Walaupun aku mengatakan 'benci' tapi sebenarnya dalam hati, aku tidak pernah membencimu, kaulah satu-satunya orang yang aku cintai, sampai akhir hidupku—

—Sasuke-kun


A Naruto Fict

By Mari-chan

True Love

Rate: T

Pairing: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura

Genre: romance and angst

Warning: OOC, AU, typo dan cerita semau Author

Don't like don't read


Chapter 2

"Hhh…" helaan nafas pelan keluar begitu saja dari bibir tipis sang pemilik kamar bernuansa pink.

Iya, dia sudah membulatkan tekad, agar Sasuke tidak mengetahui umurnya yang hanya tersisa dua minggu. Sudah cukup baginya membiarkan keluarganya mengetahui keadaannya, dan dia merasa semakin hari semakin merasa bersalah sudah membuat keluarganya sedih seperti itu. Maka hal terakhir yang tidak ingin ia lihat adalah, raut sedih di wajah Sasuke. Menurutnya, lebih baik melihat Sasuke membencinya daripada melihat tatapan kesedihan yang pemuda Uchiha itu tujukan padanya. Karena melihat pemuda yang sangat ia cintai itu bersedih, sama saja dengan mati.

Dua minggu, iya, selama dua minggu dia akan berusaha sebaik-baiknya membahagiakan keluarga dan orang-orang di sekelilingnya. Kalau dia bisa membuat Sasuke bahagia, dia juga pasti akan melakukannya. Tapi, lagi-lagi, itu tidak akan pernah terjadi, karena sang pangeran es itu sudah membencinya.

"Sakura-chan, ayo makan," terdengar panggilan dari arah luar kamarnya, Sakura yang sudah sangat hafal siapa yang baru saja memanggilnya hanya bisa tersenyum, iya, dia masih punya keluarga. Hm, dengan menghapus air matanya, dia berjalan pelan menuju ruang makan.

.

.

Suasana makan malam kali ini terasa sangat sunyi, senyap dan sangat membuat siapapun tidak nafsu makan. Semua mata tertuju pada sang gadis yang sedang mengambil sup dari mangkok besar di tengah meja makannya, tapi, gerakannya terhenti dan kali ini gilirannya yang memandang keluarganya satu persatu, "Kaasan, Tousan, Sasori-nii, kalian tidak makan?"

"Ah, iya, hehe," jawab Sasori–kakak sepupu dari Sakura yang kebetulan tinggal di kediaman Haruno karena urusan kuliahnya.

Pemuda berambut merah itu segera mengambil nasi beserta lauknya, Sakura hanya bisa tersenyum tipis menatap kakak laki-lakinya ini, hm… padahal, dirinya sangat ingin melihat pemuda yang selalu terlihat awet muda itu jadi sarjana, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. 'gomen, Sasori-nii'

"Setelah makan, minum obat yah, dan langsung istirahat," sejenak, kepala pink milik Sakura menatap ayahnya, dan ia hanya mengangguk sekilas dan kembali konsentrasi dengan acara makannya tanpa melihat wajah orang-orang di sekelilingnya.

Bahkan, Sasori yang notabene kalau belum makan dua piring belum kenyang, tidak menyentuh makanannya sedikitpun.

.

Karena keadaannya yang memang sudah sangat tidak baik, Sakura tidak bisa berangkat ke sekolah, dokter dan keluarganya juga melarangnya. Awalnya gadis kelas dua Konoha High School ini hanya mengikutinya, namun, lama-lama dia merasa bosan setiap hari harus diam di rumah tanpa melakukan apapun.

Bagaimana tidak bosan jika setiap hari yang ia lakukan hanya berbaring, makan, minum obat, check up. Begitu seterusnya. Dan yang paling menyesakkan, gadis cherry ini tidak pernah sekalipun bertemu dengan Sasuke-nya. Yah, pemuda bermarga Uchiha itu sepertinya benar-benar melupakannya. Dalam senyum miris dia tetap memanjatkan do'a tulusnya untuk sang 'mantan' yang masih sangat ia cintai.

Akhirnya, setelah hampir seminggu lamanya menghabiskan waktu di rumah, hari ini, hari Selasa, Sakura memutuskan berangkat sekolah. Sebenarnya, baik ayah, ibu bahkan Sasori melarangnya untuk berangkat sekolah. Namun, apa jawaban gadis berusia lima belas tahun itu?

"Hm, sekali saja. Aku ingin melihat teman-temanku untuk yang terakhir kalinya."

Deg deg!

Sontak, kalimat dari gadis berparas cantik itu mampu membuat semuanya diam. Ya, memang benar, usia gadis itu yang sudah di perkirakan hanya tersisa dua minggu sudah hampir mencapai batasnya. Hari selasa, rabu, kamis dan—ah, sudahlah. Sangat sulit bagi mereka untuk merelakan kenyataan, bahwa gadis yang saat ini sedang memakai sepatunya tersebut akan meninggalkan mereka empat hari lagi. Itu jika sesuai perkiraan Tsunade-sensei, bagaimana kalau meleset?

"Aku berangkat dulu."

"Hati-hati, Sakura-chan."

Sakura berangkat ke sekolah bersama dengan Sasori, karena setelah dia putus dari Sasuke, otomatis, dia tidak akan berangkat bersamanya, 'kan?

"Saku-chan, kalau ada apa-apa, cepat telepon aku, aku akan menjemputmu," ucap pemuda tampan itu sesaat setelah sang adik turun dari motornya. Sakura hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Sasori-nii juga terlalu khawatir. Batinnya.

Dengan berat hati, pemuda bermarga Akasuna itu meninggalkan gerbang Konoha High School dan menuju kampusnya yang jaraknya terbilang jauh dari sekolah Sakura.

.

.

Keadaan Sakura di sekolah tidaklah semakin baik, setiap menit dia selalu merasakan perut bagian bawahnya mendadak sakit, kadang dia juga terbatuk pelan, sampai batuk yang mengeluarkan darah. Hei, Nona, kau baik-baik saja?

"Forehead… lama sekali kau tidak berangkat. Aku kangen!" teriakan super cempreng dari gadis cantik bermata aquamarine yang merupakan sahabatnya itu memaksa Sakura mengeluarkan senyum tipis, walau itu tidak sampai ke matanya.

"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat? Kau tidak minum obat dengan teratur, eh? Lihat ini, kau jadi makin pucat, Forehead?" lanjut gadis bernama Ino itu lagi. Lagi-lagi Sakura hanya tersenyum tipis, karena jujur saja, dia sangat kesulitan untuk bicara, dia takut, kalau dia membuka mulutnya, yang akan keluar hanyalah rintihan kesakitan. Karena, dia tidak mau Ino sedih melihat kondisinya.

"Aku ba-baik k-kok, Pig," ujarnya sangat pelan. Mendengar hal itu, sang gadis berambut pirang pucat hanya bisa tersenyum simpul meski tidak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa curiga yang menggelayutinya tentang sifat sahabatnya itu.

Percakapan mereka terhenti saat bel masuk berbunyi. Sakura merasa sangat beruntung, karena dirinya tidak perlu berbohong lagi kalau ada temannya yang bertanya. Terselamatkan oleh bel.

.

.

Saat istirahat, seperti biasa, anak-anak dari kelas Sakura ini tidak pernah absen ke kantin. Walaupun kelas ini adalah kelas unggulan, namun jangan salah, hampir semua penghuninya adalah maniak jajan.

"Ayo makan, Forehead, aku lapar," ajak Ino saat ia memperhatikan sahabat pink-nya itu yang hanya diam di bangkunya. Namun, hanya gelengan kepala yang didapat oleh Ino. Tanpa berniat memaksa lagi karena—mungkin saja—sang sahabat memang tidak nafsu makan, akhirnya, gadis berkuncir itu meninggalkan Sakura dan berjalan keluar kelas bersama gadis bercepol dua—Tenten.

Setelah kepergian Ino dan Tenten dari kelas, Sakura kembali membuka tasnya, gadis manis berambut panjang sepunggung itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam tas hitamnya, "Ah, ketemu," ucapnya dengan nada ceria setelah menemukan benda yang ia cari.

Ternyata itu adalah sebuah tisu, dirinya memang sangat membutuhkannya saat ini, bagaimana kalau nanti tiba-tiba saja dia batuk dan mengeluarkan darah? Senyum pahit kembali singgah di bibirnya. Sepertinya, dia tidak akan pernah bisa tersenyum dengan manis mulai sekarang ini.

.

"Sasuke, Kita minta tolong anak kelas 2 saja, mereka kan pintar-pintar, pasti mereka mau membantu kita," seorang pemuda dengan buku di tangannya itu memulai pembicaraan dengan dua orang temannya tentang acara yang akan mereka adakan beberapa minggu lagi di sekolah.

"Jadi, kau mengaku kalau kau bodoh, Naruto," ucap sang sahabat berambut eboni—Sai.

"Bukan itu, Sai bodoh," balas Naruto telak namun hanya dibalas senyuman menyebalkan khas pemuda pucat.

"Hn."

Mendengar gumaman khas itu, baik Naruto maupun Sai segera menoleh, dan mereka mendapati sang ketua OSIS sudah berjalan meninggalkan bangku, dan menuju luar kelas.

"Oy, Teme! Tunggu!"

.

"Nah, itu lorongnya, tapi, pas istirahat begini, apa mereka di kelas, yah?" lanjut pemuda rubah itu lagi.

"Kita lihat saja, Naruto, kau ini berisik," jawab Sasuke singkat, padat dan jelas.

Dan itu membuat sahabat pirangnya hanya meringis, sudah terbiasa menghadapi sifat salah satu sahabatnya ini. Cuek, dingin dan sangat pelit bicara. Sementara seorang lagi hanya bisa mengeluarkan senyumnya seperti biasa saat mendengar interaksi kedua sahabatnya.

Mereka bertiga pun berjalan melewati koridor anak kelas dua, tentu saja koridor ini sangat di hafal oleh Sasuke, bagaimana tidak? Hampir setiap hari (dulu) dia selalu melewati koridor ini untuk sekedar menemui sang gadis tercinta. Pemuda tampan itu hanya bisa menghela nafas pelan saat mengingat masa lalunya.

KELAS 2-1

Tepat di depan kelas bertuliskan 2-1 itu, Sasuke sontak berhenti, entah mengapa, seperti ada yang menyuruhnya untuk berhenti sejenak. Kelas ini adalah kelas dari gadis itu, yah, sang gadis dengan senyum paling manis yang pernah ia lihat, gadis yang paling menarik perhatiannya. Gadis yang sebenarnya masih sangat ia cintai, namun apa daya, keadaan mengharuskannya untuk melupakannya, walaupun itu sangatlah sulit. Seolah-olah, otak dan pikirannya adalah rumah bagi gadis itu dan dia selalu kembali ke sana walaupun sang Uchiha bungsu selalu mencoba mengusirnya, ck, menyebalkan.

"Uhuk-uhuk!"

Sasuke tersentak dan langsung menajamkan pendengarannya, dia tidak salah dengar 'kan? Suara batuk tadi? Tidak mungkin.

"Eh? Sasuke? Dia 'kan, Sakura-chan, sedang apa dia—" Sasuke sepenuhnya mengabaikan ucapan sahabatnya yang gila ramen itu, fokusnya saat ini adalah suara batuk itu, iya, tidak salah lagi.

Dengan segala keberanian dan juga setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, pemuda bermata tajam itu menengok dalam kelas lewat jendela di sampingnya.

"Uhuk-uhuk!"

Deg deg!

Mata onyx milik Uchiha Sasuke melebar sempurna saat menemukannya, yah, gadisnya, atau bisa di bilang 'mantan' gadisnya yang sedang menutup mulutnya menggunakan tisu atau apalah itu, kemudian matanya menyipit untuk melihat apa yang sang gadis sembunyikan. Namun nihil, dia tidak menemukan apapun.

Helaan nafas panjang terdengar dari pemuda berwajah stoic tersebut, "Ayo jalan," ucapnya datar.

Total ada empat bola mata yang membulat saat mendengar kalimat yang terkesan tidak peduli itu meluncur begitu saja dari sahabat mereka. karena setahu mereka, Sasuke—sang pangeran es— yang notabene pemuda cool dan cuek itu selalu overprotektif pada gadis yang sedang terbatuk itu.

"Oy, Teme. Yang benar saja, sepertinya Sakura-chan sakit," ucap Naruto kembali, seakan ingin mengembalikan temannya seperti the real Sasuke yang mereka kenal.

"Sejak kapan kau jadi super cuek seperti ini, Teme. Baiklah, aku ralat, dari dulu kau itu cuek, tapi ini, hei… dia Sakura-chan, gadis yang selama ini selalu kau lindungi dan arrgh—ada apa denganmu, Uchiha," lanjut pemuda dengan tiga kumis di kedua pipinya itu, kali ini ia menjambak rambutnya frustasi karena sifat aneh sahabatnya.

"Bukan urusanku 'kan kalau dia sakit, dia sudah terbiasa batuk," lagi, jawaban yang terkesan tidak peduli itu kembali meluncur sempurna dari bibir si jenius Uchiha. Kedua sahabatnya hanya bisa memandangnya dengan tatapan apa-yang-terjadi-pada-anak-ini?

Tepat saat ketiga pemuda pengurus OSIS itu melangkahkan kaki mereka, tanpa diduga sebelumnya, Sakura juga berlari keluar kelas. Dan seketika—

Brugh!

"Au!" Sakura meringis kesakitan, antara kaki dan perut—ulu hatinya, entahlah yang mana yang lebih sakit, yang jelas, sakitlah yang ia rasakan. "Sakit," rintihnya pelan, bahkan diapun belum menyadari kenapa dia terjatuh tadi.

Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya dia menyadarinya, aku menabrak seseorang, gawat. Batin sang gadis bermata emerald.

.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto pelan, karena jujur, pemuda tampan berambut pirang jigrak itu sedikit merasa tidak enak, karena gadis cantik ini jatuh karena mereka, walau tersangka utamanya bukan dia sih.

Di lain pihak, Sakura tersentak mendengar suara itu, suara seorang pemuda dan tidak asing, apa itu temannya? Dengan sedikit rasa takut, dia mendongakkan kepalanya. Dan matanya sukses terbuka lebih lebar saat melihat siapa yang dia tabrak. 'Sa-Sasuke-kun' batinnya.

"Kenapa kau lari, Sakura?" kali ini Sai yang bertanya, dan mata onyx-nya sempat menangkap warna merah dalam genggaman sang gadis. Itu tisu? Tapi, kenapa merah sekali?

"A-aku, ba-baik-baik sa-saja, er—anoo, gomenne Sasuke-kun," ucapnya dengan nada pelan dan terbata, sangat kelihatan kalau gadis yang sangat menyukai stroberi ini sangat gugup sekarang.

Mata hitam milik Sai semakin menyipit saat melihat noda mirip darah yang sudah kering di sudut bibir gadis bernama Sakura itu.

"Hn, ayo pergi, Dobe, Sai, aku ada urusan dengan Hinata," kata Sasuke dengan nada angkuh khas Uchihanya, tentu saja setelah dia bangkit dari posisi jatuhnya tadi.

"Hinata? Kau jadian dengan Hinata? Cieee… kenapa kau tidak memberitahuku, wah, traktir dong, Teme, hmhmhm…" sahut si berisik Naruto. Kenapa anak ini malah sangat semangat? Seolah dia melupakan tujuan utamanya tadi. Mengembalikan Sasuke ke jalan yang benar (menurutnya).

Dan, ketiga pemuda keren itupun meninggalkan kelas 2-1.

Dan bahkan, mereka tidak menyadari perubahan wajah Sakura yang saat ini sudah mengeluarkan air mata. 'Sasuke-kun, jadian dengan Hinata-san?' senyum pahit pun terukir di bibir tipis gadis pecinta kucing tersebut, hatinya sakit tapi entah kenapa ada perasaan lega yang menjalar, karena Sasuke, pemuda yang sangat ia cintai itu sudah menemukan gadis lain, dan yang dia tahu, Hinata adalah gadis yang baik. Hm, Sasuke-kun, semoga kau bahagia.

.

"Uhuk-uhuk!"

Sasori, hanya bisa bisa mendengarkan suara batuk adik sepupunya yang sangat ia sayangi itu, hatinya sakit mengetahui bahwa satu-satunya saudara perempuan yang sedang terbatuk di kamarnya itu akan segera pergi dari kehidupan semua orang, termasuk dirinya 'arrrgggghhh… kuso!'

"Uhuk-uhuk!"

lagi, suara itu terdengar lebih keras dan selanjutnya terdengar langkah kaki menuju kamar mandi. Pasti gadis itu lagi-lagi memuntahkan sesuatu, darah. Ya, itu pasti darah.

"Uhuk-uhuk—hoeek!"

"SAKURA!" teriak pemuda baby face itu saat mendengar suara batuk disertai suara muntah dari sang imouto. Dan seketika wajahnya menjadi pucat sepucat-pucatnya saat melihat muntahan yang ada di wastafel. Semuanya darah.

"Sakura-chan," katanya dengan nada pasrah. Sakura menyiram darah yang ada di wastafel dan mengelap bibirnya dengan tisu, kemudian ia berbalik ke arah pemuda bermata hazel yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, senyum tipis menguar dari gadis berambut bubblegum, "hm, sudah tidak apa-apa, jangan berwajah suram begitu, Sasori-nii."

Dunia pemuda bernama Sasori itu seakan berhenti berputar, bagaimana mungkin gadis di depannya ini masih bisa tersenyum saat dia baru saja mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Aku mau jalan-jalan, lumayan buat penghilang stres, Sasori-nii mau ikut?"

Pemuda berusia duapuluh tahun itu mengangguk pelan, saat ini, yang ia inginkan hanyalah selalu dekat dengan sepupu tercintanya. Dia tidak akan mau kehilangan sedetikpun waktu berharga yang ia miliki bersama Sakura.

.

Dua remaja berbeda gender itu berjalan pelan. Sang gadis yang terlihar lebih kecil berjalan lebih cepat dari pemuda di belakangnya. Bibirnya melengkung walaupun hanya sebuah senyum tipis yang terlihat. Sementara, pemuda di belakanganya hanya memandang punggung kecil sang gadis yang terlihat sangat rapuh.

"Tumben Saso-nii mau jalan-jalan, biasanya kau lebih memilih di depan laptop," terdengar kekehan kecil setelah Sakura meyelesaikan kalimatnya, bermaksud mengejek sang sepupu, namun, sang calon korban ledekannya tetap bergeming dan berucap dalam hati 'melihatmu lebih penting dari apapun, Saku'

"Wah, pacarmu manis juga, ternyata kau pintar memilih gadis, ne Otouto."

"Berisik, Baka aniki."

Uchiha Itachi hanya bisa terkekeh geli melihat reaksi datar dari adik tercinta saat ia menggodanya denga gadis berambut indigo panjang yang saat ini duduk di ruang tamu rumahnya. Padahal, gadis manis di depannya ini sudah merona tidak karuan, tapi, ekspresi Sasuke sendiri sangat datar. Ck, baka otouto.

"Anoo, Itachi-san, saya bukan pacarnya Sasuke-kun," ucap gadis bermata perak itu, kepalanya menunduk dan ia memainkan kedua tangannya di atas lutut. Gugup, eh?

"Hahaha, tapi, tidak biasanya Sasu-chan mengajak teman gadisnya pulang, kau pasti sangat spesial," ucap sang sulung lagi.

Blush!

"Baka aniki, diamlah, tugas kami banyak, keluar dari sini."

Itachi hanya bisa menatap sebal adiknya yang seenak jidat mengusirnya dari rumahnya sendiri, dasar. Namun, saat mata onyx-nya menatap luar rumah, senyum tulus kembali hadir di bibirnya saat melihat pemandangan indah di luar rumahnya. Dengan segera, sang calon direktur Uchiha Corp itupun meninggalkan ruang tamu dan berlari keluar dari istana tercinta.

"Sakura-chan!"

Orang yang dipanggil pun mengedarkan pandangannya, mencari asal suara yang baru saja memanggilnya, dan di sanalah dia, seorang pemuda tampan berambut hitam panjang, dengan kaos rumahan berwarna hitam sedang berjalan keluar rumah tak lupa dengan senyum menawannya seperti biasa.

"Itachi-nii?" Cengiran lebar terpeta di wajah tampan milik sang sulung Uchiha.

"Loh, Sasori? Ah, kebetulan, ayo main bola, lama aku tidak bermain denganmu, Sakura-chan jadi wasit—"

"—Sakura penonton saja," ucap Sasori memotong kalimat dari teman kuliahnya itu.

"Ya sudah, ayo," ajak Itachi lagi.

"Kalian ini, padahal sudah dewasa, tapi masih bertingkah seperti anak-anak," kata Sakura pelan diselingi tawanya, walau begitu, tetap saja ia megikuti kedua kakak laki-lakinya itu menuju lapangan bola yang berada tak jauh dari rumah mereka.

.

.

Suara tawa dan tendangan itu mulai mengusik Sasuke yang sedang benar-benar konsentrasi mengerjakan tugasnya, "ck, berisik."

"Hm, mereka seperti anak-anak yah?" ucap Hinata sambil tersenyum manis. Sementara Sasuke hanya mendengus pelan, 'Itachi-nii dan Sasori, siapa yang anak-anak?' batinnya.

Sebenarnya, bukan masalah kalau Itachi bermain bola dengan Sasori—Sasuke tahu dari suaranya—yang jadi masalah adalah gadis yang bersama mereka, ya, Sakura, entah kenapa, tadi, dia sempat melihatnya berjalan melewati depan rumahnya.

Ck, kenapa gadis itu selalu menganggu pikirannya, tidak bisakah dia membiarkan aku konsentrasi pada pelajaran tanpa memikirkannya, tidak bisakah dia menghilang dari pandanganku sedetik saja? Pikirnya.

Heh, tuan, hati-hati dengan pikiranmu.

"Sakura-chan, bisa minta tolong ambilkan bolanya," Sakura mengangguk pelan seraya berjalan menuju bola yang menggelinding tak jauh dari tempatnya duduk, langkahnya sempat tidak stabil dan tentu saja itu membuat sang kakak luar biasa panik. Namun, dia segera menguasai dirinya saat melihat sang gadis musim semi membawa bola sepak itu sambil tersenyum.

Senyum miris lagi-lagi singgah di bibir tipis pemuda bernama Sasori itu, pasti, adik sepupunya itu sangat ingin menjalani hari-hari seperti biasa, seperti dulu, tanpa ada yang terlalu mengkhawatirkannya, seperti halnya dirinya sekarang ini, 'gomen, Sakura-chan.' Sasori pun menangis dalam diam.

"Arigatou," ucapan Itachi itu cukup untuk membuat Sakura tersenyum sangat bahagia. Tanpa sadar, dia meneteskan air mata.

Itachi yang melihatnya tentu saja langsung merasa bersalah, "Saku-chan, kenapa menang—"

"—Hm, Itachi-nii, berjuanglah."

Deg deg!

Ada dua orang yang tiba-tiba terkena serangan jantung saat mendengar nada bicara gadis bermata hijau barusan, tentu saja, pemuda bermarga Uchiha adalah tersangka utama, "kena—"

"—hm, aku yakin, Itachi-nii pasti jadi orang sukses nantinya, hehe… kalau sudah sukses, jangan lupakan Saku, yah? Ok!" Sakura lagi-lagi memotong ucapan Itachi yang tentu saja membuat sang pemuda bermata onyx itu terdiam. Mana mungkin aku melupakanmu, Saku? Kau sudah seperti adik kandungku sendiri.

Tapi, tanpa perlu memikirkan lagi, sang sulung Uchiha hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dari pernyataan Sakura barusan. Dan dia bahkan tidak menyadari, lawan main bolanya sudah kehilangan pertahanan air matanya.

.

"Aku sudah selesai, bagaimana denganmu, Sasuke-kun?" Sasuke hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Diapun bangkit dari kursinya dan mulai berjalan keluar rumah. Matanya menangkap siluet tiga orang di lapangan yang tak jauh dari rumahnya, dua orang laki-laki sedang bermain bola dengan riang, sedangkan seorang lagi, seorang gadis yang sangat ia—ah, sudahlah. Gadis itu nampak tersenyum, tapi, terdapat kepahitan dalam senyum tersebut. Masa bodoh. Begitulah pikir Sasuke.

"Sakura!"

"!"

Sakura yang sedang konsentrasi menonton aksi Sasori di lapangan mendadak tersentak karena panggilan itu, diapun mengedarkan pandangannya, dan tak perlu waktu lama untuk menemukannya, seorang gadis cantik berambut indigo sepunggung dengan kaos putih dan rok berwarna biru muda sedang berjalan ke arahnya.

Gadis bermarga Haruno tidak bisa menahan senyumnya saat melihat sang gadis yang ia ketahui bernama Hyuuga Hinata itu memposisikan dirinya untuk duduk di sampingnya, "Hinata-san? Sedang ada urusan yah?" tanyanya lembut. Karena jujur saja, gadis cantik bersurai pink ini bahkan tidak menyadari keberadaan Hinata bersama Sasuke di dalam rumah Sasuke saat dia dan Sasori melewati depan rumahnya(Uchiha). Ada yang salah dengannya.

Hinata hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Kali ini pandangan mata sewarna dedaunan milik Sakura tertuju pada sosok pemuda yang baru saja keluar dari rumahnya, pemuda itu memakai kaos putih dan celana pendek hitam. Sakura terkekeh pelan melihat penampilan sang pemuda yang terkesan cuek, padahal gadis ini cantik sekali, tapi pemuda itu—sudahlah. Terlepas dari sang pemuda yang kelihatan sangat cuek dengan penampilan itu, dia tetap saja mempesona. Yah, sangat mempesona.

"Hari minggu besok, bagaimana kalau kita jalan-jalan, Hinata."

Deg deg!

Jantung Sakura hampir saja melompat saat mendengar suara itu, yah, suara itu suara 'Sasuke' nya. Namun, apa tadi yang ia dengar? Dia mengajak gadis lain. Oh iya, diakan bukan siapa-siapaku lagi, batin Sakura.

"Hah!" itulah respon yang diberikan oleh Hinata. Gadis cantik itu merasa, ada yang aneh dengan temannya ini. Dia ini 'kan terkenal dengan segala ke-cuek-annya, ke-cool-annya. Dan yang paling terkenal dari Sasuke ini adalah, sifatnya yang sangat cuek terhadap perempuan. Eh, padahal dia perempuan, jadi, ada masalahkah dengan temannya ini?

"Kau tidak dengar? Apa perlu ku ulangi?" gadis pewaris tahta Hyuuga itu segera menggeleng saat mendengar nada bicara pemuda yang bahkan belum memposisikan duduknya, pemuda tersebut masih berdiri di belakang dua gadis cantik tersebut.

"Tapi, Sasuke-kun, hari senin 'kan, kita ada tes?" ucap gadis beriris perak itu pelan, takut menyinggung pemuda tampan di belakangnya.

Sang Uchiha bungsu hanya mendengus pelan, "aku bosan di rumah terus, hitung-hitung penghilang stres," jawabnya dengan nada datar khas dirinya.

Dua remaja itu seakan larut dalam dunia mereka, dan tidak menghiraukan seorang lagi yang saat ini sedang menunduk, berusaha menulikan telinganya barang sedetik, hanya untuk menenangkan detak jantungnya.

Itachi dan Sasori yang menyaksikan drama di samping lapangan itu sejenak menghentikan permainan mereka. pemuda berambut merah—Sasori, mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosinya untuk tidak memukul pemuda yang ia yakini masih sangat dicintai oleh adik sepupunya itu. Hhh… diapun menghela nafas dengan kasar.

"Aku antar kau pulang, tunggu di sini," kata Sasuke pada kedua gadis tersebut, atau hanya pada salah satunya, karena sangat kelihatan bahwa dia tidak menganggap ada dua gadis di sana.

Sakura mengangkat wajahnya hanya untuk memandang punggung tegap Sasuke yang melangkah menuju rumahnya.

Tes!

Satu tetes air mata berhasil lolos dari kristal emerald yang telah redup tersebut, Sakura buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan. Berharap tidak ada siapapun yang menyadari bahwa dia menangis.

"Hinata-san," Sakura memanggil dengan suara yang amat sangat pelan. Namun, tetap, gadis yang dipanggil mendengarnya dan menolehkan kepalanya menghadap si pemanggil, "Ada apa, Sakura?" jawabnya dengan senyum manis.

Sakura juga ikut tersenyum sebelum menjawab dengan suara pelan, nyaris berbisik "tolong, jaga Sasuke-kun."

TBC


Err—gak banyak komen deh tentang chapter ini #dueng

Habisnya, mood juga lagi gak begitu bagus, apalagi sakit mendera juga, untungnya bisa selesai juga chap keduanya. Ya-ha!

jadi, apakah feelnya dapet -_- / gomen kalau feelnya gak dapet! *bungkuk-bungkuk*

yosh, oh iya, ini sedikit balasan review buat yang gak log-in, yang login, lewat pm aja yah. Hehe~

kimkim: makasih kim.. udah nyempatin review. Mudah-mudahan chap kedua lebih kerasa angstnya yah *ngarep*

Ryouta Shiroi: yosh, arigatou!

YE: ini udah update!

Azizah primadani: ini udah update yak…

Yosh, arigatou buat semua yang udah ripiu chap pertama? *peluk satu-satu*

Akhir kata

Review please~