Disclaimer: BoBoiBoy hanya milik Monsta

Warning!

OOC, typo, AU elemental siblings, humor nyelip sana-sini, semacam drama tapi bukan drama

Genre: Family

Rating: T

—Quake's Memories—

"Gempa mau makan sendiri atau aku suapin?"

Pertanyaan tersebut sukses membuat Gempa tersedak minumannya.

"Kau gila ya, Taufan?" tanya Halilintar.

Taufan menaikan salah satu alisnya. "Aku masih waras kok. Kak Hali yang gila kali."

Muncul perempatan imajiner di kepala Halilintar. "Kamu ngomong apa tadi, Taufan?"

Taufan menelan ludahnya. "Ups. Maaf, kak."

"TIADA MAAF BAGIMU! KEMARI KAU!" Halilintar langsung mengejar Taufan yang sudah lari — muter-muter di kamar — setelah itu.

"HUAAAA! MAMA! TOLONG TAUFAN!" Taufan berteriak histeris, berlari dari kejaran Taufan sedangkan Halilintar mengejar Taufan sambil membawa pedang halilintarnya.

Solar hanya bisa tersenyum sweatdrop.

"Tunggu sebentar." Semuanya menoleh ke arah Gempa yang tampak kaget.

"I-Itu apa?" tanya Gempa sambil menunjuk pedang halilintar yang dipegang oleh Halilintar.

Semua — kecuali Gempa dan makhluk-makhluk yang sedang tidur — saling berpandangan.

Halilintar menghilangkan pedang halilintarnya — yang membuat Gempa tambah kaget — lalu menghela nafasnya.

"Ternyata dia lupa soal kuasa juga."

"Kuasa?" tanya Gempa lagi. Sungguh, dia kebingungan sekarang.

Semua saudaranya yang sudah bangun saling berpandangan lagi, bingung bagaimana cara menjelaskan kepada saudaranya yang amnesia ini.

"Sepertinya kita perlu menunggu Ochobot untuk datang," ujar Solar.

"Ochobot?" Sekali lagi, Gempa kebingungan.

"Tak perlu menunggu, telpon saja dia. Suruh dia datang secepatnya," usul Halilintar sambil memutar matanya.

Solar mengangguk. Dia memencet jam kuasanya. Muncul hologram kecil yang menampilkan robot bundar berwarna kuning-hitam.

"Hoi, Ochobot."

"Ada apa, Solar? Bagaimana keadaan Gempa?"

Gempa yang hanya bisa menyaksikan semua itu, menyimpan semua pertanyaannya untuk dikeluarkan nanti.

"Kau tak merindukanku? Jahat sekali," ujar Solar sambil cemberut.

"Tak."

"Ochobot jahadh!" seru Solar lebay.

Yang lainnya hanya bisa sweatdrop melihatnya. "Sepertinya tujuan utamanya terlupakan deh."

"Halah, lebay kamu," jawab Ochobot tiba-tiba kejam. "Gimana Gempa?"

"Kak Gempa baik-baik saja. Dia sudah sadar. Ngomong-ngomong, karena Kak Gempa amnesia, dia lupa tentang kuasanya juga. Bisa gak kamu ke sini untuk memeriksanya sebentar lalu menjelaskan tentang kuasanya sendiri? Kami agak sulit menjelaskannya," jelas Solar panjang lebar.

"Baiklah. Aku akan ke sana sebelum jam makan siang. Tunggu aku."

Setelah itu, hologram Ochobot menghilang.

"Yaahh, sepertinya kau harus menunggu sebentar, Gempa," ujar Taufan.

"Menunggu untuk apa?"

Semuanya menengok ke sumber suara tersebut.

"Pagi, Blaze!" sapa Taufan dengan ceria.

"Pagi, Kak Taufan!" balas Blaze tak kalah cerianya. "Omong-omong, jadi Kak Gempa lupa tentang kuasanya juga?"

"Begitulah." Halilintar mengangkat bahunya. "Tunggu, sejak kapan kamu mulai menguping?"

Blaze nyengir. "Sejak Kak Hali mengejar Kak Taufan dengan pedang halilintar. Berisik banget abisnya."

"Salahkan kakakmu yang idiot itu," ujar Halilintar cuek.

"HOY! Apa-apaan?! Masa aku dibilang idiot?!" seru Taufan tak terima.

"Kamu memang idiot kan," ujar Halilintar lagi dengan muka datar.

"APA-APAAN KA—"

"Hoi, sudah, sudah. Kalau begitu terus, kapan Kak Gempa akan makan?" tegur Solar.

Sontak, semuanya langsung menengok ke arah Gempa — yang ternyata sudah memakan sarapannya duluan. Gempa membalas tatapan mereka semua dengan tatapan yang seolah mengatakan apa-?-aku-melakukan-kesalahan-ya-?.

Semuanya — yang sudah bangun — masih menatap Gempa, bingung harus berbuat apa. Gempa yang bingung karena dipelototin, menyendokkan satu sendok buburnya lagi ke dalam mulutnya.

Setelah beberapa detik, semuanya masih saja diam dan menatap Gempa, masih bingung harus ngapain. Gempa yang semakin bingung karena dipelototin, menyendokkan satu sendok buburnya lagi lalu mengarahkannya ke arah saudara-saudaranya. "Mau?"

Ok, ini kenapa jadi absurd gini.

Lanjut aja dah.

Halilintar yang akhirnya sadar menjawab, "Gak usah. Nanti kita beli sarapan sendiri aja."

Gempa mengangguk lalu memasukan bubur yang berada di sendoknya tadi ke dalam mulutnya.

"Makannya cepet juga, kak," celetuk Blaze.

Gempa yang tadi asyik berkutat dengan daging ayam yang nyasar ke bawah mangkok, menoleh ke arah Blaze. "Laper abisnya," jawab Gempa sambil menyendokkan satu sendok buburnya ke dalam mulutnya — lagi.

Halilintar membenarkan posisi topinya — yang sebenarnya sudah benar. "Aku beli sarapan dulu. Kalian mau apa?"

"Bakmie!" seru Taufan semangat.

"Bakmie juga!" seru Blaze tak kalah semangat.

Halilintar menoleh ke arah Solar. "Kau apa?"

"Terserah Kak Hali saja," jawabnya.

Halilintar mengangguk lalu membuka pintu ruangan. "Selama aku pergi," Halilintar menjeda perkataannya, "jangan berisik atau membuat kekacauan. Ini rumah sakit." Setelah itu, Halilintar meninggalkan mereka.

"YASH! AKHIRNYA LILI-CHAN PERGI!"

"AKHIRNYAAA~!"

Taufan dan Blaze saling ber-tos ria.

Gempa tersenyum sweatdrop melihatnya. Setidaknya, Solar tidak seperti me—

"Main apa nih jadinya?" tanya Solar bersemangat sambil mengeluarkan handphone-nya.

Taufan dan Blaze mengeluarkan handphone-nya masing-masing juga. "Mobil Lejen dong!"

"Wokeh!"

Gempa hanya bisa memasang facepalm di wajahnya. Ternyata mereka sama saja. Dasar.

"Hah? Game apaan tuh?"

"AAA! OPOCOT APAAN APAAN!"

Gempa jadi ingin tertawa melihatnya.

Taufan, Blaze, dan Solar menatap horror ke arah makhluk yang tiba-tiba berada di belakang mereka.

"Astaga, Kak Thorn. Kaget tau!" protes Solar. Hampir saja ia menjatuhkan handphone kesayangannya itu.

Thorn hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Lalu ia menoleh ke Gempa.

Gempa yang ditatap Thorn hanya bisa menelan buburnya sambil menatapnya bingung.

Thorn terdiam melihat Gempa. Gempa bingung melihatnya. Dia menyendokan satu sendok buburnya lagi ke dalam mulutnya.

Tiba-tiba, Thorn berlari ke arah Gempa lalu memeluknya. "Kak Gempa!"

Gempa yang dipeluk kaget dan kebingungan. Hampir saja buburnya tumpah mengenai selimutnya. Ni anak kenapa coba? batin Gempa bingung.

Sebenarnya Gempa sempat ber-'aduh' saat Thorn memeluknya tiba-tiba. Lukanya belum sembuh benar dan memang masih sakit. Thorn yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya.

"Ehh, maaf, kak! Sakit ya?" tanya Thorn khawatir.

"E-Enggak apa-apa kok," jawab Gempa sambil tersenyum.

"Tinggal si beruang kutub aja nih yang belom bangun," ujar Blaze sambil menoel-noel kepala Ice. Yang ditoel tetap tertidur dengan damainya.

"Dia tidur paling awal kan?" tanya Gempa. Sebenarnya dia bingung kenapa Ice tidak kunjung-kunjung bangun juga sejak tadi.

Blaze yang mendengarnya langsung nyengir. "Udah, kak! Gak usah khawatir! Si Ice ini memang paling suka tidur! Dia pernah tidur seharian kok!"

"Ehh?" Bisa dibilang, Gempa terkejut mendengarnya.

"Sepertinya aku lupa bilang pada Gempa kalau Ice suka tidur deh," ujar Taufan sambil mengingat-ingat.

Gempa mengangguk mengerti lalu menyendokkan satu sendok buburnya lagi ke mulutnya.

Tiba-tiba, terdengar keributan di luar kamar. Banyak suara langkah kaki yang berlari, seruan panik, bisikan, dan lainnya.

"Itu ada apa?" tanya Gempa setelah menyendokkan satu sendok terakhir ke dalam mulutnya. Mangkok yang berada di tangannya sudah bersih.

Taufan mengangkat bahu tidak peduli. "Masalah rumah sakit mungkin."

"Aku penasaran," ujar Solar. Ia menuju pintu kamar lalu membukanya. Terlihat ia memanggil salah satu suster yang berlari untuk menanyakan keadaan.

Sepertinya Solar sempat terhambat karena si suster malah fangirling gara-gara ditanyain cogan*.

Biasa, cewek.

Bukannya dibiarin, Solar malah bales si suster dengan tebar pesona.

Dasar narsis.

Setelah beberapa menit, Solar akhirnya kembali.

"Ngapain pake tepe-tepe* sih?" tanya Taufan.

"Ya, gak pa-pa lah," jawab Solar sambil mengibas-ibaskan tangannya. "Oh ya, katanya itu rusuh gara-gara ada orang yang nyuri beberapa obat mahal dan beberapa barang lainnya. Jadi untuk sementara pintu rumah sakit semuanya ditutup."

"Nyuri?"

Sontak, semua langsung menengok ke sumber suara.

"Kak Hali! Mana makanannya?" tanya Blaze. Sepertinya ia kelaparan.

"Nih," ucap Halilintar sambil menyerahkan semua bakmie di tangannya ke Blaze. Blaze dengan sennag hati mengambilnya lalu menaruhnya di atas meja berukuran sedang yang diletakan di depan sofa untuk dimakan bersama-sama.

"Ada pencurian?" tanya Halilintar lagi.

Solar mengangguk. "Tadi kata susternya sih gitu."

"Boy! Sobar, sibi babhan bubu! (Hoy! Solar, sini makan dulu!)" ucap Taufan yang ternyata sudah makan di sebelah Blaze.

"Bakbiba benab boh! (Bakmienya enak lho!)" ucap Blaze sambil makan.

"Telen dulu baru ngomong atuh," tegur Thorn — yang berada di sebelah Blaze — seraya membuka plastik bakmie.

"Dasar ka—" Perkataan Halilintar terpotong setelah mendapati Solar tidak ada di hadapannya lagi.

"Wanginya enak banget!" seru Solar — yang berada di sebelah Taufan — setelah membuka plastik bakmienya.

Halilintar dan Gempa sweatdrop melihatnya.

Halilintar menengok ke Gempa. "Ya udah, aku pamit ya. Mau cari tau soal pencurinya."

"Ehh? Yakin gak pa-pa?" tanya Gempa khawatir.

"Tenang, kan aku ada kuasa. Lagian kegiatan kita sehari-hari juga gini," jawab Halilintar seraya mengangkat bahunya. Ia memegang kenop pintu kamar rawat Gempa.

"Lah, gak pamit sama kita-kita kak?" Kali ini, Taufan bertanya setelah menelan bakmienya.

Halilintar menatapnya cuek. "Halah, ngapain pamit sama kamu. Eh, Thorn, Solar, pergi dulu ya."

"Siap, kak!" balas Thorn. Solar mengacungkan jempol tangan kirinya dengan tangan kanan memegang handphone miliknya — untuk memfoto bakmie.

"Laaahhh, aku enggaaakk?" rengek Blaze.

"Ngapain?" balas Halilintar cuek lalu keluar dari kamar.

"KAK HALI JAHAT!" teriak Taufan dan Blaze berbarengan.

Gempa terkekeh melihatnya.

"Eh, ada sisa dua porsi. Buat Kak Hali sama Kak Ice ya?" ucap Thorn setelah melihat dua bungkus bakmie yang belum disentuh.

"Kayaknya Kak Ice gak perlu deh. Dugaanku dia bakal sampe siang tidurnya," balas Thorn.

"Aku malah mengira dia baru akan bangun besok," celetuk Blaze.

"Terus, ini gimana?" tanya Thorn bingung.

"Simpen aja lah. Siapa tau nanti dia bangun terus dia laper," balas Taufan.

"Keburu gak enak dong?"

"Salah dia," jawab Blaze cuek.

Thorn baru saja akan berbicara lagi kalau tidak dipotong kerusuhan yang semakin menjadi-jadi di luar sana.

"Di luar sepertinya rusuh sekali ya," tanggap Gempa. Ia berusaha turun dari kasurnya.

Solar langsung menghentikan kegiatan makannya dan membantu Gempa.

"Makasih," ucap Gempa seraya tersenyum setelah dirinya berhasil turun dari kasurnya.

"Siap!" balas Solar. Ia tertawa kecil.

"Walah, ribut bener," ujar Taufan yang tengah menengok keadaan di luar dengan melongokan kepalanya ke luar kamar rawat Gempa.

"Ha'ah!" ucap Blaze yang tengah menengok keadaan di luar bersama Taufan.

"Aku jadi penasaran dengan nasib Kak Hali," celetuk Thorn.

"Halah, dia mah ngapain dikhawatirin!" balas Taufan. Sepertinya ia masih kesal dengan kejadian tadi.

"Ha'ah!" seru Blaze setuju. Entah kenapa, Taufan dan Blaze kompak sekali kalau sudah mengenai kakak sulung mereka itu.

"Aku lebih bertanya-tanya kenapa Ochobot belum datang," ujar Solar. Ia kembali duduk di atas sofa, diikuti oleh Gempa.

"Oh iya!" Taufan menepuk jidatnya Blaze— eh, maksudnya, jidatnya sendiri. "Dia belum dateng dari tadi!"

"Mungkin dia terjebak di luar. Katanya pintu rumah sakit semuanya ditutup kan? Untuk mencegah pencurinya kabur," ujar Gempa.

Lalu jam kuasa Solar berbunyi. Solar menekan suatu tombol lalu muncul hologram Ochobot di hadapannya.

"Yo!" sapa Solar. "Kenapa belum sampai?"

"Aku terjebak di depan rumah sakit. Semua orang yang mau memasuki rumah sakit juga dihalang. Pintunya juga ditutup. Aku melihat polisi berjaga-jaga di depan semua pintu rumah sakit. Aku dengar sih ada pencurian," balas Ochobot.

"Iya, di dalam sini juga rusuh sedari tadi. Sepertinya pencurinya belum tertangkap," ujar Solar. "Tadi Kak Hali pergi buat cari tau soal pencurinya."

"Halah, anak itu. Biarin aja lah. Dia luka parah juga gak akan mati kok."

Solar tertawa. Gempa yang mendengar balasan Ochobot ingin tertawa, tapi kasihan. Jadi, dia diam saja.

"Ya sudah, semoga Halilintar dan yang lain bisa menyelesaikan masalahnya. Aku kan capek harus menunggu di luar," keluh Ochobot.

Solar tertawa lagi. "Sana pergi jalan-jalan dulu atau apa kek. Nanti aku kasih tau kalau masalahnya udah selesai."

"Oke, aku jalan-jalan dulu aja deh. Sampai nanti," balas Ochobot.

"Sampai nanti." Setelah itu, sambungan telpon diputuskan.

"Ochobot terjebak di luar. Jadi dia mau jalan-jalan dulu," ujar Solar kepada saudara-saudaranya yang lain. Taufan, Blaze, dan Thorn manggut-manggut.

"Yaahh, sekarang kita hanya bisa menunggu kan?"

Tbc.

—Quake's Memories—

*cogan = cowok ganteng/laki-laki ganteng/handsome

*tepe-tepe = tebar pesona

Ini udah lama, jadi agak aneh emang. Cuma Irinaa revisi sedikit. Semoga kalian tetep suka ya. XD