2.
Tiba-tiba seorang Butler menghentikan ucapan Kuroko. "Nona dan Tuan Tetsuya, Tuan Akashi dan Tuan Kise telah tiba dengan selamat."
"Mereka sudah datang." Mrs Kuroko beranjak dari tempatnya. Ia membuka pintu bersamaan dengan perginya mobil antar-jemput stasiun. Akashi dan Kise berdiri didepan pintu. "Ya ampun kalian makin tampan saja." Mrs Kuroko memeluk kedua keponakannya.
Kuroko sendiri tidak berkutik, ia akui kedua saudaranya memang semakin tampan terlihat. "Kaa-san benar." Kise yang berambut pirang dan bertubuh jauh lebih tinggi darinya memelotinya tanpa berkedip. "Halo Kise-kun, Akashi-kun." Sapa Kuroko.
Senyum seribu watt Kise mendadak terkembang matanya berbinar-binar dengan kedua pipi merona sewarna daun maple yang berguguran. "Hai Kurokocchi! Kau makin imut saja!" Kise melompat memeluk pemuda berkulit putih porselen tersebut. "Dan wangi ssu!"
"Lepaskan Tetsuya, bodoh." Puncak kepala Kise sukses mendapat jitakan manis dari seseorang, Kise mengerang mengelus puncak kepalanya. Ternyata Akashi. "Halo Tetsuya kau memang makin manis." Akashi mengecup pipi kiri Kuroko.
"Terimakasih Akashi-kun, Kise-kun. Jadi mau istirahat terlebih dahulu atau langsung menuju keruang bawah tanah?"
"Langsung saja Tetsuya, mereka pasti sudah tidak sabar ingin mempelajari peti mati tersebut." Mrs Kuroko memotong. "Biar barang bawaan ini para Footman yang membereskannya."
Kuroko mengangguk kemudian mengajak kedua saudaranya untuk berjalan mengikutinya menuju ruang bawah tanah.
Lorong demi lorong mereka lewati, dari yang besar dan luas terus sampai yang kecil dan sempit yang hanya bisa dilewati satu orang. Kise sesekali memekik mendapati sarang laba-laba diatas kepalanya. Lorong itu begitu suram dan gelap, mungkin karena jalan dilewati hingga tercium bau apek debu yang menempel pada karpet—atau mungkin karena lorong ini terisolasi—cahaya remang-remang dari api obor menjiplak bayangan mereka.
"Omong-omong, apa memang benar peti mati itu tidak bisa dibuka?" Kise bertanya sembari mengamit ujung lengan baju Kuroko—posisinya berada ditengah-tengah kedua saudaranya, tidak berani untuk berjalan duluan atau menjadi akhir—Akashi mendengarkan dengan tenang.
"Ya tidak bisa dibuka."
Kuroko bekata tepat ketika kaki mereka bertinga melangkah memasuki sebuah ruangan berbentuk kubus, di tengah-tengah ruangan terdapat peti mati, dinding-dinging batu kelabunya menempel lilin-lilin bercayaha redup.
Akashi berjalan mendekati peti mati, melihat suatu aksara absurd yang tidak akan di mengerti oleh orang awam.
Ketika bulan penuh bercahaya keemasan
Saat itulah nyawa yang bersemayam akan terbangun
Dibangunkan oleh takdir mengikat
Mengulang cerita dari awal
"Seram sekali ssu!" Kise berkomentar.
"Bulan penuh bercahaya keemasan?" Akashi mengkerutkan dahinya. "Berarti hari ini? hari ini bukankah malam bulan purnama? Rasanya aku pernah membaca sebuah buku mitos tentang peti mati vampir yang tidak bisa dibuka."
"Cerita seperti apa Akashi-kun?"
Dengarkan ceritanya di HALAMAN 3.
