4.
Udara begitu dingin. Kabut menutupi jalan setapak yang Kuroko lewati. Tidak terdengar satupun tanda-tanda kehidupan dari binatang binatang kecil yang biasa hidup dihutan. Pilar-pilar pohon yang menyangga hutan cemara ini terasa menyeramkan, entah karena guratan guratan kayu yang seperti orang sedang marah atapun karena sugestinya sendiri.
Kuroko menghembuskan nafas berat sebelum melanjutkan kembali perjalanannya, ia harus cepat menemukan Kise dan Akashi, ia tidak tau apa yang akan terjadi. Dunia ini aneh, begitu aneh. Sesekali terdengar kikikan darimana-mana, seperti sedang mencomoohnya.
Jalan setapak penuh lumpur dilewatinya, berganti dengan jalanan kering dengan pohon beranting kering-kerontang kelabu menjulang keatas. Hingga akhirnya dari kejauhan pupil biru muda Kuroko menangkap siluet pondok kayu, sebuah pondok dengan satu pintu dua jendela juga cerobong yang mengepulkan asap.
"Mungkinkah mereka berdua ada disana?"
Dengan sedikit ragu Kuroko mengutuk pintu mahoni rumah tersebut.
Tok-tok-tok—hening.
Coba sekali lagi—tok-tok-tok—tetap hening.
Bergeming, Kuroko memutuskan masuk kedalam. Dengan mudah memutar kenopnya, "Tidak terkunci?"
Pintu itu berderit terbuka—kenapa semua pintu harus berderit? Ia tidak mengerti—didalamnya sunyi sekali.
Atau sebenarnya tidak benar-benar sunyi. Setelah telinganya menyesuaikan diri, terdengar bunyi berdetak.
Tik, tok, tik, tok—terdengar detak berirama.
"Jam?"
Terdengar bunti jam ding dong, jam kukukm jam genta, dan berbagai macam jenis jam yang lainnya. Semuannya menyebar, di atap, di dinding-dinding, di pintu, di jendela, semuanya tertutupi.
Tik tok tik tok, buka HALAMAN 13.
