Walaupun aku mengatakan 'benci' tapi sebenarnya dalam hati, aku tidak pernah membencimu, kaulah satu-satunya orang yang aku cintai, sampai akhir hidupku—

—Sasuke-kun.


A Naruto Fict

By Mari-chan

True Love

Rate: T

Pairing: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura

Genre: romance and angst

Warning: OOC, AU, typo dan cerita semau Author


Chapter 4

Mobil berwarna hitam itu kini sudah memasuki kawasan rumah sakit. mobil mewah itu berjalan pelan menuju tempat parkir rumah sakit yang lumayan luas.

"Berhenti, Sai!" teriak Sasuke pada sang pengemudi yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.

Sret!

Sesuai perintah, Sai pun menghentikan mobil yang ia kendarai, ia refleks menatap sahabatnya sesaat setelah ia mengerem mobilnya, "Hei, kau mau apa!" teriak Sai saat melihat sang sahabat yang kali ini sudah berusaha membuka pintu mobil. Melihat gelagat pemuda emo itu, akhirnya, Sai pun mengalah, ia membuka pintu mobil mewah itu lewat kunci otomatis.

Dan, sesaat setelah pintu itu terbuka, sang pemuda beriris tajam langsung melompat dan berlari menuju gedung berwarna putih tersebut.

"Sasuke!" Sai mencoba memanggil sahabat Uchihanya, namun hasilnya nihil, sepertinya sang bungsu Uchiha benar-benar tidak memperdulikannya sekarang.

"Ayo! Kita juga cepat masuk!" ucap Sasori setelah memarkir motor hitamnya di tempat parkir. Kepala eboni milik Sai mengangguk pelan, dengan segera ia membenarkan letak parkir mobilnya dan menyusul pemuda berambut merah yang terlebih dulu berlari memasuki gedung.

"Sakura, jangan pergi. Aku mohon!" itulah mantra yang selalu mengalun dalam setiap langkah pemuda tampan berambut biru dongker yang saat ini berlari menuju ruang rawat Sakura. Namun, sedetik kemudian ia menyadari, ia tidak tahu, gadisnya dirawat di mana? Cih, secepat kilat, pemuda berusia enam belas tahun itu kembali berlari menuju arah resepsionis.

"Haruno Sakura! Dimana ruangannya!" bentak Sasuke tak sabar pada penjaga meja resepsionis. Sang resepsionis hanya mengangguk takut dan segera mencari nama yang disebut oleh pemuda tampan itu.

"Haruno Sakura, ada di ruangan bernama sakura, tapi, dia sudah—" dan tanpa mendengar kelanjutan kalimat sang resepsionis, pemuda bermarga Uchiha kembali berlari. Kali ini, tujuannya yaitu ruangan sakura. Sakura.

"Anoo, tapi, Sakura-san sudah—"

"—Sudah apa!" lagi-lagi, kalimat gadis berpakaian putih itu terputus, kali ini, Sasori lah yang memotong ucapannya. Sang penjaga resepsionis menelan ludahnya gugup dan menggeleng dengan perlahan.

Melihat hal itu, air mata kembali mengalir dari sepasang hazel milik pemuda baby face itu. Bahkan Sai pun, sudah tidak kuasa menahan air matanya. Pikirannya sekarang adalah, Sasuke. Iya, bagaimana perasaan sahabatnya itu kalau tahu Sakura sudah—

"Ayo, kita ke sana," ucap Sai pada akhirnya.

.

.

Langkah Sasuke semakin berat saat ia memasuki kawasan ruang inap yang ia yakini tempat Sakura dirawat. Perasaannya mendadak tidak menentu. Apalagi, saat ia melihat ada beberapa orang di depan ruang rawat Sakura. Orang-orang yang sangat Sasuke kenal. Keluarga Haruno.

"Sa-Sasuke-kun?" gumaman dari nyonya Haruno itu semakin menambah berat langkah Sasuke. Apalagi saat dirinya melihat bahwa kedua orang tua Sakura di sana, menangis?

"Obaasan, Saku, di mana Sakura?" tanya pemuda bermata onyx di sela langkahnya. Namun, Haruno Mebuki tidak menjawab dan hanya menggeleng dengan air mata yang mengalir semakin deras.

Deg deg!

"Ti-tidak, ti-dak mung-kin. Sakura. Sakura!"

Dan sang Uchiha bungsu pun segera berlari menuju ruangan bernama sakura itu, tak peduli dengan teriakan dari Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki yang memanggil namanya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah gadisnya, Sakura.

Kriek!

Sasuke membuka pelan pintu berwarna putih gading di depannya dengan tangan bergetar. Dan saat kakinya menapaki ruangan tersebut, matanya sukses melebar melihat isinya.

Sakura.

Terbaring.

Tanpa ada satu alat medis pun yang menancap di tubuhnya.

Tep!

Sasuke perlahan menggerakkan kaki-kakinya untuk mendekati tempat tidur sang gadis, tapi, langkah adik dari Itachi itu terhenti saat ada sebuah tangan yang menyilang di depannya. Namun, bukannya menghentikan langkahnya, pemuda emo tersebut justru semakin maju mendekati tempat tidur.

"Kau tidak boleh mendekat."

Ucapan dokter cantik bernama Tsunade itu bagaikan angin lalu bagi Sasuke, dunianya seakan berhenti berputar saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kondisi gadisnya, yah, gadisnya.

"Saku."

"Hei, saya dokternya, saya bilang—" dan wanita berambut pirang itu seketika menghentikan ucapannya saat melihat tatapan pemuda di depannya. Sang dokter pun akhirnya mengijinkan sang pemuda yang masih mengenakan seragam Konoha High School itu mendekat.

"Anak ini," gumam Tsunade pelan saat memperhatikan langkah kaki pemuda enam belas tahun itu yang mengarah ke tempat Sakura terbaring.

.

.

"Hei, Sakura. Ayo bangun."

Deg deg!

Keluarga Haruno (termasuk Sasori yang sudah masuk bersama Sai) hanya bisa terdiam saat mendengar nada bicara Sasuke. Mereka tahu betul, pasti pemuda Uchiha belum bisa menerima kenyataan tentang kondisi Sakura.

Yah, kondisi Sakura—yang sebenarnya.

"Kau pasti mendengarku 'kan, Saku. Ini aku, Sasuke. Aku mohon, bangun Sakura. Bangun. Jangan tidur terus, bodoh!"

Tes tes!

"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau bangun, kau mendengarku 'kan, Sakura. Ayo bangun!"

Kali ini, Sasuke duduk di bangku kecil yang berada di sebelah ranjang sang gadis yang tertidur, dan dengan posisi ini, dia bisa sangat jelas memperhatikan, bagaimana pucatnya wajah gadisnya, bagaimana tenang dan damainya wajah gadisnya dan juga tidak adanya—tidak, itu tidak benar.

Sret!

Tangan kekar milik pemuda berumur enam belas tahun itu menyentuh pelan pucuk kepala gadis bermahkota soft pink yang masih menutup matanya.

"Hei, Saki," ucap pemuda itu lagi, ia membelai lembut pipi Sakura. Jantungnya mendadak tak beraturan saat merasakan dinginnya pipi itu. "Aku, aku tidak mau kau pergi. Jangan tinggalkan aku, Sakura, aku mohon."

"…"

"Sakura. Ayo bangun! Kau ini jahat, kau egois, kau bodoh! Kau tahu atau tidak! Kenapa kau tidak pernah jujur padaku. Sakura, kau ini sangat bodoh!"

"…"

.

.

"Tapi, yang paling bodoh tetap saja aku. Akulah yang bodoh. Aku bodoh karena tidak menyadarinya dan malah lari dari kenyataan. Maafkan aku, Sakura. Maafkan aku."

Air mata mulai kembali menetes dari bola mata masing-masing manusia di dalam ruangan tersebut, termasuk Sai. Iya, pemuda berambut eboni itu sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan tangisnya. Melihat sahabatnya seperti itu—Uchiha yang agung, menangis.

"Hei, kau bilang, kau mau melihatku tersenyum 'kan? Aku akan tersenyum, makanya buka matamu, Sakura… buka matamu…" kali ini tangan sang Uchiha bergerak menyentuh kening sang gadis dan menyingkirkan poni yang ada di sana. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura.

Cup!

Sasuke mendaratkan sebuah ciuman di sana. Dan hati pemuda tampan itu semakin sakit saat tak ada reaksi apapun dari gadis yang masih terbaring itu.

"Hei, Saku. Bangun… aku tidak bisa hidup tanpamu, Saku, kau dengar tidak!"

Grep!

Sasuke memeluk tubuh Sakura yang hampir kaku tersebut dan jantungnya sejenak berhenti berdetak saat ia tidak merasakan adanya debaran jantung gadis yang masih ada di pelukannya. Tidak. Tidak mungkin.

"Saku—"

"Sasuke-kun, tenanglah," ucap Mebuki pelan, ia berniat mendekat ke arah Sasuke sebelum dihentikan oleh sang suami, "Anata," gumamnya seraya menatap suami tercinta yang hanya disambut gelengan kepala keluarga Haruno itu.

"Tapi, Sasuke-kun—" dan tangis ibu dari Sakura itu kembali pecah, wanita itu menangis di pelukan suaminya.

.

.

"Sasuke-kun."

"Hn."

"Kenapa kau menyukaiku? Kau sering sekali mengatakan aku ini bodoh, cerewet dan menyebalkan. Tapi, kau tetap saja menyukaiku. Haha… aku memang terdengar terlalu percaya diri sih, tapi aku merasakannya, loh," gadis bersurai pink itu terlihat menyeringai jahil pada pemuda di sampingnya dan hanya direspon dengusan kasar sang pemuda dan sebuah kata singkat, "Bodoh." Yang keluar dari bibir pemuda tampan itu.

"Tuh 'kan, kau mengataiku bodoh lagi, kalau begitu, kenapa kau menyukai gadis bodoh sepertiku?" tanya gadis cantik itu lagi, ia mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit tersinggung mungkin. Ucapannya yang panjang dan lebar hanya dijawab 'bodoh' oleh lawan bicaranya.

"Diam, dasar menyebalkan," jawab pemuda berambut emo itu lagi yang langsung membuat empat sudut berbentuk siku langsung mencul di jidat sebelah kiri sang gadis.

"Sasuke-kuuuunn… kau juga menyebalkan!"

Plak!

"Sakura, jangan memukul kepalaku, kalau aku bodoh bagaimana? Kau mau tanggung jawab, hei."

"Biar kita jadi sama-sama bodoh, haha…" gadis bernama Sakura itu tertawa dengan tangan yang menyilang di dada setelah tadi sempat memukul kepala ayam milik kekasihnya.

Sasuke tersenyum miris saat mengingat kenangan-kenangannya bersama sang kekasih. Ingin sekali ia bisa seperti dulu dengan Sakura. Bercanda, saling melempar ejekan dan lainnya.

"Sakura," gumamnya sangat pelan. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan dingin sang gadis "Bangun," lanjutnya lagi.

Sai memalingkan wajahnya, ia benar-benar merasa tidak berguna sebagai sahabat Sasuke, ia hanya bisa diam melihat sahabatnya seperti itu. Sahabat macam apa dirinya.

Kali ini, pandangan mata onyx milik pemuda yang sangat ahli melukis itu tertuju pada pemuda berambut merah yang menundukkan kepalanya. Dia juga pasti sama syoknya dengan Sasuke. Pikir Sai.

Sasori menangis dalam diam, ia menundukkan kepala berhelai merahnya dalam-dalam, ia juga masih belum bisa menerima kenyataan, sepupu tercintanya pergi, benar-benar pergi, "Sakura, gomennasai."

.

.

Beberapa menit berselang, ruangan tempat Sakura dirawat mendadak mengalami kesunyian. Sasuke sudah tidak berteriak lagi seperti tadi juga tidak terdengar gumaman apapun dari pemuda Uchiha itu. Ia hanya diam dengan tangan yang sesekali membelai lembut rambut panjang Sakura.

Tapi, itu malah membuat semua orang cemas, kenapa tiba-tiba dia diam?

"Sasuke," Sai memanggil sang sahabat dengan nada pelan. Ia memaksa kakinya melangkah mendekati Sasuke dan Sakura. Sesekali ia menolehkan kepalanya ke belakang, ia menatap keluarga Haruno dan Sasori yang kali ini berpandangan—heran.

"Sasu—"

"Dia mengalami syok berat."

Deg!

Semua pasang mata secara spontan langsung mengarah ke sumber suara—Tsunade, dokter cantik itu menghela napas berat sebelum kembali bersuara "Sasuke tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi pada Sakura, karena rasa cintanya yang terlalu besar pada gadis itu. Aku khawatir, dia akan mengalami gangguan mental."

Bola mata hitam milik Sai melebar saat mendengar penjelasan dokter beriris madu itu, apa? Gangguan mental? Sasuke?

"Itu tidak benar 'kan? Sasuke itu pemuda yang kuat, tidak mungkin hanya karena hal ini—" ucapan Sai terputus saat ia mengingat dengan jelas reaksi sang sahabat saat ia mendengar penjelasan Sasori tentang kondisi Sakura. Dan bola mata hitamnya melebar sempurna sebelum ia melanjutkan kata-katanya, "—Tidak."

"…"

.

.

Kriek!

Pintu berwarna putih itu terbuka perlahan dan itu sedikit membuat beberapa pasang mata tertuju pada seseorang yang baru saja memasuki ruangan. Seorang perawat berambut hitam pendek. Ia melangkah mendekati Tsunade dan membisikkan sesuatu pada dokter ahli kanker itu.

Tsunade terlihat mengangguk pada perawat cantik itu sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada semua orang yang berada di ruangan tersebut. Wanita berambut pirang itu melangkah mendekati Sasuke yang masih duduk di bangku kecil di sebelah tempat tidur Sakura.

"Sasuke, kami harus memindahkan jasad Sakura—"

"Jangan mendekat!"

Deg!

"Sasuke, biarkan Tsunade-sensei—"

"Aku bilang jangan mendekat! Dan jangan sentuh Sakura!" bentak sang bungsu Uchiha tanpa sedikitpun menoleh ke arah dokter di belakangnya.

"Sasuke, terimalah kenyataan. Relakan Sakura, biarkan dia tenang, dia—"

"Diam kau!"

"Sasuke."

"Aku bilang diam! Sakura akan bangun, aku yakin itu," ucap Sasuke lagi, ia pun semakin erat menggenggam tangan dingin sang gadis yang sudah jelas-jelas tidak bereaksi sedikitpun.

Tsunade menggeram. Ia mengepalkan tangannya dan dengan segera, ia menarik tangan pemuda bermarga Uchiha itu untuk menjauhi Sakura.

Semua orang terbelalak kaget melihat apa yang dilakukan oleh sang dokter, "Tsunade-sensei—"

"Kalau kau tidak mau, aku pribadi yang akan memaksamu, ini demi kebaikan Sakura, dia harus segera diotopsi dan dibawa pulang. Tidak baik juga untuk jasadnya, kau mengerti atau tidak, anak bodoh!" kata Tsunade yang masih saja menarik lengan Sasuke untuk menjauh dari Sakura.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"

"Sa-Sasuke-kun, lepaskan tangan Sakura, biarkan dia tenang, Sasuke-kun," kata Mebuki berusaha membujuk putra dari sahabatnya itu.

"Obaasan tidak tahu bagaimana perasaanku, aku tidak akan melepaskan Sakura, dan kau, Tsunade-sensei yang pintar, lepaskan aku!"

Plak!

.

.

Suasana seketika kembali hening. Suara tamparan itu mau tak mau membuat adegan tarik menarik yang dilakukan oleh Sasuke dan Tsunade terhenti. Sang Uchiha bungsu menunduk dan mengusap pelan pipi kirinya dengan tangan kirinya juga. Karena tangan kanannya masih menggenggam tangan Sakura.

"Sasuke, kau jangan egois, kau ingin semua orang mengerti perasaanmu, tapi, apa kau mau mengerti perasaan mereka, hah! Mereka sudah sangat menderita dengan kondisi Sakura, dan kau malah semakin membuat mereka menderita dengan semua tingkah lakumu, sadarlah, Uchiha!"

Suara Sai menggema memenuhi ruangan yang tadinya sunyi itu, ia menatap tajam sahabatnya yang baru saja ia pukul tadi, luar biasa, dalam sehari ia sudah memukul Uchiha sebanyak dua kali.

Bola mata onyx milik Sasuke melebar saat menyadari apa yang baru saja terjadi.

"Sasuke," ucap Tsunade pelan.

"…"

"Sasuke, tenanglah."

Pemuda berambut biru dongker itu menoleh dan mengangguk pelan pada dokter cantik itu, "Tapi, sekali saja, aku ingin memeluk Sakura, untuk yang terakhir kalinya."

"Sasuke."

Sasuke masih diam. Ia sama sekali tidak menyangka akan mengatakan hal itu. hatinya sudah hancur sejak mengetahui berita tentang Sakura dari Sasori. Ia sama sekali tidak menyangka, hubungannya dengan Sakura berakhir dengan cara seperti ini.

Grep!

Sasuke membawa tubuh Sakura dalam pelukannya, tubuh itu benar-benar hampir kaku. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana, "Sakura, gomennasai, Sakura," bisik Sasuke pelan. Pemuda itu mengeratkan pelukannya pada tubuh sang gadis cherry, "Saku, aishiteru."

.

.

.

"Sekali saja, bilang 'aishiteru' Sasuke-kun…" Sakura kembali merengek pada pemuda di sampingnya, ia hanya ingin mendengar kalimat itu dari kekasihnya, apa itu salah? Selama mereka menjalin hubungan, tidak sekalipun sang kekasih berparas tampannya itu mengatakan cinta, saat mereka resmi berpacaran pun, sang Uchiha yang punya gengsi selangit itu hanya mengatakan 'Tetaplah di sampingku, Saku.' Apakah itu caranya menembak seorang gadis?

"Hn," Dan lagi-lagi, jawabannya hanyalah gumaman tak jelas.

"Ugh, kau tidak mencintaiku yah, Sasuke-kun jahat," rengek gadis bermata hijau itu lagi.

Sasuke mengacak rambut biru kehitamannya saat melihat gelagat sang kekasih yang kali ini berwajah memelas, "Ck, berhenti bersikap kekanakkan, Saku."

"Ha-habisnya, Sasuke-kun tidak mencintaiku—"

Cup!

Ucapan gadis bermarga Haruno itu mendadak terputus saat sang kekasih mengecup keningnya dengan lembut, wajah gadis manis itu perlahan memerah karena perlakuan sang kekasih.

Blush!

"Sasuke-kun—"

"Bodoh, lihat wajahmu, haha," pemuda bernama Sasuke itu tertawa pelan saat melihat wajah Sakura yang perlahan memerah karena ciumannya.

"Kau menggodaku, Sasuke-kun no baka!" dan kembali, gadis pink itu memukul sang kekasih.

"Harusnya, tanpa kukatakan kalimat itupun, kau pasti sudah tahu 'kan bagaimana perasaanku padamu?" kata Sasuke lagi.

Mendengar hal itu, Sakura hanya bisa kembali mengerucutkan bibir, "Setidaknya, aku ingin mendengarmu mengatakan hal itu, sekali saja. Aku ingin mendengarnya."

.

.

.

"Aishiteru, Sakura," kembali, Sasuke berbisik pelan di telinga gadis yang masih ia peluk dengan erat.

"…"

"Kau ingin mendengarnya 'kan? Tidak hanya sekali, aku akan mengatakannya berkali-kali sampai kau bosan, Saku. Aishiteru. Aishiteru," ucapnya lagi, ia bahkan semakin mempererat pelukannya tanpa seikitpun niat untuk melepaskannya—seakan sang gadis akan menghilang jika ia melepaskannya.

"Bangun, aku ingin kau bangun, Saku."

Semua orang yang berada di ruangan tempat Sakura dirawat itu hanya bisa menundukkan kepala masing-masing, melihat begitu menderitanya pemuda bermarga Uchiha itu benar-benar membuat mereka merasa sakit.

"…"

"Sasuke-kun."

Bola mata sekelam malam milik Sasuke melebar saat telinganya mendengar sebuah suara. Suara yang amat sangat ia kenali. Ia melepaskan pelukannya pada sang gadis yang ia yakini baru saja memanggilnya tadi.

Uchiha berparas tampan itu menaikkan sebelah alisnya saat mendapati gadis yang baru saja ia peluk itu masih menutup matanya, lalu siapa yang tadi memanggil—

Sret!

"Eh?!" Sasuke tersentak saat merasakan seseorang menyentuh pundaknya, ia pun mengarahkan pandangannya dan wajahnya memucat saat menemukan sosok gadis cantik yang mengenakan baju berwarna putih dan memiliki rambut berwarna pink pucat sedang tersenyum lembut ke arahnya. Entah apa yang terjadi, tapi, wajah gadis yang sangat ia cintai itu dipenuhi cahaya putih.

"Saku—"

Sakura tersenyum manis menatap sang kekasih, ia menggerakkan tangan putihnya ke pipi sang kekasih yang masih menatapnya tak percaya, "Arigatou, Sasuke-kun," ucap gadis itu tulus.

Sasuke menggelengkan kepalanya, ia pasti bermimpi melihat kekasihnya dalam wujud seperti itu, tidak mungkin.

"Sakura, aku—" kalimat Sasuke kembali terhenti, ia bahkan kembali mengeluarkan air mata, sungguh, ia merasa sangat cengeng sekarang.

Sakura menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum, "Aku sudah mendengarnya, aku bahagia sekali, sekarang aku yakin, Sasuke-kun benar-benar mencintaiku," ujarnya tak lupa senyum yang entah kenapa selalu menghiasi wajah manisnya.

"Jangan tinggalkan aku, Saku, aku mohon," ucap Sasuke sangat pelan, ia menatap lekat gadis yang saat ini masih memegangi pipi sebelah kirinya.

Namun, gadis bermarga Haruno itu menggeleng, "Gomennasai, Sasuke-kun… aku tidak bisa, waktuku sudah habis. Aku hanya ingin mengatakan padamu, berbahagialah—untukku."

"Tidak, Sakura," kata pemuda Uchiha itu lagi, ia merasakan separuh nyawanya hilang saat ia tidak bisa menggenggam tangan halus yang ada di pipinya, "Saku—"

"Hm, dunia kita sudah berbeda, kau tidak akan bisa menyentuhku," kata gadis yang dulunya sangat menggilai stroberi itu.

"Kau bohong—" Sasuke mengangkat tangan kanannya dengan perlahan, ia mengarahkan tangannya yang bergetar ke arah sang gadis.

"…"

Dan gagal. Tangan milik pemuda berambut biru kehitaman itu tidak bisa menggapai sang gadis, "Saku, kenapa?"

"Arigatou, sudah mau datang ke sini, Sasuke-kun… dan juga, maafkarena aku tidak bisa terus bersamamu."

"…"

.

.

.

"Maaf juga, selama ini aku selalu membuatmu marah, aku memang bodoh, aku tahu itu. maaf karena tidak bisa jujur pada Sasuke-kun. Aku tidak mau Sasuke-kun sedih, aku—"

"Gomen, Sakura," Sasuke dengan segera memotong ucapan kekasihnya, karena sejujurnya, dirinya juga salah.

"Sasuke-kun, tidak salah—"

"Aku datang terlambat," kembali, Sasuke memotong kalimat dari Sakura dengan cepat.

Deg!

Kali ini Sakura menunduk, ia menahan mati-matian air matanya yang hampir menetes. Dirinya 'kan roh, kenapa masih bisa menangis? "Sasuke-kun."

"Kalau aku lebih cepat sampai ke sini, masih adakah harapan bagi kita, Saku?" tanya Sasuke, pemuda itu menatap lekat wajah Sakura yang kali ini dialiri air mata, "Saku, kau menangis—"

"Iie—" gadis bermata hijau itu menggelengkan kepalanya dan menghapus air mata yang mengaliri pipinya, "—Hm, Sasuke-kun, berjanjilah padaku, kau akan bahagia," lanjutnya tanpa sedikitpun menyinggung masalah keterlambatan Sasuke ke rumah sakit, karena baginya, sisa hidupnya tak ada hubungannya sama sekali dengan pemuda itu.

"…"

"Sasuke-kun—"

"—Bagaimana aku bisa bahagia tanpamu, Saku," ujar Sasuke dengan cepat, ia kembali menundukkan kepalanya, sepertinya air matanya akan kembali mengalir. Ck, air mata bodoh.

"Jangan menangis, Sasuke-kun—" ujar Sakura sangat pelan saat melihat pemuda emo itu menundukkan kepalanya. Ia kembali tersenyum manis sebelum melanjutkan kalimatnya, "—Sebenarnya, aku juga ingin sekali bisa hidup bahagia dengan Sasuke-kun."

"…"

"…"

Sasuke kembali mengangkat kepalanya saat tak mendengar kelanjutan kalimat apapun dari sang gadis, dan bola mata onyx-nya terbelalak saat ia melihat Sakura menangis—lagi, "Saku—"

"Aku sangat ingin bahagia denganmu, tapi, tapi—" ucapan gadis bermahkota soft pink itu terputus bersamaan dengan air mata yang semakin deras mengalir dari bola mata sewarna dedaunan miliknya.

"Saku, kau—" pemuda bermarga Uchiha itu secara refleks mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya pada wajah Sakura walau hasilnya percuma, dia tetap tidak bisa menyentuh gadis itu.

"Aku tidak menangis," ucap Sakura seraya memundurkan langkahnya dari pemuda tampan itu, "Aku tidak akan menangis lagi, karena itu, aku mohon, Sasuke-kun juga jangan menangis, Sasuke-kun 'kan laki-laki," kata gadis bermata emerald itu lagi.

Deg!

"Dan juga,Ini permintaan terakhirku, Sasuke-kun, berbahagialah… jangan pernah menangis, aku yakin, Sasuke-kun akan mendapat kebahagiaan. Hm… ganbatte ne, Sasuke-kun—"

"…" entahlah Sasuke harus bereaksi seperti apa saat telinga secara jelas mendengar ucapan dari Sakura, ia hanya bisa terdiam mendengar untaian kalimat yang meluncur dari sang gadis.

"Sayonara—Aishiteru."

"…" dan Sasuke hanya bisa membatu saat melihat tubuh gadis cantik itu memudar—kemudian menghilang.

.

.

.

"Hah!"

Sasuke tersentak dan secara refleks melepaskan pelukannya pada Sakura, kepalanya mendadak mengalami rasa sakit yang sangat luar biasa saat mengingat kejadian yang ia alami beberapa menit yang lalu.

Ia berbicara dengan Sakura.

Sakura.

Tidak mungkin.

Wajah pemuda bermarga Uchiha itu memucat saat menyadari apa yang sudah terjadi. Ia masih berada dalam posisi memeluk sang gadis cherry, berarti, semua yang ia alami tadi—

"—Tidak mungkin," gumamnya pada diri sendiri, "Tidak, Sakura, Sakura!" Sasuke kembali berteriak dan kembali memeluk sang gadis bermahkota soft pink.

Teriakan dari pemuda berambut biru kehitaman itu membuat semua orang yang berada dalam ruang rawat Sakura tersentak dan memunculkan satu pertanyaan di benak semua orang, 'kenapa dengannya?'

"Sakura, Sakura… jangan pergi, Sakura."

"Sasuke," gumam Sai sangat pelan, ia sama sekali tidak mengerti, bukankah tadi sahabatnya itu sudah tenang, kenapa sekarang dia kembali berteriak?

"Sasuke-kun?"

"Saku, Sakura… Sakura…"

"…"

.

.

.

"Oy, Teme, ayo pulang."

Dengan sangat cuek, pemuda yang dipanggil 'teme' itu mengalihkan pandangannya dari batu nisan di depannya, tatapan mata onyx-nya mendapati kedua sahabatnya yang sudah terlebih dahulu berjalan meninggalkan area pemakaman.

"…" pemuda tujuh belas tahun itu tidak merespon dan kembali memusatkan perhatian pada batu nisan di depannya.

Sudah setahun berlalu sejak gadis yang sangat ia cintai pergi meninggalkannya. Tapi anehnya, semua kejadian yang terjadi di rumah sakit setahun yang lalu itu masih sangat membekas di benak sang bungsu Uchiha.

Sakura.

Menangis.

Dan memintanya untuk berbahagia.

Senyum miris dengan sengaja singgah di bibir pemuda tampan itu saat mengingat permintaan terakhir sang—mantan—kekasih. Memintanya untuk bahagia? Padahal gadis itu yang paling mengerti kalau dia tidak akan bisa hidup bahagia tanpanya. Yang bisa membuatnya bahagia hanya gadis itu.

"Cih, kuso!" umpatan pun mulai meluncur begitu saja dari bibir sang pemuda emo, ia mengacak rambut biru kehitamannya dengan pelan.

"Sakura," gumamnya pelan dengan suara yang bahkan terdengar sangat aneh di telinganya sendiri—apakah ia menangis?

Sang Uchiha bungsu menggigit bibirnya dan sejenak menutup matanya walau disadari atau tidak, ia merasakan pipinya basah. Dengan segera, pemuda itu menghapus air mata yang seenaknya keluar dari bola mata hitamnya.

"Sakura, gomen," ucapnya lagi, ia merasa benar-benar menjadi pecundang yang bahkan tidak bisa menepati satupun permintaan sang gadis. Tentu ia masih sangat jelas mengingat bahwa gadis itu memintanya untuk tidak lagi menangis.

Tapi kenyataannya, dirinya sangat mudah menangis—terutama setelah kepergian sang gadis.

Sang pemuda menghela napas dan dengan berat hati, iapun bangkit dan mulai melangkah meninggalkan makam sang gadis dan juga area pemakaman.

.

.

.

"Kau menangis lagi?"

Sasuke tersentak saat ia mendengar suara seseorang yang hampir setahun ini tak pernah ia dengar. Jelas saja, suara yang ia dengar barusan itu—

Sang Uchiha kembali membalikkan tubuhnya ke makam sang gadis cherry dan bola mata onyx-nya membulat sempurna saat ia kembali melihat sosok itu—sosok yang meninggalkannya setahun lalu, "Sakura."

Sang gadis yang masih berdiri di sebelah makamnya sendiri itu tersenyum—sangat lembut seolah dirinya tidak punya beban apapun dalam hidupnya. Kaki kecil itu melangkah—melayang menuju tempat berdirinya sang pemuda.

"…" Sasuke hanya bisa mematung, sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam otak jeniusnya kalau ia akan kembali mengalami hal magis seperti ini dalam hidupnya. Pemuda tujuh belas tahun itu menelan ludahnya gugup saat sang gadis yang masih sangat ia cintai itu mendekatinya.

"Sasuke-kun," ucap Sakura dengan nada lembut, ia mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya ke pipi Sasuke yang masih meninggalkan jejak air mata, "Jangan menangis lagi—"

"Aku tidak akan menangis, aku tidak akan menangis, asalkan kau bersamaku, aku pasti tidak akan pernah menangis," potong Sasuke dengan cepat. Ia benar-benar tidak mengerti akan kehendak Kami-sama, apakah Kami-sama mempermainkannya dengan menghadirkan gadis ini lagi di hadapannya?

.

.

.

"Sasuke-kun?"

"Aku mohon, Sakura, kalau kau tidak bisa bersamaku, bawa aku bersamamu, Saku—"

"—Itu tidak mungkin terjadi, kau masih hidup, Sasuke-kun, kau masih punya banyak kesempatan untuk meraih kebahagiaan, jangan sia-siakan hidupmu untuk bersamaku," kali ini giliran Sakura yang memotong ucapan Sasuke.

"…"

"Sasuke-kun?"

"Kalau begitu, kau tidak akan pernah melihatku bahagia, Saku, yang bisa membuatku bahagia hanyalah kau, kalau aku tidak bisa bersamamu, selamanya aku tidak akan pernah bahagia," kata Sasuke lagi, mata onyx-nya menatap tajam emerald milik gadis di depannya yang transparan.

"…"

Setelah mengatakan hal itu, Sasuke kembali melangkahkan kakinya keluar area pemakaman, kali ini ia bahkan sama sekali tidak terlihat peduli pada gadis di belakangnya yang masih menatapnya tak percaya. Wajah pemuda berambut biru dongker itu mengeras seolah ia sudah tidak peduli pada apapun lagi di dunia ini.

Tidak lagi.

"Sasuke-kun."

Bahkan ia mengabaikan panggilan sang gadis tercinta yang terdengar semakin menjauh—atau dirinyakah yang semakin menjauh? Oh iya, dirinya sudah keluar dari area makam dan saat ini ia berniat menyeberang ke seberang jalan di mana ada kedua sahabatnya yang berdiri di sana.

"Sasuke!"

"Teme!"

"Sasuke-kun…"


Semuanya berlalu sangat cepat hingga tak ada satupun yang terekam di otaknnya yang jenius. Yang ia ingat hanyalah, cahaya lampu—entah lampu apapun itu—yang amat terang menerpa dirinya juga teriakan Sakura—dalam bentuk rohnya—juga Sai dan Naruto yang entah untuk tujuan apa sehingga mereka berteriak seperti itu.

Tapi, saat ia membuka mata hitamnya, ia terkejut luar biasa saat menemukan Sakura tersenyum ke arahnya. Sebenarnya yang membuat Sasuke bingung, Sakura itu tersenyum atau menangis? Karena ia melihat dengan jelas air mata yang mengalir dari emerald-nya yang cerah padahal bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.

"Saku—ra," ia bergumam pelan dan secara refleks mengangkat tangan kanannya untuk menghapus air mata yang masih dengan deras mengaliri wajah Sakura.

"Sasuke-kun," dan jantung sang bungsu Uchiha mendadak berdetak tak beraturan saat ia secara nyata bisa menyentuh sang gadis, menghapus air matanya dan bahkan kali ini tangan pucat Sakura-pun bisa menyentuh tangannya.

Apa—yang sudah terjadi padanya?

"Gomennasai, Sasuke-kun."

Sayup-sayup ia mendengar suara isakan yang keluar dari gadis di depannya dan juga permintaan maaf, kenapa Sakura minta maaf?

"Sakura—"

"Aku tidak bisa menyelamatkanmu."

Deg!

Dan barulah Sasuke menyadari apa yang sudah terjadi saat ia berada di pemakaman beberapa waktu yang lalu. Dirinya tertabrak mobil. Hah, cara yang sangat tidak elit untuk mati, dalam hati ia tersenyum miris.

"Maafkan aku, maafkan aku, Sasuke-kun."

Sasuke tersenyum lembut menatap sang gadis bersurai pink yang masih terisak di depannya, secara insting, iapun membawa gadis bermata hijau itu ke pelukannya, ini benar-benar tidak bisa dipercaya, setelah semua yang terjadi, dirinya benar-benar bisa memeluk sang gadis, "Aku tidak apa-apa, Sakura," bisiknya pelan di telinga sang gadis.

Namun, gadis dipelukannya menggeleng dan mencengkerem baju putih yang—entah sejak kapan–Sasuke kenakan, ia semakin terisak dan entah gumaman apa yang meluncur darinya. Sasuke masih diam tanpa berniat menginterupsi apapun yang dikatakan oleh gadisnya.

Tak berselang lama, Sasuke pun melepaskan pelukannya pada Sakura dan dengan pelan, ia mulai bersuara, "Lalu, bagaimana dengan yang lainnya?"

.

.

.

Di ruangan besar itu, tertidur sesosok pemuda tampan, dengan tuxedo hitam yang membungkus tubuhnya dan bunga mawar putih di sekelilingnya, tangisan dari orang-orang terdekat mengelilingi tidur damai sang pemuda.

"Menurutmu, sedang apa si Teme itu sekarang, hei, Sai?" sang Uzumaki bertanya pada satu-satunya sahabatnya yang saat ini bersamanya di kediaman Uchiha. Niatnya bercanda meski tak bisa dipungkiri terselip kesedihan mendalam karena sahabat yang sangat ia sayangi itu pergi di usia yang masih sangat muda.

"Menurutmu?"

Dan sang pemuda pirang jabrik hanya bisa tersenyum mendapat respon semacam itu dari pemuda yang sangat menggilai lukisan itu, ia sangat paham arti jawaban dari sahabat berambut eboni-nya itu, karena dirinya (Sai) menjadi saksi bagaimana tersiksanya sahabat Uchiha mereka saat ditinggalkan oleh gadis tercintanya. Pasti sekarang—ah, sudahlah… Naruto tidak mau berpikiran macam-macam.

"Ayo, Naruto."

Naruto mengangguk dan mengikuti langkah Sai seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana hitamnya, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mendo'akan kebahagiaan sang sahabat di manapun ia berada.

"Dasar sok keren kau, Dobe."

"Eh?!" Naruto tersentak saat mendengar suara itu, iapun menolehkan kepala kuningnya ke kanan dan kiri berharap bisa melihat sang pemilik suara dan mata birunya terbelalak saat ia melihatnya, "Te-teme," gumamnya.

"Heh, kau bisa melihatku, eh, Do-be."

Ucap Sasuke dalam bentuk roh tak lupa seringainya yang menyebalkan—bagi Naruto tentu saja.

"Sasuke-kun," kata Sakura seraya mencubit pelan pinggang sang kekasih.

Dan entah kenapa, itu membuat Naruto tersenyum, setidaknya ia tahu, sahabatnya itu sudah mendapatkan kebahagiaan bahkan setelah kematiannya.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Dobe."

Naruto kembali tersenyum, ia mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana dan menaruhnya di belakang kepala, dengan pelan, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan mengikuti rombongan yang bersiap mengantarkan jasad Sasuke ke peristirahatan terakhirnya.

"Semoga kau—ah, maksudku, kalian berbahagia, Teme, Sakura-chan," gumam Naruto pelan, pemuda rubah itu mempercepat langkahnya saat ia melihat gelagat Sai yang melambai ke arahnya.

Sasuke tersenyum lembut menatap kepergian kedua sahabatnya, dan ia kembali tersentak saat merasakan sentuhan lembut di pipinya, "Kau menangis lagi, Sasuke-kun," ucap Sakura pelan dengan tangan mungilnya yang masih mencoba menghapus air mata yang dengan sengaja mengaliri wajahnya.

"Hm, izinkan aku menangis untuk sekali ini saja, Saku, aku janji, setelah ini aku tidak akan menangis lagi," ucap Sasuke, ia memeluk Sakura dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung sang gadis.

Sakura tersenyum dengan tangan yang beralih membelai lembut rambut raven sang kekasih, "Bilang saja kau malu kalau aku melihatmu menangis, ne, Sasuke-kun," ucapnya pelan.

"Menyebalkan."

"Ha'i, ha'i, Aishiteru mo, Sasuke-kun…"

The End


Krik krik…

Nyahahahaha #digamparbolakbalik T.T yah… akhirnya, fict ini berakhir jugaaaaaa *ngelap ingus* maaf yah, kalo endingnya enggak sesuai dengan apa yang kalian minta, Mari-chan udah mencoba untuk yah, membuat mereka bahagia di ending, walau akhirnya malah terpilih ending abal macam itu #nangis

Yah, intinyaaa… Mari-chan seneng masih ada yang nungguin fict ini sampe ending meskipun apdetnya ngaret sangat #nangisdipelukanLaw XD #enggakmodus

Yah… pokoknya kayak gitu endingnya, kalau kalian bisa menerimanya yah, syukur Alhamdulillah, kalo enggak bisa terima ya maap, Mari-chan hanya manusia biasa yang gak luput dari kesalahan #setdah XD

Yosh… Mari-chan juga mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyak-banyaknya (saking banyaknya) pada semua yang udah mendukung dengan memberi review atau yang menagih lewat PM dan Fb (lirik beberapa reaviewer) #digaplok maaf banget jika Mari-chan gak bisa membalas satu-satu yah… tahu sendiri, Mari-chan gak bisa lama-lama di depan Chappy, pokoknya Arigatou, Minna-chaaaaannn XD.


Special thanks to:

Ichikawa Soma, SugarlessGum99, summer dash, azizah primadani, Brown Cinnamon, kisafuuma, Shizuka Fuyuki Chan, Hanazono Yuri, BlueSnowPinkIce, Ricchi, Chii no pinkycherry,desypramitha, Aoi Lia Uchiha, Tsurugi De Lelouch, furiikuhime, Princess Emeralyna, Erica Christy, Fivani-chan, Benrina Senju, Ryouta Shiroi, ,amerta rosella, angodess, Anka-chan, Dark Courriel, kimkim, YE, Uchiha Sheshura-chan, hachikodesuka, Clarion, Fira Shera-chan, allihyun, emerallized onyxta, Universal Playgirl, Alifa Cherry Blossom, Chichoru Octobaa, Aysa Haruna, rkarina971, Kumada Chiyu, Mbik Si Kambing, UchiHarunoKid, Anonymousgirl88, SummerSakura, Geesuke, Uchi Megumi, atta-chan, Guest, Dwita-chan.


Makasih juga buat yang udah fave and follow… hiks, terharu sekali sayaaaa #gelundungan #woi ehm… Dan juga buat semua silent reader yang udah nyempatin baca fict Mari-chanarigatou, naaa… sampai jumpa di fict Mari-chan selanjutnya… yah…

Sign,

Istri sah Trafalgar Law XD.