6 FIRST KISSES Chapter 4
Thirdth: Gaara si Konglomerat Muda dari Suna
"Tenten tolong jangan pasang wajah masam dan jutek seperti itu. Kau membuat oranglain takut." sindir Karin ketika melihat wajah Tenten yang ditekuk tujuh lipatan.
"Tenten, tolong pergilah ke bagian beacukai sebentar ya. Katakan pada Kidoumaru untuk menunggu shift ku sampai pukul 11 malam, ne?"
Tenten meringis ketika mendengar permintaan Tayuya yang merepotkan. Kenapa ia tak menelpon saja kekasihnya itu? Kenapa harus melalui Tenten?
"Betisku sedang sakit sekali, Tayuya-neechan. Kenapa tidak ditelpon saja?" Tenten mencari-cari alasan untuk menghindar.
"Hey, bukankah tidak boleh bemain ponsel saat jam pekerjaan? Kau mau kami melanggar peraturan itu? Pergilah sebentar saja, lagipula kau sedang tidak ada tugas, kan?" sahut Tayuya lagi.
Memang susah berbicara dengan senior, bagaimanapun mereka akan tetap jadi pemenangnya. Dan bawahan haruslah menurut ketika disuruh ini dan itu. Tenten berjalan dengan lambat, ia benci memakai sepatu hak tinggi di atas lantai keramik yang licin ini. Jarak dari tempat kerjanya ke bagian beacukai tidaklah dekat. Kenapa Tayuya senang sekali mempersulit bawahannya? Tenten harap Kidoumaru takkan bersedia menunggu shift Tayuya sampai pukul 11 malam!
Karena terlalu asyik melamun, gadis itu terus berjalan melewati lantai yang baru saja di pel dan masih basah, tumit sepatu Tenten tergelincir dan kaki gadis itu terpelekok. Bobot tubuhnya pun kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh berdebam kelantai. Tapi dewi fortuna masih berpihak padanya hari ini, karena seseorang dengan baik hati bersedia menopang tubuh Tenten agar tidak berdebam mencium lantai. Setelah seseorang itu memegang erat kedua bahu Tenten sehingga tidak terjatuh, gadis itu langsung mendudukkan dirinya dengan sengaja ke lantai karena rasa nyeri di pergelangan kakinya yang keseleo. Ia meringis kesakitan.
"Kau tak apa-apa?" tanya suara seorang pria. Tenten terlalu sibuk dengan kakinya dan mengabaikan pria itu.
Beberapa staff dan office boy datang menghampiri mereka berdua. Kedatangan petugas tersebut langsung disemprot habis-habisan oleh pria yang membantu Tenten.
"Apa kau tidak memiliki papan peringatan lantai basah? Apa aku perlu membelikannya sekaligus pabrik produksinya? Kau lihat ini! Wanita ini hampir saja terluka parah akibat ulahmu itu! Bagaimana jika ada orang lain lagi yang terjatuh akibat kecerobohan kalian?! Apa aku perlu menghubungi direktur karena kelalaian tugas kalian ini?"
"Tolong maafkan kesalahan kami Gaara-sama. Ini kelalaian kami, tolong maafkan kami."
Staff dan cleaning service itu menunduk dalam-dalam, beberapa satpam mulai mendekat dan menghampiri. Puluhan pasang mata mengarah kepada mereka. Tenten merasa perlu untuk bersuara karena bagaimanapun ialah yang sedang dipermasalahkan disini karena jika tak ada orang yang terjatuh di atas lantai yang basah itu pasti tak akan ada kejadian seperti sekarang ini.
"Aku tidak kenapa-kenapa. Tolong lain kali berhati-hatilah dan letakkan penanda agar tidak terjadi hal seperti ini lagi." Tenten memandang kearah cleaning service tersebut, bagaimanapun juga mereka sama-sama bekerja di bandara ini.
Dua orang satpam yang menghampiri mereka mencoba membantu Tenten berdiri, sedangkan Gaara terlihat masih kesal dengan kejadian ini.
"Apa kau baik-baik saja?" Gaara berjongkok didepan Tenten, memastikan bahwa gadis itu tidak terluka parah.
"Aku baik-baik saja, terimakasih." Ujar Tenten, ia menatap Gaara untuk pertama kali karena sedari tadi masih sibuk dengan kakinya.
Tenten mencoba berdiri namun rasa nyeri di kakinya membuatnya kembali terduduk di lantai. Gaara mencoba untuk membantunya.
"Kau yakin? Apa kau bisa berdiri?"
Gadis itu meringis lagi ketika mencoba untuk berjongkok, lagi-lagi ia kembali terduduk karena rasa nyeri yang menyerang. Tenten meringis.
"Bisa kau bawakan tandu untuk wanita ini? Sepertinya kakinya mengalami keseleo yang cukup parah. Berdiri saja ia tak sanggup mana mungkin bisa berjalan." Ujar Gaara pada seorang satpam.
"Mungkin kami memilikinya, tapi aku tidak yakin dimana letaknya. Aku baru bekerja disini seminggu yang lalu." Jawab satpam itu dengan agak gugup.
Gaara mendengus. Ia memutuskan untuk membopong sendiri gadis itu. "Dimana ruang nyaman yang bisa digunakan?".
Tenten berjengit kaget ketika Gaara sama sekali tidak meminta izin untuk menggendongnya. Gadis itu berusaha untuk menjelaskan bahwa ia bekerja disini dan ia cukup kembali ke bagian pekerjaannya saja. Tapi Gaara menghiraukannya dan tetap membawa gadis itu ke ruang peristirahatan.
.
.
Setelah dibantu oleh beberapa karyawan, Tenten mendapatkan sebuah bebat yang membalut pergelangan kakinya. Ia pasti akan membuat Tayuya menjadi semakin jengkel karena tidak berhasil menyampaikan pesannya pada Kidoumaru.
"Kau sudah bisa berjalan?" Gaara entah kenapa masih betah berdiam disamping Tenten.
Meskipun gadis itu sudah berusaha mencoba untuk membuatnya pergi, pria keras kepala dengan warna rambut mencolok itu tetap tak mau pergi dan bersikeras untuk menemani Tenten. Oleh karena itu pula Tenten jadi ingin segera kembali ke bagiannya agar tidak diikuti lagi oleh lelaki tampan dihadapannya.
"Kau sungguh beruntung." Bisik seorang gadis disamping Tenten yang sedang istirahat dari jam kerjanya.
Kedua alis Tenten bertaut dengan heran. "Beruntung? Kau pikir ketika tulang kakimu bergeser itu akan membawa keberuntungan?" tanya gadis itu dengan menahan gelak tawa.
"Bukan itu yang kumaksudkan." Wanita itu melirik ke arah Gaara yang sedang sibuk menelepon. "Kau beruntung diperhatikan olehnya." Bisiknya lagi ke telinga Tenten.
Tenten hanya memasang wajah tidak mengerti. Apa maksud gadis ini sebenarnya?
"Kau tau siapa dia?" tanya wanita itu lagi. Yang ditanya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau tidak tahu?" gadis itu menampakkan wajah seolah ketidaktahuan Tenten merupakan aib terbesar di dunia ini.
Tenten menjadi agak minder. Apakah banyak sekali hal hebat diluaran sana yang tidak diketahui oleh dirinya?
"Dia Sabaku no Gaara, pengusaha minyak terbesar di Suna."
Tenten mendelik. Suna yang merupakan padang pasir tandus, menjadi salah satu negara paling berpengaruh didunia karena kandungan minyak buminya. Karena kekayaan alam yang dimilikinya lah Suna menjadikan semua warga negaranya sejahtera, sehingga Suna masuk dalam jajaran Negara dengan penduduk terkaya, dan nyaris tidak ada orang miskin disana. Bukankah usaha minyak itu dikelola oleh Negara?
"Apa kau bercanda? Kau mau menipuku ya? Pertambangan minyak bumi Suna kan dikelola oleh Negara?"
"Dia kan anak presiden Suna. Dia yang mengelola pertambangan itu sebagai pengabdiannya untuk negara." Gadis itu menjawab dengan acuh kini, menertawakan kepolosan entah kebodohan Tenten, yang dijawab pertanyaannya hanya bisa menelan liurnya.
Tenten berusaha untuk berdiri, mengundang perhatian dari Gaara yang duduk tak jauh darinya. Gadis itu sudah tau, pasti Gaara merupakan salah satu dari pria-pria hebat itu, makanya sedari tadi untuk alasan yang tidak jelas, Gaara masih berada diruangan ini bersamanya, dan akan berakhir sampai terjadi sebuah insiden berupa ciuman yang tak jadi. Sebaiknya Tenten kembali ke pekerjaannya saja, karena mereka berdua tidak saling mengenal sebelumnya, gadis itu yakin tak mungkin Gaara akan menciumnya, sehingga kesempatan Tenten menjadi lebih besar untuk bersama dengan Gaara lebih lama.
"Kau sudah baikan? Kau yakin sudah bisa berjalan?" Gaara tampak khawatir dan langsung menghampiri Tenten yang sudah berdiri diatas sepatu hak tingginya lagi.
Gadis itu tersenyum ramah. "Terimakasih Gaara-sama. Anda sangat baik. Jika anda mau menyimpan nomorku, aku akan memberikannya." Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tenten. Jika ini dalam posisi normal, ia pasti akan sangat gugup dan diam seribu bahasa. Namun gadis itu tahu bahwa ini hanya khayalannya semata, dan ia tak perlu bersikap malu-malu seperti di dunia nyata.
Gaara tampak mengernyitkan alisnya sejenak, sebelum akhirnya tertawa dengan paksa. "Kau ini penuh percaya diri sekali." Gumamnya sambil menyodorkan ponselnya kepada Tenten. "Tapi tak apalah, simpan saja nomormu disini." Sambung Gaara lagi yang disambut Tenten dengan mengulurkan tangannya menerima ponsel tersebut.
Setelah menyimpan nomornya sendiri di ponsel milik Gaara, Tenten berjalan menuju pintu keluar. Ia harus kembali bekerja, dan karena Gaara sudah memiliki nomornya, maka Tenten tidak ragu untuk meninggalkan pria itu. Kali ini semua akan berlalu tanpa ciuman dan Gaara secepatnya akan menghubunginya lagi. Lalu mereka akan bertemu dan berkencan, setelah itu Gaara akan melamar Tenten dan gadis itu akan memberikan kecupan pertamanya. Gaara pasti akan menjadi miliknya!
Skenario indah itu berputar-putar dikepala Tenten. Ia yakin rencananya akan berhasil. Gadis itu harus bersusah payah menahan diri untuk tidak melompat dan bersorak girang.
"Tunggu." Suara berat Gaara menghentikan langkah Tenten. Gadis itu menoleh ke sumber suara. "Aku akan mengantarmu kembali." Ujarnya lagi.
Tenten meringis. "Tidak perlu, sungguh." Ujarnya menolak dengan serius. Tapi Gaara langsung menghampirinya dan menuntunnya berjalan keluar dari ruang istirahat.
Benar-benar keluar dari skenario, sepertinya apa yang telah direncanakan oleh Tenten akan berbelok sedikit dari jalur awalnya ketika mereka disambut oleh segerombolan wartawan swasta dari tivi nasional Konoha. Kilatan lampu kamera langsung membanjiri mereka berdua disusul dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada Gaara.
"Gaara-sama, apa tujuan anda mengunjungi Konoha hari ini?"
"Gaara-sama, kami mendengar kabar bahwa anda memarahi staff yang lalai dan menyebabkan gadis ini terjatuh?"
"Apakah ada hubungan yang spesial antara kalian berdua?"
"Apakah Gaara-sama sudah bertunangan?"
"Mengapa anda over-protektif sekali terhadap gadis ini?"
"Apakah gadis ini bekerja di Bandara Konoha Internasional?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membanjiri Gaara diikuti dengan sorotan lensa kamera yang mengarah kepadanya. Membuat Tenten terbata-bata dan sangat gugup sekali. Gaara pun tampaknya jengah dengan kerumunan wartawan ini. Ia menghela napas panjang, bersiap menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
"Dia adalah tunanganku."
Mendadak suasana menjadi hening. Semua wartawan membisu. Puluhan pasang mata dari orang-orang yang berlalu lalang tampak mengarah pada Tenten. Gaara meraih telapak tangan gadis itu dan mengangkatnya ke udara, seolah menunjukkan pada semua orang bahwa itulah kekasihnya. Tenten yang mendengar hal itu mendadak terserang sakit jantung. Ia berdiri membatu dengan wajah yang pucat pasi.
"Apakah anda akan segera menikah?"
Pertanyaan itu meluncur lagi dari mulut salah satu wartawan. Membuat Tenten tanpa sadar menahan napasnya.
"Ya." Sebuah jawaban singkat yang memutarbalikkan dunia Tenten.
Semoga tak ada insiden ciuman, cepatlah pergi para wartawan bodoh. Gadis itu bergumam dalam hati dengan harap-harap cemas.
"Kalau begitu apakah anda bisa menunjukkan buktinya?". Skakmat.
Gaara tampak menimang-nimang sejenak. Sementara Tenten sudah dipenuhi dengan keringat dingin.
"Tentu." Jawabnya kemudian.
Gaara berdiri menghadap Tenten, membuat mereka saling bertatap-tatapan satu sama lain. Tatapan mata yang dilihat Tenten menyiratkan sebuah pesan bermakna yang tak bisa ditebaknya, selanjutnya gadis itu tidak bisa menatap bola mata hijau tersebut karena mata Gaara sudah tertutup oleh kelopak matanya. Tenten merasa was-was ketika Gaara terus mendekatkan wajahnya dengan mata yang terpejam. Semua ini pasti akan segera berakhir jika mereka berciuman. Tenten dengan panik mendorong dada Gaara yang dilapisi oleh jas hitam mahal, menjaganya agar tetap menjauh. Namun pria itu tetap memaksa untuk menciumnya.
Dan semua terjadi begitu saja. Tenten menghela napasnya lagi dengan lesu. Ini tidak adil. Hadiah macam apa ini? Di kartu urutan nomor 3 sudah terpampang foto Gaara yang sungguh tampan dengan tatapan mata mempesonanya. Tenten tidak akan pernah rela melepaskan Gaara! Andai semua ini menjadi kenyataan.
Seperti biasa waktu kembali menunjukkan pukul 14.20 dan Tenten akan mendapati pemandangan yang cukup membosankan karena terus diulang-ulang, yaitu pasangan yang bertengkar didepannya, lalu ada Karin dan Tayuya yang baru saja kembali dari toilet. Ia sudah hapal semuanya. Gadis itu memutar bola matanya dengan jengah.
Setelah ini siapa lagi?
To Be Continued
Ayo coba tebak siapa cogan di episode selanjutnya? :p
