6 FIRST KISSES Chapter 5

Fourth: Naruto si Bos Ikemen

Tenten menopang dagunya, sambil menggeser-geser layar smartphone nya. Ia sudah malas melihat tepat didepannya pemandangan yang sungguh membosankan. Tak lama Karin dan Tayuya kembali dari toilet ke meja Informasi sambil bergosip ria. Tiba-tiba seorang Pria dengan setelan jas merebut ponsel Tenten tanpa aba-aba, membuat sang empunya bersiap untuk melancarkan protes terhadap perbuatannya.

Gadis itu sudah siap membuka mulutnya untuk sekedar berteriak 'Apa yang kau lakukan!?'. Namun pekikan Karin dan Tayuya membuatnya urung. Mereka berdua entah kenapa terlihat canggung dengan gelagat pura-pura merapikan rambut.

"Kalian tahu bukan bahwa di jam kerja tidak ada yang boleh memainkan ponsel?" tanya Pria itu pada Karin dan Tayuya, mengabaikan Tenten yang melongo bingung.

"Kami mengerti Uzumaki-sama. Kami tidak akan melakukannya." Ujar Tayuya menunduk sopan.

Naruto mengalihkan pandangannya pada Tenten yang masih menunjukkan ekspresi terheran-heran.

"Dan untukmu, bila ingin ini kembali, datanglah ke ruanganku seusai kerja untuk mendapatkan jam kerja tambahan. Sebagai hukumanmu."

Tenten melongo. Suara Naruto yang rendah dan serak membuatnya membayangkan sesuatu yang terlampau jauh. Pasti Naruto adalah salah satu pria hebat itu! Tapi siapa dia? Karin dan Tayuya berbisik-bisik sebelum mendelik pada Tenten.

"Lihat! Kau akhirnya mendapat teguran dari direktur. Padahal dia adalah orang yang sangat cuek dan jarang sekali memperhatikan karyawannya" celetuk Karin.

"Beruntungnya~" imbuh Tayuya menambahkan.

"E-eh? dia direktur kita? Hehe kalau begitu bisa kalian beritahu aku dimana ruangannya?" Tenten nyengir tidak jelas, yang langsung dibalas dengan reaksi sweatdrop dari keduanya.

.

.

.

Setelah pukul 9 malam dimana jam kerja Tenten telah usai, ia harus memenuhi perintah direktur untuk menuju ke ruangannya, atau ponsel Tenten takkan pernah dikembalikan. Ruangan itu berada di lantai atas dan agak jauh dari jangkauan pengunjung Bandara. Ruangannya pun diasingkan supaya pak direktur tidak terganggu dengan aktivitas yang terjadi di sekitarnya.

Tenten mengetuk pintu ruangan tersebut dan mendorong pintunya, ia mengintip sedikit kedalam ruangan. Di meja kerjanya, tampak Naruto sedang berkutat dengan kertas-kertas dan menandatanganinya satu-persatu. Ia menoleh sekilas dan mengangguk pada Tenten, memberi aba-aba untuk mempersilakannya masuk.

Gadis itu berdiri di sisi meja dengan kaku, sesekali ia menggerakkan tangannya untuk sekedar merapikan rambutnya yang tidak berantakan atau memegang-megang dagunya sebagai upaya untuk menyibukkan diri daripada harus bengong tanpa melakukan apapun didepan bos yang, ehm-tampan-ehm.

Lima menit berlalu sejak Tenten masuk ke ruangan Naruto dan diabaikan begitu saja, bahkan kedua betisnya sudah mulai kram saking groginya ia.

"Duduklah."

Tenten pura-pura memasang wajah antusias sambil menghembuskan nafas lega karena akhirnya dipersilahkan untuk duduk. Gadis itu menarik kursi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik. "Apakah ada yang bisa saya bantu? U-Uzumaki-sama?"

"Naruto saja."

"N-Naruto-sama" ulangnya kikuk.

Naruto tetap tidak memperhatikan, rambut pirangnya bergerak terkena hembusan air conditioner. Mata birunya fokus menatap kertas-kertas yang berhamburan diatas meja, jari-jarinya yang panjang sibuk menggenggam pena dan menggoreskan tintanya. Tenten terpaku dengan pemandangan dan ketampanan yang dimiliki oleh Naruto, begitu berwibawa, begitu berkelas. Ia sampai heran kepada dirinya sendiri kemanakah ia selama ini sampai tidak menyadari bahwa bosnya memiliki aura sememikat ini.

"Apakah sudah cukup memandangiku?"

Tenten tersentak kaget ketika suara serak itu mengalun ke udara, mengisi sepi yang berterbangan diruangan itu. Gadis itu kelabakan begitu mata biru laut milik Naruto menubruk langsung mata coklatnya, mengintimidasi dengan tatapan dan membuat jantungnya berdegub dengan kencang.

Gadis itu hanya membuka-buka mulutnya seperti ikan koi yang berusaha meraup oksigen. Nyatanya Naruto tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari iris hazel Tenten. Gadis bercepol dua itu segera melempar tatapannya kemana saja, asal bukan kepada bosnya yang seksi itu.

"Tenten." Panggil Naruto.

Tenten mengangkat pandangan matanya dan menuntunnya menuju Naruto, ia melihat paras rupawan itu sekali lagi dan tidak tahan untuk tak berteriak 'ohh tuhan dia sangat tampan!'

"Y-ya Naruto-sama?"

"Bisakah aku menciummu?"

Tenten hampir terjengkang dari tempat duduknya jika ia tidak mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sebagai wanita. Tapi tidakkah ini terlalu terburu-buru? Maksudnya ia sering maraton drama korea dan kisah cintanya selalu berkembang dengan jalan cerita lebih dari 10 episode, tapi kenapa kisahnya hanya 1 chapter dengan durasi pendek?

Oh tentu karena ini adalah Fanfiksi dan bukan drama korea! Catat itu, Tenten.

"Tidak."

Tenten menjawab spontan dan Naruto menatapnya, penasaran.

"Tidak? Mengapa?"

"Y-yaah, karena aku tidak ingin terburu-buru. Pelan-pelan saja, oke?"

"Pelan-pelan soal apa?"

Tenten gelagapan, sepertinya ini jebakan. Naruto rubah licik. Jika gadis itu menjawab "Romantisme" maka kemungkinan ditertawai Naruto adalah 98%. Pria itu tidak mengatakan apa-apa soal romansa, tapi dia hanya meminta Tenten untuk menciumnya, tanpa alasan! Tentu Tenten tahu maksudnya, pasti agar chapter kali ini lekas berakhir 'bukan? Tapi gadis itu akan mengulur waktu sebisa mungkin agar hubungannya dengan direktur tampan ini tidak berakhir sebagai mimpi belaka!

"A-anu, jika tidak ada yang lain saya permisi."

Naruto menahan pundak Tenten dengan sebelah tangannya ketika gadis itu bersiap bangkit dari kursi, pria pirang itu menatap dengan penuh intimidasi seakan jika-kau-keluar-dari-sini-kau-mati.

"Sejauh ini belum ada yang menolak perintahku, dan tidak akan ada."

Lalu semuanya terjadi begitu saja, kalian pasti tahu bukan? Naruto dengan seenaknya meraih pipi Tenten dan menciumnya, namun segalanya langsung berjalan dengan lambat. Tenten yang sudah hapal mencoba menghitung dengan sepuluh jarinya sambil menatap pasangan yang itu-itu saja dengan adegan bertengkar yang itu-itu saja didepannya.

"Apanya yang hadiah?! Mana jodohku yang sebenarnya?! Sampai kapan ini akan berakhir 'hah!?" jeritnya frustasi

NEXTCAN YOU GUESS?