajingan! Jangan remehkan aku!" teriak Naruto sambil menyerang para pembunuh dengan penuh kemarahan.
Setelah berhasil mengalahkan ketiga penyerang itu, Naruto lalu berteriak kepada rekan-rekan mereka masih hidup, "Kenapa kalian menyerang kami?"
"Keluar! Jika tidak, aku akan membunuh kalian semua!" ancam Naruto.
Para pembunuh mulai merangkak keluar dari persembunyian mereka satu per satu, salah satu dari mereka maju sebagai perwakilan kelompok.
Naruto menatap mereka dengan penuh permusuhan, "Apa yang kalian inginkan?" tanyanya.
"Kami sedang mencari seseorang," jawab salah satu dari para pembunuh, yang memiliki bekas luka di wajahnya.
"Siapa yang kalian cari?"
"Siapa lagi kalau bukan wanita yang sedang berbaring di sebelahmu itu," jawab salah seorang dari mereka, menunjuk ke arah Pina.
Naruto memandang ke arah Pina yang masih tergeletak di tanah, lalu kembali menatap para pembunuh itu dengan marah. Dia tidak akan membiarkan mereka melukai Pina lagi.
"Begitu. Jadi kalian mengenalnya, apakah kalian tidak takut dibunuh olehku?" tanya Naruto.
"Tidak, kami tidak takut apa pun," jawab para pembunuh, kemudian mencabut senjata mereka dan mengangkatnya sejajar dengan kepala.
"Mengapa kalian mengincarnya?" tanya Naruto.
"Kami diutus oleh pemimpin kami untuk memburu wanita itu," jawab salah satu dari para pembunuh dengan tegas.
"Pemimpin kami ingin dia mati karena dia adalah ancaman bagi rencana mereka. Kami diperintahkan untuk melenyapkannya atau membawanya hidup-hidup. Apa pun yang terjadi, kami tidak boleh gagal."
"Kalian serius? Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka melakukan hal ini pada Pina? Dia hanya seorang gadis!"
Naruto mencoba membujuk para pembunuh itu untuk berunding, namun mereka tidak mendengarkannya.
"Lupakan saja! Bunuh dia!"
Naruto merapatkan tangannya menjadi tinju dan siap untuk melawan.
"Kalian akan menyesalinya!" teriaknya.
Nao menyerang pembunuh yang tersisa dan mulai mengayunkan pedangnya dan menendang mereka. Dia menggunakan kecepatan dan kekuatannya yang ditingkatkan untuk membunuh mereka dengan efektif dan efisien.
"Berapa lagi yang tersisa?"
['Enam orang lagi.']
Naruto melihat sekeliling dan menyadari bahwa keenam pembunuh itu telah berlari melewatinya.
"Aku akan mengejar mereka!" Seru Naruto.
[Letnan, tunggu! Ada kelompok lain yang mendekat!']
Naruto melihat ada lima orang pria yang tengah berlari ke arahnya.
'Wise! Kuserahkan kendali nanosuit padamu!' perintah Naruto.
['Roger.']
Dengan bantuan Wise, Naruto kemudian menjadi lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya.
"Minggir!" serunya sambil menggunakan kemampuan fisik yang ditingkatkan untuk menjatuhkan kelima pria itu. Setelah itu, dia mengejar kelompok pembunuh lain yang ingin menyakiti Pina.
"Sial, mereka terlalu cepat!"
Tak lama kemudian, Naruto mengejar para pembunuh itu. Dua di antaranya kabur sementara sisanya berusaha untuk menghadangnya.
"Matilah!" teriak Naruto sambil berlari ke arah para pembunuh dan memotong mereka dengan pedangnya.
"Matilah! Matilah! Matilah!"
Salah satu para pembunuh mengeluarkan belati dan melemparkannya ke arah Naruto. Dengan cepat, Naruto menangkis serangan itu menggunakan nanosuit-nya. Dia kemudian menjatuhkan si pembunuh ke tanah, tetapi pria itu berhasil meraih pergelangan kaki Naruto dan menahannya.
Tak ambil pusing, Naruto lalu memutar kakinya dan mematahkan leher pria itu hingga mampus.
"Pina!"
Tak punya banyak pilihan, Naruto mengeluarkan pulse rifle yang ada di punggungnya. Dengan bantuan nano-machine, Naruto mampu menstabilkan arah tembakannya dan tidak perlu bersusah payah untuk membidik.
"Jangan sentuh wanitaku!"
Naruto melepaskan beberapa tembakan dengan cepat. Peluru energi mengenai dada dan tubuh dari para penyerang hingga meninggalkan bekas lubang besar di tubuh mereka.
Begitu para penyerang itu tewas, Naruto terus melakukan aksinya dengan menembaki para pembunuh lainnya yang terus berdatangan di segala arah.
"Menjauhlah darinya!"
Naruto menembak kaki salah satu pembunuh dan membuatnya jatuh. Kemudian, dia menembak lagi dan lagi hingga tubuh pria itu hancur berantakkan.
Sepasang pembunuh kembali mendekati Naruto dari arah jam enam, masing-masing dari mereka memegang belati. Alih-alih menghentikan mereka dengan cara biasa, Naruto justru mengambil salah satu mayat yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah pasangan itu seperti kerikil.
Pasangan itu kemudian terlempar ke belakang oleh daya dorong, tetapi salah satu dari mereka berhasil mendapatkan kembali keseimbangannya dan kemudian berseru kepada pasangannya untuk melarikan diri dari Naruto.
"Lari, Yasha! Lari"
Salah seorang pembunuh memanfaatkan gangguan itu dan berusaha menusuk Naruto dengan belatinya.
"Askar!"
Sebelum pembunuh itu berhasil menjalankan aksinya, Naruto sudah lebih dulu mengeluarkan pistol laser yang ia sembunyikan di pinggang, membidiknya dengan sebelah tangan dan kemudian menembaknya tanpa ampun.
['Letnan! Mohon segera pergi dari sini!']
"Cih! Bala bantuan, yah?"
Naruto melepaskan beberapa tembakan dengan pulse rifle miliknya.
['Letnan! Awas!']
Peluru sihir bermualatan listrik yang datang entah dari mana berhasil menyerempet bahu Naruto dari arah samping.
"Brengsek!"
Naruto melompati mayat salah seorang pembunuh dan berlari ke arah Pina. Dia dengan segera mengendong tubuh gadis itu, membawanya berlari di sepanjang tepi sungai hingga mencapai deretan pepohonan yang ada di dalam hutan.
['Letnan!']
Naruto lalu berbalik dan melihat bahwa para pembunuh telah menghadangnya.
"Minggir!"
Naruto mengarahkan pulse rifle dan menembak jatuh beberapa pembunuh itu dengan sebelah tangan.
['Letnan! Hati-hati!']
Naruto kembali menggunakan kemampuan fisiknya yang ditingkatkan untuk melompat lebih tinggi dari yang bisa dicapai oleh para penyerang. Dia kemudian mendarat di atas dahan pohon dan terus menembaki mereka dengan pulse rifle.
Beberapa dari mereka jatuh ke tanah, tetapi yang lain melompat naik ke atas dahan untuk mendekati Naruto.
Sekarang Naruto berisiko jatuh dari atas pohon. Dia tahu bahwa dia tidak punya banyak waktu, jadi dia memutuskan untuk menggunakan kemampuan nanosuit-nya guna meningkatkan kecepatannya. Hal ini akan memungkinkan dia untuk melarikan diri kejaran musuh.
'Wise! Mode berlari jarak jauh!'
['Roger.']
Naruto menggunakan kemampuan fisiknya yang ditingkatkan untuk melompati dahan dan mendarat di atas permukaan tanah. Tanpa basa-basi, Naruto lalu melesat pergi menjauh dari para pembunuh dengan kecepatan lari yang melebihi manusia normal.
Meski sudah tertinggal cukup jauh, mereka masih saja keras kepala dan terus mengejar Naruto dan Pina dari arah belakang.
'Jangan salahkan aku jika kalian mati di sini!'
Atas perintah Naruto, sebagian kecil dari material nanosuit yang menempel di tubuh Naruto mulai membongkar diri mereka sendiri. Itu dengan segera menciptakan sebuah kubus seukuran tutup botol yang tidak diketahui apa fungsinya.
"Wise! Seberapa jauh jarak kita dari tepi jurang?!"
['Sekitar delapan ratus meter.']
"Bagus. Mari kita melenyapkan mereka semua di sana!"
Naruto berlari secepat yang dia bisa menuju tepi jurang, berharap dia bisa segera lolos dari kejaran para mereka.
Beberapa menit kemudian, Naruto akhirnya sampai di tepi suatu jurang.
Ketika para pengejar itu hampir menyusulnya, Naruto dengan segera membuang kubus itu ke tanah dan kemudian melompat masuk ke dalam jurang sambil tetap menggendong Pina dipelukannya.
['Letnan! Tunggu—!']
Naruto mendengar Wise meneriakinya untuk berhenti, tapi dia mengabaikan peringatannya dan terus berlari menuruni tebing. Bagian bawah jurang hanya tinggal beberapa puluh meter di bawahnya.
"Pergilah kalian semua ke neraka!"
Detik berikutnya, terdengar suara ledakan yang diikuti hembusan angin yang sangat besar. Kekuatan ledakan itu cukup kuat untuk membuat semua orang terbang hingga ratusan meter jauhnya.
['Letnan!']
Para pembunuh terlempar ke tanah oleh gelombang kejut. Beberapa dari mereka terhempas, dan yang lainnya terlempar ke udara dan menabrak bebatuan. Salah satu dari pembunuh itu bahkan terlempar masuk ke dalam jurang. Sedangkan sisanya hancur berkeping-keping, berhamburan kemana-mana.
"Argghh…! Brengsek! Ini sakit."
Naruto itu menatap ke sekelilingnya dan memastikan bahwa Pina masih tetap aman. Dia kemudian berbalik untuk melihat sumber ledakan, ledakan itu sangat besar sehingga menghasilkan sebuah jamur asap raksasa yang menyembur keluar dari atas tebing.
"Wise, tempat macam apa ini?" Tanya Naruto kepada asisten AI-nya.
['Saya pikir ini semacam lorong tersembunyi yang terbentuk oleh aktivitas gempa bumi, Letnan.']
Naruto berjalan ke tepi jurang dan melihat ke bawah. Dia melihat sisa-sisa tubuh yang berceceran di atas permukaan batu dan menyadari bahwa itu adalah milih dari salah seorang pembunuh yang tadi mengejarnya.
['Dia sudah mati.']
"Yeah, aku tahu."
Naruto lalu menggendong Pina dan membiarkannya duduk di pangkuannya.
Setelah semuanya aman, Naruto kemudian menghela napas yang dalam, sebelum pada akhirnya bersandar dan mengistirahatkan dirinya di bahu Pina yang masih tidak sadarkan diri.
