Gempa terbangun dari tidurnya. Dia berusaha mengingat-ingat kenapa dia bisa berbaring di sana.
Ah, kemarin aku dirawat rumah sakit ini...
Saat dia berusaha bangun, seseorang membuka pintu kamarnya.
"Sudah bangun?" tanya Taufan.
—Quake's Memories—
Disclaimer: BoBoiBoy hanya milik Monsta
Warning!
Typo, siblings!BoBoiBoyElemental, humor nyelip sana-sini, semacam drama tapi bukan drama, semacam AU tapi bukan AU /maumuapa
Genre: Family
Rating: T
Selamat Membaca!
—Quake's Memories—
Gempa mengangguk. Setelah dia berhasil duduk, dia bisa melihat lima orang sedang tertidur pulas di ruangannya.
Mereka yang kemarin itu kan? tanya Gempa di dalam hatinya.
"Nah! Minum dulu! Kau pasti haus!" tawar Taufan sambil mengulurkan sebotol air.
Gempa tersenyum kecil lalu menerimanya. Taufan mengambil tempat duduk di sebelah Gempa selagi dia minum.
Terjadi keheningan yang cukup lama sampai akhirnya Gempa angkat bicara.
"Ka-Kalian tidur di sini semalam?"
Taufan mengangguk. "Ya, kami mana mungkin bisa meninggalkanmu."
Gempa tersenyum kecil. "Kalian belum cerita padaku tentang kalian."
"Oh! Benar juga! Kalau begitu, aku Taufan! Aku anak kedua paling tua di antara kita! Kau bisa memanggilku Kak Taufan — karena biasanya kau memanggilku begitu."
"Kak Taufan? Baiklah. Lalu siapa yang paling tua?"
Taufan menunjuk Halilintar yang tertidur di atas sofa dengan posisi duduk. "Itu Halilintar. Dia yang paling tua! Kita biasanya memanggilnya Kak Hali."
Gempa mengangguk.
Lalu, Taufan mengecilkan suaranya. "Tapi, hati-hati loh! Kak Hali kalau ngamuk serem banget! Jangan sekali-kali bikin dia marah! Tapi, kamu gak pernah bikin dia marah sih."
"Eh? Benarkah? Kenapa?" tanya Gempa bingung.
"Soalnya kamu yang paling waras di antara kita."
Jawaban Taufan malah membuat Gempa semakin bingung. "Hah?"
"Ya, pokoknya gitu deh! Terus yang ketiga itu kamu, Gempa! Setelah itu, Blaze! Kamu panggil dia Blaze saja, dia kan adikmu."
Gempa mengangguk lagi.
"Blaze ini sifatnya sebelas-duabelas sama aku gitu. Cuma dia gampang marah kayak Kak Hali. Terus dia orangnya semangat banget. Bertolak belakang banget sama si Ice."
"Memangnya Ice kenapa?" tanya Gempa. Dia semakin menikmati pembicaraan ini.
"Dia anak kelima. Dan dia itu sifatnya kaleeeeeemmmmm banget! Mirip-mirip sama kamu gitu deh. Cuma kamu suka banget senyum, si Ice mah boro-boro deh. Dia juga pemalas banget!"
Taufan menunjuk dua laki-laki yang sedang tidur bersebelahan. "Yang merah itu Blaze, yang biru Ice!"
Taufan menceritakannya dengan semangat. Gempa tersenyum. Setidaknya, dia tau kakaknya ini sifatnya ceria.
"Terus yang keenam itu Thorn! Yang itu!" kata Taufan sambil menunjuk laki-laki dengan topi hijau yang sedang tertidur dengan manisnya di pangkuan laki-laki berkacamata oranye.
Gempa mengangguk. "Sifatnya polos ya?" tebak Gempa.
"Yep! Polos banget! Kadang suka sebel sendiri jadinya." Taufan tertawa kecil. "Sifatnya memang mirip anak kecil!"
Gempa terkekeh pelan.
Lalu muka Taufan berubah serius — yang dipaksakan. "Tapi, Thorn itu sayang banget sama kamu loh! Dia hampir mau nangis gitu waktu tau kamu ditabrak truk! Yang lain juga sih, tapi gak separah Thorn!"
Gempa tersenyum mendengarnya. Dia senang mendengar bahwa saudara-saudaranya itu menyayanginya.
"Terus yang terakhir itu si Solar! Yang mangku kepalanya Thorn itu loh!" Taufan menunjuk ke arah Solar.
"Nah, meskipun dia yang paling muda, tapi dia yang paling percaya diri! Mungkin bisa dibilang narsis. Tapi sebenarnya dia baik kok! Cuma suka selfie aja. Kujamin, galeri handphone-nya penuh sama foto selfienya!" Taufan tertawa.
Gempa ikut tertawa meskipun pelan. Kepalanya bisa sakit kalau dia tertawa keras-keras.
"Oh ya, kenapa Kak Taufan udah bangun sedangkan yang lain belum?" tanya Gempa setelah tawa mereka reda.
"Emm, sebenarnya kemarin aku tidur kedua paling awal — setelah Ice. Mungkin karena hal itu, aku jadi bangun paling awal."
Gempa terkekeh mendengar pengakuan Taufan.
Lalu Halilintar terbangun.
"Oh, pagi Kak Hali!" sapa Taufan dengan suara ceria khas miliknya.
"Hn." Yak, begitulah jawaban paling bermakna dalam dunia ini, saudara-saudara.
"Pagi banget Kak Hali bangunnya. Bukannya kemaren Kak Hali tidur paling lama?" tanya Taufan.
"Aku kebangun gara-gara seseorang ngomong dengan suara keras," jawab Halilintar sambil mengeluarkan deathglare andalannya ke Taufan.
Taufan malah nyengir.
"Ya, maaf, kak."
"Hm." Halilintar menuju ke toilet — yang kebetulan ada di dalam ruangan Gempa.
"Kak Hali mau ngapain ke toilet?" tanya Taufan lagi.
"Menurutmu?" Halilintar memutar bola matanya. Dia jadi kesal dengan adiknya yang satu ini.
"Hehehe." Taufan nyengir lagi.
Halilintar masuk ke toilet. Taufan berpaling pada Gempa lagi.
"Kau mau sarapan?" tanya Taufan. Gempa mengangguk.
"Kalau begitu, tunggu di sini ya. Biar aku panggilkan susternya." Taufan beranjak dari kursinya meninggalkan Gempa.
Begitulah, Gempa ditinggalkan sendirian bersama empat makhluk yang sedang tidur dengan pulasnya.
"Tau— eh, dia kemana?"
Ah, salah. Bersama Halilintar.
"Dia mau panggil suster," jawab Gempa. Halilintar mengangguk.
Halilintar mengambil kursi di seorang kursi Taufan lalu duduk di sana.
"Lukamu masih sakit?" tanyanya.
"Ya, sedikit. Tapi sekarang gak pa-pa kok," jawab Gempa sambil tersenyum.
"Kau hilang ingatan atau tidak sama saja."
Gempa kebingungan. "Eh? Maksudnya?"
"Tak apa," jawab Halilintar sekenanya. Sifatmu yang tidak mau membuat orang lain khawatir masih sama.
Lalu Taufan muncul dengan muka senang sentosa sambil membanting pintu.
Pintu yang malang.
Kenapa dirinya harus menjadi pintu?
"Gempa, susternya akan datang sebentar lagi!" kata Taufan lalu duduk di kursinya tadi.
"Bisa tidak, gak usah teriak-teriak? Yang lain masih tidur tau," kata Halilintar.
"Iya iya!"
"Telat," kata seseorang. Semuanya menoleh.
Solar menguap. "Kak Taufan selalu berisik."
"Ya, maaf," balas Taufan dengan nada sebal.
Solar hendak beranjak dari sofa tapi sayangnya kepala Thorn masih berada di atas pangkuannya.
"Ya elah," kata Solar sebal. Dia mengangkat kepala Thorn lalu melemparnya ke sisi yang lain.
Hebatnya, Thorn masih tertidur nyenyak setelah dilempar oleh Solar.
Solar berjalan menuju toilet setelah itu.
"Apa Thorn itu benar-benar kakaknya Solar?" tanya Gempa.
"Haha, iya kok," jawab Taufan sambil nyengir karena kejadian tadi.
Lalu seseorang membuka pintu kamar Gempa.
"Ini sarapannya ya," kata sang suster sambil tersenyum. Dia mendorong rak dorong dengan sarapan Gempa di atasnya.
Suster tadi menyerahkan sarapan Gempa ke tangan Taufan — dengan muka sedikit memerah — lalu hendak beranjak sebelum ditahan oleh Solar — yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
"Sus, itu kok airnya enggak keluar ya?" tanya Solar.
"E-Eh, saya gak tau deh. Nanti saya tanyakan sama petugas dulu ya," jawabnya gugup.
"Ok, makasih, sus." Solar tersenyum.
Muka si suster malah tambah merah. "I-Iya."
Sebelum si suster keluar dari sana, dia sempat bergumam — yang didengar oleh seluruh penghuni ruangan tersebut, "Aduhh, kenapa satu ruangan isinya cogan semuaaa!"
Solar dan Taufan langsung terbahak-bahak setelah suster tersebut keluar. Halilintar cuma menghela nafas.
"Cogan?" tanya Gempa polos.
"Entah kenapa, aku jadi teringat kejadian administrasi," kata Halilintar tiba-tiba.
"Memangnya kenapa kak?" tanya Taufan.
Halilintar tampak mengingat-ingat. Kejadian tadi berputar di hadapan mereka semua layaknya sebuah film.
"Jadi berapa totalnya mbak?" tanya Halilintar.
"Aduhh, kok buru-buru banget sih! Main sama aku aja yuk~!" goda salah satu suster di sana.
"Kak cogan kok cool banget sih~?" tanya suster yang lain.
"Tapi saya harus—" Perkataan Halilintar dipotong oleh suster yang lain.
"Kalau kak cogan mau main sama kita-kita, aku kasih diskon buat administrasinya deh~" kata si suster yang bertugas mengurusi administrasi Gempa.
Mereka semua memasang gaya centil dan genit yang membuat Halilintar ingin muntah di tempat.
"Gak usah deh, sus. Saya lebih baik homo-an daripada sama kalian."
Bayangan itu menghilang. Menyisakan Halilintar yang berwajah masam setelah mengingat kembali kejadian itu.
Taufan dan Solar langsung ngakak di tempat. Gempa berusaha menahan tawanya.
"Aku jadi jijik sendiri kalau inget kejadian itu lagi." Halilintar memasang muka jijik.
"Terus, terus? Susternya gimana setelah itu?" tanya Taufan penasaran.
"Susternya malah makin parah dan akhirnya aku tetep dapet diskon."
"Hebat banget! Dapat diskon berapa kak?" tanya Solar.
"Setengah harga administrasinya."
"HEBAT BANGET!"
Halilintar langsung memberikan deathglare kepada Taufan dan Solar akibat teriakan mereka tadi.
Gempa menelan ludahnya sendiri.
The power of cogan.
Tbc.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N:
Haloo! Irinaa di sini!
Akhirnya Irinaa bisa update juga. XD
Huhu, maapkeun baru bisa update sekarang. Irinaa habis hiatus dari FFn soalnya. XD
Selagi menunggu cerita ini upate lagi, mungkin kalian bisa cek cerita Irinaa yang lainnya. Kan lumayan. /malahpromosi
Akhir kata, terima kasih telah membaca cerita Irinaa!
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
