Halilintar sedang mendengarkan lagu di kamarnya. Sebenarnya, dia masih khawatir terhadap Gempa yang masih belum pulang sampai sekarang. Padahal biasanya Gempa tidak akan pergi selama 3 jam lebih. Kalau pun iya, dia pasti sudah menelepon salah satu saudaranya atau rumah untuk mengabari.
'Sudah hampir 4 jam dan Gempa belum pulang dia kemana ya? Apa aku telpon dia saja?'
Akhirnya, Halilintar memutuskan untuk menelepon ke handphone Gempa. Hubungan teleponnya memang tersambung tapi Gempa tidak menjawab panggilannya meskipun Halilintar sudah meneleponnya sebanyak tiga kali.
'Kok Gempa gak jawab ya?' batin Halilintar bingung. Dia semakin cemas. Apalagi jika mengingat apa yang dikatakan Taufan beberapa jam yang lalu.
"Entah kenapa, aku merasakan firasat yang tidak bagus terhadap Gempa."
'Ck! Anak itu. Merepotkan saja!'
Halilintar mencoba untuk menelpon Gempa lagi. Tapi tetap saja Gempa tidak menjawab panggilannya. Halilintar jadi kesal sendiri.
Tiba-tiba, ada yang mengetuk— eh salah, maksudnya menggedor-gedor pintu kamar Halilintar.
"KAK HALI! BUKA PINTUNYA KAK! GAWAT!"
Halilintar mengenali suara tersebut, Blaze. Halilintar membuka pintu kamarnya dan memasang wajah terganggu.
"Ada apa?" tanyanya.
Halilintar melihat muka Blaze yang terlampau panik.
"I-Itu... Kak Gempa..."
Mata Halilintar terbelalak. "Gempa kenapa? Ada apaan?" tanya Halilintar ikut panik. 'Tidak mungkin firasat Taufan benar kan?'
"Kak Gempa kecelakaan!"
Halilintar terkejut. 'Kecelakaan?!'
"Lalu? Bagaimana keadaannya?" Halilintar tambah panik.
"Aku barusan dapat telepon dari rumah sakit. Katanya Kak Gempa lagi di UGD sekarang! Dia tertabrak truk! Dan kita disuruh untuk segera datang ke rumah sakit! Setelah itu, aku buru-buru kasih tau Kak Taufan! Dia udah ada di sana sekarang!" jawab Blaze yang juga panik.
"Kalau begitu, kita ke rumah sakit sekarang!"
— QM —
Disclaimer: Boboiboy milik Monsta
Warning!
AU, Siblings!BoboiboyElemental, alien, OOC, typo, humor receh
Genre: Family, humor, action
Rating: T
Happy Reading!
— QM —
Halilintar, Blaze, Ice, Thorn dan Solar berlari-lari di sepanjang koridor rumah sakit. Mereka berhenti berlari setelah melihat Taufan sedang duduk di salah satu kursi dengan muka khawatir.
"Bagaimana keadaan Gempa?" tanya Halilintar kepada Taufan.
Taufan mengangkat mukanya. "Sekarang dia masih di dalam. Dokter belum keluar dari tadi."
"Kenapa Kak Gempa bisa kecelakaan? Bukannya dia cuma pergi ke supermarket?" tanya Thorn dengan muka mau menangis. Dia memang sangat menyayangi kakak tertua ketiga-nya ini.
"Kata polisi yang tadi ada di sini, Gempa tertabrak truk angkut barang. Supirnya mengantuk lalu menabrak beberapa bangunan, kendaraan lain, dan pejalan kaki. Salah satu korbannya, Gempa," jelas Taufan.
Solar melongok ke dalan ruang UGD lewat pintu. "Disini buram. Aku tak bisa melihatnya."
"Tentu saja, tolol." Halilintar menghela nafas. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kak Gempa bakal baik-baik saja kan?" tanya Thorn.
Taufan tersenyum miris. "Aku gak bisa bilang dia bakal baik-baik aja sih... Berhubung aku memang gak tau keadaannya gimana."
Thorn duduk di samping Taufan. Tangannya bergerak menggenggam tangan kakak kembarnya itu.
Solar ikut duduk di seberang kursi Taufan. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lihatlah, bahkan dia tidak menyentuh handphone-nya sama sekali.
Blaze duduk di samping Solar. Dia tidak bicara sama sekali sejak mereka sampai di rumah sakit ini.
Ice, yang biasanya hanya memasang wajah datar, kini — yah — tetep datar sih. Tapi dia tidak membawa bantalnya — yang biasanya ia selalu bawa kemana-mana. Ia duduk di samping Thorn sambil menggigit jarinya cemas.
Halilintar, satu-satunya dari mereka yang tetap berdiri. Tetap dengan posisi melipat kedua tangannya di depan dada.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Tak ada yang mau membuka bahan obrolan.
Mereka terlalu sedih sekarang.
Hey, gimana sih rasanya kalau kau sudah hidup selama belasan tahun dengan seseorang lalu tiba-tiba seseorang itu kecelakaan?
Banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala mereka.
Apakah Gempa akan selamat?
Dia bisa ketabrak karena apa?
Bagaimana kalau dokter yang menanganinya masih pemula?
Bagaimana kalau dokternya salah penanganan?
Bagaimana jika Gempa kehabisan darah akibat kecelakaan?
Bagaimana jika—
Semakin mereka mencoba menghapus pertanyaan-pertanyaan itu dari kepala meraka, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan.
Thorn sudah tampak tak kuat menahan air matanya. Ia terisak pelan.
Di antara semuanya, hanya Halilintar yang tampak tenang.
Tapi tidak.
Di dalam hati ia berdoa mati-matian supaya adik kembar keduanya itu selamat.
Ia hanya ingin Gempa selamat, keluar dari rumah sakit, lalu menjalani kehidupan bersama lagi.
Rasanya ia ingin menonjok dinding rumah sakit putih itu sekarang.
Waktu kembali berjalan. Dokter yang menangani Gempa belum juga keluar dari ruangan itu.
Thorn sudah terisak, menahan tangisnya.
Dan keajaiban terjadi.
Pintu UGD tersebut terbuka.
Seorang pemuda dengan jas putih, dokter, keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Halilintar mendekati dokter itu.
"Kalian semua saudaranya?" tanya dokter tersebut, keheranan melihat enam anak laki-laki dengan muka yang mirip.
"Iya. Jadi adik saya bagaimana, dok?" tanya Halilintar lagi.
"Saudara kalian mengalami banyak pendarahan. Tapi tenang saja, kami sudah mengatasi hal tersebut. Juga terdapat luka di kepalanya. Tapi saudara kalian sudah baik-baik saja," jawab dokter tersebut sambil tersenyum.
Semuanya langsung menghela nafas lega.
"Untuk sementara, saudara kalian akan dipindahkan dulu ke ruang rawat inap. Kalian bisa menjenguknya setelah ia dipindahkan," lanjut sang dokter. Lalu, beberapa suster dengan seorang anak laki-laki yang berbaring di atas ranjang keluar dari ruangan UGD.
"Kalian bisa mengurus administrasinya sekarang. Saya undur diri dulu," kata dokter tersebut sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.
"Untung saja, Gempa selamat."
— QM —
Gempa membuka matanya perlahan-lahan. Sinar terang menusuk matanya.
"Gempa udah bangun!"
Semua yang ada di ruang itu langsung menghampiri ranjang Gempa setelah mendengar seruan Taufan.
"Aku kira Kak Gempa tidak akan bangun!" seru Thorn sambil memeluk Gempa.
"Thorn, kau ini. Tentu saja Kak Gempa akan bangun!" kata Blaze memprotes perkataan Thorn.
Thorn melepaskan pelukannya dari Gempa lalu memasang muka kesal.
"Iya iya!"
Gempa memasang ekspresi bingung.
"A-Apa yang terjadi?" tanya Gempa.
"Kau tertabrak truk saat kau berbelanja! Nasib baik kau selamat," jawab Taufan.
"Setidaknya dia selamat," tambah Halilintar.
"Kak Hali benar!"
"Aku ni memang selalu benar," kata Halilintar.
"Cih! Benar apanya?" kata Taufan meremehkan.
"Tau tuh," tambah Blaze.
"Ha'ah. Sombong banget sih," tambah Ice ikut-ikutan.
"Terserah korang je lah."
Gempa bingung dengan pertengkaran di depannya. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh mereka.
"Eh? Kak Gempa kenapa kebingungan gitu?" tanya Thorn dengan muka polos.
Semuanya langsung mengalihkan perhatian mereka ke Gempa lagi.
"Iya, dari tadi kamu kelihatan linglung banget," kata Halilintar membenarkan.
"Ha'ah, kamu gak pa pa kan?"
"Kak Gempa laper?"
"Kok Kak Blaze malah nanya hal yang gak berhubungan sih," kata Ice dengan poker face.
"Lah? Emangnya kenapa? Siapa tau Kak Gempa beneran laper kan?" tanya Blaze yang tiba-tiba ketularan sifat polosnya Thorn.
Yang lain cuma sweatdrop. Yaahh, meskipun Halilintar sudah ingin sekali menjedotkan kepala Blaze ke tembok — tapi boleh kan ya?
Ice dan Blaze beradu mulut lagi. Mesra sekali hubungan mereka berdua ya.
Untung saja, Gempa memotong pertengkaran mereka.
"Maaf, tapi..." Gempa menggantungkan kalimatnya.
Semuanya menengok ke arah Gempa dan menunggunya melanjutkan perkataannya.
"Kalian semua siapa?"
Semua orang di sana langsung cengo begitu mendengar pertanyaan Gempa.
"Ma-Maksud kamu a-apa, Gempa?" tanya Taufan. "Kamu gak bercanda kan?"
"Gempa? Itu siapa? Itu namaku?" tanya Gempa lagi.
Semuanya kaget lagi.
"Kak Gempa bahkan gak tau siapa diri kakak?" tanya Thorn tidak percaya.
"I-Iya. Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya, siapa diriku, dan siapa kalian."
"Astaga..."
— QM —
"Jadi, Gempa benar-benar kehilangan seluruh ingatannya?" tanya Halilintar tidak percaya.
"Ya, benturan di kepalanya yang menyebabkan hal tersebut. Sangat disayangkan," jawab sang dokter dengan raut muka bersalah.
"Ta-Tapi, kita bisa mengembalikan ingatannya kan?" tanya Blaze.
"Kalau kalian berusaha, pasti bisa. Kalau Gempa mau berusaha juga, pasti bisa. Amnesia yang dialami Gempa tidak permanen."
Semuanya menghela nafas lega setelah mendengar perkataan dokter.
"Baiklah, terima kasih, dok," kata Halilintar sambil tersenyum.
Mereka berenam keluar dari ruangan dokter itu.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Solar. Mereka tidak diperbolehkan untuk menjenguk Gempa sekarang. Kata dokter, Gempa butuh istirahat.
"Yang pasti, kita harus mencari cara untuk mengembalikan ingatan Kak Gempa secepat mungkin setelah dia keluar dari rumah sakit," jawab Ice. Semuanya mengangguk setuju.
"Tapi... Bagaimana caranya?"
Tbc.
Author's Note:
Halooo! Irinaa akhirnya bisa update cerita ini lagi XD
Maaf banget ya kalau pendek. Ini revisi dari chapter yang saya udah bikin sebelumnya — berhubung ini memang udah dibuat lama. Jadi ya, memang banyak adegan gak penting yang harus dibuang. Ririn udah tambahin lagi sih. Tapi kayaknya masih kurang ya?
Oke lah.
See you on next chapter!
