31.

Pintu kayu kelabu tua berderik pelansepertinya engselnya telah karatan. Mereka bertiga mengedarkan pandangan, belum pernah ruang bawah tanah semengerikan ini—tidak, di siang hari pun mengerikan hanya saja ini lebih mengerikan—seolah-olah monster mengintai dari segala sudut. Benda terlihat aneh. Cahaya lampu senter menambah kengerian.

Terlihat peti itu begetar. Bergoyang ke depan dan ke belakang.

Tanpa sengaja cahaya lampu senter menyinari aksara asing yang terdapat disudut kiri peti.

"Bukalah peti dengan salah satu kunci ini." Akashi berkata, pandangannya bertanya kepada kedua saudaranya. "Kunci? Kunci apa?"

Kise mengangkat bahu, Kuroko meletakan jari telunjuknya didepan kening. "Kunci ya..." ia mengerutkan alisnya, lalu berjalan kearah meja yang kayunya telah lapuk dimakan waktu, membuka laci yang terdapat kotak kayu berisidua buah kunci logam putih dan hitam didalamnya. "Mungkinkah maksudnya kunci ini Akashi-kun?"

"Sepertinya iya." Akashi menyetujui. "Sebaiknya kita pilih yang mana?"

"Tidak dua-duanya ssu!" Teriak Kise ketakutan.

Kuroko menilik dua buah kunci digenggamnya. Putih biasanya berarti baik. Hitam biasanya berarti jahat, namun tidak selalu.

Lalu terdengat lagi jerit-jerit seram menggema gendang telinga.

"Mungkin sebaiknya kita pilih kunci putih untuk berjaga-jaga?" Akashi mengusulkan.


Jika memilih kunci putih buka HALAMAN 19.

Jika memilih kunci hitam buka HALAMAN 22.