5.
"Akashi-kun?"
Kuroko mematung begitu juga dengan Kise yang tiba-tiba saja melorot terduduk gemetar.
Apa ini? mengapa kulit akashi terlihat berkelap-kelip di tempa sinar bulan? semenjak kapan gigi taring memanjang? Semenjak kapan pula mata merah darah Akashi berkilat bagai laser? Dan mengapa bau yang tercium dari tubuh Akashi membuatnya mual—harum yang menjenuhkan.
Akashi membalikan badannya berjalan mendekati Kise yang terduduk diam tidak bergerak—too shocked to do anything.
"Akashicchi... wha-what's wrong with you?" semakin akashi mendekat kepadanya, semakin Kise merangkak menjauh.
Mereka berdua—Kuroko dan Kise—tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini, yang mereka tau saat ini saudara mereka bukanlah saudara yang mereka kenal.
"Jangan mendekat!" Kise semakin ketakutan dibuatnya, ia melempar apapun yang dapat digapainya, hingga sebuah gunting sukses menggores pelepis kiri Akashi.
Klinting—surai merah berhenti bergerak, Kise memegangi dadanya yang berdegub kencang seakan jantungnya siap mencuat dari rongga dadanya kapan saja.
Apa yang terjadi kemudian membuat Kuroko mengkunci mulutnya rapat-rapat, menahan pekikakan yang nyaris lolos bila ia tidak mengigit bibirnya kuat, melukai bibirnya sendiri.
Jika yang dilihat Kuroko adalah Akashi yang menyeringai ke arahnya lanjut ke HALAMAN 8.
Jika yang dilihat Kuroko adalah Kise yang menyeringai ke arahnya lanjut ke HALAMAN 25.
