Walaupun aku mengatakan 'benci' tapi sebenarnya dalam hati, aku tidak pernah membencimu, kaulah satu-satunya orang yang aku cintai, sampai akhir hidupku—

—Sasuke-kun.


A Naruto Fict

By Mari-chan

True Love

Rate: T

Pairing: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura

Genre: romance and angst

Warning: OOC, AU, typo dan cerita semau Author


Chapter 3

"Tolong, jaga Sasuke-kun."

Mata perak milik Hinata melebar saat mendengar nada bicara gadis di sampingnya, setahunya, Sakura itu gadis yang sangat ceria, tapi, apa itu tadi? Nada bicaranya terdengar aneh, seperti orang yang telah kehilangan semangat, "Kau ini bicara ap—"

"—Kalau bersamamu, Sasuke-kun pasti bahagia, aku tidak bisa terus bersamanya. Hm, karena aku akan segera pergi—"

"—Kau ini bicara apa!" tanpa sadar, gadis anggun itu membentak Sakura. Karena menurutnya, cara bicara gadis bermata hijau itu kelewatan, dan itu membuatnya tidak nyaman. Sungguh.

Melihat reaksi gadis berambut soft pink yang sepertinya kaget, Hinata pun buru-buru minta maaf, sebelum gadis manis berambut panjang itu salah paham, "Sakura, maafkan a—"

"—Hm, Hinata-san tidak salah, maaf sudah mengatakan hal aneh, aku hanya minta tolong, jaga Sasuke-kun. Cuma itu saja, hehehe… gomen kalau Hinata-san merasa takut," potong Sakura dengan nada tegas namun lembut.

Sesaat hanya keheningan yang menyelimuti kedua gadis cantik itu. baik Hinata maupun Sakura kembali sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

.

.

Tak butuh waktu lama, Sasuke sudah muncul dengan mobil mewahnya, bersiap mengantarkan Hinata pulang, "Ayo, Hinata," ajaknya.

Hinata hanya mengangguk dan sempat berpamitan dengan Sakura yang dijawab dengan anggukan gadis manis itu.

.

"Sasuke-kun," Hinata membuka pembicaraan dengan pemuda cool yang saat ini berada di sampingnya, yang hanya dijawab oleh gumaman lirih sang pemuda.

"Sakura kelihatan aneh, wajahnya juga pucat, kau tahu dia kenapa? Tadi, dia juga mengatakan hal an—"

Sasuke sepenuhnya tidak menghiraukan ucapan gadis yang duduk di sampingnya, pikirannya sekarang tertuju pada gadis itu. Gadis yang seminggu lebih ini tidak pernah ia temui. Namun sekalinya bertemu, wajah gadis itu kelihatan pucat dan tak bersemangat, tatapan matanya tak secerah biasanya. Bahkan, si bungsu Uchiha berani bersumpah, saat gadis itu memutuskannya pun, dia masih melihat cahaya dalam bola mata emerald nya. Tapi, tadi itu apa?

"—Gitu, Sasuke-kun. Sasuke-kun, Kau mendengarku?"

"Hn, maaf, aku tidak mendengarmu, kau bilang apa?" ucap Sasuke sesaat setelah cukup lama melamun tadi.

"Ah, tidak, tidak ada apa-apa," Hinata pun menunduk sedih, 'pasti Sasuke-kun juga memikirkan Sakura' ucapnya dalam hati.

.

.

Ruangan bercat krem itu terlihat biasa saja, walaupun semua orang berkumpul di sana, namun, tidak terlihat adanya candaan dan tawa dari penghuninya. Mereka semua terdiam, dengan backsound suara televisi.

Senyum tipis menguar dari bibir tipis Sakura yang saat ini sedang duduk di sofa berwarna coklat di samping Sasori yang seperti biasa sedang bermain dengan laptop-nya.

"Uhuk-uhuk!"

Gadis itu kembali batuk, dan seketika, pandangan semua mata tertuju pada gadis yang saat ini memakai piyama coklat muda itu. Sang gadis berambut panjang terlihat sedang menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya.

Sasori yang tepat berada di sampingnya dapat melihat dengan jelas, bagaimana tubuh adiknya bergetar walaupun cuma sedikit.

"Sakura-chan, kita ke rumah sakit, yah? Kondisimu semakin parah," sang ibu mulai membujuk Sakura dengan nada lembut. Namun, lagi dan lagi, gadis cantik itu menggeleng, dia masih bisa tersenyum menatap sang ibu tercinta yang terlihat sangat khawatir.

"Aku ingin tidur di sini, sekali saja Kaasan, tidak apa-apa 'kan?"

Mendengar hal itu, semua orang mendadak bungkam tanpa tahu harus bagaimana lagi harus membujuk sang gadis yang memang sangat keras kepala itu. Dan, tentu saja sang ibu rumah tangga adalah orang pertama yang kehilangan pertahannya, di susul oleh sang ayah, dan hanya berselang beberapa detik, Sasori pun meneteskan air mata berharganya.

"Aku tidur dulu, ngantuk," ucapan Sakura memecah keheningan. Lagi-lagi semua mata tertuju pada gadis musim semi itu, dan mereka serempak mengangguk yang tentu saja langsung disambut senyum dari Sakura, "Oh iya," kata Sakura lagi, membuat semua orang kembali memandangnya "Kalau aku besok tidak bangun—"

Deg deg!

Ucapan gadis yang memiliki nama seperti bunga kebanggaan negara Jepang itu benar-benar ampuh membuat jantung semua orang berdetak ratusan kali lebih cepat dari biasanya, "—Tolong jangan menangis," Lanjutnya seraya berjalan menuju kamarnya.

Semuanya kembali diam, seolah mereka benar-benar sadar, bahwa sosok gadis itu akan segera meninggalkan mereka tak lama lagi.

Gadis itu sudah menghilang dari ruang keluarga, meninggalkan semua orang yang masih duduk di sana. Mereka membiarkan televisi menyala, walaupun hati mereka mati untuk sejenak.

.

.

Sakura mendudukkan tubuhnya di kasur sedang bersprei Angry Bird miliknya. Kasurnya yang nyaman, sebentar lagi akan ia tinggalkan. Ia pun melirik lemari berisi barisan manga-manga nya yang rapih. Senyum pahit kembali menghampirinya saat menatap barisan manga yang masih bersambung, 'apakah aku memang tidak diijinkan melihat ending manga-manga itu? Kami-sama, kenapa seperti ini, hiks' isakan pelan mulai terdengar mengalun dari kamar bernuansa pink tersebut.

Dengan masih mengisak, gadis berusia lima belas tahun itupun merebahkan tubuhnya pada kasur empuknya, sampai dia teringat sesuatu, "Sasuke-kun."

Gadis cantik itu kembali duduk di kasurnya dan mulai melangkah menuju meja belajar. Kemudian, ia mengambil sebuah buku khusus untuk menulis surat, diapun segera mengisi kertas kosong itu dengan coretan tangannya. Disebut coretan, karena tulisan itu memang sangat tidak terlihat seperti tulisan, itu memang coretan, entah yang ia tulis itu bisa terbaca atau tidak?

Setelah selesai, dia memasukkan kertas itu ke dalam sebuah amplop berwarna pink bergambar bunga sakura. Dan kembali, gadis bermarga Haruno itu berjalan keluar kamarnya menuju ruang keluarga.

.

.

Lagi, lagi dan lagi, semua orang memandang kedatangan sang Haruno muda, terlihat gadis itu tersenyum sangat tipis dan berjalan ke arah sepupu berambut merahnya. Kemudian duduk di sampingnya.

"Saku-chan, ada ap—"

"—Berikan ini pada Sasuke-kun, kalau aku sudah pergi."

Dan, tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu kembali melangkahkan kaki-kaki jenjangnya menuju kamarnya. Pemuda baby face terdiam. Masih sangat shock dengan ucapan sang adik. Perlahan, dia memandang amplop pink di tangannya, dan dia menghela nafas pelan. Seketika, laptop di depannya pun sudah tidak menarik lagi baginya.

.

"Sakura," pemuda bermarga Uchiha itu lagi-lagi menggumamkan nama yang sama. Entahlah, malam ini, ia mengakui bahwa dia sangat merindukan gadisnya. Yang setiap malam selalu bersamanya. Walaupun hanya pertengkaran yang terjadi, tapi itu cukup bagi Sasuke, asalkan gadis itu ada bersamanya. Tapi, sekarang apa?

"Haahh…" kembali, sang pemuda menghela nafas panjang. Sejujurnya, dia merasa sangat bersalah, karena tadi sore secara tak sengaja atau sengaja dia telah melukai perasaan gadis pecinta makanan manis itu dengan mengajak kencan gadis lain, di depannya.

"Menyebalkan," ucapan sejenis pun kembali menguasai pikiran pemuda tampan itu. "Saki, gomennasai," ucapnya lagi dengan suara serak. Apakah dia menangis?

"Bodohnya aku," yah, kau memang bodoh, Tuan. Bukankah dulu, kau tidak percaya begitu saja, tapi, kenapa sekarang seakan kau melupakannya, dia gadis yang sangat-sangat kau cintai.

Kriet!

Sasuke membuka jendela kamarnya yang berada tepat di samping tempat tidur dan berjalan menuju balkonnya yang luas. Dari sini, dia bisa melihat langsung rumah gadis itu. Berwarna coklat terang, sangat berbanding lurus dengan sifat pemiliknya. Hm, dan dia juga melihat ayunan berwarna putih di depan rumah itu.

Aaah, ayunan itu. Begitu banyak kenangan manis yang sudah tercipta dari ayunan itu. Bertengkar, suap-suapan, bahkan hampir first kiss. Wajah stoic milik Sasuke seketika berubah menjadi merah saat mengingatnya. Betapa gadis itu sangat membawa pengaruh besar terhadapnya.

"Sakura, aku sangat merindukanmu," dan, setitik air mata itu berhasil lolos dari bola mata hitam milik Sasuke. "Asal kau tahu, Saku, aku masih sangat mencintaimu."

.

.

"Sasuke-kun."

"Sakura? Kau kah itu?" Sasuke berucap pelan, tidak menyangka bahwa gadis itu mendatanginya.

Sakura mengangguk namun dia tidak berjalan menuju sang pemuda. Membuat sang pemuda mengernyit heran, "Saku—"

"—berhenti, Sasuke-kun," kata Sakura dengan nada tegas.

Deg deg!

Mendengar nada yang terkesan asing itu, sedikit membuat Uchiha bungsu tersebut tersentak "Kena—"

"Sasuke-kun, maafkan aku, hiks," mata onyx milik Sasuke melebar saat melihat gadisnya menangis, diapun berinisiatif mendekatinya, ingin sekali dia memeluk gadis itu. namun—

Sret!

—Gagal. Dia bahkan tidak bisa menyentuhnya,"Saku—"

"—Hm," Senyum tipis mulai mengembang dari bibir Sakura, "Sasuke-kun. Aku tahu aku salah, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku, aku, aku ingin kau bahagia, Sasuke-kun."

Tes!

Pemuda tampan itu menangis. Iya, hanya dengan mendengar suara gadis itu. Apakah ini artinya, mereka akan benar-benar berpisah. Tidak. Ini tidak boleh.

"Sakura, dengarkan aku! Kau tahu 'kan, aku sangat mencintaimu. Kenapa kau berkata begitu, hah!" suara pemuda berusia enam belas tahun itu meninggi dengan nada aneh, seperti orang menangis. Yah, dia memang menangis.

"Sasuke-kun, tidak. Tidak boleh. Kau harus melupakan aku, aku mohon. Kau harus bahagia. Aku tidak mau Sasuke-kun sedih, apalagi karena aku. Sasuke-kun, aku mohon."

"Tidak!"

Grep!

Dan berhasil. Pemuda berambut raven itu benar-benar bisa memeluk gadisnya. Pelukan yang sangat erat, dia sangat merindukan gadis musim semi yang sudah mengambil hatinya terlalu banyak itu.

"Sakura, jangan tinggalkan aku," ucap Sasuke pelan seraya mengeratkan pelukannya pada gadis cherry itu.

"Sasuke-kun."

"Aku akan melakukan apapun asal kau di sisiku, Sakura. Aku mohon."

Pemuda jenius itu berani bersumpah, kalau gadis dalam dekapannya ini menggeleng, ada apa ini? "Saku?"

"Sasuke-kun, aku—"

Cup!

Dan, tanpa aba-aba, Sasuke membungkam bibir gadis manis itu, untuk mencegahnya mengatakan hal aneh lainnya. "Sakura," suaranya bahkan terdengar semakin aneh saat ia melepaskan ciumannya.

Kali ini Sakura menatap pemuda emo dengan pandangan yang sangat sulit untuk diartikan.

"Sasuke-kun, maafkan aku, tapi, terima kasih. Terima kasih untuk semuanya. Sasuke-kun adalah orang yang sangat berarti untukku. Hm. Sayonara."

Mata hitam kelam milik Sasuke terbelalak. Gadis dalam pelukannya tiba-tiba memudar dan bahkan, menghilang—

"SAKURA!"

Dan dia baru saja menyadari, bahwa semuanya hanyalah mimpi.

.

.

"Cih, mimpi!" Keringat mengalir deras dari pelipis si bungsu Uchiha, "Hhh… Sakura," dan, Sasuke pun bangkit dari tidurnya kemudian menyeret kakinya untuk berjalan menuju arah dapur.

"Loh, Sasu-chan? Kau sudah bangun?" sang ibu langsung bertanya begitu melihat anak bungsunya berjalan pelan ke arahnya.

"Hn, iya. Aku bermimpi aneh, entahlah, aku sudah tidak berminat untuk tidur lagi," jawab Sasuke pelan.

Pemuda berkaos hitam itu terus berjalan dan berhenti tepat di depan dispenser untuk mengambil air minum, karena entah kenapa, tenggorokannya terasa amat kering.

Sementara di tempat lain.

"Baachan, SAKURA!" teriakan Sasori menggema memenuhi rumah, seketika, seluruh keluarga sudah berada di dalam kamar sang Haruno muda. Dan mereka sangat terkejut, sang gadis tidak sadarkan diri, dengan wajah pucat.

"Kita bawa Sakura ke rumah sakit!"

Pyaaarrr!

Bola mata hitam milik Uchiha Sasuke melebar, ia baru saja memecahkan gelas berisi air minumnya. Dan tentu saja, sang ibu langsung bergegas menghampirinya. Dan bahkan, Itachi pun sampai terbangun dari tidurnya.

"Sasu-chan, kenapa? Tidak apa-apa 'kan?" tanya sang ibu dengan nada khawatir yang amat jelas. Sasuke hanya mengangguk, tapi, dia segera melihat ke kakinya saat merasakan rasa nyeri di sana. Dan benar saja, ada serpihan keramik yang menancap di kakinya.

"Ayo, Niisan obati," kata Itachi sesaat setelah dirinya memasuki dapur. Mendengar hal itu, Sasuke hanya bisa mengangguk pasrah dan berjalan pelan menuju ruang tamu.

"Kenapa bisa jatuh begitu?" Tanya sang kakak saat dia mengobati luka bekas gelas yang ada di kaki sang adik semata wayang. Kepala raven milik Sasuke hanya bisa menggeleng pelan, "Entahlah, Aniki, aku sedikit kaget," jawabnya.

.

.

Sasuke menatap kosong rumah bercat coklat cerah di depannya. Rumah itu sangat sepi. Padahal biasanya, akan ada teriakan yang berasal dari Haruno Mebuki dan Sakura. Kalau tidak, pasti Sakura dan Sasori yang berisik. Benar-benar keluarga yang seru.

"Kenapa masih di situ, kalau terlambat bagaimana, Sasu-chan," kata Uchiha Mikoto yang tak lain adalah ibu dari Sasuke saat melihat putra bungsunya masih belum beranjak dari depan rumah mereka.

"Aaa, aku berangkat," Sasuke menjalankan mobil mewahnya meninggalkan rumah dan menuju sekolah elitnya, namun pandangannya sempat terhenti di satu titik yaitu garasi milik sang 'mantan'. Garasi itu terbuka, dan tidak ada mobil keluarga Haruno di dalamnya.

Apakah mereka pergi? Kenapa sepagi ini?

.

.

Sementara itu, di rumah sakit. Di sebuah ruangan bernama 'Sakura', sedang terbaring seorang gadis dengan infus di selang kirinya dan bantuan pernafasan di mulutnya. Kondisi gadis itu menurut sang dokter, sudah sangat kritis. Bahkan, jantungnya pun sudah tidak bisa memompa lagi.

"Tsunade-sensei, kenapa seperti ini? Harusnya, Sakura masih bisa bertahan dua sampai tiga hari lagi 'kan? Apalagi, anda mengatakan kalau kemungkinan Sakura bisa sembuh bukan nol persen," Haruno Mebuki tak dapat menahan tangisnya saat menyaksikan sang putri tercinta terbaring tak berdaya di depannya.

"Entahlah, harusnya, Sakura masih bisa bertahan sampai tiga hari lagi, sepertinya, Sakura benar-benar tidak memiliki keinginan untuk bertahan hidup," ujar dokter ahli kanker itu.

"Tidak mungkin, lalu, Sakura—"

"—Yang bisa menolong Sakura sekarang, hanyalah tekadnya untuk hidup kembali, kita hanya bisa percaya pada Sakura saat ini," lanjut Tsunade.

Piiippp!

Mata sewarna madu milik Tsunade sedikit terbelalak saat melihat monitor yang berada di samping tempat tidur Sakura, jantung gadis itu, jantungnya semakin melemah. Ini gawat.

"Shizune! Siapkan alat pacu jantung!" teriak dokter bermarga Senju itu pada perawat kepercayaannya, Shizune.

"Baik!"

Dengan disaksikan seluruh keluarga, sang dokter cantik bernama lengkap Senju Tsunade itu memulai kegiatannya dengan sangat serius. Begitu juga dengan wanita berambut hitam pendek bernama Shizune. Dan hampir semua anggota keluarga Sakura menahan nafas saat sang dokter memulai alat pacu jantungnya.

"Satu, dua, tiga!"

Deg deg!

'Sakura, ayo berjuanglah,' batin wanita berambut pirang panjang itu saat menatap pasien tersayangnya yang masih menutup mata.

"Ayo, lakukan lagi!" teriaknya lagi.

"Baik!"

Sasori yang menyaksikan adegan antara hidup dan mati adik sepupunya dan tanpa bisa melakukan apapun, hanya bisa menangis dalam diam. Tanpa sadar, dia meremas tangan kanannya, dan baru menyadari, surat dari Sakura masih ada dalam genggaman tangannya, "Sasuke."

Dan secepat kilat, pemuda bermata hazel itu berlari keluar dari ruangan Sakura, berlari menuju orang terakhir yang bisa ia mintai tolong, seraya berdo'a sang gadis masih bisa bertahan sampai dia kembali ke rumah sakit. 'Sakura, bertahanlah, kau harus hidup. Kau gadis yang kuat.'

.

.

Naruto dan Sai. Dua remaja berbeda tipe itu terlihat sangat serius memperhatikan sang sahabat yang pagi ini kembali melamun. Ada apa dengannya?

"Teme, kau ini kenapa? Pagi-pagi sudah melamun, dan kenapa kakimu itu?" pertanyaan beruntun dari pemuda rubah bernama Naruto itupun tak diindahkan oleh Sasuke. Melihat hal itu, entah kenapa memunculkan rasa simpati di hati Naruto.

"Ehem! Sasuke-kun~"

"Eh!"

Mata hitam milik Sai melebar melihat ekspresi sahabatnya yang malah gelagapan mencari seseorang, sementara Naruto, seketika seluruh simpatinya tadi menguap dan digantikan oleh suara tawanya.

"Jangan mengagetkan aku, baka!" bentak pemuda tampan itu tepat di depan wajah Sai yang tentu saja membuat calon pelukis masa depan itu menjauhkan wajahnya dari pemuda yang terkenal cuek.

"Hng, aku baru tahu. Panggilan 'Sasuke-kun' itu ternyata sangat berpengaruh, ya 'kan, Naruto?" lanjut pemuda pucat itu lagi yang seketika disambut anggukan oleh pemuda pirang di sampingnya. Sementara sang korban—Sasuke—hanya melotot mendengar ucapan si senyum palsu.

.

.

"Aku kangen nih sama Sakura-chan, hari ini dia tidak berangkat lagi," ucap Naruto. Dan itu, kembali membuat Sasuke terdiam. Sakura tidak berangkat?

"Sasuke," kali ini ada nada serius yang terucap dari bibir pucat sang pemuda berambut eboni.

"Hn," hanya itulah respon Sasuke, terdengar malas, tapi tetap saja dia menyimak 'kan?

"Kemarin, saat kita tak sengaja bertemu atau lebih tepatnya saat kau menabrak Sakura, saat aku mendengar cara batuknya, waktu itu, aku juga sempat melihat noda darah di tisu yang dia bawa, juga darah kering di sudut bibirnya. Saat aku bertanya pada Shin-Niisan, Shin-Niisan bilang—"

Sasuke sepenuhnya mengabaikan ucapan dari sahabat pucatnya. Pikirannya kembali pada gadis itu, gadisnya, gadis yang masih sangat ia cintai, gadis yang akan selalu ada dalam hati—

"—Sakura memiliki penyakit yang serius," lanjut Sai lagi.

Deg deg!

Jantung Sasuke seakan melompat keluar saat mendengar lanjutan kalimat sahabat dari kecilnya itu. Dan, tanpa bicara apapun, pemuda berambut raven itu berlari keluar kelas, yang tentu saja membuat dua remaja lainnya tercengang.

"Sasuke, tunggu!"

Brugh!

Suara debum keras itu mau tak mau memaksa Naruto dan Sai berlari lebih cepat untuk melihat apa yang terjadi di luar kelas. Dan mereka berdua langsung disuguhi pemandangan terunik sepanjang sejarah hidup mereka. Yaitu, Sasuke, yang sangat mereka yakini telah bertabrakan dengan seseorang. Karena terlihat dengan jelas, Uchiha bungsu itu meringis pelan dengan posisi masih terduduk di lantai.

Kemarin bertabrakan dengan Sakura, sekarang dengan siapa lagi? Batin mereka kompak.

"Sasuke."

Sang onyx terbelalak saat menyadari siapa yang bertabrakan dengannya. Seorang pemuda dengan kaos berwarna hitam dan celana pendek, er—dia tidak salah lihat 'kan?

"Sasori?" gumam Sasuke sangat pelan, nyaris berbisik. Bagaimana bisa pemuda itu di sini, di sekolahnya? Dan kenapa dia tidak kuliah? Dan apa-apaan itu pakaiannya?

"Sasuke."

Mendengar namanya disebut dua kali, mau tak mau membuat Sasuke kembali memfokuskan pandangannya pada sosok pemuda berambut merah di depannya dan iapun langsung mendapat pemandangan aneh, Sasori? menangis?

"Sasori—"

"—Apa salah Sakura!"

Deg deg!

Sasuke terdiam. Sejujurnya, dia ingin bicara, tapi entah kenapa, suaranya mendadak lenyap apalagi saat ia mendengar nada suara pemuda baby face yang melengking aneh menahan tangis.

"Sasori—"

"Sakura, apa salah Sakura! Kenapa dia harus mengalaminya!" teriak Sasori lagi.

Seketika, suasana di depan kelas Sasuke itu menjadi hening. Padahal, sudah banyak murid yang berdatangan. Tapi, saat mendengar teriakan pemuda tampan itu, semuanya mendadak diam. Bahkan Naruto dan Sai yang tadinya ingin bertanya pun mendadak kehilangan susunan kalimat mereka.

Sementara Sasuke sendiri, pikirannya mendadak kosong, semua yang ia pikirkan tadi juga mendadak lenyap tak berbekas. Apalagi saat ia dengan mata kepalanya sendiri, melihat Sasori menangis. Menangis?

"Sasori—"

"—Tolong, Sasuke," runtuh sudah segala harga diri pemuda bermarga Akasuna itu. Dirinya sama sekali tidak peduli akan harga diri, yang ia pikirkan hanyalah keadaan sepupu tersayangnya yang saat ini sedang meregang nyawa di rumah sakit. "Aku mohon, tolong Sakura, Tsunade-sensei mengatakan, harapan Sakura untuk hidup hanyalah tekadnya. Dan yang bisa membangkitkan harapan Sakura hanyalah kau, aku mohon."

Deg deg!

Lagi-lagi jantung pemuda bernama Sasuke itu berdetak kencang, entah kenapa, tiba-tiba perasaannya tidak tenang. Gadis itu kembali muncul dalam pikirannya. Dan tadi, pemuda di depannya menyinggung Tsunade-sensei?

"A-apa maksudmu?" tanya Sai setelah beberapa detik tadi sempat terdiam.

Sret!

Tanpa bicara apapun lagi, teman kuliah Itachi itu menyerahkan amplop pink titipan dari sang adik untuk pemuda di depannya. Dan, Sasuke, tanpa diduga sebelumnya, dia menerima amplop itu dengan tangan bergetar. Ada apa ini? Perasaannya benar-benar tidak tenang sekarang.

"Sasori! jelaskan padaku! Cepat!" bentak pemuda bermata onyx dengan tidak sabar. Bahkan diapun meremas amplop pink yang berada di tangan kanannya guna menahan amarahnya.

Sasori menghela nafas sebelum bersuara, "Sakura, dia kanker hati!"

.

.

Hening

Naruto dan Sai terbelalak kaget saat mendengar ucapan pemuda di depan mereka. bagaimana mungkin, gadis itu? sakura? Kanker hati?

"Sa-Sasuke?" gumam Sai saat melihat ekspresi ksosong pada diri sahabatnya. Diapun menolehkan kepala ke arah sahabat pirangnya, bermaksud mencari tahu pendapat pemuda berkumis tiga tersebut, tapi yang ia dapat adalah gelengan kepala dari sang Uzumaki.

Sementara Sasuke sendiri, entahlah, dunianya seakan hancur berkeping-keping saat mendengar ucapan kakak dari gadis yang masih sangat ia cintai tersebut. Apa? Apa katanya? Kanker hati?

"Kau bohong! Sakura tidak mung—"

"—Dia memutuskanmu, bukan karena dia membencimu! Itu karena, dia tidak mau melihatmu sedih. Kau tidak tahu 'kan? Setiap hari, Sakura menangis karena merasa bersalah padamu!"

Tes!

Satu tetes air mata berhasil lolos dari bola mata hitam milik Sasuke. Dia bahkan tidak peduli dengan adanya teman-teman di sekitarnya. "Sakura, apa yang sudah aku lakukan padamu? Sakura!"

Bruk!

Dan secepat kilat, Sasuke sudah berlari menuju arah parkir mobilnya. Dengan amplop pink yang masih ia genggam. Ia bahkan menabrak Sasori begitu saja. Tujuannya hanya satu. Rumah sakit.

"Sakura!"

"Teme! Tunggu!"

"Sasuke!" teriak Sai, dirinya segera menyusul sahabatnya yang sangat ia yakini sedang berlari menuju tempat parkir. "Naruto, kau mintalah izin pada Kepala Sekolah, aku akan mengantar Sasuke ke rumah sakit. Sangat berbahaya kalau dia pergi dalam keadaan seperti itu," kata Sai lagi seraya berlari menyusul sang Uchiha bungsu yang sudah mendahuluinya.

"Hei kau, ayo susul Sasuke!" teriak Sai pada Sasori yang masih saja diam di tempatnya. Dan dengan sekali anggukan, pemuda berambut merah itu ikut berlari menyusul Sasuke bersama Sai.

"Cih, kuso! Sakura! Jangan tinggalkan aku!"

"Sasuke! Tunggu!" teriak Sai setelah berhasil menyusul sang sahabat dan memegang lengannya.

"Lepaskan, Sai! Aku mau ke rumah sakit. Sekarang! Lepaskan!" balas Sasuke dengan teriakan juga seraya mencoba melepaskan diri dari kuncian lengan sahabat jago melukisnya itu.

"Jangan bodoh! Aku akan mengantarmu. Ayo! Kau tidak seperti Sasuke yang ku kenal, kau percaya Sakura 'kan? Dia pasti baik-baik saja," kata pemuda bermarga Shimura itu yang masih berusaha membujuk sahabat keras kepalanya.

"Lepaskan! Sai, lepaskan aku! Kau dengar sendiri apa yang Sasori katakan 'kan? Sakura membutuhkanku saat ini! Lepaskan aku, Sai!"

Duagh!

.

.

Sebuah pukulan sukses mengenai wajah tampan pemuda bernama Sasuke tersebut. Dan Sasuke hanya bisa diam menerima pukulan dari sahabat pucatnya.

"Ayo naik, aku yang akan mengantarmu. Kau tidak boleh menyetir dalam keadaan seperti ini. Kalau terjadi sesuatu padamu, siapa yang repot?" ucapan pemuda bermata onyx itu seolah menohok Sasuke, dan, pemuda berambut biru dongker itupun akhirnya mengangguk pelan seraya masuk ke dalam mobil mewahnya dengan Sai yang duduk di kursi kemudi.

"Maaf soal pukulan tadi," ucap Sai seraya menyalakan mobil milik Sasuke dan bersiap menjalankannya menuju rumah sakit.

"Tidak, aku justru berterima kasih," jawab Sasuke pelan.

.

.

Perjalanan menuju rumah sakit tidaklah menjadi hal yang lebih baik untuk Sasuke. Karena bayangan gadis itu kembali memenuhi pikirannya. Diapun teringat mimpinya semalam. Apakah mimpi itu, adalah tanda bahwa mereka benar-benar tidak bisa bersama? Atau?

"Sasuke, lebih baik, kau baca dulu surat itu," kata Sai pelan saat mata hitamnya sekilas melihat amplop pink di tangan Sasuke.

Dan, dengan kondisi yang sangat kacau, Sasuke membuka amplop pink tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah kertas dengan coretan tangan. Coretan? Kenapa, apakah untuk menulis pun kelihatannya sangat susah. Saki.

"Sakura."

Tapi, anehnya, pemuda tampan itu tetap bisa membaca coretan tangan tersebut.

Untuk Sasuke-kun.

Sasuke-kun, apa kabar? Hehe. Aku yakin, Sasuke-kun pasti baik-baik saja. Karena aku selalu berdo'a untuk Sasuke-kun.

Mungkin, saat kau membaca suratku ini, aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.

Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal.

Sasuke-kun

Maafkan aku. Aku sudah bicara kasar hari itu. Hari itu, hari paling menyakitkan yang pernah aku alami. Melihat wajah Sasuke-kun yang membenciku, aku merasa sangat sedih. Tapi, aku tahu, kalau Sasuke-kun tahu tentang aku yang sebenarnya, Sasuke-kun juga pasti akan sedih, dan aku lebih suka melihat Sasuke-kun menatapku dengan tatapan benci daripada tatapan kesedihan ke arahku. Karena, melihat Sasuke-kun sedih, bagiku sama saja dengan mati.

Deg deg!

"Sakura."

Aku minta maaf, aku ingin Sasuke-kun tahu. Aku tidak pernah membencimu. Aku selalu mencintaimu. Sasuke-kun adalah orang yang sangat aku cintai. Sasuke-kun adalah cinta pertama dan terakhirku. Hm~ Aishiteru.

Oh iya, aku juga ingin berterima kasih. Terima kasih karena Sasuke-kun selalu ada untukku, aku senang, disaat aku sedih, ada Sasuke-kun di sampingku. Saat aku senang, ada Sasuke-kun yang menemaniku. Dengan cinta, dengan sayang. Dan dengan sebuah pertengkaran. Hehe… aku senang sekali. Sasuke-kun~ arigatou.

"Sakura."

Kalau saja aku masih diberi kesempatan. Aku ingin sekali melihat Sasuke-kun tersenyum. Pasti manis sekali—eh? Sasuke-kun tidak suka dibilang manis 'kan? Hmhmhm… tampan. Sasuke-kun pasti tampan sekali. Aku sangat suka melihat Sasuke-kun tersenyum. Aku juga suka melihat Sasuke-kun cemberut. Kalau cemberut, wajah Sasuke-kun lucu. Hehe…

Sasuke-kun… kau harus bahagia yah? Karena kalau Sasuke-kun sedih, aku juga akan sedih nantinya. Aku selalu berdo'a untuk Sasuke-kun. Walau aku tidak ada sekalipun, Sasuke-kun harus bahagia. Awas saja kalau Sasuke-kun tidak bahagia. Aku akan menghantuimu! Hihi… aku sudah mulai gila.

"Sakura."

Sasuke-kun, hm, dari tadi aku selalu memanggilmu dengan suffix kun yah? Entah kenapa, aku tidak bisa memanggilmu tanpa suffix kun. Aku senang sekali karena kau mengijinkanku memanggilmu seperti itu. sasuke-kun, arigatou.

Tes tes!

Hei, jangan menangis Sasuke-kun. Ayo senyum. Hm… lihat, aku juga tersenyum. Sasuke-kun, aku—a-aku—aku sangat mencintaimu, Sasuke-kun. Aku sangat ingin bahagia bersamamu. Tapi, sepertinya Kami-sama punya kehendak lain. Aku tidak diijinkan untuk itu.

Sasuke-kun

Untuk yang terakhir kalinya.

Aishiteru.

Your Love, Sakura.

.

.

Tes tes!

Air mata itu terus mengalir. Mengalir dan mengalir. Sekarang, bahkan Sasuke merasa, dirinya lebih parah daripada anak perempuan. Dia sedari tadi menangis tanpa henti. Bagaimana tidak, surat yang baru saja dia baca, adalah curahan hati gadis yang sangat berharga baginya. Dan gadis itu sendiri, nasibnya belum dia ketahui.

"Sakura, Sakura, Sakura! Jangan tinggalkan aku!"

Hati Sai seakan berteriak, dia tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau yang berada di posisi Sasuke itu adalah dirinya? Diputuskan oleh gadis yang sangat dicintai, sementara sang gadis menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya. Yaitu, umurnya.

"Sasuke, tenanglah. Kita akan segera sampai."

TBC


Eerrr *ngumpet dibalik punggung Near*

Hehehe, gomen chap ketiganya seperti ituuuu #gelundungangaje

Yah, sudahlah… intinya, cuma segini hasil memeras otakku selama berhari-hari dan ngetik selama beberapa jam #duesh

Dan… makasih buat yang udah review chap kemarin:

Ichikawa Soma, SugarlessGum99, summer dash, azizah primadani, Brown Cinnamon, kisafuuma, Shizuka Fuyuki Chan, Hanazono Yuri, BlueSnowPinkIce, Ricchi, Chii no pinkycherry, desypramitha, Aoi Lia Uchiha, Tsurugi De Lelouch, furiikuhime, Princess Emeralyna, Erica Christy, Fivani-chan, Benrina Senju, Ryouta Shiroi, , amerta rosella, angodess, Anka-chan, Dark Courriel, kimkim, YE, Uchiha Sheshura-chan, hachikodesuka, Clarion, Fira Shera-chan, allihyun, emerallized onyxta, Universal Playgirl.

Pokoknya terima kasih banyaaaaaakkk…. *nangis haru dipelukan Near*

Gomen, gak bisa bales satu-satu, tapi, Mari-chan seneng banget baca ripiu kalian semuaa… #peluksatusatu

Yosh, udah gitu ajah, met menjalankan ibadah puasa bagi siapa aja yang menjalankannya yah…

Sign,

Mari-chan.