17.

"Huuu... Hiks!" mendadak Kuroko merasa sedih sekali. Ia mengangkat kedua tangannya yang telah menyusut menjadi dua kepalan bayi yang gemuk.

Jam itu terasa berat sekali, jam yang kini sebesar tubuh Kuroko.

Kuroko meletakan jam itu dilantai, merangkak menuju pintu keluar. Nafasnya terengah-engah. Tenaganya yang memang seadanya kini semakin lemah dalam fisik bayi, tapi ia jauh lebih pintar dari seorang bayi.

Dengan menggunakan lututnya, Kuroko berjuang keras mendekati pintu, hingga sepasang tangan besar terulur dan kebawah mengangkatnya.

"Clock... clock on the wall, look what I found today? Seorang bayi gemuk yang lucu." Manik biru serupa almond yang besar kian membasar menatap sorot biru beda kontras cahaya dengannya menatap tajam tersenyum mencemo'oh. "Hum... sebenarnya aku mengharapkan seorang wanita dengan dada besar yang datang kemari, tapi berhubung aku lapar jadi tak masalah."

Kuroko bayi meneguk ludahnya saat jari telunjuk dan jempolnya mencubit pipi chubby Kuroko gemas hingga tergores dengan kuku-kuku runcing miliknya, membuat satu isakan lolos dari mulut mungil Kuroko bayi.

"Ah maafkan aku anak manis," Ia menjilat setetes darah Kuroko ditangannya. "Darahmu manis, enak. Jadi siapa namamu?"

Nama? Namanya siapa?

"Aua...?"

"Hmm? Tetsu ya?" Si vampire berambut blue black menelusuri tulang leher Kuroko "Hai, aku Aomine Daiki senang berkenalan denganmu." Ia tersenyum sambil mencopot dua kancing teratas piayama kedodoran Kuroko. Meletakan jari telunjuk yang sedari tadi berada di leher bayi bersurai biru muda di depan jantungnya.

Kuroko dapat merasakan sensasi jari yang dingin itu menjalar disepanjang indra perabanya, ditambah dengan hembusan nafas dingin yang terus mendekati dadanya dan berakhir dengan rasa perih hasil koyakan gigi taring Aomine Daiki.

Suara tangisan manis pecah seketika "Waaa! Waaa!"

Bibir dingin sang vampire malah kian menekan, menyesap habis-habisan darah yang ada.

"Than young women bloodyour blood more sweeter tetsu. Bon appetite!"


The End.

(A/N di halaman terakhir ssu~)