6 FIRST KISSES Chapter 2

First: Sasori dan Teman Masa Kecil

"Seusai bekerja, kutunggu didepan."

Setelah mengucapkan kalimat yang bagaikan mantra tersebut, pria itu langsung melenggang santai meninggalkan meja informasi. Menyisakan tatapan-tatapan mata takjub yang dilemparkan para pengunjung kepada Tenten. Langsung saja Tayuya dan Karin menghampiri gadis itu dengan pandangan mata mengintrogasi.

"Hei, Tenten. Kau bilang kau tidak punya pacar. Lalu tadi itu apa?" tanya Tayuya dengan pandangan menyelidik.

Tenten terheran-heran lagi. "A-aku? Apakah dia tadi berbicara denganku?"

"Tentu saja, bodoh." Karin menjitak kepala Tenten dengan sebal. "Jadi, apakah kau akan berkencan?" tanyanya lagi dengan mata yang genit.

"Ti-tidak! Aku tidak mengenal orang itu." Gadis bercepol dua itu berkilah dan mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

"Haah?! Kau tidak kenal dia?" pertanyaan serentak Karin dan Tayuya sukses membuat Tenten menutup kedua telinganya dengan refleks. Gadis itu hanya memasang wajah polos seolah mengatakan 'tolong beritahu aku sesuatu.'

"Kau tidak kenal dia? Apa saja yang sudah kau lakukan di sepanjang sisa hidupmu ini, ha?" Karin nampak paling tidak terima dengan kebodohan Tenten.

"Dia itu Akasuna no Sasori! seorang pria yang berhasil mendapatkan gelar sebagai pilot konoha termuda abad ini!" Tayuya memekik dengan girang.

"Semua gadis menggilai tampangnya yang mirip dengan selebriti korea ternama! Ia sudah menjadi seorang selebriti dikalangan para gadis!" Karin menyahuti dengan riang.

"Jadi Tenten. Beritahu kami bagaimana kau bisa mengenalnya dan menggaetnya begitu saja? Apakah ia punya teman? Ne, ne kenalkan pada kami." mereka berdua sudah kelewat antusias.

Tenten jadi pusing sendiri. Belum tentu pria itu berbicara kepadanya, kan? Apakah jangan-jangan ini yang dimaksud dengan '10 detik dari sekarang, kau akan menemui para pria hebat' ?

"Tenten, cepatlah ganti pakaianmu! Kami akan menggantikan shiftmu malam ini. Kau akan berkencan dengan pria yang hebat! Itu membuat kami bangga." Karin mendorong-dorong Tenten menuju ke ruang staff, dibantu oleh Tayuya yang menyeret-nyeret gadis itu. Kedua orang ini memang sangat merepotkan.

"Hei, tunggu! Aku tak bisa pergi begitu sa—"

"Jangan banyak bicara!" bentak Tayuya.

"Jangan banyak berpikir!" timpal Karin.

.

.

.

Bagaimana Karin dan Tayuya bisa jadi segila itu? Sekarang Tenten bahkan tak tahu harus menunggu pria tadi atau kembali pulang saja ke apartemen. Sebaiknya ia memang tak perlu menuruti kedua gadis sinting tersebut. Tenten berjalan kembali dengan putus asa, aura hitam mengelilingi gadis itu.

"Tenten!" sebuah suara yang begitu maskulin terdengar menyebut namanya. Membuat gadis manis itu menoleh kearah sumber suara.

Disana seorang pria tampan dengan seragam pilotnya yang gagah sedang berdiri disamping sebuah mobil sport mewah yang tidak diketahui Tenten. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung. Apakah benar dirinya yang dipanggil oleh Sasori?

"Ayo masuk." Nada Sasori terdengar seperti memerintah, namun tetap lembut didengar, membuat siapa saja pasti meleleh.

"Masuk? Kedalam?" tanya gadis itu sambil menunjuk mobil milik Sasori yang terparkir didepannya. Membuat pria itu tertawa renyah.

"Memangnya kau mau masuk kedalam got?" lelaki berambut merah itu menunjuk kubangan saluran air didekat mereka.

"T-tunggu dulu! Aku tak sedang main-main." Ujarnya dengan wajah serius.

Sasori balas menanggapi dengan serius. "Aku juga tidak main-main." Melihat Tenten yang hanya diam, Sasori kemudian melangkah maju dan meraih telapak tangan Tenten, membuat gadis itu terlihat kelabakan dan salah tingkah.

"Aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi untuk malam ini ikutlah denganku." Dan Tenten tidak diberikan pilihan lain selain masuk kedalam mobil dan menjadi tawanan Sasori.

Setelah cukup lama berada diperjalanan, hari sudah sore menjelang malam ketika mereka berdua tiba disebuah villa megah, bukan, sepertinya ini bukan villa melainkan louge pribadi milik Sasori. Uhh sudah tampan, baik hati, kaya pula. Sasori langsung menyeret Tenten untuk masuk kedalam rumah. Dihalaman belakang, tepat disamping kolam renang yang dihiasi oleh lilin-lilin yang mengapung, terdapat sebuah meja panjang dengan dua buah kursi yang berhadapan. Bunga-bunga mawar terletak di setiap sudut-sudut meja dan mendominasi dengan warna merahnya yang mencolok. Tak lupa sebuah lilin dengan aromaterapi terletak ditengah meja dan menambah suasana semakin romantis.

Apa ini mimpi? Apa ini nyata? Makan malam pertamaku yang super romantiiisss.

Tenten menahan gejolak dalam dirinya untuk tidak berteriak. Ia merasa sangat senang sekali. Sasori mempersilakan Tenten untuk duduk di salah satu kursi yang terletak di ujung meja, sementara Sasori duduk di kursi pada ujung meja yang lain. Pria itu mengangkat sebuah gelas kaca berisi anggur merah dan menyodorkannya kedepan wajahnya.

"Bersulang." Ujar Sasori dengan kalem.

Tenten melakukan hal serupa dan meneguk anggurnya sedikit dengan cara yang agak serampangan, sementara Sasori meminum anggurnya dengan rapi dan elegan. Benar-benar berkelas. Mereka kemudian makan dalam diam, hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sesekali Tenten mencuri-curi pandang kearah Sasori yang sedang melahap makanannya dengan gaya cool, dan setiap gadis itu melirik ke arah Sasori, setiap itu juga Sasori memergoki Tenten dan membuatnya jadi sangat malu.

Setelah selesai makan, Sasori mengajak Tenten untuk duduk di dalam sebuah ruangan kaca yang terletak di belakang kolam renang. Sasori menepuk tangannya dua kali, dan layar proyektor yang sudah terpampang di hadapan mereka berdua langsung menyala terang. Layar itu menampilkan foto seorang gadis kecil bercepol dua yang sedang berlari-lari mengejar layangan putus.

"Eh? Itu benar aku?! Bagaimana bisa?" tanya gadis itu terheran-heran melihat foto kecil dirinya yang terpampang jelas di layar.

Beberapa detik kemudian gambar dilayar berganti menjadi Tenten berusia sekitar 7 tahun yang sedang bermain sepak bola di lapangan. Dan seterusnya layar itu terus menampilkan foto-foto masa kecilnya ketika berumur 7 tahun, lalu foto-foto yang menampilkan perubahan gadis itu dari umur 7 tahun sampai memakai seragam sekolah menengah atas. Membuatnya terheran-heran. Apakah ini sihir yang membuat sebuah keajaiban?

"Ternyata kau benar-benar lupa ya." Sasori menunjukkan wajah kecewa. Sontak membuat Tenten semakin terheran-heran.

"Kita kan teman masa kecil." Sambung Sasori lagi.

Seketika layar menunjukkan foto Tenten kecil sedang makan eskrim yang super besar bersama seorang bocah laki-laki berambut merah. Bocah itu adalah Sasori.

"Hei! Itu kau, bocah kecil songong yang kutemui di kedai eskrim. Waktu itu aku tidak bisa membeli eskrim karena uang recehku tidak cukup untuk membelinya. Lalu kau bilang pada mbak-mbak penjual eskrim akan membayar harga eskrim manapun yang kumau dan aku langsung memesan eskrim jumbo yang paling mahal."

Tenten menutup mulutnya ketika sadar bahwa ia telah mengatai Sasori dengan sebutan 'bocah kecil songong'. Tapi Sasori bukan teman masa kecilnya. Mereka hanya tidak sengaja bertemu di kedai eskrim dan Sasori membelikannya eskrim karena uang receh yang dibawa Tenten saat itu tidak cukup untuk membeli eskrimnya. Dan mereka berdua hanya bertemu satu kali, dengan pertemuan yg sangat singkat. Bagaimana sekarang Sasori bisa menemukan dirinya dan bahkan mengajaknya untuk mampir ke sini?

"Semenjak saat itu aku selalu mengamatimu dan memotretmu diam-diam. Hingga aku mendengar kabar bahwa kau bekerja di bandara. Aku selalu mengamatimu dan menunggu saat yang tepat, aku sudah sangat menantikan hari ini."

Pernyataan Sasori sukses membuat Tenten merasa terlena. Ternyata ada seorang laki-laki tampan yang selama ini menjadi stalker dirinya. Sasori tersenyum manis. Ia bangkit dari kursinya dan memberi Tenten sebuket besar bunga mawar merah, bahkan Sasori mengetahui bunga kesukaan Tenten. Sedetik kemudian terpampang tulisan besar di layar proyektor yang berbunyi "Selamat Ulang Tahun Tenten." Dibawah tulisan itu terdapat kalimat lainnya yang sangat membuat dirinya shock berat. "Menikahlah denganku." Sedangkan Sasori sudah berlutut di hadapannya dengan sebuah kalung didalam kotak perhiasan.

Tenten tidak bisa berpikir lagi, ia sangat bahagia seolah diterbangkan ke angkasa. Gadis itu meraih bunga mawar yang disodorkan Sasori kearahnya, dan mengangguk dengan pelan. Seiring dengan anggukan gadis itu, tiba-tiba saja sebuah kembang api diluncurkan dan meledak di angkasa, disusul oleh kembang api lainnya yang meramaikan langit malam. Sasori menatap Tenten lagi dengan penuh arti. Mereka duduk berdua di dalam sebuah rumah kaca, Tenten dilamar dengan karangan bunga favoritnya dan sebuah kalung yang sangat indah, dengan latar langit malam yang dipenuhi bunga-bunga api. Percayalah ribuan gadis diluar sana sangat menginginkan posisi miliknya sekarang ini. Jika ini memang hanya mimpi, Tenten takkan mau terbangun untuk selamanya. Biarlah dia terjebak saja disini, bersama Sasori, si pilot tampan.

Sasori perlahan-lahan mencondongkan wajahnya kearah Tenten, gadis itu sudah mengira bahwa disini pasti akan menjadi momen yang bagus untuk memberikan ciuman pertamanya. Gadis itu juga perlahan-lahan memajukan wajahnya, saling memejamkan mata satu sama lain. Hingga ketika jarak antara kedua bibir mereka hampir menghilang, Tenten tiba-tiba berdiri di balik meja informasinya memakai seragam kerja yang lengkap, dengan posisi bibir yang dimonyongkan kedepan.

"Hah!" gadis itu sangat shock. Apa yang terjadi? Apakah itu hanya mimpi? Mimpi di siang bolong?

Tenten tambah terkejut lagi ketika melihat enam buah kartu yang berjejer di depannya. Dan kartu paling depan yang awalnya hanya menampilkan sebuah bayangan hitam kini perlahan-lahan mengukir foto seseorang. Foto seorang laki-laki berambut merah yang sedang menatap kearahnya sambil tersenyum. Dibawah fotonya terdapat sebuah tulisan 'Akasuna no Sasori'. Tenten meraih kartu tersebut dan memandangi wajah Sasori.

Kuharap saat ini pun kau tetap masih menjadi stalker ku. Gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba Karin dan Tayuya datang menghampiri dengan wajah yang baru saja di poles dengan makeup. Tenten menatap jam kecil yang diletakkan di depannya. 14.20. ya sekarang Tenten ingat, mereka berdua pasti baru saja kembali dari toilet. Tenten melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar tak jauh didepannya. Perempuannya menyiramkan segelas air ke wajah pacarnya. Tidak salah lagi itu hanyalah mimpi. Ia merenung dengan lesu. Tapi kartu-kartu didepannya ini nyata kan?

TO BE CONTINUED