Disclaimer: BoBoiBoy hanya milik Monsta
Warning!
OOC, typo, AU elemental siblings, humor nyelip sana-sini, semacam drama tapi bukan drama
Genre: Family
Rating: T
—Quake's Memories—
Halilintar menghampiri salah satu suster yang berada paling dekat dengannya.
"Maaf, sus, ini ribut ada apa ya?" tanyanya sopan.
"EEHH, MAS GANTENG YANG TADI YA?" Seketika, wajah tegang suster tadi langsung berubah drastis setelah melihat Halilintar.
"KYAAA! ADA MAS GANTENG! NGAPAIN DI SINI, MAS?"
Halilintar hanya bisa tersenyum gugup.
Waduh, salah langkah nih.
"Itu mah, Halilintar! Salah satu dari Boboiboy Elemental! Masa gak tau?" celetuk salah satu suster di sana.
"JADI MAS GANTENG INI HALILINTAR?"
Halilintar cuma bisa diam melihat suster-suster di hadapannya ini teriak-teriak.
"Tunggu, kenapa Halilintar ada di sini?"
Sebelum Halilintar bisa menjawab, terdengar suara yang familiar memanggilnya.
"Kak Hali!"
Itu Solar yang sedang berlari ke arahnya.
"Itu, kak! Pencurinya bergerak lagi!" ujarnya setelah menghampiri Halilintar.
"Lah, kamu kenapa bisa di sini, Solar? tanya Halilintar bingung.
"Abisnya, kakak gak ngajak-ngajak aku!" Solar cemberut, namun wajahnya kembali normal setelah itu. "Cepetan kak! Nanti pencurinya berhasil kabur!"
"Ya sudah, ayo." Halilintar mengangguk pada suster-suster tadi sebagai sopan santun lalu berlari — biasa — menuju ke arah yang ditunjuk Solar tadi. Solar segera mengikutinya.
Sebelum mereka berlari jauh, Solar menengok ke belakang, menemukan suster-suster tadi masih memandangi mereka berdua yang semakin menjauh. Solar tersenyum menggoda lalu mengedipkan matanya kepada suster-suster itu.
Salahkan Solar jika suster-suster itu terancam terkena serangan jantung.
Dasar Solar. Sempet-sempetnya dia cari kesempatan.
—Quake's Memories—
"You have been slain."
"BEH! MATI LAGI! MUSUH SIALAN!"
"KAAAAKKKKKKKKKKKKK, INI SI KARIN NYURI KILL MULUUUUU!"
"BUNUH AJA!"
"MANA BISA SIIIHHH?!"
Oke, Gempa pusing sekarang.
Di luar berisik, di dalem berisik.
Hadeh.
Pusing pala Gempa, cuk.
Taufan terlihat gregetan dengan 'musuh' yang sedari tadi dikatai.
"WOY! MAIN KEROYOKAN! GAK GUNAA!"
"Your tower has been destroyed."
"ITU KENAPA GAK ADA YANG JAGAIN TOP LANE?!"
Thorn hanya bisa menatap kakaknya yang satu itu dengan pandangan kasihan. "Tabah ya, kak. Mereka emang gitu."
Gempa hanya bisa ngangguk pasrah.
"Ngomong-ngomong itu si Solar gak dibantuin?"
Suasana langsung hening. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Thorn," panggil Taufan. "Itu kamu yang ngomong tadi?"
Thorn menggeleng. "Bukan. Bukannya kakak?"
Taufan menoleh pada Blaze. "Itu kamu yang ngomong?"
Blaze menggeleng. "Enggak."
Taufan menoleh pada Gempa. Gempa langsung menggeleng. "Bukan aku."
Mereka semua sontak menoleh ke sofa sebelah Taufan.
"Apa?"
Taufan, Blaze, dan Thorn langsung memasang muka syok. "HIIIIIIIIIIIIIIII!"
Yang diteriakan malah masang muka datar. "Apaan?"
"KAPAN KAMU BANGUN, HAH?!" Taufan langsung menjauh dari dia.
"Barusan."
Blaze refleks menengok melihat jam. Dia menoleh lagi ke arahnya dengan muka horror. "KAK! INI BUKAN ICEEE!"
Thorn sendiri masih syok.
Ice masih menatap mereka datar. "Ini aku Ice. Si Solar gak disusul?"
Melihat Taufan, Blaze, dan Thorn masih ragu-ragu, dia memutar bola matanya. Saat itulah, dia menyadari Gempa juga ada di sana.
"Oh, hai, kak."
Gempa hanya mengangguk sebagai balasan.
Sedetik kemudian, semuanya normal kembali seakan-akan tadi tidak terjadi apa-apa.
"Eh, sarapanmu ada di kulkas ya," ujar Taufan memberi tau.
Ice mengangguk. "Itu si Solar gimana jadinya?"
Taufan menatap Blaze. "Mau nyusul?"
"MAU!" Blaze langsung pergi secepat kilat meninggalkan mereka semua.
"Lebih baik aku susul," ujar Thorn menyusul Blaze.
Taufan menatap Ice. "Mau nyusul?"
Ice menggeleng. "Males."
Taufan menghela nafas. "Ini si Blaze malah ninggalin game—"
Perkataan Taufan terpotong karena tiba-tiba terdengar letupan bom.
Taufan dan Gempa langsung menoleh ke arah pintu. Ice tetap memasang wajah datar sambil menguap.
Setelah itu, terdengar huru-hara di luar. Beberapa derap langkah kaki terdengar.
"ADA BOM! ADA BOM!" teriak seseorang di luar sana.
Keadaan semakin ribut.
Taufan menelan ludah. "Sepertinya kita harus keluar dari sini."
Taufan menatap Ice. Ice mengangguk, pertanda ia mengerti tatapan kakaknya.
Beberapa detik kemudian, Taufan sudah menggendong Gempa lalu berlari keluar dari kamar bersama Ice.
"APA-APAAN INI?!"
—Quake's Memories—
Halilintar dan Solar tampak berlari kencang mengejar seseorang.
"Kakak gak pake gerakan kilat?"
Halilintar menggeleng. "Nanti kamu ketinggalan, terus kita malah kepisah."
"Ya udah, susun rencana lah."
Beberapa detik mereka diam. Tetap berlari dikelilingi orang-orang panik.
"Oke, Kak Hali kejar dia pake gerakan kilat. Nanti, kakak ulur waktu supaya aku dan yang lain bisa nyusul. Aku cari yang lain ya."
"Yang lain?" tanya Halilintar bingung.
"Lihat kebelakang."
Halilintar langsung menengok. Dia mendapati Blaze dan Thorn berlari di belakang mereka.
"...Sejak kapan mereka berdua di sana?"
"Ya, nyusul lah. Udah lakuin sesuai rencana sementara dulu."
Setelah itu, Halilintar langsung menghilang.
"Dasar."
Solar memelankan kecepatan larinya, membiarkan Blaze dan Thorn menyusulnya.
"Yang lain di mana?" tanya Solar begitu mereka berdua berhasil menyamakan kecepatan larinya.
"Kak Taufan, Kak Gempa, sama Ice masih di kamar," jawab Blaze. Ia mengelap keningnya yang basah oleh keringat.
"Tapi mungkin mereka sudah melarikan diri dari kamarnya," tambah Thorn."
"Kenapa?"
Thorn mengangkat bahu. "Letupan bom."
Solar langsung mengerti. Ia berhenti berlari. "Terus Kak Gempa gimana dong?"
Blaze ikut berhenti meskipun kebablasan sedikit. "Gak tau deh."
Thorn menghela nafas. "Kita harus mencari mereka bertiga."
"Oke." Solar berlari ke arah lain, disusul oleh Blaze dan Thorn.
"Mereka pasti lari ke tempat yang gak banyak orang."
Tiba-tiba, Blaze mendapat ide. "Aku tau mereka dimana!"
"Dimana?"
"Ikut dulu!" ujar Blaze lalu menambah kecepatan larinya. Thorn dan Solar saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya mereka menambah kecepatan larinya juga.
Blaze berlari melawan arus orang-orang yang panik. Dia berbelok di suatu lorong lalu berhenti sebentar. Setelahnya, ia kembali berlari.
Tunggu, tunggu. Ini mau ke mana?
"Ke mana, kak?" tanya Thorn dari belakangnya. Ia dan Solar sama sekali tidak tahu mereka mengarah ke mana.
"Keeee..." Blaze menghentikan larinya sekaligus menjeda perkataannya. Thorn dan Solar langsung terbelalak melihat tujuan mereka.
"Restoran rumah sakit?!"
Blaze memasang pose layaknya pembawa acara game show yang tengah menunjukkan hadiahnya. "Ten ten~!"
Thorn dan Solar menghentikan larinya begitu mereka sampai di samping Blaze. Solar tampak memelototi ketiga makhluk yang mereka temui di sana.
"Kak Taufan sama Kak Ice ngapain di sini?!"
Taufan yang tengah mengambil sebungkus roti dari counter memasang cengiran. "Kan gak ada yang jaga, boleh dong aku ambil makanannya."
Thorn dan Solar sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Pahlawan bumi kok begini amet.
Ice menguap di sela-sela keheningan itu. Ia melirik Gempa yang tengah digendong Taufan di punggung. Mulutnya tampak mengunyah sesuatu.
"Kakak makan apaan?" Pertanyaan itu sontak menarik semua perhatian di sana.
Gempa mengerjap beberapa kali sebelum menjawab. "Roti, dari Kak Taufan."
Solar kembali memelototi Taufan. Taufan hanya cengengesan saja. Tangannya menaruh kembali roti yang sempat akan ia ambil tadi.
"Udah ah, sekarang kita harus nyusul Kak Hali kan?" Solar kembali berbicara setelah menghela nafas kasar.
"Emang Kak Hali di mana?"
Solar terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. "Kalau mau cari Kak Hali, kita harus cari penjahatnya juga," jawabnya. "Soalnya Kak Hali udah nyusul penjahatnya."
"Gimana caranya kita bisa nemuin penjahatnya di tengah gedung RS yang luas ini?"
"Iya," Blaze menyahuti pertanyaan Taufan, "gimana caranya?"
"Heh, tenang, itu mah gampang." Solar membenarkan posisi kacamatanya—yang sebenarnya sudah benar itu. "Kita tinggal ikuti arah yang dijauhi orang-orang alias melawan arus! Di situlah sumber bahayanya!"
Taufan, Blaze, dan Thorn manggut-manggut mendengar penjelasan Solar. Memang sih dari semua kembaran BoBoiBoy, Solar merupakan yang paling pintar. Orang pintar mah beda ya.
"Nah, kalau begitu, tunggu apa lagi?" Solar membalikkan badannya, bersiap untuk berlari menuju keramaian.
Dengan itu, mereka semua berlari menyusul Halilintar dan sang penjahat. Semoga saja mereka tidak terlambat.
Tbc.
Halo! Irinaa update lagi nih. XD
Akhir-akhir ini, mood nulis Irinaa udah balik. Semoga aja Irinaa juga bisa nerusin cerita bersambung yang lainnya ya. X"D
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
